Taman Sriwedari

PicsArt_07-24-12.21.18

wikipedia


Taman Sriwedari adalah sebuah komplekstaman di Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta. Sejak era Pakubuwana X, Taman Sriwedari menjadi tempat diselenggarakannya tradisi hiburan Malam Selikuran. Sriwedari juga pernah menjadi lokasi penyelenggaraan PON I pada tahun1948. Saat ini kepemilikan Taman Sriwedari menjadi sengketa antara Pemerintah Kota Surakarta dengan ahli waris keluarga KRMH Wirjodiningrat.

PicsArt_07-24-12.27.34

wikipedia


Taman Sriwedari dan Segaran dibangun olehPaku Buwono X yang merupakan adik ipar KRMT Wirjodiningrat. KRMT Wirjodiningrat membeli tanah Sriwedari dari seorangBelanda bernama Johannes Buselar pada1877 dengan status tanah RVE (hak milik).

Setelah keluar Undang-undang Pokok Agraria tanggal 24 September 1960, status kepemilikan tanah didaftarkan kembali namun hanya mendapat status hak guna bangunan (HGB) 22 karena baru didaftarkan tahun 1965.

Ahli waris KRMT Wirjodiningrat (per 2009 sejumlah kurang lebih 200 pewaris yang terbagi menjadi 11 kelompok dengan keinginan yang bermacam-macam) menggugat melalui Pengadilan Negeri Solo pada 1970. Pada 1980, keputusan kasasi di tingkat Mahkamah Agung menyatakan ahli warus berhak atas HGB 22 sampai 1980. Pemerintah Kota Solo membayar ganti rugi uang sewa persil dan gedung, sementara gugatan agar pemkot mengosongkan dan menyerahkan persil dan gedung kepada ahli waris tidak dapat diterima. Pada 1980 ahli waris memperpanjang hak kepada BPN Solo namun tidak diterima.

Pada 1987 dan 1991, BPN menerbitkan Hak Pakai (HP) 11 dan HP 15 untuk tanah Sriwedari atas nama Pemkot Solo. Ahli waris KRMT Wirjodiningrat melalui Pengadilan Tata Usaha Negara menuntut pembatalan HP 11 dan HP 15.

Di PTUN Semarang, BPN kalah, tetapi di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Surabaya BPN menang. Di tingkat kasasi BPN kalah. Saat ini sedang berlangsung proses pengajuan peninjauan kembali. 17 April 2007 PK BPN ditolak Mahkamah Agung.

GWO Sriwedari

PicsArt_07-24-12.35.26

Gedung Wayang Orang Sriwedari adalah sebuah gedung pertunjukan wayang orangyang ada di Taman Sriwedari. Tempat ini menyajikan seni pertunjukan daerah wayang orang yang menyajikan cerita wayang berdasarkan pada cerita Ramayana danMahabarata. Pada kesempatan tertentu juga digelar cerita-cerita wayang orang gabungan antara wayang orang sriwedari dengan wayang orang RRI Surakarta dan bahkan dengan seniman-seniman wayang orang Jakarta, Semarang, ataupun Surabaya.[1]

Melestarikan Wayang Orang

Alunan suara pesinden diiringi gamelan yang dimainkan para pengrawit mengiringi langkah kami memasuki Gedung Wayang Orang Sriwedari pada pukul 20.15. Baru baris depan yang terisi penonton, dan kami menghitung baru sekitar 10-15 orang yang sudah menempati kursi-kursi penonton. Sambil sesekali menatap ke arah panggung yang masih tertutup dan berharap pertunjukan segera dimulai, saya, Murni, Rinta dan Arum masih sibuk membahas harga tiket masuk sebesar Rp 3.000,- per orang, nilai yang kalau di Jakarta bahkan belum cukup untuk membayar parkir selama 1 jam di pusat perbelanjaan terkemuka.

Semakin malam, makin banyak penonton yang hadir dan memenuhi kursi di baris depan. Barangkali ada 4-5 baris kursi yang terisi sekitar 50-60 orang penonton. Di luar dugaan kami, ternyata cukup banyak penonton yang berusia muda, bahkan beberapa di antara penonton datang bersama keluarga dan anak-anak, padahal saat itu bukan malam libur. Rasanya senang mengetahui masih ada yang berminat menyaksikan pertunjukan tradisional seperti wayang orang.

Wayang orang, atau dalam bahasa Jawa disebut wayang wong, adalah pertunjukan wayang yang dimainkan menggunakan orang. Pertunjukan semacam teater tradisional ini mulai berkembang di lingkungan keraton sejak diciptakan oleh Mangkunegara I dari Solo pada tahun 1757. Pertunjukan ini tidak bertahan lama, dan kemudian lebih berkembang di Yogyakarta. Di bulan April 1868, sewaktu Mangkunegara IV mengadakan acara khitanan untuk putranya, didatangkan kelompok wayang orang dari Yogyakarta, dan sejak saat itu wayang orang kembali hidup di Solo. Mangkunegara IV dan Mangkunegara V kemudian menyempurnakan pertunjukan wayang orang, khususnya dalam hal pakaian dan perlengkapan. Kisah yang ditampilkan kebanyakan bersumber pada cerita wayang purwa, yang merupakan pengembangan kisah Ramayana dan Mahabharata.

Wayang orang semakin berkibar di Solo sejak pembangunan Taman Sriwedari pada tahun 1899 oleh Susuhunan Pakubuwana X dari Surakarta. Di masa itu wayang orang masih merupakan konsumsi eksklusif bagi lingkungan keraton. Wayang Orang Sriwedari sendiri merupakan kelompok budaya komersial pertama dalam pertunjukan wayang orang. Berdiri pada tahun 1911, Wayang Orang Sriwedari mengadakan pentas secara tetap di Taman Sriwedari, yang merupakan taman hiburan umum miliki Keraton Kasunanan Surakarta. Saat ini terdapat 33 Pegawai Negeri Sipil, 30 orang non-PNS (honorer), dan 5 orang pendukung yang menjadi pemain, pengrawit dan sinden yang mendukung pertunjukan Wayang Orang Sriwedari. Mereka melakukan pementasan setiap hari pada pukul 20.00-22.00, kecuali pada hari Minggu malam.

PicsArt_07-24-12.42.15

Kembali ke Gedung Wayang Orang Sriwedari, pada pukul 20.30 akhirnya lampu dimatikan dan layar bergambar gunungan dibuka, menandakan pertunjukan wayang orang dimulai. Adegan pertama diawali dengan munculnya tokoh Prabu Siwandakala dari kerajaan Medang Sawanda, tiga orang pria yang sepertinya merupakan senopati (panglima perang), serta para selir yang mengenakan kemben warna merah. Karena pada waktu masuk ke ruangan saya tidak sempat melihat judul cerita pada hari itu, serta tidak ada sinopsis yang dibagikan, saya menebak-nebak dengan mencoba mendengarkan dialog yang dibawakan. Walaupun dialog disampaikan menggunakan bahasa Jawa yang masih bisa saya mengerti, namun saya masih belum bisa menyimpulkan judul pertunjukan pada hari itu, kecuali bahwa lakon yang dimainkan hari ini bukan merupakan kisah utama dari Mahabharata, melainkan salah satu kembangannya.

Suasana pertunjukan mulai menjadi meriah ketika tokoh Putri Sriwitari, adik dari Prabu Siwandakala muncul ke panggung. Walaupun merupakan seorang satria wanita yang sakti, namun Putri Sriwitari memiliki karakter yang manja pada kakaknya. Kecerewetan yang ditampilkan dalam dialog yang “mrepet” (nyaris tak berujung) dengan nada tinggi ini membuat Rinta, yang sebenarnya tidak mengerti satu pun dialog yang diucapkan dalam bahasa Jawa, sangat terhibur melihat cara sang pemain menggambarkan karakter tokohnya. Tidak hanya terhibur dengan kelucuan yang terjadi di atas panggung, Rinta juga memperhatikan bahwa walaupun harga tiket masuk sangat murah bagi kami, pertunjukan ini digarap dengan sangat serius, mulai dari panggung dengan dekor yang ditata apik, kostum yang terlihat berkilau dan terawat, dandanan para pemain yang sangat serius sesuai dengan karakternya, dan bahkan akting para pemain pun terlihat sangat serius.

PicsArt_07-24-12.45.23

Beralih ke adegan berikutnya, ketika Prabu Siwandakala mengirimkan ultimatum untuk menaklukan kerajaan Mandura di bawah pimpinan Prabu Baladewa, kerajaan Dwarawati di bawah pimpinan Prabu Kresna, dan kerajaan Amarta di bawah pimpinan Puntadewa dan Pandawa Lima. Mulailah terjadi perang kembang antara para patih kerajaan Medang Sewanda dan Setyaki, panglima dari kerajaan Dwarawati, yang dibawakan melalui tarian yang seru. Sayang sekali, Setyaki harus mengakui kesaktian Prabu Siwandakala, dan para senapati dari Mandura dan Dwarawati harus mundur dari medan peperangan.

PicsArt_07-24-12.53.57

Munculnya para punakawan (Bagong, Petruk, dan Gareng) memberikan penyegaran suasana bagi penonton untuk sejenak tertawa melihat banyolan-banyolan mereka. Punawakan ini merupakan tokoh khas wayang Indonesia, yang tidak dijumpai di kisah Mahabharata versi asli dari India. Bagi beberapa orang, para punawakan ini seolah “berfungsi” untuk menyeimbangkan pertunjukan agar tidak terlalu “berat”. Namun para punakawan ini sebenarnya mewakili rakyat atau orang kebanyakan yang bertugas mengasuh sekaligus menasehati para ksatria yang berbudi luhur, melakukan kritis sosial, sekaligus sebagai sumber kebenaran dan kebijakan, yang dibawakan melalui banyolan.

Setelah Bagong, Petruk dan Gareng selesai mengocok perut penonton dengan banyolan baris berbarisnya, adegan beralih ketika Sriwitari bertemu dengan Arjuna. Begitu pemeran Arjuna muncul, kami langsung berkomentar, “waaa… ganteng yaaa….”. Arjuna memang dikenal sebagai “lananging jagat”, yang berparas rupawan, berhati lembut, namun sekaligus seorang kesatria unggulan dan petarung tanpa tanding di medan laga. Karakter-karakter inilah yang membuat Arjuna dianggap sebagai perwujudan lelaki seutuhnya, sehingga dalam pertunjukan wayang orang, tokoh Arjuna sedapat mungkin ditampilkan oleh penari laki-laki yang berparas tampan dan memiliki aura lembut, serta ditampilkan dengan kostum yang lebih menyolok dibandingkan karakter lainnya.

PicsArt_07-24-01.02.13

Namun di dalam kisah hari ini, Arjuna menolak cinta dari Sriwitari. Rayuan Sriwitari dan penolakan Arjuna digambarkan dalam dialog dan tarian yang kalem, jauh berbeda dengan adegan-adegan penolakan cinta yang biasa kita tonton dalam sinetron. Karena cintanya ditolak Arjuna, Sriwitari dengan kesaktiannya mengutuk Arjuna menjadi banteng. Setelah adegan Arjuna berubah menjadi banteng, Murni mencoba googling, dan barulah kami tahu bahwa judul lakon yang hari ini kami saksikan adalah “Arjuna Bantheng”.

PicsArt_07-24-01.04.51

Setelah Arjuna dikutuk menjadi banteng, Prabu Siwandakala dan para senopatinya melanjutkan penyerbuan ke Kerajaan Amarta dan menyerang keluarga Pandawa. Tidak sanggup menghadapi kesaktian Prabu Siwandakala, keluarga Pandawa menyingkir dan meminta nasihat dari Kresna. Saat itu para punakawan membawa banteng jelmaan Arjuna kepada keluarga Pandawa. Di tengah kedukaan keluarga Pandawa karena mengetahui saudara mereka dikutuk menjadi banteng, Kresna menyatukan dirinya dengan banteng tersebut, untuk kemudian menghadapi Prabu Siwandakala.

PicsArt_07-24-01.08.28

Perang tanding antara Prabu Siwandakala dan Putri Sriwitari melawan Kresna dan Arjuna tidak terelakkan. Ketika banteng terkena senjata candrasa milik Prabu Siwandakala, banteng tersebut berubah wujud kembali menjadi Kresna dan Arjuna, yang kemudian melanjutkan perang tanding dengan Prabu Siwandakala dan Putri Sriwitari. Pertunjukan wayang hari itu diakhiri dengan kemenangan Kresna dan Arjuna.

PicsArt_07-24-01.10.05

Setelah Kresna dan Arjuna memenangkan pertandingan, layar bergambar gunungan ditutup, para pengrawit dan pesinden meninggalkan tempatnya, dan penonton pun satu per satu beranjak meninggalkan kursinya meninggalkan Gedung Pertunjukan.[2]

Kesenian wayang orang Sriwedari masih digemari

Seni budaya wayang orang yang pertunjukkannya digelar di gedung Wayang Orang (WO) Sriwedari Kota Solo, tetap dilestarikan dan masih banyak digelari oleh masyarakat hingga sekarang.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surakarta, Eni Tyasni Suzana, di Solo, Jumat, mengatakan Pemkot Surakarta tetap melakukan pelestarian pertunjukan seni budaya wayang orang dengan menambah fasilitas pendingin ruangan, sehingga penonton bisa lebih nyaman.

Menurut Eni Tyasni Suzana, gedung Wayang Orang Sriwedari yang sudah berusia sekitar 100 tahun tersebut, masyarakat yang menyaksikan petunjukan kesenian khas Jawa tidak perlu mengeluarkan biaya mahal, yakni Rp3.000 per orang.

“Kesenian wayang orang kini dilengkapi fasilitas ruangan pendingin ini, merupakan bagian dari perkembangan dalam pelestarian salah satu kesenian khas Jawa itu,” katanya.

Menurut dia, jika dilihat dari fasilitas gedung WO sudah cukup memadahi, sehingga pihaknya sudah seleyaknya bisa menaikan harga tiket masuk menyaksikan pertunjukan itu.

Jumlah penonton yang menyaksikan petunjukan kesenian WO di Sriwedari rata-rata mencapai 100 penonton per hari. Bahkan, jumlah penonton akan terus meningkat bertepatan hari libur atau Sabtu malam Minggu.

“Kami yakin meski harga tiket mengalami kenaikan, maka masyarakat tetap akan menyaksikan pertunjukan. Karena, lakon yang dipertunjukan sangat menarik salah satunya tentang budaya dan karater manusia dalam kehidupan sehari-hari,” katanya

Ia menjelaskan, Pemkot Surakarta rencana menaikan harga penjualan tiket masuk pertunjukan WO ini, mulai dari kelas biasa Rp5.000 per orang, kelas VIP Rp7.500/orang, dan VVIP Rp10.000/orang. Karena, harga tiket sejak 1998 hingga sekarang belum pernah ada kenaikan.

Eni Tyasni Suzana menjelaskan, pihaknya dalam pertunjukan WO Sriwedari melibatkan jumlah pemain yang terdiri dari 33 Pegawai Negeri Sipil (PNS), 30 orang non-PNS, dan lima orang pendukung.

Kendari demikian, pihaknya berharap dengan bertambah fasilitas pendingin ruangan masyarakat akan lebih tertarik dan nyaman dalam menyaksikan pertunjukan WO, sekaligus melestarikan kesenian khas Jawa itu, serta salah satu sebagai daya tarik wisatawan di Kota Solo.[3] Wayang Orang Sriwedari adalah salah satu ikon Kota Surakarta yang tetap lestari hingga kini. Kesenian tradisional yang telah berumur lebih dari seabad ini tetap memiliki pengemar sendiri. Cerita sewaktu-waktu dapat berubah.[4]

PicsArt_07-24-01.21.41

Referensi

  1. wikipedia.org/wiki/Taman_Sriwedari
  2. rhien-travel-writing.blogspot.co.id/2015/11/wayang-orang-sriwedari-seni-pertunjukan.html?m=1
  3. antaranews.com/berita/483741/kesenian-wayang-orang-sriwedari-masih-digemari
  4. pariwisatasolo.surakarta.go.id/id/article/pentas-wayang-orang-sriwedari-akhir-januari-2015
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s