Nikah Mut’ah Syi’ah Adalah Pelacuran Terstruktur

“Ini Yang Bikin Gue Betah Jadi Imam Syiah”

“Ini Yang Bikin Gue Betah Jadi Imam Syiah”

Nikah Mut’ah yang ternyata merebak di Puncak-Bogor, Jawa Barat. Semoga ada ketegasan oleh Pemerintah dengan adanya Imigran Syiah di Puncak-Bogor dan segera MUI pun membantu Pemerintah mengeluarkan Teguran agar Imigran Syiah di Puncak-Bogor maupun daerah lainnya di Usir dari Nusantara tercinta.

Apakah Puncak Bogor tempat maraknya zina dengan nama kawin kontrak itu ingin diadzab secara total sebagaimana tempat pelacuran di pantai Pangandaran Jawa Barat telah dihancur leburkan oleh Allah Ta’ala tahun 2006 yang lalu?

Pelacuran dengan nama kawin kontrak telah nyata diketahui umum. Permesuman itu wajib diberantas. Namun sampai kini tampaknya para pelacur dan bajingan serta rangkaian pendukungnya kemungkinan bersatu padu dalam mengikuti syahwat dan syetan. Bahkan proses pemfilman pun khabarnya telah ditempuh.

Negeri ini sebenarnya sudah dipermalukan orang. Salah satu televisi Barat dengan berbahasa Arab pernah menyiarkan lakon pelacuran di Puncak Bogor dengan judul Zina Halal di Indonesia. Namun kini tampaknya pelacur di Puncak itu sendiri tampak bangga, sebagaimana diberitakan dalam kaitan dengan akan difilmkannya lakon bejat itu. Padahal lakon bejat ini kalau dibiarkan bahkan disebarkan lewat film, maka sama dengan menampar Indonesia itu sendiri, di samping sama dengan « menantang » terhadap adzab Allah Ta’ala. Karena sudah ada ancaman :

إذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ .

Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu negeri maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (Hadits Riwayat Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi).

Ancaman adzab sudah nyata, namun bejatnya akhlaq manusia telah menunjukkan angka yang sangat memprihatinkan di berbagai tempat di Indonesia.

Ancaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:

 لَمْ تَظْهَرْ الْفَاحِشَةُ فِي قَوْمٍ قَطُّ فَيُعْلِنُوا بِهَا إلَّا فَشَا فِيهِمْ الطَّاعُونُ وَالْأَوْجَاعُ الَّتِي لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِي أَسْلَافِهِمْ الَّذِينَ مَضَوْا

Tidaklah merajalela kekejian di suatu kaum sama sekali, lantas mereka MELAKUKAN KEMAKSIATAN SECARA TERANG-TERANGAN kecuali mereka akan dilanda penyakit (wabah) tho’un dan penyakit yang belum pernah terjadi pada umat dahulu-dahulunya yang telah lalu. (HR Ibnu Majah, Abu Nu’aim, Al-Hakim, Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, dan Ibnu ‘Asakir, hasan-shahih menurut Syaikh Al-Albani).

Kenyataan memalukan dan terancam adzab namun justru pelakunya bangga, itu perlu diingatkan benar-benar dengan kasus bencana yang menghancurkan pantai Pangandaran tempat pelacuran. Inilah kejadian adzab di Pangandaran:

Luluh lantaknya pantai Pangandaran tempat pelacuran

Screenshot_2016-06-25-03-50-51_1

Anehnya, pelacuran bahkan diberi tempat, diselenggarakan perzinaan untuk umum, dan masih dijaga lagi. Ini keadaan macam apa sebenarnya. Makanya Allah Ta’ala murka, di antaranya lokasi pelacuran seluas 7 hektare di pantai Pangandaran Jawa Barat disapu dengan bencana hingga ratusan manusianya mati seketika. Pantai Pangandaran, tempat pelacuran seluas 7 (tujuh) hektare di Jawa Barat yang direstui penguasa setempat dengan dalih pariwisata pun luluh lantak. Gempa bumi dan tsunami menghantam wilayah Jawa Barat telah meluluhlantakkan wilayah pantai Jawa Barat itu 17/07 2006. Sedikitnya 119 orang dinyatakan meninggal dunia, 84 hilang, dan 70 orang luka tersebar di lima kecamatan yakni Cimekar, Parigii, Pengandaran, Cijulang dan Sidomulis. Sedangkan kerusakan bangunanmencapai 500 rumah hancur. Sadarlah wahai manusia, sekalipun berdalih menegakkan hukum, tetapi hukum Allah Ta’ala dan hukuman-Nya lebih perlu diperhatikan. Bukan malah orang mengikuti hukum Allah Ta’ala secara sah justru diseret-seret ke tahanan kemudian ke pengadilan. Murka Allah yang telah jatuh ke negeri ini dengan aneka adzab dan bencana, perlu jadi pelajaran. Dan doa orang yang didhalimi itu tiada dinding (pembatas) antara dia dengan Allah Ta’ala.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إذَا ظَهَرَ الزِّنَا وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللَّهِ .

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:Apabila zina dan riba telah tampak nyata di suatu desa maka sungguh mereka telah menghalalkan adzab Allah untuk diri-diri mereka. (Hadits Riwayat Al-Hakim dengan menshahihkannya dan lafadh olehnya, At-Thabrani, dan Al-Baihaqi, dishahihkan oleh Al-Albani dan Adz-Dzahabi).

Pantai Pangandaran, tempat pelacuran seluas 7 (tujuh) hektare di Jawa Barat yang direstui penguasa setempat dengan dalih pariwisata ini luluh lantak. Gempa bumi dan tsunami menghantam wilayah Jawa Barat telah meluluhlantakkan wilayah pantai Jawa Barat itu 17/07 2006. Sedikitnya 119 orang dinyatakan meninggal dunia, 84 hilang, dan 70 orang luka tersebar di lima kecamatan yakni Cimekar, Parigii, Pengandaran, Cijulang dan Sidomulis. Sedangkan kerusakan bangunan mencapai 500 rumah hancur.

Dan inilah tanda-tandanya:

1558 حَدِيثُ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُرْفَعَ الْعِلْمُ وَيَثْبُتَ الْجَهْلُ وَيُشْرَبَ الْخَمْرُ وَيَظْهَرَ الزِّنَا *.

1558 Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Di antara tanda-tanda hampir Kiamat ialah terhapusnya ilmu Islam, meratanya kejahilan, ramainya peminum arak dan perzinaan dilakukan secara terang-terangan * (Muttafaq ‘alaih/ HR Al-Bukhari dan Muslim).

Siapa saja yang terlibat dalam pelacuran itu walau mungkin di dunia ini masih selamat, tetap akan mendapatkan adzab atau bagian dosanya. Karena Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُنْ لَهُ نَصِيبٌ مِنْهَا وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ مُقِيتًا(85)

Barangsiapa yang memberikan syafa`at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya. Dan barangsiapa yang memberi syafa`at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) daripadanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS An-Nisaa’: 85).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, maksudnya, barangsiapa yang mengupayakan suatu perkara yang membawa kebaikan, niscaya ia akan mendapatkan bagiannya dalam kebaikan itu. Dan barangsiapa yang memberi syafa`at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) daripadanya, yakni akan mendapatkan dosa dari keburukan yang ia usahakan dan ia niatkan. (Tafsir Ibnu Katsir, ayat 85 Surat An-Nisaa’).

Apakah maraknya kawin kontrak alias zina di Puncak Bogor Jawa Barat yang kini justru akan difilmkan itu akan menyusul adzab yang telah ditimpakan kepada para pelacur dan para pendukungnya di tempat mesum pantai Pangandaran Jawa Barat 2006 yang lalu?

Yang penting, kini sudah diperingatkan. Kalau toh para punggawa dan para penjahat lainnya tetap nekat mendukung kemaksiatan itu, terserah Allah akan mengadzabnya atau membagaimanakannya.

Inilah berita yang sangat mengusik dada setiap orang yang beriman.

Puncak-Bogor, Jawa Barat

Film KAWIN KONTRAK siap menjadi trilogi dengan selesainya syuting KAWIN KONTRAK 3. Cerita film ini diangkat dari kisah nyata fenomena kawin kontrak di daerah Puncak, Bogor, Jawa Barat. Mereka melakukan pernikahan dengan jangka waktu tertentu. Biasanya pernikahan ini dilakukan oleh turis yang sedang berlibur di puncak.

Pernikahan berlangsung secara siri selama turis tersebut berada di Puncak. Apa dan bagaimana seluk beluk kawin kontrak dibeberkan oleh Sarah (nama samaran) yang sudah lima kali kawin kontrak selama satu tahun ini. Hasil dari kawin kontrak, Sarah bahkan sudah bisa membeli rumah sendiri meskipun baru setahun bekerja.

Simak penuturan Sarah kepada KapanLagi.com® yang diungkapkan di Puncak, Bogor, Jawa Barat berikut ini:

—Sarah berapa usianya? Sudah berapa lama kawin kontrak?

Saya 21 tahun, sudah setahun ini saya ikut kawin kontrak. Selama setahun sudah kontrak lima kali dengan lelaki yang berbeda.

—Asli Puncak?

Enggak, tapi masih dari Jawa Barat.

—Apakah orangtua tahu?

Tidak, was-was malah kalau ketahuan.

—Orangtua tahunya kamu kerja apa?

Kerja di bank swasta. Karena sebelumnya memang aku kerja di bank swasta.

—Sudah kerja di bank kok kawin kontrak?

Aku dulu kerja di bank, tapi karena pergaulan akhirnya ikut ke sini. Ternyata di kawin kontrak penghasilannya besar. Bisa untuk menutup keinginan membeli barang-barang yang aku mau.

—Nggak takut menjalani ini?

Kalau kontraknya sih enggak. Takutnya kalau keluarga sampai tahu aja.

—Nggak takut sakit?

Ya enggak, kan pakai kondom setiap kali berhubungan. Harus pakai kondom. Biasanya malah suami sendiri yang nyediain kondom. Karena sama-sama sadar dengan resikonya.

—Kalau mau kawin kontrak, atau nyari istri kontrak bagaimana caranya?

Ada istilah-istilah tertentu yang biasa kita gunakan. Biasanya yang dipakai kata jawas, istilah untuk kawin kontrak. Jadi kalau ditanya mau jawas, ya berarti ditawarin kawin kontrak. Kita biasanya di awal nggak berhubungan sama pelanggan langsung. Ada biyong atau makelar atau mak comblang kawin kontrak yang menghubungkan kita ke pelanggan. Selebihnya ya dari mulut ke mulut aja. Tinggal telepon.

—Berapa mahar untuk kawin kontrak?

Tergantung, pernikahan pertama kalau masih perawan harganya beda. Kalau masih perawan kita dijatah mahar besar. Misalnya Rp 80 juta, ya berarti di ijabnya ada mahar Rp 80 juta. Kalau perawan gak bisa kontrak dulu, harus nemenin semaunya suami. Kalau stay sebulan ya nemenin sebulan.

—Kalau kamu tahun lalu dapat berapa?

Aku waktu itu 20 tahun. Kawin kontrak pertama aku pas masih perawan, aku dapat Rp 50 juta. Tapi bukan untuk aku sendiri. Untuk aku bagi juga dengan makelarnya. Aku dapat 50%.

—Setelah itu?

Setelah itu kawin kontrak ada harga kesepakatannya. Tergantung sepakatnya berapa. Mau berapa hari kontraknya. Biyong dapat 20% kalau dia yang mendapatkan suaminya. 80% untuk aku. Sehari rata-rata aku Rp 500 ribu.

—Setahun lima kali, berarti laris?

Kalau saya tiap hari ada. Alhamdulillah, gak pernah sepi. Berhenti kalau aku mau berhenti aja, istirahat.

—Sebulan dapat berapa?

Tinggal dikalikan saja, Rp 500 ribu kali 30, jadi Rp 15 juta.

—Hasil dari kawin siri?

Rumah aku sudah bisa beli sendiri. Aku beli di sini, aku pakai kalau lagi nggak kawin kontrak. Kan kalau kawin kontrak mesti nemenin suami tinggal di mana.

—Pernah nggak jatuh cinta sama suami kontrak?

Pernah jatuh cinta karena orangnya baik banget. Karena dia baik kayak suami sendiri.

—Pernah dapat perlakukan tidak baik?

Gak pernah dapat perlakukan nggak baik. Kalau kita baik, mereka lebih baik. Kalau yang lain itu pernah. Mereka udah mahar ternyata pergi sebelum kontrak selesai. Ya dilaporin polisi. Kalau kita jahat mereka bisa lebih jahat.

—Prosesi kawin kontraknya gimana?

Akadnya kontrak ada dua saksi aja. Kontraknya berapa lama, uangnya berapa, trus uangnya dikasih semua di awal. Kalau sudah dikasih di awal aman, kalau terjadi sesuatu di belakang nggak masalah maharnya dah lunas.

—Selama jadi istri kontrak ngapain aja?

Iya jalan-jalan seperti suami istri. Tamasya, diajak keluar, dibeliin macam-macam.

—Nggak pengin berhenti?

Mungkin ketagihan, karena manusia nggak mungkin ada puasnya. Udah dapat apapun ditelepon ya mau lagi.

—Katanya banyak orang Arab yang kawin kontrak?

Nggak juga warga negara Arab doang, ada juga lokal. Cuma warga negaranya nggak bisa disebutin. Kalau untuk lokal sama aja, nggak ada bedanya, nggak ada diskon.

Menengok Kehidupan Imigran Syiah di Bogor

Siapa yang tidak ingin hidup nyaman, dengan mendapatkan uang tanpa harus bekerja? Itulah potret kehidupan para imigran di Kabupaten Bogor.

Menonton televisi, makan, ke tempat hiburan malam, menjadi pemandangan sehari-hari para imigran Syiah asal Afghanistan di kawasan sejuk berhawa gunung ini.

Mereka sanggup menempuh jarak ribuan kilometer dari kawasan pedalaman Cisarua untuk sampai di Jalan Raya Puncak, untuk membeli kebutuhan sehari-sehari.

Salah satu imigran Syiah Afghanistan di daerah Bogor adalah Ali Rezaei. Pria berumur 26 tahun ini kami temui usai keluar dari sebuah mini market di Kecamatan Cisarua.

Dengan rambut bergaya mohawk dan bercelana pendek, Ali Rezaei keluar menenteng sejumlah belanjaan di tangannya.

Ali, begitu ia disapa, menjelaskan sudah dua tahun tinggal di Indonesia. Dia mengaku kerasan tinggal di Bogor karena masyarakatnya terkenal ramah.

“Indonesia sangat bagus. Orang-orangnya ramah. Saya suka Cisarua, Bogor,” ujar dia dengan bahasa Inggris cukup fasih kepada tim Jurnalis Islam Bersatu (JITU).

Tidak banyak kegiatan yang dilakukannya di Bogor. Tidur, makan, menonton TV, dan belanja, kata Ali, menjadi sederet aktivitas hariannya.

Ali mengaku, bisa menjadi imigran di Indonesia atas bantuan lembaga PBB untuk para pengungsi alias UNHCR. Selain mendapatkan kiriman uang dari keluarganya di Afghanistan, Ali juga mendapatkan biaya hidup dari UNHCR.

“UNHCR memberi saya makan dan tempat tinggal,” ujar imigran Syiah beretnis Hazara ini.

Saat ditanya apakah ada keinginan untuk kembali ke Afghanistan, Ali menegaskan keinginan itu hanya akan menjadi masalah bila terwujud. Maka dalam waktu dekat, dirinya belum mau kembali ke Afghanistan.

“Itu masalah buat saya. Saya tidak mau kembali ke Afghanistan sekarang sebab masih ada Taliban. Itu masalah yang sangat besar di suku Hazara. Al Qaedah tidak suka dengan Hazara,” ujar dia yang meyakini Taliban sebagai organisasi teroris.

Hal senada juga dikatakan tiga orang imigran Syiah di Bogor; Muhammad Husein, Ahmad Husein, dan Haidri. Berbeda dengan Ali, Muhammad Husein dan kawan-kawan mengaku berasal dari Pakistan.

Saat ditemui, ketiganya langsung mengajak JITU untuk masuk ke sebuah warung kopi. Di situlah, mereka biasa “nongkrong” menghirup udara malam kawasan Puncak. Seketika Ahmad Husein langsung menaruh tasnya di atas meja, dan memesan kopi dengan bahasa Inggris dicampur Indonesia.

Bersama rekan-rekannya, Ahmad Husein mengaku sudah tinggal selama satu tahun di Bogor. “Kami tidak bekerja karena tidak mendapat izin dari UNHCR,” ujar dia yang menolak untuk difoto.

Sementara itu, Muhammad Husein membantah jika Imigran Syiah di Indonesia meresahkan.

Hubungan para imigran Syiah dengan masyarakat, kata dia, berjalan cukup harmonis.

“Muslim di Indonesia moderat. Orang Indonesia baik,” ujar Muhammad Husein. Dia mengaku tak risau hidup di Indonesia meski mayoritas berasal dari kaum muslimin Ahlussunah wal Jamaah.

Meski kelompok Syiah memiliki komunitas di Indonesia, Muhammad Husein menerangakan, tidak memiliki koneksi. “Kami tidak kenal dan kami tidak menghubungi organisasi Syiah yang ada di Indonesia,” ujarnya yang langsung berseri-seri ketika kami tanyakan tentang Karbala.

Namun saat kami tanya mengenai praktek nikah mut’ah yang banyak dilakukan para imigran Syiah, ketiganya diam sejenak. Tak lama kemudian, Hussein menjawab, “Itu tidak benar.”

Imigran Kerap Lakukan Tindakan Kriminal

Penelusuran JITU untuk menggali gaya hidup para imigran mengantarkan kami kepada sejumlah petunjuk.

Warga mengaku, para imigran biasa berkumpul di sebuah hotel berinisial HK di pinggir Jalan Raya Puncak.

Namun sayang, saat kami datangi lokasi keesokan harinya, para imigran menolak untuk diwawancara. Pihak warga di sekitar lokasi pun terlihat irit bicara saat kami mengorek informasi lebih jauh.

Beberapa wanita lokal di hotel tersebut langsung bersembunyi ke dalam ketika mengetahui kedatangan kami.

Tepat di samping hotel berinisial HK, kami juga menemui hotel berinisial HM. Di sana, tampak satu dua-perempuan berpakaian minim di tengah Puncak yang dikenal sebagai kawasan berhawa dingin.

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Yanyan Hendayani, memiliki sejumlah data tentang tindakan kriminal para imigran.

Kasi Kamtib Cisarua, Yanyan Hendayani

Kasi Kamtib Cisarua, Yanyan Hendayani

“Ada banyak, seperti penipuan, uang palsu, perkelahian, baik dengan warga atau sesama imigran, termasuk pelecehan seksual,” ujarnya saat kami temui di kantor Kecamatan Cisarua.

Keresahan para warga, kata Yanyan, sebenarnya dipicu oleh para imigran sendiri. Seperti sikap enggan untuk berbaur karena merasa hanya menumpang transit. “Apalagi adat dan budaya mereka berbeda,” ujar Yanyan yang menjelaskan “kehidupan” para imigran banyak berlangsung di malam hari.

Hal senada juga dikatakan warga setempat. Masyarakat mengaku resah dengan sikap para imigran karena dinilai tidak relijius. Padahal Bogor dikenal sebagai kabupaten dengan mayoritas muslim. “Saat Jum’atan, mereka gak shalat Jum’at,” ujar seorang warga yang ditemui di desa Batulayang.

Yanyan menjelaskan, rata-rata para imigran memegang surat sertifikat UNHCR. Namun tidak sedikit di antara mereka mengantongi surat yang habis masa berlakunya. “Ada juga yang datang tanpa surat-surat,” ujarnya saat ditemui Kecamatan Cisarua.

Yanyan menerangkan, para imigran di Kecamatan Cisarua tersebar di sejumlah daerah di Kabupaten Bogor di antaranya; Kopo, Cisarua, Batulayang, Cibeureum, Tugu Utara, Tugu Selatan, Citeko, dan Leuwimalang.

Bukan hal mudah bagi pihak kecamatan untuk mendata jumlah imigran. Setiap kali ada pendataan, para imigran menunjukkan sikap tidak senang.

Sedangkan ketika pihak kecamatan melakukan penyuluhan atau pemeriksaan, para imigran akan segera pindah untuk mencari tempat lain.

“(Mereka pindah) masih di sekitaran kita juga, cuma sudah beda tempat. Makanya, jumlah mereka ini fluktuatif,” ujarnya.

Yanyan mengaku, ada jurang komunikasi antara pihak UNHCR dengan pihak setempat. Kecamatan Cisarua sendiri tidak pernah dikabari UNHCR, terkait kedatangan maupun kepergian para imigran. “Kalaupun ada laporan datangnya ya dari pemilik kontrakan,” tukas Yanyan.

Peta Penyebaran Imigran Syiah di Cisarua

Warga Kecamatan Cisarua, Kapubaten Bogor mendadak resah. Daerah wisata yang penuh dengan pesantren ini mengaku banyak dirugikan dengan kedatangan para imigran yang mayoritas Syiah.

Berbagai tindakan kriminal dilakukan oleh para imigran seperti penipuan, uang palsu, perkelahian, termasuk pelecehan seksual. Warga menilai, gaya hidup para imigran Syiah juga tidak relijius, seperti enggan melaksanakan shalat Jum’at dan melakukan hubungan seks bebas.

Berdasarkan rekapitulasi data imigran Kecamatan Cisarua pada tahun 2014, jumlah seluruh imigran di Kecamatan Cisarua mencapai 647 orang.

Dari jumlah ini di antaranya berasal dari Afghanistan, Pakistan, Iran, Somalia, Bangladesh, Srilanka, Iraq, Sudan, Negro dan Myanmar. Namun sumbangan terbesar berasal dari imigran Syiah asal Afghanistan, Pakistan dan Iran.

Jumlah tersebut tersebar di beberapa desa di antaranya; Desa Kopo sebanyak 81 orang, Cisarua 44 orang, Ba¬tulayang 424 orang, Cibeureum 35 orang, Tugu Utara 14 orang, Tugu Selatan 11 orang, Citeko 8 orang dan Desa Leuwimalang mencapai 26 imigran.

Kepala Seksi Keamanan dan Ketertiban Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor, Yanyan Hendayani menerangkan, banyak para imigran yang telah bertahun-tahun tinggal di Cisarua. Bahkan ada imigran yang telah mendiami Kabupaten Bogor hingga 10 tahun.

Lantas apa motivasinya, bukankah tujuan utama para imigran adalah Australia?

“Kalau soal itu saya khawatir salah jawab, sebab wewenangnya ada di UNHCR soal pemberangkatan mereka ke sana. Mereka kan datang juga tidak melapor ke kita,” ujar Yanyan saat ditemui Jurnalis Islam Bersatu di Kantor Kecamatan Cisarua, Kamis (15/1/2015).

Yanyan mengaku, ada jurang komunikasi antara pihak UNHCR dengan aparat setempat.

Kecamatan Cisarua sendiri tidak pernah dikabari UNHCR, terkait kedatangan maupun kepergian para imigran. “Kalaupun ada laporan datangnya ya dari pemilik kontrakan,” tukas Yanyan.

Bukan hal mudah bagi pihak kecamatan untuk mendata jumlah imigran. Setiap kali ada pendataan, para imigran menunjukkan sikap tidak ramah.

Sedangkan ketika pihak kecamatan melakukan penyuluhan atau pemeriksaan, para imigran akan segera pindah untuk mencari tempat lain.

“(Mereka pindah) masih di sekitaran kita juga, cuma sudah beda tempat. Makanya, jumlah mereka ini fluktuatif,” ujarnya.

Yanyan menuturkan, kebanyakan para imigran di Cisarua berstatus legal. Namun banyak di antara para imigran enggan memperbarui sertifikasi UNHCR. “(Alasannya) karena berbagai keterbatasan seperti jarak dan waktu,” tukas Yanyan.

Syaikhnya Syetan Syiah ajarkan jual kehormatan

  • Ar-Rahman perintahkan jaga kehormatan.
  • Syaikhnya Syetan Syiah ajarkan jual kehormatan.

06-25-04.07.08

Pertanyaan:

Nama saya Muna Abdul Ridha, pertanya’anku adalah: Dapatkah saya memberi tarif harga pada setiap bagian tubuh saya untuk di mut’ah oleh laki-laki

Jawab Ayatullah al-’Amili :

Tidak di ragukan wahai saudariku yang mulya : ini adalah hak anda, dan nikah mut’ah adalah rantaian ijab dan qabul. sebagaimana seorang laki-laki menyewa rumah atau mobil atau himar-nya maka anda juga demikian, kamu mempunyai hak untuk menyewakan bagian tubuh kamu, semua tubuh kamu atau sebagian tubuh kamu, dengan demikian laki-laki bisa bersenang-senang dengan kamu dari bagian tubuh yang kamu sewakan.

FATWA DARI AYATULLAH AL-UDZHMA SAYYID AS-SISTANI -QABBAHALLAAHU WAJHAHU:

06-25-04.09.29

Pertanyaan:

Apakah boleh nikah mut’ah  dijadikan sebagai profesi oleh para wanita dan gadis dengan batas-batas yang layak sebagai penunjang kehidupan dan pekerjaan mereka melalui nikah mut’ah???

Jawab:

Boleh.

Itulah beberapa fatawa yang dikemukan oleh “Ulama’” Syi’ah. Dari beberapa fatawa di atas, anda bisa menilai dan menimbang ajaran Syi’ah. Apakah ajaran Syi’ah adalah ajaran yang dibawa oleh suri tauladan  kita sepanjang zaman, Rasulullah -shallallaahu ‘alaihi wa sallam-? Ataukah ajaran Syi’ah ini memang dibawa oleh orang-orang yang sebenarnya ingin menghancurkan Islam???…

Semoga Alloh -ta’ala- selalu menunjuki kita ke jalan yang lurus. Amin ya Rabbal ‘Alamiin.

Kisah Sesatnya Nikah Mut’ah: Menggauli Adik Kandung Di Hotel

[menangis hati ini mendengar kisah ini, sebarkan saudaraku jika kalian peduli]

Ini adalah kisah nyata seorang penganut Syiah di Indonesia yang sangat benci ketika ada orang yang melecehkan Syiah.

Namun ternyata, setelah beberapa bulan berikutnya dia berbalik, yang tadinya benci ketika ada orang yang melecehkan Syiah, sekarang amat benci dengan Syiah.

Ditanyakan kenapa bisa sampai seperti itu.

Jawabnya adalah ketika ia menuntut ilmu di Iran, ia mempunyai sahabat yang merupakan asli penduduk Iran, dan tentunya seakidah dengannya, sama-sama Syiah.

Sahabatnya itu memperkenalkan suatu tempat yang setiap malam Jum’at selalu dilakukan sebagai tempat nikah mut’ah. Sahabatnya itu kerap mendatangi tempat itu.

Tapi ada suatu yang ganjil dari proses nikah mut’ah tersebut. Setiap malam Jumat, semua lampu dalam hotel tersebut dimatikan. Alasan pemilik hotel, pemadaman itu dilakukan agar masyarakat sekitar yang nikah mut’ah di tempat tersebut tidak saling mengenal, dan jika bertemu di siang hari tidak malu.

Si sahabatnya itu penasaran. Berkali-kali ia nikah mut’ah namun tidak mengetahui sama siapa ia bersetubuh.

Maka ia mempunyai ide pada saat ijab-qobul (dalam suasana gelap), ia memberi cincin sebagai mas kawin dan agar selalu dipakai oleh wanita tersebut.

Setelah aqad persetubuhan selesai, laki-laki itu pulang ke rumah nya dan wanita itu menunggu datangnya siang hari untuk pulang.

Dan di pagi-pagi sekali, ia mendatangi hotel tersebut dan mengumpulkan wanita-wanita yang ia mut’ahi pada malam harinya.

Lalu dicarilah perempuan yang memakai cincin dan setelah ketemu, dan dibukakan hijabnya, dia kaget setengah mati.

Ternyata wanita yang disetubuhinya semalam adalah adiknya sendiri yang juga tengah menuntut ilmu di negeri itu.

Dari situ dia sangat menyesal, dan begitu merasa bersalah.

Setelah kejadian ini banyak yang terbongkar dengan siapa mereka mut’ah (baca bersetubuh), ada yang bersama sepupunya, bahkan ada yang bersetubuh dengan ibunya sendiri. Na’udzubillah.

#SayNoToSyiah #SyiahBukanIslam

 

Dukung MUI Keluarkan Fatwa Syi’ah Sesat Dan Haram Di Indonesia. Rapatkan Barisan, Perangi dan Tolak Syi’ah dari Indonesia

 

Memang nikah kontrak itu persis dengan perzinahan, beda sekali dengan perkawinan Islami. Ia adalah perkawinan gaya kufur karena kawin tanpa wali. Pada  hal wali itu sarat dalam pernikahan Islami.

Wali itu bisa di ambil dari ayat ini:

Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami”. Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu’aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu’aib berkata: “Janganlah kamu takut. Kamu telah selamat dari orang-orang yang zalim itu”.

(26)   Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.

(27)   Berkatalah dia (Syu’aib): “Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, maka aku tidak hendak memberati kamu. Dan kamu Insya Allah akan mendapatiku termasuk orang-orang yang baik”.

(28)   Dia (Musa) berkata: “Itulah (perjanjian) antara aku dan kamu. Mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu aku sempurnakan, maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). Dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan”. Qashas .

Lihat dalam ayat itu, wali perempuan yang mengawinkannya, bukan kawin sendiri atau di kawinkan oleh KUA atau kiyai.

Untuk wali perempuan itu bernama  nabi  Syu`aib, saya masih belum menjumpai dalilnya. Jadi belum tentu nabi Syu`aib.

Semoga ada ketegasan oleh Pemerintah dengan adanya Imigran Syiah di Puncak-Bogor dan segera MUI pun membantu Pemerintah mengeluarkan Teguran agar Imigran Syiah di Puncak-Bogor maupun daerah lainnya di Usir dari Nusantara tercinta. Tidak dilarang untuk disebarluaskan Risalah ini ke Muslim dan Muslimah lainnya, semoga jadi amal sholih dan sebagai bahan antisipasi akan bahaya aliran sesat Syi’ah ini khususnya di Indonesia.

Referensi

  • ^nahimunkar.com/beredar-foto-ini-yang-bikin-gue-betah-jadi-imam-syiah/
  • ^nahimunkar.com/pelacuran-dengan-sebutan-kawin-kontraknikah-mutah-ajaran-syiah-kafir-di-puncak-bogor/
  • ^kiblat.net/2015/01/26/menengok-kehidupan-imigran-syiah-di-bogor/
  • ^kiblat.net/2015/01/26/inilah-peta-penyebaran-imigran-syiah-di-cisarua/
  • ^mantankyainu.blogspot.sg/2013/11/syaikhnya-syetan-syiah-ajarkan-jual.html?m=1
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s