Pengertian Yoga

Screenshot_2016-07-09-03-48-42_1

Yoga dari bahasa Sansekerta berarti “penyatuan”, yang bermakna “penyatuan dengan alam” atau “penyatuan dengan Sang Pencipta”. Secara harfiah, definisi yoga adalah untuk ‘bergabung dan bersatu secara percuma.’ Nah apa saja yang diusahakan yogi untuk digabungkan dan dipersatukan atau persatuan? Jawabannya terletak pada konsep tiga unsur manusia yang diyakini dalam agama India kuno. Bagi mereka, manusia terdiri atas tiga bagian, yaitu pikiran, tubuh, dan jiwa. Tujuan akhir seorang siswa yang melakukan praktek yoga adalah untuk mempersatukan ketiga unsur tersebut dan mencapai persatuan dengan ‘Sang Tuhan’ atau ‘Pikiran Alam Semesta’.”

Yoga adalah salah satu jalan keselamatan dalam Hinduisme, yaitu cara mencapai Moksa atau kelepasan. Yoga berarti usaha mendisiplin diri untuk merealisasikan kehadiran Tuhan dalam diri, dan juga berarti usaha mengatur kekuatan alam dari roh, dan juga sebagai usaha penyatuan diri dengan zat ilahi. “

Yoga merupakan salah satu dari enam ajaran dalam filsafat Hindu, yang menitikberatkan pada aktivitas meditasi atau tapa di mana seseorang memusatkan seluruh pikiran untuk mengontrol panca inderanya dan tubuhnya secara keseluruhan. Masyarakat global umumnya mengenal Yoga sebagai aktifitas latihan utamanya asana (postur) bagian dari HattaYoga. Yoga juga digunakan sebagai salah satu pengobatan alternatif, biasanya hal ini dilakukan dengan latihan pernapasan, oleh tubuh dan meditasi, yang telah dikenal dan dipraktekkan selama lebih dari 5000 tahun.

Sedangkan pengertian Yoga menurut Ensiklopedi umum adalah sistim ajaran gaib yang diperkembangkan Hinduisme dengan maksud membebaskan orang dari dunia khayalan seperti yang difahami dengan pancaindera. Pembebasan ini sukar dan mungkin memerlukan beberapa kali umur hidup. Yogi (penganut yoga) yang percaya akan pantheisme (kepercayaan bahwa dunia dengan segala isinya adalah Tuhan) mencari persatuan dengan jiwa seluruh alam dunia. Penganut yoga yang atheis (tidak mengakui adanya Tuhan) mencari perasingan yang sempurna dari segala jiwa-jiwa lainnya dan pengetahuan diri sendiri yang sempurna. Kemudian terakhir yang dicari ialah kemuliaan penerangan sempurna. Para penganut yoga memakai disiplin jasmani untuk mencapai itu: penyucian, kebersihan, samadi, dan latihan.

Orang yang melakukan tapa yoga disebutyogi, yogin bagi praktisi pria dan yogini bagi praktisi wanita. Sastra Hindu yang memuat ajaran Yoga, diantaranya adalah Upaishad,Bhagavad Gita, Yogasutra, Hatta Yoga serta beberapa sastra lainnya.[3] Klasifikasi ajaran Yoga tertuang dalam Bhagavad Gita, diantaranya adalah Karma Yoga/Marga,Jnana Yoga/Marga, Bakti Yoga/Marga, Raja Yoga/Marga.

Di India, dalam kitab Upanishad dijumpai ajaran mistik (kebatinan) Hindu yang mengajarkan ‘usaha penyatuan zat manusia (atman) dengan zat semesta (brahman),’ usaha mana dilakukan dengan praktek meditasi, pengetahuan mistik dan latihan pernafasan. Zat itu dinamakan Prajapati yang dalamUpanishad Svetasvatara disebut: “Aku (self) itu adalah api, matahari, angin, bulan; sama juga dengan langit berbintang, itu adalah Brahman, air, Prajapati.” (Lin Yu Tang, The Wisdom of China & India, hlm.50. A.G. Honig dalam buku ‘Ilmu Agama I,’ menyebut hubungan antara ‘zat’ itu dan ‘manusia’ berikut: “Pada hekekatnya hanya ada satu zat, yaitu yang ‘ada’. ‘Zat’ ini dapat disebut ‘Prajapati’, tetapi ia tidak dibayangkan sebagai dewa yang berpribadi, yang berdiri di luar dunia, melainkan ‘dasar segala hal’ yang tidak berpribadi. Untuk menyatakan ‘dasar segala hal’ itu, upanishad-upanishad selalu memakai istilah ‘Brahman.’

Di dalam upanishad-upanishad mulailah manusia mendapat perhatian yang besar. Di sini manusia dipandang sebagai cermin dunia. Segala daya kekuatan alam semesta itu bertemu di dalam manusia seperti sinar cahaya yang bertemu pada titik api. Agni, dewa api, Vayu, dewa angin, dan dewa-dewa lainnya berkedudukan di dalam manusia. Dengan konsekwen, maka manusia digambarkan sebagai mikro-kosmos.’ Suatu pikiran yang lebih lanjut ialah: Kalau dunia ini pada hakekatnya satu, maka manusia pun pada hakekatnya adalah satu juga.

Yang dimaksud dengan itu ialah, bahwa segala daya kekuatan di dalam manusia hanya mempunyai satu dasar kekuatan saja. … Maka perkataan yang dipakai orang untuk menunjukkan kesatuan hidup yang terdalam pada manusia ialah ‘atman,’ sebuah perkataan yang asal mulanya berarti nafas.” (hlm.85).


Sejarah Yoga

Ajaran Yoga dibangun oleh Maharsi Patanjali (sekitar 2.500 SM), dan merupakan ajaran yang sangat populer di kalangan umat Hindu. Ajaran yoga merupakan ilmu yang bersifat praktis dari ajaran Veda. Yoga berakar dari kata Yuj yang berarti berhubungan, yaitu bertemunya roh individu (atman/purusa) dengan roh universal (Paramatman/Mahapurusa). Maharsi Patanjali mengartikan yoga sebagaiCittavrttinirodha yaitu penghentian gerak pikiran. Sastra Yogasutra yang ditulis oleh Maharsi Patanjali, yang terbagi atas empat bagian dan secara keseluruhan mengandung 194 sutra. Bagian pertama disebut: Samadhipada, sedangkan bagian kedua disebut: Sadhanapada, bagian ketiga disebut:Vibhutipada, dan yang terakhir disebut:Kailvalyapada.


Delapan Tahapan Untuk Yoga

Berdasar pada tulisan tertua tentang yoga yang dibuat oleh seorang tokoh legenda bernama Patanjali (sekitar 2.500 SM), ada langkah atau tahap-tahap tertentu yang harus dilalui seorang manusia untuk menguasai atau mengenal yoga. Tahapan tersebut berupa 8 langkah atau tingkatan yang dikenal dengan istilah Astanga (Asthangga), Asta = 8, tanga = Tangga, atau 8 tingkatan (tangga). Tingkatan tersebut berupa :


  • 1. Yama

Kontrol etis, perlakuan kita terhadap faktor eksternal dalam kehidupan.


  • 2. Niyama

Penguasaan spiritual dalam memelihara kemurnian hidup sebagai manusia ciptaan Tuhan.


  • 3. Asana

Rangkaian gerak postur untuk melatih serta memelihara juga meningkatkan fungsi seluruh bagian tubuh.


  • 4. Pranayama

Seni pernapasan yang mampu meningkatkan kualitas kehidupan secara menyeluruh.


  • 5. Pratyahara

Penguasaan diri yang bersifat internal. Kemampuan untuk fokus terhadap apa yang ada dalam ‘diri seorang manusia’.


  • 6. Dharana

Konsentrasi, apabila kita mampu memelihara fokus tadi secara lebih intens.


  • 7. Dhyana

Sebuah level di mana fokus tadi menjadi sesuatu yang bersifat otomatis, panjang namun tanpa beban. Pelakunya mampu membuat diri mereka fokus penuh konsentrasi namun terlihat luar biasa relaks serta nyaman.


  • 8. Samedhi

Saat semua pencapaian positif tersebut telah termanifestasi dalam semua aspek kehidupan sang manusia pelaku yoga.


Falsafah Yoga Menurut Agama Non Islam

Falsafah yoga hampir diterima oleh semua agama, namun Islam tidak pernah menerima falsafah yoga. Islam merupakan agama yang amat mementingkan eksklusivisme yaitu perbedaan yang mendasar dalam hal yang berkaitan dengan konsep ketuhanan. Contoh penerimaan agama lain terhadap yoga adalah sebagai berikut:

  1. Yoga Hindu: Mengatakan bahwa kita bisa bersatu dengan Tuhan dengan Roh masih ada dalam tubuh, disaat seseorang itu masih hidup di dunia ini. Jalan akhir keluar daridukkha dan samsara yang terus-menerus terjadi ini hendaklah belajar cara-cara mengamalkan Yoga dengan sungguh-sungguh.
  2. Yoga Buddha: Hasil dari pertapaannya, Gautama Buddha mendapat Kegemilangan Rohaniah ( Enlightened ).
  3. Yoga Yahudi: Yahudi juga menerima Yoga. Mereka menggunakan cara yang sama seperti latihan bernafas, membaca mantra dan melakukan pose-pose tubuh tertentu (Asana) untuk  mencapai kesadaran Ilahi ( consciousness).

Yoga dan Kekuatan Siddhi (Metafisik)

Screenshot_2016-07-09-03-49-05_1

Kemampuan seperti ‘clairaudience’(mendengar suara yang tak dapat didengar oleh telinga manusia normal), ‘clairvoyance’(kemampuan untuk melihat obyek yang atidak ada didepan indrya mata), dan‘telepathy’ (kemampuan untuk mengirim dan menerima pikiran) adalah beberapa Siddhi (occult power) yang dikenal oleh manusia. Begitu pula kemampuan untuk mengadakan dan menghilangkan sesuatu sesuai dengan keinginan disebut juga Siddhi.

Menurut agama Hindu, Siddhi dikembangkan dalam diri manusia dengan mengangkat kekuatan Kundalini atau kekuatan ular melalui saraf tulang belakang. Kekuatan Kundalini ini berada pada‘Muladhara’ di balik organ seksual pada dasar dari saraf tulang belakang manusia. Diyakini bahwa ketika seorang manusia berkembang secara spiritualitas, kekuatan ini bangkit secara perlahan dan bergerak melewati enam pusat (Chakra) di saraf tulang belakang (spinal cord) dan akhirnya menjadi satu pada titik paling atas dalam otak yang disebut ‘Sahasrara‘. Pada titik itu orang tersebut mengembangkan Siddhi.

Ada sebagian praktisi yoga menggabungkannya dengan ilmu beladiri. Seperti Perguruan Olah Raga Tenaga Dalam CAKRA MURTI (PORTEDA CAKRA MURTI atau PCM) adalah sebuah perguruan olah raga bela diri yang berdasarkan pada tenaga dalam yang diperoleh dengan melakukan senam pernafasan yoga yang telah dimodifikasi. Para pengikut aliran ini meyakini bahwa tenaga dalam selain dapat digunakan sebagai bela diri, meningkatkan kesehatan, dapat juga dipakai untuk pengobatan dan penyembuhan alternatif bagi diri sendiri maupun orang lain.

Menurut para praktisi PCM, olah raga ini memiliki keunikan tersendiri yaitu simpul-simpul kekuatan yang berada di dalam tubuh astral atau cakra. Bagi para praktisi yoga dikenal sebagai cakra yang merupakan bagian halus dari tubuh mereka. Keberhasilan seseorang belajar yoga dapat diukur dari terbukanya cakra-cakra yang terdapat pada tubuhnya. Di dalam tubuh manusia, cakra yang telah aktif berguna sebagai kendali, penggerak dan pemberi daya hidup kepada alat-alat organ tubuh manusia. Juga merupakan alat pusat energi psikis guna keseimbangan antara ke empat buah fungsi utamanya, yaitu : berfikir, merasakan, sentuhan dan intuisi. Berdasarkan ajaran yoga bahwa di dalam tubuh manusia terdapat tujuh cakra utama yang merupakan pusat energi psikis, antara lain: Cakra dasar (muladara cakra), cakra pusar (manipura cakra), cakra pankreas, cakra jantung, cakra tenggorokan (vishudacakra), cakra mahkota (sahasaea cakra)- para anggotanya ternyata dapat dirangsang untuk diakifkan/dibuka cakranya oleh Guru Besar dalam tempo yang relatif singkat (kurang dari 5 menit). Dengan terbukanya cakra tersebut, selanjutnya pada anggotanya tinggal berlatih merasakan getaran, membangkitkan dan meningkatkan tenaga dalam, dan belajar menggunakan secara efektif melalui latihan rutin.

Sebagian praktisi yoga berdalih bahwa mereka mengikuti kegiatan ini hanya semata untuk kesehatan dan kebugaran. Para praktisi PCM misalnya, merasakan bahwa dalam tempo 4 bulan saja mereka merasakan peningkatan kesehatan yang sangat signifikan. Dan bagi yang baru masuk, kondisi fisik dan kesehatannya memang baik dirasakan menjadi lebih fit. Mereka juga merasakan lebih aman dan percaya diri. Namun ada juga yang mengklaim telah dapat menggunakan tenaga dalamnya untuk mendeteksi kekuatan (getaran) jarak dekat dan jauh, mengirim kekuatan (transfer power) jarak dekat dan jauh, membuat diri kebal akan pukulan dan senjata tajam, pemecahan benda-benda keras, juga untuk menyerang dan bertahan dengan menggunakan tenaga dalam dan lain-lain.


  • Hakikat Siddi

Sesungguhnya beberapa Siddhi (occult power) yang dikenal oleh manusia seperti‘clairaudience’ (mendengar suara yang tak dapat didengar oleh telinga manusia normal), ‘clairvoyance’ (kemampuan untuk melihat obyek yang tidak ada didepan indrya mata), dan ‘telepathy’ (kemampuan untuk mengirim dan menerima pikiran) peringan tubuh dan kemampuan psikis atau kesaktian lainnya seperti dapat berjalan diatas air, kebal senjata, berbicara dengan binatang, berjalan diatas api atau perkara-perkara luar biasa lainnya adalah tipuan setan bisa kita ketahui jika kita kembali pada Al-Qur’an dan sunnah.

Imam Al-Laits bib Sa’ad pernah berkata:”Jika kalian melihat seorang laki-laki berjalan di atas air janganlah terpedaya dengannya hingga kalian cocokkan keadaannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.”Ketika ucapan ini sampai ke telinga Imam Asy-Syafi’i beliau berkata:”Tidak itu saja, semoga Allah merahmati beliau,bahkan jika kalian melihat seorang lelaki berjalan diatas bara api atau melayang di udara maka janganlah terpedaya dengannya hingga kalian cocokkan keadaannya dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah.”

Sebab kesaktian dan kedigdayaan yang dimiliki seseorang yang banyak berbuat maksiat dan kesyirikan itu hakikatnya berasal dari bantuan atau bahkan persengkokolan dengan makhluk halus!

Sementara Allah telah mengecam orang-orang yang meminta bantuan kepada bangsa Jin.

Firman Allah SWT:“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki diantara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki diantara jin,maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan”(QS.Jin:6)[1]


Kesesatan Mantra Yoga

“Mantra” menurut konsep Yoga gabungan dua akar kata – Man artinya berpikir dan Tra artinya “instrumentalitas.” Singkatnya, Mantra berarti “bentuk pikiran” (thought-form). Sebuah Mantra adalah ucapan yang memiliki kekuatan magis. Kebanyakan dari Mantra-mantra penting berasal dari Tantra. Dalam agama Hindu, dewa-dewa diwakili oleh Mantra dan setiap dewa dihubungkan dengan satu Mantra khusus. Dikatakan bahwa kekuatan Mantra bisa mengundang dewa memasuki sebuah patung dan membuat patung itu menjadi “hidup.” Semua Mantra Hindu dibentuk dari alphabet Sansekerta. Dipercayai bahwa setiap huruf memiliki potensi kekuatan yang tidak terbatas dan beberapa dari huruf itu secara tepat dikelompokkan menjadi satu Mantra.

Berhala patung yang diyakini akan dimasuki oleh Dewa setelah melafalkan mantra tertentu sesungguhnya adalah penyembahan terhadap setan. Karena syetan-syetan itulah yang menghiasi mereka untuk menyembah patung-patung dan menyesatkan mereka, kebanyakan mereka beriman kepada setan itu. Sebagaimana firman Allah:

“Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain hanyalah berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain hanyalah menyembah syaitan yang durhaka.”(An-Nisa’: 117).

Penggunaan mantra yoga ini banyak dilakukan oleh berbagai “rumah/padepokan yoga”. Pengistilahan penyebutan mantra syirik dikalangan para praktisi yoga dinamakan dengan istilah chanting. Chantingadalah menyebutkan kalimat yang diulang seperti om yoga om, adalah untuk meditasi memusatkan konsentrasi dengan membuang pikiran yang ada di luar sebelum berlatih Yoga.

Mantra om yoga om yang sering dilafalkan sebelum latihan yoga adalah sebuah mantra syirik. Dimana kita ketahui penyebutan suku kata om sering dilakukan pemeluk agama hindu atau budha. Maka jika kita menyebutkan om yoga om maka tanpa sadar kita akan terjerumus pada kesyirikan karena menyebut dan memanggil tiga dewa agama Hindu.

Om atau Aum adalah simbol trimurti. Trimurti adalah tiga kekuatan Brahman (Sang Hyang Widhi) (sebutan Tuhan dalamagama Hindu) dalam menciptakan, memelihara, melebur alam beserta isinya.


Trimurti terdiri dari 3 yaitu:

1. Dewa Brahma

  • Fungsi: Pencipta / Utpathi
  • Sakti: Dewi Saraswati yang merupakan dewi ilmu pengetahuan
  • Senjata: Gada
  • Simbol: A
  • Warna: Merah

2. Dewa Wisnu

  • Fungsi: Pemelihara / Sthiti
  • Sakti: Dewi Sri atau Dewi Laksmi
  • Senjata: Cakra
  • Simbol: U
  • Warna: Hitam

3. Dewa Siwa

  • Fungsi: Pelebur / Pralina
  • Sakti: Dewi Durga, Uma, dan Parwati
  • Simbol: M
  • Warna: Manca Warna

Apabila simbol dari ketiga dewa tersebut digabungkan, maka akan menjadi AUMyang dibaca “OM” yang merupakan simbol suci agama Hindu.

Ketiga-tiga Tuhan ini dianggap satu sehingga disebut Tritunggal. Kepercayaan tiga Tuhan ini ditentang di dalam Al-Quran sebagaimana firman Allah Ta’ala:……”Jangan kamu katakan Tuhan itu tiga. Akhirilah kepercayaan yang demikian itu untuk kebaikanmu juga. Hanya sanya Allah Ta’ala itu adalah Tuhan yang Esa”. (An-Nisa’.171).  “…. Sesungguhnya, kafirlah orang-orang yang mengatakan, ‘Bahwasanya Allah adalah salah satu dari yang tiga,’….” (Al-Maa’idah: 72-73)

Penyimpangan dan kesyirikan penyebutan mantra aum atau om tersebut sama halnya seperti penyebutan simbol-simbol Reiki seperti simbol Raku (bentuk petir) yang mempunyai fungsi mengusir kekuatan jahat. Namun simbol Raku ini sebetulnya adalah lambang kekuatan Dewa Petir Tibet yang bernama Vajrapani atau dalam bahasa Tibet disebut Dorju Raiten (kekuatan langit yang terang benderang). Simbol ini dianggap lambang kekuatan tertinggi di bumi yang bisa dikuasai manusia dan hanya dapat digunakan secara sempurna oleh seorang Dewa.

Hakikatnya jika kita memanggil simbol Rakudan memanggil namanya sesungguhnya kita memanggil kekuatan Dewa Petir Tibet dengan kata lain kita disadari atau tidak disadari akan berbuat syirik pada Allah karena memanggil dan meminta kekuatan Dewa-Dewanya masyarakat Tibet. Begitu pula halnya jika menyebut om yoga om. Kalimat tersebut adalah bahasa weda  yang berarti sebutan bagi Tuhan / Dewa-dewanya agama Hindu, maka jika merapalom yoga om maka kita telah syirik pada Allah karena menyebut dewa tritunggal Hindu.[2]


Kesesatan Meditasi Yoga

Screenshot_2016-07-09-03-49-20_1

Perlu diketahui bahwa keberadaan yoga yang banyak dilakukan oleh masyarakat dan perkumpulan yoga hari ini sebenarnya bukan yoga yang murni olah tubuh. Melainkan mereka (para praktisi yoga) banyak mencampur adukkan gerakan yoga dari tahapan meditasi diam hingga meditasi gerak (Yoga memang tak ubahnya dengan meditasi. Secara umum, senam yoga adalah meditasi dalam gerak sebab dalam melakukan gerakan yoga juga pikiran kita dilatih untuk tenang dan khusyuk) dengan selalu mengiringinya dengan bacaan-bacaan khusus disertai dengan menghadirkan hati dan kekhusyu’an. memusatkan pikiran dan konsentrasi, atau melihat pada objek gambar tertentu.

Setelah mereka melakukannya, biasanya mereka merasakan sensasi yang berbeda. Terutama bagi praktisi yoga yang ingin mendapatkan suatu kesaktian tertentu, ada yang mengklaim bahwa mereka didatangi oleh mahkluk astral (Dewa-dewi) yang sesungguhnya itu adalah setan. Atau merasa kundalininya telah bangkit yang sesungguhnya adalah syetan yang berjalan di sepanjang tulang punggungnya dengan menstimulir syaraf tubuhnya hingga merasa seolah-olah ada yang menjalar panas, dingin, getaran halus dan berbagai macam sensasi lainnya.

Dari sini jelas sekali bahwa yoga ini merupakan ibadah orang-orang Hindu. Terkhusus untuk para devotes sai baba, yoga merupakan menu wajib baginya. Dan sebagaian besar perkumpulan Sai Organisation berlindung di balik perkumpulan-perkumpulan ini. Salah satu gelar dan julukan sai baba sendiri adalah Maha Master Yogi (raja diraja Yoga). Meditasi yoga mengajarkan bahwa seseorang akan sampai pada puncak kesadaran ini yang tertinggi, atau berada pada maqam manunggaling kawula gustikarena kesempurnaan gerakan yoga yang dilakukannya, maka sai baba dianggap salah satu master yoga yang telah mencapai maqam itu. Kehebatan ilmu yoga Sai Baba diklaim telah mengantarkan dirinya pada derajad seorang avatar (menjelmanya tuhan dalam dirinya). Saibaba sendiri selalu mengingatkan pada devotesnya bahwa tuhan berada dalam diri setiap orang. Bahkan, Sai Baba menyebutkan bahwa setiap manusia adalah tuhan. Inilah buah dari pengamalan yoga yang dipraktekkan oleh para pengikut Sai Baba.

Ajaran meditasi yoga yang mengajarkan pencapaian puncak spiritual tertinggi ini tersusupi ideologi wihdatul wujud, sebuah ideologi yang sudah divonis kafir oleh jumhur ulama. Dengan demikian, tingkat bahaya ajaran ini bukan semata gerakan-gerakan bid’ah, melainkan juga bisa menjerumuskan seseorang dalam kemusryikan yang mengeluarkan seseorang dari millah.[3]


Kesesatan Ritual dan Spiritualitas Yoga

surya-namaskaraDalam prakteknya, yoga mirip dengan kegiatan olah raga/ olah tubuh dengan tujuan tertentu. Nama asli olah tubuh ini sendiri berasal dari bahasa sangsekerta yaitu sastanga suriyanama sakar yang artinya sujud kepada matahari dengan menggunakan anggota tubuh yang delapan. Dengan demkian, yoga bukanlah olahraga murni yang bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dan kebugaran tubuh maupun ketenangan batin, sebagaimana klaim para praktisinya. Secara esensi yoga lebih dekat pada salah satu bentuk ritual setan atau praktik ibadah yang ditujukan oleh pengikutnya kepada dewa matahari. Bentuk ritual ini merupakan praktik yang sudah berlangsung selama ribuan tahun yang lalu di India.

Gerakan yoga secara khususnya bertumpu pada sepuluh gerakan. Salah satu bentuk gerakannya adalah gerakan menelungkup di atas tanah dengan keadaan memanjang hingga ke delapan anggota tubuh menyentuh tanah (dua tangan, hidung, dada, dua lutut, dan jari-jemari dua telapak kaki). Gerakan ini serupa dengan bentuk gerakan sujud kepada matahari dengan menggunakan anggota tubuh yang delapan.

Jika kita amati, maka gerakan-gerakan yoga ini menyerupai gerakan para dewa yang disembah oleh orang-orang India (di dalam buku senam yoga untuk ibu hamil terdapat gerakan-gerakan seperti ini dimana gerakan-gerakan ini dijelaskan merupakan gerakan seperti gerakan dewa, jelaslah disini bahwa senam yoga memang merujuk gaya dan gerakan para dewa yang disembah oleh kaum pagan). Dalam Yoga, menggunakan doa-doa disebut mantra yoga dan gerakan-gerakan disebut hatha yoga. Dalam melakukan gerakan ini, mereka mengiringinya dengan lafadz-lafadz dan bacaaan tertentu yang beraroma mantra. Mereka melakukannya dengan irama teratur. Sebagian dari bait-bait mantra ini mengandung nama-nama matahari yang berjumlah 12. Dalam mengucapkan mantra-mantra (mereka menyebutnya afirmasi) terkadang mereka menambahinya dengan lafadz aum haraam, aum hariim, aum haruum, yang memiliki makna dalam bahasa Indonesia “Ya, Dewa atau Wahai Dewa”.

Ketika kita mengucapkan mantra  atauchanting tersebut tanpa sadar meyakini adanya para dewa yang berada dalam setiap gerakan Yoga, ataupun pada saat kita meditasi chakra dengan meyakini ada berbagai macam dewa-dewa penjaga chakra. Padahal tidak ada dewa-dewa atau tuhan melainkan Allah saja. Ingatlah firman Allah Ta’ala:

شَهِدَ اللهُ أَنَّهُ َلآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ َلآ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan tiada Tuhan selain Ia, Demikian pula para malaikat dan orang-orang yang berilmu, menyatakan demikian. Tiada Tuhan selain Ia Yang Mahaperkasa lagi Maha bijaksana”.(Ali Imran:18).

Allah telah berfirman bagi siapa saja yang mempersekutukan-Nya dan menganggap adanya Ilah lain selain Allah maka Allah tidak akan mengampuninya.

Firman Allah Ta’ala:

إِنََّ اللهَ لاَ يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللهِ فَقَدْ ضَلََّ ضَلَلا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, Dan Dia mengampuni dosa yang lain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. “(An-Nisaa’ : 116).

Waktu-waktu yang digunakan untuk melakukan kegiatan yoga ini adalah ketika terbit matahari dan terbenamnya. Kedua waktu tersebut merupakan kondisi dimana matahari berada di antara dua tanduk setan. Hendaknya seorang muslim menghindari waktu-waktu yang menjadi kebiasaan para praktisi yoga saat melakukan ritualnya. Bahkan untuk ibadah sholat sekalipun, Rasulullah melarang seseorang melakukan pada waktu-waktu tersebut.

Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa di saat seseorang melakukan gerakan-gerakan dewa ini, maka dengan mudah setan akan masuk ke dalam tubuhnya. Setan akan dengan cepat masuk ke dalam aliram darahnya ketika ia melakukan gerakan-gerakan ini. Salah seorang praktisi yoga yang diruqyah menceritakan bahwa di dalam dirinya terdapat pulihan ribu jin. Ketika ditanyakan kepada ustadz yang meruqyah dirinya, jin-jin tersebut masuk ke dalam tubuh saat melakukan gerakan-gerakan ritual itu.


  • Contoh Gerakan Yoga Surya Namaskar

Screenshot_2016-07-09-02-58-20_1

Menurut kepercayaan Hindu, Suku kata AUM (OM) yang suci adalah lambang dari Dewa yang Mutlak. Ia diucapkan pada awal dan akhir dari hampir seluruh doa Hindu. Mahareshi Manu mengatakan bahwa Aum berarti “bumi,” “langit,” dan “surga.” AUM dianggap sebagai inti dari Weda-Weda. Beberapa orang mengatakan bahwa “A” merupakan simbol atau mewakili keadaan jaga (Jagra), “U” mewakili keadaan tidur (Nidra), “M” mewakili keadaan tidur yang dalam/pulas (Sushupti) dan gabungan dari AUM mewakili seluruh kesadaran. Katha Upanishad mengatakan, “Kata yang diucapkan oleh semua Weda dan para sanyasin, dan keinginan dari orang yang melaksanakan hidup suci – kata yang akan kujelaskan kepadamu secara singkat. Suku kata ini sesungguhnya adalah Brahman; suku kata ini sesungguhnya adalah Yang Maha Tinggi.” Mandukya Upanishad mengatakan, “AUM -suku kata ini berarti seluruh dunia.” Masa lalu, masa kini, masa depan, segalanya hanyalah suku kata AUM. Bahkan tiga waktu hanyalah AUM.”

Mahareshi Patanjali yang menulis Yoga Sutra berbicara tentang Tuhan sebagai “AUM.” Dia menulis, “Pusatkan pikiran pada AUM supaya dapat berhubungan dengan Tuhan. AUM adalah simbolNya.” Dalam Upanishad-Upanishad, AUM dijelaskan sebagai Pranawa.

Menurut Ajaran dan kepercayaan mistik Hindu, AUM adalah suara yang mempunyai getaran (vibrasi) sangat tinggi atau sangat rendah, ia tidak dapat diucapkan dengan suara manusia Suara kosmis dari AUM tidak terpahami oleh indriya, tapi ia dapat dialami oleh meditasi yang amat dalam. Hampir semua mistikus dari Timur dan Barat telah membuktikan pengalaman nyata dari suara kosmis ini. Saint Francis dari Assisi, misalnya, menyebutnya sebagai satu musik yang demikian manis dan indah dan bila saja musik itu berlangsung sedikit lebih lama, dia akan sepenuhnya lenyap hilang dalam musik itu. Cara yang benar untuk mengucapkan AUM adalah dengan pengucapan dalam pikiran dan super-kesadaran. AUM harus diucapkan dengan Pratyahara (internalisasi perhatian) dan Pranayama (pengendalian prana – daya hidup – life force dan penarikan indriya secara wajar dari obyek-obyek indriya). Dikatakan bahwa dia yang mengetahui Tuhan sebagai suara kosmis menemukan dirinya bebas dari semua penderitaan dan kematian.[4]


Kesesatan Paham Reinkarnasi Dalam Yoga

Menurut Ensiklopedi Indonesia, Reinkarnasi adalah ajaran Timur Kuno tentang kelahiran kembali. Ajaran ini berpatokan kepada paham, manusia memiliki hubungan keluarga dengan hewan dan tumbuh-tumbuhan. Manusia tunduk kepada rantai eksistensi yang disebut samsara. Tenaga pendorong cakra kelahiran kembali adalah hukum Karma, hukum akibat dari perbuatan. Akibat itulah yang menyebabkan manusia lahir kembali dalam ujud mahluk yang lebih tinggi atau lebih rendah martabatnya.

Penyebutan pertama reinkarnasi dalam sejarah dunia adalah dalam Rig Weda, tapi orang Mesir Kuno juga percaya dengan perpindahan jiwa. Kalimat-kalimat dalam “Buku Kematian” dari orang Mesir (Egyptian Book of the Dead) menyiratkan kemungkinan dari satu “kelahiran kedua.” Sejarawan Yunani Herodotus memberi tahu kita bahwa orang Mesir Kuno percaya pada satu jiwa yang abadi, yang terpisah dari badan. Mereka bahkan berpikir bahwa orang-orang yang berasal dari keturunan ningrat dapat memilih bentuk tubuh mereka setelah kematian. Idea Mesir mengenai reinkarnasi kemudian diambil oleh philsuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles. Plato mengajarkan tentang keberadaan dari satu jiwa abadi yang mengalami kelahiran berulang kali.

Dalam Bagawad Gita dikatakan oleh Krishna kepada Arjuna mengenai reinkarnasi. Krishna berkata : “Pada waktu kematian, badan mati tapi jiwa tidak pernah mati. Jiwa pergi dari satu badan ke badan lain seperti badan berganti baju. Jiwa terus memasuki berbagai badan lain, sampai jiwa menghabiskan karma-karma yang melekat padanya. Proses ini dikenal sebagai reinkarnasi” (Bagawad Gita 2:22).

Para orang suci Hindu menemukan bahwa hidup manusia bukanlah sebuah kecelakaan atau kebetulan, Tuhan juga tidak bertanggung jawab atas ketidak-samaan di antara kita. Menurut agama Hindu, hidup adalah suatu aliran tanpa henti, tanpa awal tanpa akhir. Segala sesuatu adalah bagian tak terpisahkan dari keberadaan ini. Segalanya ada dari satu kehidupan kepada kehidupan lain, sampai ia mencapai pengetahuan yang benar mengenai dirinya sendiri atau sampai terjadi persatuan antara jiwa individu dengan Tuhan. Masing-masing dari kita akan mempunyai banyak kesempatan untuk mewujudkan jati diri kita yang sebenarnya. Doktrin reinkarnasi memberikan harapan kepada semua orang. Tiada seorangpun yang dihukum secara abadi. Yang terbaik dari kita akan mencapai moksha dengan satu kali kehidupan dan yang terburuk di antara kita akan mencapai moksha melalui kehidupan berkali-kali.

Bila seorang manusia menunjukkan sifat-sifat kebinatangan dalam hidupnya, dia akan lahir kembali sebagai seekor binatang buas.

Krishna mengatakan, “Aku akan menjadikan manusia-manusia kejam dan jahat lahir berkali-kali sebagai binatang buas”(Bhagawad Gita 16:19).

Seorang manusia yang rakus mungkin akan lahir sebagai seekor babi atau binatang yang lebih rendah. Weda-Weda berbicara mengenai 8.5 miliar spesies kehidupan, sejak dari amoeba sampai manusia dan dewa-dewa. Seorang manusia dapat mengambil salah satu dari bentuk-bentuk kehidupan ini. Kadang-kadang jiwa juga berada dalam keadaan tidak berobah atau diam dalam periode waktu yang cukup lama tanpa memasuki satu badan atau bentuk tertentu. Jiwa itu dapat bebas dari karma-karmanya hanya bila ia mengambil satu bentuk badan. Jadi untuk mencapai kebebasan (moksha), jiwa diharuskan untuk reinkarnasi. Bila jiwa individu (Jiwatman) telah menghabiskan semua karma-karmanya dan bersatu dengan Tuhan, jiwa yang tak terbatas (Paramatman), maka kita katakan jiwa individu itu telah mencapai pembebasan.

Tidak seperti kepercayaan Hindu yang meyakini setiap reinkarnsi bayi yang lahir membawa karma baik atau buruk yang akan mempengaruhi perjalanan hidupnya. Maka Islam meyakini bahwa setiap bayi lahir dalam keadaan suci, putih bersih ruhaninya dan tanpa dosa. Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasul Saw bersabda: Setiap bayi dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci bersih tanpa dosa). Ibu-bapaknyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani, atau Majusi. [HR. al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Ahmad, Malik]

Manusia tidaklah memikul karma buruk sewaktu dia menjadi orang lain dalam kehidupan (reinkarnasi) sebelumnya seperti kepercayaan kafir, sebab Firman Allah,

“….Dan tidaklah seorang membuat  dosa melainkan kemudharatannya (akibat buruknya) kembali kepada dirinya  sendiri. Dan seorang tidak akan memikul dosa orang lain….” (QS. Al-An’am : 164)

Dalam hal hubungan ajaran reinkarnasi dalam yoga (yang bertentangan dengan ajaran islam). Ada para praktisi yoga muslim yang kini mempercayai keyakinan reinkarnasi. Dalam yoga diajarkan untuk membangkitkan kundalini dan membuka chakra-chakra untuk terlepas dari lingkaran reinkarnasi. Dengan bangkitnya kundalini maka seseorang bisa membakar karma negatifnya dari masa kelahirannya yang berulangkali hingga pada saat dia lahir saat ini hingga akan membuat dirinya terlepas dari samsara.


Betulkah ada kebenaran paham reinkarnasi yang diajarkan oleh mistik yoga?

Mari kita bahas mengenai sesatnya kepercayaan reinkarnasi yang dibawa ajaran yoga.


Konsep kehidupan dan kematian dalam Hindu

Kebanyakan orang Hindu percaya pada perputaran “lahir, mati dan terlahir kembali” yang disebut dengan “samsara” teori reinkarnasi. Teori reinkarnasi memandang bahwa Allah telah menciptakan manusia berbeda-beda, keadaan yang tidak sama ada yang kaya ada yang miskin ada yang lahir sehat ada yang lahir cacat. Kenapa Tuhan / Allah tidak adil dengan menjadikan manusia berbeda-beda terjawab dengan teori samsara atau disebut juga dengan teori reinkarnasi atau perpindahan roh berdasar dari ayat Bhagavand Gita Ch. 4: V.22: ”ketika orang berganti pakaian dia menggunakan pakaian baru. Seperti itulah pergantian roh pada jasad, percaya pada teori karma, perbuatan berakibat pada karma, jika perbuatan baik berpahala didunia ini maupun diakhirat, perbuatan jelak ada hukumannya. Ada teori Dharma. Dharma artinya orang harus hidup dengan aturan Tuhan, kalau baik dharmanya maka karmanya baik.


Fakta Menarik Weda Tidak Membicarakan Reinkarnasi

Keimanan pada Moksa yaitu terbebasnya manusia dari perputaran lahir-mati dan terlahir kembali. Ini memberi kejelasan pada teori perpindahan roh atau samsara ini ternyata TIDAK ADA dalam kitab Weda, yang disebutkan Weda hanya “Punarjanam”. Punar artinya berikut atau lagi janamartinya “hidup” . jadi Punarjaman artinya “hidup berikutnya” atau hidup kembali tapi bukan perputaran hidup mati dan terlahir kembali ke dunia, itu hanya hidup di kehidupan mendatang. Cendikiawan Hindu menyatakan bahwa konsep perpindahan Roh  atau reinkarnasi tidak pernah ada dalam Weda. Apa yang dikatakan Weda pada Rigveda Bk. 10 Hymn 16 V.4-5 juga berbicara mengenai kehidupan setelah mati. Anda akan pergi ke “Talas” tapi tidak berbicara mengenai “mati kemudian hidup kembali”. Kitab Weda dan kitab-kitab Hindu lainnya berbicara mengenai Syurga dan alam Kahyangan. Digambarkan Syurga itu tempat yang sangat indah yang banyak mengalir sungai-sungai susu, buah-buahan yang bermacam-macam dan tempatnya indah dibicarakan Surga diberbagai tempat di dalam Weda. Dalam Weda juga dibicarakan tentang neraka. Neraka diuraikan dengan gambaran api, disebutkan api ini sangat panas, dineraka orang akan merasakan penderitaan. Disana ada konsep syurga dan neraka. Tapi dalam Weda tidak ada konsep lingkaran hidup, mati, hidup. Karena sebagai manusia, sarjana sekalipun tidak ada yang tahu akan bagaimana kita dilahirkan, apakah sehat ataukah ada cacat, ini ada dalam konsep lingkaran lahir, mati, dan terlahir kembali.


Konsep kehidupan dan kematian dalam Islam

Mari kita berbicara mengenai kehidupan setelah mati dalam Islam. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah Ch.2: V.28: “…tidakkah engkau tahu bahwasanya kamu ini asalnya mati kemudian Allah beri kamu hidup kemudian kamu mati dan dibangkitkan kembali” Pada saat berbangkit Allah menyatakan bahwa kamu datang ke dunia ini hanya sekali.

Lagi tentang kebangkitan Allah firmankan dalam Al-Qur’an pada surah Al-Mulk ch. 67 : v.2:” Allah menciptakan hidup untuk menjadi batu ujian untuk kesuksesan di akhirat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ch. 3 v. 185:”setiap jiwa pasti akan merasakan mati, hari akhir akan diperhitungkan semua amalan manusia, orang-orang yang selamat dari api neraka dan memasuki surga  disana mereka akan memperoleh segala yang mereka inginkan didunia, dunia ini tidak lain hanya berisi permainan dan tipuan belaka”.

Penjelasan kerajaan langit dalam Al-Qur’an, diterangkan bahwa disana banyak pahala, pahala diberikan berupa sungai air susu dengan buah-buahan yang bermacam-macam, tempat yang sangat indah. Al-Qur’an juga menerangkan tentang api neraka, Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah :24 menjelaskan tentang api neraka, berbeda dengan Al-Qur’an dibandingkan dengan filsafat Hindu percaya pada lingkaran “hidup, mati-hidup lagi di dunia” karena di dunia ada yang kaya, ada yang miskin, lahir sehat, lahir cacat Allah katakan itu adalah ujian. Berbeda pada setiap orang, karena ujian berbeda-beda pada setiap orang maka kehidupan bisa berlangsung.

Manusia hidup hanya sekali didunia, dan ketika ajalnya menjemput maka kehidupan alam kubur dan akhirat akan dialaminya. Termasuk juga bagi seorang anak kecil ketika sampai ajalnya, tidaklah ruhnya lahir kembali kedunia dan mengambil sosok personal lain, melainkan akan menjadi pelayan ahli surga. Sebagaimana Allah berfirman, “Mereka dikelilingi anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, dan sloki yang berisi minuman yang diambil dari mata air yang mengalir.” (Al-Waqi’ah:17-18)

Allah berfirman,”Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda apabila kamu melihat mereka, kamu akan melihatnya bagai mutiara yang bertaburan.” (Al-Insan:19)

Menurut pendapat Ali bin Abi Thalib dan Hasan Al-bashri, mereka adalah anak-anak orang Islam yang meninggal, mereka tidak memiliki kebaikan dan kesalahan, mereka menjadi pelayan surga, karena di surga tidak ada wanita yang melahirkan.

Rasulullah bersabda,

“Anak-anak orang mu’min berada di sebuah gunung di surga mereka dipelihara oleh Nabi Ibrahim Alaihissalam dan Sarah. Mereka akan dikembalikan kepada orangtuanya di Hari kiamat.”

Dari hadits diatas sangat gamblang dan jelas anak-anak orang mu’min yang meninggal akan langsung masuk Syurga dan berada dalam pemeliharaan Nabi Ibrahim dam Sarah. Tidak ada namanya anak-anak orang mu’min ketika mereka meninggal waktu kecil ruhnya akan lahir kembali mengambil bentuk manusia lain demi melunasi karmanya.

Termasuk juga anak-anak orang musyrik, ketika menginggalnya tidaklah ruhnya lahir kembali untuk menyempurnakan missinya di dunia menjadi orang baik atau muslim. Melainkan Allah langsung menjadikan mereka pelayan terhadap ahli surga.

Sebagaimana Rasulullah bersabda, “Aku memohon pada Tuhanku agar anak-anak dari bani Adam karena mereka adalah pelayan para penghuni surga.”

Rasulullah bersabda, “Anak-anak orang musyrik (yang meninggal) adalah pelayan ahli surga.”


Paham reinkarnasi yang telah difatwakan sesat oleh para ulama.

1. Dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi, Al-Mubarokafuri Abul’ala w 1353H, 10 juz, Darul Kutub Ilmiyyah, Beirut, tt., juz 5, h 222 menegaskan:

Ketahuilah, tanasukh/reinkarnasi adalah kembalinya roh-roh ke badan-badan di dunia ini tidak di akherat karena mereka mengingkari akherat, surga dan neraka, maka karena itu mereka kafir. Titik. Aku  katakan atas batilnya tanasukh/reinkarnasi itu.

ada dalil-dali yang banyak lagi jelas di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah. Di antaranya:

(Demikianlah keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata: “Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. Sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah perkataan yang diucapkan saja. Dan dihadapan mereka ada dinding sampai hari mereka dibangkitkan (QS AL-Mukmin: 99-100).

2. Dalam Kitab al-Muhalla, Ibnu Hazm mengemukakan hadits dari Ibnu Umar berkata, Rasulullah saw bersabda:

“Apabila seseorang meninggal maka dibentangkan atasnya tempat duduknya pagi dan sore. Apabila ia termasuk ahli surga maka surga lah (yang dibentangkan padanya) dan apabila ia termasuk ahli neraka maka neraka lah (yang dibentangkan padanya). Kemudian dikatakan padanya, ini tempat dudukmu yang kamu dibangkitkan kepadanya pada hari qiyamat. ” Maka dalam hadits ini bahwa ruh-ruh itu merasakan mengetahui dipilih-pilih setelah berpisahnya dari jasad. Adapun orang yang mengira bahwa ruh-ruh itu berpindah ke jasad yang lain maka persangkaan itu adalah perkataan orang-orang yang berfaham reinkarnasi/ tanasukh, dan itu adalah kekafiran menurut seluruh umat Islam.

3. Fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al Ilmiyah wal Ifta’‎

Pertanyaan: Seorang guru filsafat berkata kepada kami, bahwasanya arwah mengalami perpindahan dari seseorang kepada yang lainnya. Apakah ini benar? Kalau benar, bagaimana bisa bahwa arwahlah yang mengalami adzab dan dihisab? Kalau seandainya berpindah, maka yang dihisab adalah orang lain?

Jawab: Apa yang guru filsafat tersebut katakan kepada kalian bahwasanya arwah seseorang berpindah kepada yang lainnya, tidaklah benar.

Dan asalnya adalah firman Allah Ta’ala yang artinya, “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Tentu, kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang yang lalai dari perkara ini.” (Al A’raf 172).

Dan telah datang tafsir dari ayat ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Malik di “Al Muwattha” bahwasanya Umar bin Khatab radhiallahu ‘anhu ditanya tentang ayat ini, (yang artinya):  “Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Rabb kalian?” Mereka menjawab, “Tentu, kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami adalah orang yang lalai dari perkara ini.” (Al A’raf 172), maka beliau menjawab: “Aku telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentangnya, maka beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah Ta’ala menciptakan Adam kemudian Allah mengusap punggung Adam dengan tangan kananNya, maka dikeluarkan darinya anak keturunannya. Kemudian Allah berkata,”Aku ciptakan mereka sebagai penduduk surga, dan mereka akan beramal dengan amalan penduduk surga.” Kemudian Allah mengusap (lagi) punggung Adam, maka dikeluarkan darinya anak keturunannya (yang lain). Maka Allah berkata, “Aku ciptakan mereka sebagai penghuni neraka, dan mereka akan beramal dengan amalan penghuni neraka.(HR. Imam Malik, Imam Ahmad dan yang lainnya.).

Ibnu Abdil Bar berkata, “Makna dari hadits ini telah shohih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari berbagai jalan dari hadits Umar bin Khatab, Abdullah bin Mas’ud, Ali bin Abi Tholib, Abu Hurairah dan yang lainnya radhiallahu ‘anhum ajma’in. Begitu juga Ahlu Sunnah wal Jama’ah telah sepakat terhadap hal tersebut. Mereka menyatakan: “Sesungguhnya perkataan tentang reinkarnasi arwah dari satu jasad kepada jasad yang lainnya adalah perkataannya ahlu at tanasukh (golongan yang berpendapat adanya reinkarnasi) dan mereka adalah sekafir-kafirnya manusiadan perkataan mereka ini adalah sebatil-batilnya perkataan.[5]


FATWA ULAMA ISLAM DUNIA MENGENAI KEHARAMAN YOGA


  • Fatwa Majlis Agama Islam Singapura

“Yoga adalah termasuk diantara perkara-perkara bid’ah yang digolongkan ke dalam bid’ah dhalalah (sesat) . Yoga  mengandung unsur-unsur agama Hindu. Segala perkara yang mengandungi unsur-unsur syirik dan bisa merusakkan kepercayaan (iktikad) seperti yang menganjurkan kepada “persemadian” kepada yang bukan mengingati Allah adalah dilarang dan hukumnya haram”.


  • Fatwa Dar al-Ifta’ Mesir

“Bahwa gerakan senam semata-mata yang bermanfaat untuk kesehatan tubuh atau sebahagian anggota badan, tidaklah salah dan tidak haram tetapi ini tidak dinamakan yoga. Bahwa apa yang disandarkan kepada nama ini (yoga) semestinya dikaitkan dengan konsep ‘guru’ (mursyid), konsep cakra (titik-titik pusat) dan konsep ‘energi’ (tenaga tertinggi), semuanya ini konsep-konsep yang berkaitan dengan keberhalaan dan kesyirikan. Adapun hanya gerakan senam semata-mata maka ia tidak dinamakan dengannya (yoga). Jika ada ritual gerakan peribadatan dalam yoga yang disamarkan seolah-olah hanya gerakan senam biasa, maka ini merupakan bentuk “penyamaran” namun sesungguhnya gerakan tersebut adalah gerakan yoga yang tidak diperbolehkan dari segi syara’. Hal tersebut termasuk dalam bab menamakan sesuatu dengan bukan namanya yang sesunnguhnya hakikatnya sama.

Rasulullah SAW bersabda: ”Akan ada manusia di kalangan umatku yang meminum arak yang mereka sebut bukan dengan namanya”. Riwayat Abu Daud dan Ibnu Majah daripada Abi Malik al- Asy’ari r.a. Dalam riwayat al-Darimi daripada ’Aisyah r.a.h. menyebut: ”Mereka menamakannya dengan selain namanya lalu menghalalkannya (arak)”.


  • Pandangan Prof. Dr. Yusuf al-Qaradawi

“Dan siapa saja yang melakukan senam yoga – yaitu gerakan latihan olah tubuh – dan tidak terlintas di fikirannya unsur penyembahan, tidak juga untuk mengikuti golongan penyembah berhala, tidak juga menyerupai mereka, maka yang lebih selamat dan lebih berhati-hati adalah menjauhkan diri daripada menyerupai mereka, lebih-lebih lagi setelah mengetahui bahwa asal-usul gerakan senam yoga yang mempunyai unsur keberhalaan, kita harus mengikuti hadith Rasulullah: “Tinggalkan apa yang meragukan kamu kepada apa yang tidak meragukan”. Malah Islam telah melarang tegas setiap penyerupaan dengan penyembah berhala walaupun hanya dari segi sikap dan bentuk. Oleh sebab itu Islam telah melarang solat pada waktu terbit matahari dan ketika tenggelamnya, karena para penyembah matahari (ritual Yoga Surya namaskar) melakukan ritual penyembahan pada kedua-dua waktu ini. Tidak diragukan lagi bahwa larangan dari shalat pada kedua-dua waktu tersebut ialah sebagai pencegah jalan-jalan kerusakan walaupun ia tidak terlintas di benak orang yang sholat untuk menyembah matahari atau menghadap ke arahnya di dalam sholat”.


  • Fatwa Ustaz Mas’ud Sobri (Islamonline)

“Hukum syara’  melakukan senam yoga ini bisa disimpulkan seperti berikut:

Sesiapa yang mengamalkan yoga dan mempercayai yoga sebagai satu kepercayaan yang meningkatkan kerohanian dan diri, menyerupai aqidah agama Hindu, maka mengamalkannya adalah haram. Manakala sesiapa yang melakukan senaman yoga sebagai satu jenis senaman semata-mata yang tiada kaitannya dengan aqidah, maka hukumnya ialah harus berasaskan kepada asal yang telah diletakkan oleh jumhur fuqaha’: Bahawa asal setiap sesuatu itu harus sehingga terdapat nas yang mengharam, diringi pula dengan niat seseorang yang melakukannya, sebagaimana yang berlaku ke atasnya kebanyakan hukum berdasarkan sabda Rasulullah SAW,

”Bahawasanya setiap amalan itu dengan niat, dan setiap orang berdasarkan apa yang diniatkannya”.

Sebagaimana Islam mendapati banyak amalan tradisi kemasyarakatan seperti perkahwinan dengan pelbagai jenis. Lalu Islam membatalkan kesemuanya dan mengekalkan apayang dimaklumi oleh ramai hingga ke hari ini iaitu (kebiasaan) seorang lelaki menuntut anak gadis daripada bapanya dan lain-lain bentuk tradisi kemasyarakatan dalam perkahwinan yang telah dikekalkan oleh Islam. Berdasarkan apa yang diterangkan sebelum ini, tidak mungkin dihukumkan haram ke atas pengamalan yoga, sekiranya yoga itu hanya senaman secara jasmani semata-mata, yang tiada kaitannya dengan aqidah”.


  • Pandangan Fatwa Islamweb.net

“Yoga bukanlah hanya senaman badan semata-mata tetapi ianya ialah ibadah yang dihadapkan oleh pelakunya kepada matahari selain daripada Allah SWT. Ianya tersebar ke seluruh India sejak zaman dahulu. Nama asal bagi senaman ini dalam bahasa Sanskrit (sastanja surya nama sakar). Bermaksud sujud kepada matahari dengan lapan titik di tubuh. Bermula latihan-latihan yoga dengan kedudukan pertama yang menggambarkan penghormatan kepada yang disembah iaitu matahari. Latihan-latihan ini semestinya diiringi dengan sejumlah daripada lafaz-lafaz yang dengan jelas menyebut tentang penyembahan matahari dan menghadap ke arahnya.

Dan sekiranya ditanya: Adakah harus beramal dengan latihan-latihan ini tanpa menghadap ke arah matahari dan melafazkan ucapan-ucapan yang disebutkan (mantera)? Jawapannya: Bahawa sekiranya latihan-latihan ini terlepas daripada kalimah-kalimah keberhalaan dan menghadap ke arah matahari serta tunduk dan hormat kepadanya, ianya tidak dinamakan yoga. Sebaliknya ia adalah senaman mudah yang dilakukan oleh kesemua bangsa, maka tiada larangan untuk melakukannya ketika itu, di samping memelihara dua perkara berikut:

  1. Menyalahi susunan posisi-posisi yang disebutkan dalam yoga serta memasukkan sesetengah posisi-posisi yang baru ke atasnya bagi mengelakkan unsur penyerupaan.
  2. Tidak melakukannya pada waktu yang digalakkan oleh agama Hindu melakukannya seperti pada waktu terbit matahari”

  • Keputusan Panel Kajian Aqidah JAKIM

Kertas berkenaan yoga telah dibentangkan di dalam mesyuarat PKA sebanyak tiga kali oleh Y. Bhg. Prof. Dr. Abdulfatah Haron Ibrahim dan Urusetia JAKIM. Kali pertama ia dibentangkan pada mesyuarat PKA kali ke-31 bertarikh 20 Disember 2005, kali kedua pada mesyuarat PKA kali ke-35 bertarikh 19 Jun 2007 dan kali ketiga pada mesyuarat PKA kali ke-37 bertarikh 13-15 Mei 2008. Kesemua mesyuarat memutuskan bahawa amalan yoga adalah bercanggah dengan Islam dan secara tidak langsung mempromosikan ajaran Hindu. Mesyuarat PKA kali ke-31 juga antara lain mengesyorkan supaya senaman lain seperti taichi boleh dijadikan sebagai senaman alternatif kepada yoga kerana ianya tidak mempunyai falsafah tertentu di sebaliknya.


  • Keputusan Fatwa Kebangsaan

Muzakarah Jawatankuasa Fatwa Majlis Kebangsaan Bagi Hal Ehwal Islam Malaysia yang bersidang pada 22-24 Oktober 2008 telah memutuskan setelah mengkaji dan meneliti hujah-hujah serta pandangan-pandangan yang berkaitan yoga maka, ahli muzakarah berpandangan dan berpendapat bahawa senaman yoga yang berasal daripada masyarakat Hindu sejak sebelum masihi lagi yang menggabung amalan fizikal, unsur-unsur keagamaan, mentera dan pemujaan bagi tujuan tertentu seperti mendapatkan ketenangan dan kemuncaknya, penyatuan diri dengan tuhan atau tujuan-tujuan lain adalah tidak sesuai dan boleh merosakkan aqidah seseorang muslim.

Oleh ahli muzakarah juga bersetuju dan memutuskan apa jua jenis atau bentuk amalan yang mengandungi unsur-unsur tersebut di atas adalah dilarang dan bertentangan dengan syariat Islam. Sementara pergerakan amalan fizikal tanpa unsur-unsur di atas yang dilakukan pada zahirnya tidaklah menjadi kesalahan. Namun demikian, masyarakat Islam diingatkan wajib berhati-hati dan berwaspada daripada perkara-perkara yang boleh menghakis aqidah seseorang muslim. Seperti yang kita sedia maklum, perkara-perkara yang boleh menghakis aqidah boleh berlaku dengan sebab-sebab berikut:

  1. Kepercayaan atau keyakinan di hati
  2. Menerusi perkataan atau pengakuan dengan lidah
  3. Perbuatan

Memandangkan terdapat dua elemen tersebut dalam amalan yoga, maka umat Islam wajib memelihara aqidah mereka daripada terhakis.[6]

Sebagaimana kita ketahui, Forum Ijtima ulama Komisi III Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Indonesia III mengeluarkan fatwa bahwa yoga yang mengandung meditasi, murni ritual danspiritual agama lain hukumnya haram bagi umat Islam.

“Fatwa tersebut dibutuhkan, agar umat Islam tidak mencampur adukkan yang hak dengan yang bathil,” kata Ketua MUI Pusat, Ma`ruf Amin di Padangpanjang, Minggu.

Menurut beliau, landasan hukum atas fatwa MUI itu adalah Al Quran dalam surat Muhammad ayat 47,33 yang mengamanatkan, orang Islam agar menaati Allah SWT dan Rasul, serta jangan merusakkan (pahala) amal-amalmu. Ayat yang mengisyaratkan larangan mencampurkan adukkan yang hak dengan yang bathil Al Quran Al Baqarah 2:42.

“Fatwa tersebut lebih berdasar, persoalan hukum Yoga mencuat ke permukaan setelah munculnya berita tentang Fatwa Ahli Majlis Muzakarah Fatwa Kebangsaan (AMMFK) yang bersidang pada 22-24 Oktober 2008 di Kota Bharu Kelantan Malaysia yang memutuskan keharaman Yoga,” katanya.

Atas fatwa tersebut, menurut beliau, muncul banyak pertanyaan dan permintaan, agar MUI mengkaji, membahas dan juga memfatwakan masalah yoga. Akhirnya, pimpinan MUI membentuk Tim Peneliti Yoga yang terdiri dari Komisi Pengkajian dan Komisi Fatwa MUI yang mengeluarkan fatwa bahwa yoga yang mengandungmeditasi, murni ritual dan spiritual agama lain hukumnya haram bagi umat Islam.

Namun keluarnya fatwa tersebut tidak dilanjutkan dengan dijabarkan dan dijelaskan lebih jauh dan detail contoh praktek keharaman meditasi, ritual dan spiritual agama lain dalam yoga. Hingga dapat menyebabkan terjadinya kebingungan dalam masyarakat baik masyarakat umum dan para praktisi yoga.[7]

07-09-03.58.51

Referensi

  • [1] metafisis.net/2009/11/22/yoga-dan-kekuatan-siddhi-metafisik/
  • [2] metafisis.net/2009/11/22/kesesatan-mantra-yoga/
  • [3] metafisis.net/2009/11/22/kesesatan-meditasi-yoga/
  • [4] metafisis.net/2009/11/22/kesesatan-ritual-dan-spiritualitas-yoga/
  • [5] metafisis.net/2009/11/22/kesesatan-paham-reinkarnasi-dalavm-yoga/
  • [6] metafisis.net/2009/11/22/fatwa-ulama-islam-dunia-mengenai-keharaman-yoga/
  • [7] metafisis.net/2009/07/27/penjelaskan-fatwa-haram-meditasi-ritual-spiritual-dalam-yoga/
Iklan

One response »

  1. Imelda berkata:

    Maaf, kristen tidak menerima yoga sebagai bagian dr kristen, anda salah klw menganggap yoga diterima dikristen. Di kristen tidak pernah diajarkan utk mengosongkan pikiran, di mengijinkan roh2 lain masuk, setiap umat kristiani percaya bahwa setiap pribadi dipenuhi oleh Roh Kudus bukan roh2 lain, terima kasih.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s