Pengasuh Ma’had Al-Islam Gumuk Solo, Syi’ah Berkedok Ahlussunah?

Screenshot_2016-06-17-16-48-12_1

Ustadz Mudzakir

Dialog Ustadz Ba’asyir dan Ustadz Mudzakir Soal Syi’ah & Jihad Suriah

Siang itu, Selasa (27/8/2013), situasi di pelabuhan penyeberangan Wijayapura, Cilacap terlihat lebih ramai dari biasanya. Sebuah bus besar yang membawa rombongan belasan orang dari Solo, Jawa Tengah terlihat terparkir, demikian pula beberapa minibus dengan plat B (asal Jakarta).

Ternyata belasan orang asal Solo yang menaik bus tersebut terdiri dari rombongan ulama, di antaranya Ustadz Wahyudin (pimpinan Ponpes Al-Mukmin Ngruki), ustadz Mudzakir (Pengasuh Ma’had Al-Islam Gumuk Solo), Ustadz Hasan El-Qudsi, pak Joko Ikrom dan Kholid Hasan. Tak ketinggalan, turut pula rombongan Tim Pengacara Muslim (TPM), di antaranya Ahmad Kholid, Farid Ghozali, Guntur dan lain-lain. Terlihat pula aktivis kemanusiaan dr Joserizal Jurnalis dengan mobil pribadinya.

Para tokoh itu punya hajat yang sama, hendak membesuk Ustadz Abu Bakar Ba’asyir di sel Super Maximum Security (SMS) LP Pasir Putih Nusakambangan, Cilacap.

Kalau ada yang punya uang dibeli saja Nusakambangan ini untuk bikin pondok pesantren

Setelah menyeberang menggunakan kapal feri dan mengendarai mobil trayek khusus Nusakambangan, tibalah rombongan pembezuk di LP Pasir Putih Nusakambangan. Pemeriksaan begitu ketat, tak terkecuali bagi TPM, wartawan dan aktivis kemanusiaan.

Memasuki ruang bezuk, terlihat Ustadz Abu –sapaan akrab Ustadz Abu Bakar Ba’asyir– berjalan keluar dari sel didampingi Husain Abdullah, salah seorang mujahid penghuni sel yang akrab disapa Uceng. Meski sudah sepuh, Ustadz Abu tampak bugar. Dengan wajah sumringah ia meyalami satu persatu para tamu yang membesuknya.

Pertemuan terlihat sangat hangat, dr Joserizal mengawali percakapan dengan menanyakan kondisi kesehatan Ustadz Abu. Pendiri Pesantren Al-Mukmin Ngruki itu menjawab bahwa udara di LP Nusakambangan lebih segar dibandingkan di penjara Mabes Polri. “Kalau ada yang punya uang dibeli saja Nusakambangan ini untuk bikin pondok pesantren,” gurau Ustadz Abu disambut tertawa para tamu.

Saya termasuk orang yang tak mau campur tangan soal Bashar Al-Assad. Gambar-gambar di internet itu kan tidak bisa bicara, sehingga sebaiknya hati-hati dalam menghukumi Bashar Al-Assad

Usai ramah-tamah, tibalah saat yang agak menegangkan, ketika Ustadz Mudzakir membicarakan persoalan Suriah dan Bashar Al-Assad. Ia mengimbau kepada ustadz Abu Bakar Ba’asyir agar tidak ikut campur soal Bashar Al-Assad.

“Saya termasuk orang yang tak mau campur tangan soal Bashar Al-Assad. Gambar-gambar di internet itu kan tidak bisa bicara, sehingga sebaiknya hati-hati dalam menghukumi Bashar Al-Assad,” kata ustadz Mudzakir yang duduk di sebelah kiri ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Dengan bijak, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir pun menjawab dengan memberikan pengantar ilustrasi tentang Muammar Khadafi, diktator Libya yang tewas saat revolusi di Libya. “Khadafi, waktu saya di Afghanistan sempat membaca bukunya. Buku itu saya bawa-bawa, warnanya hijau. Tetapi salah seorang mujahidin di Afghanistan yang berasal dari Libya mendebat saya. Katanya, buku khadafi yang berwarna hijau itu, ibarat buah semangka. Luarnya hijau tetapi dalamnya merah. Maksudnya, para mujahidin asal Libya itu menceritakan kebatilan Khadafi. Bahkan mereka mengkafirkan Khadafi,” paparnya.

Khadafi, waktu saya di Afghanistan sempat membaca bukunya. Buku itu saya bawa-bawa, warnanya hijau. Tetapi salah seorang mujahidin di Afghanistan yang berasal dari Libya mendebat saya. Katanya, buku khadafi yang berwarna hijau itu, ibarat buah semangka. Luarnya hijau tetapi dalamnya merah.

Menyikapi persoalan Suriah, dengan tegas Ustadz Abu menyatakan wajibnya jihad membela kaum Muslimin yang dizalimi rezim Bashar Asad, sang penganut Syi’ah Nushairiyah. “Soal Suriah, kita wajib berjihad membela kaum Muslimin di sana. Karena dia (Bashar) penganut Syi’ah Nushairiyah. Syi’ah Nushairiyah itu lebih kafir daripada Yahudi,” tegasnya.

Kepada orang yang masih meragukan kebiadaban rezim Bashar Al-Assad, Ustadz Abu menyatakan bahwa keraguan itu tidak beralasan. Karena berita, foto, video dan saksi hidup bertebaran di mana-mana. “Lalu kalau banyak yang melawan Bashar di Suriah, itu juga karena kekejamannya dia terhadap rakyat. Kita bisa membaca di media-media kalau tentara Bashar memaksa rakyatnya untuk mengatakan laa ilaaha illa Bashar, bahkan mereka sampai dikubur hidup-hidup,” terangnya. “Kalau ustadz masih ragu soal video, foto-foto soal kekejaman Bashar, silahkan temui saja majalah An-Najah, soalnya mereka memuatnya secara rinci,” tambahnya.

Soal Suriah, kita wajib berjihad membela kaum Muslimin di sana. Karena dia (Bashar) penganut Syi’ah Nushairiyah. Syi’ah Nushairiyah itu lebih kafir daripada Yahudi

Ustadz Abu menekankan wajibnya jihad memerangi rezim Bashar Al-Assad di Suriah, karena menentukan perjuangan umat Islam. “Jadi Bashar Al-Assad wajib diperangi. Jihad di Syam itu sangat menentukan bagi umat Islam. Kalau umat Islam kalah maka mereka akan lemah. Maka yang kita bela tentu saja para mujahidin,” tandasnya. “Soal Amerika ikut membantu biarkan saja. Saya tahu itu, seperti di Afghanistan dulu kan juga begitu. Saya melihat sendiri bagaimana Amerika ikut memberi bantuan. Tetapi mujahidin tetap berjihad. Amerika itu membantu untuk mendompleng dan melakukan pencitraan.”

Mendengar paparan panjang lebar itu, Ustadz Mudzakir tak membantah. Ia banyak berdiam dan mengalihkan tema diskusi pada persoalan Syi’ah. “Menurut pendapat Imam Ibnu Hajar, ulama tidak sepakat bahwa semua Syi’ah itu kafir,” ungkap ustadz Mudzakir.

Soal Amerika ikut membantu biarkan saja. Saya tahu itu, seperti di Afghanistan dulu kan juga begitu. Saya melihat sendiri bagaimana Amerika ikut memberi bantuan. Tetapi mujahidin tetap berjihad. Amerika itu membantu untuk mendompleng dan melakukan pencitraan.

Dengan tegas Ustadz Abu menyampaikan pendapatnya bahwa cikal-bakal Syi’ah adalah dari Yahudi. Semua Syi’ah itu adalah sesat bahkan sekte Syi’ah yang divonis kafir oleh para ulama. “Soal Syi’ah, tidak ada Syi’ah yang tidak sesat. Rafidhah itu menjelek-jelekkan sahabat, kafir itu. Jadi saya yakin bahwa Rafidhah itu kafir, sementara Syi’ah Zaidiyah itu sesat tapi tidak kafir. Semua Syi’ah itu asalnya dari Yahudi, Abdullah bin Saba’. Jadi Syi’ah itu sesat meskipun di antara mereka ada yang Islam,” urainya.

Ustadz Hasan yang duduk di hadapan ustadz Abu Bakar Ba’asyir menambahkan bahwa selama ini Syi’ah mengklaim para imam sebagai bagian dari Syi’ah. “Syi’ah itu ada yang kafir dan ada juga yang mu’tadil. Soal Ja’far Shadiq, itu adalah klaim dari Syi’ah. Padahal mereka tidak pernah mengaku bahwa dirinya dalah Syi’ah, bahkan Imam Hanafi muridnya tidak pernah mengaku Syi’ah,” ujarnya.

Soal Syi’ah, tidak ada Syi’ah yang tidak sesat. Rafidhah itu menjelek-jelekkan sahabat, kafir itu. Jadi saya yakin bahwa Rafidhah itu kafir, sementara Syi’ah Zaidiyah itu sesat tapi tidak kafir. Semua Syi’ah itu asalnya dari Yahudi, Abdullah bin Saba’.

Pak Joko, salah seorang pengikut dalam rombongan ustadz Mudzakir menyela dengan argumen jika Syi’ah kafir mengapa diizinkan haji? “Lalu bagaimana dengan jamaah haji dari Iran yang mereka adalah Syi’ah, mengapa mereka diperbolehkan berhaji ke Saudi kalau dikatakan kafir?” sergahnya.

“Saudi itu kan thaghut, ya makanya mereka diperbolehkan. Jadi saya tidak sependapat soal itu,” tukas Ustadz Abu.

Sampai dialog berakhir, Ustadz Abu tetap pada keyakinan dan pendiriannya tentang wajibnya berjihad di Suriah melawan Bashar Al-Assad yang menurutnya telah kafir dan memusuhi umat Islam. Ustadz Abu tidak goyah dari pernyataan sikapnya yang pernah dituangkan dalam surat terbuka yang pernah disampaikannya kepada Presiden Suriah Bashar Al-Assad pada bulan Juli 2013 lalu.

Sementara, dr. Joserizal yang duduk di sebelah kanan ustadz Ba’asyir tak berbicara sepatah kata pun soal Syi’ah atau Suriah. Ia hanya menanyakan pendapat ustadz Abu Bakar Ba’asyir soal Syaikh Rasul Sayyaf ulama Afghanistan. Ustadz Ba’asyir pun menjawab singkat bahwa posisi Syaikh Sayyaf saat ini lemah.

Antum Ngaku Saja, Syi’ah atau Bukan?

Screenshot_2016-06-17-16-50-22_1

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir

Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan Ustadz Mudzakir adalah dua sosok panutan di tanah air, khususnya di Solo, karena keduanya sama-sama memiliki pesantren. Ustadz Abu adalah pendiri Pesantren Al-Mukmin Ngruki Solo sedangkan Ustadz Mudzakir adalah pendiri Pesantren Al-Islam Gumuk Solo.

Keduanya adalah sahabat lama seperjuangan di jalur yang sama, yakni penegakan syariat Islam, amar makruf dan nahi munkar, sehingga sering dikait-kaitkan dengan tuduhan radikal.

Ketika Ustadz Abu duduk menjadi pesakitan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin (18/4/2011) dengan jeratan UU Terorisme karena mendukung Syariat I’dad di Aceh, Ustadz Mudzakir hadir sebagai saksi ahli yang mendukung Syariat I’dad dan jihad. Meski pada akhirnya JPU menolak keterangan Mudzakir karena dianggap tidak layak menjadi saksi ahli lantaran pendidikan formalnya hanya setara sekolah SMA, tapi Ustadz Mudzakir dengan lantang menegaskan bahwa I’dad adalah fardu kifayah dan bukan tindakan terorisme.

Soal Suriah, kita wajib berjihad membela kaum Muslimin di sana. Karena dia (Bashar) penganut Syi’ah Nushairiyah. Syi’ah Nushairiyah itu lebih kafir daripada Yahudi,

Tapi tak banyak yang tahu bahwa kedua sosok karismatik itu memiliki perbedaan yang tajam dalam menyikapi persoalan krusial umat Islam: kesesatan Syi’ah dan kewajiban jihad membela kaum muslimin di Suriah.

Pandangan berbeda itu tersaji dalam dialog di LP Pasir Putih Nusakambangan, Selasa (27/8/2013), saat Ustadz Mudzakir dan rombongan tokoh Islam dari Solo membezuk Ustadz Abu. Dialog yang berlangsung kurang lebih satu jam itu berlangsung akrab, disaksikan oleh Ustadz Wahyudin (pimpinan Ponpes Al-Mukmin Ngruki), Ustadz Hasan El-Qudsi, pak Joko Ikrom, dan Kholid Hasan,Ahmad Kholid (TPM), Farid Ghozali (TPM), Guntur (TPM), dr. Joserizal Jurnalis (Mer-C), Uceng Husain Abdullah (napi mujahidin), Abu Yusuf (napi mujahidin), ustadz Hasyim Abdullah, Muflih dan lain-lain.

Dalam dialog yang terfokus pada status Syi’ah dalam pandangan Islam dan peta jihad di Suriah itu, ternyata Ustadz Abu memiliki perbedaan yang sangat tajam dengan Ustadz Mudzakir.

Soal Syi’ah, tidak ada Syi’ah yang tidak sesat. Rafidhah itu menjelek-jelekkan sahabat, kafir itu. Jadi saya yakin bahwa Rafidhah itu kafir, sementara Syi’ah Zaidiyah itu sesat tapi tidak kafir. Semua Syi’ah itu asalnya dari Yahudi, Abdullah bin Saba’. Jadi Syi’ah itu sesat meskipun di antara mereka ada yang Islam

Ustadz Mudzakir tidak mau turut campur dengan persoalan konflik umat Islam di Suriah dan mengimbau agar jangan gegabah memvonis status Bashar Al-Assad. “Saya termasuk orang yang tak mau campur tangan soal Bashar Al-Assad. Gambar-gambar di internet itu kan tidak bisa bicara, sehingga sebaiknya hati-hati dalam menghukumi Bashar Al-Assad,” kata ustadz Mudzakir yang duduk di sebelah kiri ustadz Abu Bakar Ba’asyir.

Sebaliknya, Ustadz Abu dengan tegas menyatakan wajibnya jihad membela kaum Muslimin yang dizalimi rezim Bashar Asad, sang penganut Syi’ah Nushairiyah. Berita, foto, video dan investigasi tentang kekejaman Bashar Asad sudah sangat jelas dan tidak terbantahkan. Tentara Bashar memaksa rakyatnya untuk mengatakanlaa ilaaha illa Bashar, bahkan mereka melawan dikubur hidup-hidup. “Soal Suriah, kita wajib berjihad membela kaum Muslimin di sana. Karena dia (Bashar) penganut Syi’ah Nushairiyah. Syi’ah Nushairiyah itu lebih kafir daripada Yahudi,” tegasnya.

Dalam persoalan status Syi’ah, Ustadz Mudzakir berlindung di balik pendapat Imam Ibnu Hajar bahwa tidak semua Syi’ah itu kafir. “Menurut pendapat Imam Ibnu Hajar, ulama tidak sepakat bahwa semua Syi’ah itu kafir,” ujarnya.

Sebaiknya antum ngaku sajalah kalau Syi’ah, atau bukan Syi’ah. Jelaskan kepada umat!

Sedangkan Ustadz Abu dengan tegas menyatakan bahwa cikal-bakal Syi’ah adalah dari Yahudi. Semua Syi’ah itu adalah sesat bahkan sekte Syi’ah yang divonis kafir oleh para ulama. “Soal Syi’ah, tidak ada Syi’ah yang tidak sesat. Rafidhah itu menjelek-jelekkan sahabat, kafir itu. Jadi saya yakin bahwa Rafidhah itu kafir, sementara Syi’ah Zaidiyah itu sesat tapi tidak kafir. Semua Syi’ah itu asalnya dari Yahudi, Abdullah bin Saba’. Jadi Syi’ah itu sesat meskipun di antara mereka ada yang Islam,” urainya.

Jelang pukul 13.00 siang, detik-detik berakhirnya jam bezuk, para tamu disuguhi adegan dramatis yang tidak pernah terbayangkan oleh siapapun. Ustadz Abu menepuk paha Ustadz Mudzakir yang duduk di sebelahnya dan berujar: “Sebaiknya antum ngaku sajalah kalau Syi’ah, atau bukan Syi’ah. Jelaskan kepada umat!”

Dengan raut wajah yang agak tegang dan terkejut, ustadz Mudzakir menjawabnya dengan bahasa Arab. Entah apa yang disampaikan ustadz Mudzakir, karena suara terdengar tidak begitu jelas. Namun Ustadz Abu tetap mengulangi nasihatnya kepada Ustadz Mudzakir agar berterus terang menjelaskan kepada umat apakah dirinya itu Syi’ah atau bukan.

Kesaksian Ustadz Abu Husna Abdurrohim

Ustadz Abu Husna Abdurrohim

Ustadz Abu Husna Abdurrohim

Pembaca yang budiman, berikut ini kami tampilkan kesaksian dengan sumpah seorang mukmin, Wa Allahi, tentang Mudzakir Gumuk yang terang benderang disebut oleh aktivis dakwah dan jihad Abu Husna melakukan aktivitas Syiah.

Aktivitas Syiah yang dimaksud itu dari mulai mengajar materi Syiah Tau’iyyah (Indoktrinisasi) di YAPI Bangil pimpinan Husein Al-Habsyi, menikah mut’ah dengan seorang perempuan yang janda mutahnya masih didapati pada tahun 2000, hingga dia dipercaya sebagai wakil Amir Syiah Husein Al-Habsyi yang sudah diketahui Abu Husna pada tahun 1985.

Berikut ini kami tampilkan secara utuh isi kesaksian Abu Husna Abdurrohim M. Thoyyib yang kami kutip dari shoutussalam.com Selasa (24/12/2013).

Bismillahirrahmanirrahim. Wallahi, di bawah ini saya tuliskan kesaksian saya tentang Mudzakir (KH. Mudzakir Gumuk) berkaitan kepada kebohongan dan keculasan dia akan perkara Syiah Iran. Wallahu musta’an.

1. +- Tahun 1978, saya Abu Husna Abdurrohim M. Thoyyib, adalah santri di Al-Mukmin, dan dibiayai oleh Bp. Abdullah Marzuki, pemilik Penerbit dan Toko Buku Tiga Serangkai, Jl. Hayam Wuruk, Solo.

Setiap liburan pesantren saya pulang ke Tiga Serangkai, bantu-bantu di rumah atau di percetakan bersama dua teman, Imam Muqorrib dan Aminnudin, juga ada teman di sekitar sana, namanya Jiya Iskandar, putra Bp. Buyung Nurdin, kebetulan dia ngaji ke Ust. Mu­dza­kir di masjid Gumuk. Suatu siang, saat liburan dan menginap di Tiga Serangkai, saya bermain sepeda di depan SD Mangkubumen (kalau tidak salah) bersama teman-teman.

Saat di jalan raya itu, saya ditanya oleh seorang tua berjubah dan berjenggot, “Di mana masjid Gumuk, masjidnya Ustadz Mudzakir.” Kebetulan saya sering sholat berjamaah di sana, jadi tahu juga arah­nya. Saya tunjukkan tempatnya. Secara sadar saya tanya beliau, “Boleh tahu, bapak siapa dan dari mana?” Jawabnya, “Saya Husein Al-Habsyi, dari YAPI Bangil Jatim. Dua anak saya, saya titipkan di pesantrennya Ustadz Mudzakkir,” lanjutnya. Saya baru tahu bahwa di komplek masjid Gumuk itu ada pesantrennya. Dan dua anaknya Husein Al-Habsyi ada di sana. Saya juga ditanya siapa saya. “Saya Gilang nama saya, dan saya santri Al-Mukmin Ngruki”, jawab saya.

Di kemudian hari, saya tahu bahwa Husein Al-Habsyi adalah Amir Syiah di Indonesia, yang telah berbaiat kepada Imam Khomeini di Qom Iran. Dan Ustadz Mudzakir adalah wakilnya di YAPI Bangil, mengajar materi Tau’iyyah (Indoktrinisasi). Yang pa­ling tahu terhadap hal ini adalah Sdr. Basuki Rahmat, seorang pembantu kantor di YAPI, yang pernah kami undang ke Ma’had Al-Mukmin +- tahun 1985.

2. +- Tahun 2000, saya diminta mengisi pengajian di Karanganyar di Pos, nama wilayah di sana. Setelah pengajian selesai kami berbincang dengan sebagian peserta seputar aktivitas di daerah tersebut. Di antaranya, di tempat tersebut banyak yang mengaji ke Ust. Mudzakir (Gumuk) dan beberapa perbinca­ngan tentang indikasi Syiah di Solo. Tiba-tiba ada seorang ikhwan peserta perbincangan nyletuk, “Siapa sih yang tidak yakin bahwa Ust. Mudzakir itu Syiah, suruh saja dia main ke tempat saya, biar saya jelaskan kesaksian istri saya, bahwa istri saya adalah janda mut’ahnya Mudzakir.”

3. +- Tahun 1998 saya berkunjung ke Malaysia, ke rumah ustadz-ustadz saya di sana, di antaranya berjumpa dengan Ustadz Abdullah Sungkar (Alm). Beliau bercerita runtut tentang kehadiran Ustadz Mudzakir beberapa waktu yang kedua kali, kata beliau selama dua jam Mudzakir berbincang di rumah Ust. Abdullah Sungkar.

Dikisahkan, bahwa kehadiran Ustadz Mudzakir di Malaysia di rumah Ustadz Abdullah Sungkar adalah dengan suatu misi permohonan kepada beliau, agar beliau berkenan menetralisir tuduhan para ikhwan di solo yang menyatakan beliau itu berpaham Syiah.

Jawab beliau kepada Mudzakir, “Itu mudah saja, caranya adalah terangkan dan jelaskan kepada umat Islam bahwa Syiah adalah suatu paham bid’ah dan bahkan kufur, sesat. Dan jelaskan bahwa Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah paham yang mu’tadil, tawassuth, konsekuen dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah sesuai dengan manhaj as-salaf ash-sholih. Setelah itu, dekat dan akrab-akrablah dengan muslim Ahlus Sunnah di mana saja, dan jauhi orang-orang Syiah di mana saja.”

Belakangan saya tahu bahwa jawaban Ustadz Abdullah Sungkar (alm.) tersebut sesuai dengan Al-Allamah Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah yang termuat di salah satu kitabnya. Penjelasan ustadz tersebut kami dengar bersama beberapa ikhwan lainnya.

4. Seingat saya ada sebuah majalah Islam yang memuat contoh doa laknat yang termuat di cover belakang buku ‘Hukumah Islamiyyah’, karya Imam Khomeini. Saat itu sempat kami fotocopy dan didistribusikan ke beberapa kalangan ikhwan di Solo.

Kemudian di saat kunjungan Mudzakkir dkk, Ustadz Wahyudin, Joko Beras, Dr. Sholeh, dll. dari pihak Mudzakir :
Saya, Abu Husna Abdurrohim Thoyyib, berinisiatif bertanya ke Mudzakkir di hadapan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir. Tanya saya, “Apa pendapat Ustadz Mudzakir tentang Imam Khomeini?” Jawabnya, “Ya, saya tidak tahu pasti.” Tanya saya lagi, “Apa Antum tidak membaca buku Ukhuwah Islamiyah?” Jawabnya, “Tidak pernah.”

Saya menilai bahwa jawaban dia ini sangat tidak logis, mustahil dan tidak masuk akal! Mana mungkin Mudzakir yang berkali-kali ke kota Qom dan dari awal revolusi Islam, menjadi wakil Amir Syiah Husein Al-Habsyi, Ustadz khusus Tau’iyyah di Ma’had YAPI, mengamalkan nikah mut’ah, dll, tapi tidak pernah membaca buku “Hukumah Islamiyah”, buku aqidah kaum Rafidhah Republik Islam Iran, yang berisi doa laknat terhadap Abu Bakar dan Umar, Aisyah dan Hafshah. Dusta, kafir!

Said Sungkar : Saya Menjawab Dengan Tegas Ust Mudzakir itu Syiah!

Ustadz Said Ahmad Sungkar menyatakan dalam surat dengan kop berlogo Dewan Pimpinan Wilayah Pekalongan Front Pembela Islam (DPW FPI) bahwa ia dengan tegas menyatakan Ustadz Mudzakir ‘Gumuk’ itu syiah. Berikut kami lampirkan surat pernyataan beliau bertanggal 1 Muharram 1435 Hijriah atau bertepatan dengan 5 November 2013.

Dalam Surat Pernyataan tersebut Ustadz Said Ahmad Sungkar selaku Dewan Syuro DPW FPI Pekalongan menyatakan sikapnya sebagai berikut:
06-17-05.14.37

Source: al-iqab.blogspot.sg

PERNYATAAN / KETERANGAN

Dengan mengharap rahmat dan ridho Allah Azza Wa Jalla, Saya membuat pernyataan ini agar tidak menjadikan bias atas perkara yang qiila wa qoola.

Tatkala saya ditanya salah seorang ikhwan, apakah Ustadz Mudzakir itu Syiah?

Saya menjawab dengan tegas tanpa ragu-ragu bahwa Ustadz Mudzakir syiah dengan alasan sebagai berikut:

1. Saya pernah se-mobil dengan Mudzakir (termasuk di dalamnya ada orang yang ikut bersama kami). Saat itu ada beberapa SMS yang masuk ke HP saya yang menyindir dengan kalimat “Afwan Ustadz, apakah Ustadz akan nikah mut’ah kok sampai semobil dengan Mudzakir?”.

Maka Saya berkata kepada Mudzakir “Saya keliling 45 negara dan menjumpai banyak ulama dan tokoh jihad, tapi sayang sekali saya belum pernah melihat atau bertatap muka dengan Ayatullah Khomeini”. Beliau (Mudzakir) yang duduk di kursi depan menoleh menghadap saya dan langsung terucap dari mulutnya “Demi Allah kalau saya bukan lagi melihat wajahnya tapi telah berjabat tangan dan baiat dengan Ayatullah Khomeini”.

2. Sebuah Pondok Pesantren milik syiah yang terletak di Wonotunggal Kabupaten Batang yang diserang oleh kaum muslimin sunni yang pada akhirnya pondok tersebut ditutup, saya mendengar bahwa 17 santri ponpes tersebut di pindah ke Pondok Pesantren milik Mudzakir.


Demikian penyataan ini saya buat, Saya bertanggungjawab di hadapan Allah Azza Wa Jalla dan Ummat Islam dan bila ana berbohong tentang pernyataan di atas, maka semoga Laknat Allah atas saya.


Pekalongan, 1 Muharram 1435 H

DPW FPI PEKALONGAN

Al Faqiir ILALLAH

Said Ahmad Sungkar

Dewan Syuro

Video KH. Mudzakir Gumuk Mencela Sahabat Muawiyah Radhiallahu ‘anhu:

Video K.H. Mudzakir Gumuk Menyatakan Orang2 Syi’ah Itu Saudaranya:


Referensi

  • ^voa-islam.com/news/indonesiana/2013/09/02/26610/dialog-ustadz-baasyir-dan-mudzakir-soal-syiah-jihad-suriah/;0
  • ^voa-islam.com/news/indonesiana/2013/09/02/26611/ustadz-baasyir-desak-mudzakir-antum-ngaku-saja-syiah-atau-bukan/
  • ^arrahmah.com/news/2013/12/24/mudzakir-culas-dalam-masalah-syiah-berikut-kesaksian-seorang-aktivis-senior-ustadz-abu-husna.html
  • ^al-iqab.blogspot.sg/2013/12/giliran-ustadz-mudzakir-solo-yang.html?m=1
  • ^youtube.com/watch?v=RoOSH96i4Lo
  • ^youtube.com/watch?v=_gyNEeq9Ewg
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s