Kisah Salim Kancil, Dibunuh Karena Benar

Screenshot_2016-06-23-22-34-56_1

“Bu, saya ini berjuang seperti apa yang Bung Karno (Sukarno) sampaikan di Pancasila dan Undang-undang,” kata Salim.

Sepak terjang perjuangan Salim Kancil melawan penambang liar

Sebelum Salim Kancil dibungkam dengan dibunuh, dia dikenal sebagai sosok yang keras dan tak kenal menyerah. Perjuangannya baru berhenti saat dia dibunuh oleh sekelompok orang di Balai Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Sabtu, 26 September.

Tija, 45 tahun, istri almarhum Salim menuturkan bahwa dia sempat minta suaminya berhenti berjuang. Namun, semangat Salim tak surut. “Bu, saya ini berjuang seperti apa yang Bung Karno (Sukarno) sampaikan di Pancasila dan Undang-undang,” kata Tija menirukan ucapan suaminya.

Tija bercerita, suaminya adalah petani sekaligus pemilik lahan di sekitar lokasi pertambangan di pesisir pantai selatan Watu Pecak.

Screenshot_2016-06-23-22-34-16_1

Hingga pada suatu hari, Salim mendapati 8 petak lahannya hancur akibat tambang pasir ilegal. Belakangan tambang tersebut diduga dikelola oleh tim 12, yang merupakan mantan tim kampanye kepala desa mereka, Haryono.

“Bapak waktu itu marah, lantaran lahan pertaniannya dirusak oleh tambang ilegal yang dibekingi Pak Kades Haryono,” ujar Tija saat ditemui Rappler di rumahnya, Rabu malam, 30 September.

Suaminya makin murka ketika tahu lahan pertanian yang dimilikinya selama puluhan tahun tidak bisa ditanami padi kembali. Beberapa kali Salim bercerita pada tetangganya soal lahan yang tidak bisa ditanami lagi lantaran kerap diterjang air laut.

“Saya bilang ke bapak, sudah sabar, jangan melawan Pak Kades, dia dekat dengan aparat dan pejabat, nanti jadi korban dan dihukum,” ujar ibu dua anak itu.

Salim yang menjadi tulang punggung keluarga kebingungan, lantaran lahan pertanian sebagai mata pencaharian sudah tidak bisa diharapkan kembali untuk mengepulkan asap dari dapur rumahnya. Penghasilannya pun turun drastis.

“Sejak lahan pertanian bapak dirusak, jujur saja ekonomi keluarga terjepit, karena harus menyekolahkan si Dio (anak bungsu) dan makan sehari-hari,” tutur Tija.

Salim kemudian putar otak, ia memutuskan banting setir sebagai nelayan. Ia mencari ikan dan kepiting untuk memenuhi keluarga.

96-23-10.53.52

Sadar bahwa ia tak mungkin bertahan hanya dengan menjadi nelayan dadakan, Salim pun mulai mengunjungi rumah teman-temannya di malam hari.

“Pokoknya bapak itu, sering bertamu dan bertemu dengan petani terdampak tambang pasir. Mungkin saat itu mau melawan Pak Kades dan penambang illegal itu,” katanya.

Salim Kancil akhirnya berhasil merekrut 5 warga. Mereka memulai perlawanan secara diam-diam. Mereka cukup berhati-hati, karena khawatir diketahui aktivitasnya oleh Tim 12.

“Tim 12 itu orang Pak Kades yang dulunya tim sukses saat Pemilihan Kepala Desa dan menjadi tim keamanan,” katanya.

Salim mulai aktif, dan rajin surat menyurat dengan pihak keamanan, pemerintah kabupaten, provinsi, sampai ke Jakarta. “Pokoknya bapak, bersama Pak Hamid teman seperjuanganya sering keluar kota baik ke Malang, Surabaya, dan Jakarta untuk mengadu,” kata Tija.

Salim juga berbagi tentang aktivitasnya pada istrinya. Sebelum tidur, Salim kerap terlibat obrolan kecil mengenai perlawanan atas penolakan tambang.

Suaminya sering menegaskan bahwa dirinya memperjuangan hak hidup sebagai warga negara Indonesia, apalagi apa yang menimpa dirinya juga sama dengan warga pemilih lahan di lokasi tambang ilegal.

Perlawanan Salim yang semakin nyata membuat penambang ilegal yang ‘diamankan’ oleh tim 12 mulai gusar. Ancaman dan intimidasi pada Salim pun mulai berdatangan.

Bahkan di pertengahan bulan Ramadhan tahun ini, salah satu pimpinan mantan tim 12 yang juga Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan, Desir, mendatangi rumah Salim.

“Bapak waktu itu, hendak ditempeleng, tapi ditangkis dengan tangannya,” ujar Tija. Tim 12 mulai bermain kasar.

Khawatir dengan keselematan suaminya, Tija kemudian meminta Salim untuk berhenti untuk memperjuangkan lahan pertanian yang dirusak tambang.

Namun, semangat memperjuangkan untuk hak hidup dan menolak tambang justru semakin membesar. “Bu, saya ini berjuang seperti apa yang Bung Karno (Sukarno) sampaikan di Pancasila dan Undang-undang,” ungkap Tija menirukan ucapan suaminya.

Kemudian Salim Kancil melaporkan intimidasi dan ancaman pada petani tolak tambang ke Kepolisian Sektor Pasirian, yang kemudian diteruskan ke Kepolisian Resor Lumajang, namun tidak ada tindakan.

“Bapak sama temannya Pak Hamid, sering menyurati sejumlah aparat pemerintah tapi enggak ada tanggapan ataupun tindakan,” katanya.

Mendirikan Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa

Karena tak ada tanggapan dari aparat, Salim pun membentuk Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-Awar atau FORUM.

Ada 11 warga yang berhasil ia rekrut untuk angkatan pertama, yakni Tosan, Iksan Sumar, Ansori, Sapari, Abdul Hamid, Turiman, Muhammad Hariyadi, Rosyid, Mohammad Imam, dan Ridwan.

“Jadi saat itu, kami mulai melakukan perlawanan bersama Pak Salim dan Pak Tosan,” ungkap Muhammad Hariyadi salah satu warga Selok Awar-Awar yang juga ketua Pimpinan Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di Lumajang.

Mereka melakukan Gerakan Advokasi Protes tentang Penambangan Pasir yang mengakibatkan rusaknya lingkungan di desa mereka dengan cara bersurat kepada Pemerintahan Desa Selok Awar-Awar, Pemerintahan Kecamatan Pasirian bahkan kepada Pemerintahan Kabupaten Lumajang.

Pada Juni, FORUM menyurati Bupati Lumajang As’at Malik untuk meminta audiensi tentang penolakan Tambang Pasir. Tapi tidak direspons.

Pada 9 September, FORUM melakukan aksi damai penyetopan aktivitas penambangan pasir dan penyetopan truk muatan pasir di Balai Desa Selok Awar-Awar yang menghasilkan surat pernyataan kepala desa Selok Awar-Awar untuk menghentikan penambangan pasir.

Pada hari yang sama, Salim dan warga yang menolak tambang pasir tersebut mengaku mendapat ancaman pembunuhan. Menurut mereka pengirimnya adalah tim 12 yang diketuai Desir.

Warga melaporkannya ke aparat, tapi sekali lagi, tak direspons.

Sehari sebelum Salim dibunuh, 25 September, FORUM merencanakan aksi penolakan tambang pasir pada Sabtu, 26 September pukul 07.30 pagi.

Rekan Salim, Tosan memulai aksi tersebut pada pukul 07.00 dengan menyebar selebaran aksi damai tolak tambang di depan rumahnya bersama Imam. Kemudian ada satu orang yang melintas dan membaca selebaran tersebut sambil memarahi Tosan dan Imam.

Enam puluh menit kemudian, Salim didatangi oleh puluhan orang di rumahnya. Ia diseret ke Balai Desa dan dianiaya hingga mati. [1]

Belajar Ilmu Kebal karena tahu akan dibunuh

Di bawah tekanan teror tim 12, Salim alias Kancil dan rekannya sesama petani penolak tambang tak bisa tenang. Beberapa rekannya bolak-balik ke Jakarta untuk meminta perlindungan beberapa LSM. Tak hanya itu, ancaman dibunuh yang diterimanya setiap hari, membuat Salim Kancil berguru ilmu kebal ke salah seorang Kyai.

“Iya ilmu kebal didapat dari Kyai di daerah Wotgalih,” kata Koordinator Badan Pekerja KontraS Surabaya, Fatkhul Khoir saat dihubungi, Rabu (7/10).

Screenshot_2016-06-23-22-36-51_1

Salim Kancil memang merupakan salah satu jemaah Thoriqoh di salah satu Pondok Pesantren kawasan Wotgalih, Yosowilangun, Lumajang. Dia rutin ke pondok tersebut untuk mengaji. Dari Desa Selok Awar-awar, jika melewati daerah Kunir Lor, Wotgalih berjarak sekitar 28 kilometer, bisa ditempuh kurang lebih 45 menit. Dari sanalah Salim Kancil mendapat ilmu kekebalan tubuh.

“Bapak itu sebelum perkumpulan, 2 hari pulangnya malam terus. Bapak ke Pondok Pesantren di daerah Wotgalih. Itu sudah sering belajar di situ. Ilmu kebalnya dapat dari situ. Bapak sering diancam dibunuh,” kata putri Salim Kancil, Ike Nurillah (21).

Meski begitu Salim Kancil tak arogan dan mudah tersulut emosinya. Bahkan tak ada satupun keluarga atau tetangganya yang tahu jika dia punya ilmu kebal. “Tapi bapak gak pernah memamerkan kekebalan itu,” tuturnya.

Ilmu kebal yang dimiliki Salim Kancil terbukti. Ketika pria ini dijemput oleh gerombolan penjagal yang dikomandoi Kepala Desa Selok Awar-awar, Hariyono, Salim Kancil justru merasa kebingungan. Kemudian dia diikat dan diseret menuju balai desa. Jarak antara rumah Salim Kancil dan balai desa sekitar dua kilometer. Selama perjalanan itu, Salim Kancil dipukuli beramai-ramai.

Di balai desa, Salim Kancil disetrum dengan senter, dihantam dengan balok kayu, ditimpa dengan empat batu berulangkali, dan terhitung beberapa kali sabetan senjata tajam mengenai tubuhnya. Bahkan bagian tubuh Salim Kancil sempat digergaji oleh rombongan penjagal. Mengetahui senjata tajam itu tak mampu melukai Salim Kancil, para penjagal makin geram.

Hingga akhirnya Salim Kancil diseret ke salah satu jalan sepi dekat makam, sekitar 10 meter dari rumah Sekretaris Desa, Rahmat. Di sana Salim Kancil dibiarkan tengkurap dengan kedua lengan masih terikat. Bagian belakang kepalanya dihantam dengan batu besar. Salim akhirnya mengembuskan napas terakhirnya. Di dekatnya banyak bongkahan batu dan kayu berserakan.

Anehnya berdasarkan data visum dari laporan kepolisian hasil proses penyidikan Polres Lumajang, Polda Jatim, dan Mabes Polri yang berhasil kami himpun dari sumber internal Kepolisian, tidak ditemukan luka akibat sayatan benda tajam baik luka sabetan senjata tajam maupun gergaji. Meski begitu ditemukan ada lubang menganga pada kepala Salim Kancil. Luka tersebut terletak di bagian belakang sebelah kiri sepanjang 2 sentimeter.

Ditemukan pula pendarahan deras yang keluar dari hidung, mulut, dan telinga korban. Diduga darah tersebut mengalir karena kerusakan pada dalam kepala atau otak. Hal tersebut karena benturan keras jarak dekat yang dilakukan secara berulang.

Kemudian pada dahi korban terdapat luka sepanjang 6 sentimeter. Sama sekali tidak ditemukan luka sayatan di leher korban. Namun di beberapa bagian tubuhnya terdapat luka lecet akibat tubuhnya diseret. Di sisi lain didapati memar di bagian pergelangan tangan. Hal tersebut karena tangan korban sebelum meninggal diikat dengan kuat. [2]

Pembunuh Salim Kancil juga Bekali Diri dengan Ilmu Kebal

Screenshot_2016-06-23-22-34-34_1

Sebelum peristiwa pembunuhan Salim Kancil dan Tosan, warga Desa Selok Awar Awar, Kecamatan Pasirian Lumajang, para pelaku membekali diri dengan ilmu kebal. Para pelaku mendapatkan ilmu kebal setelah berguru kepada seseorang di Probolinggo, Jawa Timur.

Fakta ini terkuak dari persidangan kasus Salim Kancil yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Heri Santoso mengatakan, aksi ini dilakukan oleh para pelaku sebelum kejadian. “Sekitar tanggal 25 mereka ke Probolinggo. Yang mengajak adalah Mat Dasir. Dengan alasan mencari keselamatan,” kata Heri, Kamis (31/3/2016).

Menurut Heri, setidaknya ada 60 orang dari Lumajang yang ikut dalam rombongan tersebut. Mereka menyebutnya berguru kepada Bindere Nang dan Bindere Han. Namun, dari 60 orang tersebut tidak semua ikut menyerang Salim Kancil dan Tosan.

“Hampir semua pelaku berguru ilmu kebal ke Probolinggo. Tapi tidak semua jadi pelaku pembantaian Salim Kancil dan Tosan. Saat ini mereka (pelaku) menjalani persidangan,” kata Heri.

Sementara itu, Ketua Tim 12 yang juga Ketua LMDH Desa Selok Awar-awar Mat Dasir mengakui mengajak rekan-rekannya untuk datang ke Bindere Han dan Bindere Nang. Tujuannya mencari keselamatan. Pasalnya, Mat Dasir mendapat informasi bahwa kelompok Salim Kancil dan Tosan akan menggelar demo dengan mengajak orang-orang dari desa lain.

“Ya saya dengar akan ada demo Salim Kancil dan Tosan. Makanya, saya ajak mereka ke Bindere untuk jaga-jaga diri,” jelan Mat Dasir di depan Majelis Hakim.

Mat Dasir sendiri mengaku, sudah lama kenal dengan Bindere Han dan Bindere Nang. Ia sejak kecil berguru kepada Bindere tersebut. Bahkan, beberapa permasalahan seperti kesembuhan dan lain-lain selalu datang ke tempat tersebut.

“Sejak kecil saya ke sana. Kadang juga ada tetangga saya yang sakit gila saya antar ke sana (bindere) dan sembuh. Makanya teman-teman ini saya ajak ke sana untuk keselamatan,” jelasnya. [3]

Kronologi Pembunuhan Sadis Salim Kancil

Screenshot_2016-06-23-22-36-58_1

(a) Hasil investigasi Tim Advokasi Tolak Tambang Pasir Lumajang

Hasil investigasi Tim Advokasi Tolak Tambang Pasir Lumajang menemukan fakta sadisnya penyiksaan para preman tambang terhadap Salim dan Tosan, dua warga penolak tambang. Salim disiksa hingga tewas, sementara Tosan berhasil diselamatkan warga lainnya.

Dalam rilis tertulis tim advokasi yang terdiri dari Laskar Hijau, Walhi Jawa Timur, Kontras Surbaya, dan LBH Disabilitas disebutkan, sebelum tewas dipukul dengan batu dan balok kayu, Salim (46) atau akrab dipanggil ‘Salim Kancil’, sempat disetrum dan digergaji. Tim advokasi menyampaikan, saat 40-an preman datang menyerbu rumahnya, Sabtu (26/9), Salim sedang menggendong cucunya yang berusia 5 tahun.  

“Mengetahui ada yang datang berbondong dan menunjukkan gelagat tidak baik Salim membawa cucunya masuk. Gerombolan tersebut langsung menangkap Salim dan mengikat dia dengan tali yang sudah disiapkan,” tulis tim advokasi dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Senin (28/9).

Tim advokasi melanjutkan, para preman kemudian menyeret Salim dan membawa dia menuju Balai Desa Selok Awar-Awar yang berjarak 2 kilometer dari rumahnya. Sepanjang perjalanan menuju Balai Desa, gerombolan ini terus menghajar Salim dengan senjata-senjata yang mereka bawa, disaksikan warga yang ketakutan dengan aksi ini.

“Di Balai Desa, tanpa mengindahkan bahwa masih ada banyak anak-anak yang sedang mengikuti pelajaran di PAUD, gerombolan ini menyeret Salim masuk dan terus menghajarnya,” tulis tim advokasi.

Tim advokasi melanjutkan, di Balai desa, gerombolan ini sudah menyiapkan alat setrum yang kemudian dipakai untuk menyetrum Salim berkali-kali. Tak berhenti sampai di situ, mereka juga membawa gergaji dan dipakai untuk menggorok leher Salim. Namun, upaya mereka seolah tidak melemahkan Salim.

Melihat kenyataan Salim masih sehat, tulis tim advokasi dalam rilisnya, dalam keadaan balai desa yang masih ramai, gerombolan tersebut kemudian membawa Salim yang masih dalam keadaan terikat melewati jalan kampung menuju arah makam yang lebih sepi.

“Di tempat ini mereka kemudian mencoba lagi menyerang salim dengan berbagai senjata yang mereka bawa. Baru setelah gerombolan ini memakai batu untuk memukul, Salim ambruk ke tanah,” tulis tim advokasi.

Mendapati itu, menurut keterangan tim advokasi, mereka kemudian memukulkan batu berkali-kali ke kepala Salim. Di tempat inilah kemudian Salim meninggal dengan posisi tertelungkup dengan kayu dan batu berserakan di sekitarnya.

Sebelum membantai Salim, para preman juga menyerang rumah Tosan, warga penolak tambang lainnya. Menurut keterangan tim advokasi, Tosan didatangi segerombolan orang menggunakan kendaraan bermotor sekitar pukul 07.30.
 
“Mereka membawa pentungan kayu, pacul, celurit, dan batu. Tanpa banyak bicara mereka lalu menghajar Tosan di rumahnya, Tosan berusaha menyelamatkan diri dengan menggunakan sepeda namun segera bisa dikejar oleh gerombolan ini,” tulis tim advokasi.

Tim advokasi menyampaikan, Tosan lalu ditabrak dengan motor di lapangan tak jauh dari rumahnya. Tak berhenti di situ, gerombolan ini kembali mengeroyok Tosan dengan berbagai senjata yang mereka bawa sebelumnya.

“Tosan bahkan ditelentangkan di tengah lapangan dan dilindas motor berkali-kali. Gerombolan ini menghentikan aksinya dan pergi meninggalkan Tosan setelah satu orang warga bernama Ridwan datang dan melerai,” tulis tim advokasi.

Salah satu anggota tim advokasi A’ak Abdullah melaporkan, saat ini, kampung tempat kejadian masih mencekam. “Warga dan keluarga korban masih dalam suasan duka dan rawan terpancing untuk membalas dendam,” ujar Aak dihubungi melalui saluran telepon, Senin (28/9). [4]

(b) Kesaksian Anak Salim Kancil

Salim (46), petani penolak tambang pasir di Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Lumajang, sempat dihajar di depan anak bungsunya, Dio (13), di halaman rumah mereka. Salim atau dikenal sebagai Kancil, kemudian tewas di hutan sengon dekat kuburan, tak jauh dari rumahnya.

Ditemui di rumahnya, Dio bercerita, Sabtu (26/9) lalu, di rumah hanya ada dia dan bapaknya. Sementara ibunya, Tijah, sedang mencari rumput di tegalan semak jauh dari rumah.

Saat itu, kata Dio, bapaknya sedang mengeluarkan motor hendak pergi bersamanya untuk ikut demonstrasi menolak tambang pasir. Ketika itu, menurut Dio, sekitar pukul 07.30 WIB, rombongan sepeda motor menyerbu ke halaman rumahnya. Lebih dari 30 orang menghambur ke arah sang Bapak.

“Bapak diteriaki, dipukul. Tangannya dipegangi, dipukul pakai batu kepalanya,” ujar Dio di rumahnya, Senin (29/9).  

Dio saat itu mengaku kalut dan menangis, lalu berlari ke arah samping menuju rumah pamannya. Dia berteriak memanggil pamannya untuk keluar.

Tapi, salah seorang preman kemudian meneriakinya agar tidak macam-macam. “Kon ojo rame, tak pateni pisan (kamu jangan teriak, kubunuh sekalian),” kata Dio menirukan teriakan si preman.  

Dio mengaku hanya sanggup menangis melihat sang Bapak diikat tangannya ke belakang. Ia melihat bapaknya diimpit di motor untuk dibawa ke balai desa. Dio sempat mengejar hingga jalan raya, ia menangis sejadi-jadinya. [5]

Tambang pasir ilegal dan lokasi penyiksaan sadis Salim Kancil

(a) Kondisi wilayah penambangan pasir ilegal di Pesisir Watu Pecak Lumajang yang ditolak keras oleh almarhum Salim Kancil. Di lokasi tersebut terlihat kondisi jalanan juga digenangi air laut, bahkan sebagian sawah warga ikut terendam.

Screenshot_2016-06-23-23-14-22_1


(b) Di lokasi tambang pasir ilegal tampak sudah dipasangi garis polisi.

Screenshot_2016-06-23-23-15-49_1


(c) Banner berisi foto Tim 12 yang selama ini melakukan teror terhadap warga penolak tambang pasir. Kades Selok Awar-awar juga menyerahkan tugas kepada tim ini untuk mengelola tambang pasir di Pesisir Watu Pecak.

Screenshot_2016-06-23-23-17-36_1


(d) Lokasi penyiksaan Salim Kancil tampak dibubuhi bunga. Dia disiksa di Balai Desa oleh 30 orang lebih. Tepat di bawah foto Jokowi dan Jusuf Kalla. [6]

Screenshot_2016-06-23-23-20-08_1


Otak Pembunuhan Salim Kancil Diganjar 20 Tahun Penjara

22 Tersangka penganiayaan Salim Kancil digelandang petugas ke Polres Lumajang. Dua di antaranya masih di bawah umur.

22 Tersangka penganiayaan Salim Kancil digelandang petugas ke Polres Lumajang. Dua di antaranya masih di bawah umur.


Mantan Kepala Desa Selok Awar Awar Hariono dan Ketua LMDH Mar Dasir diganjar masing-masing 20 tahun penjara oleh majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Surabaya. Keduanya terbukti menjadi otak pembunuhan Salim Kancil dan Pembantaian Tosan dalam kasus penolakkan tambang pasir ilegal.

Putusan ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang menyatakan penjara seumur hidup bagi Hariono dan Mat Dasir. Sidang putusan ini digelar di ruang candra yang dipimpin oleh majelis hakim Jihad Arkhanuddin.

“Terdakwa 1 Hariono dan Terdakwa 2 Mat Dasir telah terbukti secara sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana dengan sengaja merampas nyawa orang lain dan dengan rencana terlebih dahulu, dan dengan terang-terangan menggunakan kekerasan kepada orang lain yang menyebabkan luka berat. Majelis hakim menjatuhkan hukuman penjara kepada terdakwa 1 Hariono dan Terdakwa 2 Mat Dasir masing-masing 20 tahun penjara,” kata Jihad membacakan putusan, Kamis (23/6/2016).

Hakim sepakat dengan tuntutan JPU soal pembunuhan berencana oleh terdakwa terhadap Salim Kancil. Tapi hakim tidak sepakat terkait masa hukuman penjara yang diajukan oleh jaksa.

Screenshot_2016-06-23-23-25-04_1

Sementara itu, JPU dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Lumajang Naimullah menyatakan pikir-pikir terkait putusan tersebut. Jaksa juga menyatakan terdakwa melanggar Pasal 340 KUHPidana. “Kami pikir-pikir,” kata jaksa Naimullah.

Kendati lebih ringan dari tuntutan, baik Hariyono maupun Mat Dasir juga pikir-pikir. Keduanya tidak langsung menerima atau pun banding. “Saya tidak pernah melakukan apa yang dilakukan seperti disampaikan hakim,” singkat Hariyono sembari digelandang ke ruang tahanan PN Surabaya.

Perkara ini bermula pada tanggal 26 September 2015 lalu, Salim Kancil dan Tosan dibantai oleh orang-orang suruhan kepala desa Selok Awar Awar Hariono. Pemimpin pembantaian itu adalah Mat Dasir yang juga ketia LMDH desa tersebut. Salim Kancil tewas di lokasi kejadian dan Tosan menderita luka berat dan harus dirawat selama 21 hari di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang. Tak lama berselang Polisi menangkap 37 tersangka pelaku pembunuhan yang saat ini menjalani sidang. [7]


Referensi

  • [1] rappler.com/indonesia/107755-sepak-terjang-salim-kancil-dibunuh-lumajang
  • [2] merdeka.com/peristiwa/cerita-salim-kancil-belajar-ilmu-kebal-karena-diancam-akan-dibunuh.html
  • [3] okezone.com/read/2016/03/31/519/1350236/pembunuh-salim-kancil-bekali-diri-dengan-ilmu-kebal
  • [4] republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/09/29/nvdeah361-ini-kronologi-pembunuhan-sadis-salim-kancil
  • [5] republika.co.id/berita/nasional/hukum/15/09/29/nvfe45318-bocah-13-tahun-ini-menuturkan-cara-salim-kancil-dibunuh
  • [6] merdeka.com/foto/peristiwa/601753/20150930105258-ini-tambang-pasir-ilegal-dan-lokasi-penyiksaan-sadis-salim-kancil-001-dru.html
  • [7] /okezone.com/read/2016/06/23/519/1423307/otak-pembunuhan-salim-kancil-diganjar-20-tahun-penjara?utm_source=wp_hl
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s