Memainkan Birokrasi, Dana & Media – Upaya Keras Menggusur Nilai-nilai Syariat di Indonesia

96-22-10.53.08

“Kasus penutupan warteg di Serang itu menunjukkan ironi:

Orang yang melanggar peraturan pemerintah dan etika masyarakat setempat mendapat dukungan luar biasa dari warga masyarakat dan Pemerintah sendiri, orang yang taat aturan dan etika dihujat tidak toleran dan tidak menghormati pelanggaran aturan.

Ibu itu mendapat ratusan juta rupiah sebagai buah dari pelanggaran aturan dan sikap tidak solider kepada sesama pedagang makanan.

Pedagang-pedagang makanan lain yang taat aturan dan menghormati nilai-norma masyarakat setempat tidak dihargai.

Masih bisa dimengerti kekacuan akal ini hasil bentukan media upahan yang senang kalau bisa merusak kedamaian di masyarakat. Yang sulit dimengerti sikap sebagian orang Islam sendiri yang gampang tergiring, tersulut nafsunya dan dipecah belah.

Padahal shaum katanya menahan diri — terutama dari provokasi setan.”

Ada Upaya Keras Menggusur Nilai-nilai Syariat di Negara Ini. Caranya, memainkan 3 sektor: BIROKRASI, DANA, dan MEDIA.

Mereka mau pakai MILITER, tapi alhamdulillah gagal karena TNI masih waras.

Screenshot_2016-06-16-00-11-44_1

Kasus “Warung Nasi” di Serang, jadi momen untuk menggusur KULTUR RELIGIUS masyarakat kita.

Kasusnya kecil, tapi menjadi isyarat ada GERAKAN BESAR di baliknya.

Coba renungkan beberapa fakta berikut:

Jadi judulnya, kaum kufar, dan orang-orang pandai yang tersesat, baik lokal maupun asing, sedang berusaha keras untuk MENGGUSUR KEKUATAN MORAL SYARIAT di bumi Nusantara ini.

MEREKA sekian lama mengepung Ummat dengan serangan pemikiran, opini media, politik, birokrasi, bisnis, budaya, dll. Mungkin mereka ingin mencoba masuk jalur KEKUATAN FISIK. Wallahul Musta’an.

KITA ini cinta damai. Tapi kalau mereka membuka FRONT, ya orang-orang Mukmin tidak bisa menolak.

Inilah Aktor Ide Penghapusan Perda Bernuansa Islam

Screenshot_2016-06-18-12-40-29_1

Tim Sukses (Timses) bagian Hukum dan Advokasi Joko Widodo-Jusuf Kalla Trimedya Pandjaitan pernah menyampaikan pada saat kampanye pilpres bahwa jika Jokowi JK terpilih akan menghapus Peraturan Daerah (PerDa) bernuansa Islam.

“Jika kelak tokoh jagoannya menang dalam Pilpres tidak akan mendukung pemberlakukan perda yang beraroma syariat Islam. Bagi dia, Perda Syariat Islam bertentangan dengan Pancasila. Ideologi PDIP Pancasila 1 Juni 1945. Pancasila sebagai sumber hukum sudah final,” kata Trimedya di Kantor DPP PDI Perjuangan Lenteng Agung, Jakarta, seperti dilansir inilah.com, Rabu (4/6/2014).

Saat itu Trimedia beralasan bahwa Perda berbasis syariat Islam ini bisa mengganggu kemajemukan NKRI. Menurut dia, Perda Syariat dapat menciptaan pengotak-kotakan di dalam masyarakat.

“Ke depan kami berharap Perda syariat Islam tidak ada. Ini bisa mengganggu kemajemukan karena menciptakan pengotak-ngotakan masyarakat,” terang Trimedya.

Pernyataan Timses Jokowi JK saat itu langsung direspon oleh Timses Prabowo Hatta Ahmad Yani dengan mengatakan bahwa pernyataan Trimedya Pandjaitan menunjukkan tidak paham undang-undang. “Trimedya harus paham dulu UU No 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan, UU Otonomi Daerah yang menyebutkan bagaimana menyerap hukum adat dan lokal yang menjadi bagian sistem hukum nasional,” kata Yani.

Semoga Mereka Berani Menyerang dengan Palu Arit

Pemikir Islam Ustadz Haikal Hassan prihatin dengan media massa liberal yang terus menyerang Islam dan umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Tak hanya media liberal, Islam juga diserang melalui sosial media.

“Islam diserang melalui fb, tw, ig, media. Lawan dengan fb, tw, ig, media. Semoga mrk berani menyerang dengan golok, palu, arit,” tegas Haikal Hassan melalui akun Twitter ‏@haikal_hassan.

Menurut Haikal, media telah memoles parpol yang mendukung kesewenangan dan keangkuhan. “Kematian nurani. Itu kata yg tepat bagi parpol biadab yg dukung kesewangan & keangkuhan. Lalu dipoles media laknat. Klop tuk hancurkan NKRI,” tulis @haikal_hassan.

Haikal Hassan meyakini, pengiringan opini yang berupaya menyembunyikan kebenaran, akan berakhir. “Terlalu banyak jatuh korban akibat pelintiran berita. Kalian sembunyikan kebenaran dan giring opini. Sebentar lagi akhir dr kebiadaban ini,” tegas @haikal_hassan.

FPI menilai, media grup Kompas telah menyebarkan berita negatif terkait razia dan penyitaan makanan dagangan warung Tegal milik Saeni di Kota Serang, Banten.

Bos Kompas, Berhentilah Menipu Rakyat!

Screenshot_2016-06-23-03-56-32_1

Bagi para pemburu popularitas melalui jaringan media kapitalis tak pernah bernyali untuk mengkritisi bos Kompas, Jakob Oetama. Tak terkecuali, bahkan hampir semua wartawan di negeri ini menganggapnya bak dewa. Padahal, sesungguhnya Jakob Oetama adalah penjahat industri pers kelas kakap !

Lima tahun lalu, ketika saya masih aktif menulis di blog milik Kompas, salah satu wartawan didikan Jakob Oetama pernah menegur saya lantaran beberapa artikel yang saya tulis dianggap membuka aib bosnya. Tentang kejahatan Kompas menipu publik dengan aneka isu dan opini yang penuh rekayasa. Si jurnalis senior itu beberapa waktu lalu dikabarkan telah mati (selamat jalan pejuang pers kapitalis).

Saya mengamati, dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, kejahatan Kompas sungguh luar biasa. Ribuan berita diproduksi guna mendongkrak pencitraan Jokowi, Ahok dan Megawati secara membabi-buta. Dengan sasaran melanggengkan agenda politik konglomerat Aseng melalui perhelatan pemilu curang.

Saya mengamati, dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, kejahatan Kompas sungguh luar biasa. Ribuan berita diproduksi guna mendongkrak pencitran Jokowi, Ahok dan Megawati secara membabi-buta.

Dan sebaliknya, siapa pun yang dianggap bersebrangan dengan kepentingan mereka, akan digiring ke dalam berbagai rupa penistaan dan hujatan. Prabowo dan mitra koalisinya merupakan korban konspirasi paling memprihatinkan. Bayangkan, semua yang menyangkut Prabowo dan Koalisi Merah Putih (KMP) dibuat takluk. Tak berdaya untuk menghadapi derasnya arus kebohongan publik yang diciptakan oleh media utama penyokong kepentingan Neoliberal tersebut.

Kenyataan itu membuat saya heran, kenapa kejahatan Kompas dibiarkan begitu saja…? Bos Kompas Jakob Oetama benar-benar sukses memperalat para jurnalisnya menjadi pembohong dan seolah tak mendapatkan reaksi keras dari mereka yang menjadi korban permainan opini yang menyesatkan. !

Salam
Faizal Assegaf
Ketua Progres 98

Jejak Hitam Komplotan Kompas

  • “Ini tahapan finalisasi untuk menguasai Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim.” (Rumusan konspirasi “cukong” yang berkumpul bersama petinggi Kompas Gramedia Group, elite PDIP dan misionaris Katolik setelah jago yang mereka usung yakni Jokowi-Ahok berhasil menguasai Jakarta).
  • Di Antara jejak hitam komplotan Kompas, misionaris Katolik, dan konglomerasi Tionghoa: Ingat… tahun 1998 – 1999 ternyata Uskup Belo dan Kompas terlibat bermain mata untuk memuluskan kepentingan cukong yang mengincar sumber kekayaan minyak di Laut Timor. Dan untuk hajat busuk itu, maka jalan ekstrim disintegrasi (Timor Timur lepas dari NKRI) pun dimainkan.
  • Sangat menyedihkan, konspirasi Kompas dan gereja Katolik yang dipimpin oleh Uskup Belo sukses menyulut api kebencian di hati rakyat Timor-Timur. Di mana ratusan ribu warga Indonesia yang sebagian besar berasal dari Pulau Jawa yang puluhan tahun menetap di Timor-Timur menjadi sasaran perlakuan tidak manusiawi, diusir dan ribuan dari mereka kehilangan nyawa serta harta bendanya.
  • Kini Kompas Gramedia Group, cukong dan basis jaringan Katolik dengan mencolok tengah gencar memainkan “disintegrasi politik” yang memporak-porandakan tatanan sosial di negeri ini. Melalui penunggangan PDIP, Jokowi dipaksakan tampil sebagai boneka mereka untuk dipersiapkan memimpin Indonesia lima tahun ke depan.Skenario busuk itu tidak lain bertujuan untuk memperluas pengaruh Katolik dan cukong dalam penguasaan negara, sentra ekonomi-keuangan dan sebagainya. Ambisi itu sangat nyata, dan secara terbuka tokoh Katolik paling berpengaruh, Franz Magnis Suseno menyampaikan pesan berupa ancaman: “Bila Jokowi tidak jadi presiden maka Indonesia akan rusuh…”

Inilah sorotannya:

Bos Kompas: Katolik dan Cukong Wajib Dukung Jokowi

Ada cerita menarik yang beredar terbatas di kalangan petinggi Kompas Gramedia Group. Tentang konspirasi di balik opini bentukan jaringan media menghadapi pemilu 2014. Tentang “kolaborasi kotor” kelompok misionaris Katolik, konglomerasi Tionghoa dan elit PDIP. Tentang rekayasa pencitraan Jokowi – Ahok menggilas akal sehat publik.

Kisah penuh misteri itu berawal di akhir bulan Desember 2013. Orang – orang berduit triliun rupiah yang kemudian dikenal dengan “cukong”, berkumpul bersama petinggi Kompas Gramedia Group, elite PDIP dan misionaris Katolik. Atas nama kesamaan kepentingan ideologi, merumuskan sebuah konspirasi jahat.

“Kita sudah berhasil membawa Jokowi – Ahok di posisi jabatan strategis DKI Jakarta, kini selanjutnya mempermulus jalan untuk memastikan Jokowi menjadi Presiden dan Ahok tampil memimpin Jakarta.” Sembari menegaskan: “Ini tahapan finalisasi untuk menguasai Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim.”

Sembari menegaskan: “Ini tahapan finalisasi untuk menguasai Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim.”

Dengan mengusung tema liputan “Indonesia Satu”, crew redaksi Kompas bergerak lincah menyebarkan serangkaian isu dan opini penuh tipu muslihat ke ruang publik. Sasaran mendongkrak popularitas Jokowi – Ahok dan menghembuskan kebencian rakyat kepada elite dan partai non PDIP.

Hasilnya, dalam kurun waktu yang tidak lama, Jokowi – Ahok diposisikan sebagai figur fenomenal di panggung politik nasional jelang Pemilu 2014. Publik hampir setiap hari disuguhi berbagai berita dari aneka lakon dua boneka yang terus melenggang bebas mewakili ambisi cukong dan jaringan katolik.

Dengan mengabaikan visi, Jokowi – Ahok hadir bagai sinetron berdurasi tanpa batas menyihir pembaca dan pemirsa. Mulai dari serangkaian kisah blusukan Jokowi yang menguras anggaran miliaran rupiah dari APBD, hingga celoteh penuh amarah tanpa etika diperankan secara membabi-buta oleh Ahok. Mirip pertunjukan “topeng monyet”, yang setiap gerak-geriknya sudah terlatih dan sepenuhnya dikendali oleh dalang alias cukong.

Jejak Hitam

Kompas punya sejarah panjang dalam kongsi kepentingan dengan cukong. Media utama milik kelompok Katolik ini, telah menjadi jaringan yang terus menggurita. Di tahun 1998 – 1999, Kompas sukses mencitrakan pengaruh Uskup Belo dalam pergolakan politik paling spektakuler yang berujung pada pelepasan Timor-Timur dari wilayah NKRI.

Uskup Belo dikesankan bagai pahlawan kemanusiaan yang secara sporadis menyudutkan ABRI (TNI) sebagai penjahat HAM dalam serangkaian kasus pembantaian massal di Timor-Timur. Tudingan tanpa bukti itu, nyaris setiap hari menghias halaman utama koran Kompas dan memicu intervensi kekuatan asing.

Setelah setahun Timor-Timur lepas dari NKRI, publik kemudian baru menyadari ternyata: Uskup Belo dan Kompas terlibat bermain mata untuk memuluskan kepentingan cukong yang mengincar sumber kekayaan minyak di Laut Timor. Dan untuk hajat busuk itu, maka jalan ekstrim disintegrasi pun dimainkan.

Sangat menyedihkan, konspirasi Kompas dan gereja Katolik yang dipimpin oleh Uskup Belo sukses menyulut api kebencian di hati rakyat Timor-Timur. Di mana ratusan ribu warga Indonesia yang sebagian besar berasal dari Pulau Jawa yang puluhan tahun menetap di Timor-Timur menjadi sasaran perlakuan tidak manusiawi, diusir dan ribuan dari mereka kehilangan nyawa serta harta bendanya.

Tragedi berdarah lepasnya Timor-Timur (Timor Leste) dari wilayah Indonesia adalah fakta sejarah yang tak terlupakan. Wilayah yang berpenduduk mayoritas Katolik tersebut oleh Kompas sangat berkepentingan untuk menjadikannya sebagai negara boneka dalam kendali Australia, Eropa dan Amerika.

Timor Leste memiliki potensi sumber kekayaan alam dan berada di zona strategis serta berdampingan dengan NTT yang berpenduduk mayoritas Katolik. Dan oleh Australia, Timor Leste telah dijadikan pangkalan militer yang setiap saat dapat memperluas pengaruhnya dengan mencaplok kawasan di sekitarnya. Jalan kearah itu semakin terbuka lebar. Dan lagi-lagi, Kompas menyembunyikan rencana licik itu dari perhatian publik.

Bagaimana dengan Jokowi – Ahok…?

Kompas Gramedia Group, cukong dan basis jaringan Katolik dengan mencolok tengah gencar memainkan “disintegrasi politik” yang memporak-porandakan tatanan sosial di negeri ini. Melalui penunggangan PDIP, Jokowi dipaksakan tampil sebagai boneka mereka untuk dipersiapkan memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Skenario busuk itu tidak lain bertujuan untuk memperluas pengaruh Katolik dan cukong dalam penguasaan negara, sentra ekonomi-keuangan dan sebagainya. Ambisi itu sangat nyata, dan secara terbuka tokoh Katolik paling berpengaruh, Franz Magnis Suseno menyampaikan pesan berupa ancaman: “Bila Jokowi tidak jadi presiden maka Indonesia akan rusuh…”

Lebih baik membawa mayoritas Katolik Timor-Timur lepas dari NKRI dari pada bergabung dengan ummat Islam dalam kebhinekaan Indonesia…”

Pernyataan misionaris Katolik Franz Magnis Suseno, tidak berbeda dengan apa yang pernah dilontarkan oleh Uskup Belo: “Lebih baik membawa mayoritas Katolik Timor-Timur lepas dari NKRI dari pada bergabung dengan ummat Islam dalam kebhinekaan Indonesia…”

Cara pandang para tokoh Katolik yang berkonsiprasi dengan cukong, membuat banyak pihak bertanya: “Di mana sikap nasionalisme Megawati dan politisi PDIP…?”

Hem, uang dan kerakusan kekuasaan telah melunturkan spirit nasionalisme elite partai. Masa depan rakyat di negeri ini tengah berjalan menuju jurang kehancuran. Prihatin ! [Faizal Assegaf/visibaru]

 

Sumber

  • ^nahimunkar.com/catatan-kasus-warteg-serang/
  • ^nahimunkar.com/ada-upaya-keras-menggusur-nilai-nilai-syariat-indonesia-memainkan-birokrasi-dana-media/
  • ^nahimunkar.com/inilah-aktor-ide-penghapusan-perda-bernuansa-islam/
  • ^intelijen.co.id/pemikir-islam-islam-diserang-semoga-mereka-berani-menyerang-dengan-palu-arit/
  • ^nahimunkar.com/bos-kompas-berhentilah-menipu-rakyat/
Iklan

2 responses »

  1. […] Memainkan Birokrasi, Dana & Media – Upaya Keras Menggusur Nilai-nilai Syariat di Indonesia […]

    Suka

  2. […] Memainkan Birokrasi, Dana & Media – Upaya Keras Menggusur Nilai-nilai Syariat di Indonesia […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s