Lanjutan dari Artikel Sebelumnya: Perang Diponegoro Adalah Jihad Fisabilillah (bagian 1)

Pada pertengahan tahun 1827, Jenderal De Kock mulai merintis jalan perundingan dengan menugaskan seorang pengusaha berkebangsaan Inggris (William Stavers) dan seorang pengusaha keturunan Arab (Ali Chalif) untuk berunding serta menawarkan kepada Pangeran Diponegoro untuk memilih tanah di mana saja yang diinginkannya asal bersedia menghentikan peperangan. Namun tawaran ini ditolak.

De Kock gagal karena selama ini banyak terfokus untuk menangkap pimpinan. Ia kini mencoba untuk melakukan cara pendekatan pribadi dengan para tumenggung beserta bawahannya. Operasi-operasi militer intensif bukan semata-mata untuk menghancurkan lawan atau merebut daerah lawan, tetapi juga sekaligus mengucilkan para pemimpinnya. Berbeda dengan perang umum, pihak lawan dalam perang kecil tidak memiliki center of gravity sehingga sulit untuk menentukan sasaran pokok. Salah satu cara menghancurkannya adalah dengan merebut milik yang paling berharga bagi mereka, to capture whatever they prize most.

Bagi de Kock, para pimpinan lawan adalah sesuatu yang amat berharga. Mereka dibujuk dan diajak berbicara untuk menyelesaikan permusuhan secara damai. Berunding dengan lawan tidak berarti mengurangi kehormatan dan kewibawaan pemerintah karena karakter orang Jawa ternyata sulit diperhitungkan. Mereka seringkali terlihat sebagai orang yang lamban dan pemalas, namun ternyata mereka adalah gerilyawan yang tangguh.

Dari hasil pemikiran dan pengalaman di lapangan, de Kock memperbaiki kesalahan strategi mobilitasnya. Pada tahun 1827, ia memutuskan untuk melaksanakan strategi baru, yaitu strategi Stelsel Benteng. Strategi ini meliputi dua aspek, yaitu aspek strategi dan aspek sistem persenjataan yang menyatukan pasukan dengan senjatanya. Dalam strategi ini, benteng, meriam dan pasukan menjadi unsur pokok ofensif-defensif. Benteng menjadi tidak terpaku dalam satu wilayah (statis), tetapi dinamis.

Dalam teori strategi, Stelsel Benteng disebut sebagai strategi tidak langsung. Sebab, penguasaan wilayah agar pasukan dapat memperoleh kebebasan bergerak esensinya. Pasukan harus berada sedekat mungkin dengan lawan untuk memecahkan konsentrasi pasukan lawan, sehingga benteng sebagai pangkalan pasukan harus dibangun sedekat mungkin dengan daerah penduduk lawan. Operasi-operasi militer yang berupa patroli taktis ofensif dilakukan secara teratur. Gunanya untuk mendesak lawan ke suatu “killing area”, yaitu daerah antara Sungai Projo dan Bogowonto, yang merupakan daerah yang dijaga secara ketat dengan mendirikan benteng-benteng untuk mempersempit lawan dan mencegah penerobosan lawan ke luar wilayah, serta mendisorganisasi kekuatannya.

Pelaksanaan strategi benteng disertai beberapa pedoman dan operasi yang harus ditaati oleh setiap prajurit, seperti larangan (forbidances) bagi pasukan untuk tidak membakar desa (rumah, lumbung- lumbung pangan dan rumah ibadah), menangkap ternak (lembu, kerbau dan kambing), menghancurkan panen juga persediaan makanan atau lumbung-lumbung pangan. Perbuatan- perbuatan tersebut hanya akan menimbulkan sikap antipati dan permusuhan yang berujung perlawanan.

Pasukan juga diharuskan berhubungan langsung dengan masyarakat agar mereka merasa terlindungi. Merebut simpati masyarakat amat esensial dalam strategi ini. Inilah sebuah strategi yang menggabungkan beberapa aspek militer ofensif-defensif dengan aspek kultural, psikologi dan ekonomi.

Secara ringkas, konsepsi Stelsel Benteng adalah penguasaan teritorial atau penaklukan total. Penguasaan teritori merupakan tujuan pokok, sebab jika keamanan ditegakkan, diharapkan perekonomian rakyat akan pulih dan pajak-pajak bisa dipungut kembali. Aspek kultural yang disosialisasikan kepada tentara adalah menghormati kepercayaan dan budaya setempat. Aspek psikologi terutama untuk melunakkan sikap fanatik (dwiepziek) lawan.

Konsepsi Stelsel Benteng dimaksudkan untuk memperbaiki kualitas daya tempur pasukan Jendral de Kock yang merasa malu atas kegagalan selama perang dua tahun. Dapat dikatakan, strategi itu adalah kekuatan baru setelah gagasan membagi Kesultanan Yogyakarta ditolak oleh Menteri Koloni dan Kelautan, Elout, pada April 1827 atas nama Raja Belanda.

Operasi sosial dilakukan oleh Belanda dengan mengerahkan para bangsawan pemilik apanage ke medan perang dengan tugas utama mempengaruhi masyarakat agar tidak melakukan “perbuatan jahat”. Istilah “berandal” juga dipopulerkan di masyarakat.

Operasi psikologi dilakukan oleh Belanda dengan mengangkat kembali Sultan Sepuh (Sultan Hamengkubuwono II) pada Agustus 1826. Pengangkatan ini membawa pengaruh besar terhadap sebagian bangsawan yang berpihak pada Diponegoro. Pangeran Mangkudiningrat, adalah salah satu pimpinan pasukan di Sambiroto yang meninggalkan Diponegoro. Ia menghubungi Residen Kedu, van Valck, untuk menyatakan keinginannya menghentikan permusuhan dengan meminta imbalan apanage di Kaliabu. Pada 1 Desember 1826, sekalipun permohonannya ditolak, Mangkudiningrat tetap menyerah. Menyerahnya Mangkudiningrat menginspirasi Belanda untuk membuat surat tawaran yang berisi ajakan untuk berdamai dan menghentikan permusuhan juga disampaikan kepada para pimpinan pasukan Diponegoro lainnya. Pangeran Notoprojo dan Pangeran Serang berhasil dibujuk.

Belanda juga melakukan operasi teritorial sebagai upaya menjauhkan Diponegoro dari rakyat. Karena tanpa dukungan rakyat, pasukan Diponegoro akan terisolir dan hanya dianggap sebagai berandal atau gerombolan perampok. Tujuan utamanya adalah untuk memikat hati rakyat, membina perkawanan, dan merebut teritori secara damai, yang berguna untuk mempersempit ruang gerak lawan. Belanda berusaha merebut simpati rakyat dengan membentuk opini dan sikap antipati terhadap pasukan Diponegoro.

Operasi teritorial dilakukan dengan dua cara, persuasif dan intimidasi. Cara persuasif dilakukan untuk meyakinkan rakyat bahwa tentara Belanda tidak berperang atau memusuhi orang Jawa, tetapi hanya mencari Diponegoro dan Kyai Mojo serta pengikutnya. Cara kedua dilakukan dengan intimidasi. Bila ada orang yang menolak memberikan informasi kepada pasukan Belanda, seluruh penduduk akan dianggap berandal dan desa akan dibakar. Para kuli dan tukang rumput (untuk kuda) juga tidak akan dibayar upahnya.

Menipu dan Mengubur Citra Mujahidin

PicsArt_07-28-07.25.16

Menerima tawaran musuh untuk berdamai dengan syarat-syarat yang disepakati bukanlah hal yang dilarang dalam prinsip perang menurut Islam. Sebab Allah berfirman, “Kalau mereka cenderung kepada perdamaian, maka sambutlah kecenderungan itu, dan berserah dirilah kepada Allah.” (Al-Anfal, 8: 61).

Rasulullah saw dalam sejarah telah beberapa kali mengadakan perjanjian damai. Perjanjian Hudaibiyyah, misalnya. Poin-poin persetujuannya pada awalnya dianggap merugikan kaum muslimin dan mengundang protes keras dari senior sahabat. Namun, pada akhirnya para sahabat mengakui kehebatan Nabi saw dalam perundingan tersebut. Banyak hal yang patut dianalisis dari proses perjanjian Hudaibiyyah ini agar kaum muslimin yang meneladani ajaran Nabinya tidak terjerumus dalam tipu daya musuh.

Pada akhir 1829, posisi Diponegoro beserta sisa pasukannya telah diketahui secara jelas. Namun de Kock tidak memerintahkan penyerbuan untuk membunuh Diponegoro. Ia sadar pengaruh Diponegoro masih besar di masyarakat Jawa. Hal ini terbukti saat ia mengumumkan sayembara untuk menangkap Diponegoro, hidup atau mati, dengan hadiah uang, tak seorang pun yang menanggapi.

Sebagai pribadi dan sebagai seorang prajurit, de Kock ingin mengakhiri perang dengan kesatria tanpa menjadikan Diponegoro sebagai pahlawan. Kematian Diponegoro hanya akan membuat orang Jawa menganggap orang Belanda sebagai musuh— sesuatu yang sangat ingin dihindarinya.

Dengan alasan tersebut, ia akhirnya memilih untuk memperdaya dan membujuk Diponegoro keluar dari kantong pertahanannya secara damai untuk kemudian menangkapnya. De Kock berusaha mengeksploitasi nilai-nilai budaya dan karakter kesatria bangsawan Jawa yang ada pada diri Diponegoro. Salah satu nilai kesatria yang dianggap luhur adalah “seorang kesatria pantang ingkar terhadap janji”. Karena itu, ia memerintahkan Kolonel Cleerens untuk terus melakukan aksi tipu daya terhadap Diponegoro sampai ia mengucapkan janjinya.

Usaha untuk menghentikan Perang Jawa dengan damai yang licik terus dilakukan. Dengan menggunakan bekas tokoh-tokoh Perang Jawa seperti Alibasah dan Patih Danureja dalam usaha perdamaian licik membawa hasil yang menggembirakan bagi Belanda. Sebab pada tanggal 16 Februari 1830 telah terjadi pertemuan pertama antara Diponegoro dengan Kolonel Cleerens, wakil pemerintah Hindia Belanda dalam rangka perdamaian di Kamal, sebelah utara Rama Jatinegara daerah Bagelen.

Pertemuan perdamaian tidak dapat dilangsungkan, karena Diponegoro menuntut perundingan itu harus dilakukan oleh seorang yang mempunyai posisi yang sama dengan dia; setidak- tidaknya seperti Jenderal De Kock. Padahal Jenderal De Kock pada saat itu sedang berada di Batavia.

Untuk menunggu kedatangan Jenderal De Kock, maka Diponegoro dengan pasukannya terpaksa harus menginap di Kecawang sebelah utara desa Saka. Selama tenggang waktu perundingan, gencatan senjata dilakukan oleh kedua belah pihak.

Sebagai pribadi dan sebagai seorang prajurit, de Kock ingin mengakhiri perang dengan kesatria tanpa menjadikan Diponegoro sebagai pahlawan. Kematian Diponegoro hanya akan membuat orang Jawa menganggap orang Belanda sebagai musuh—sesuatu yang sangat ingin dihindarinya.

Desa Kecawang masih terlalu jauh, apabila perundingan akan dilangsungkan di sana. Oleh karena itu; untuk memudahkan jalan perundingan Diponegoro dengan pasukannya harus pindah ke Menoreh yang tidak begitu jauh dari Magelang, markas besar pasukan Belanda.

Pada tanggal 21 Februari 1830 rombongan Diponegoro telah tiba di Menoreh. Tetapi sampai 5 Maret 1830 Jenderal De Kock belum juga datang ke Magelang padahal bulan Ramadhan telah tiba. Berkenaan dengan bulan suci ini; Diponegoro tidak mau mengadakan perundingan dengan Belanda karena ia akan memusatkan dirinya untuk melakukan ibadah puasa selama sebulan. Kontak pertama antara Diponegoro dengan Jenderal De Kock terjadi pada tanggai 8 Maret 1830, sebagai perkenalan dan selanjutnya jadwal perundingan akan dilangsungkan sesudah bulan Ramadhan.

Menjelang hari raya Idul Fitri, Diponegoro telah menerima hadiah dalam bentuk seekor kuda tunggang yang sangat baik dan uang sebesar f 10.000.- Kemudian diikuti dengan pembebasan putra dan istei Diponegoro yang ditahan di Semarang dan membolehkan mereka berkumpul dengan Diponegoro di tempat penginapan perundingan di Magelang.

Menjelang hari raya Idul Fithri, Diponegoro telah menerima hadiah dalam bentuk seekor kuda tunggang yang sangat baik dan uang sebesar f 10.000.- Kemudian diikuti dengan pembebasan putra dan istri Diponegoro yang ditahan di Semarang dan membolehkan mereka berkumpul dengan Diponegoro di tempat penginapan perundingan di Magelang.

Di sisi lain, pada tanggal 25 Maret 1830, Jenderal de Kock telah memberikan perintah rahasia kepada Letnan Kolonel Du Perron dan pasukannya untuk memperketat pengawalan dan penjagaan kota Magelang dengan mengerahkan pasukan Belanda dari beberapa daerah di Jawa Tengah. Instruksinya, apabila perundingan gagal, Diponegoro dan delegasinya harus ditangkap!

Proses menuju perundingan pun berlanjut dan pada babak pertama Belanda merasa akan menemui jalan buntu. Hal itu setelah Diponegoro memberikan jawaban bahwa tujuan perangnya adalah mendirikan negara di bawah naungan Islam. Belanda khawatir jika perundingan ditunda sampai besok, berarti kesempatan buat Diponegoro dan pasukannya untuk mengadakan konsolidasi guna menghadapi segala kemungkinan. Sesuai dengan rencana Belanda bahwa perundingan adalah semata-mata metode untuk menangkap Diponegoro dan stafnya.

Setelah ditangkap, akhirnya pada tanggal 3 Mei 1830 Diponegoro beserta stafnya dibawa ke tempat pembuangannya di Menado. Tidak kurang dari 19 orang yang terdiri dari keluarga dan stafnya ikut dalam pembuangan di Menado. Pada tahun 1834 Diponegoro beserta keluarga dan stafnya dipindahkan ke kota Makasar. Dan pada tanggal 8 Januari 1855 Diponegoro wafat dalam usia kira-kira 70 tahun, setelah menjalani masa tawanan selama 25 tahun.[7]

Perang Diponegoro Merupakan Perang di Bawah Panji Islam

Profesor dalam bidang Ilmu Sejarah, Peter Carey menyatakan apresiasinya terhadap buku tulisan Saleh A. Djamhari yang berjudul “Strategi Menjinakkan Diponegoro”. Menurutnya, buku tersebut merupakan buku pertama sesudah zaman Hindia Belanda yang didasarkan di atas penelitian yang nyata terhadap arsip militer Belanda.

“Sejak zaman kolonial, ini merupakan satu buku yang setahu saya, pertama kali, didasarkan atas satu kajian yang sangat terperinci sekali yang diambil dari arsip militer belanda. Satu buku yang didasarkan atas penelitian yang luas sekali,” ujar Peter Carey dalam diskusi serta peluncuran buku “Strategi Menjinakkan Diponegoro” pada Rabu, (27/08) malam di Wisma Proklamasi, Jakarta Pusat.

Pria bule yang telah 40 tahun meneliti sejarah Jawa ini juga mengungkapkan bahwa ketekunan penelitian Saleh terhadap arsip-arsip primer menambah keistimewaan buku ini. Sehingga, distorsi sejarah Diponegoro yang sangat erat dengan nuansa Islami tidak terjadi dalam buku ini.

“Kalau kita melihat ke belakang, seperti Muhammad Yamin yang ditugaskan pemerintah Jepang untuk membuat satu buku untuk sekolah dasar, SMP. Atau (buku tentang Diponegoro, red) Pak Sagimun atau Soekanto dan lainnya, semua didasarkan pada buku-buku yang sudah diterbitkan oleh Belanda dan dialihkan dari jalur Islam,” tegas Carey.

Carey menerangkan bahwa sejarah Diponegoro ini merupakan momen penting dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia, khususnya rakyat Jawa karena perang Diponegoro bukanlah semata perebutan kekuasaaan namun perang di bawah panji Islam.

“Saya kira ini satu saat yang menentukan bagi bangsa Indonesia dan bangsa Jawa pada khususnya. Ini bukan satu karya yang biasa. Pertama kali dalam sejarah bangsa Indonesia ada satu perang yang pada hakekatnya bukan merebutkan kekuasaan, bukan untuk merebut tahta. Seperti Perang Giyanti, Perang Jogja, yang hampir 100 tahun-80 tahun mulai dari Trunojoyo sampai Amangkurat I yang berakhir dengan Perang Giyanti. Ini satu perang dibawah panji Islam,” tandas sejarawan Inggris yang gemar mengkaji sejarah Asia Tenggara ini.[8]

Sawo Kecik Merupakan Kode Pengikut Pangeran Diponegoro

Kekalahan Diponegoro dalam sejarah Islam Indonesia menurut dai sekaligus pengkaji budaya Yogyakarta, Salim A. Fillah menjadi berkah di balik musibah. Setidaknya, syiar Islam akhirnya menyebar luas melalui para pengikut Diponegoro.

“Laskar-laskar ini (Diponegoro) menyebar ke seluruh Jawa bahkan ke luar Jawa mendirikan desa-desa baru dan menjadi pengajar di desa-desa tersebut dengan dasar-dasar Islam”, paparnya pada peserta Seminar Akbar Islam dan Nusantara di Aula Ar-Rahman Qur’anic Learning Center (AQL), Tebet, Jakarta Selatan, Sabtu (27/06/2015) seperti diungkapkan AAPI melalui rilisnya kepada Kiblat.net.

Para laskar Diponegoro yang menyebar di daerah Jawa, menancapkan kuku dakwah ke beberapa daerah. Di antaranya, Malang, Banyumas, Kebumen dan ke timur sampai Madiun dan Malang, yang dulu ke utara sampai ke arah Blora, Cepu, daerah Rembang.

Di mana para pengikut diponegoro menyebar dan menancapkan kuku dakwah, maka di situ menjadi basis untuk dakwah di hari-hari berikutnya.

Salah satu ciri yang dibawa para laskar Diponegoro ialah adanya pohon sawo berjajar dan kemudian ada pohon sawo kecik. Oleh Salim, ini merupakan kode di antara pengikut pangeran Diponegoro.

“Coba perhatikan di rumah apakah ada pohon sawo berjajar kemudian ada pohon sawo kecik, ini adalah kode di antara pengikut Pangeran Diponegoro,” tutur Salim.

Pohon sawo tersebut mempunyai filosofi bahwa para laskar Diponegoro untuk merapatkan shaf sedangkan pohon Sawo Kecik mengartikan sebar kebaikan.

“Pohon sawo berjajar itu sudah melambangkan untuk merapatkan barisan atau shaf, Sawo Kecik itu artinya sebar kebaikan, maka sambil menunggu untuk berjihad kembali, rapatkanlah barisan dan tebarkanlah kebaikan untuk sesama,” pungkasnya.[9]

Kesimpulan

Mengulang pembukaan tulisan bersambung ini, kita melihat bahwa diskursus tentang negara Islam di tanah Jawa sudah ada dari jaman Pangeran Diponegoro. Bahkan bukan sekadar wacana, melainkan bagaimana untuk mempertahankannya. Perang Jawa yang dahsyat dan penuh patriotisme telah digerakkan dan dipimpin oleh tokoh-tokoh pejuang Islam, yang hampir sebagian terbesar berideologi Islam dan bertujuan berdirinya negara merdeka yang berdasarkan Islam.

Fakta-fakta sejarah yang terungkap, baik latar belakang yang mewarnai para tokoh Perang Jawa, masa peperangan yang memakan waktu lima tahun lebih, yang diisi dengan menegakkan syariat Islam di dalam kehidupan pasukan Diponegoro sampai pada saat perundingan dengan Belanda serta tujuan yang akan dicapai, semuanya adalah bukti yang kuat bahwa Diponegoro dan pasukannya telah melakukan perjuangan politik Islam untuk mendirikan negara Islam di tanah Jawa.

Bila hari ini diskursus tentang negara Islam kembali hangat, mestinya umat tidak perlu merasa heran. Ini berarti ada yang memelihara kesinambungan perjuangan Islam di tanah Jawa sesudahnya, sebagai sebuah upaya rekonstruksi sejarah dan mengembalikan visi dan misi Islam kembali ke jalurnya. Yang harus menjadi pertanyaan adalah apakah Anda menjadi pelanjut perjuangan itu kini?

Referensi

  1. hidayatullah.com/feature/kisah-perjalanan/read/2015/05/05/69167/napak-tilas-pejuangan-jihad-pangeran-diponegoro-1.html#.V5k8N8SlbqA
  2. hidayatullah.com/feature/kisah-perjalanan/read/2015/05/05/69179/napak-tilas-pejuangan-jihad-pangeran-diponegoro-2.html
  3. kiblat.net/2014/12/24/ideologi-jihad-diponegoro-15-belajar-islam-dan-hijrah/
  4. kiblat.net/2014/12/25/ideologi-jihad-diponegoro-25-perang-untuk-kemuliaan-islam/
  5. kiblat.net/2014/12/26/ideologi-jihad-diponegoro-35-idad-dan-permulaan-perang/
  6. kiblat.net/2014/12/27/ideologi-jihad-diponegoro-45-kafir-asli-dan-kafir-murtad/
  7. kiblat.net/2014/12/28/ideologi-jihad-diponegoro-55-cara-musuh-melemahkan-jihadis/
  8. kiblat.net/2014/08/28/sejarawan-inggris-perang-diponegoro-merupakan-perang-di-bawah-panji-islam/
  9. kiblat.net/2015/07/02/ternyata-sawo-kecik-merupakan-kode-pengikut-pangeran-diponegoro/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s