KOMPAS dan Kampanye Anti Islam

Kasus razia warung makan Saenih di Serang yang dinilai cenderung mendeskriditkan Islam. Peristiwa seperti ini juga pernah terjadi pada tahun 1997 di mana Kompas disomasi oleh sejumlah tokoh umat Islam. Mengapa disomasi?

Screenshot_2016-07-04-04-17-03_1

Ketika Para Tokoh Islam Menggugat Kompas

Dua tulisan tajuk rencana yang dimuat harian nasional Kompas pada 28 Agustus 1997 dan 2 September 1997 begitu menyengat perasaan kaum muslimin.Tajuk rencana yang berjudul “Kekerasan Membuat Aljazair Runyam, Korban Terus Berjatuhan” (28/8) dan “Situasi Aljazair Semakin Kusut, Ratusan Orang Dibantai” (2/9) membuat umat Islam marah karena dinilai sangat tendensius, berbau SARA, dan provokatif. Tajuk tersebut ditulis untuk menyikapi kemenangan Partai Islam FIS (Front Islamique du Salute/Front Penyelamat Islam) di Aljazair, yang kemudian kemenangan itu diberangus oleh pemerintah berkuasa, sehingga menimbulkan gejolak.

Protes datang pertama kali dari Komite Indonesia untuk Solidaritas Dunia Islam (KISDI) yang dimotori oleh aktivis Islam H. Ahmad Sumargono dan pimpinan Perguruan Asy-Syafi’iyah Jakarta, KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i. KISDI menilai, Kompas telah memberikan citra buruk bagi partai Islam tersebut, padahal kemenangan FIS di Aljazair, dilakukan lewat mekanisme demokrasi yang sah. Tajuk rencana yang ditulis oleh Kompas, jelas mewakili sikap resmi media tersebut dalam memandang kemenangan FIS.

Mungkin harian dengan oplah cukup besar ini tak menduga, jika dua tajuk rencananya itu akan membangkitkan kemarahan kaum muslimin di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, ratusan orang yang terdiri dari para tokoh Islam di negeri ini, anggota DPR, para aktivis ormas Islam, aktivis kampus, dan lain-lain memberikan surat kuasa kepada Tim Pembela Islam (TPI) agar menggugat surat kabar tersebut dan menuntutnya untuk meminta maaf kepada umat Islam.

Diantara deretan nama tokoh-tokoh nasional umat Islam yang memberikan surat kuasa kepada Tim Pembela Islam (TPI) adalah;

  1. Dr. M. Amien Rais,
  2. Dr. Kuntowijoyo, 
  3. Prof.Dr. Deliar Noer,
  4. Prof. Daud Ali,
  5. Dr. Affan Ghafar,
  6. Dr. Ahmad Syafi’I Ma’arif,
  7. KH. Misbach,
  8. KH. Abdullah Wasi’an,
  9. KH. Abdul Rasyid Abdullah Syafi’i,
  10. KH. A. Cholil Ridwan,
  11. KH. Abdurrahim Nur, Lc., MA,
  12. KH. Dalali Oemar,
  13. KH. Abbas Aula,
  14. H. Hussein Umar,
  15. H. Ahmad Sumargono,
  16. H. A.M Fatwa,
  17. H. Syuhada Bahri,
  18. Buya Mas’oed Abidin,
  19. M.S Ka’ban,
  20. Fadli Zon,
  21. Nu’im Hidayat,
  22. Aru Syeif Assad,
  23. Lukman Hakiem,
  24. Tamsil Linrung,
  25. H. Sulaeman Zachawerus, dan lain-lain.

Tercatat ada 120 nama yang memberikan surat kuasa, yang berasal dari berbagai latarbelakang dan daerah di Indonesia.

Apa yang membuat para tokoh dan aktivis tersebut marah kepada Kompas? Berikut diantara kutipan dari kalimat yang tercantum dalam tajuk rencana Kompas yang begitu memojokkan Partai FIS dengan stigma dan penggiringan opini, seolah-olah FIS adalah kelompok berbahaya, sadis, dan brutal:

  • (1). “Aksi orang-orang bersenjata itu digambarkan sangat kejam, sadis, dan mengerikan.” (alinea ke-7, Tajuk 2/9/97)
  • (2). “Kekejaman yang dilakukan kaum militan FIS memang luar biasa. Pikiran dan emosi kita terusik serangkaian aksi pembantaian di Aljazair.” (alinea ke-4, Tajuk 2/9/1997)
  • (3). “Berbagai kalangan geram dan marah terhadap tindakan kaum militan FIS, yang dinilai tidak berperikemanusiaan, sadis, brutal, dan tanpa ampun.” (alinea ke-6, Tajuk 2/9/1997)
  • (4). “Mereka adalah korban kebrutalan kaum teroris.” (alinea le-2, Tajuk 28/9/1997)
  • (5). “Sentimen keagamaan yang dikampanyekan FIS justru melahirkan kekejaman, teror, dan sadisme.” (aline ke-17, Tajuk 2/9/1997)
  • (6). “Sulit diharapkan pula FIS akan memerintah secara demokratis sekiranya mendapatkan kesempatan untuk itu.” (alinea ke-20, Tajuk 28/8/1997)

Demikian beberapa kutipan dari Tajuk Kompas yang begitu tendensius terhadap kemenangan partai Islam di Aljazair tersebut. Majalah Media Dakwah yang terbit pada Oktober 1997 mempertanyakan sikap pers milik kelompok Katholik itu. “Apakah benar, dua tajuk berturut-turut untuk suatu masalah yang jauh letaknya dari Indonesia tersebut dibuat dengan niat yang luhur?

Cara menggiring opini pembaca agar menjadi “ketakutan” terhadap Islam, begitu sistematis dilakukan oleh Kompas,” demikian tulis majalah yang menjadi corong Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) itu.

Selain dua tajuk rencana itu, beberapa judul berita Kompas pun tak luput dari protes umat Islam. Abu Alif Iman, seorang aktivis KISDI mengumpulkan beberapa kliping pemberitaan Kompas, diantaranya berjudul; 

  • 28 Orang Tewas Dibantai di Aljazair (11/2), 
  • Wanita Hamil Jadi Korban Pembantaian di Aljazair(26/6), 
  • Malam Neraka di Aljazair (28/8), dan 
  • 345 Tewas Dibantai di Aljazair (31/8).

Jauh sebelum itu, pada 1 Mei 1997, Kompas juga menulis Tajuk yang sangat berbahaya dan tendensius dengan memojokkan Necmettin Erbakan (Najmuddin Erbakan), tokoh Partai Refah (Welfare Party), Turki, yang juga guru dan senior dari Presiden Turki Recep Tayyep Erdogan. Kompas membuat judul tajuk rencana, “PM Erbakan Dinilai Melakukan Siasat Politik Berbahaya Bagi Turki”. Dalam tajuknya, Kompas memuji sekularisme ala Mustafa Kemal Attaturk dan menyudutkan umat Islam sebagai ancaman serius bagi sekularisme yang sudah ada di negeri itu. Kompas menulis, “Aktivisme kaum fanatisme dalam kehidupan publik dinilai sudah semakin mencolok, seperti sistem pendidikan. Sekiranya kecenderungan ini dibiarkan, lambat laun prinsip negara sekular yang ditanamkan pahlawan Mustafa Kemal Attaturk akan terdesak,” demikian tertulis dalam Tajuk tertanggal 1 Mei 1997 itu.

Apa yang dilakukan oleh Kompas melalui tajuknya tersebut terkesan ceroboh. Sebab, media-media besar seperti The Washington Post, The New York Time, dan Newsweek saja tidak berani menuduh FIS sebagai pelaku dari serangkaian aksi kekerasan yang terjadi di Aljazair. Apalagi, setelah melemparkan tuduhan, dengan bahasa yang sangat vulgar, Kompas menulis bahwa korban pembantaian sadis adalah anak-anak, orangtua, wanita hamil yang dirobek perutnya dan dipenggal lehernya. Kemudian penggalan kepala itu digantung di atas pintu rumah. Luar biasa vulgarnya bahasa yang digunakan Kompas saat itu.

Berbeda dengan Kompas, media massa nasional lainnya, seperti Republika, menulis bahwa meski FIS memiliki Tentara Penyelamat Islam sebagai sayap militernya, namun mereka berkali-kali mengutuk pembantaian terhadap warga sipil tersebut. Artinya, ada pernyataan resmi dari FIS yang membantah keterlibatan mereka dalam aksi kekerasan. Inilah yang tidak dijadikan sebagai perimbangan berita oleh Kompas.

Screenshot_2016-07-04-04-17-27_1

Protes umat Islam yang diwakili oleh Tim Pembela Islam (TPI) kemudian mendapat respon dari petinggi di redaksi Kompas. Wakil Pemimpin Redaksi Kompas, Ninok Leksono menyatakan permintaan maaf di hadapan media massa di antaranya SCTV, ANTV, GATRA, Repulika, Majalah Ummat, dan Forum Keadilan. Ninok mengatakan, Kompas mengakui kesalahannya terkait tajuk tersebut dan meminta maaf pada umat Islam. Kompas juga menon-aktifkan penulis tajuk tersebut yang bernama Rikard Bangun.”Kami tidak bermaksud menyinggung umat Islam, tapi kalau ada yang tersinggung, ya kami minta maaf,” ujar Ninok. Selain permintaan maaf, Kompas juga memuat tajuk rencana pada 20 September yang berjudul, “KompasSangat Menghargai Aspirasi dan Perasaan Umat Islam.”

Selain itu pada 29 September 1997, bertempat di Hotel Sahid Jakarta, diadakan pertemuan antara Tim Pembela Islam (TPI) yang terdiri dari Hartono Mardjono, SH, Luthfie Hakim, SH, dan lain-lain. Selanjutnya, masih bertempat di hotel yang sama, pada 3 Oktober 1997, dihadapan Ketua MUI KH. Hasan Bashri, para aktivis Islam yang tergabung dalam KISDI, dan TPI, pemimpin Harian Umum Kompas, Jacob Oetama, menyampaikan permohonan maafnya secara langsung. Dalam pertemuan itu juga disepakati,Kompas akan memuat pernyataan maafnya dalam setengah halaman iklan di medianya dan di dua media massa Islam; Suara Hidayatullah dan Media Dakwah.

Protes umat Islam terhadap pemberitaan Kompas tidak terjadi ujug-ujug. Sebelumnya, tokoh KISDI, Ahmad Sumargono, sudah mengirimkan tuklisan-tulisan yang mengkonter pemberitaan Kompas, namun tak pernah dimuat oleh redaksi. Karenanya, jalur hukum yang ditempuh oleh umat Islam dengan memberikan somasi, adalah jalan terakhir untuk meredam kemarahan umat. Karena biar bagaimanapun, kezaliman media massa sekular terhadap umat Islam, harus diluruskan.

Namun, apakah setelah itu tulisan dan pemberitaan Kompas terhadap umat Islam berubah? Faktanya, terkait isu-isu yang menyangkut aspirasi umat Islam, seperti Perda-perda bernuansa syariat di berbagai daerah, penolakan umat Islam terhadap Ahmadiyah, kasus terorisme, dan lain-lain, pemberitaan Kompas masih menyudutkan umat Islam.[1]

Pemberitaan Pelecehan Terhadap Raja Brunei

Pada Senin 27 April 2015 situs berita Kompas.com telah memuat tulisan berjudul “Kehidupan Rahasia Sultan Brunei dari Seks, Dusta, dan Hukum Syariah”.

Judul artikel tersebut kini telah mengalami perubahan menjadi “Membedah Kehidupan Rahasia Sultan Brunei”.

Namun link (http://internasional.kompas.com/read/2015/04/27/12060491/Kehidupan.Rahasia.Sultan.Brunei.dari.Seks.Dusta.dan.Hukum.Syariah) tersebut sudah tidak bisa diakses karena sudah dihapus.

Tulisan tersebut dianggap ‘menyerang’ hukum Islam yang diberlakukan oleh Sultan Brunei. Tulisan itu juga memuat peryataan sejumlah artis Hollywood bahwa mereka “merasa muak dengan penerapan hukum Islam kuno tersebut”.

Pusat HAM Islam Indonesia (PUSHAMI) berencana melakukan somasi terhadap media Kompas terkait pemberitaan Kesultanan Brunei. Menurut Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Publik PUSHAMI, Jaka Setiawan, surat somasi sudah disiapkan.

“Surat sudah didrafter, tinggal menunggu tanda tangan ketua. Kemungkinan Senin (04/05) akan dilakukan somasi,” katanya saat dihubungi Kiblat.net, pada Jumat (01/05) di Jakarta.

PUSHAMI mengambil langkah hukum karena Kompas dianggap meneruskan propaganda hitam situs news.com.au yang menyerang penerapan syariat Islam di Brunei Darussalam.

“Kompas melecehkan syariat Islam. Beritanya tidak relevan, menghubung-hubungkan syariat Islam dengan hedonisme di kerajaan Brunei yang informasinya belum dikonfirmasi,” terang Jaka.

Menurut Jaka, Kompas telah memuat mentah-mentah pemberitaan situs tersebut. Sehingga menghina dan merendahkan syariat Islam.

“Kompas telah membangun framing pemberitaan dan sentimen negatif terhadap Islam dan Syariat Islam. Masih banyak sudut pandang yang lebih objektif dalam pemberitaan itu, kenapa tidak diambil,” ujarnya.[2]

Tuntutan PUSHAMI pada Kompas.com Terkait Pemberitaan Raja Brunei

Sebagai bentuk protes atas pemberitaan yang dianggap menghina syariat Islam, Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI) telah melayangkan surat tuntutan kepada media online Kompas.com.

Jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, maka lembaga HAM Muslim Indonesia itu akan melanjutkannya ke jalur hukum.

“Kami sudah melayangkan protes keras terhadap pemberitaan yang menghina syariat Islam oleh Kompas.com,” kata Direktur Kajian Strategis dan Kebijakan Publik PUSHAMI, Jaka Setiawan, kepada Kiblat.net di Jakarta, Rabu (13/05).

Sebagaimana diberitakan Kiblat.net sebelumnya, Kompas.com telah memuat berita terkait Kesultanan Brunei pada tanggal 27 April 2015. PUSHAMI menilai bahwa pemberitaan tersebut merupakan bagian dari propaganda hitam yang menyerang syariat Islam, dengan menghubungkannya dengan gaya hidup keluarga Kesultanan Brunei.

Jaka menjelaskan bahwa lembaganya telah melayangkan surat protes kepada kantor media Kompas pada hari Senin (11/05).

Dalam suratnya PUSHAMI menuntut agar Kompas.com menghapus dan mencabut pemberitaan yang di dalamnya terdapat penghinaan terhadap syariat Islam.

“Tuntutan kami, Kompas harus meminta maaf secara terbuka kepada umat Islam melalui media di mana mereka menyebarkan pelecehan tersebut,” lanjut Jaka.

Tak hanya itu, lanjut Jaka, PUSHAMI juga mendesak bahwa Kompas harus menyampaikan permintaan maaf melalui media sosial yang dikelolanya. Langkah serupa juga harus dilakukan di media afiliasi Kompas, seperti Tribunnews, yang juga memuat berita pelecehan dan penghinaan tersebut.

“Kami juga meminta Kompas memecat Egidius Patnistik,” tegas Jaka.

Egidius Patnistik merupakan editor berita Kompas.com yang berisi pelecehan terhadap syariat Islam itu. Berita tersebut diambil dari sebuah situs asing news.com.au, yang dinilai PUSHAMI telah menyebarkan propaganda hitam.

Jaka menambahkan bahwa pihak Kompas telah mulai membuka pembicaraan dengan PUSHAMI, dalam rangka menindaklanjuti surat protes tersebut. PUSHAMI sendiri masih akan menunggu beberapa hari, sambil melihat keseriusan Kompas dalam menanggapi protes mereka.

“Kami akan segera melaporkan Kompas dan editornya ke kepolisian jika tuntutan kami tidak dipenuhi,” tegas Jaka.[3]

Kompas.Com Minta Maaf Atas Pemberitaan Raja Brunei

Pasca pemberitaan yang dinilai melecehkan syariat Islam, perwakilan media Kompas.com mendatangi kantor Pusat Hak Asasi Muslim Indonesia (PUSHAMI).

Ahmad Subechi (Pemimpin Redaksi Kompas.com), Tri Wahono (Redaktur Pelaksana Kompas.com), dan Mohammad Bakir (Redaktur Pelaksana Kompas cetak) mendatangi kantor PUSHAMI di bilangan Tanah Abang, Jakarta Pusat Jumat (15/05). Mereka bertiga datang dalam rangka menindaklanjuti somasi PUSHAMI terkait pemberitaan Kompas.com seputar keluarga Sultan Brunei.

Dalam pemberitaannya Kompas.com mengaitkan sisi negatif gaya hidup keluarga Sultan Brunei dengan syariat Islam, sehingga dinilai melecehkan syariat Islam. Seperti diketahui bersama, pemerintah Brunei Darussalam sejak setahun yang lalu telah mulai menerapkan syariat Islam di negaranya.

Menanggapai pemberitaan tersebut, PUSHAMI kemudian melayangkan somasi kepada media Kompas. Mereka menuntut Kompas agar mencabut berita tersebut di seluruh media yang tergabung dalam grup mereka, meminta maaf kepada umat Islam, serta memecat penulis berita yang ternyata bersumber dari media asing itu.

Pertemuan tersebut juga diikuti para wartawan dari sejumlah media Islam, termasuk Kiblat.net. Tak terlihat suasana tegang dalam pembicaraan yang membahas masalah yang serius bagi umat Islam itu. Bahkan sesekali ketiga perwakilan Kompas tersebut menyeruput kopi yang dihidangkan di hadapan mereka.

Di awal pembicaraan, Ketua Umum PUSHAMI, Muhammad Hariadi Nasution menyampaikan bahwa pihaknya pihaknya tidak bisa mentoleransi segala sesuatu yang melecehkan syariat sebagai salah satu simbol Islam. Menurutnya tak ada yang salah dalam syariat, dan tak akan pernah salah.

“Jadi kalau sudah urusan syariat itu urusan umat Islam,” tegas pria yang berprofesi sebagai advokat itu.

“Mudah-mudahan mas-mas saya doaikan kita semua dapat hidayah,” imbuh Hariadi, yang kemudian diamini oleh para petinggi di media Kompas tersebut.

Berulang kali ketua PUSHAMI itu mengungkapkan kalimat kekecewaan atas pemberitaan Kompas.com yang telah mencitraburukkan syariat Islam akibat. Yang lebih disesalkannya lagi, peristiwa itu seolah mengulang kembali kesalahan yang sama yang dilakukan grup media Kompas yang telah menerbitkan buku berisi penghinaan terhadap Nabi beberapa tahun yang lalu.

Tahun 2012 timbul kontroversi akibat buku berjudul 5 Kota Paling Berpengaruh di Dunia karangan Douglas Wilson yang diterbitkan Kompas Gramedia. Kalimat penghinaan yang menyebut Nabi Muhammad sebagai perampok dengan jelas termuat di dalam buku itu. Kemudian buku itu ditarik dari peredaran dan dimusnahkan setelah muncul reaksi keras dari Umat Islam.

Dihadapan jajaran PUSHAMI para perwakilan Kompas itu mengaku bersalah atas munculnya berita berjudul “Kehidupan Rahasia Sultan Brunei dari Seks, Dusta, dan Hukum Syariah”, yang dinilai PUSHAMI terlihat sebagai sebuah agenda setting. Mereka pun menyampaikan permintaan maaf, meskipun sempat diganti judulnya berita itu akhirnya diturunkan.

“Ini karena keteledoran dari Kompas.com,” kata sang Pemred, Ahmad Subechi.

Rupanya Kompas sendiri juga menyadari potensi dampak lain dari pemberitaan buruk yang menyangkut simbol-simbol Islam. Mereka tahu betul bagaimana reaksi yang akan timbul jika melakukan penghinaan terhadap syariat. Masih segar dalam ingatan masyarakat dunia peristiwa penyerangan majalah Charlie Hebdo yang menyakiti umat Islam dengan memuat karikatur Nabi Muhammad, dan menjadi pelajaran berharga bagi siapapun.

“Itu yang saya bilang tadi, ini bagus lho (hanya) dikirimi surat,” kata Redpel Kompas Cetak Mohammad Bakir. “Kalau yang begini-begini mah tidak ada apa-apanya, maksudnya tidak menakutkan,” imbuhnya.

Pertemuan itu pun berakhir dengan kesepakatan tertulis bahwa pihak Kompas akan mencabut seluruh berita dan tulisan yang terkait dengan berita tersebut, termasuk di media sosial seperti Twitter. Berita yang sama yang dimuat di media-media yang menjadi sindikasi grup media Kompas, seperti Tribunnews, juga akan dicopot.

Selain itu Kompas juga akan menyampaikan permintaan maaf atas pemberitaan mereka di seluruh media yang dimiliki. Umat Islam, melalui PUSHAMI, juga akan diberikan hak jawab atas pemberitaan tersebut.

Kompas sepertinya tak bisa menuruti tuntutan PUSHAMI yang meminta agar media tersebut memecat penulis berita pemicu polemik itu. Pemred Kompas.com mengatakan telah memindahkannya ke bagian lain.[4]

FPI Minta Kompas Berlaku Adil dalam Pemberitaan

Ketua Bidang Penegakan Syariat Dan Khilafah Front Pembela Islam (FPI), KH Hamid menyeru agar redaktur Kompas.com berlaku adil dalam memberitakan kasus razia warung makan pada siang hari Ramadhan.

“Kalau mau makai asas keadilan, kenapa tidak ada pemberitaan pada saat Nyepi di Bali. Di sana ada pihak-pihak yang tidak suka bisnisnya ditutup, kalau itu diangkat itu keadilan namanya,” ujarnya pada Kamis (16/06) lalu.

Hamid mempertanyakan sikap Kompas kenapa hanya di bulan Ramadhan saja pemberitaan seperti itu, sedangkan di hari-hari besar lainnya tidak. Jika memang Kompas ingin mengangkat sisi keadilan dan humanismenya, haruslah berlaku adil dengan memberitakan yang lainnya.

“Sebetulnya kalau mau ikut agama, jadi pemeluk agama memang pahit rasanya, tapi akan nikmat di akhirat nanti,” jelasnya.

Selain terkait framing pemberitaan, Hamid mengatakan bahwa kunjungan FPI di kantor Kompas juga untuk mempertanyakan maksud pemberitaan Kompas yang dinilai menciderai penegakan syariat Islam.

“Kita datang ke sini karena untuk dialog, diskusi, semoga ke depan tidak terjadi lagi. Kita datang ke sini karena efek dari pemberitaan itu ke syariat. Dengan pemberitaan seperti itu, muncul spanduk dimana-mana ‘hormati orang-orang yang tidak berpuasa’. Nah, akhirnya kan terjadi pengkaitan,” katanya.

“Akhirnya pemberitaan itu memojokkan syariat, dan seolah-olah penegakan syariat itu melukai kemanusiaan,” pungkasnya.[5]

Zara Zettira: Mengapa Kompas Tak Tertarik Menulis Berita Positif Tentang Umat Islam?

Screenshot_2016-07-04-18-02-26_1

Zara Zettira, seorang netizen yang dikenal cukup vokal menyuarakan kritik kepada pejabat yang licik dan kepada media yang menutupi borok kebusukan dan dusta pemimpin kemarin, Sabtu 2 Juli 2016 kembali bersuara lantang.

Zara mengunggah beberapa foto kegiatan Front Pembela Islam FPI) di linimasa media sosial twitter miliknya. Tak lupa, Zara memberi caption  di bawah foto-foto tersebut.

Uniknya, alih-alih mengecam tindakan FPI, yang selama ini selalu disorot dari angle negatif oleh beberapa media arus utama di Indonesia, Zara justru menyentil media tersebut.

Ini salah satu contoh sentilan Zara:

Screenshot_2016-07-04-18-00-52_1

Zara berkicau, “Ini berita tentang Islam. @kompascom kok masih ngga tertarik juga yah?”, kicau Zara seraya menambahkan beberapa emotikon.

Zara pun menuliskan kembali, bahwa umat Islam seharusnya berbangga\ bila menjadi bahan pemberitaan, meskipun terkadang diberitakan dalam frame negatif.

“Berbanggalah umat ISLAM karena berita baru laku kalau bawa2 Islam. Makin diberitakan makin BERSINAR.. #Allahuakbar,” tulis Zara lagi.

Seorang netizen lain, @syihab30 menuliskan, bahwa jika umat Islam beruat baik, itu sudah biasa, tapi jika umat Islam berbuat aneh-aneh, itu baru luar biasa.

Oleh Zara, kicauan Syihab ini dijawab singkat, “Filosofi Kompas”.

Tingkat ‘kerajinan’ Kompas mengulas berita dengan framing negatif yang menyudutkan umat Islam, bukan hal baru. Berbagai kritik sudah dilontarkan, bahkan DPP FPI sudah bertandang ke kantor redaksi Kompas. Hasilnya? Kompas tetap enggan memberitakan hal positif terkait umat Islam, khususnya FPI dalam angle pemberitaan yang positif.[6]

Bos Kompas, Berhentilah Menipu Rakyat!

Screenshot_2016-06-23-03-56-32_1

Bagi para pemburu popularitas melalui jaringan media kapitalis tak pernah bernyali untuk mengkritisi bos Kompas, Jakob Oetama. Tak terkecuali, bahkan hampir semua wartawan di negeri ini menganggapnya bak dewa. Padahal, sesungguhnya Jakob Oetama adalah penjahat industri pers kelas kakap !

Lima tahun lalu, ketika saya masih aktif menulis di blog milik Kompas, salah satu wartawan didikan Jakob Oetama pernah menegur saya lantaran beberapa artikel yang saya tulis dianggap membuka aib bosnya. Tentang kejahatan Kompas menipu publik dengan aneka isu dan opini yang penuh rekayasa. Si jurnalis senior itu beberapa waktu lalu dikabarkan telah mati (selamat jalan pejuang pers kapitalis).

Saya mengamati, dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, kejahatan Kompas sungguh luar biasa. Ribuan berita diproduksi guna mendongkrak pencitraan Jokowi, Ahok dan Megawati secara membabi-buta. Dengan sasaran melanggengkan agenda politik konglomerat Aseng melalui perhelatan pemilu curang.

Saya mengamati, dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, kejahatan Kompas sungguh luar biasa. Ribuan berita diproduksi guna mendongkrak pencitran Jokowi, Ahok dan Megawati secara membabi-buta.

Dan sebaliknya, siapa pun yang dianggap bersebrangan dengan kepentingan mereka, akan digiring ke dalam berbagai rupa penistaan dan hujatan. Prabowo dan mitra koalisinya merupakan korban konspirasi paling memprihatinkan. Bayangkan, semua yang menyangkut Prabowo dan Koalisi Merah Putih (KMP) dibuat takluk. Tak berdaya untuk menghadapi derasnya arus kebohongan publik yang diciptakan oleh media utama penyokong kepentingan Neoliberal tersebut.

Kenyataan itu membuat saya heran, kenapa kejahatan Kompas dibiarkan begitu saja…? Bos Kompas Jakob Oetama benar-benar sukses memperalat para jurnalisnya menjadi pembohong dan seolah tak mendapatkan reaksi keras dari mereka yang menjadi korban permainan opini yang menyesatkan. !

Salam
Faizal Assegaf
Ketua Progres 98

Jejak Hitam Komplotan Kompas

  • “Ini tahapan finalisasi untuk menguasai Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim.” (Rumusan konspirasi “cukong” yang berkumpul bersama petinggi Kompas Gramedia Group, elite PDIP dan misionaris Katolik setelah jago yang mereka usung yakni Jokowi-Ahok berhasil menguasai Jakarta).
  • Di Antara jejak hitam komplotan Kompas, misionaris Katolik, dan konglomerasi Tionghoa: Ingat… tahun 1998 – 1999 ternyata Uskup Belo dan Kompas terlibat bermain mata untuk memuluskan kepentingan cukong yang mengincar sumber kekayaan minyak di Laut Timor. Dan untuk hajat busuk itu, maka jalan ekstrim disintegrasi (Timor Timur lepas dari NKRI) pun dimainkan.
  • Sangat menyedihkan, konspirasi Kompas dan gereja Katolik yang dipimpin oleh Uskup Belo sukses menyulut api kebencian di hati rakyat Timor-Timur. Di mana ratusan ribu warga Indonesia yang sebagian besar berasal dari Pulau Jawa yang puluhan tahun menetap di Timor-Timur menjadi sasaran perlakuan tidak manusiawi, diusir dan ribuan dari mereka kehilangan nyawa serta harta bendanya.
  • Kini Kompas Gramedia Group, cukong dan basis jaringan Katolik dengan mencolok tengah gencar memainkan “disintegrasi politik” yang memporak-porandakan tatanan sosial di negeri ini. Melalui penunggangan PDIP, Jokowi dipaksakan tampil sebagai boneka mereka untuk dipersiapkan memimpin Indonesia lima tahun ke depan.Skenario busuk itu tidak lain bertujuan untuk memperluas pengaruh Katolik dan cukong dalam penguasaan negara, sentra ekonomi-keuangan dan sebagainya. Ambisi itu sangat nyata, dan secara terbuka tokoh Katolik paling berpengaruh, Franz Magnis Suseno menyampaikan pesan berupa ancaman: “Bila Jokowi tidak jadi presiden maka Indonesia akan rusuh…”

Inilah sorotannya:

Bos Kompas: Katolik dan Cukong Wajib Dukung Jokowi

Ada cerita menarik yang beredar terbatas di kalangan petinggi Kompas Gramedia Group. Tentang konspirasi di balik opini bentukan jaringan media menghadapi pemilu 2014. Tentang “kolaborasi kotor” kelompok misionaris Katolik, konglomerasi Tionghoa dan elit PDIP. Tentang rekayasa pencitraan Jokowi – Ahok menggilas akal sehat publik.

Kisah penuh misteri itu berawal di akhir bulan Desember 2013. Orang – orang berduit triliun rupiah yang kemudian dikenal dengan “cukong”, berkumpul bersama petinggi Kompas Gramedia Group, elite PDIP dan misionaris Katolik. Atas nama kesamaan kepentingan ideologi, merumuskan sebuah konspirasi jahat.

“Kita sudah berhasil membawa Jokowi – Ahok di posisi jabatan strategis DKI Jakarta, kini selanjutnya mempermulus jalan untuk memastikan Jokowi menjadi Presiden dan Ahok tampil memimpin Jakarta.” Sembari menegaskan: “Ini tahapan finalisasi untuk menguasai Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim.”

Sembari menegaskan: “Ini tahapan finalisasi untuk menguasai Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim.”

Dengan mengusung tema liputan “Indonesia Satu”, crew redaksi Kompas bergerak lincah menyebarkan serangkaian isu dan opini penuh tipu muslihat ke ruang publik. Sasaran mendongkrak popularitas Jokowi – Ahok dan menghembuskan kebencian rakyat kepada elite dan partai non PDIP.

Hasilnya, dalam kurun waktu yang tidak lama, Jokowi – Ahok diposisikan sebagai figur fenomenal di panggung politik nasional jelang Pemilu 2014. Publik hampir setiap hari disuguhi berbagai berita dari aneka lakon dua boneka yang terus melenggang bebas mewakili ambisi cukong dan jaringan katolik.

Dengan mengabaikan visi, Jokowi – Ahok hadir bagai sinetron berdurasi tanpa batas menyihir pembaca dan pemirsa. Mulai dari serangkaian kisah blusukan Jokowi yang menguras anggaran miliaran rupiah dari APBD, hingga celoteh penuh amarah tanpa etika diperankan secara membabi-buta oleh Ahok. Mirip pertunjukan “topeng monyet”, yang setiap gerak-geriknya sudah terlatih dan sepenuhnya dikendali oleh dalang alias cukong.

Kompas punya sejarah panjang dalam kongsi kepentingan dengan cukong. Media utama milik kelompok Katolik ini, telah menjadi jaringan yang terus menggurita. Di tahun 1998 – 1999, Kompas sukses mencitrakan pengaruh Uskup Belo dalam pergolakan politik paling spektakuler yang berujung pada pelepasan Timor-Timur dari wilayah NKRI.

Uskup Belo dikesankan bagai pahlawan kemanusiaan yang secara sporadis menyudutkan ABRI (TNI) sebagai penjahat HAM dalam serangkaian kasus pembantaian massal di Timor-Timur. Tudingan tanpa bukti itu, nyaris setiap hari menghias halaman utama koran Kompas dan memicu intervensi kekuatan asing.

Setelah setahun Timor-Timur lepas dari NKRI, publik kemudian baru menyadari ternyata: Uskup Belo dan Kompas terlibat bermain mata untuk memuluskan kepentingan cukong yang mengincar sumber kekayaan minyak di Laut Timor. Dan untuk hajat busuk itu, maka jalan ekstrim disintegrasi pun dimainkan.

Sangat menyedihkan, konspirasi Kompas dan gereja Katolik yang dipimpin oleh Uskup Belo sukses menyulut api kebencian di hati rakyat Timor-Timur. Di mana ratusan ribu warga Indonesia yang sebagian besar berasal dari Pulau Jawa yang puluhan tahun menetap di Timor-Timur menjadi sasaran perlakuan tidak manusiawi, diusir dan ribuan dari mereka kehilangan nyawa serta harta bendanya.

Tragedi berdarah lepasnya Timor-Timur (Timor Leste) dari wilayah Indonesia adalah fakta sejarah yang tak terlupakan. Wilayah yang berpenduduk mayoritas Katolik tersebut oleh Kompas sangat berkepentingan untuk menjadikannya sebagai negara boneka dalam kendali Australia, Eropa dan Amerika.

Timor Leste memiliki potensi sumber kekayaan alam dan berada di zona strategis serta berdampingan dengan NTT yang berpenduduk mayoritas Katolik. Dan oleh Australia, Timor Leste telah dijadikan pangkalan militer yang setiap saat dapat memperluas pengaruhnya dengan mencaplok kawasan di sekitarnya. Jalan kearah itu semakin terbuka lebar. Dan lagi-lagi, Kompas menyembunyikan rencana licik itu dari perhatian publik.

Bagaimana dengan Jokowi – Ahok…?

Kompas Gramedia Group, cukong dan basis jaringan Katolik dengan mencolok tengah gencar memainkan “disintegrasi politik” yang memporak-porandakan tatanan sosial di negeri ini. Melalui penunggangan PDIP, Jokowi dipaksakan tampil sebagai boneka mereka untuk dipersiapkan memimpin Indonesia lima tahun ke depan.

Skenario busuk itu tidak lain bertujuan untuk memperluas pengaruh Katolik dan cukong dalam penguasaan negara, sentra ekonomi-keuangan dan sebagainya. Ambisi itu sangat nyata, dan secara terbuka tokoh Katolik paling berpengaruh, Franz Magnis Suseno menyampaikan pesan berupa ancaman: “Bila Jokowi tidak jadi presiden maka Indonesia akan rusuh…”

Lebih baik membawa mayoritas Katolik Timor-Timur lepas dari NKRI dari pada bergabung dengan ummat Islam dalam kebhinekaan Indonesia…”

Pernyataan misionaris Katolik Franz Magnis Suseno, tidak berbeda dengan apa yang pernah dilontarkan oleh Uskup Belo: “Lebih baik membawa mayoritas Katolik Timor-Timur lepas dari NKRI dari pada bergabung dengan ummat Islam dalam kebhinekaan Indonesia…”

Cara pandang para tokoh Katolik yang berkonsiprasi dengan cukong, membuat banyak pihak bertanya: “Di mana sikap nasionalisme Megawati dan politisi PDIP…?”

Hem, uang dan kerakusan kekuasaan telah melunturkan spirit nasionalisme elite partai. Masa depan rakyat di negeri ini tengah berjalan menuju jurang kehancuran. Prihatin![7]

Referensi

  • [1] kiblat.net/2016/06/15/kompas-dan-umat-islam-somasi-1997-dan-2016/
  • [2] kiblat.net/2015/05/03/soal-pemberitaan-raja-brunei-pushami-akan-somasi-kompas/
  • [3] kiblat.net/2015/05/14/ini-tuntutan-pushami-pada-kompas-com-terkait-pemberitaan-raja-brunei/
  • [4] kiblat.net/2015/05/18/kompas-com-minta-maaf-atas-pemberitaan-raja-brunei/
  • [5] kiblat.net/2016/06/18/fpi-minta-kompas-berlaku-adil-dalam-pemberitaan/
  • [6] portalpiyungan.com/2016/07/netizen-mengapa-kompas-tak-tertarik.html?m=1
  • [7] nahimunkar.com/bos-kompas-berhentilah-menipu-rakyat/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s