Pemilihan Puteri Muslimah Indonesia dan Miss-Missan Apa Bedanya?

Screenshot_2016-06-23-04-15-13_1

Sembari menunggu jeruk panas di warung makan soto, pandangan penulis tertuju pada kotak ajaib yang tergantung di tembok meja atas. Di sana, sebuah stasiun televisi swasta sedang menayangkan ajang kecantikan. Bukan ajang kecantikan “biasa”, melainkan ajang pemilihan Puteri Muslimah Indonesia 2016 (seharusnya menggunakan kata “putri” bukan “puteri”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tak ada kata “puteri”).

Deretan muslimah nan cantik dengan balutan jilbab dan busana yang indah berlenggok-lenggok bak model di panggung yang megah itu. Di seberangnya, duduk para juri yang tak lain adalah Inneke Koesherawati, mantan Putri Indonesia  Artika Sari Devi—yang kebetulan memakai jilbab memakai ‘jilbab’ malam itu, dari production house Chand Parwez, dan tokoh pluralis Yenny Wahid.

Sepintas pemilihan ini tak jauh beda dengan pemilihan sejenisnya, seperti  Putri Indonesia, Miss Indonesia dan sejenisnya. Yang membedakan hanya balutan pakaian, wawasan keislaman dan selalu diawali dengan kalimat “Assalamualaikum” serta kalimat thayyibah lain. Selebihnya nyaris sama, dicari yang tercantik dan berisi kontestan yang cantik-cantik—jelas karena bernama kontes kecantikan, meski brain dan behaviour hanya penyokong belaka.

Sepakat Tidak Sepakat

Dalam kaca mata bisnis, kontes kecantikan apa pun namanya, itu tak lain untuk membangun ekosistem.

Pemilihan putri kecantikan sejagat atau  Miss Universe dulu diawali oleh produsen pakaian renang. Sementara Putri Indonesia diawali oleh produk make up Mustika Ratu.  Sementara Putri Muslimah Indonesia, silakan lihat sponsornya, salah satunya adalah Wardah.  Sebab donatur dan sponsor rata-rata “urusan bidang kecantikan”, jadi wajar jika yang dinilai adalah kecantikan.

Sebelum bilang sepakat atau tidak sepakat, protes dan tidak protes, beberapa waktu lalu kita masih ingat dimana Ketua Komisi D DPRK Banda Aceh, Farid Nyak Umar, sempat mengecam kontestan Miss Indonesia, Flavia Celly Jatmiko, yang berdiri sebagai wakil Aceh. Apa sebab?  Flavia tidak pernah tinggal di Aceh.  Hal itulah yang membuat status Flavia Celly sebagai wakil Aceh gencar dipertanyakan di berbagai kalangan, karena dinilai telah melukai budaya lokal Aceh. Alasannya kontes Miss Indonesia kerap dikaitkan dengan pakaian yang terbuka. Hal itu tidak sesuai dengan syariat Islam yang ditegakkan di Aceh.

“Terhadap perempuan Aceh asli saja kami tidak sepakat untuk mengikuti kontes kecantikan tersebut. Apalagi terhadap orang yang notabene berada di luar Aceh lalu mengatasnamakan Aceh,” kata Farid seperti dilansir Muvila.

Tentang muslimah yang mengikuti kontes kecantikan, Ibnu Qatadah mengatakan bahwa tabarruj adalah seorang perempuan yang jalannya dibuat-buat dengan genit. Sementara Ibnu Katsir menjelaskan, yang disebut dengan tabarruj adalah seorang perempuan yang keluar rumah dengan berjalan di hadapan laki-laki, dengan maksud memamerkan tubuh dan perhiasannya. Imam Ibn Katsir dalam tafsirnya menukil pendapat Qatadah yang menyampaikan bahwa yang dimaksud dengan tabarruj adalah saat muslimah keluar rumah mereka, lalu mereka berjalan, berlenggak lenggok hingga pria memperhatikannya dan menggoda.

Sepakat atau tidak sepakat, kontes kecantikan berbalut hijab sudah terjadi dan menjamur belakangan ini. Sebagai seorang muslim tentu tahu di mana kita punya sikap dan jati diri. Sebab, sekali lagi, kontes kecantikan ya kecantikan jasadi.

“Pemilihan Puteri Muslimah Indonesia apakah antitesa dari Putri Indonesia?” tanya penulis kepada seorang guru melalui pesan pendek.

Tak lama kemudian dia membalas pesan tersebut, “Godhul bashor. Jaga pandangan ya akhi!”

Jeruk panas bervitamin C di tangan lama-lama mendingin.

Sholeha, Smart dan Stylish?

Screenshot_2016-06-23-04-23-16_1

Perlu tolak ukur yang jelas dan sesuai syariat. Bisakah seseorang dikatakan sholehah sementara tindakannya justru melanggar hukum syara. Ikut ajang “World Muslimah” saja sudah bisa menggugurkan predikat “sholihah” pada dirinya. Mengapa? Kerena ia telah memilih dengan sadar memamerkan kecantikannya. Tidak layak seorang muslimah yang sholehah membanggakan dan melombakan kecantikan diri yang datangnya dari Sang Khalik. Cantik sama sekali bukan prestasi. Cantik hanyalah pemberian Alloh yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali. Mungkin lewat kecelakaan atau kebakaran yang merusak wajah seseorang. Sunatulloh, Alloh menciptakan wanita ada yang lebih cantik, ada yang kurang cantik. Lagipula jika benar “sholihah” pasti tahu bahwa Alloh memandang seseorang itu “sholehah atau tidak” hanyalah berdasarkan taqwanya. Bukan cantiknya atau yang lain, apalagi menangnya pada kontes muslimah.

Bila benar “sholeha” yang diusung, seharusnya dalam ajang world muslimah tidak ada aksi lenggak-lenggok, runway di atas catwalk apalagi jalannya pun diatur dengan koreografi, yang tentunya agar menarik perhatian. Lalu untuk apa hal itu tetap dilakukan? Dan apakah tindakan seperti itu menunjukkan sholiha? Sementara ratusan pasang mata pria non muhrim bebas menatap lekat, mungkin dengan penuh kekaguman atas benda yang bergerak indah nan cantik bernama wanita. Pria normal manapun pasti merasa tertarik saat yang dipandangnya adalah makhluk yang menggoda mata.

Selain itu ketika berlenggak-lenggok, meski menutup aurat pasti peserta world muslimah bermake up, memakai lipstik dan wewangian. Ada tabaruj disana. Sesuatu yang terlarang dalam Islam, bersolek untuk dilihat pria asing selain suami atau mahrom. Rosululloh SAW bersabda, “Seorang wanita yang mengenakan wewangian kemudian melalui sekumpulan laki-laki agar mereka mencium bau harum yang dia pakai maka wanita tersebut adalah seorang pelacur.” [HR An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al-Albani dalam “Shohibul Jami” no. 323 menyatakan bahwa hadits ini shohih.]

Wanita mana saja yang berwangi-wangian lalu keluar, dan melewati satu kaum sehingga mereka mencium baunya, maka wanita itu pezina, dan setiap mata berbuat zina [HR An- Nasa’i ]. Dari kedua hadits ini rasanya tak mungkin ada muslimah yang mau dianggap pezina atau pelacur.

Berbicara tentang Smart, sejatinya darimana sebuah smart itu berasal? Dari Alloh yang Maha Pencipta yang telah menganugerahkan otak dan akal untuk berpikir, manusia hanya mengolah dan mengasahnya. Smart dalam Islam tak sekedar pintar dan cerdas saat menjawab berbagai macam pertanyaan. Tapi lebih dari itu, perlu pembuktian lewat cobaan dan ujian hidup yang teraplikasi dalam tindakan nyata. Alloh SWT berfirman, “Apakah manusia menyangka bahwa mereka dibiarkan berkata: “Kami beriman,” tanpa diberi cobaan sedikitpun?  Sungguh orang-orang mukmin dahulu telah Kami beri berbagai cobaan. Dengan cobaan-cobaan itu Allah tampakkan siapa yang benar-benar beriman dan siapa yang palsu imannya.” (QS. Al-Ankabut [29] : 2-3)

Smart juga perlu diaplikasikan melalui perilaku keseharian sebagai amalan yang ikhlas, ridho dan tidak riya. Bukan justru dipertontonkan dan ingin dinilai orang. Orang yang smart berpikir jauh ke depan, bahkan pada kehidupan setelah kematian. Orang smart akan mempersiapkan sebaik-baiknya agar selamat di akhirat setelah mati. Orang smart akan mengaktualisasikan segala potensi yang dimiliki tetap pada relNya. Dan world muslimah bukanlah jalan yang benar untuk pembuktian “smart” yang sesuai dengan Islam. Salah, terlalu dangkal dan sempit. Lalu smart seperti apa yang diusung oleh world muslimah?  Bukankah wanita “smart” itu mahal? Tak mungkin rela melakukan perbuatan yang justru dilarang Alloh. Mempertontonkan kecantikan, kepintaran agar dikagumi orang lain, pria khususnya. Memamerkan diri untuk dinilai dewan juri, yang pasti ada lelakinya. Karena itu sama saja merelakan diri dibenci dan dilaknat Alloh. Wanita “smart” tak mungkin mau memilih jalan world muslimah. Ternyata “smart ala World Muslimah” hanya sebuah “lipstik”.

Stylish yang dijadikan kriteria di kontes ini adalah tentang gaya hidup Islam, yang meliputi enam hal pokok yaitu Islamic fashion, Islamic syariah, food halal, fundamental education, funding, dan tourism. Namun lagi-lagi sebagian besar masih konsep teoritis belaka. Hanya berupa sekumpulan pengetahuan Islam, minim praktek. Masa karantina sama sekali tak mencerminkan gaya hidup muslimah. Tak membuktikan apa-apa selain tentang pengetahuan ilmu agamanya. Pengetahuan yang bisa dipelajari, karena “mendadak world muslimah”. Pengetahuan yang bisa diperoleh sekalipun dengan cara  “tiba-tiba” agar bisa menjawab pertanyaan juri.

Dalam Islam, gaya hidup seseorang tercermin dari sesuatu yang dhahir (nampak nyata), yang terlihat dari ucapan dan perbuatannya secara terus menerus selama hayat masih dikandung badan. Jadi tidak bisa sesaat saja. Dan juga meliputi seluruh aspek kehidupan, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi. Mulai dari masalah politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Mulai dari cara berpakaian hingga tata cara pergaulan. Pendek kata, muslimah yang baik harus mengikatkan diri segala hal dalam dirinya pada aturan Sang Maha Rahman. Tutur katanya, dan tindakannya harus sesuai dengan hukum Alloh. Tak setitik pun berniat menyalahi syariatNya. Sementara dalam World Muslimah bisa saja gaya hidup dibuat-buat, atau dikondisikan sesuai kebutuhan. Bahkan memilih dengan sadar mengadakan, menyelenggarakan dan mengikuti World Muslimah pun adalah bagian dari gaya hidup muslimah. Hanya saja dengan fakta-fakta dan hukum yang ada, ternyata World Muslimah tak sesuai dengan syariah.

Kalau dikatakan bahwa ajang World Muslimah dapat memunculkan wanita yang peduli dengan kemanusian, maka pendapat ini juga mudah dimentahkan. Tanpa ada ajang World Muslimah pun banyak wanita sholihah yang peduli dengan sesamanya. Ada Cut Nyak Dien, dan Nyai Hj Ahmad Dahlan. Tanpa ada kontes apapun, telah banyak wanita smart yang pandai mendidik buah hatinya menjadi istimewa seperti ibunda Imam Syafii. Tanpa World Muslimah pun banyak wanita memiliki stylish Islam dan tetap istiqomah sampai akhir hidupnya. Hal ini bisa dimengerti karena mereka memang wanita sholihah yang hanya mengharap penilaian Alloh semata, jauh dari ingin dinilai manusia. Hanya memilih ketundukan atas syariatNya tanpa syarat. Peduli dan menolong sesama pun bisa dilakukan kapan pun, dari usia muda sampai tua. Tak perlu menunggu adanya World  Muslimah. Alloh berfirman,“Tolong-menolonglah kalian untuk berbuat kebajikan dan ketaatan. Janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (QS. Al Maidah: 2)

“Segeralah kalian melakukan kebajikan-kebajikan yang diperintahkan Allah kepada kalian. Dimanapun kalian berada, Allah pasti akan mengumpulkan kalian di akhirat. Allah Mahakuasa melakukan apa saja “ (QS. Al-Baqoroh: 148)

Akhirnya dapat disimpulkan bahwa walau bagaimanapun, ajang kontes wanita tak pernah diajarkan dalam Islam. Tak pernah dicontohkan oleh nabi. Hanya Alloh yang Maha Tahu yang sejatinya mengerti tentang “raport” kita. Roqib atid tak pernah salah mencatatnya. Jika mengonteskan muslimah memang baik menurut rosul, dari dulu pasti sudah diadakan. Apalagi beliau memiliki putri yang cantik jelita, kepandaian dan gaya hidup Islaminya tak satupun manusia berani meragukannya. Namun itu tidak beliau lakukan. Kenapa? Karena Alloh tak pernah mengajarkan. Dan rosul ridho, tunduk dengan aturan itu. Tak lagi bertanya-tanya atas nama ” kebudayaan, potensi, pariwisata, gaya hidup” atau apa pun.

Terakhir, penting digarisbawahi pernyataan dari Eka Shanty, CEO World Muslimah sebagaimana yang dilansir detik.com Kamis 12 September bahwa meski berlabel World Muslimah, namun beberapa bintang tamu tidak berhijab saat mengisi acara. “Itu sebagai salah satu keberpihakan bahwa ini bukan perempuan berhijab saja yang bisa Sholeha, Smart dan Stylish. Ketiganya bisa dipakai oleh perempuan mana pun, agama apapun.”

Dari pernyataan di atas semakin jelas menunjukkan kemana arah diselenggarakannya World Muslimah, apalagi kata ” sholeha” bisa disematkan pada perempuan manapun dan agama apa pun. 

Jadi, Muslimah Kok Dipertontonkan.

Astaghfirullohil ‘adhiim.

Referensi

  • ^nahimunkar.com/pemilihan-puteri-muslimah-indonesia-dan-miss-missan-apa-bedanya/
  • ^arrahmah.com/rubrik/world-muslimah-budaya-latah.html
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s