Menguak Jugun Ianfu, Perbudakan Seks Militer Jepang

Konflik perang mulai di Asia beberapa tahun sebelum pertikaian dimulai di Eropa, setelah Jepang menginvasi Cina tahun 1931 jauh sebelum Perang Dunia II mulai di Eropa tanggal 1 September 1939-14 Agustus 1945. Tanggal 1 Maret 1931 Jepang menunjuk Henry Pu Yi menjadi raja di Manchukuo, Negara boneka di Manchuria. Pada tahun 1937 perang telah dimulai saat Jepang mengambil paksa Cina.

07-13-11.54.19

Tahun 1936 militer Jepang yang telah menduduki kota Shanghai mulai melaju menuju kota Nanjing yang berjarak sekitar 360 km dari Shanghai. Balatentara Jepang yang berada disana seluruhnya berjumlah sekitar 135.000 personil militer.

Oleh karena terus menerus melakukan peperangan prajurit Jepang mulai kehabisan persediaan makanan. Menyadari situasi ini markas besar militer Jepang membuat strategi baru dengan cara mencari makanan dari musuh. Ini artinya prajurit Jepang harus mulai menjarahi rumah-rumah penduduk untuk memperoleh makanan sebagai upaya bertahan hidup.

Tindakan militer Jepang ini memicu kemarahan rakyat Cina, dalam keadaan terjepit rakyat Cina mulai melawan dengan memakai cara apa saja. Tindakan orang Cina ini tentu saja menimbulkan masalah baru bagi militer Jepang yang sedang melakukan upaya kolonialisasi. Akibatnya militer Jepang mengeluarkan perintah, “Bunuh orang Cina yang terlihat di depanmu!”

Saat ini masih banyak orang berfikir bahwa dalam situasi perang segalanya dapat terjadi secara mendadak tanpa terencana. Termasuk peristiwa pahit yang menimpa ratusa ribu perempuan Asia dan Belada dalam praktek sistem perbudakan seksual dengan nama Jugun Ianfu. Benarkan praktek Jugun Ianfu sebuah peristiwa yang tidak terencana dalam situasi perang Asia Pasifik? Benarkan Jugun Ianfu sebuah profesi prostitusi yang menerima upah atas jasa layanan seksual kepada militer Jepang.

Praktek dari perintah ini prajurit Jepang mulai membunuhi orang-orang Cina tanpa membedakan kelompok dari sipil atau militer. Pembunuhan keji yang dilakukan tanpa strategi mengakibatkan banyak prajurit Jepang rusak mentalnya dan menjadi gila. Para prajurit Jepang itu bukan hanya melakukan pembunuhan masal, mereka juga mulai melakukan perkosaan secara brutal semua perempuan Cina yang terlihat di jalan-jalan

Akibatnya sebagian besar personel militer Jepang mengalami penyakit kelamin akibat melakukan perkosaan brutal terhadap perempuan-perempuan Cina. Hal ini mengakibatkan kekuatan militer Jepang di Cina melemah. Situasi ini membuat khawatir para petinggi militer di Tokyo. Sehingga mengirim seorang dokter yang bernama Aso Tetsuo untuk menyelidiki penyebab melemahnya kekuatan militer di Cina.

Tak lama setelah penyelidikan berlangsung Aso Tetsuo mengeluarkan rekomendasi untuk markas militer Jepang segera membangun fasilitas prostitusi khusus personel militer yang dikontrol langsung pihak militer. Peristiwa bersejarah ini tertuang dalam buku yang berjudul Karyubyo no Sekkyokuteki Yobaho (Positive Precautinary Measure of Sexual Disease) tahun 1939. Aso Tetsuo mengungkapkan peristiwa tersebut dalam tulisannya yang berjudul Shanghai kara Shanghai he (Shanghai to Shanghai).


Prototipe Ianjo Pertama di Dunia

07-13-09.47.24

Pembentukan Ianjo (rumah bordil militer Jepang) yang menyediakan jasa pelayanan seksual bagi tentara dan sipil Jepang dimulai sejak tahun 1932, setelah terjadi kekejaman luar biasa militer Jepang terhadap rakyat Cina di Shanghai. Hampir 1 dekade sebelum penggunaan istilah Jugun Ianfu meluas dan menjadi gejala umum di semua daerah yang dikuasai Jepang di Asia Pasifik menjelang berakhirnya Perang Dunia ke II.

Penguasa Jepang terpaksa harus mempertimbangkan kedisiplinan dan moral militer. Rencana pusat hiburan yang pertama kali diperkenalkan tahun 1932 dibawah pengawasan militer Jepang. Dapat dibuktikan dengan adanya tulisan tangan salah satu komandan kampanye Shanghai Letnan Jenderal Okamura Yasuji, yang mengakui dalam buku hariannya bahwa ia menjadi pembuat usulan pertama kali Ianjo untuk militer.


Jugun Ianfu

Jugun Ianfu (Budak Seks) pertama adalah orang Korea dari pulau Kyushu Utara di Jepang atas permintaan salah seorang penguasa militer yang dikirimkan oleh Gubernur Prefektur Nagasaki. Dasar pemikiran dibalik pembentukan sistem formal Ianjo adalah pengembangan palayanan seksual. Oleh karena itu perlu diawasi dan dikontrol untuk mengurangi jumlah terjadinya pemerkosaan yang dilaporkan dari tempat-tempat yang menjadi basis militer Jepang.

07-13-11.52.11

Dalam proses perekrutan tersebut tidak hanya melibatkan militer tetapi juga Departemen Dalam Negeri yang membawahi para Gubernur dan polisi yang kemudian memainkan peranan dalam kerjasama dengan pihak militer untuk merekrut. Cabang khusus Shanghai menggunakan penghubung-penghubung di kalangan pedagang .

Untuk memperoleh perempuan sebanyak-banyaknya untuk melayani kebutuhan seksual miter pada akhir 1937 para perempuan yang dipaksa bekerja di Ianjo-Ianjo yang terletak diantara wilayah Shanghai dan Nanking dikelola langsung oleh militer Jepang. Ianjo ini menjadi model bagi Ianjo-Ianjo selanjutnya. Oleh karena pembangunan Ianjo terus mengalami perkembangan pengelolanya tidak selalu menjadi tanggung jawab militer. Sebagian pengelola adalah orang-orang sipil yang diberi pangkat paramiliter. Namun demikian pihak militer tetap bertanggung jawab terhadap transportasi dan pengawasan umum Ianjo-Ianjo tersebut termasuk aspek kesehatan.

Sementara perang terus berlangsung dan jumlah tentara Jepang yang berpangkalan di berbagai daerah Asia Pasifik terus mengalami peningkatan. Oleh sebab itu permintaan Jugun Ianfu untuk militer juga meningkat. Sehingga cara-cara baru untuk mempekerjakan perempuan-perempuan diciptakan. Hal ini menyangkut peningkatan penggunaan cara-cara penipuan dan kekerasan di banyak tempat di kawasan Asia Timur (khususnya Korea yang telah dikolonisasi Jepang tahun 1910).

07-13-09.44.35
Tiga (3) Jenis rekruitmen dapat diidentifikasikan, antara lain para perempuan yang menyediakan diri mereka secara sukarela (pekerja seks komersial), Tipu daya kepada para perempuan dengan tawaran pekerjaan dengan upah tinggi di restoran sebagai tukang masak/tukang cuci dan penculikan disertai tindak kekerasan perempuan secara kejam di sejumlah negara di Asia Pasifik dibawah kekuasaan Jepang.

Dengan diperkuatnya Undang-undang Mobilisasi Umum Nasional oleh pemerintah Jepang yang dikeluarkan tahun 1932, namun belum sepenuhnya dilaksanakan sampai dengan tahun-tahun mendekati berakhirnya perang. Dengan mendesaknya kebutuhan perang atas sumber daya manusia baik perempuan dan laki-laki dipanggil untuk menyumbangkan tenaga bagi usaha perang. Sehubungan dengan hal ini maka Korps Pelayanan Sosial Perempuan didirikan sebagai dalih mengumpulkan perempuan untuk bekerja di pabrik atau melakukan tugas-tugas yang berkaitan dengan perang untuk membantu militer Jepang.

07-13-11.15.53

Lokasi Ianjo tampaknya mengikuti arah perang berlangsung. Ianjo-Ianjo dapat ditemukan dimanapun tentara Jepang berada. Ianjo-Ianjo dikenal juga melalui berbagai sumber di Cina, Taiwan, Indonesia, Filipina, Kepulauan Pasifik, Singapura, Malaysia, Myanmar dan Indonesia. Militer Jepang dengan cermat secara detil sistem prostitusi. Peraturan dalam pengoperasian Ianjo di berbagai wilayah taklukan militer Jepang di Asia Pasifik memiliki kesamaan sistem seperti harga yang ditetapkan untuk masuk ke Ianjo, pembelian tiket masuk ke Ianjo, jam berkunjung, kontrol kesehatan yang ketat terhadap para Jugun Ianfu agar terhindar penyakit menular seksual, pemberian kondom kepada setiap pengunjung yang masuk ke Ianjo, larangan menggunakan senjata dan penggunakaan alkohol di lingkungan Ianjo.

Meski telah diberlakukan kontrol kesehatan terhadap para militer Jepang yang menggunakan fasilitas Ianjo, namun banyak dari mereka menolak menggunakan kondom. Sehingga dampak buruk kesehatan seperti terkena penyakit kelamin atau terjadi kehamilan yang tidak diinginkan menimpa para Jugun Ianfu di berbagai lokasi Ianjo di seluruh kawasan Asia Pasifik. Beberapa temuan memorabilia sebagai bukti bahwa Ianjo dikelola dengan menajemen yang rapi oleh militer.

Meski di berbagai wilayah Asia Pasifik telah musnah bangunan Ianjo, namun di Shanghai masih ditemukan utuh bangunan Ianjo pertama di dunia yang dibangun dan dikelola dibawah kontrol militer Jepang. Ianjo pertama dibangun tahun 1932. Seorang ahli sejarahwan Cina Prof. Su Zhiliang melakukan penelitian selama 15 tahun mengenai lokasi Ianjo di Cina. Sekitar 149 Ianjo di temukan menyebar di 20 provensi di Cina. Di bawah ini merupakan temuan memorabilia sangat penting. Daiich Saloon berada di Shanghai. Hingga saat ini Daiich Saloon masih ada meski dibeberapa bagian bangunan telah berubah. Tetapi usaha pelestarian dan restorasi telah dimulai di Cina terhadap Ianjo-Ianjo yang di temukan Prof. Su Zhiliang.

Di sejumlah negara masih ditemukan bangunan Ianjo seperti di Filipina, Taiwan, Malaysia, Singapura dan Myanmar, Timor Leste. Dengan ditemukan berbagai bukti sejarah tersebut pendapat yang menyatakan bahwa praktek Jugun Ianfu Perang Asia Pasifik sebuah ketidak sengajaan dalam situasi perang dapat dihancurkan leburkan. Juga sama sekali tidak benar apa yang menimpa 400.000 perempuan (Korea Selatan, Korea utara, Cina, Filipina, Taiwan, Indonesia, Timor Leste dan Belanda) yang diperkosa secara sistematis selama invasi militer Jepang di kawasan Asia Pasifik adalah sebuah kemauan sukarela.[1]


Kesaksian Para Eks Jugun Ianfu

07-13-10.38.02

Kaum wanita Indonesia dimasa penjajahan sungguh tidak dihargai jati dirinya, mereka lebih dilecehkan begitu saja kehormatannya oleh penjajah. Kaum wanita Indonesia dalam sejarah bangsa Indonesia sungguh menyedihkan. Harga diri dan kehormatan baginya tidak ada nilai di mata para penjajah negeri ini dimasa itu.

Jugun ianfu adalah istilah yang digunakan untuk merujuk kepada wanita (bahasa Inggris comfort women) yang menjadi korban dalam perbudakan seks selama Perang Dunia II di koloni Jepang dan wilayah perang. Jugun ianfu merupakan wanita yang dipaksa untuk menjadi pemuas kebutuhan seksual tentara Jepang yang ada di Indonesia dan juga di negara-negara jajahan Jepang lainnya pada kurun waktu tahun 1942-1945.
 07-13-11.19.12

Di Indonesia sendiri terdapat sekitar 1500 perempuan eks jugun ianfu yang sebagian besar dari mereka sudah berusia lanjut bahkan telah meninggal dunia. Perjuangan yang mereka lakukan untuk menuntut keadilan serta pengakuan tidak saja melelahkan dan lama, tapi mereka juga nyaris berjuang sendirian karena sampai saat ini tidak nampak adanya dukungan dari pemerintah terlebih pengakuan terhadap mereka.


  • Sumirah

Sore itu Sumirah yang baru berusia 14 tahun sedang menyusuri Jalan Gendingan, Semarang dengan sepeda barunya. Ternyata disekitar lokasi itu Sumirah melihat beberapa tentara Jepang sedang memaksa sejumlah perempuan muda menaiki truk tentara.

Melihat kejadian itu Sumirah muda bukannya menyingkir dari bahaya yang mengintai, malahan tertegun kaget diliputi perasaan takut. Tanpa disadari seorang tentara Jepang sudah berada di samping Sumirah dan memaksanya ikut naik keatas truk. Tanpa berdaya Sumirah terpaksa mengikuti kemauan tentara Jepang tersebut dan meninggalkan sepeda barunya tergolek di tanah.
 
Para perempuan muda ini diberitahu salah seorang serdadu Jepang untuk meminta mereka bekerja untuk militer Jepang, saat itu dijelaskan juga bahwa kesempatan ini diberikan kepada mereka (para perempuan) bekerja sebagai perawat. Militer Jepang berjanji akan memberikan upah kerja dan mencukupi semua kebutuhan hidup mereka. Dengan lantang serdadu itu berseru,”Apakah semua mau pekerjaan ini?”,terdengar jawaban serentak”Mau”.
 
07-13-10.45.15
 
Tak lama setelah memberikan jawaban itu, para perempuan tersebut memasuki bangunan Semarang Kurabu, bangunan bergaya arsitek Belanda yang telah direbut Jepang dari pemiliknya orang Belanda. Setiap orang diberi kamar yang sudah dilengkapi dengan sabun, sikat gigi, odol, dan minyak wangi. Setelah itu setiap perempuan diperiksa kesehatan oleh seorang Dokter Jepang.
 

Hari-hari berikutnya ternyata para perempuan ini dipaksa melayani kebutuhan seksual tentara Jepang yang mengunjungi Semarang Kurabu. Bila menolak melayani maka pukulan, tendangan dan tempelengan yang diterima sebagai akibat penolakan. Sejak hari ini dan seterusnya adalah neraka bagi para perempuan tersebut. Selain harus melayani di Semarang Kurabu, seringkali Sumirah harus melayani para perwira di Hotel Du Pavillon dan Hotel Oewa Asia yang lokasinya tidak terlalu jauh dari Semarang Kurabu.


  • Emah Kastimah & Suhanah

Nasib yang sama dialami Emah Kartimah, perempuan asal Cimahi yang juga dijadikan budak nafsu para balatentara Dai Nipon pada 1942. Waktu itu Emah, yang masih berusia 13 tahun, diculik enam tentara Jepang saat sedang berbelanja di pasar. Dia kemudian dilarikan dengan mobil dan disekap dalam barak tentara di Cimahi.
 
07-13-10.00.17
 
Tiga tahun Emah yang masih bau kencur itu harus melayani pria-pria dewasa. Jika dia melawan, maka pukulan dan tendangan akan diterimanya. Beberapa perempuan di tempat itu juga mengalami hal yang sama.
 
Cerita di atas dituturkan Mardiyem dan Emah yang usianya kini sudah mencapai 80 tahun saat tampil di Kick Andy. Bersama sejumlah korban lainnya mereka berjuang agar pemerintah Jepang mengakui “dosa” tentara mereka dulu dan kemudian meminta maaf. Bahkan Mardiyen dan Emah pernah hadir sebagai saksi pada pengadilan tribunal di Jepang dan Belanda.[2]
 

Pada waktu Jepang menduduki Indonesia tahun 1942, Emah Kastimah berusia 17 tahun, kemudian serdadu Jepang masuk ke desa Emah. Lokasi asrama serdadu Jepang tidak jauh dari desa tempat tinggal Emah.

Secara paksa Emah diambil oleh serdadu Jepang. Orang tua Emah tidak berdaya karena takut diancam serdadu Jepang. Lalu Emah dimasukkan ke dalam mobil yang sopiri orang Indonesia. Didampingi serdadu Jepang Emah dimasukan ke asrama Jugun Ianfu di Jalan Simpang Cimahi, Bandung.

Sering kali Emah dipaksa untuk melayani 10 orang dalam satu hari. Sehingga sering kali Emah pingsan tidak sadarkan diri. Ketika melayani serdadu Jepang Emah diminta serdadu Jepang menggunakan kondom. Menurut Emah, ”biasanya serdadu Jepang sudah diberi kondom dari atasannya,” aku Emah.

Tugas Emah hanya khusus melayani militer Jepang. Kerjanya mulai dari jam 13.00-17.00 melayani seradu militer. Setelah itu mandi dan istirahat, lalu mulai lagi dari jam 19.00-21.00 untuk melayani militer Jepang yang berpakaian sipil.

Kebanyakan yang memakai Emah berpangkat perwira dan sikapnya baik. Namun begitu ada juga yang sikapnya kasar biasanya militer Jepang berpangkat rendah. Setelah beberapa bulan, Emah dipindahkan ke Asrama Jugun Ianfu di Jalan Kalidam dan dipekerjakan lagi seperti di tempat sebelumnya. Jarak antara asrama Jugun Ianfu di Jalan Simpang dengan asrama Jugun Ianfu di Jalan Kalidam cukup dekat, bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Setiap serdadu yang datang ke Asrama untuk memakai jasa Jugun Ianfu, mereka harus membeli karcis. Menurut Emah karcisnya sebesar domino yang warnanya agak kecoklat-coklatan. Biasanya setiap kali selesai melayani serdadu Jepang, Emah diberi obat cair dari kantor asrama. Obat cair warnanya kemerah-merahan untuk mecuci kemaluan perempuan.

Emah diberi hari libur satu hari dalam seminggu, jatuh pada hari minggu . Kesempatan ini dipakai Ibu Emah untuk menengok orang tua selama satu jam. Setelah itu harus kembali lagi ke asrama di Kalidam.

Setelah dua tahun, orang tua Ibu Emah baru mengetahui kalau anaknya bekerja untuk jadi “nyai-nyai Jepang”. Mendengar kenyataan itu orang tua Emah hanya bisa pasrah dan menangis , lalu sakit-sakitan selama anaknya berada di asrama. Emah tidak bisa melarikan diri dari asrama tempat dia disekap karena asrama dijaga ketat dan diawasi oleh kempe-tai (polisi rahasia Jepang).

Setelah mendengar Jepang kalah dari teman-teman di asrama, asrama Jugun Ianfu ditutup. Semua perempuan yang disekap pulang ke rumah masing-masing. Ketika pulang ke rumah orang tua Emah sedang sakit karena terus memikirkan nasib anaknya ditangan militer Jepang.

Kini Emah hanya hidup dari belas kasihan orang-orang, dan tinggal bedekatan dengan saudara-saudaranya. Beberapa tahun kemudian Ema hmenikah, lalu suaminya meninggal dunia. Sejak keluarga almarhum suaminya mengetahui masa lalu Emah sebagai Jugun Ianfu, mereka menjauh seperti membuang Emah dari lingkaran keluarga. Dari perkimpoiannya itu Emah tidak memiliki keturunan.[7]

Sementara Suhanah, juga asal Cimahi, diculik dengan todongan pistol pada usianya yang baru 14 tahun. Tapi karena mengalami pendarahan, setahun setelah disekap dia dibebaskan. Tapi, kondisinya sudah parah rahimnya rusak dan harus diangkat. Sejak itu Suhanah tidak bisa mempunyai keturunan.


  • Sri Sukanti

07-13-10.03.38
Bicaranya tak jelas. Beberapa kali ia terhuyung. Di antara sedu-sedannya, ia beberapa kali mengatakan, ”Sumpah, saya tidak bohong, saya diperlakukan seperti kuda.”
 
Kesaksian Sukanti satu dari 1.156 penyintas asal Indonesia, sebagian sudah meninggal yang tak lebih dari 15 menit itu membuat ruangan hotel berbintang berisi sekitar 100 orang itu sunyi. Sukanti, dipapah Eka Hindrati, peneliti independen isu jugun ianfu, terus berbicara dengan air mata bercucuran.
 
Usia Sukanti tak lebih dari 15 tahun ketika dipaksa menjadi pemuas seks serdadu Jepang di Salatiga, Jawa Tengah. Ia mengalami siksaan seksual yang traumanya memekat setiap kali harus mengingat kekejian itu.
 
Dengan terbata ia mengatakan, ”Saya disuntik 16 kali… saya tidak pernah bisa punya anak…. Jangan ada lagi yang seperti saya ya…. jangan ada lagi yang seperti saya … Jepang itu kejam…Ogawa itu….”, Hingga saat ini, perlakuan tersebut mengakibatkan kerusakan pada janinnya dan dirinya divonis tidak dapat memiliki keturunan seumur hidup.
 

Tangisnya pecah. Ia terus berbicara, terkesan meracau, seperti melepaskan timbunan luka jiwa yang tak pernah bisa disembuhkan. Sukanti mengingatkan kepada perempuan sepuh, penyintas dari Korea, yang berteriak, menangis, dan pingsan ketika bersaksi di depan para jaksa Pengadilan Internasional Kejahatan Perang untuk Kasus Perbudakan Seksual oleh Militer Jepang selama Perang Dunia II (The Tokyo Tribunal), 8 Desember 2000.


  • Paini

07-13-10.05.29
Paini yang sejak berumur 13 tahun dipaksa bekerja di sebuah tangsi dekat desanya. Suatu malam ia dijemput paksa oleh serdadu Jepang, dibawa ke tangsi, dan diperkosa berulang-ulang. Begitu terus setiap malam. Begitu dalam trauma yang mereka alami sehingga kebanyakan mantan jugun ianfu ini menyembunyikan identitas mereka dan menolak untuk berbicara.
 

Banyak masyarakat yang merendahkan, serta menyisihkan para korban dari pergaulan sosial. Kasus Jugun Ianfu dianggap sekedar “kecelakaan” perang dengan memakai istilah “ransum Jepang”. Mencap para korban sebagai pelacur komersial. Banyak juga pihak-pihak oportunis yang berkedok membela kepentingan Jugun Ianfu dan mengatasnamakan proyek kemanusiaan, namum mereka adalah calo yang mengkorupsi dana santunan yang seharusnya diterima langsung para korban.


  • Wainem

07-13-10.09.19
Wainem lahir di Jawa Tengah pada 1925. Dia diculik dari rumahnya pada 1943 ketika berusia 17 tahun dengan bus dan dibawa ke markas tentara Jepang di Surakarta. Bersama sejumlah wanita lain, dia disekap di markas tentara itu selama tiga tahun sebelum dipindah ke markas lain di Jogjakarta selama dua tahun kemudian.
 

Dalam masa-masa kelam tersebut, Wainem harus merajut tikar dan pada malamnya dipaksa melayani nafsu binatang tentara Jepang. Pada hari-hari yang sulit, dia harus meladeni empat pria sekaligus dalam satu malam. ”Beberapa mengajak saya ke kamar pribadi mereka. Tapi, ada juga yang tanpa malu memerkosa saya di depan rekan-rekan mereka di kasur barak,” ungkap Wainem.


  • Mastia

07-13-10.11.28

Mastia diambil paksa dari rumahnya oleh tentara jepang bersama 15 gadis lain dan diangkut ke markas tentara Cimahi. Seorang kapten Jepang menjadikan Mastia wanita penghibur pribadi. Setelah Mastia pulang kampung ia menjalani upacara penyucian religius untuk membersihkan segala “kotoran.” Namun orang tetap memanggil saya “bekas jepang” dan menghina saya…sedih, saya sangat sedih, saya selalu teringat. Mastia menikah empat kali dan tidak mempunyai anak.


  • Ronasih

07-13-10.14.11

Pada saat Ronasih masih berumur 13 tahun dan sedang pulang sekolah, dia diculik seorang serdadu kemudian dikurung di barak dekat desa. Secara sistematis ia diperkosa selama 3 bulan oleh serdadu yang disebut “si bewok.” Ayahnya berusaha datang dan menggantikan ronasih sebagai tenaga kerja paksa, namun sia-sia. Ronasih akhirnya disuruh pulang dengan keadaan tidak mampu berjalan lagi, dan harus merangkak untuk pulang karena badannya sakit. beberapa kali nikah dan tidak dapat memiliki keturunan.


  • Icih

07-13-10.16.28

Setelah suami pertamanya tewas ditembak oleh tentara Jepang, ia menjadi janda muda yang dipekerjakan di sekitar barak. Selanjutnya dia dikurung, diperkosa dan dipukuli hinga babak belur hampir setiap hari selama tiga tahun. Setelah perang usai, ia pulang kerumah dalam keadaan sakit, tidak bisa berjalan bahkan tak mampu mengucapkan namanya sendiri. Selama di kurung Icih mengalami luka berkelanjutan dan rahimnya rusak yang mengakibatkan dia tidak bisa melahirkan anak.


  • Niyem

07-13-10.18.49

Niyem diculik saat berusia 10 tahun dibawa menggunakan truk penuh dengan wanita muda lainnya ke barak militer dio Jawa Barat. Niyem harus berbagi di tenda kecil dengan dua wanita lainnya, dikurung tak mendapatkan makanan dan harus minum dari air selokan dan diperkosa di hadapan orang lain. Niyem berhasil kabur bersama teman-temannya namun Niyem tidak mau memberitahu orang tuanya bahwa dia telah diperkosa, “aku tidak ingin menyakiti orang tuaku”.


  • Mardiyem (Momoye)

07-13-09.54.22

Perekrutan jugun ianfu juga dilakukan melalui jalur hiburan. Seperti yang dialami pemain sandiwara keliling dari grup Pantja Soerja Mardiyem. Pada awalnya, Mardiyem diimingi untuk jadi penyanyi di Kalimantan.

Lantaran bosan menjadi abdi dalem pada keluarga bangsawan Jawa di Suryotarunan, dia akhirnya mau saja dibujuk Jepang. Tetapi, sesampainya di sana dia malah dijadikan budak seks para tentara Jepang yang pulang dari perang.

Para jugun ianfu banyak berasal dari keluarga baik-baik dan berusia di bawah umur. Tetapi ada juga yang telah bersuami dan memiliki anak. Mereka mengikuti perintah Jepang untuk dijadikan budak seks karena takut dipancung jika menolak.

Para perempuan yang dijadikan jugun ianfu kemudian dimasukkan ke rumah-rumah bordil ala Jepang yang telah disiapkan dan biasa disebut lanjo. Temopat ini merupakan asrama peninggalan Belanda, markas militer Jepang dan rumah penduduk.

Masing-masing jugun ianfu akan menempati satu kamar yang telah diberi nomor dan mendapatkan nama Jepang. Seperti Mardiyem yang namanya diganti Momoye. Penggantian nama ini untuk dimaksudkan untuk mengingatkan kampung halaman.

Mardiyem termasuk satu dari 24 perempuan angkatan pertama yang dijadikan jugun ianfu yang ditempatkan di lanjo Telawang, sebuah kampung di pinggiran Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bersama Mardiyem, ada Giyah yang namanya diganti Sakura.

Selama di Lanjo Telawang, Giyah menjadi idola para tentara Jepang. Dalam hari ke hari, badannya menjadi sangt kurus dan akhirnya meninggal. Mayat Giyah kemudian ditumpuk bersama mayat-mayat romusha dan dibiarkan membusuk di Pasar Lama.[3]

07-13-11.23.08

Melihat peristiwa itu, Mardiyem melakukan protes. Meski mendapatkan siksaan dari para serdadu Jepang, tetapi akhirnya dia dan perempuan lainnya berhasil menguburkan mayat Giyah di pemakaman umum layaknya manusia.

Sebelum menjalani tugas sebagai budak seks, para jugun ianfu menjalani pemeriksaan kesehatan yang sangat merendahkan martabat. Mereka ditelanjangi dan tubuhnya digerayangi, lalu alat vitalnya dimasukkan besi panjang.

Jika ditekan, ujung besi panjang itu akan mengembang dan membuka alat kelamin menjadi lebih lebar. Alat yang dikenal dengan sebutan cocor bebek ini, tentara Jepang dapat mengetahui penyakit kelamin jugun ianfu.

Mardiyem menjadi jugun ianfu saat masih berusia 13 tahun dan belum mengalami haid. Dia mengaku, pertama kali diperkosa oleh tentara Jepang berambut berewok yang merupakan pembantu dokter tentara yang memeriksa kesehatannya.

Pada hari pertama itu, Mardiyem diperkosa oleh enam orang tentara, padahal saat itu dia sudah mengalami pendarahan. Hari pertama diperkosa itu, Mardiyem mengaku sempat ingin bunuh diri, tetapi urung karena bertemu almahhum ayahnya dalam mimpi.

Ketika dia berusia 15 tahun, Mardiyem dipaksa untuk menggugurkan kandungannya yang telah berusia lima bulan dengan cara ditekan perutnya dengan paksa oleh dokter tanpa melalui pembiusan. Setelah itu, dia dipaksa melayani pengelola lanjo.

Saat itu Mardiyem memberanikan diri menolak, tetapi sebagai gantinya dia disiksa secara fisik dengan sangat hebat. Dia mendapat pukulan dan tendangan berkali-kali hingga mengalami cacat fisik dan trauma.[4]

Siksaan yang dialami Mardiyem juga dialami oleh para jugun ianfu lainnya. Apalagi saat tentara yang akan memperkosanya dalam keadaan mabuk dan sering kali dalam kondisi seperti itu. Sehingga tidak jarang para jugun ianfu pingsan.

Setiap tentara dan kalangan sipil yang datang ke lanjo harus antre untuk mendapatkan karcis dan kondom. Namun sebagian pengunjung lonji tidak pernah mau menggunakan kondom saat melakukan pemerkosaan.

Sistem karcis ini digunakan untuk memungut bayaran dari tentara dan sipil. Biaya yang dikenakan pada siang hari bagi tentara adalah 2,5 rupiah, sedangkan bagi sipil 3,5 rupiah mulai sore pukul 17.00-24.00.

Bagi mereka yang ingin menggunakan jasa jugun ianfu sampai pagi dikenakan biaya 12,5 rupiah. Meski begitu, para jugun ianfu tidak pernah menerima pembayaran uang itu dengan alasan sebagai tebusan jika mereka berhenti menjadi jugun ianfu.

Namun janji itu tidak pernah direalisasikan. Para jugun ianfu yang ingin berhenti bekerja tidak pernah dikasih. Sebaliknya, mereka akan mendapatkan siksaan kembali yang lebih hebat. Sehingga tidak jarang jugun ianfu yang bunuh diri.


Para Jugun Ianfu Dari Belanda

Selain wanita pribumi, tentara Jepang juga mengambil para perempuan Belanda menjadi jugun ianfu. Mereka diambil paksa dari kamp interniran Ambarawa, Jawa Tengah ke tempat pelacuran yang berada tidak jauh dari sana.

Perempuan-perempuan bule bermata biru sangat diminati para tentara Jepang. Salah satu di antaranya bercerita, para tentara Jepang sangat senang mengelus-elus rambutnya yang pirang. Tetapi lambat laun dijambak secara kasar.[5]

Dalam sehari, para wanita bule ini diperkosa oleh lima hingga 10 tentara Jepang. Mereka tidak diperbolehkan keluar rumah pelacuran dan harus tinggal di kamar seharian menunggu diperkosa. Kebanyakan mereka menjadi gila.

Menurut Katoppo, korban jugun ianfu tentara Jepang berjumlah 200.000 perempuan di Asia. Sebanyak 10.000 di antaranya adalah para perempuan Indonesia. Sedang perempuan Belanda yang dijadikan jugun ianfu mencapai 100 orang.

Pramoedya Ananta Toer dalam bukunya Perawan Remaja sempat merekam pengalaman pedih para jugun ianfu dalam novelnya. Semua pengalaman para jugun ianfu itu didapat dari sesama tapol yang dibuang ke Pulau Buru.[6]


Terbongkarnya Jugun Ianfu

07-13-10.27.51

Tahun 1992, untuk pertama kalinya Kim Hak Soon korban asal Korea Selatan membuka suara atas kekejaman militer Jepang terhadap dirinya ke publik. Setelah itu masalah Ianfu terbongkar dan satu persatu korban dari berbagai negara angkat suara. Tahun 2000 Tribunal Tokyo menuntut pertanggung jawaban Kaisar Hirohito dan pihak militer Jepang atas praktek perbudakan seksual Jugun Ianfu. Tahun 2001 final keputusan dikeluarkan di Tribunal The Haque. Tekanan internasional terhadap pemerintah Jepang terus Dilakukan. Oktober 2007 kongres Amerika Serikat mengeluarkan resolusi tidak mengikat yang menekan pemerintah Jepang memenuhi tanggung jawab politik atas masalah ini tetapi Jepang tetap tidak mengakui kekejian terhadap ratusan ribu perempuan di Asia dan Belanda pada masa perang Asia Pasifik
 
Setelah kita mengikuti sekilas sejarah yang terungkap diatas tentang kaum wanita Indonesia pada peristiwa Jugun Ianfu dimasa itu sungguh menyedihkan. Apa yang tersurat di atas benar menjadikan kita merasa miris dibenak hati dan perasaan kita atas pemberlakuan kaum wanita benar tidak dihormati dan tidak dihargai harkat dan martabatnya, kaum wanita Indonesia sungguh terinjak-injak harga dirinya saat itu. Nah kalau sudah demikian bagaimana keadaan sekarang tentang keberadaan kaum wanita Indonesia saat ini?
 
Kita sudah banyak mengetahui bahwa kaum wanita Indonesia saat ini boleh dibilang sudah banyak kemajuan dalam berbagai hal. Tidak sedikit kaum wanita Indonesia saat ini banyak terlibat langsung pada pembangunan bangsa Indonesia dari berbagai bidang. Di dunia politik, ekonomi, pendidikan, kesehatan, hukum, militer dan lain sebagainya.
 

Kemajuan pesat yang dialami kaum wanita Indonesia saat ini adalah bagian dari rintisan para pejuang sebelumnya dan juga sebagai anugerah Tuhan yang begitu besar nilainya. Maka diharapkan bagi kaum wanita Indonesia, janganlah melupakan sejarah bangsa ini yang telah banyak dibangun oleh kaumnya sendiri. Selainnya itu teruslah berjuang untuk bisa lebih baik lagi mengangkat harkat martabatnya, karena di eraglobalisasi saat ini masih banyak kaum wanita Indonesia yang tertinggal dan tertindas dengan keadaan bangsa Indonesia yang kian tak menentu pada sistem yang berjalan.[2]


Permintaan Maaf dari Jepang

Sejarah kelam perempuan Indonesia yang dialami ribuan anak perempuan itu, tak sedikitpun tertulis dalam buku sejarah. Jugun ianfu dianggap aib oleh negara.

Tak ada hal lain yang diinginkan perempuan tua ini, selain pengakuan dosa oleh penjajah Jepang. Dari sebuah NGO lokal terungkap, bahwa pada tahun 1993, tiga pengacara dari Negeri Matahari Terbit datang ke Indonesia melalui Menteri Sosial kala itu meminta mereka untuk mendata para eks jugun ianfu yang masih hidup.

Hingga kini setidaknya terdata sekitar 1.156 eks jugun ianfu dari Lampung hingga NTB. Mardiyem kemudian dihadirkan sebagai saksi dari Indonesia dalam persidangan Pengadilan Internasional di Tokyo untuk Kejahatan Perang terhadap Perempuan dalam Kasus Perbudakan Seksual Militer Jepang pada masa Perang Dunia II di Desember 2000.

Selanjutnya, di tahun 2001, Pemerintah Indonesia, lewat Mensos, menerima 38 juta yen dari pemerintah Jepang. Uang itu lantas digunakan untuk membangun panti jompo. Meskipun demikian, penggunaan dana itu tidak melibatkan para korban. Kantor Departemen Sosial di Yogyakarta membenarkan adanya dana sebesar Rp 285 juta untuk pembangunan panti jompo bagi para eks jugun ianfu.

Mardiyem dan 12 kawannya menolak, karena selain tidak ingin tinggal di panti jompo, kala itu, permintaan maaf itu tidak kunjung datang. Sampai sekarang aliran dana itu ke mana, tidak ada kejelasan, padahal pengucuran dana Asian Women’s Fund (AWF) itu masih berlangsung hingga sekarang.

Bagi Mardiyem, penolakan masyarakat sudah membuatnya sakit hati. Hal itu diperburuk oleh pemerintah Indonesia yang juga tidak pernah peduli dengan perjuangannya.

“Waktu saya ke Tokyo, hanya ditemani orang LBH. Kalau orang Korea, yang menemani wali kota bahkan gubernur sampai anggota parlemennya. Ini bukti kalau pemerintah tidak peduli,” keluh Mardiyem dalam sebuah konperensi pers saat penerbitan bukunya.

Setelah beberapa tahun berupaya mencari keadilan, akhirnya permintaan maaf dari pemerintah Jepang pun tiba. Walau tak sepenuhnya bisa menghalau pedih itu, dengan sedikit haru, kini ia bisa bernafas lega. Sepertinya, kepedihan tak akan pernah lekang dari ingatannya. Kepedihan yang hanya akan sirna ketika ia mati.[7]


Video

07-14-12.05.00


Referensi

  • [1] anehdidunia.com/2012/08/menguak-jugun-ianfu-perbudakan-seks.html
  • [2] anehdidunia.com/2014/06/kisah-jugun-ianfu-wanita-indonesia.html
  • [3] daerah.sindonews.com/read/1079647/29/kisah-mardiyem-pemain-sandiwara-yang-dipaksa-menjadi-jugun-ianfu-1453561311/1
  • [4] daerah.sindonews.com/read/1079647/29/kisah-mardiyem-pemain-sandiwara-yang-dipaksa-menjadi-jugun-ianfu-1453561311/2
  • [5] daerah.sindonews.com/read/1079647/29/kisah-mardiyem-pemain-sandiwara-yang-dipaksa-menjadi-jugun-ianfu-1453561311/3
  • [6] daerah.sindonews.com/read/1079647/29/kisah-mardiyem-pemain-sandiwara-yang-dipaksa-menjadi-jugun-ianfu-1453561311/4
  • [7] kaskus.co.id/thread/52fb6636ffca177d088b4593/kisah-jugun-ianfu-dibungkam-sejarah-usia-13-tahun-dipaksa-melayani-birahi-10-tentara/

Sumber Video

  1. https://m.youtube.com/watch?v=-gKT7JbhsRQ
  2. https://m.youtube.com/watch?v=dxedUiXRmTQ
  3. https://m.youtube.com/watch?v=MMLwpnshU9Y
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s