Lanjutan dari : Suluk Linglung Sunan Kalijaga [2/3]


Suluk Linglung Sunan Kalijaga (Bag. 3)


[ TERJEMAHAN PUPUH VI ]


07-02-10.02.17


PUPUH VI

DHANDHANGGULA


Episode VI : Sunan Kalijaga menerima wejangan dari Nabi Khidir.

  1. Kalau begitu hamba tidak mau keluar dari raga dalam tuan. Sudah nyaman di sini saja. Yang bebas dari segala sengsara derita. Tiada selera makan dan tidur. Tidak merasa ngatuk dan lapar. Tidak harus bersusahpayah. Bebas dari rasa pegal dan nyeri. Yang terasa ada hanyalah rasa nikmat dan manfaat. Nabi Khidir memperingatkan : Yang demikian itu tidak boleh kalau tanpa kematian!.
  2. Jeng nabi Khidir semakin merasa iba. Kepada pemohon yang meruntuhkan rasa iba. Kata nabi Khidir kalau begitu yang awas sajalah! Terhadap hambatan upaya! Jangan sampai kau kembali! Yang benarmemohonnya dan yang waspada! bagimu anggaplah! Kalau sudah kau kuasai! Jangan hanya digunakan dengan dasar bila ingat saja! Karena hal itu sebagai rahasia Allah!.
  3. Tidak diperkenankan kalau obrolan! Kepada sesama manusia! Kalau tanpa seizinnya! Sekiranya ada yang akan mempersoalkan.Memperbincangkan masalah ini! Jangan sampai terlanjur! Jangan sampaimembanggakan diri! Jangan peduli terhadap gangguan cobaan hidup! Tapi justru terimalah dengan sabar!.
  4. Cobaan hidup yang menuju kematian. Ditimbulkan akibat buah pikir. Bentuk yang sebenarnya ialag tersimpan rapat di dalam jagatmu! Hidup tanpa ada yang menghidupi kecuali Allah saja. Tiada antara lamanyatentang adanya itu. Bukankah sudah berada di tubuh? Sungguh bersama lainnya selalu ada dengan kau! Tak mungkin terpisahkan!.
  5. Kemudian tidak pernah memberitahukan dari mana asalnya dulu. Yang menyatu dalam gerak perputaran bawana. Bukankah beritanya sebenarnya sudah ada padamu? Cara mendengarnya bagi ruh sejati. Tidaklah menggunakan telinga. Cara melatihnya. Juga tanpa dengan mata. Adapun telinganya, matanya yang diberikan oleh Allah. Ada padamu itu.
  6. Secara lahir sukma itu sudah ada padamu. Secara batinnya ada pada sukma itu sendiri. Memang demikanlah penerapannya. Ibarat seperti batang pohon yang dibakar. Pasti ada asapnya api. Menyatu dengan batang pohonnya. Ibarat air dengan alunnya. Seperti minyak dengan susu. Tubuhnya dikuasai oleh gerak dan kata hati. Demikian pun denganHyang Sukma.
  7. Sekiranya kita mengetahui wajah hamba Tuhan. Dan sukma yang kita kehendaki ada. Diberitahu akan tempatnya. Seperti wayang ragamu itu. Karena dalanglah segala geraknya wayang. Sedangkan panggungnyajagad. Bentuk wayang adalah sebagai bentuk badan/raga. Bergerak bila digerakkan. Segala-galanya tanpa kelihatan jelas antara perbuatan dengan ucapan.
  8. Yang berhak menentukan semuanya. Tidak tampak wajahnya kehendak. Justru tanpa wujud dalam bentuknya. Karena sudah ada pada dirimu. Upama yang jelas ketika berhias. Yang berkaca itu Hyang Sukma. Adapun bayangan dalam kaca itu yang ada dalam kaca. Itulah dia yang bernama manusia sesungguhnya. Bentuknya di dalam kaca.
  9. Lebih besar lagi pengetahuan tentang kematian ini. Dibandingkan dengan kesirnaan jagad raya. Karena lebih lembut seperti lembutnya air. Bukankah lebih lembut kematian manusia? Artinya lembut ialah karena kecilnya. Sekacil kuman. Bukankah masih karena kecil lembut kesirnaanmanusia? Artinya lebih dari “Karena menentukan segalanya”. Sekali lagi artinya lembut ialah sangat kecilnya.
  10. Dapat mengenai yang kasar dan yang kecil. Mencakup semua yang merangkak. Melata tiada bedanya. Benar-benar serba lebih. Lebih pula dalam hal menerima perintah tidak boleh mengandalkan. Pada ajaran pada pengetahuan. Karenanya bersungguh-sungguhlah menguasainya.Badan/dirimu doronglah dalam meraihnya. Pahamilah liku-liku ulah tingkah manusia kehidupan!.
  11. Ajaran itu ibarat sebagai benih. Yang diajari ibarat lahan. Umpama kacang dan kedelai. Yang disebar di atas batu. Kalau batunya tanpa tanak. Pada saat kehujanan dan kepanasan. Pasti tidak akan tumbuh. Tapi bila kau bijaksana. Melihatmu musnakan pada matamu! Jadikanlah penglihatan sukma dan rasa.
  12. Demikan pun wujudmu, suaramu. Serahkan kembali kepada Yang Empunya suara! Justru kau hanya mengakukan saja. Sebagai pemiliknya. Sebenarnya hanya mengatas namai saja. Maka dari itu kau jangan memiliki. Kebiasaan yang menyimpang. Kecuali hanya kepada HyangAgung. Dengan demikian kau “angraga sukma” yaitu kata hatimu sudah bulat menyatu kawula Gusti. Bicaralah menurut pendapatmu!.
  13. Bila pendapatmu benar-benar menyakinkan. Bila masih mearasakan sakit dan masih was-was. Yaitu kejangkitan bimbang sebenarnya. Bila sudah menyatu dalam satu wujud. Apa kata hatimu apa yang kau rasakan. Apa yang kau pikir terwujud ada.yang kau cita-citakan tercapai. Berartisudah tercakup/kuasai olehmu. Jagad seisinya justru benar-benar untukmu. Sebagai upah atas kesanggupanmu sebagai kholifah di dunia.
  14. Bila sudah memahami dan menguasai amalan dan ilmu ini. Hendaknya semakin cermat dan teliti atas berbagai masalah. Masalah itu satu tempat dengan pengaruhnya. Sebagai ibaratnya sekejap pun tak boleh lupa. Lahiriyah kau landasilah. Pengetahuan empat hal. Semuanya tanggapilah secara sama. Kelimanya yang satu itu ialah tersimpan baik. Berguna / dapat dipakai dimana saja!.
  15. Artinya mati di dalam hidup. Atau sama dengan hidup di dalam mati.ialah hidup abadi. Yang mati itu nafsunya. Lahiriah badan yangmenjalani mati. Tertimpa pada jasad yang sebenarnya. Kenyataannya satu wujud. Raga sirna, sukma muksa. Jelasnya mengalami kematian! Syeh Melaya, terimalah hal ini sebagai ajaranku dengan senang hatimu!Anugerah berupa wahyu akan datang kepadamu.
  16. Sepertti bulan yang diterangi cahaya temaram. Bukankah temurunnya wahyu menghilangkan kotoran. Bersih bening hilang kotorannya. Berkala lagi kemudian katanya. Nabi Khidir berkata dengan lemah lembut dantersemyum. Tak ada yang dituju. Semuanya sudah tercakup haknya. Tidak ada yang diharapkan dengan kaprawiran, kesaktian semuanya sudah berlalu. Toh semuanya itu alat peperangan.
  17. Habislah sudah wejangan Jeng Nabi Khidir. Syeh Melaya merasa ewuh pakewuh di dalam hati. Mawas diri ke dalam dirinya sendiri. Kehendak hati rasanya sudah mendapat petunjuk cukup. Rasa batinnya menjelajahi jagad raya tanpa sayap. Ke seluruh penjuru jagad raya. Jasadnya sudahterkendali. Menguasai hakekat semua ilmu. Umpama bunga yang masih lama kuncup. Sekarang sudah mekar berkembang.
  18. Ditambah bau semerbaknya. Karena sudah mendapatkan sang Pancaretna, kemudian disuruh keluar dari raganya nabi Khidir kembali ke alamnya semula? Lalu Nabi Khidir berkata He, Melaya. Kau sudahditerima Hyang Sukma. Berhasil menyebarkan aroma Kasturi yangsebenarnya. Dan rasa yang memanaskan hatimu pun lenyap.
  19. Sudah dijelajah seluruh permukaan bumi. Berarti kau sudah mengetahui jawaban atas pertanyaanmu! Arti godaan hati ialah rasaqana’ah yang semakin dimantapkan. Ibarat memakai pakaian sutera yang indah. Selalu mau mawas diri. Semua tingkah laku yang halus. Diresapkan ke dalam jiwa, dirawat seperti emas. Dihias-hias dengan keselamatan, dan di pajang seperti permata. Agar mengetahui akan kemauannya berbagai tingkah laku manusia.
  20. Perhaluslah budi pekertimu / akhlak ini! Warna hati kita yang sedang mekar baik. Sering dinamakan kasturi Jati. Sebagai pertanda bahwa kita tidak mudah goyah. Terhadap gerak-gerik sikap hati yang inginmenggapai sesuatu tanpa ilmu. Ingin mendalami pengetahuan tentang Ruh itu justru keliru. Lagi pula cara penataan kita itu ibaratnya busana justru dipakai sebagai kerudung. Sedangkan yang ikat kepala sebagai sarungmu.
  21. Kemudian terlibat ingatan kita dulu. Ibarat menjalani mati ketika berada di adalam rongga ragaku. Tampak olehnya Sunan Kalijaga cahaya. Yang warnanya merah dan kuning itu. Sebagai hambatan yangmenghadang agar gagal usaha / ikhtiar / cita-citanya. Dan yang putih ditengah itulah. Yang sebenarnya harus diikuti. Kelimanya harus tetap diwaspadai. Kuasailah seketika jangan sampai lupa! Bisa dipercaya sifatnya.
  22. Berat kesediaanku berbuat sebagai penyekat. Untuk alat pembebas sifat berbangga diri. Yang selalu didambakan siang dan malam. Bukankah aku banyak sekali melekat / mengetahu. Caranya pemukaagama. Yang ternyata salah. Di dalam penafsiran. Dan penyampaianketerangannya? Anggapannya sudah benar tahunya. Akhirnya malah mematikan pengertian yang benar. Akibatnya terporosok di dalam penerapannya.
  23. Ada pemuka agama yang ibaratnya menjadi burung. Ia hanya sekedar mencari tempat bertengger saja. Yaitu pada batang kayu yang baik rimbun, lebat buahnya, kuat batangnya. Untuk kemudian hidup baru. Ada yang orang berpangkat / kedudukan, ada yang ikut orang kaya. Akhirnya dimasyarakatkan. Ada manusia bodoh dan malas yang bergendang paha lewat keduanya. Melebihi posisi orang banyak / masyarakat. Ibaratnyaseperti sekedar memperoleh kemulian sepele / naif. Jadinya tersesat-sesat sesatnya / berat.
  24. Ada pula yang justru memiliki jalan terpaksa. Menumppuk kekayaan harta dan istri banyak. Ada pula yang memilih jalan mengusai putranya. Putra yang bakal mengusai. Hak asasi orang seseorang. Semuanya ingin mendapatkan yang serba lebih. Di dalam memiliki jalan mereka. Kalaudemikan halnya, menurut pendapatku. Belumlah mereka itu para pemuka agama berserah diri sepenuhnya kepada Allah tapi masih berkeinginan pribadi / berambisi. Agar semua itu menjunjung harkat dan martabatnya.
  25. Catatan, tatanan yang tidak pasti. Belum bisa disebut manusia utama. Yang demikan itu menurut anggapannya. Dan perasannya mendapatkan kebahagiaan, kekayaan dan mengerti yang hak benar. Bila kemudiantertimpa kedudukaan, terlanjur biasa. Memilih jalan sembarang tempat. Tanpa menghasilkan jerih payahnya dan tanpa hasil. Dalam arti mengalami kegagalan total.
  26. Setidak-tidaknya menimbulkan kecuriagaan. Apa kebiasaan kita hidup di dunia. Ketika mengahadapi datangnya maut. Di situlah biasanya. Tidak kuat menerima ajal. Merasa beratnya meninggalkan kehidupandunia tak tersangkal lagi. Pokonya masih lekat sekali pada kehidupan duniawi. Begitulah beratnya mencari kemuliaan. Tidak boleh lagi merasa terlekat kepada anak-istri. Pada saat-saat menghadap ajalnya.
  27. bila salah menjawab pernyataan bumi. Lebih baik jangan jadi manusia! Kalau matinya binatang mudah penyelesaiannya. Karena matinya tanpa pertanggungjawaban. Bila kau sudah merasa hatimu benar. Akan hidup abadi tanpa hisab. Ibaratnya tubuh bumi itu. Keterdiamannya tidak membantu. Kesepiannya tidak mencair. Tidakmempedulikan pembicaraan orang lain yang ditujukan kepadanya.
  28. Ingatlah pada agamawan selalu mencari penyelesaian yang benar. Yaitu bagaimana hilang dan mati bersama raganya ialah yangdiidamkannya. Sehingga mempertinggi semedinya. Untuk / agar mengejar keberhasilan. Tapi sayang tanpa petunujuk Allah, kecuali hanya semedi semata. Tidak disertai dukungan ilmu. Akibatnya hasilnyakosong melompong. Karena hanya mengandalkan pikirnya. Ini berarti belum mendapatkan tata cara hidup yang benar hakiki yang seperti ini adalah idaman yang sia-sia.
  29. Bertapanya sampai kurus kering. Karena sedemikaan rupa caranya menggapai tentang kematian. Akhirnya meninggalnya tanpa ketentuan yang benar. Karen terlalu serius. Adapun cara yang benar adalah. Tapa itu hanya sebagai ragi / pemanas / pemantap pendapat. Sedangkan ilmu itu sebagai pendukung. Tapa dan ilmu tidak akan berhasil. Bila ilmu tanpa tapa.
  30. Rasanya hambar tidak akan memberi hasil. Berhasil atau tidaknya tergantung pada penerapannya. Dicegah hambatannya yang besar. Sabar dan tawakal. Bukankah banyak agamawan palsu. Ajarannya setengah-setengah. Kepada shabatnya. Para sahabatnya merasa pintar sendiri. Yang tersimpan di hati, segera dilontarkan segala uneg-unegnya. Disampaikan kepada gurunya.
  31. Penyampaiaanya hanya berdasarkan perkiraan belaka. Dahulunya belum mendapatkan pelajaran. Sangking tobatnya tidak merasa enak kalau menyanggah. Lalu ikut-ikutan mendengarkan. Denganmenanamkan. Rekaniwan yang terbesar. Dianggapnya sudah pasti pendapatnya benar. Pendapatnya / ilmunya adalah wahyunya itu anugrah yang khusus diberikan pribadi. Akhirnya sahabatnya diaku sebagai anak.
  32. Ditekan-tekankan tuntutan besar berupa ikatan batin. Oleh guru bila sudah akan mejang / menyampaikan ajaran. Duduk mereka sering berdekatan. Sehingga sahabat dikuasai oleh guru, dan snag guru menjadisahabatnya batin. Luasnya tanggapan bahwa. Segala merupakan wahyu Allah. Kebaikannya, keduanya antara guru dan sahabat. Salingmemahami. Kalau seseorang diantara mereka dianggap sebagai orang yang berilmu.
  33. Harus ditaati segala apapun yang diucapkan itu. Umpama berjalan juga harus disembah biasanya bertempat di pucuk-pucuk gunung. Pengaruh ajarannya sangat mengundang perhatian. Menemuiperguruannya. Bila ada yang berguru / menghadap. Nasihatnya macammacam dan banyak sekali. Seperti gong besar yang dipukul. Bukankah yang ajarannya dibeber tapi tidak bermutu / bobot. Akibatnya rugilah mereka yang berguru.
  34. Janganlah seperti itu orang hidup. Anggaplah ragamu sebagai wayang. Digerakkan ditempatnya. Terangnya blencong itu. Ibarat panggung kehidupan. Lampunya bulan purnama. Layarnya ibarat alam jagad raga yang sepi kosong. Yang selalu menunggu-nunggu buah pikir / kreasi manusia. Batang pisang ibarat bumi tempat mukimnya wayang / manusia. Hidupnya ditunjang oleh yang nanggap.
  35. Penanggapnya ada di dalam rumah, istana. Tidak diganggu siapa pu boleh berbuat menurut kehendaknya. Hyang premana dalangnya / sutradaranya. Wayang pelakunya. Adakalanya digerakkan ke utara, ke selatan dan barat serta ketimur. Seluruh gerakannya. Digerakkan oleh sutradara. Bila semuanya digerakkan berjalan. Semua ada di tangan dalang.
  36. Dialognya menyampaikan pesan juga. Bila bercakap, lisannya itu menyampaikan berbagai nasihat. Menurut kehendaknya. Para penanton dibuat terpesona. Diarahkan melekat pada dalang. Adapun yang nanggap itu selamanya tak akan tahu. Karena ia tanpa bentuk dan ia berada di dalam puri / rumah / istana. Ia tanpa warna itulah dia HyangSukma.
  37. Cara Hyang Premono mendalang / menggerakkan wayang. Mempercakapkan tentang dirimu. Tanpa memperbedakan sesama titah. Di samping itu bukankah dia tidak terlibat sebagai pelaku? Misalnyaberada dalam tubuh? Atau yang ibarat minyak di dalam susu. Atau api di dalam kayu? Berhasrat sekali karena belum diberi petunjuk sehingga menggelar do’a di kayu, dakon dan gesekan. Dengan beralatkan sesma batang pohon.
  38. Gesekan itu disebabkan oleh angin. Hangusnya kayu, keluarlah kukusnya. Tak lama kemudian apinya. Apai dan asapnya. Keluardari kayu itu. Bermula dari ingat pada saat. Awal mulanya. Semua yang tergelar ini.Berasal dari tiada, manusia diciptakan lebih dari makhluk yang lain. Bukankah itu yang disebut rahsa.
  39. Manusia itu tidak paling mulia daripada ciptaan yang lain. Maka dari itu janganlah mudah terpengaruh oleh buah pikirmu yang bulat. Bulat atas segala gerak dan kehendak. Adapun isi jagad itu jangan mengira hanya manusia saja. Tetapi berisi segala macam titah, hanya saja manusia itu. Penguasanya satu. Yang menghidupi seluruh jagad seisinya. Demikianlah tekad yang sempurna itu.
  40. Hai Syeh Melaya segeralahkan menyudahi. Kembalilah kamu ke pulau Jawa! Bukankah sebenarnya kau mencari dirimu juga? Syeh Melaya bergegas. Bersembah dan berkata dengan beriba kasih untukmemenuhinya. Yang disebut Kalingga Murda. Hamba setia dan taat. Nabi Khidir lalu musnah lenyap. Syeh Melaya tampak berdo’a di samudera. Tapi tidak tersentuh air.
  41. Syeh Melaya sangat berjanji dalam hati. Atas peringatan / ajaran sang guru yang sempurna. Bukankah ia masih sangat ingat? Hasrat hati yang telah memiliki / mengetahui ilmu kawekas. Isinya jagad telah terkuasaidalam hati. Merasa mantap dan disimpan baik dalam ingatan. Sehingga serba mengetahui dan tak akan keliru / salah lagi. Diresapi dalam jiwa dan dijunjung tinggi sampai mati. Ia telah lulus dari sumber aroma Kasturi yang sebenarnya. Sehingga sifat panasnya hati lenyap.
  42. Sesudah itu Syeh Melaya pulang. Hatinya sudah tidak goyah lagi karena segala ajaran itu tampak jelas dalam batin. Ia tidak salah lagi lihat dirinya siapa sebenarnya. Penjelmaan jiwanya menyatu dalam satuwujud. Walaupun secara lahiriah dirahasiakan. Norma tatacara / perilaku jiwa satria. Berhasil dikuasai. Bukan ia sudah menggunakan mata batinnya yang tajam / peka? Ibarat hewan dengan bebannya!.
  43. Sudah tak akan ada / terjadi, kematian dalam kehidupan. Setelah bagaimana ia menerima ajaran gurunya. Sama sekali tidak diragukan lagi. Seluruh ajaran gurunya. Sudah tamat dan dikuasai dengan tersimpan dalam hati. Serta diimankan dengan cermat. Mematuhi semua ajaran guru. Perbuatan pikiran dan rasa. Bukankah diuji dalam hati yang suci dan bening? Benar-benar terasa sebagai anugrah Tuhan.
  44. Sesungguhnya sang guru benar-benar. Yang sudah hilang raganya tidak ada. Selalu terbayang dalam hatinya. Dan sudah duterapkan sebagai kekasihnya. Adapun segala ketercelaan hati sudah lenyap.Rasanya tenanglah. Adapun segala ketercelaan hati sudah lenyap. Rasnyatenanglah dunia dan akhirat. Karena kebersihan dan kesucian jiwa sudahdiketemukan. Sukma suci dalam segala tingkah lakunya itu memahami sepaham-pahamnya.
  45. Bukankah sudah memahami buah pikir lewat petunjuk? Sehingga tidak takut akan kematian. Yang sering timbul dalam buah pikiran? Ia sudah mengaharapkan bahwa raganya boleh kalau kematian yang mulia.Yang diridhoi oleh Tuhan / Hyang Widi. Namun sebenarnya tak ada anggapan perasan. Yaitu rasa seperti itu. Tiadanya pandang / wawasan seperti itu. Bukankah sudah lenyap selamanya. Tinggal jiwa suci yang terpuji mulia? Mulia seperti zaman kunanya / awalnya.
  46. Tidak meragukan kematian yang sebenarnya. Yang menjelmput maut setiap saat. Tidak merasa akan kematiannya. Toh yang rusak itu nafsunya dan. Badan, jiwa hidup abadi dan aman sejahtera. Senang, mulia dan merdeka. Semuanya itu sudah diterapkan dalam hati. Sehingga berpegang pad dan kuasa-Nya. Semuanya bersih, abadi, suci dan merata sama posisinya. Sudah mengetahui akan makna kematian yangsebenarnya.
  47. Ia tidak takut kapan pun maut menjemput. Yang sempurna ialah yang diterima oleh Tuhan. Tak akan tampak wujudnya. Adapun kesempurnaan mati ini. Sekali lagi ialah sudah aman, sejahtera, mulia. Itulah maknakematian yang sempurna. Yaitu tidak meninggalkan hak-Nya Ketujuh alam sudah lenyap. Bukankah lenyapnya alam ini sudah jelas? Kini yang lain ibarat kau sajalaha!
  48. Pengusa alam bukankah sudah kita ketahui? Yang bernawa Abirawa artinya yang berkuasa dan berkehendak. Adapun tentang alam yang keenam, artinya ialah yang telah lenyap: 1. timur, 2. barat, 3. utara, 4. selatan, 5. atas. 6. bawah serta kayu dan batu dan diri kita sendiri. Bila kita telah mati. Yang ada awang uwung kosong dan sepi. Yang terdengar hanya deru angin, debur air da kobaran api di alam dahana.
  49. matahari, bulan, bukankah yaitu masuk alam juga? Dua puluh tiga alam yang serba nafsu itu. Semuanya baru kadis belaka. Walaupun bukankah sama dahulunya? Syeh Melaya sudah memahami hal itu semua?Kalau itu semuanya adalah alam serba nafsu. Dan alam yang sebenarbenarnya sudah jelas? Penguasa alam semua. Sedang yangmenyelaraskan hanyalah alam anbiyak ini. Alam anbiyak itu baunya harum wewangi. (harmadipedia / myrepro)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s