Propaganda “Kamu Wahabi!”

Img Source: votreesprit.wordpress.com

Img Source: votreesprit.wordpress.com


Arab Saudi Disebut Wahabi, Negeri Syi’ah Iran Dipuja-puja

Mencintai Islam, sebuah keniscayaan. Dan, cinta selalu menuntut pengorbanan dari pencintanya.

“Kamu wahabi…!”, begitu tudingan seorang dosen padaku, di Facebook beberapa waktu lalu.

Pertanyaannya, layakkah seorang muslim melontarkan tuduhan tak bermutu sejenis itu? Bukankah, semestinya orang-orang yang berpikir ilmiah akan berusaha menggali dan mencari tahu siapa itu wahabi? Bukan asal ceplas-ceplos.

Mengaku Islam, namun kerjaannya setiap hari memojokkan Islam dan sesama muslim. Saat seorang muslim coba menghidupkan sunnah, maka tak ayal lagi label wahabi segera disematkannya.

“Dia tuh wahabi, yang suka mengkafirkan, ngatain sesat, suka membunuh, membid’ahkan…”

Padahal, tuduhan wahabi itu salah satu senjata syiah untuk memfitnah ahlulsunnah.

Arab Saudi, dituding wahabi. Negara syiah dibela dan dipuja puji. Jika Saudi wahabi, mengapa mereka malah memuliakan kaum muslimin? Katanya mereka pembunuh, tapi jamaah haji aman dan nyaman saja.

Ilustrasi: Raja Arab dikubur Secara Sederhana

Ilustrasi: Raja Arab dikubur Secara Sederhana


Yah, musuh-musuh Islam dengan segala cara membuat makar untuk menghancurkan Islam dari dalam umat Islam itu sendiri.

Namun, setinggi apapun upaya mereka, makar Allah Ta’ala sungguh lebih hebat,

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah, sebaik-baik pembalas tipu daya.” (Ali-‘Imran: 54).

Apa itu wahabi?

Seseorang bertanya, “Apa itu wahabi?”

Maka saya katakan padanya jika mau tahu jawabannya saya menyarankan lakukan seperti yang saya lakukan dulu.

“Apa itu?”

“Mulai rutin datangi majelis ilmu. Rajin belajar ilmu syar’i yang bersumber pada Al Qur’an dan Al Hadist.”

“Kenapa bisa begitu? Bukannya bisa dijelaskan saja?”

“Menurut saya, belajar ilmu syar’i yang benar, jauh lebih bermanfaat dan bisa mencerahkan ke-awam-an kita ketimbang sibuk bergelut isu-isu tak penting”

“Wahabi kan banyak dibicarakan orang…”

“Iya, dibicarakan orang-orang yang bisa jadi tak pernah ke majelis ilmu…”

“Kok bisa begitu?”

“Mulailah besok hadiri majelis ilmu. Insya Allah nanti kau akan mengerti mengapa…”


Kenapa Disebut Wahabi?

Mungkin yang terlintas di benak kita jika pertama kali mendengar kata-kata wahabi adalah sebuah kelompok Islam garis keras yang di kenal tidak toleran dengan kelompok Islam lainnya.

Tulisan ini saya buat berdasarkan pengalaman yang saya lihat, dengar dan rasakan selama ini. Tentang kelompok yang bernama Wahabi, sering saya lihat dan dengar banyak di antara kita yang memusuhi mereka. Tulisan ini bukan juga untuk membela kelompok Wahabi, tetapi selalu saja muncul di benak saya, Mengapa demikian? Apa sebenarnya penyebab utama mereka selalu di benci?

Wahabi dikenal sebagai kelompok yang dengan mudah mengkafirkan umat muslim lainnya yang tak sepaham degan mereka. Wahabi juga dikenal sebagai kelompok ekstrem. Awalnya saya juga mengira demikian, dikarenakan saya kurang mendalami ilmu Agama ini. Namun setelah saya mempelajari ilmu Agama ini lebih dalam lagi, akhirnya saya mengerti mengapa demikian. Ketika saya mempelajari biografi dari Syeikh Muhammad bin Abdul wahhab itu sendiri, saya hampir tidak menemukan sesuatu yang ganjal di sana. Malah saya kagum dengan kegigihan beliau dalam menegakan Tauhid di tanah Arab yang mulanya mendapat penolakan keras dari masyarakat sekitar. Cita-cita beliau hanya menegakan Al-Qur’an dan As-Sunnah, memurnikan ajaran Islam ini dari kesyirikan dan kebid’ahan.

Dalam media sosial saya selalu menemukan postingan yang menghina dan menyesatkan kelompok Wahabi. Namun ketika saya tanya, sejak kapan dan di mana kelompok wahabi menamakan mereka sebagai wahabi? Siapa orang yang pertama kali mendeklarasikan kelompok wahabi? mengapa mereka mendirikan kelompok wahabi? Siapa rujukan mereka? Tapi tak ada satupun jawaban yang memuaskan. Jawaban mereka cuma mengambil dari referensi web, ataupun video seorang ustadz yang mencaci maki perbuatan Wahabi.

Seharusnya kita tidak diperbolehkan untuk langsung percaya jika ada saudara kita dari kalangan Muslim yang melakukan keburukan sampai kita mempunyai bukti nyata. Kenapa kita dengan mudah percaya dengan berita-berita demikian? Bahkan yang sering saya pertanyakan, apakah pantas untuk seorang Ustadz atau Aliim Ulama untuk mencaci maki kelompok Muslimin yang lain? Sudah banyak biografi tentang Ulama terdahulu yang saya baca. Dan saya belum menemukan ulama terdahulu yang terkenal Ilmu dan Akhlaknya untuk mencaci maki Muslimin yang lain.

Nabi Muhammad SAW tidak pernah mengajarkan umatnya untuk membuat suatu kelompok atas nama Islam. Agama ini sudah sempurna, tidak bisa kita menambah atau mengurangkan ajaran Agama ini. Namun berdasarkan yang saya alami selama ini, jika kita mengamalkan Islam ini sebagai mana yang di contohkan oleh Rasulullah SAW dan menolak dari yang selainnya maka setidaknya kita akan disebut sebagai orang wahabi atau Islam ekstrem. Meskipun kita tidak pernah ikut-ikut kelompok seperti itu, tapi itulah kenyataannya. Dari situ juga saya pelajari bahwa sebutan Wahabi hanya sebuah gelar untuk orang-orang yang memegang teguh Sunnah Nabi SAW dan akan dimusuhi banyak orang.

Sejak pertama kali Islam ini turun, sudah banyak yang tidak senang dan memusuhinya. Jadi bukan lagi sesuatu yang mustahil untuk kita jika mengamalkan Islam yang murni sesuai tuntunan Nabi SAW maka akan dimusuhi dan di benci oleh banyak orang. Dengan berbagai cara mereka yang tidak suka dan memusuhi ajaran Islam ini untuk mengahancurkannya menggunakan berbagai fitnah.

Tetapi sebenarnya musuh yang paling berbahaya bagi kita umat Muslim adalah orang-orang munafik. Yang notabenenya orang muslim, sudah bersyahadat, ikut sholat, puasa, zakat bahkan Haji tetapi membenci Syariat Islam, menganggap bodoh orang yang mengikuti Sunnah Nabi SAW dengan mengejek orang berjenggot dan lain sebagainya. Sungguh tak pantas di sebut orang Muslim tapi apa daya kita yang hanya Manusia tak bisa menghakimi orang seperti itu. Yang terpenting kita bisa menyelamatkan diri kita sendiri dan keluarga kita dari api neraka. Selebihnya serahkan kepada Allah Ta’ala.


Propaganda “Kamu Wahabi!” di Indonesia

Img Src: amrullohhanif.blogspot.com

Img Src: amrullohhanif.blogspot.com


Belakangan ketika isu terorisme kian dihujamkan di jantung pergerakan Ummat Islam agar iklim pergerakan dakwah terkapar lemah tak berdaya. Nama Wahabi menjadi salah satu faham yang disorot dan kian menjadi bulan-bulanan aksi “tunjuk hidung,” bahkan hal itu dilakukan oleh kalangan ustadz dan kiyai yang berasal dari tubuh Ummat Islam itu sendiri.

Beberapa buku propaganda pun diterbitkan untuk menghantam pergerakan yang dituding Wahabi, di antaranya buku hitam berjudul “Sejarah Berdarah Sekte Salafi-Wahabi: Mereka Membunuh Semuanya Termasuk Para Ulama.” Bertubi-tubi, berbagai tudingan dialamatkan oleh alumnus dari Universitas di Bawah Naungan Kerajaan Ibnu Saud yang berhaluan Wahabi, yaitu Prof. Dr. Said Siradj, MA. Tak mau kalah, para kiyai dari pelosok pun ikut-ikutan menghujat siapapun yang dituding Wahabi. Kasus terakhir adalah statement dari kiyai Muhammad Bukhori Maulana dalam tabligh akbar FOSWAN di Bekasi baru-baru ini turut pula menyerang Wahabi dengan tudingan miring. Benarkah tudingan tersebut?

Menarik memang menyaksikan fenomena tersebut. Gelagat pembunuhan karakter terhadap dakwah atau personal pengikut Wahabi ini bukan hal baru, melainkan telah lama terjadi. Hal ini bahkan telah diurai dengan lengkap oleh ulama pejuang dan mantan ketua MUI yang paling karismatik, yaitu Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau yang biasa disapa Buya HAMKA. Siapa tak mengenal Buya HAMKA? Kegigihan, keteguhan dan independensinya sebagai seorang ulama tidak perlu diragukan lagi tentunya.

Dalam buku “Dari Perbendaharaan Lama,” Buya HAMKA dengan gamblang beliau merinci berbagai fitnah terhadap Wahabi di Indonesia sejatinya telah berlangsung berkali-kali. Sejak Masa Penjajahan hingga beberapa kali Pemilihan Umum yang diselenggarakan pada era Orde Lama, Wahabi seringkali menjadi objek perjuangan yang ditikam fitnah dan diupayakan penghapusan atas eksistensinya. Mari kita cermati apa yang pernah diungkap Buya Hamka dalam buku tersebut:

“Seketika terjadi Pemilihan Umum , orang telah menyebut-nyebut kembali yang baru lalu, untuk alat kampanye, nama “Wahabi.” Ada yang mengatakan bahwa Masyumi itu adalah Wahabi, sebab itu jangan pilih orang Masyumi. Pihak komunis pernah turut-turut pula menyebut-nyebut Wahabi dan mengatakan bahwa Wahabi itu dahulu telah datang ke Sumatera. Dan orang-orang Sumatera yang memperjuangkan Islam di tanah Jawa ini adalah dari keturunan kaum Wahabi.

Memang sejak abad kedelapan belas, sejak gerakan Wahabi timbul di pusat  tanah Arab, nama Wahabi itu telah menggegerkan dunia. Kerajaan Turki yang sedang berkuasa, takut kepada Wahabi. Karena Wahabi adalah, permulaan kebangkitan bangsa Arab, sesudah jatuh pamornya, karena serangan bangsa Mongol dan Tartar ke Baghdad. Dan Wahabi pun ditakuti oleh bangsa-bangsa penjajah, karena apabila dia masuk ke suatu negeri, dia akan mengembangkan mata penduduknya menentang penjajahan. Sebab faham Wahabi ialah meneguhkan kembali ajaran Tauhid yang murni, menghapuskan segala sesuatu yang akan membawa kepada syirik. Sebab itu timbullah perasaan tidak ada tempat takut melainkan Allah. Wahabi adalah menentang keras kepada Jumud, yaitu memahamkan agama dengan membeku. Orang harus kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Ajaran ini telah timbul bersamaan dengan timbulnya kebangkitan revolusi Prancis di Eropa. Dan pada masa itu juga “infiltrasi” dari gerakan ini telah masuk ke tanah Jawa. Pada tahun 1788 di zaman pemerintahan Paku Buwono IV, yang lebih terkenal dengan gelaran “Sunan Bagus,” beberapa orang penganut faham Wahabi telah datang ke tanah Jawa dan menyiarkan ajarannya di negeri ini. Bukan saja mereka itu masuk ke Solo dan Yogya, tetapi mereka pun meneruskan juga penyiaran fahamnya di Cirebon, Bantam dan Madura. Mereka mendapat sambutan baik, sebab terang anti penjajahan.

Sunan Bagus sendiri pun tertarik dengan ajaran kaum Wahabi. Pemerintah Belanda mendesak agar orang-orang Wahabi itu diserahkan kepadanya.Pemerintah Belanda cukup tahu, apakah akibatnya bagi penjajahannya, jika faham Wahabi ini dikenal oleh rakyat.

Padahal ketika itu perjuangan memperkokoh penjajahan belum lagi selesai. Mulanya Sunan tidak mau menyerahkan mereka. Tetapi mengingat akibat-akibatnya bagi Kerajaan-kerajaan Jawa, maka ahli-ahli kerajaan memberi advis kepada Sunan, supaya orang-orang Wahabi itu diserahkan saja kepada Belanda. Lantaran desakan itu, maka mereka pun ditangkapi dan diserahkan kepada Belanda. Oleh Belanda orang-orang itu pun diusir kembali ke tanah Arab.

Tetapi di tahun 1801, artinya 12 tahun di belakang, kaum Wahabi datang lagi. Sekarang bukan lagi orang Arab, melainkan anak Indonesia sendiri, yaitu anak Minangkabau. Haji Miskin Pandai Sikat (Agam) Haji Abdurrahman Piabang (Lubuk Limapuluh Koto), dan Haji Mohammad Haris Tuanku Lintau (Luhak Tanah Datar).

Mereka menyiarkan ajaran itu di Luhak Agam (Bukittinggi) dan banyak beroleh murid dan pengikut. Diantara murid mereka ialah Tuanku Nan Renceh Kamang. Tuanku Samik Empat Angkat. Akhirnya gerakan mereka itu meluas dan melebar, sehingga terbentuklah “Kaum Paderi” yang terkenal. Di antara mereka ialah Tuanku Imam Bonjol. Maka terjadilah “Perang Paderi” yang terkenal itu. Tiga puluh tujuh tahun lamanya mereka melawan penjajahan Belanda.

Bilamana di dalam abad ke delapan belas dan Sembilan belas gerakan Wahabi dapat dipatahkan, pertama orang-orang Wahabi dapat diusir dari Jawa, kedua dapat dikalahkan dengan kekuatan senjata, namun di awal abad kedua puluh mereka muncul lagi!

Di Minangkabau timbullah gerakan yang dinamai “Kaum Muda.” Di Jawa datanglah K.H. A. Dahlan dan Syekh Ahmad Soorkati. K.H.A. Dahlan mendirikan “Muhammadiyah.” Syekh Ahmad Soorkati dapat membangun semangat baru dalam kalangan orang-orang Arab. Ketika dia mulai datang, orang Arab belum pecah menjadi dua, yaitu Arrabithah Alawiyah dan Al-Irsyad. Bahkan yang mendatangkan Syekh itu ke mari adalah dari kalangan yang kemudiannya membentuk Ar-Rabithah Adawiyah.

Musuhnya dalam kalangan Islam sendiri, pertama ialah Kerajaan Turki. Kedua Kerajaan Syarif di Mekkah, ketiga Kerajaan Mesir. Ulama-ulama pengambil muka mengarang buku-buku buat “mengafirkan” Wahabi. Bahkan ada di kalangan Ulama itu yang sampai hati mengarang buku mengatakan bahwa Muhammad bin Abdul Wahab pendiri faham ini adalah keturunan Musailamah Al Kazhab!

Pembangunan Wahabi pada umumnya adalah bermazhab Hambali, tetapi faham itu juga dianut oleh pengikut Mazhab Syafi’i, sebagai kaum Wahabi Minangkabau. Dan juga penganut Mazhab Hanafi, sebagai kaum Wahabi di India.

Sekarang “Wahabi” dijadikan alat kembali oleh beberapa golongan tertentu untuk menekan semangat kesadaran Islam yang bukan surut ke belakang di Indonesia ini, melainkan kian maju dan tersiar. Kebanyakan orang Islam yang tidak tahu di waktu ini, yang dibenci bukan lagi pelajaran wahabi, melainkan nama Wahabi.

Ir. Dr. Sukarno dalam “Surat-Surat dari Endeh”nya kelihatan bahwa fahamnya dalam agama Islam adalah banyak mengandung anasir Wahabi.

Kaum komunis Indonesia telah mencoba menimbulkan sentiment Ummat Islam dengan membangkit-bangkit nama Wahabi. Padahal seketika terdengar kemenangan gilang-gemilang yang dicapai oleh Raja Wahabi Ibnu Saud, yang mengusir kekuasaan keluarga Syarif dari Mekkah. Ummat Islam mengadakan Kongres Besar di Surabaya dan mengetok kawat mengucapkan selamat atas kemenangan itu (1925). Sampai mengutus dua orang pemimpin Islam dari Jawa ke Mekkah, yaitu H.O.S. Cokroaminoto dan K.H. Mas Mansur. Dan Haji Agus Salim datang lagi ke Mekkah tahun 1927.

Karena tahun 1925 dan tahun 1926 itu belum lama, baru lima puluh tahun lebih saja, maka masih banyak orang yang dapat mengenangkan bagaimana pula hebatnya reaksi pada waktu itu, baik dari pemerintah penjajahan, walau dari Ummat Islam sendiri yang ikut benci kepada Wahabi, karena hebatnya propaganda Kerajaan Turki dan Ulama-ulama pengikut Syarif.

Sekarang pemilihan umum yang pertama sudah selesai. Mungkin menyebut-nyebut “Wahabi” dan membusuk-busukkannya ini akan disimpan dahulu untuk pemilihan umum yang akan datang. Dan mungkin juga propaganda ini masuk ke dalam hati orang, sehingga gambar-gambar “Figur Nasional,” sebagai Tuanku Imam Bonjol dan K.H.A. Dahlan diturunkan dari dinding. Dan mungkin perkumpulan-perkumpulan yang memang nyata kemasukan faham Wahabi seperti Muhammadiyah, Al-Irsyad, Persis dan lain-lain diminta supaya dibubarkan saja.

Kepada orang-orang yang membangkit-bangkit bahwa pemuka-pemuka Islam dari SUmmatera yang datang memperjuangkan Islam di Tanah Jawa ini adalah penganut atau keturunan kaum Wahabi, kepada mereka orang-orang dari SUmmatera itu mengucapkan banyak-banyak terima kasih! Sebab kepada mereka diberikan kehormatan yang begitu besar!

Sungguh pun demikian, faham Wahabi bukanlah faham yang dipaksakan oleh Muslimin, baik mereka Wahabi atau tidak. Dan masih banyak yang tidak menganut faham ini dalam kalangan Masyumi. Tetapi pokok perjuangan Islam, yaitu hanya takut semata-mata kepada Allah dan anti kepada segala macam penjajahan, termasuk Komunis, adalah anutan dari mereka bersama!”

Dari paparan tersebut, jelaslah bahwa Buya HAMKA berhasil menelisik akar terjadinya fitnah yang dialamatkan kepada Wahabi. Ini menandakan vonis “Faham Hitam” yang dituduhkan kepada Wahabi pada dasarnya adalah modus lama namun didesain dengan gaya baru yang disesuaikan dengan kepentingan dan arahan yang disetting oleh para Think Tank “Gurita Kolonialisme Abad 21.”

Maka perhatikanlah apa yang pernah diutarakan oleh Buya HAMKA dalam pembahasan Islam dan Majapahit berikut ini:

“Memang, di zaman Jahiliyah kita bermusuhan, kita berdendam, kita tidak bersatu! Islam kemudiannya adalah sebagai penanam pertama dari jiwa persatuan. Dan Kompeni Belanda kembali memakai alat perpecahannya, untuk menguatkan kekuasaannya.”

“Tahukah tuan, bahwasanya tatkala Pangeran Dipenogero, Amirul Mukminin Tanah Jawa telah dapat ditipu dan perangnya dikalahkan, maka Belanda membawa Pangeran Sentot Ali Basyah ke Minangkabau buat mengalahkan Paderi? Tahukah tuan bahwa setelah Sentot merasa dirinya tertipu, sebab yang diperanginya itu adalah kawan sefahamnya dalam Islam, dan setelah kaum Paderi dan raja-raja Minangkabau memperhatikan ikatan serbannya sama dengan ikatan serban Ulama Minangkabau, sudi menerima Sentot sebagai “Amir” Islam di Minangkabau? Teringatkah tuan, bahwa lantaran rahasia bocor dan Belanda tahu, Sentot pun diasingkan ke Bengkulu dan di sana beliau berkubur buat selama-lamanya?”

“Maka dengan memakai faham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan saja, tanpa Islam, orang harus kembali mengeruk, mengorek tambo lama, dan itulah pangkal bala dan bencana!”

Kiranya, sepeninggal HAMKA, alangkah laiknya jika Ummat Islam masih kenal dan bisa mengimplementasikan apa yang diutarakan Buya HAMKA dalam bukunya tersebut. Dengan demikian, niscaya Ummat Islam tidak perlu sampai menjadi keledai yang terjerembab dalam lubang yang dibuat oleh musuh-musuh Islam dengan modus yang sama tetapi dalam nuansa yang berbeda.

Antara Wahabi, Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah

Apabila ada segelintir orang NU yang anti dan benci Wahabi, pasti dia memperoleh informasi keliru. Dan seperti sengaja dikelirukan oleh banyaknya opini dan pemikiran yang tidak bersumber pada ulama Wahabi.

Buku-buku ulama Wahabi seperti Ibnul Qoyyim al Jauzi, juga banyak dibaca dan disukai oleh orang-orang NU.

Ulamah beraliran Wahabi, Ibnu Taimiyah, pada akhirnya juga memiliki paham yang sama dengan apa yang umumnya dipahami NU.

Tahukah Anda, si Arab Wahabi yang Anda benci itu, juga mempraktikkan apa yang diamalkan oleh NU? Ya! Mereka tarawih 20 rekaat. Bahkan di sana juga ada qunut. Sedangkan Muhammadiyah yang dituduh sebagian orang NU sebagai wahabi, shalat tarawih mereka 8 rakaat dan tidak pakai qunut.

Wahabi juga mengakui bahwa bila berdoa harus bersholawat yang disebut oleh orang NU sebagai bertawassul. Wahabi juga mengakui adanya karomah.

Ulama Wahabi bahkan yang menganjurkan buku-buku karya Hadrotussyaikh Hasyim Asyari, pendiri NU itu, agar diajarkan di madrasah-madrasah dan pesantren di Indonesia.

Pendiri Muhammadiyah Kyai Ahmad Dahlan di saat muda di Mekah juga belajar kepada guru yang juga adalah gurunya pendiri NU itu. Jadi keduanya adalah murid satu guru.

Anak-anak NU banyak belajar di Ummul Quro. Artinya, mereka juga generasi intelektual ‘Wahabi’.

Lantas di mana perbedaan Wahabi dan NU?

Jawabannya: 90 persen sama.

Tak ada perbedaan mendasar. Kecuali hal-hal furuiyah (cabang-cabang teknis amaliyah) yang hanya 10 persen.

Saudaraku yang merasa Wahabi, cobalah baca kitab-kitab Hadrotussyaikh Hasyim Asy’ary. Bergaulah dengan para murid beliau laiknya kakak kandungmu sendiri.

Sebaliknya, saudaraku yang NU bacalah kitab-kitab ulama Wahabi yang otentik. Bukan dari opini-opini menyimpang dan disimpangkan. Sapalah kami seperti adik-adik kandungmu sendiri.

Setelah itu kalian akan malu dan menyesal menghabiskan energi bertikai meributkan kulit-kulit. Sementara daging-dagingnya kalian buang. Kalian semua bersaudara, dan kalian terjebak oleh adu domba kaum syi’ah, musuh kalian sebenarnya.


Politisasi Isu Wahabi Sebagai Pemecah Belah Umat

Doktor sejarah lulusan Universitas Indonesia, Tiar Anwar Bachtiar, menyatakan isu Wahabi isu dipolitisasi sedemikian rupa oleh pihak berkepentingan untuk memecah-belah umat.

Hal itu disampaikannya saat menjadi pembicara di Forum Jejak Islam untuk Bangsa (JIB) dengan tema “Gerakan Pembaruan Islam Awal Abad 20” di aula AQL Islamic Center, Tebet Jakarta Selatan, pada hari Sabtu 19 September 2015.

Tema ini diangkat bersamaan dengan memanasnya kembali isu wahabisme di Indonesia. Tentu saja, sebagai umat Islam diperlukan kajian serius agar tidak terjerumus pada berita-berita yang simpang-siur dan provokatif.

Ketua Persatuan Pemuda PERSIS ini juga menandaskan pentingnya sejarah sebagai referensi bagi tindakan umat.

Tiar Anwar Bachtiar menjelaskan panjang lebar mengenai sejarah munculnya Wahabi serta pengaruhnya pada Pembaruan Islam Indonesia pada awal 20-an hingga masa sekarang.

Ada catatan penting yang beliau sampaikan, di antaranya; penyebutan istilah Wahabi sebenarnya kuranglah tepat. Pasalnya, kalau mau konsisten, seharusnya kalau dinisbahkan kepada Syeikh Muhammad bin Abdul Wahab, maka semestinya bernama: Muhammadiyah.

“Maka dari itu, kita harus berhati-hati dalam menggunakan istilah,” ujar Tiar.

Lebih jauh penyebutan istilah Wahabi sangat sarat muatan politis. Sebab nama Wahabi sengaja dipilih –oleh pembencinya- supaya dikesankan negatif seperti gerakan Wahabiyah pada abad keempat di Maroko, yangdinahkodai seorang Khawarij bernama: Wahab bin Rustum.

“Masalah konflik antara Wahabi dan Asy`ari sudah terjadi beberapa abad yang lalu, kalau sekarang memanas kembali berarti ada yang menunggangi,” ujarnya.

Paling tidak –menurut analisis Tiar- ada dua hal mendasar yang menyebabkan isu ini memanas kembali.

Pertama, isu ini dipolitisasi sedemikian rupa oleh pihak berkepentingan untuk memecah-belah umat.

Tiar menyebut adagium menarik yang sempat dikemukakan terkait masalah konflik internal umat Islam ini.

“Konflik yang terjadi sebenarnya bukan karena perbedaan pendapat, tapi perbedaan pendapatan,” demikian ia mengistilahkan.

Artinya, konflik perbedaan sebenarnya sudah lama usai. Namun karena ada kepentingan politis, isu ini diangkat kembali.

Kedua, buntunya komunikasi umat. Akibatnya terjadi kesenjangan yang luar biasa di antara umat Islam. Apalagi, jika masalah khilafiyah furu`iyah (perbedaan pada masalah agama yang cabang bukan pokok) dibesar-besarkan, maka akan menjadi semakin runyam.

Solusi paling riil untuk menghadapinya jelasnya ialah tidak memperbesar konflik di wilayah furu`iyah, sembari dibangun kembali semangat bertoleransi, kemudian perlu dijalin komunikasi yang baik antar umat.

Selama umat Islam tidak “terpadu”(tergantung pada duit), tak bermuatan kepentingan politik, serta mampu menjalankan komunikasi dengan baik, maka Insyaallah isu lama seperti Wahabisme tidak akan berakibat pada konflik yang lebih besar.

“Lebih baik energi umat Islam disatukan pada hal-hal yang disepakati, serta tolerir terhadap yang tidak disepakati agar tidak terbuang percuma,” ujarnya.

 

Referensi

  • ^islampos.com/arab-saudi-dituding-wahabi-negara-syiah-dibela-dan-dipuja-puji-266323/
  • ^islampos.com/apa-itu-wahabi-157615/
  • ^islampos.com/kenapa-disebut-wahabi-260962/
  • ^islampos.com/buya-hamka-mereka-memusuhi-wahabi-demi-penguasa-pro-penjajah-49693/
  • ^islampos.com/saya-adalah-wahabi-273252/
  • ^www.portalpiyungan.com/2015/09/doktor-ui-politisasi-isu-wahabi-sebagai.html?m=1
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s