Aliran Sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah

Screenshot_2016-06-26-05-07-31_1

Akhir-akhir ini berkembang aliran sesat yang meresakan dikalangan umat Islam, aliran yang bernama Al-Qiyadah Al-Islamiyah ini yang didirikan oleh Ahmad Moshaddeq alias H. Salam yang cikal bakal pendirian di Kampung Gunung Sari, Desa Gunung Bunder, Bogor ini sudah mulai merambah ke propinsi lain di Indonesia.

Majelis Ulama Indonesia mengeluarkan fatwa bahwa aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah adalah sesat karena bertentangan dengan ajaran Islam. Karena mempercayai Syahadat baru, mempercayai adanya Nabi/ Rasul baru sesudah Nabi Muhammad SAW, dan tidak mewajibkan pelaksanaan sholat, puasa dan haji. “Kenapa sesat, karena dia itu, pertama mempercayai adanya nabi sesudah nabi Muhammad SAW, padahal itu sudah jelas nabi terakhir yang kedua membuat syahadat baru, yang paling meresahakan sholat, puasa dan juga haji belum wajib dianggap masih periode Makkah, padahal Islam itu sudah sempurna,” jelas Ketua DPP MUI KH. Ma’ruf Amin dalam jumpa pers, di Sekretariat MUI, Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu(4/10).

Sehubungan dengan itu, MUI meminta pemerintah untuk melarang menyebaran paham tersebut, serta penegak hukum melakukan penegakan langsung misalnya dengan menangkap tokohnya. Sedangkan, untuk seluruh umat Islam hendaknya berhati-hati untuk mengikuti pengajian, sebab ajaran bukan hanya Al-Qiyadah Al-Islamiyah saja, karena saat ini masih ada aliran yang sedang juga berkembang di kampus-kampus.

“Kepada umat Islam supaya tidak mencari aliran yang aneh-aneh, yang umum sajalah, ormas-ormas yang sudah jelas ajarannya yang sudah baku. Tidak usahlah menjadi muslim yang aneh sebab ini bisa sesat dan menyimpang. Pemerintah diminta untuk menghentikan dan mencegah, jadi eksekusi ada pada pemerintah, “ujar Ma’ruf.

Dalam kesempatan itu, Ketua Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI Utang Ranuwijaya menjelaskan, sebelum ditetapkan sebagai aliran sesat tim yang dipimpinnya itu selama tiga bulan meneliti aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah, dan pada bulan terakhir setelah menimbulkan di Sumatera Barat, Batam, Yogyakarta, dan Jakarta, penelitian diintesifkan dengan mengumpulkan dokumen asli dan mewawancarai tangan kanan Ahmad Moshaddeq.

“Al-Qiyadah didirikan sejak tahun 2000, sejak tahun 2000-2006, itu situasinya tidak ada masalah. Tapi ketika masuk tahun 23 Juli 2006, terjadi hal yang spektakuler, setelah bertapa selama 40 hari 40 malam mendapat wahyu dari Allah dan diangkat menjadi rasul, dan para sahabatnya membenarkan itu, “ungkapnya.

Di tempat yang sama, Komisi Fatwa MUI Anwar Ibrahim menilai ajaran itu jelas menyimpang dari firman Allah dalam Al-Quran yang menyatakan, bahwa Nabi Muhammad SAW adalah rasulullah dan juga nabi penutup, tidak ada nabi lain setelah itu.

Ia mengingatkan kepada masyarakat agar berhati-hati dan waspada, serta tidak main hakim sendiri kepada pengikut aliran sesat itu.

Al-Qiyadah Al-Islamiyah ini yang didirikan oleh Ahmad Moshaddeq alias H. Salam yang berpusat di Kampung Gunung Sari, Desa Gunung Bunder, Kecamatan Cibungbulan, 20 KM dari Bogor ini, meski memiliki kesamaan dengan cara penyebaran Islam zaman Rasulullah SAw, tetapi struktur dalam struktur keorganisasiannya tidak saling mengenal.

“Rekrutmen sangat rapi dan rahasia, “ujar Ketua Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI Utang Ranuwijaya dalam jumpa pers, di Sekretariat MUI, Masjid Istiqlal, Jakarta, Rabu(4/10).

Menurutnya, berdasarkan informasi yang diperoleh dilapangan sistem rekruitmen dikuatkan oleh faktor financial, apabila bisa merekrut 40 orang, akan mendapatkan sumbangan kendaraan roda dua, dan jika berhasil merekrut 70 orang akan mendapatkan kendaraan roda empat,

“Jadi luar biasa sekali, kami tidak tahu dari mana sumber dana itu, tapi itu dengan cara seperti itu dakwah mereka menjadi sangat sistematis, dan optimal, “ujarnya.

Perpaduan Kristen dan Islam

Lebih lanjut Utang mengatakan, aliran Al-Qiyadah ini selain merekrut orang Islam kalangan ekonomi menengah ke bawah yang masih awan dengan ajaran Islam, juga berisi para sarjana yang bertitel sarjana agama, namun sarjana agama belum pasti berasal dari sarjana Islam. Karena, ketika menyampaikan ajaran agama ada semacamsinkretisme, jadi dipadukan ajaran kristen dan Islam.

Sedangkan untuk profil sang pendiri Al-Qiyadah Al-Islamiyah, MUI belum mengetahui secara jelas, karena masih dirahasiakan dan perlu melakukan penelitian lanjutan. Tetapi berdasarkan keterangan yang didapat, tambanya, Ahmad Moshaddeq merupakan tipe orang sangat luwes, ramah, antusias dengan keluhan dan penderitaan orang. Sehingga, membuat orang cepat tertarik, cepat simpati.

“Dalam situasi psikologi seperti ini, masyarakat yang sedang kesulitan ekonomi, sedang punya banyak masalah ketika didatangi orang seperti itu, cukup menyejukan mereka, sehingga mereka tertarik untuk masuk jadi pengikutnya, “imbuhnya.

Angka pasti jumlah pengikutnya belum bisa terlacak, tapi dalam laporan rapat akbar 2007, seluruh Indonesia yang masuk pada bulan Juni 1. 349 jiwa, sedangkan pada bulan Juli 1. 412 jiwa, jadi naik 5 persen. Pengikutnya tersebar di kota-kota besar, bahkan pengikut mereka di Batam adalah orang terkaya di Batam.

Tafsir Al-Quran Gaya Rasul Baru – Membongkar Kesesatan Al-Qiyadah Al-Islamiyah

Al-Hafizh Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam muqadimah kitab tafsirnya menyatakan tentang kaidah menafsirkan Al-Qur’an. Beliau -rahimahullah- menyampaikan bahwa cara menafsirkan Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

  1. Menafsirkan Al-Qur’an dengan Al-Qur’an. Metodologi ini merupakan yang paling shalih (valid) dalam menafsirkan Al-Qur’an.
  2. Menafsirkan Al-Qur’an dengan As-Sunnah. Kata beliau -rahmahullah-, bahwa As-Sunnah merupakan pensyarah dan yang menjelaskan tentang menjelaskan tentang Al-Qur’an. Untuk hal ini beliau -rahimahullah- mengutip pernyataan Al-Imam Asy-Syafi’i -rahimahullah- : “Setiap yang dihukumi Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam-, maka pemahamannya berasal dari Al-Qur’an. Allah -Subhanahu wata’ala- berfirman:

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللّهُ وَلاَ تَكُن لِّلْخَآئِنِينَ خَصِيماً

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan Kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) membela orang-orang yang khianat.” (An-Nisaa’:105)

  1. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pernyataan para shahabat. Menurut Ibnu Katsir -rahimahullah- : “Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, kami merujuk kepada pernyataan para shahabat, karena mereka adalah orang-orang yang lebih mengetahui sekaligus sebagai saksi dari berbagai fenomena dan situasi yang terjadi, yang secara khusus mereka menyaksikannya. Merekapun adalah orang-orang yang memiliki pemahaman yang sempurna, strata keilmuan yang shahih (valid), perbuatan atau amal yang shaleh tidak membedakan diantara mereka, apakah mereka termasuk kalangan ulama dan tokoh, seperti khalifah Ar-Rasyidin yang empat atau para Imam yang memberi petunjuk, seperti Abdullah bin Mas’ud -radliyallahu anhu-.
  2. Menafsirkan Al-Qur’an dengan pemahaman yang dimiliki oleh para Tabi’in (murid-murid para shahabat). Apabila tidak diperoleh tafsir dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah atau pernyataan shahabat, maka banyak dari kalangan imam merujuk pernyataan-pernyataan para tabi’in, seperti Mujahid, Said bin Jubeir. Sufyan At-Tsauri berkata : “Jika tafsir itu datang dari Mujahid, maka jadikanlah sebagai pegangan”.

Ibnu Katsir -rahimahullah- pun mengemukakan pula, bahwa menafsirkan Al-Qur’an tanpa didasari sebagaimana yang berasal dari Rasulullah -shallallahu’alaihi wasallam- atau para Salafush Shaleh (para shahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’in) adalah haram. Telah disebutkan riwayat dari Ibnu Abbas -radliyallahu ‘anhuma- dari Nabi -shallallahu’alaihi wasallam-:

من قال في القرأن برأيه او بما لايعلم فليتبوأ مقعده من النار

“Barangsiapa yang berbicara (menafsirkan) tentang Al-Qur’an dengan pemikirannya tentang apa yang dia tidak memiliki pengetahuan, maka bersiaplah menyediakan tempat duduknya di Neraka.” (Dikeluarkan oleh At Tirmidzi, An Nasa’i dan Abu Daud, At Tirmidzi mengatakan : hadist hasan).

Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagai sebuah gerakan dengan pemahaman keagamaan yang sesat, telah menerbitkan sebuah tulisan dengan judul “Tafsir wa Ta’wil”. Tulisan setebal 97 hal + vi disertai dengan satu halaman berisi ikrar yang menjadi pegangan jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyyah.

Sebagai gerakan keagamaan yang menganut keyakinan datangnya seorang Rasul Allah yang bernama Al-Masih Al-Maw’ud pada masa sekarang ini, mereka melakukan berbagai bentuk penafsiran terhadap Al-Qur’an dengan tanpa kaidah-kaidah penafsiran yang dibenarkan berdasarkan syari’at, ayat-ayat Al-Qur’an dipelintir sedemikian rupa agar bisa digunakan sebagai dalil bagi pemahaman-pemahamannya yang sesat. Sebagai contoh, bagaimana mereka menafsirkan ayat:

فَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِ أَنِ اصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا

“Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera dibawah penilikan dan petunjuk Kami.” (Al-Mu’minuun :27)

Maka, mereka katakan bahwa kapal adalah amtsal (permisalan,ed) dari qiyadah, yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda. Ahli Nuh adalah orang-orang mukmin yang beserta beliau, sedangkan binatang ternak yang dimasukkan berpasang-pasangan adalah perumpamaan dari umat yang mengikuti beliau. Lautan yang dimaksud adalah bangsa Nuh yang musyrik itu….. (lihat tafsir wa ta’wil hal.43).

Demikianlah upaya mereka mempermainkan Al-Qur’an guna kepentingan gerakan sesatnya. Sungguh, seandainya Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alihi wasallam- boleh ditafsirkan secara bebas oleh setiap orang, tanpa mengindahkan kaidah-kaida penafsiran sebagaiman dipahami slaful ummah, maka akan jadi apa islam yang mulia itu ditengah pemeluknya ? Al-Qiyadah Al-Islamiyyah hanya sebuah sample dari sekian banyak aliran/paham yang melecehkan Al-Qur’an dengan cara melakukan interpretasi atau tafsir yang tidak menggunakan ketentuan yang selaras dengan pemahaman yang benar.

Buku Tafsir wa Ta’wil ini berusaha menyeret pembaca kepada pola pikir sesat melalui penafsiran ayat-ayat mutasyabihat menurut versi Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagaimana diungkapkan pada hal. iii poin 4 : “Kegagalan orang-orang memahami Al-Qur’an adalah mengabaikan gaya bahasa Al-Qur’an yang menggunakan gaya bahasa alegoris. Bahasa simbol untuk menjelaskan suatu fenomena yang abstrak.”

Mutasyabihat dianggap sebagai majazi sebagaimana pada hal. 39 alenia terakhir.

Penyimpangan-penyimpangan yang ditemukan dalam buku ini adalah sebagai berikut:
  1. Secara garis besar ayat-ayat mutasyabihat (menurut versi mereka) ialah yang berbicara tentang Hari Kiamat dan Neraka dianggap simbol dari hancurnya struktur tentang penentang Nabi dan Rasul, dan pada masa Rasulullah hancurnya kekuasaan jahiliyyah Quraisy yang dihancurkan oleh Rasul dan para shahabatnya.

Lihat:

  1. Tafsir Al-Haqqah:16;21
    2. Tafsir ayat 6 dari surat Al-Ma’arij hal 30.
    3. Tafsir ayat 17 dari surat Al-Muzammil hal. 62.
  2. Pengelompokan manusia menjadi tiga golongan:
  3. Ashabul A’raf adalah Assabiqunal awwalun.
    2.Ashabul yamin adalah golongan anshar.
    3. Ashabul syimal golongan oposisi yang menentang Rasul, lihat hal. 24.
  4. Penafsiran Malaikat yang memikul ‘Arsy padasurat Al-Haqqah ayat 17 diartikan para ro’in atau mas’ul yang telah tersusun dalam tujuh tingkatan struktur serta kekuasaan massa yang ada dibumi. Lihat hal. 24.
  5. Penafsiran (man fis samaa’/siapakah yang ada di langit) dalam surat Al-Mulk ayat 16 diartikan benda-benda angkasa dan pada ayat 17 diartikan yang menguasai langit, menunjukkan bahwa mereka tidak tahu sifat ‘uluw/ketinggian Allah atau bahkan mereka mengingkarinya.
  6. Penafsiran (As-Saaq/betis) pada surat Al-Qalam ayat 42, dengan dampak dari perasaan takut ketika menghadapi hukuman atau adzab, lihat hal 18, ini menunjukkan bahwa mereka tidak tahu bahwa Allah memiliki betis atau mengingkarinya.
  7. Kapal Nuh adalah bahasa mutasyabihat dari Qiyadah yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda ….lihat hal. 42 dan 43.
  8. Mengingkari hakekat jin dan diartikan sebagai manusia jin yaitu jenis manusia yang hidupnya tertutup dari pergaulan manusia biasa, yaitu manusia yang mamiliki kemampuan berpikir dan berteknologi yang selalu menjadi pemimpin dalam masyarakat manusia. Golongan jin yang dimaksud pada surat Al-Jin adalah orang-orang Nasrani yang shaleh yang berasal dari utara Arab, lihat tafsir surat Al-Jin hal.16…dst. Dan raja Habsyi yang bernama Negus termasuk golongan manusia jin yang dimaksud dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Jin, lihat hal.52.
  9. Mengingkari pengambilan persaksian dari anak-anak Adam dialam ruh atas rububiyah Allah yang merupakan penafsiran surat Al-A’raf ayat 173, lihat tafsir surat Al-Insan hal. 85.
  10. Menyatakan bahwa penciptaan Adam dan Isa bin Maryam adalah unsur-unsur mineral menjadi kromosom yang kemudian diproses menjadi sperma, lihat hal. 85. Dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang lainnya.

Selanjutnya melalui buletin ini kami menghimbau kepada seluruh kaum muslimin dimana saja berada untuk senantiasa waspada dan mewaspadai gerakan sesat ini yang menamakan dirinya dengan Al-Qiyadah Al-Islamiyyah, diantara ciri-ciri mereka ialah tidak menegakkan shalat lima waktu, berbicara agama dengan dengan menggunakan logika, mencampur adukkan antara Islam dengan Kristen,… dll.

Rusaknya Pemahaman Al-Qiyadah Al-Islamiyah Terhadap Kedudukan Hadits

Ingkarussunnah, apapun namanya senantiasa menolak hadits-hadits dengan berbagai macam kerancuan berpikir. Syubhat-syubhat yang basi mereka lontarkan ketengah-tengah ummat dengan harapan mereka akan meraih pengikut banyak.

Bagi orang yang mengamati perkembangan firqah-firqah dalam Islam, tentunya akan mendapati bahwa sebenarnya sudah dibantah oleh para ulama. Namun kebodohan atawa kejahilan para pengekor Al-Qiyadah Al-islamiyah (pengikar sunnah) ini membangkitkan kembali isu lama yang sebenarnya telah terpendam.

Namun, Subhanalloh, Alloh senantiasa menjaga agama ini dengan membangkitkan generasi yang senantiasa berpegang teguh pada Al-Quran dan As-Sunnah sebagai Dua pedoman hidup, yang siapa saja berpegang kepada keduanya maka tidak ada sesuatupun yang akan menyesatkan mereka selama-lamanya.

Pengekor Al-Qiyadah Al-Islamiyah dengan kejahilannya melontarkan syubhat-syubhat yang antara lain akan kita perhatikan pembahasannya berikut ini, semoga hal ini menjadi bahan masukan bagi kita untuk menolak segala syubhat-syubhat pengekor Ingkarussunnah. Insya Alloh.

Mereka berkata;

Kitab al-Qur’anul Karim adalah sebuah kitab yang dipelihara dan dijamin keotentikannya oleh Allah Subhanahu waTa’ala, tidak demikian halnya dengan hadits-hadits. sebagaimana firman Allah:

إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Quran, dan Kamilah yang memeliharanya. [al-Hijr 15:09]

Jawaban:

Ketahuilah bahwa jika Allah Ta’ala menjamin keotentikan alQur’an, hal ini bukan berarti sekedar memelihara dan menjaga huruf-hurufnya saja, tetapi meliputi semua yang berkaitan dengan Alqur’an, termasuk memelihara dan menjaga maksud, pengajaran serta qaidah pengamalannya. 3 hal yang terakhir inilah yang diwakili oleh As-Sunnah atau hadits Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam.

Maka tidaklah mungkin Alloh hanya memelihara huruf-huruf Alqur’an saja sementara ajaran dan maksudnya dibiarkan saja menjadi mainan yang ditolak dan ditarik sesuka hati oleh ummat. Perlu difahami juga bahwa apabila Allah berjanji memelihara Alquran Alkarim, maka maksud pemeliharaan itu adalah dari dua sudut, yang pertama sudut material yaitu sebutan, lafaz dan susunan ayat-ayat Alquran dan yang kedua adalah dari sudut non material, yakni maksud ayat, pengajaran dan qaidah pengamalan ayat. Hadits dan sunnah Nabi sentiasa dipelihara oleh Allah Subhanahu wata’ala dengan adanya para ahli hadits di setiap generasi yang sentiasa mempelajari, menganalisa dan mengkaji kedudukan isnad sebuah hadits untuk kemudian dibedakan antara yang benar dan yang palsu.

Maka, kejahilan para Ingkarussunnah dengan apapun sebutan kelompoknya telah nyata-nyata diketahui banyak orang dari dahulu hingga sekarang. Karenanya Sungguh benar Firman Alloh Ta’ala, “Telah datang Kebenaran maka lenyaplah kebatilan”.

Namun, tentunya selama syeitan belum pensiun akan tetap ada orang-orang yang menebarkan syubhat, racun-racun yang dihembuskan kedalam pikiran ummat islam ini sehingga dengan perlahan-lahan akan keluar dari Agama Islam yang mulia ini.

Kita mohon kepada Alloh agar ditetapkan kaki kita diatas jalan yang benar, yakni jalan orang-orang yang telah diberikan nikmat atas mereka, jalan generasi salafus sholih.


Kejahilan Al-Qiyadah Terhadap Tafsir

Sudah menjadi ciri pengikut aliran sesat bahwa mereka menggunakan ayat-ayat Alquran untuk membela alirannya dan pemahamannya, padahal Ayat tersebut jauh dari apa yang mereka fahami, bahkan mereka tidak mengerti Asbabunnuzul nya, serta tafsir ayat yang mereka bawakan.

Ingkarussunnah, demikian pemahaman aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Kebodohan yang menyelimuti kepala mereka telah menyebabkan mereka tidak menyadari bahwa tidak ada hujjah sedikitpun yang dapat mereka gunakan dihadapan Ahlussunah waljamaah, Apalagi dihadapan Alloh Subhanahu wata’ala. Berikut ini mari kita menyimak pembahasan tentang kelemahan serta kejahilan hujjah pengikut atau bahkan pentolan dari Aliran sesat Al-Qiyadah Al-Islamiyah.


Hujah Aneh seorang pengikut Al-Qiyadah Al-Islamiyah

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam sendiri pernah mengadu kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala bahwa umat Islam telah membelakangi al-Qur’an dan hanya mengutamakan hadits saja. Sebagaimana disebutkan dalam AlQuran:

Dan berkatalah Rasululloh: “Wahai Tuhanku sesungguhnya kaumku telah menjadikan Al-Quran ini satu perlembagaan yang ditinggalkan, tidak dipakai”. [al-Furqan 25:30]

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآنَ مَهْجُوراً

Jawaban:

Syubhat ini mudah dijawab apabila kita perhatikan benar-benar kepada siapakah pengaduan Rasulullah tersebut ditujukan. Perhatikan bahwa istilah yang digunakan dalam surah al-Furqan di atas adalah “kaumku” dan bukannya “umatku”. Perkataan kaum lazimnya merujuk kepada satu bangsa, suku atau kabilah, Namun jika dikatakan “umat” maka lazimnya merujuk kepada satu kumpulan manusia yang mengikuti satu jalan atau pimpinan. Seruan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam terhadap kaumnya dalam ayat di atas adalah mirip kepada seruan beberapa Rasul dan Nabi sebelum baginda terhadap kaum mereka masing-masing sebagaimana yang telah diungkap oleh al-Qur’an:

وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ

Dan (ingatlah) ketika Nabi Musa berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku! Sesungguhnya kamu telah menganiaya diri kamu sendiri dengan sebab kamu menyembah patung anak lembu itu.” [al-Baqarah 2:54]

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلاً وَنَهَارا

Nabi Nuh berdoa dengan berkata: “Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku siang dan malam (supaya mereka beriman).” [Nuh 71:05]

وَإِلَى عَادٍ أَخَاهُمْ هُوداً قَالَ يَا قَوْمِ اعْبُدُواْ اللّهَ

Dan kepada kaum Aad, Kami utuskan saudara mereka: Nabi Hud ia berkata: “Wahai kaumku! Sembahlah Allah !” [Hud 11:50]

Nukilan 3 ayat di atas jelas menunjukkan bahwa para Nabi dan Rasul menggunakan panggilan kaumku untuk memaksudkan kepada kaum atau masyarakat yang hidup bersama mereka (Nabi atau Rosul ‘alaihimussalam). Akan tetapi istilah “kaumku” akan berubah kepada “umatku” atau umat saja apabila yang ditujukan adalah sekumpulan manusia yang mengikuti jalan atau pimpinan seseorang Rasul, baik yang hidup sejaman dengan Rasul tersebut ataupun sesudahnya. Perhatikan ayat-ayat berikut:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولٌ فَإِذَا جَاء رَسُولُهُمْ قُضِيَ بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ وَهُمْ لاَ يُظْلَمُون

Dan bagi tiap-tiap satu umat ada seorang Rasul (yang diutuskan kepadanya). [Yunus 10:47]

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus di kalangan tiap-tiap umat seorang Rasul (dengan memerintahkannya menyeru mereka): “Hendaklah kamu menyembah Allah dan jauhilah Taghut.” [an-Nahl 16:36]

كَذَلِكَ أَرْسَلْنَاكَ فِي أُمَّةٍ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهَا أُمَمٌ

Demikianlah, Kami utuskan engkau (wahai Muhammad) kepada satu umat yang telah berlalu sebelumnya beberapa umat yang lain. [ar-Ra’d 13:30]

Perbandingan antara ayat-ayat di atas jelas menunjukkan kepada kita perbedaan antara istilah kaum dan umat. Diulangi bahwa perkataan kaum itu biasanya ditujukan kepada satu bangsa, suku atau kabilah, dan perkataan umat biasanya ditujukan kepada satu kumpulan manusia yang mengikuti satu jalan atau pimpinan.

Maka Penggunaan Kata kaum, juga berbeda dengan penggunaan kata Umat. Simaklah hadits berikut ini ;

Dari Ibnu Abbas (radiallahu-anhu), beliau berkata, telah bersabda Rasulullah sallallahu-alaihi-wasallam tentang Kota Mekah: “Alangkah baiknya engkau (Mekkah) sebagai satu negeri dan alangkah aku sukai, seandainya kaumku tidak mengusirku darimu (Mekkah), niscaya aku tidak tinggal ditempat selainmu (Mekkah).” [Mu’jam al-Kabir) dan al-Hakim, dinilai sahih oleh Syu’aib al-Arnuth dalam Sahih Ibnu Hibban – no: 3709 (Kitab al-Hajj, Bab Keutamaan Makkah)]

Namun jika Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam menyampaikan urusan orang-orang Islam seluruhnya hingga akhir zaman, beliau akan menyebut dengan “umatku” sebagaimana terukir dalam hadits berikut:

Sesungguhnya Allah memberi keampunan dan tidak menghisab segala pembicaraan hati umatku selama mereka tidak mengatakannya atau melakukannya.[HR Bukhari, Muslim]

Perumpamaan umatku adalah seperti hujan, tidak diketahui apakah awalnya yang baik atau akhirnya. [Imam Suyuthi, Jamii-us-Sagheir – hadits no: 8161]

Oleh karenanya pengaduan Rasululloh sallallahu ’alaihi wasallam terhadap “kaumku” dalam ayat diatas sebenarnya merujuk kepada bangsa atau sukunya sendiri pada saat itu, yakni bangsa Quraish.[ al-Zamakhsyari – Tafsir al-Kasysyaf, jld 3, hal 282] Ayat ini tidak ditujukan kepada kita umat Islam karena kita tetap merujuk kepada al-Qur’an serta merujuk kepada Hadits.

Kesimpulan;

Alangkah Jahilnya orang-orang Al-Qiyadah Al-Islamiyah jika menggunakan ayat tersebut untuk menolak Hadits-hadits Rosululloh shallallohu ‘alaihi wasallam.

Mereka tidak mengerti tafsir, tidak juga ilmu hadits.

Permurtadan Dibalik Al-Qiyadah Al-Islamiyah

Al-hamdulillah pada Ahad, 29 Juli 2007 saya dapat menghadiri tablig akbar di Masjid Kampus UGM Jogjakarta, dengan tema Pemurtadan Dibalik Al-Qiyadah Al-Islamiyah. Acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Asy-Syariah ini menghadirkan pemateri Al Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Baabduh di samping itu dihadirkan pula saksi-saksi yang menjelaskan keberadaan kelompok / aliran sesat menyesatkan yang menganggap pemimpinnya adalah Rasul Baru yang bernama Al-Masih Al-Maulud.

Sekilas Al-Qiyadah Al-Islamiyah

Kelompok ini aliran baru yang muncul di Jakarta dan mulai perengahan 2006 tercium menyebarkan keyakinannya di kota gudeg Jogjakarta dengan obyek dakwah utama adalah para mahasiswa yang secara umum mereka adalah intelektual dalam dunia ilmu pengetahuan, biasa menggunakan akalnya dalam mengambil simpulan-simpulan.

Dari penjelasan para saksi dapat diambil suatu kesimpulan bahwa Al-Qiyadah Al-Islamiyah memiliki ajaran-ajaran yag jauh menyimpang dari pokok-pokok Ajaran Islam, antara lain:

  1. Mereka menghilangkan Rukun Islam yang telah dipegangi oleh seluruh Kaum Muslimin dan jelas-jelas bersumber dari hadits-hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh para ulama ahli hadits yang diterima oleh seluruh kaum uslimin dari kalangan ahlussunnah (Suni)
  2. Mereka menganggap bahwa pimpinannya adalah Rasulullah yaitu bernama Al-Masih Al Maulud (Al Masih yang dijanjikan /dilahirkan)
  3. Menghilangkan syariat sholat lima waktu dalam sehari semalam, dengan diganti sholat lail, mereka mengatakan bahwa dalam dunia yang kotor (belum menggunakan syariat Islam-penulis) seperti ini tidak layak kaum muslimin melakukan sholat lima waktu.
  4. Menganggap orang yang tidak masuk kepada kelompoknya dan mengakui bahwa pemimpin mereka adalah Rasul adalah orang musyrik. Hal ini sesuai yang di ungkapkan oleh seorang saksi yang anak kandungnya sampai saat ini setia dan mengikuti kajian-kajian kelompok ini. Anak kesayangannya tersebut tidak mau pulang ke rumah bersama kedua orang tua karena menganggap kedua orangtuanya musyrikin.
  5. Dalam dakwah, mereka menerapkan istilah sittati aiyyam (enam hari) yang mereka terjemahkan menjadi enam tahapan, yaitu :
    1. Sirron (Diam-diam / Sembunyi-sembunyi / Bergerilya – penulis)
    2. Jahron (Terang-terangan)
    3. Hijrah
    4. Qital
    5. Futuh (Meniru NAbi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wassalam, membuka Mekah – Penulis)
    6. Khilafah

Tampak dari enam tahapan ini mereka mencoba mengaplikasikan tahapan dakwah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi Wasallam dalam berdakwah di jazirah Arab dahulu.

Bantahan terhadap kelompok ini

Salah satu kelebihan Ahlussunnah dan para pengusungnya adalah kepedulian mereka terhadap penyimpangan-penyimpangan ajaran Islam yang lurus, mereka selalu tapil di garda depan menjelaskan kekeliruan-kekeliruan faham yang tersebar di kalangan kaum muslimin. Al hamdulillah dalam kesibukan yang menyita Al Ustadz Abu Abdillah Luqman bin Muhammad Baabduh menyempatkan diri hadir ke Jogja untuk menjelaskan syubhat-syubhat murahan yang berusaha ditebarkan oleh Al-Qiyadah Al-Islamiyah.

Dengan mengutip Ayat-ayat ayat alqur’an dan penjelasan para Ahli Tafsir dengan sabar Al Ustadz membantah satu persatu keyakinan mereka, tidak lupa Beliau membacakan hadits-hadits Nabi yang menjelaskan dan membantah keyakinan mereka. (Maaf karena sempitnya waktu kami tidak uraiakan penjelasan-penjelasan Ustadz Luqman pada kesempatan ini, semoga lain kali ada kesempatan bagi kami atau ikhwah lain yang lebih mumpuni dari saya ambil bagian ini)

Sungguh bagi kita atau siapa saja yang telah merasakan nikmatnya belajar Islam dengan pemahaman Salafush shalih sedikitpun syubhat mereka dengan Ijin Allah tidak akan membingungkan dan merubah keyakinan akidah kita.

Tidak seperti mereka syubhat murahan seperti itu mampu menggoyahkan Iman dan Islam mereka sehingga dengan tegas dan gagah berani meninggalkan orangtuanya dengan menganggap orangtuanya adalah kafir / Musyrik.

Pada kesempatan akhir pembicaraan al Ustadz Luqman menghimbau kepada Sseluruh kaum muslimin dan seluruh lembaga-lembaga terkait untuk mengantisipasi dakwah mereka, karena dakwah mereka akan menjurus kepada ancaman pembunuhan / memerangi terhadap seluruh kaum muslimin yang tidak mengakui ajaran mereka. Hal semacam ini tentunya akan mengancam ketentraman Kaum Muslimin dan mengancam Stabilitas Nasional.

Dijelaskan pula bahwa aliran ini berusaha menyatukan ajaran trinitas yang ada pada agama Nasrani, jadi ditengarahi bahwa aliran ini adalah pemurtadan atas nama Islam.Hal ini ditunjukkan oleh nama-nama mereka setelah masuk kelompok ini berubah semisal Emmanuel Fadhil atau semisalnya.

Mereka juga mengajarkan bahwa Tuhan Bapak adalah Rab, Yesus adalah Al Malik, Ruhul quddus adalah Ilah. Sungguh ini bukan ajaran Islam.

Semoga Allah mudahkan acara seperti ini di kota-kota lain seagaimana yang diucapkan oleh al Ustadz Luqman.

Pelajaran Yang dapat diambil

Bagi saya sendiri dengan petunjuk dari Allah melalui pengalaman perjalanan keagamaan saya, alhamdulillah saya sedikit dapat mencium model gerakan ini. Model gerakan ini Insya Allah bersumber dari pemikiran wajibnya tegaknya Khilafah / Syariat Islam. Mereka menganggap bahwa tujuan hidup ini adalah menjadikan syariat Islam / Hukum-hukum Islam harus tegak dimuka bumi, harus menggantikan hukum-hukum kafir yang sekarang sedang mendominasi di tubuh kaum muslimin. Dalam perkara ini Al-Qiyadah sebenarnya tidak berbeda dengan gerakan Islam yang lain seperti LDII, Jamaah Muslimin (Hizbullah), NII, Ikhwanul Muslimin, Hizbu Tahrir dll. Hanya saja kelompok-kelompok yang saya sebutkan dengan hidayah Allah mereka masih menggunakan Hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam sehingga mereka masih melakukan peribadatan selayaknya kaum muslimin. Namun dalam tujuan pokok gerakan mereka adalah sama yaitu menegakkan khilafah dan syariat Islam dan mengajak seluruh kaum muslimin masuk kepada kelompoknya. Siapa yang masuk adalah Ikhwannya adapun kaum muslimin yang belum / tidak mau bukan bagian dari kelompoknya. Inilah Hizbiyyah, semoga Allah selamatkan kita dari hal semacam ini.

Yang paling mirip dengan mereka adalah aliran Isa Bugis, kesamaan pada kedua aliran ini adalah sama-sama menafsirkan al-qur’an dengan akalnya pemimpinnya belaka dan meninggalkan Hadits-hadits rasulullah, sehingga mereka meninggalkan syariat-syariat Islam yang mulia sebagaimana rukun Islam.

Akhirnya saya mengatakan, bahwa bertujuan memwujudkan khilafah, menjalankan syariat Islam adalah tujuan mulia, namun tujuan mulia, niat ikhlas tidaklah cukup. Harus terus ditanamkan pada masing-masing diri kita bahwa kita ini bodoh, butuh bimbingan dari Rasulullah dalam memahami al-Qur’an, butuh penjelasan para ulama ahlussunnah dalam memahami hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

Maka marilah terus kita belajar Islam, belajar Al-Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman Salafush sholih agar kita tidak terjebak memahami al-Qur’an dengan nafsu dan ro’yu kita yang bodoh. Wallahu ta’ala a’lam.


Heboh Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah

Setelah beberapa tahun yang lalu umat Islam di Indonesia dihebohkan dengan aliran baru (lebih tepatnya disebut agama baru) seperti Ahmadiyah, Salamullah (Lia Aminuddin/ Lia Eden), dan JIL yang mengaku-ngaku sebagai bagian dari Islam tetapi kenyataannya berbeda jauh dengan syari’at Islam, kini muncul lagi aliran (baca : agama) baru yang bernama Al Qiyadah Al Islamiyah.

Tulisan ini membahas berbagai macam hal yang berhubungan dengan Al Qiyadah Al Islamiyah, juga membahas apakah aliran ini masih merupakan bagian dari agama Islam atau tidak. Semoga tulisan ini bermanfaat untuk kita semua –muslimin–, Amiin.

  • Pendahuluan

Dalam kehidupan ini, kita seringkali melihat perbedaan kaum musliminin dalam menjalankan agama Islam. Sebut saja contoh perbedaan terakhir yang kita alami adalah perbedaan dalam merayakan hari raya Idul Fithri 1428 H, sebagian dari kita merayakan pada hari Jum’at (dengan dasar hisab Muhammadiyah atau satu ru’yah untuk semua negeri) dan sebagian dari kita merayakannya pada hari Sabtu (dengan dasar pemerintah Indonesia menyatakan tidak melihat hilal pada malam Jum’at 12 Oktober 2007). Perbedaan tersebut masih dianggap wajar/dimaafkan karena perbedaan itu terjadi bukan pada hal yang paling pokok dari yang paling pokok dalam syari’at Islam.

Terdapat beberapa hal yang tidak boleh berbeda dalam syari’at Islam, jika suatu orang/kelompok berbeda dalam hal yang tidak dibolehkan berbeda itu, maka orang/kelompok tersebut dengan sendirinya keluar dari Islam. Beberapa hal yang tidak boleh berbeda dalam syari’at Islam itu adalah dalam permasalahan yang paling penting dari yang paling penting, yaitu hal-hal yang menyangkut tauhid, akidah, dan keimanan termasuk dalam rukun Islam dan rukun Iman.

Organisasi Islam seperti Nahdathul Ulama,Muhammadiyah, PERSIS, Al Irsyad, FPI, Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, dan sebagainya seringkali terjadi perbedaan di beberapa masalah tentang agama Islam, tetapi perbedaan tersebut bukanlah perbedaan dalam permasalahan yang paling penting dari yang paling penting (hal-hal yang menyangkut tauhid, akidah, dan keimanan). Sehingga walau terkadang sangat terlihat pertentangan diantara beberapa organisasi tersebut, mereka tetap mengakui diri mereka sebagai saudara sesama muslim.

Ada beberapa kelompokb/ organisasi / aliran di Indonesia ini yang mengaku bagian dari agama Islam tetapi memiliki perbedaan dalam permasalahan yang paling penting dari yang paling penting (hal-hal yang menyangkut tauhid, akidah, dan keimanan), sehingga kelompok / organisasi / aliran tersebut dianggap menyimpang / keluar dari agama Islam oleh para ulama Islam. Kelompokv/organisasi/aliran yang seperti itu ternyata cukup banyak di Indonesia, contohnya adalah Ahmadiyah, Salamullah (Lia Aminuddin AKA Lia Eden), dan JIL.

Akhir-akhir ini kita sering mendengar berita tentang Al Qiyadah Al Islamiyah. Seperti apa aliran Al Qiyadah Al Islamiyah itu, apakah ia termasuk bagian dari Islam atau menyimpang/keluar dari Islam? Pada bab berikutnya penulis akan menjelaskan beberapa hal yang diajarkan yang merupakan ciri dari aliran Al Qiyadah Al Islamiyah.

  • Ciri-ciri Al Qiyadah Al Islamiyah

Berikut ini adalah ciri-ciri yang ada pada aliran baru Al Qiyadah Al Islamiyah :

  1. Syahadat Baru. Lafadz syahadat baru mereka adalah“Asyhadu An Laa Ilaaha Illallaah, Wa Asyhadu Anna Al-Masih Al-Maw’ud Rasulullah”. Tentu saja syahadatain ini sangat bertentangan dengan syahadatain Islam yang mengakui Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallamsebagai Rasulullah, lihat hadits riwayat Imam Muslim tentang masalah Islam, Iman, dan Ihsan (atau dikenal juga dengan nama hadits Jibril : lihat hadits Arba’in An-Nawawi nomor 2) yang menjelaskan agama Islam ini secara singkat dan jelas.
  2. Ahmad Mushaddiq AKA H.Salam AKA Al-Masih Al-Maw’ud adalah Nabi baru setelah Muhammad. Ahmad Mushaddiq sebagai pemimpin pusat aliran Al Qiyadah ini menggelarkan dirinya dengan gelar ganda, yaitu Al-Masih dan juga Nabi baru. Dalam Islam, gelar Al-Masih ini hanya dimiliki oleh dua orang saja, yaitu Isa‘Alaihissalam dan Dajjal (lihat hadits-hadits yang berkaitan dengan doa Tasyahud, Dajjal, hari kiamat, dan turunnya nabi Isa‘Alaihissalam pada akhir zaman), entah dengan keyakinan sebagai apa Ahmad Mushaddiq menggelar dirinya dengan Al Masih. Ahmad Mushaddiq juga mengaku sebagai Nabi baru setelah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, alasannya adalah ia mendapat wahyu/mimpi dari [yang katanya] Allah Subhanahu Wa Ta’ala ketika ia menyendiri (baca : bertapa) 40 hari 40 malam di suatu gunung di Bogor. Mengaku sebagai nabi baru setelah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, tentu saja sangat bertentangan dengan Islam. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman“Bukanlah Muhammad itu bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dialah Rasulullah dan penutup para Nabi”. <<Al Ahzab : 40>>
  3. Tidak melaksanakan shalat wajib 5 waktu, zakat, shaum, haji, dan sebagainya. Ibadah yang mereka kerjakan hanyalah shalat Lail, karena perintah shalat Lail-lah yang hanya ada di dalam Al-Qur’an. Beginilah salah satu contoh kekeliruan yang besar sekali jika menafsirkan Al Qur’an hanya dengan pemikiran mereka, tanpa membawa ayat Al-Qur’an lain, Sunnah, dan pemahaman ulama-ulama Islam lainnya (Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan seterusnya). Sedangkan ibadah lainnya (zakat, shaum, haji) belum mereka kerjakan karena katanya mereka belum mendapat perintah untuk menjalankannya. Ini sangat aneh, di satu sisi mereka memakai Al-Qur’an (walau dipahami dengan akal dan pemahaman mereka saja) dan di satu sisi lagi mereka meninggalkan ayat Al-Qur’an karena belum mendapat perintah (??what the…??).

 

  • Saat ini adalah Fase Makkah

Al Qiyadah Al Islamiyah berpendapat bahwa saat ini mereka masih berada dalam fase Makkah, karena itu mereka hanya fokus dalam mengajarkan aqidah [mereka] dan tidak melaksanakan kewajibannya sebagai muslim seperti shalat 5 waktu, zakat, shaum, haji, dan sebagainya

Agama Islam ini sudah sempurna (Al-Mai’dah ayat 3), karena itu kita sebagai penerus umat Islam tidak boleh kembali nol dalam memperjuangkan agama Islam ini. Kita memang harus mencontoh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallamdalam dakwahnya di Makkah dan juga Madinah, tetapi tidak berarti harus mulai dari nol sebagaimana yang dulu dimulai oleh Nabi Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam. Para shahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, imam empat, dan ulama-ulama Islam lainnya meneruskan perjuangan agama Islam ini bukan dari nol, mereka tidak berjuang dengan kembali lagi sama persis seperti pada periode Makkah yang pernah dijalani oleh Nabi Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam.

  • Pegangan Al Qiyadah

Pegangan/dasar mereka dalam menjalankan alirannya adalah Al-Qur’an yang ditafsiri dengan pemahaman akal pikiran mereka dan buku karangan pemimpin mereka (Al Masih Al Maw’ud) yang berjudul “Ruhul Qudus yang turun”. Buku itu memiliki sampul depan Ahmad Mushaddiq yang memiliki dua sayap berhadapan dengan para pengikutnya.

  • Penebusan Dosa

Jika pengikut aliran Al Qiyadah Al Islamiyah melakukan suatu perbuatan dosa, maka mereka hanya perlu menebus dosa mereka kepada Al Masih Al Maw’ud dengan memberikan sejumlah uang kepadanya.

Penebusan dosa tidak ada dalam ajaran agama Islam, melainkan ada dalam agama nashrani. Jika seorang muslim bertaubat kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dari dosa yang pernah ia lakukan, ia tidak disyari’atkan memberikan sejumlah uang kepada seorang pemimpin supaya dosa tersebut dapat diampuni oleh AllahSubhanahu Wa Ta’ala.

  • Al Qiyadah Al Islamiyah: Bagian dari Islam atau Agama Baru?

Apakah aliran Al Qiyadah Al Islamiyah ini merupakan bagian dari Islam atau bukan? Jika mereka mengaku bagian dari Islam, maka akan muncul beberapa ganjalan sebagai berikut :

  1. Kenapa aliran ini mempunyai syahadat sendiri yang berbeda dengan syahadat seorang muslim?
  2. Kenapa aliran ini mengakui ada Nabi baru setelah Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam?
  3. Kenapa aliran ini tidak mengerjakan kewajibannya sebagai muslim?
  4. Kenapa aliran ini tidak berprilaku sebagai muslim?

Jika aliran Al Qiyadah Al Islamiyah ini mengaku sebagai agama baru dengan rasul baru, maka akan muncul juga beberapa ganjalan. Jika memang Al Masih Al Maw’ud adalah Rasul setelah MuhammadShallallaahu Alaihi Wasallam (dan ini sangat tidak mungkin), maka bawakanlah buktinya :

  • Mempunyai mu’jizat atau tidak?

Setiap Nabi pasti mempunyai mu’jizat yang dimiliki untuk membuktikan kenabiannya, dan biasanya mu’jizat turun sesuai dengan kondisi zamannya. Pada zaman Nabi Musa‘Alaihissalam, sihir menjadi salah satu hal yang paling dibanggakan, maka Nabi Musa‘Alaihissalam mempunyai mu’jizat yang bisa mengalahkan semua sihir-sihir pada zaman tersebut. Pada zaman Nabi Isa ‘Alaihissalam, kedokteran merupakan salah satu hal yang paling dibanggakan pada zaman itu, maka Nabi Isa ‘Alaihissalam diberikan mu’jizat yang berkaitan dengan kedokteran, seperti dapat menyembuhkan penyakit, bahkan menghidupkan yang mati atas izin AllahSubhanahu Wa Ta’ala. Pada zaman Nabi Muhammad Shallallaahu Alaihi Wasallam, sastra merupakan salah satu hal yang paling dibanggakan, maka Nabi MuhammadShallallaahu Alaihi Wasallam diturunkan Al-Qur’an sebagai salah satu mu’jizat beliau, bahkan merupakan mu’jizat yang terbesar karena Al-Qur’an hingga saat ini dipelihara oleh Allah, dan terus dapat disaksikan bentuk dan kebenarannya oleh manusia hingga akhir zaman nanti. Sedangkan sekarang adalah zaman teknologi informasi, jika memang benar ada nabi baru (dan ini sangat tidak mungkin) maka nabi baru itu harus mempunyai mu’jizat besar yang berkaitan dengan zamannya. Wahai Al Masih Al Maw’ud, masih beranikah Anda mengaku sebagai Nabi?

  • Mempunyai kitab Suci sendiri yang diturunkan sesuai dengan bahasa kaumnya atau tidak?

Kitab suci diturunkan kepada setiap Nabi/Rasul untuk dijadikan pedoman bagi umatnya. Yahudi memiliki Taurat, Nashrani memiliki Injil, Islam memiliki Al Qur’an. Lalu apakah Al Qiyadah juga memiliki kitab suci sendiri?

By the way, Ahmadiyah memiliki kitab suci bernama At-Tadzkirah yang isinya bajakan dari Al Qur’an dan berbahasa Arab sedangkan Mirza Ghulam Ahmad sendiri merupakan orang India (??what the???). Apakah Al Qiyadah akan mengikuti jejak Ahmadiyah?

  • Nama Agama Baru

Rasul baru yang harus memiliki kitab suci sendiri juga harus menamai agama baru mereka dengan nama yang original, tetapi mengapa aliran ini memakai nama Al Qiyadah Al Islamiyah yang masih mempunyai nama yang berhubungan erat dengan Islam?

Dari sisi apapun Al Qiyadah Al Islamiyah mengaku (sebagai bagian dari Islam atau agama baru), ternyata anggapan mereka memiliki kejanggalan-kejanggalan yang jelas sekali. Tetapi daripada mereka mengaku-ngaku sebagai bagian dari agama Islam [yang ternyata bertentangan dengan hal-hal paling pokok dari yang paling pokok dalam agama Islam], lebih baik mereka mengaku saja sebagai agama baru [walau tetap memiliki kejanggalan] supaya mereka bebas menjalankan kepercayaan dan ibadah mereka (juga tidak akan dituduh mencemarkan agama Islam lagi karena mereka merupakan agama baru yang tidak ada sangkut pautnya dengan Islam).

Majelis Ulama Indonesia juga sudah menyatakan bahwa aliran Al Qiyadah Al Islamiyah menyimpang dari ajaran Islam, aliran tersebut merupakan kelompok yang sesat dan menyesatkan. Beberapa organisasi Islam lainnya juga sudah menyatakan hal serupa, antara lain Nahdathul Ulama, Muhammadiyah, FPI, dan ORMAS-ORMAS Islam lainnya.

  • Sikap Kita terhadap Al Qiyadah Al Islamiyah

Setelah mengetahui seluk beluk Al Qiyadah Al Islamiyah, apa yang sebaiknya sikap kita -kaum muslimin- terhadap agama baru Al Qiyadah Al Islamiyah? Apakah kita harus menghakimi, menghajar mereka yang sudah menyimpang? Jangan! Kita tidak boleh bertindak sembarangan, kita tidak boleh main hakim sendiri terhadap pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah. Ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah memang menyimpang, tetapi tidak dengan alasan itu kita boleh main hakim sendiri terhadap pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah, karena sangat mungkin pengikut agama baru tersebut masih awwam sekali / tidak tahu tentang agama Islam yang haq. Oleh karena itu sikap terbaik kita adalah berusaha mengajak mereka kembali kepada Islam dengan cara yang terbaik.

Jika setelah berbagai macam cara [yang baik] kita dakwahi pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah, tetapi mereka tetap mengaku sebagai pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah, maka : Jika mereka mengakui Al Qiyadah Al Islamiyah sebagai agama baru, dan tidak melakukan pelecahan/penghinaan kepada agama Islam maka kita biarkan saja mereka dalam agama baru mereka. “Lakum diinukum Waliyadiin” (Al Kafirun : 6). Tugas kita hanyalah menyampaikan, terima atau tidak terima itu sudah menjadi tanggung jawab mereka masing-masing.

  • Penutup

Dalam bagian penutup ini, penulis akan memberikan suatu kesimpulan dari apa yang sudah dibahas pada tulisan ini :

  1. Dalam agama Islam terdapat perbedaan yang masih dibolehkan/wajar dan ada juga perbedaan yang tidak diperbolehkan.
  2. Perbedaan yang tidak diperbolehkan berbeda dalam agama Islam adalah dalam permasalahan paling penting dari yang paling penting, seperti Tauhid, Akidah, Iman.
  3. Aliran Al Qiyadah Al Islamiyah memiliki berbagai macam ciri, antara lain : (1) memiliki syahadat yang berbeda dengan syahadatain agama Islam, (2) ada nabi baru setelah Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam, (3) Tidak melaksanakan kewajiban sebagai seorang Muslim seperti shalat 5 waktu, zakat, shaum, haji, dan sebagainya, (4) Berpendapat bahwa fase saat ini adalah fase Makkah, (5) Memiliki buku pegangan sendiri berjudul “Ruhul Qudus yang turun”, (6) Penebusan dosa dengan memberikan uang kepada nabi mereka.
  4. Berdasarkan perbedaan dalam masalah yang paling penting antara Al Qiyadah Al Islamiyah dengan agama Islam, dan sebagaimana sudah difatwakan oleh para ulama Islam (MUI dan ORMAS Islam lainnya) maka Al Qiyadah Al Islamiyah adalah aliran (baca : agama) baru yang menyimpang dari agama Islam.
  5. Kita (kaum muslimin) tetap berbuat baik kepada pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah, bahkan kita perlu mengajaknya dengan cara yang baik untuk kembali kepada agama Islam. Kita tidak boleh main hakim sendiri terhadap pengikut Al Qiyadah Al Islamiyah, karena sangat mungkin pengikut agama baru tersebut masih awwam sekali / tidak tahu tentang agama Islam.

Sumber

  • ^fuui.wordpress.com/anti-pemurtadan/aliran-al-qiyadah-al-islamiyah-sesat/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s