Lanjutan dari: Suluk Linglung Sunan Kalijaga [1/3]


Suluk Linglung Sunan Kalijaga (Bag. 2)


[ TERJEMAHAN PUPUH I — V ]

07-02-10.02.17


KUMBANG MENGHISAP MADU (PUPUH I)

DHANDHANGGULA


Episode I : Sunan Kalijaga berhasrat besar mencari ilmu yang menjadi pegangan para Nabi Wali, ibaratnya kumbang ingin menghisap madu / sari kembang.

  1. Bulan Jumadilawwal mulai menarikkan pena, Senin Kliwon tanggal pertama, tahun Je saat orang menuai padi, prasasti penulisan, “Ngerasa sirna sarira Ji”, disadur dari buku Duryat yang masyhur, maka mohon pengertiannya, bagi pembaca buku ini agar sudi, memberikan maaf.
  2. Syahban kisah seorang Alim Ulama yang cerdik pandai, yang sudah dapat merasakan mati, mati di dalam hidup, besar keinginannya, memperoleh petunjuk dari seorang yang sudah menemukan hakikatkehidupan, yang menyebabkannya melakukan perjalanan, tidak mempedulikan dampak yang terjadi, bernafsu sekali karena belummemperoleh petunjuk, petunjuk yang dipegang para Nabi Wali, itulah tujuan yang diharapkan semata-mata.
  3. Ling lang ling lung (hati bimbang pikir bingung) masih tetap mengabdi, walaupun tanpa ada yang membantu, selalu tergoda oleh nafsunya, karena tidak mampu mengatasinya, berbagai usaha ditempuh agar akhir hidupnya nanti, mampu mengatasi / mengobati nafsunya, jangan sampai terlanjur terlatur, puas makan dan tidur, sebab hatinyakalah perang dengan nafsunya, hanya Allah tempat berserah diri.
  4. Ling lang ling lung memohon kepada Tuhan Yang Terpilih, semoga dibukakanlah oleh Tuhan Pembuat Nyawa, sehingga terasa ditenteramkan hatinya, selaras dengan kehendak hatinya, jalan menuju sembah danpuji, dari keputusasaan hati, sehingga berdoa, tapi tidak mungkin dimaafkan oleh Tuhan, sebab tidak dapat beribadat dan bersyukur, acakacakan tanpa disadarinya pengetahuan.
  5. Ling lang ling lung akhirnya diam sendiri, tanpa teman tetapi masih saja ada gejolak batin, saling bertengkar dengan dirinya sendiri, suaranya tidak lantah / jauh, tapi bukankah pertengkaran hebat itu tidak akan ada henti-hentinya? Bukankah saling merebut kemenangan?padahal tidak ada yang disebutkan! Kalau diibaratkan seperti perebutan Kerajaan Ngastina, sehingga lupa saudara bapak anak istri, jiwa raga pun tidakdihitung.
  6. Ling lang ling lung tak tahu malu, karena didesak, oleh hasrat mengetahui petunjuk, akhirnya diusahakan mampu bertapa danberlapar-lapar, kalau ada teman datang, ikut makan dengan rakusnya, kalau temannya pergi, tidak makan seumur hidupnya, sebab tidak ada yang dimakan, ling lang ling lung menuruti kesenangan memperindah diri, selalu meminta upah.
  7. Ling lang ling lung meminta upah tiada hasil, menagih tak hentihentinya tanpa piutang, yang ditagih diam saja memang kenyataannya tidak berhutang, yang menagih datang pergi, semua itu tidak bedanya,dengan Syeh Melaya sendiri, di saat mulai berguru dan bertapa, kepada Kanjeng Sunan Bonang diperintahkan menunggui tongkat, dan dilarang meninggalkan tempat.
  8. Ling lang ling lung bukankah dapat dikatakan orang hebat, keinginannya yang kuat serta tekad batinnya, bila dibandingkan dengan yang lainnya, ada manusia berdarah luhur, putra Tuban Rahaden Syahid, waktu tua bergelar Sunan Kalijaga, rupanya sudah lebih dulu mendapat anugerah Kasih Sayang Tuhan Allah Pencipta Nyawa yang sudah menjadi kemuliaan Tuhan Yang Terpilih, keluar dari kasih Sayang Allah(Mahabbatullah).

RINDU KASIH SAYANG (PUPUH II)

ASMARADANA


Episode II : Sunan Kalijaga berguru kepada Sunan Bonang, serta wejangan-wejangan(petunjuk-petunjuk) yang diterimanya.

  1. Penulis sangat tertarik, akan cerita yang ia dengar, pada zaman dulu ada sebuah kisah, Kanjeng Sunan Kalijaga, ketika mencari hakikat hidup, berguru kepada orang yang tinggi ilmunya, bersunyi diri di desa Benang.
  2. Berguru menuntut ilmu sudah cukup lama, namun merasa belum mendapat manfaat yang nyata, rasanya Cuma penderitaan yang didapat, sebab disuruh memperbanyak bertapa, oleh Kanjeng Sunan Bonang,diperintahkan menunggui pohon gurda sudah dilaksanakan, tidak diperbolehkan meninggalkan tempat.
  3. Berada di tengah hutan belantara, tempat tumbuhnya pohon gurda yang banyak sekali, dengan tenggang waktu setahun lamanya, kemudian disuruh “ngaluwat” ditanam di tengah hutan. Setahun kemudian dibongkar, oleh Kanjeng Sunan Bonang.
  4. Kemudian diperintahkan pindah, Tafakur (merenung) di tepi sungai yang nantinyaberalih menjadi nama sebutannya (Kalijaga = menjaga sungai), setahun tidak boleh tidur, ataupun makan, lalu ditinggal ke Mekah, oleh Sunan Bonang.
  5. Nyata sudah genap setahun, Syeh Melaya ditengok, ditemui masih tafakur saja, Kanjeng Sunan Benang berkata, Eh Jebeng (anak) sudahilah tafakurmu, berjuluk kamu Wali, penutup yang ikut menyiarkan agama.
  6. Perbaikilah ketidak aturan yang ada, agama itu tata krama, kesopanan untuk kemuliaan Tuhan Yang Maha Mengetahui, bila kau berpegang kepada syariat, serta segala ketentuan iman hidayat, hidayat itu dariTuhan Allah yang Maha Agung, yang sangat besar kanugrahan-Nya.
  7. Kanugrahan Tuhan Allah, meliputi dan menimbulkan keluhuran budi, adapun kekuasaan-Nya menumbuhkan kekuatan luar biasa dan keberanian, serta meliputi segala kebutuhan perang, yang demikian itu tidak lain adalah anugrah yang besar, paling utama dari segala yang utama (keutamaan).
  8. Keutamaan ibarat bayi, siapa pun ingin memelihara, yang mencukupi bayi, menguasai pula terhadap dirimu, tapi kamu tak punya hak menentukan, karena kau ini juga yang menentukan Tuhan Allah YangMaha Agung, karena itu mantapkanlah hatimu dalam pasrah diri pada-Nya.
  9. Syeh Melaya berkata pelan, sungguh hamba sangat berterima kasih, semua nasihat akan kami junjung tinggi, tapi hamba memohon kepada guru, mohon agar sekalian dijelaskan, tentang maksud sebenarnya darisukma luhur (nyawa yang berderajat tinggi), yang tadi diberi istilah iman hidayat.
  10. Yang harus mantap berserah diri kepada Tuhan Allah, yang mana yang dimaksud sebenarnya, homba mohon penjelasan yang sejelasjelasnya; kalau hanya ucapan semat, hamba pun mampu mengucapkannya, tapi kalau menemui kesalahan hamba ibarat asapbelaka, tanpa guna menjalankan semua yang kukerjakan.
  11. Kanjeng Sunan Bonang menjawab, “Syeh Melaya benar ucapanmu, pada saat bertapa kau bertemu denganku, yang dimaksud berserah diri ialah, selalu ingat prilaku / pekerjaan, seperti ketika awal muladiciptakan, bukankah itu sama halnya seperti asap?.
  12. Itu tadi seperti hidayat wening (petunjuk yang jernih), serupa dengan iman hidayat, apakah itu nampak dengan sebenarnya? Namun ketahuilah itu semua, tidak dapat diduga sebelumnya dan sesudahnya, sekalipun kau gunakan, dengan mata kepala.
  13. Aku ini juga sepertimu, ingin juga mengetahuinya, tentang hidayat yang sejelas-jelasnya, tapi aku belum mempunyai kepandaian untuk meraihnya, kejelasan tentang hidayat, hanya keterangan yang sayapercayai, karena keterangan ini berasal dari sabda Tuhan Allah.
  14. Berkata Kanjeng Sunan Kalijaga, “Bapak guru yang bijaksana, hamba mohon dijelaskan, apakah maksudnya, ada nama tanpa sifat, ada sifat tanpa nama? Saya mohon petujuk, tinggal itu yang ingin saya tanyakan yang terakhir kali ini saja”.
  15. Sunan Bonang berkata lemah-lembut, “Kalua kamu ingin keterangan yang jelas tuntas, matikanlah dirimu sendiri, belajarlah kamu tentang mati, selagi kau masih hidup, bersepi dirilah kamu kehutan rimba, tapijangan sampai ketahuan manusia!”.
  16. Sudah habis segala penjelasan yang perlu disampaikan, Kanjeng Sunan Bonang segera meninggalkan tempat, dari hadapan SunanKalijaga, timur laut arah langkah yang dituju, kira-kira baru beberapa langkah berlalu, Syeh Melaya ikut meninggalkan tempat itu, masuk hutan belantara.
  17. Untuk menjalankan laku kijang, berbaur dengan kijang menjangan, bila mana ingin tidur, ia mengikuti cara tidur terbalik, seperti tidurnya kijang, kalau pergi mencari makan mengikuti, seperti caranya anak kijang.
  18. Bila ada manusia yang mengetahui, para kijang berlari tunggang langgang, Jeng Sunan Kalijaga ikut berlari kencang, larinya denganmerangkak, seperti larinya kijang, pontang-panting jangan sampai ketinggalan, mengikuti sepak terjang kijang.
  19. Nyata sudah cukup setahun, Syeh Melaya menjalani laku kijang, bahkan melebihi dari yang telah ditetapkan; ketika itu Jeng SunanBonang, bermaksud shalat ke Mekah, dalam sekejap mata sudah sampai, setelah shalat segera datang kembali.
  20. Kanjeng Sunan Bonang menuju hutan, melihat kijang sama berlari, sedang anaknya sempoyongan mengikuti, Sunan Bonang ingat dalam hati, kalau ada Wali berlaku seperti laku kijang, Syeh Melaya namanya, segera ia mendekati.
  21. Syeh Melaya berusaha lari menjahui, larinya tunggang langgang, tanpa memperhitungkan jurang tebing, ditubruk tidak tertangkap, dijaring dan diberi jerat, kalau kena jerat dapat lolos, kalau kena jaringdapat melompati.
  22. Marhlah sang guru Sunan Bonang, bersumpah di dalam hatinya, “Wali Waddat pun aku tak peduli, memanaskan hati kau kijang, bagiku memegang angin, yang lebih lembut saja tidak pernah lolos, yang kasarmungkinkah akan gagal!.
  23. Kalau tidak berhasil sekali ini, lebih baik aku tidak usah jadi manusia, lebih pantas kalau jadi binatang saja!” bergerak penuh amarah jeng Sunan Benang, dan berusaha menciptakan nasi, tiga kepal tangan telah disiapkan, dan mundur siap dibuat melempar kijang.

PUPUH III

DURMA


Episode III : Sunan Kalijaga diperintahkan ibadah haji ke Mekah dan bertemu dengan Nabi Khidir di tengah samudera.

  1. Sunan Bonang segera menerobos, ke dalam hutan yang lebih lebat dan sulit dilewati, setelah benar-benar menemukan, yang sedang laku kijang, yang tengah berlari segera dilempar, dengan nasi satu kepal, tepat mengenai punggungnya.
  2. Syeh Melaya agak lambat larinya, lalu lemparan yang kedua, mengenai lambungnya, jatuh terduduk Syeh Melaya, kemudian dilempar lagi, nasi satu kepal, ingat dan sadar kemudian berbakti pada Sunan Bonang.
  3. Dia berlutut mencium kaki Sunan Bonang, berkata sang guru Sunan Bonang, “Anakku ketahuilah olehmu, bila kau ingin mendapatkan kepandaian, yang bersifat hidayatullah, naiklah haji, menuju Mekahdengan hati tulus suci / ikhlas.
  4. Ambilah air zam-zam ke Mekah, itu adalah air yang suci, serta sekaligus mengharap berkah syafaat, Kanjeng Nabi Muhammad yang menjadi suri tauladan manusia; Syeh Melaya berbakti, mencium kaki, mohon diri dan segera menuju tujuan.
  5. Sunan Bonang sudah lebih dulu melangkah kaki, menuju desa Benang yang sepi, dan selanjutnya kita ikuti, perjalanan Syeh Melaya, yang berkehendak naik haji, menuju Mekah, dia menempuh jalan pintas.
  6. Menerobos hutan, naik gunung turun jurang, tetebingan didakinya, sampai tepi pantai, hatinya bingung, kesulitan menempuh jalan selanjutnya.
  7. Terhalang oleh samudera yang luas, sejauh mata memandang tampak air semata. Dia diam tercenung lama sekali memutar otak mencari jalan yang sebaiknya ditempuh, di tepi samudera. Syahban tersebutlah seorang manusia, yang bernama Sang Pajuningrat, mengetahui kedatangan seorang yang tengah bingung (Syeh Melaya).
  8. Sang Pajuningrat tahu segala perjalanan yang dialami, oleh Syeh Melaya dengan sejuta keprihatinan, karena ingin meraih hidayat;berbagai cara telah ditempuh, juga melalui penghayatan kejiwaan dan berusaha mengungkap berbagai rahasia yang tersembunyi, namun mustahil dapat menemukan hidayat, kecuali kalau mendapatkan kanugrahan Allah yang Haq.
  9. Syeh Melaya sudah terjun, merenangi lautan luas, tidak mempedulikan nasib jiwanya sendiri, semakin lama Suek Melaya, sudah hampir di tengah samudera, mengikuti jalan untu mencapai hakikat yang tertinggidari Allah, tidak sampai lama, sampailah di tengah samudera.
  10. Ternyata setelah Sunan Kalijaga, ada di tengah samudera, penghatannya melihat seseorang, yang sedang berjalan tenang diatas air, yang berjuluk Nabi Khidir, yang tidak diketahui dari mana datangnya,bertanya dengan lemah lembut.
  11. “Syeh Melaya apa tujuanmu? Mendatangi tempat ini? Apakah yang kau harapkan? Padahal disini tidak ada apa-apa?! Tidak ada yang dapat dibuktikan, apalagi untuk dimakan, juga untuk berpakaian pun tak ada”.
  12. Yang ada hanyalah daun kering yang tertiup angin, jatuh di depanku, itu yang saya makan, kalau tidak ada tentu tidak makan, senangkah kamu dengan melihat ini semua? Kanjeng Sunan Kalijaga, heran mengetahuipenjelasan itu.
  13. Nabi Khidir berkata lagi kepada Sunan Kalijaga, “Cucuku di sini ini, banyak bahayanya, kalau tidak mati-matian berani bertaruh nyawa, tentu tidak mungkin sampai di sini, di tempat ini, segalanya tidak ada yangdapat diharapkan hasilnya”.
  14. “Mengandalkan pikiranmu saja masih belum apa-apa, padahal kamu tidak takut mati, kutegaskan sekali lagi, disini tidak mungkin kau dapatkan yang kau maksudkan!”. Syeh Melaya bingung hatinya tidak tahu apa yang harus diperbuat, dia menjawab, bahwa dia tidak mengetahui akan langkah yang sebaiknya perlu ditempuh selanjutnya.
  15. Semakin pelan ucapan Syeh Melaya, Terserah bagaimana baiknya sang guru Nabi Khidir menebak, “Apakah kamu juga, sangatmengharapkan hidayatullah (petunjuk Allah?” Akhirnya nabi Khidir menjelaskan, “Ikutilah petunjukku sekarang ini!”.
  16. “Menjalankan petunjuk gurumu, Sunan Bonang sang guru, memberi petunjuk padamu, menyuruh menuju kota Mekah, dengan keperluan naik haji, maka ketahuilah olehmu, sungguh sulit menjalankan lika-likukehidupan itu”.
  17. “Jangan pergi kalau belum tahu yang kutuju, dan jangan makan juga, kalau belum tahu rasanya, rasanya yang dimakan, jangan berpakaian juga, kalau belum tahu juga kegunaan berpakaian”.
  18. “Lebih jelasnya tanyalah sesama manusia, sekaligus dengan persamaannya, kalau sudah jelas amalkanlah! Demikianlah seharusnya hidup itu, ibarat ada orang bodoh dari gunung, akan membeli emas, oleh tukang emas diberi”.
  19. “Biarpun kuningan tetap dianggap emas mulia, demikianlah pula dengan orang berbakti, bila belum yakin benar, pada siapakah yang harus disembah?” Syeh Melaya ketika mendengar itu, spontan tertunduk berlutut mohon belas kasihan, stelah mendapati kenyataan bahwa Nabi Khidir betul-betul serba tahu yang terkandung di hatinya.
  20. Dengan duduk bersila dia berkata, “Yang kami dengar akan kami laksanakan”. Syeh Melaya meminta kasih sayang, memohon keterangan yang jelas, “Sidpakah nama tuan? Mengapa di sini sendirian?”. Sang Pajuningrat menjawab, “Sesungguhnya saya ini Nabi Khidir”.
  21. Syeh Melaya berkata, “Saya menghaturkan hormat sedlam-dalamnyakepada tuan junjunganku mohon petunjuk, adapun saya perlu dikasihani;nSaya juga tidak tahu benar tidaknya pengabdianku ini. Tidak lebih bedanya dengan hewan di hutan, itupun masih tidak seberapa, bila maumenyelidiki kesucian diriku ini.
  22. Dapat dikatakan lebih bodoh dungu serta tercela di jagad, menjadi bahan tertawaan di muka bumi; Saya ibarat keris, tanpa kerangka keris, ibarat bacaan yang tanpa isi yang tersirat. Maka berkata dengan manisnya Sang Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga.

SANG NABI KHIDIR (PUPUH IV)

DHANDHANGGULA


Episode IV : Dialog antara Syeh Melaya dengan Nabi Khidir yang berisikan wejangan tentang hidayatullah dan kematian dengan berbagai aspeknya.

  1. “Jika kamu berkehendak naik haji ke Mekah, kamu harus tahu tujuan yang sebenarnya menuju Mekah itu. Ketahuilah, Mekah itu hanyalah tapak tilas saja! Yaitu bekas tempat tinggal Nabi Ibrahim zaman dulu. Beliulah yang membuat bangunan Ka’bah Masjidil Haram, serta yangmenghiasai Ka’bah itu dengan benda yang berupa batu hitam (Hajar Aswad) yang bergantung di dinding Ka’bah tanpa digantungkan. Apakah Ka’bah itu hendak kamu sembah? Kalau itu yang menjadi niatmu, berarti kamu sama halnya menyembah berhala / bangunan yang dibuat dari batu”.
  2. “Perbuatanmu itu tidak jauh berbeda dengan yang diperbuat oleh orang kafir, karena hanya sekedar menduga-duga saja wujud Allah yang yang disembah, dengan senantiasa menghadap kepada berhalanya”.Oleh karena itu, biarpun kamu sudah naik haji, bila belum tahu tujuan yang sebenarnya dari ibadah haji, tentu kamu akan rugi besar. Maka dari itu, ketahuilah bahwa Ka’bah yang sedang kautuju itu, bukannya yang terbuat dari tanah atau kayu apalagi batu, tetapi Ka’bah yang hendak kau kunjungi itu sebenarnya Ka’batullah (Ka’bahAllah). Demikian itu sesungguhnya iman hidayat yang harus kamu yakinkan dalam hati.
  3. Nabi Khidir memerintah, “Syeh Melaya segeralah kemari secepatnya! Masuklah ke dalam tubuhku!”. Syeh Melaya terhenyak hatinya, tak dapat dicegah lagi keluarlah tawanya, bahkan sampai mengeluarkan airmata seraya berkata dengan halus, “Melalui jalan manakah aku haru masuk kedalam tubuhmu, padahal saya tinggi besar melebihi tubuhmu, kira-kira cukupkah? Melalui jalan manakah usaha saya untuk masuk? Padahal nampak olehku buntu semua!”.
  4. Nabi Khidir berkata dengan lemah-lembut, “Besar mana kamu dengan bumi, semua beserta isinya, hutan rimba dan samudera serta gunung, tidak bakal penuh bila dimasukkan ke dalam tubuhku, jangan khawatir bila tidak cukup masuklah di dalam tubuhku ini !”. Syeh Melaya setelahmendengarnya, semakin takut sekali bersedia melaksanakannya; Menolehlah Nabi Khidir.
  5. “Ini jalan di telinganku ini, “Syeh Melaya masuk dengan segera, sudah sampai ke dalam tubuh Nabi Khidir. Melihat samudera luas, tiada bertepi sejauh mata memandang, semakin diamati semakin jauh tampaknya; Nabi Khidir bertanya keras-keras, “hai apa yang kamu lihat?” Segera menjawab Syeh Melaya, “Ya jauh, tak ada yang kelihatan”.
  6. Syeh Melaya melanjutkan jawabannya, “Angkasa raya yang kuamati, kosong melompong jauh tidak kelihatan apa-apa, kemana kakiku melangkah, tidak tahu arah utara selatan, barat timur pun tidak kamikenal lagi, bahwa dan atas serta muka, juga belakan, saya tidak mampu membedakan; Bahkan semakin membingungkanku”; Nabi Khidir berkata lemah-lembut, “Usahakan jangan sampai bingung hatimu”.
  7. Tiba-tiba terang kelihatan di hadapannya Nabi Khidir, Syeh Melaya melihat lagi arah utara selatan, barat dan timur sudah kelihatan jelas, atas serta bawah, juga sudah terlihat, dan mampu menjaring matahari, tenangrasanya sebab dpat melihat Nabi Khidir, rasanya berada di alam yang lain dari yang lain.
  8. Kanjeng Nabi Khidir berkata lembut, “jangan berjalan hanya sekedar berjalan, lihatlah dengan sungguh-sungguh apa yang terlihat olehmu”. Syeh Melaya menjawab, “ada warna empat macam, yang nampakpadaku, semua itu, sudah tidak kelihatan lagi, hanya empat macam yang kuingat, yaitu hitam merah kuning dan putih”.
  9. Berkata Nabi Khidir, “Yang pertama kau lihat cahaya, mencorong tapi tidak tahu namanya, ketahuilah itu adalah pancamaya, yang sebenarnya ada di dalam hatimu sendiri, yang mengatur dirimu, Pancamaya yangindah itu; disebut muka sifat (mukasyafah), bilaman kamu mampu membimbing dirimu ke dalam sifat yang terpuji, yaitu sifat yang asli.
  10. Maka dari itu jangan asal bertindak, selidikilah semua bentuk jangan sampai tertipu nafsu, usahakan semaksimal agar hatimu menduduki sifat asli, perhatikan terus hatimu itu, supaya tetap dalam jati diri!”.Tentramlah hati Syeh Melaya, setelah mengerti itu semua, dan baru mantap rasa hatinya serta gembira; adapun yang kuning, merah, hitam serta putih itu adalah penghalang hatinya.
  11. Sebab isi dunia ini sudah lengkap, yaitu terbagi ke dalam tiga golongan, semuanya adalah penghalang tingkah laku, kalau mampu menjahui itu, pasti dapat berkumpul dengan ghaib, itu yang menhalangimeningkatkan citra diri, hati yang tiga macam, hitam, merah, kuning semua itu, menghalangi pikiran dan kehendak tiada putus-putusnya, akan menyatunya dengan Tuhan Yang Membuta Nyawa lagi mulia.
  12. Jika tidak tercampur oleh tiga hal itu, tentu terjadi hilangnya jiwa, abadi senantiasa berdekatan rapat, nemun perlu diperhatikan dan diingat, dengan saksama, bahwa penghalang yang ada di hati, mempunyai kelebihan yang perlu kamu ketahui, dan sumber inti kekuatannya; yakni hitam lebih perkasa, pekerjaannya marah mudah sakit hati, angkara murka secara membabi buta.
  13. Itulah hati yang mengahalangi, menutup kepada kebijakan, yang demikian itulah pekerjaan si hitam; Sedang yang berwarna merah, ikut menunjukkan nafsu yang tidak baik, segala keinginan nafsu keluar, dari si merah, mudah emosi dalam mencapai tujuan, hingga menutupi kepada hati yang sudah jernih tenang, menuju akhir hidup yang baik (khusnul khotimah).
  14. Adapun yang berwarna kuning, kemampuannya menanggulangi segala hal, pikiran yang baik akan menjadikan pekerjaan semakin baik, hati kuninglah yang menghalangi timbulnya pikiran yang baik, hanya membuat kerusakan, menelantarkan ke jurang kehancuran; Sedangkan yang putih itulah yang sebenarnya, membuat hati tenang serta suci tanpa ini itu, pahlawan dalam kedamaian.
  15. Hanya itulah yang dapat dirasakan manusia, akan kesaksiannya sesungguhnya yang terwujud adanya, hanya menerima kanugrahan semata-mata, hanya itulah yang dapat dilaksanakan. Kalau tetap berusahaagar abadi berkumpulnya diri dekat Tuhan, maka senantiasa menghadapi tiga musuh, yang sangat kejam besar dan tinggi hati (sobong), ketiga musuhmu itu saling kerjasama; Padahal si putih tanpa teman, hanya sendirian saja, makanya sering dapat dikalahkan.
  16. Kalau sekiranya dapat mengatasi, akan segala kesukaran yang timbul dari tiga hal itu,maka jadilah persatuan erat terwujud, tanpaberpedoman itu semua tidak akan terjadi persatuan erat antara manusia dan penciptanya. Syeh Melaya sudahmemahaminya dengan semangat mulia berusaha, diserta tekad membaja, demi mendapatkan pedoman akhir kehidupan, demi kesempurnaan dekatnya dengan Allah SWT.
  17. “Setelah hilang empat macam warna ada hal lain lagi, nyala satu delapan warnanya”, Syeh Melaya pelan berkata, “Apakah namanya, nyala satu delapan warnanya, apakah yang dimaksud sebenarnya?Nyalanya semakin jelas nyata, ada yang seperti ratna bersinar (mutiara berkilau), ada yang nampak berubah-rubah warna menyambar-nyambar, ada yang seperti permata yang berkilat-tajam sinarnya”.
  18. Sang luhur budi Nabi Khidir berpesan, “Hiya itulah sesungguhnya tunggal. Pada dirimu sendiri sudah tercakup makna di dalamnya, rahasianya terdapat pada dirimu juga, serta seluruh isi bumi, tergambar pada tubuhmu, dan juga seluruh alam semesta; Dunia kecil tidak jauh berbeda; Ringkasnya utara barat selatan itu, timur dan atas serat bawah”.
  19. “Juga warna hitam merah kuning putih, itulah isi kehidupan dunia, dunia kecil dan alam semesta, dapat dikatakan sama isinya, kalau ditimbang dengan yang ada dalam dirimu ini, kalau hilang warna yang ada, dunia kelihatan kosong, kesulitannya tidak ada, dikumpulkan kepada wujud rupa Yang Satu, tidak lelaki tidak pula perempuan”.
  20. “Sama pula bentuk dengan bentuk yang ada ini, yang bila dilihat berubah-ubah putih, camkanlah dengan cermat semua ini”, Syeh melaya mengamati, yang seperti cahaya berganti-ganti kuning, cahayanya terang-benderang memancar, melingkar mirip pelangi, apakah itu yang dimaksudkan, wujud dari Dzat yang dicari dan didambakan? Yangmmerupakan hakikat wujud sejati?”.
  21. Nabi Khidir menjawab dengan lemah-lembut, “Itu bukan yang kau dambakan, yang dapat menguasai segala keadaan; Yang kamudambakan tidak dapat kamu lihat, tiada berbentuk apalagi berwarna, tidak berwujud garis, tidak dapat ditangkap mata, juga tidak bertempat tinggal, hanya dapat dirasakan oleh orang yang awas mata hatinya, hanyaberupa penggambaran-penggmabaran (simbol) memenuhi jagad-raya, dipegang tidak dapat”.
  22. Bila kamu lihat, yang nampak seperti seperti berubah-ubah putih, yang terang-benderang sinarnya, memancarkan sinar yang menyalanyala, Sang Permana itulah sebutannya, hidupnya ada pada dirimu;Permana itu, menyatu pada dirimu sendiri, tetapi tidak ikut merasakan suka dan duka, tempat tinggalnya pada ragamu.
  23. Tidak ikut suka dan duka, juga tidak ikut sakit dan menderita, dan jika Sang Permana meninggalkan tempatnya, raga menjadi tidak berdaya, dan pasti lemahlah seluruh badanmu, sebab itulah letak kekuatannya;Ikut merasakan, kehidupan bersama nyawa, yaitu yang berhak merasakan kehidupan, yang mengerti rahasia di dunia.
  24. Dan itulah yang sedang mengenai pada dirimu, seperti diibaratkan bulu pada hewan, yang tumbuh di sekitar raga, hidupnya karena adanya Permana, dihidupi oleh nyawa yang mempunyai kelebihan, menguasai seluruh badan, Permana itu bila mati ikut menanggung, namun bila telah hilang nyawa, kemudian yang hidup hanyalah sukma /nyawa yang ada.
  25. Kehilangan itulah yang didapatkan, kehidupan nyawalah yang sesungguhnya, yang sudah berlalu diibaratkan, seperti rasanya pohon yang tidak berbuah, Sang Permana yang mengetahui dengan sabar,sesungguhnya satu asal, perhatikan secara seksama penjelasan tadi. Menjawablah Syeh Melaya, “Kalau begitu manakah warna bentuk yang sebenarnya?”. Nabi Khidir berkata.
  26. “hal itu tidak dapat kau pahami di dalam keadaan nyata semata-mata, tidak semudah itu untuk mendapatkannya”, Syeh Melaya menyela pembicaraan, “Saya mohon pelajaran lagi, sampai paham betul, sampaituntas. Saya menyerahkan hidup dan mati, demi mengharapkan tujuan yang pasti, jangan sampai tanpa hasil”.

PUPUH V

KINANTHI


Episode V : Berisi ajaran Nabi Khidir kepada Sunan Kalijaga tentang ilmu yakin, ainul yaqin, ma’rifatul yaqin dan iman hidayat serta sifat-sifat yang terpuji.

  1. Nabi Khidir berkata lembut dan manis yang isinya bercampur perlambang dan sindiran, “Umpamanya ada orang membicarakansesuatu hal. Lotnya seharusnya baik, nyatanya lotnya justru bumbunya, bercampur dengan rahasia yang terasa sebagai jiwa suci.
  2. Nubuat yang penuh rahasia itu sebenarnya sebenarnya rahasia ini yaitu ketika masih berada di sifat jamal ialah johar awal bila bila sudah keluar menjadi johal akhir yang sudah dewasa yang awal itulah rahasia sejati.
  3. Sijohar akhir itu ternyata dalam satu wujud satu pati dan satu hidup dengan johar ketika dalam kesatuan satu wujud satu raksa satu hidup menyatu dengan johar awal. Adapun johar akhir ini ialah.
  4. Satu wujud dalam keadaan sehidup-semati segala ulah johar akhir selamanya bersikap pasrah. Sedangkan johar batin ini ialah yang dipuji dan disembah hanyalah Allah yang sejati.
  5. Tidak ada sama sekali rasa sakit karena sebenarnya kamu ini nuqod ghoib ialah nuqod ghoib ketika di masa awal / kuna ia tidak hidup juga tidak mati dan sebenarnya yang dikatakan nuqod itu tdak lain ghoib jugalah namanya itu.
  6. Sudah tiba datang nuqod yang sudah hidup sejak dulunya dicpta menjadi Alip. Alip itu sendiri jisim latip dan keberadaanmu yangsebenarnya itulah yang disebut / dinamakan neqdu.
  7. Sekarang johar jati yaitu namamu itu semasa hidup yaitu syahdat jati dalam hidup itu sendiri ialah yang dimanakan Rasulullah rasa sejati.
  8. Syahdat jati adalah darah yaitu tempat segala dzat / makhluk merasakan rasa yang sebenarnya tentang hidup dan kehidupan sama dengan satuan Jibril-Muhammad-Allah. Ketiganya dan keempatnya adalah yang disebut Darah hidup. Jelasnya coba perhatikan orang mati.
  9. Apa ada darahnya? Darah itu hilang kini, hilangnya bersama / menyatu dengan sukma.sukma/ruh hilang adalah kembali pada Alip tersebut. Sukma yang hilang dan kembali kepada Alip itu disebut ruh idhofi.
  10. Pengertian Jisim Latip atau yang disebut Jisim Latip ialah Jisim Angling yang sudah reda terdahulu kala yaitu Alip yang disebut angling padahal Alip itu tanpa mata tidak berkata-kata tidak mendengar.
  11. Tanpa perilaku tidak melihat dan itulah Alip yang artinya sebenarnya luqkawi. Alip jatuh / bertempat / berada pada nuqodnya. Ketiadaannya keberadaannya menjadi Alip itu karena dijabarkan / dikembangkan, bukankah ruh idhofi itu bagian Dzatullah?.
  12. setelah diajarkan semua pelajaran sampai selesai, tentang ruh idhofi yang menjadi inti pembahasannya; Adapun wujud sesungguhnya Alip itu, asal dan muasalnya itu, berasal dari johar Alip itu, yang dinamakan kalam karsa.
  13. Timbullah hasrat kehendak Allah itu menjadikan terwujudnya dirimu; dengan adanya wujud dirimu menunjukkan akan adanya Allah dengan sesungguhnya; Allah itu tidak mungkin ada dua apalagi tiga. Siapa yang mengetahui asal / muasal kejadian dirinya, saya berani memastikan bahwa orang itu tidak akan membanggakan dirinya sendiri!.
  14. Adapun sifat jamal (sifat yang bagus) itu ialah, sifat yang selalu berusaha menyebutkan, bahwa pada dasarnya adanya dirinya itu, karena ada yang mewujudkan adanya. Demikianlah yang difirmankan Allahkepada Nabi Muhammad yang menjadi Kekasih-Nya.
  15. “Kalau tidak ada dirimu, saya Allah tidak akan dikenal / disebut; Hanya dengan sebab adanya kamulah yang menyebutkan akankeberadaan-KU; Sehingga kelihatan seolah-olah satu dengan dirimu, Adanya Aku, Allah, menjadikan ada dirimu, Wujudmu menunjukkan adanya wujud Dzat-KU”.
  16. Dan untuk memperjelas jati dirimu, tidaklah kau sadari, bahwa hampir ada persamaan Asma-Ku yang baik (Asmaul Husna) dengan sebutan manusia yang baik (misal : Allah Yang Maha Pengasih, dengan: Siti Fatimah mengasihi anaknya). Itu semua kau maksudkan untuk memudahkan penggambaran perwujudan tentang Diri-Ku. Padahal kau tahu, Aku berbeda dengan dirimu, yang tidak mungkin dapat disamakansatu sama lain. Dan kamu pasthi mengalami kesulitan dan tidak mungkin dapat melukiskan atau menyebutkan Asma-Ku dengan setepat-tepatnya.
  17. namamu yang baik dapat menyerupai nama-Ku Yang Baik (Asmaul Husna); Apakah kamu sudah dapat meraih sebutan nama yang baik itu? Baik di dunia maupun di akhirat? Kamu ini merupakan penerus / pewaris Muhammad Rasulullah, sekaligus Nabi Allah. Ya Illahi, ya Allah Tuhanku… (Bagi pembaca maupun pendengar dianjurkan berdoa pada Allah. Insya Allah berhasil kabul apa yang diinginkan, Amin, amin, amin, ya Rabbal alamin).
  18. nabi Khidir mengakhiri pembacaan Firman Allah SWT, kemudian melanjutkanmemberi penjelasan pada Sunan Kalijaga; “Tanda-tanda adanya Allah itu, ada pada dirmu sendiri harap direnungkan dan diingatbetul. Asal muasal Alip itu, akan menjadikan dirimu bersusah payah selagi hidup; Budi jati sebutannya, yang tidak merasa menimbulkan budi / usaha untuk mengatasi lika-liku kehidupan.
  19. Bagi orang yang senang membicarakan dan memuji dirinya sendiri, akan dapat melemahkan semangat usahanya, antara tidak dan iya penuh kebimbangan. Sedangkan yang dimaksudkan dengan johar budi (mutiara budi) ialah, bila sudah mengetahui maksud dari budi iman yaitu menjalankan segala tingkah laku dengan didasari keimanan pada Allah. Alip tercipta karena sudah menjadi suratan ketentuan yang digariskan.
  20. Sungguhnya alip itu, tetap kelihatan ada adanya tidak dapat berubah. Itulah yang disebut Alip. Adapun bila terjadi perubahan, itulah yang disebut Alip Adi, yangmenyesuaikan diri dengan keadaanmu.
  21. Mutiara awal kehidupan (johar awal) dimaksudkan dengan kehidupan tempo dulu yang betul-betul terjadi sebagaimana tinja junub dan jinabat. Johar awal ibarat bebauan / aroma akan tiba saatnya, tidak boleh tidakakan kita laksanakan dan rasakan di dalam kehidupan kita di dunia.
  22. jelasnya, kehidupan yang telah digariskan sebelumnya oleh Johar itu, telah memuat garis hidup dan mati kita. Segalanya telah ditentukan di dalam Johar awal. Dari keterangan Johar awal tadi, tentu akanmenimbulkan pertanyaan, di antaranya; “Mengapa kamu wajib shalat, di dalam dunia ini?”. Penjelasannya demikian; Asal mula diwajibkan menjalankan shalat itu ialah:
  23. Disesuaikan dengan ketentuan di zaman azali, kegaiban yang kau rasakan saat itu; Bukankah kamu juga berdiri tegak, berseidekap menciptakan keheningan hati, bersidekap menyatukan konsentrasi,menyatukan segala gerakmu.
  24. ucapanmu juga kau satukan, akhirnya kau rukuk tunduk kepada yang menciptakanmu, merasa sedih karena malu sehingga menciptakan timbul, keluar air matamu yang jernih, sehingga tenanglah segala kehidupan ruhmu, rahasia iman dapat kau resapi.
  25. Setelah merasakan semua itu, mengapa harus sujud ke bumi? Pangkal mula dikerjakan sujud bermula adanya, cahaya yang memberi pertanda pentingnya sujud, yaitu merasa berhadapan dengan wujud Allah biarpun tidak melihat wujud yang sesungguhnya, dan yakin bahwa Allah melihat segala wujuh gerak kita (pelajaran tentang ihsan).
  26. Dengan adanya agama Islam dimaksudkan, agar makhluk yang ada di bumi dan di langit, dan termasuk dirimu itu, beribadah sujud kepada Allah dengan hati yang ikhlas sampai kepala diletekkan dimuka bumi, sehingga bumi dengan segala keindahannya tidak tampak di hadapanmu, hatimu hanya ingat Allah semata-mata. Ya demikianlah seharusnya perasaamu, senantiasa merasa sujud di bumi ini.
  27. Mengapa pula menjalankan duduk diam seakan-akan menunggu sesuatu? Melambungkan pengosongan diri dengan harapan ketemu Allah! Padahal sebenarnya itu tidak dapat mempertemukan dengan Allah.Allah yang kau sembah itu betul-betul ada. Dan hanya Allah-lah tempat kamu mengabdikan diri dengan sesungguhnya. Dan janganlah sekali-kali dirimu menggap sebagai Allah.
  28. Dan dirimu jangan pula menganggap sebagai Nabi Muhammad. Untuk menemukan rahasia (rahsa) yang sebenarnya harus jeli. Sebab antara rahasia yang satu berbeda dengan rahasia yang lain. Dari Allahlah Nabi Muhammad mengetahui segala rahasia yang tersembunyi; dan Nabi Muhammad sebagai makhluk yang dimuliakan Allah. Dan beliusering menjalankan puasa.
  29. Dan akan dimuliakan makhluk-Nya, kalau mau mengeluarkan shodaqoh; Dan dimuliakan makhluk-Nya, bagi yang dapat naik haji; Dan makhluk-Nya akan dimuliakan, kalau melakukan ibadah shalat.
  30. matahari berbeda dengan bulan, perbedaannya terdapat pada cahaya yang dipancarkaannya. Sudahkan hidayat iman (petunjuk iman) terasa dalam dirimu? Taukhid adalah pengetahuan yang penting untukmenyembah pada Allah, juga makrifat harus kita miliki untuk mengetahui kejelasan yang terlihat, ya ru’yat (ya dengan melihat pakai mata telanjang) sebagai saksi adanya yang terlihat dengan nyata.
  31. Mari kita dalami sifat Allah, Sifat Allah yang sesungguhnya, Yang asli, aslinya dari Allah. Sesungguhnya Allah itu, Allah yang hidup. Segala af’ale (perbuatannya) adalah berasal dari Allah. Itulah yang dimaksuddenga ru’yati.
  32. Kalau hidupmu senantiasa kamu gunakan ru’yat, maka itu namanya khoiroti (kebajikan hidup), makrifat itu hanya ada di dunia. Johar awal khoiroti (mutiara awal kebajikan hidup), sudah berhasil kau dapatkan, untuk itu secara tidak langsung kamu sudah mendapatkan pengawasan kamil (penglihatan yang sempurna).
  33. Insan kamil (manusia yang sempurna) berasal dari dzatullah (Dzatnya Allah), sesungguhnya ketentuan ghaib yang telah tersurat, adalah kehendak Dzat yang sebenarnya. Sifat Allah berasal dari Dzat allah. Insan kamil namanya, kalau mengetahui keberadaan Allah itu.
  34. Bilamana tidak tertulis namamu, di dalam nuqod ghaib insan kamil; itu bukan berarti tidak tersurat, yaitulah yang dunamakan puji budi (usaha yang terpuji). Berusaha memperbaiki hidup, akan menjadikan kehidupan nyawamu semakin baik.
  35. dan serta badannya, akan disebut badan Muhammad, yang mendapat kesempurnaan hidup. Syeh Melaya berkata lemah lembut, “Mengapa sampai ada orang mati yang dimasukkan neraka? Mohon penjelasan yangsebenarnya”.
  36. nabi Khidir berkata berkata dengan senyuman manis, “Wahai Melaya! Maksudnya begini. Neraka Jasmani juga ada di dalam dirimu sendiri, dan yang diperuntukkan bagi siapa saja yang belum mengenal dan meniru laku nabiyullah. Hanya ruh yang tak mati.
  37. Hidupnya ruh jasmani itu, yang sama dengan sifat hewan, maka akan dimasukkan ke dalam neraka. Juga mengikuti bujuk rayu iblis, atau mengikuti nafsu yang merajalela seenaknya tanpa terkendali, tidakmengikuti petunjuk Tuhan Allah SWT.
  38. Mengandalkan ilmu saja, tanpa mempedulikan sesama manusia keturunan Nabi Adam, itu disebut iman tahdlot. Ketahuilah bahwa umat manusia itu termasuk badan jasmanimu. Pengetahuan tanpa guru itu, ibarat orang menyembah tanpa mengetahui yang disembah.
  39. Dapat menjadi kafir tanpa diketahui, karena yang disembah kayu dan batu, tidak mengerti apa hukumnya, itulah kafir yang bakal masuk neraka jahanam. Adapun yang dimaksudkan dengan ruh idhofi adalah, sesuatu yang kelak tetap kekal sampai akhir nanti kiamat dan tetap berbentuk ruh yang berasal dari ruh Allah.
  40. Yang dimaksud dengan cahaya adalah yang memancarkan terang serta tidak berwarna, yang seantiasa menerangi hati penuh kewaspadaan yang selalu mawas diri / introspeksi mencari kekurangan diri sendiriserta mempersiapkan akhir kematian nanti, merasa sebagai anak Adam yang harus mempertanggungjawabkan segala perbuatan; Ruh Idhofi sudah ada sebelum kau tercipta.
  41. Sirik itu dapat terjadi, tergantung saat menerima sesuatu yang ada, itulah yang disebut johar ning. Keenamnya johar awal. Johar awal adalah mutiara ibaratnya. Mutiara yang indah penghias raga agar nampakmenarik. Mutiara akan tampak indah menawan.
  42. Bermula dari ibarat yang ketujuh, di kala mendengarkan sabda Allah Yang Mutlaq. Ruh serba pasrah kepada Dzatullah. Itulah yangdimaksudkan Ruh Idhofi.
  43. Johar awal itu pula, yang menimbulkan Shalat daim. Sahalat daim tidak perlu mengunakan air wudhu; untuk membersihkan khadas tidak disyaratkan. Itulah shalat bathin yang sebenarnya, diperbolehkan makan tidur syahwat maupun berak / buang kotoran.
  44. Demikaian tadi cara Shalat Daim (shalat selamanya selagi masih hidup dimana saja dan kapan saja serta situasi bagaimanapun juga) perbuatan itu akan termasuk hal yang terpuji, yang sekaligus merupakanperwujudan syukur kepada Allah. Johar tadi bersatu padu menghilangkan sesuatu yang menutupi / mempersulit mengetahui keberadaan Allah Yang Terpilih. Adanya itu menunjukkan adanya Allah, yang mustahilkalau tak berwujud sebelumnya.
  45. Kehidupan itu seperti layar dengan wayangnya, sedang wayang itu tidak tahu warna dirinya; Akibat junub sudah bersatu erat, tetap bersih badan jisimmu. Adapun Muhammad, badan Allah; Nama Muhammadtidak pernah pisah dengan nama Allah.
  46. Bukankah hidyat itu perlu diyakini? Sebagai pengganti Allah; dapat pula disebut utusan Allah, Nabi Muhammad juga termasuk badan mukmin atau orang yang beriman. Ruh Mukmin identik pula dengan Ruh Idhofi dalam keyakinanmu.
  47. Disebut iman maksum, kalau sudah mendapat ketetapan sebagai panutan jati (orang yang sudah layak dijadikan suri tauladan segala tingkah lakunya). Bukankah demikian itu pengetahuanmu? Kalau tidakhidup begitu, berarti itu sama dengan hewan yang tidak tahu adanya sesuatu di masa yang telah lewat.
  48. Kelak nanti tidak boleh tidak, karena tidak mengetahui ke-Islaman maka matinya tersesat, kufur serta kafir badannya. Namun bagi yang telah mendapatkan pelajaran ini, segala permasalahan dipahami lebihseksama baru dikerjakan.
  49. Allah itu tidak berjumlah tiga. Yang menjadi suri tauladan adalah nabiMuhammad. Bukankah sebenarnya orang kufur itu, mengingkari empat masalah yang prinsip. Di antaranya bingung karena tiada pedoman manusia yang dapat diteladani. Kekafiran mendekatkan pada kufur kafir.
  50. Fakir dekat dengan kafir, sebabnya karena kafir itu, buta tuli tidak mengerti tentang surga dan neraka. Fakir tidak akan mendapatkan pada Tuhan. Tidak mungkin terwujud pendekatan itu.
  51. Tidak menyembah dan memuji, karena kefakirannya. Sperti itulah kalau fakir terhadap Dzatullah . dan sesungguhnya Tuhan Allah, mematikan kefakiran manusia. Kepastiannya ada di tangan Allah sematamata.
  52. Adapun wujud Dzatullah itu, tidak ada satu makhluk pun yang mengetahuinya kecuali allah sendiri. Ruh Idhofi menimbulkan iman. Ruh Idhofi berasal dari Allah Yang Esa. Itulah yang disebut iman tauhid. Meyakini adanya Allah juga adanya Muhammad sebagai Rasulullah.
  53. Tauhid hidayat yang sudah ada padamu, menyatu dengan Tuhan Yang Terpilih. Menyatu dengan Tuhan Allah, baik di dunia maupun di akhirat. Dan kamu harus merasa bahwa Tuhan Allah itu ada dalam dirmu.
  54. Ruh Idhofi ada di dalam dirimu. Makrifat itulah sebutannya. Hidupnya disebut Syahadat (kesaksian), hidup tunggal di dalam hidup. Sujud rukuk sebagai penghiasnya, Ruku berarti dekat dengan Tuhan Pilihan.
  55. penderitaan yang selalu menyertai menjelang ajal (sekarat) tidak akan terjadi padamu. Jangan iku takut menghadapi sakaratilmaut, dan jangan ikut-ikutan takut menjelang pertemuanmu dengan Allah. Perasaan takut itulah yang disebut dengan sekarat. Ruh Idhofi tidak akan mati; Hidup mati, mati hidup.
  56. Akuilah sedalam-dalamnya bahwa keberadaanmu itu, terjadi karena Allah itu hidup dan menghidupi dirimu, dan menghidupi segala yang hidup. Sastra lip (huruf alip) harus dimintakan penjelasannya pada guru. Jabar jer-nya-pun harus berani susah payah mendalaminya. Terlebih lagipengetahuan tentang kafir syirik!.
  57. Sesungguhnya semua itu, tidak dapat dijelaskan dengan tepat maksudsesungguhnya. Orang yang menjalankan shalat itu berarti sudah mendapatklan kanugrahan sifat Tuhan Allah. Sebagai saran pengabdian hamba terhadap Tuhan Allah. Yang menjalankan shalat sesungguhnyaraga. Raga yang shalat itu terdorong oleh adanya iman yang hidup pada diri orang yang menjalankannya.
  58. Seandainya nyawa tidak hidup, maka lam tamsyur (maka tidak akan menolong) semua perbuatan yang dilajalankan, secara yang tersurat, shalat itu adalah perbuatan dan kehendak orang menjalankan, namunsebenarnya Allah-lah yang berkehendak atas hambanya. Itulah hakikat dari Tuhan penciptanya. Ruh Idhofi berada di tangan orang mukmin.
  59. Semua ruh berada ditangan-Nya, yaitu terdapat pada ruh Idhofi, Ruh Idhofi adalah sifat jamal (sifat yang bagus / indah) keindahan yang berasal dari Dzatullah. Ruh Idhofi nama dari sebuah tingkatan (maqom),yang tersimpan pada diri utusan Allah (Rasulullah).
  60. Syarat jisim lathif (jasad halus) itu, harus tetap hidup dan tidak boleh mati. Cahayanya berasal dari ruh itu, yang terus-menerus meliputi jasad. Yang mengisyaratkan adanya sifat jala (sifat yang perkasa) dan sekaligusmengisyaratkan adanya sifat jamal (sfat keindahan).
  61. Johar awal mayit (Mutiara awal kematian) itu, memberi isyarat hilangnya diri ini. Jelasnya, semua yang tercipta akan mati. Setelah semuanya menemui kematian di dunia, maka akan berganti hidup diakhirat. Kurang lebih tiga hari perubahan hidup itu pasti terjadi.
  62. Asal mula manusia terlahir dari adanya ayah, ibu serta Tuhan Yang Maha Pencipta. Satu kelahiran berasal dari tiga asal lahir. Ya itulah isyarat dari tiga hari. Setelah dititipkan selama tujuh hari, maka dikembalikan kepada yang menitipkan (yang memberi amanat). Titipan itu harus seperti sedia kala.
  63. Bukankah tauhid itu sebagai sarana untuk menjadi makrifat? Titipan yang ketiga puluh hari, itu juga termasuk titipan, yang ada kemiripan dengan tujuh hari. Kalau menangis mengeluarkan air mata karena menyesali sewaktu masih hidup.
  64. Seperti teringat semasa kehidupan itu berasal daru nur. Yang mana cahayanya mewujudkan dirimu. Hal itulah yang menimbulkan kesedihan dan penyesalan berkepanjangan. Tak terkecuali siapun akan merasakan itu semua, sebagaimana kamu mati, saya merasa kehilangan. Mati hilangbertepatan hari kematian yang keempat puluh hari.
  65. Bagaimanakah yang lebih tepat untuk melukiskan persamaan sesama makhluk hidup secara keseluruhannya? Allah dan Muhammad masingmasing berjumlah satu. Seratus pun dapat dilukiskan seperti satu bentuk. Seperti diibaratkan dengan adanya cahaya, yang bersumber dari cahayaMuhammad yang sesungguhnya.
  66. Sama halnya pada saat kamu memohon sesuatu. Ruh jasad hilang di dalamnya di hadirat Tuhan Yang Maha Pemberi. Tepat pada hari yang keseribu, tidak ada yang tertinggal. Kembali pada Allah sudah dalamkeadaan yang sempurna. Sempurna seperti semula pertama diciptakan.
  67. Syeh Melaya terang hatinya, mendengar pelajaran yang baru diterimanya, dari guru Syeh Mahyuningrat Nabi Khidir. Sudah senanglah hatinya, tapi belum mau keluar dari tubuh Nabi Khidir, Syeh Melayamenghaturkan sembah, sambil berkata manis seperti gula madu. NEXT
Iklan

One response »

  1. […] Lanjutan dari artikel sebelumnya: Suluk Linglung Sunan Kalijaga [2/3] […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s