Kebudayaan Jawa yang Yang Seharusnya Dijaga

Sebagai sebuah negara besar dengan 17.548 pulau, Indonesia dikenal dengan kekayaan budayanya. Hal ini tidak lepas dari banyaknya suku yang bermukim di Indonesia, yang jumlahnya lebih dari 250 suku. Selain itu, fakta Indonesia sebagai negara kepulauan juga turut memberikan pengaruh mengapa kebudayaan antar daerah bisa beragam.

Salah satu suku yang terbesar di Indonesia adalah Suku Jawa. Dilihat dari demografinya, suku ini mendiami wilayah tengah dan timur Pulau Jawa. Sebagai sebuah suku yang besar, tentu saja Suku Jawa juga memiliki kebudayaan yang besar, digunakan turun-temurun, dan masih ditemukan hingga sekarang. Kira-kira kebudayaan apa saja itu? Berikut kami ulas 6 kebudayaan Jawa yang turuntemurun diwariskan hingga sekarang.

1. Bahasa

Screenshot_2016-07-02-17-43-36_1

Suku Jawa memiliki bahasa daerah yang disebut dengan Bahasa Jawa. Sebagian besar masyarakat Jawa pada umumnya lebih banyak menggunakan Bahasa Jawa ini daripada menggunakan bahasa nasional, Bahasa Indonesia, untuk berbicara. Bahasa Jawa memiliki aturan yang berbeda dalam hal intonasi dan kosakata dengan memandang siapa yang berbicara dan siapa lawan bicaranya. Hal ini biasa disebut dengan istilah unggah-ungguh.

Aturan ini memiliki pengaruh sosial yang kuat dalam budaya Jawa dan secara tidak langsung mampu membentuk kesadaran yang kuat akan status sosialnya di tengah masyarakat. Sebagai contoh, di manapun seseorang dari Suku Jawa berada, dia akan tetap hormat kepada yang lebih tua walaupun dia tidak mengenalnya. Unggah-ungguh semacam inilah yang pertama kali dibentuk Suku Jawa melalui keteladanan bahasa.

2. Kesenian

Dalam bidang seni budaya, masyarakat Suku Jawa bisa dibilang memiliki kekayaan seni yang beragam. Setidaknya seni tradisional ini dibagi menjadi 3 kelompok menurut akar budayanya, yakni Banyumasan (Ebeg), Jawa Tengah dan Jawa Timur (Ludruk dan Reog). Untuk seni musik, masyarakat Jawa memiliki Langgam Jawa yang merupakan adaptasi musik keoncong ke dalam musik tradisional Jawa, khususnya Gamelan.

005-20-05.39.07

Selain itu, Suku Jawa memiliki ragam seni tari dari berbagai daerah, yakni Tari Bambangan Cakil dari Jawa Tengah, Tari Angguk dari Yogyakarta, Tari Ebeg dari Banyumas, Tari Gandrung dari Banyuwangi, Tari Kridhajati dari Jepara, Tari Kuda Lumping dari Jawa Tengah, Tari Reog dari Ponorogo, Tari Remo dari Jawa Timur, Tari Emprak dari Jawa Tengah, Tari Golek Menak dari Yogyakarta, dan Tari Sintren dari Jawa Tengah.

3. Penanggalan/Kalender

PicsArt_07-27-06.03.53

Salah satu kekayaan budaya Jawa yang tidak dimiliki oleh suku lain adalah Kalender Jawa. Kalender ini merupakan penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram. Ketika Islam mulai berkembang di tanah Jawa, Sultan Agung memutuskan untuk meninggalkan Kalender Saka dan menggantinya dengan Kalender Hijriah dengan penyesuaian budaya Jawa. Kalender Jawa dibuat dengan perpaduan antara budaya Islam, budaya Hindu-Budha, dan budaya Eropa.

Dalam kalender sistem Jawa, siklus harian yang dipakai ada dua macam, yakni siklus mingguan yang terdiri dari 7 hari seperti yang kita kenal sekarang (Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jum’at, Sabtu, dan Minggu) serta siklus minggu pancawara yang terdiri dari 5 hari pasaran (Manis, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon). Untuk hitungan bulan, Kalender Jawa juga memiliki 12 bulan, yakni Sura, Supar, Mulud, Bakda Mulud, Jumadilawal, Jumadilakir, Rajab, Ruwah, Pasa, Sawal, Sela, dan Besar.

4. Hitungan Jawa

PicsArt_07-27-05.44.30

Masyarakat tradisional Jawa juga memiliki sistem perhitungan untuk membuat keputusan-keputusan penting. Sistem perhitungan ini biasa disebut dengan Neptu, meliputi angka perhitungan hari, hari pasaran, bulan, dan tahun Jawa. Setiap hari, hari pasar, bulan, dan tahun memiliki nilai yang berbeda-beda. Dari nilai perhitungan total itulah nantinya akan diketahui baik-buruknya keputusan yang akan diambil.

Perhitungan ini juga bisa didasarkan pada susunan Aksara Jawa (ha na ca ra ka, da ta sa wa la, pa dha ja ya nya, ma ga ba tha nga). Setiap aksara memiliki nilai yang berbeda-beda, misalkan ha, da, pa, ma masing-masing nilainya 1 dan huruf na, ta, dha, ga masing-masing nilainya 2, begitu juga seterusnya. Dari total perhitungan tersbut nantinya akan dicocokkan dengan 5 unsur, yakni Sri, Lungguh, Gedhong, Loro dan Pari. Unsur Sri, Lungguh dan Gedhong merupakan unsur positif, sedangkan Loro dan Pati adalah unsur negatif yang biasanya akan dihindari oleh orang Jawa.

5. Filosofi/Falsafah

PicsArt_07-27-06.12.40

Orang Jawa juga dikenal lekat dengan filosofi kehidupan, terutama dengan apa yang diajarkan oleh Sunan Kalijogo. Dalam kegiatannya berdakwah, seringkali Sunan Kalijogo menggunakan pendekatan tradisi sehingga banyak orang Jawa yang mengikuti ajarannya. Misalkan saja, lagu Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul merupakan karya beliau yang sampai saat ini masih diperdengarkan turun-temurun.

PicsArt_07-27-05.47.13

Sunan Kalijogo juga meninggalkan filosofi hidup yang termuat dalam Dasa Pitutur yang masih dijalankan sampai sekarang.[1]  Menjalani hidup itu memang tidaklah mudah. Ada banyak cobaan yang terkadang membuat kita merasa begitu berat dalam menjalani hidup. Namun sebenarnya sejak jaman dahulu kala, para leluhur selalu berusaha mengajarkan kita cara hidup yang baik dan membuat kita lebih bijaksana dalam menghadapi setiap persoalan hidup.

Masyarakat Jawa memiliki cara tersendiri untuk mengajarkan falsafah hidup, salah satunya adalah dengan menggunakan peribahasa yang bertujuan untuk menata hidup manusia. Meski begitu saat ini filosofi Jawa ini sering dinilai sebagai hal yang kuno. Padahal jika kamu mau berhenti sejenak dan meresapinya, kamu akan lebih bijaksana dalam menjalani hidup. Berikut ini beberapa diantaranya.

  • (a) Ojo Keminter Mundak Keblinger, Ojo Cidra Mundak Cilaka

Maksud dari kalimat ini adalah jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah dan jangan berbuat curang agar tidak celaka. Merasa bahwa diri sendiri pandai adalah hal yang baik karena hal tersebut bisa meningkatkan rasa percaya diri. Tapi kita harus ingat bahwa selalu ada orang yang lebih pandai dari kita, maka jangan pernah merasa bahwa diri sendiri paling pandai.

Jangan pernah juga berusaha melakukan kecurangan saat kamu ingin meraih sesuatu. Kecurangan mungkin bisa membuatmu meraih kesuksesan, tapi itu tidak akan bertahan lama karena pada akhirnya kecurangan hanya membawa celaka. Dengan berbuat curang, kamu mempertaruhkan reputasi dan beberapa kesuksesan yang sudah kamu miliki.

  • (b). Nglurug Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Digdaya Tanpa Aji, Sugih Tanpa Bandha

Dalam bahasa Indonesia, ‘nglurug tanpa bala’ artinya adalah berjuang atau menyerang tanpa pasukan. Namun bukan berarti kita harus berjuang sendirian, melainkan mengajarkan untuk menjadi orang yang tidak mudah ikut-ikutan atau terhasut serta berani bertanggung jawab dengan masalah yang terjadi. ‘Menang tanpa ngasorake’ berarti menang tanpa merendahkan. Jadi, tujuan yang kamu inginkan haruslah dilakukan tanpa merendahkan atau mempermalukan orang lain.

PicsArt_07-27-05.49.01

‘Digdaya tanpa aji’ secara harfiah artinya adalah kekuasaan tanpa kekuatan. Maksud dari ungkapan ini adalah tidak menciptakan kekuasaan karena harta, kekuatan, atau pengaruh keturunan. Sesungguhnya, kekuasaan bisa tercipta dari wibawa, citra, perkataan dan perilaku yang membuat orang lain menghargainya. ‘Sugih tanpa bandha’ atau kaya tanpa harta. Maksud dari kalimat ini adalah kekayaan bukanlah tolak ukur yang utama. Kaya yang dituju bukanlah mengumpulkan uang atau harta, tapi dengan membuat hubungan baik dengan setiap orang.

  • (c). Urip Iku Urup

Dalam bahasa Indonesia, ungkapan ini bisa berarti bahwa hidup itu menyala. Seperti nyala api yang berkobar, hendaknya kita juga menjalani hidup dengan berkobar dan penuh semangat dan bisa memberi manfaat bagi orang-orang di sekitar kita. Hidup bukan tentang diri sendiri, tapi juga tentang orang-orang di sekitar kita.

PicsArt_07-27-05.54.42

‘Urup’ juga bisa berarti menukar. Konsepnya di sini adalah semua pihak sama-sama mendapatkan manfaat. Misalnya, padi yang sudah dipetik di ‘urup’ dengan barang kebutuhan lain seperti sayur atau ikan. Maka kedua belah pihak sama-sama mendapatkan manfaat. Begitulah selayaknya kita menjalani hidup, yaitu dengan saling memberi manfaat pada orang lain.

  • (d). Sura Dira Jaya Jayadiningrat, Lebur Dening Pangastuti

Secara harfiah, ungkapan ini berarti, ‘segala macam bentuk kemungkaran dapat dikalahkan oleh kelembutan hati’. Suro Diro Joyo Diningrat bisa berarti segala bentuk kejahatan, sedangkan pangastuti adalah adalah sikap pasrah dan taat pada Tuhan.

Jika dirangkaikan, maka makna dari istilah ini adalah bahwa segala macam kejahatan bisa dikalahkan atau diatasi bukan dengan melakukan hal yang sama atau balas dendam. Melainkan dengan sikap pasrah dan taat kepada Tuhan Yang Maha Esa.

  • e. Ojo Gumunan lan Kagetan, Ojo Getunan lan Aleman

PicsArt_07-27-05.50.12

‘Ojo Gumunan lan Kagetan’ dalam bahasa Indonesia berarti jangan mudah terheran-heran dan jangan mudah kaget. Kalimat ini punya makna bahwa kita diajak untuk tidak mudah kaget, heran, atau terpana sehingga menjadi suka menyanjung seseorang. Maksudnya adalah karena kita juga bisa meraih apa yang menjadi kesuksesan seseorang jika kita mau berusaha. Selain itu, satu-satunya yang pantas disanjung dan dipuji hanyalah Tuhan.

‘Ojo Getunan lan Aleman’ berarti jangan gampang terlalu menyesali keadaan dan mudah ngambek atau manja. Maksud dari ungkapan ini adalah mengajak kita agar tidak berlarut-larut menyesali keadaan. Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahaan dan mengalami kegagalan, jadi jangan manja dan segeralah bangkit untuk memperbaiki keadaan.[2]

Meski kebudayaan Jawa masih ada, bukan tidak mungkin dengan derasnya era modernisasi kebudayaan Jawa ini bisa tergerus. Falsafah Jawa sebenarnya mengajarkan hal-hal yang baik dalam kehidupan manusia. Sayangnya banyak orang kini justru menganggap falsafah tersebut kuno dan ketinggalan jaman. Oleh karena itu, peran generasi mudanya lah yang akan menentukan bagaimana kelestarian kebudayaan ini nantinya.

Referensi

  1. boombastis.com/kebudayaan-jawa-turun-temurun/76156
  2. boombastis.com/falsafah-hidup-jawa/35183
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s