Sukarno, Presiden Indonesia Termiskin dan Tertragis

Screenshot_2016-06-25-21-50-37_1

Setelah tragedi 1965 mengguncang Indonesia, sosok Soekarno seakan hilang ditelan bumi. Sang proklamator Indonesia seolah digambarkan tak berdaya melawan gerakan yang hendak menjatuhkannya. Di tengah pembantaian massal yang berlangsung di seluruh penjuru tanah air, pada 11 Maret 1966 dikeluarkan sebuah surat perintah yang biasa disingkat Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret.

Dalam surat tersebut, yang hingga kini masih diteliti keasliannya, Soekarno menginstruksikan kepada Soeharto, selaku Panglima Komando Operasi Keamanan dan Ketertiban (Pangkopkamtib), untuk segera mengambil tindakan atas situasi keamanan yang buruk kala itu. Namun setelah proses pengalihan kekuasaan itu berlangsung, apa yang kemudian terjadi pada Soekarno? Nah, berikut adalah beberapa fakta mencengangkan tentang kondisi Soekarno di bawah kekuasaan Orde Baru, yang berhasil kami rangkum dari buku karangan Dr. Baskara T. Wardaya SJ., dengan judul Menguak Misteri Kekuasaan Soeharto.

Presiden Termiskin

Bukan bermaksud untuk terlalu mengelu-elukan Bung Karno, tapi kita sama-sama tahu kalau jasa beliau bagi bangsa ini memang begitu besar. Tanpa si Bapak Bangsa, Indonesia takkan pernah berjalan seperti sekarang ini. Bahkan mungkin saja hari ini kita masih berstatus warga negara Belanda.

Jasanya begitu besar, sudah selayaknya Bung Karno mendapatkan hal yang setimpal. Harta misalnya, mungkin sangat tidak masalah jika beliau dihadiahi satu karung emas sebagai imbal jasanya membentuk dan memerdekakan Indonesia. Tapi apa? Beliau justru tak pernah mendapatkan hal itu. Jangankan sekarung emas, satu rumah layak huni saja beliau tak memilikinya.

Julukan presiden Indonesia termiskin pun kini semakin logis, walaupun banyak yang menentang karena menganggap sang Putra Fajar memiliki banyak harta. Sebagai bukti, berikut adalah fakta-fakta tentang kemiskinan Bung Karno yang tak terbantahkan.

1.

Presiden Indonesia yang Utang Duit Kepada Temannya

06-25-07.37.40

Meskipun statusnya sebagai orang nomor satu di Indonesia, tak selalu Bung Karno punya uang di kantongnya. Karena tak selalu punya uang, maka kadang beliau harus berutang kepada teman-temannya jika membutuhkan sesuatu. TD Pardede adalah satu orang yang pernah dipinjami uang oleh sang Putra Fajar.

Pada suatu hari di Istana Negara, Bung Karno tiba-tiba mengajak Pardede ke pojok ruangan. Singkat kata beliau mengatakan ingin meminjam sejumlah uang. “Pardede, bisa kau pinjamkan aku uang?” ungkap Bung Karno. Pardede kaget setengah mati dengan pertanyaan ini, kenapa bisa seorang presiden pinjam uang. Tapi, tanpa bertanya lebih jauh Pardede menyodorkan sejumlah uang. Bung Karno menerimanya, lalu mengembalikan beberapa.

2.

Ketika Bung Karno Ingin Rambutan dan Tak Punya Uang Sepeser Pun

Pernah ada cerita juga tentang Bung Karno yang benar-benar tidak punya uang bahkan untuk membeli sekilo rambutan. Saat itu beliau sedang berjalan-jalan di antar oleh seorang polisi. Singkatnya, Bung Karno mendapati seorang penjual rambutan dan tertarik. Sejurus kemudian beliau pun meminta dibelikan.

Mirisnya, ketika si polisi tersebut bertanya uang, Bung Karno menggeleng-gelengkan kepalanya dan bilang jika dirinya tak memiliki uang. Tanpa bertanya lagi sang polisi ini kemudian membelikan Bung Karno rambutan dengan memakai uangnya sendiri.

3.

Didepak Dari Istana Merdeka Tanpa Memiliki Apa Pun

Screenshot_2016-06-25-19-40-42_1

Suatu pagi Bung Karno menerima surat dari Soeharto, isinya tentang beliau yang harus meninggalkan Istana Merdeka secepat mungkin. Tanpa banyak babibu, beliau langsung cepat-cepat mengemasi barang-barangnya. Tak ada satu pun barang-barang mewah yang juga ikut dikemasinya saat itu.

Beliau juga melarang anak-anaknya untuk membawa properti milik negara. Guruh yang ketika itu yang sudah menggulung antena televisi langsung menaruhnya kembali dengan raut muka kecewa. Keluar istana, tak ada barang-barang istana yang terbawa. Bung Karno sendiri hanya membawa kaos oblong cap cabe yang dikenakannya, serta sebuah bungkusan yang isinya adalah bendera pusaka.

Berbeda dari Soeharto yang lepas dari jabatan presiden masih memiliki uang triliunan, Bung Karno benar-benar tak punya apa pun.

4.

Soekarno Tinggal di Rumah Istrinya

Setelah didepak dari istana, Bung Karno tak punya opsi lain selain tinggal di rumah istrinya, Fatmawati. Sungguh hal ini begitu tidak pantas. Bukannya apa-apa, Bung Karno adalah tokoh besar yang peranannya begitu vital. Sangat pantas kalau beliau punya satu atau dua rumah layak huni. Tapi kenyataannya tidak, beliau tak memilikinya dan justru tinggal di rumah istrinya.

Masa tua beliau juga begitu benar-benar dalam kesederhanaan. Jika sebelumnya beliau sibuk mengurusi negara, di masa senjanya ia lebih sering merawat tumbuh-tumbuhan. Sangat sederhana tak seperti presiden Indonesia lain yang tinggal dengan penuh fasilitas dan kenyamanan.

Inilah Bapak Bangsa kita. Beliau sebagai tokoh pendiri negara ternyata hidup dalam kesederhanaan yang benar-benar sederhana. Presiden termiskin Indonesia, julukan ini sepertinya akan jadi label beliau. Bukannya menghina, tapi ini jadi simbol tentang hidupnya yang benar-benar jauh dari kemewahan.

Presiden Yang Tragis Diakhir Hidupnya

Bung Karno sejatinya adalah seorang founding father Bangsa Indonesia yang harusnya menikmati indah kemerdekaan. Sepanjang hidupnya, Beliau sudah terlalu banyak berkorban demi kemerdekaan negara ini. Mulai dari menderitanya hidup di pengasingan, penculikan, dan perjuangan-perjuangan bersama rakyat lainnya yang menguras darah dan keringat.

Namun apa yang terjadi di masa tuanya sungguh menyedihkan. Pernah memegang jabatan presiden pertama Indonesia ternyata bukan suatu jaminan kelak hidupnya akan berakhir indah. Nyatanya justru kehidupan Bung Karno sangat tertekan akibat represifnya pemerintahan Orde Baru. Berikut kami merangkum 5 fakta menyedihkannya akhir kehidupan Bung Karno karena tindakan penguasa Orde Baru tersebut. Silakan disimak.

1.

Tak Sanggup Membayar Dokter Gigi

Setelah menandatangani Supersemar, Soekarno mulai diasingkan dari bangsa dan keluarganya sendiri. Kabar tentang kondisi kesehatannya yang memburuk bahkan tak terekspos sama sekali. Saat itu, para wartawan tidak berani memberitakannya ke publik, sehingga tak banyak yang tahu mengenai keadaan Bung Karno. Pada suatu waktu, Soekarno yang mengalami sakit gigi, meminta bantuan drg Oei Hong Kian untuk datang ke Istana Negara dan mengobatinya.

Sayangnya, peralatan gigi yang ada di Istana Negara waktu itu sudah usang, sehingga akhirnya drg Oei menyarankan kepada Soekarno untuk datang ke tempat praktiknya. Tapi, saran tersebut urung dilakukan karena pengamanan terhadap mantan presiden RI. Karena kasihan melihat kondisi Soekarno, drg Oei pun akhirnya mengalah. Dia membawa semua peralatan giginya ke Istana, lalu dipasang di sana saat merawat Bung Karno. Setelah itu, peralatan itu dibawa kembali ke rumahnya. Hal itu terus-menerus dilakukannya karena kondisi Soekarno rupanya membutuhkan perawatan intensif.

Kemudian setelah Soeharto resmi diangkat sebagai pejabat presiden, pada Maret 1967 Soekarno harus meninggalkan Istana Merdeka dan pindah ke Bogor. Ketika itu, beliau tidak diperbolehkan tinggal di Istana Bogor, melainkan di sebuah kediaman pribadi yang berlokasi di Jalan Batu Tulis, Bogor, yang biasa disebut Hing Puri Bima Sakti. Beberapa bulan setelah pindah, Soekarno kembali didera sakit gigi. Karena di rumah itu tidak ada peralatan gigi, sang penyambung lidah rakyat akhirnya diperbolehkan berobat ke rumah drg Oei. Namun tentunya dengan pengamanan ekstra ketat, seolah dirinya seorang teroris berbahaya.

Selama memberikan pengobatan gigi itu, rupanya drg Oei tidak pernah dibayar, baik itu oleh Soekarno (yang sudah tak punya uang sepeser pun) atau bahkan oleh pemerintah. Dia sepenuhnya ikhlas melakukan itu demi rasa kemanusiaannya. Kemudian pada Maret 1968, drg Oei yang memutuskan untuk menetap di Belanda sudah menyiapkan cor emas untuk gigi Bung Karno. Sayangnya, rencana baik itu kembali batal dilaksanakan karena pengamanan terhadap pasiennya telah ditingkatkan.

2.

Hanya Mendapat Perawatan Dari Dokter Umum

Screenshot_2016-06-25-21-50-50_1

Terasing dari dunia luar dan dipisahkan dari orang-orang yang mencintainya, kondisi kesehatan Sang Putra Fajar terus menurun. Mengetahui hal itu, Rachmawati mengirim surat kepada Soeharto untuk memindahkan ayahnya kembali ke Jakarta. Setelah itu, Soekarno pun dipindahkan lagi ke Jakarta dan berdiam di Wisma Yaso (sekarang Museum Satria Mandala).

Meski mengetahui kondisi Soekarno membutuhkan penanganan ekstra, tim dokter kepresidenan yang sebelumnya dibentuk untuknya ternyata dalam praktiknya tidak melakukan apa-apa. Bung Karno ditelantarkan begitu saja. Dr Kartono Mohamad yang mendapatkan beberapa catatan medis dari hasil observasi perawat di Wisma Yaso, menyatakan kalau Soekarno yang saat itu menderita gangguan ginjal, ternyata tidak mendapatkan diet khusus. Padahal seharusnya seorang pasien dengan gangguan ginjal harus menjalani diet khusus untuk mengontrol kondisinya.

Fakta mencengangkan lainnya yang ditemukan oleh dr Kartono adalah Bung Karno rupanya hanya ditangani oleh seorang dokter umum bernama dr Sularjo. Soekarno tentunya membutuhkan penanganan khusus yang harus dilakukan oleh seorang dokter spesialis untuk mengobati penyakitnya. Ironisnya lagi, ketika kondisi presiden pertama RI itu sudah kritis, obat yang diresepkan dr Kartono untuk Soekarno ternyata hanya disimpan di dalam laci oleh seorang dokter yang merawatnya.

3.

Cuma Diberi Vitamin Ketika Sakit Parah

Tragedi 1965 tidak hanya menjatuhkan kekuasaan Orde Lama, namun juga memporak-morandakan kehidupan Soekarno. Betapa tidak, setelah Supersemar dikeluarkan, hidup sang penyambung lidah rakyat itu dibuat “mati segan hidup tak mau”. Soekarno yang telah diasingkan dari bangsa dan keluarganya sendiri harus hidup dalam kesepian yang menyiksa.

4. Minim Perawatan, Tubuh Tua Bung Karno Habis Digerogoti Penyakit

Sudah menjadi rahasia umum, usai tak lagi menjadi presiden, Bung Karno menjadi sasaran kekejaman Orde Baru. Saat tak lagi menjadi presiden, tim dokter kepresidenan yang dipimpin Prof. Siwabessy dengan anggota Dr. Soeharto, Dr. Tang Sin Hin, dan Dr. Soerojo yang paham betul jejak rekam medis Bung karno dibubarkan. Sejak itulah, penanganan penyakit Soekarno jauh dari kata memadai.

Hari-hari tua Bung Karno semakin menyedihkan. Tubuhnya digerogoti hipertensi yang mempengaruhi kerja ginjalnya. Ginjal kiri Bung Karno sudah tidak berfungsi, sedangkan yang kanan hanya berfungsi 25 persen saja. Komplikasi penyempitan pembuluh darah jantung, pembesaran otot jantung, dan gejala gagal jantung semakin memperparah kondisi Bung Karno.

5. Nasib Membawa Bung Karno Menjadi Tahanan Politik

Screenshot_2016-06-25-21-29-05_1

Perlakuan rezim Orde Baru terhadap diri Bung Karno semakin menggila. Di masa tuanya, Bung Karno dibuat terasing dari rakyat yang dicintainya, orang-orang terdekatnya, bahkan keluarganya sendiri pun dipersulit untuk menjenguk.

Pengamanan Bung Karno diperketat dan alat sadap dipasang di setiap sudut rumahnya. Rupanya hinga tua yang sedang sakit-sakitan ini juga masih cukup menakutkan bagi pemerintah Orde Baru. Apalagi mereka terus mencecar Bung Karno dengan berbagai pertanyaan investigasi yang menuduhnya terlibat dengan Gerakan 30 September PKI.

Pengamanan terhadap dirinya diperketat dan siapa pun tidak diperbolehkan untuk menengoknya tanpa seizin Soeharto. Selama masa “pengasingan” itu, Soekarno yang sebelumnya telah mengalami gangguan ginjal, kesehatannya terus menurun. Ditambah lagi, dia tidak pernah menerima perawatan khusus dari dokter spesialis selama “dipenjara” oleh Orde Baru.

Dr Kartono Mohamad yang menerima catatan medis Soekarno dari hasil observasi perawat di Wisma Yaso, mendapati kalau presiden pertama RI itu hanya diberi vitamin saat sakit. Dalam catatan itu, dr Kartono juga tidak menemukan obat penurun tekanan darah, meski ketika itu tekanan darah Bung Karno relatif tinggi. Pun, dia tidak menemukan obat pelancar kencing yang biasanya diberikan ketika terjadi pembengkakan. Ya, Soekarno memang benar-benar telah ditelantarkan.

6.

Masih Terus Diinterogasi Meski Kondisi Sudah Lemah

Setelah Soeharto diangkat sebagai Pejabat Presiden, Soekarno pun “dipaksa” keluar dari Istana Merdeka dan dipindahkan ke Bogor. Namun, Bung Karno tidak ditempatkan di Istana Bogor, melainkan di sebuah kediaman pribadi yang berada di Jalan Batu Tulis, Bogor, yang biasa disebut Hing Puri Bima Sakti. Di rumah itu, Soekarno tetap dijaga ketat dan tidak diizinkan untuk berinteraksi dengan dunia luar.

Karena terasing dari bangsa dan keluarga yang sangat dia cintai, kondisi kesehatan Soekarno kala itu terus menurun. Rasa kesepian rupanya telah membuat sang penyambung lidah rakyat merasa sangat terpukul. Ditambah lagi, Soekarno terus dicecar berbagai pertanyaan, yang terus diulang-ulang perihal hubungannya dengan PKI dan juga sepak terjang partai beraliran komunis itu.

Ketika menjadi obyek interogasi petugas Teperpu, kondisi Soekarno sebetulnya sudah lemah. Hingga pada suatu hari, seperti tertulis dalam autobiografi Soeharto, Soekarno yang sudah merasa letih mengatakan kepada Soeharto,”Harto, jane aku iki arep kok apa’ke?” atau dalam Bahasa Indonesia berarti, “Harto, sebetulnya aku ini akan kamu apakan?”

Mendengar perkataan Bung Karno yang sangat menyayat hati itu, Soeharto akhirnya menurunkan perintah untuk tak lagi menginterogasi Sang Putra Fajar. Meski begitu, Soekarno tetap diasingkan di Wisma Yaso hingga akhir hayatnya.

7.

Dibatasi Bertemu Siapapun, Termasuk Keluarga

Kondisi Soekarno yang sebelumnya memang sudah sakit, semakin memburuk ketika berada di bawah tekanan Orde Baru. Sebab, setelah Supersemar ditandatangani, Bung Karno tak lagi diizinkan untuk menyapa dunia luar. Pengamanan atas dirinya semakin diperketat dan Bung Karno juga dibatasi bertemu siapa pun, tak terkecuali keluarganya sendiri.

Dalam masa “pengasingan” itu, Soekarno merasa sangat kesepian. Oleh karenanya, ketika dia menjalani perawatan gigi di rumah drg Oei, Soekarno sempat meminta dokter itu untuk menjadikan rumahnya sebagai tempat pertemuannya dengan anak-anaknya. Meski perjumpaan itu hanya berlangsung singkat, Soekarno merasa cukup senang.

Namun, kebahagiaan itu tak berlangsung lama karena Soekarno kemudian dipindahkan ke Bogor. Terasing dari dunia luar dan berada jauh dari keluarga, Rachmawati yang memiliki kesempatan bertemu ayahnya, mendapati kondisi Soekarno semakin menurun dari hari ke hari. Belum lagi, interogasi terhadap Soekarno tetap dijalankan, meski kondisinya sudah lemah kala itu, yang semakin memperburuk kesehatannya.

Ditemukan juga sebuah surat dari Pangdam Siliwangi Mayjen HR Dharsono yang melarang warga Jawa Barat untuk mengunjungi dan dikunjungi Soekarno. Di samping itu, ditemukan pula sebuah surat dari Pangdam Jaya Amir Machmud yang menetapkan bahwa seluruh dokter yang hendak mengunjungi Soekarno harus sepengetahuan dan didampingi oleh Dr Kapten Suroyo.

8. Allah, Ucapan Terakhir Bung Karno Sebelum Meninggal

Screenshot_2016-06-25-21-28-51_1

Di akhir hayatnya, kondisi Bung Karno terus memburuk. Dia mulai tak sadarkan diri dan koma. Di saat itu, ada Guntur, Megawati, Sukmawati, Guruh, dan Rachmawati menunggu tegang dengan kondisi sang ayah. Sepertinya saat itulah memang detik-detik terakhir Bung Karno. Megawati berusaha membisikkan kalimat syahadat ke telinga ayahnya. Bung Karno mencoba untuk mengikuti, namun kalimat itu tak selesei. “Allaaah…”, lirih Bung Karno mengucapkan seiring nafasnya berhenti.

Tangis pecah. Tepat di pukul 07.07 di tanggal 21 Juni 9170, Bung Karno berpulang menghadap pencipta di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, Jakarta. Tugasnya berakhir sebagai pemimpin besar, juga sebagai penyambung lidah rakyat Indonesia. Meski tim dokter terus-menerus berupaya mengatasi keadaan kritis Bung Karno, ternyata takdir berkehendak lain.

9. Buya Hamka, Mantan Tawanan yang Justru Diminta Menjadi Imam Shalat Jenazah Bung Karno

Screenshot_2016-06-25-21-28-58_1

Seorang yang jatuh dalam konflik adakalanya akan menemui titik temu untuk berdamai dengan keadaan. Seperti halnya Bung Karno yang dulu sempat memenjarakan Buya Hamka. Namun apa ending di balik konflik besar ini? Bung Karno justru pernah berwasiat, “Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku”.

Mendengar permintaan ini, Buya Hamka segera bergegas ke Jakarta ke tempat jenazah Bung Karno disemayamkan. Dengan ikhlas tanpa mengingat sejarah masa lalu, Buya Hamka memenuhi permintaan terakhir bapak negara tersebut untuk menjadi imam di shalat jenazahnya. Tanpa dendam pula, Buya Hamka menyanjung jasa Bung Karno dan mendo’akan supaya dua masjid yang dibangunnya, yakni Masjid Istiqlal dan Masjid Baitul Rahim di Istana Negara menjadi amal jariyah selama hidupnya.

10. Soeharto Menolak Wasiat Terakhir Bung Karno

Screenshot_2016-06-25-22-03-40_1

Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Bung Karno mengatakan tidak ingin dikubur dalam kemewahan. Bung Karno ingin dikuburkan dengan dikelilingi pemandangan indah, dengan sungai yang bening. Dia ingin berbaring di antara perbukitan dan ketenangan, di daerah Priangan yang subur tempat pertama kali ia bertemu petani Marhen. Belakangan, Bung Karno mengungkapkan tempat itu di dekat vila miliknya di daerah Batu Tulis, Bogor.

Namun, wasiat itu tak diindahkan Presiden Soeharto. Dengan sepihak, Soeharto memutuskan jenazah Bung Karno dimakamkan di dekat makam ibunya di daerah Blitar. Pemakamannya sendiri diiringi dengan upacara kenegaraan dan makamnya pun juga ikut dipugar dengan mewah. Semua itu tidak sesuai dengan wasiat kesederhanaan yang diinginkan pemimpin besar revolusi tersebut.

Banyak yang bilang politik itu kejam, tidak ada yang tahu siapa yang nantinya jadi kawan ataupun lawan. Meski begitu, Presiden Soekarno memilih menceburkan diri ke dalamnya. Karena ia tahu, menjadi politisi adalah jalan keluar terbaik untuk bebas dari penjajahan, meski juga ia tahu bakal menerima kenyataan pahit dihianati bangsanya sendiri. Perlu diingat bahwa tujuan dari menguak sejarah bukanlah untuk mengorek luka lama, melainkan belajar dari lembaran-lembaran (baik itu hitam ataupun putih) yang terjadi selama periode itu. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang tak takut pada sejarahnya sendiri?

Selamat Jalan Bung Karno

Referensi

  • ^boombastis.com/soekarno-presiden-miskin/72636
  • ^boombastis.com/kehidupan-bung-karno/68961
  • ^boombastis.com/soekarno-orde-baru/67311
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s