Diponegoro, Keraton Khilafah Islam

PicsArt_07-28-07.24.42

Salim A. Fillah, seorang penulis produktif sekaligus seorang dai muda yang sangat mendalami kisah sejarah perjalanan jihad Pangeran Diponegoro dan hubungan Keraton Jogjakarta yang mengambil dari para saksis dan buku-buku sejarah.

Dengan penjelasannya yang rinci dan fasih, penulis “Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim” (2007) dan “Lapis-lapis Keberkahan” (2014) ini  begitu sangat menjiwai perjuangan paramujahidin di Tanah Jawa itu.

Pangeran Diponegoro (lahir di Yogyakarta, 11 November 1785) terkenal karena memimpin Perang Jawa (Java Oorlog 1825-1830) melawan penjajah Belanda.

“Perang tersebut tercatat sebagai perang dengan korban paling besar dalam sejarah Indonesia. Pemerintahan Belanda di Jawa sampai hampir mengalami kebangkrutan karena kas pemerintah dikeluarkan sangat banyak untuk peperangan ini. Kurang lebih menghabiskan uang 20 juta gulden dan jumlah tentara Belanda yang tewas ribuan,” ujar Salim A Fillah.

Diponegoro, adalah seorang pangeran alim dari keraton Jogjakarta. Putra sulung Sultan Hamengkubuwono III, seorang raja Mataram di Yogyakarta.

Pangeran Diponegoro memiliki banyak nama dan gelar. Diantaranya, Muhammad Muthahar, Syaikh Abdurrahim, Pangeran Antawirya, Sultan Abdul Hamid.

“Lihat salah satu panggilannya adalah “Syaikh”. Menunjukkan beliau bukan hanya orang ningkrat kerajaan, tapi seorang ulama,” demikian ujar Salim A Fillah.

Mengutip beberapa bukti sejarah, Salim menceritakan, kurikulum Keraton Mataram sejak Hamengkubuwono I sampai IV menggunakan Kurikulum Islam.

Kala itu, anak-anak Keraton diwajibkan Bahasa Arab. Raja Hamengkubuwono bahkan dikenal fasih berbahasa Arab kala itu.

Ini bisa dimaklumi, sebab pada masa itu Mataran tunduk kepada Kesultanan Turki Utsmani. Raja menyatakan bagian dari Daulah Utsmaniyah. Maka tidak heran hubungannya sangat erat dan kuat.

Hubungan-hubungan yang menunjukkan jejak Turki diantaranya adalah salah satu gelar Pangeran Diponegoro adalah ‘Abdul Hamid’, di mana di Turki sultannya kala itu bernama Abdul Hamid.

Selain itu, jejak pengaruh Kekhalifahan Turki juga terlihat dari  struktur militer Pangeran Diponegoro di mana salah satu Brigade Laskar Diponegoro bernama “Turkiyo”, konon mereka berasal dari Turki.

Panglima tertingginya kala itu adalah Sentot Ali Basah, yang diadaptasi dari gelar Ali Pasha bagi jenderal militer Turki.

Perubahan terjadi sejak masa Hamengkubowono V dan seterusnya. Di Keraton tidak ada lagi pelajaran Bahasa Arab. Bahkan tarian wanita yang sejak masa Hamangkubuwono I hingga IV dilarang justru, justru masuk dan menjadi pertunjukan di Keraton.

Di masa Hamengkubuwono V inilah, masa setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda diasingkan ke Manado kemudian dipindah ke Makassar hingga wafat.[1]

Kemben dan Baju Takwa

Pada masa itu raja-raja Bali terbiasa memberikan ‘hadiah wanita’ kepada raja-raja Jawa, berupa para budak-budak. Karena para wanita  Bali kala itu tak menggunakan penutup dada, maka di Jogja mereka diberi penutup dada berupa kemben seperti sekarang.

“Jadi, tradisi pakaian kemben merupakan tradisi kaum budak. Kalau pakaian wanita Keraton Jogjakarta yang asli sebagaimana ibu-ibu muslimat NU, auratnya ditutup, “ ujar Salim A Fillah.

Selain kemben, Napak Tilas ini juga menguak kisah ‘Baju Takwa’, baju resmi  Keraton Yogjakarta yang bermakna filosofis Islam dan kaya dengan nilai-nilai islami.

Kala itu, ketika bertakhta di Mataram 1613-1645, Sultan Agung memilih pakaian kerajaan. Dalam Perjanjian Palihan Nagari 1755, Sultan Hamengkubuwana I menetapkan ‘busana takwa’ sebagai busana resmi Keraton Yogyakarta dengan memiliki beberapa unsur.

  • Pertama, Keris yang dikenakan di belakang. Penempatan keris di belakang dalam bahasa Jawa disebut Curiga (waspada) atau Dhuwung(sadar/hati-hati). Inilah makna takwa mengadaptasi obrolan antara Umar Bin Khatab dan Ubay Ibn Ka’ab.
  • Kedua, kain bawahan dikenakan sebagai bebet. Maknanya, perut dan bawah perut adalah markas syahwat yang harus dibebeti, dibebat(dikendalikan agar tak liar). Kain ini diwirubagian ujungnya, yakni agar terjaga sifatwara’/wira’i. Ini diambil dari Al-Quran, “Adapun orang yang takut pada keagungan Rabbnya & mencegah diri dari hawa nafsu, surgalah tempat tinggalnya.” (QS: An Naazi’aat 40-41).
  • Ketiga, pasangan ikat pinggangnya disebutKamus & Timang. Filosofinta, takwa harus diikat dengan ilmu yang wajib dituntut daritimangan, buaian hingga liang lahat.
  • Keempat, pakaian atasan disebut surjan. Filosofinya, ketakwaan harus bersinar memancar sebagai “siraajan muniiraa” (mencahayai siang dan malam, memandu diri dan orang di sekitarnya). Sedang motif khasnya adalah lurik (garis-garis selang-seling berwarna) yang menuntut untuk lurus dalam hati, lurus dalam kata dan lurus dalam tindakan.
  • Kelima, blangkon.  Dimana dalam gagrakYogyakarta, ada mondholan (benjolan, red) di belakang. Mondholan berasal dari Bahasa Arab ‘minzhalah’, mizalatun (payung). Artinya,  penggunanya harus menjadi pengayom bagi masyarakat.

Inilah di antara makna takwa dalam busana Kasultanan Yogyakarta sesuai keputusan Hamangkubuwono ke I.

Sebagaimana diketahui, Perang Diponegoro dikenal merupakan perang besar dan heroik. Melibatkan hampir puluhan kota dan desa di tanah Jawa, khususnya Jawa Tengan dan Jawa Timur. Sejak menyatakan perang terbuka dengan penjajah, Pangeran Diponegoro tidak lagi tinggal di Tegalrejo tapi di sebuah gua, bernama Gua Selarong.

Goa tersebut tidak terlalu besar dan dalam. Hanya cukup untuk berteduh saja. Di gua terdapat tempat istirahat Diponegoro. Di depannya ada batu berbentuk persegi yang dulu dijadikan tempat duduk Diponegoro dalam mengatur pasukannya.

Di sebelah Barat gua terdapat air terjun (curug) yang digunakan untuk mandi dan wudhu para tentara Pangeran Diponegoro. Curug (air terjun) awalnya berasal dari satu sungai, lalu dialirkan menjadi dua air terjun yang lokasinya berbeda agar tempat wudhu pria dan wanita terpisah.

Lokasi goa cukup strategis sebagai markas pasukan. Dikelilingi bukit-bukit dan untuk mencapai ke gua, harus menaiki tangga-tangga. Kabarnya, gua ini beberapa kali diserang Belanda, namun tidak pernah berhasil. Belanda hanya mampu sampai di bawah bukit. Karena banyak pasukan Belanda tewas oleh Laskar Diponegoro.

Setelah perang usai, para tentara, kiai dan pengikut Pengeran Diponegoro menyebar ke berbagai daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Mereka tetap teguh memegang ajaran Islam.

Pangeran Diponegoro menggunakan baju kebesaran jubah putih, khas ulama Timur Tengah. Kisah sebenarnya hubungan antara Pangeran Diponegoro, Keraton Jogjakarta dengan Islam, hari ini justru banyak diputar-balikkan dan selalu dikaitkan dengan kelenik dan kesyirikan.[2]

Diskursus tentang negara Islam ternyata juga ada di tanah Jawa sejak jaman Pangeran Diponegoro. Bahkan bukan sekadar wacana, melainkan bagaimana untuk mempertahankannya. Perang Jawa yang dahsyat dan penuh patriotisme telah digerakkan dan dipimpin oleh tokoh-tokoh pejuang Islam, yang hampir sebagian terbesar berideologi Islam dan bertujuan berdirinya negara merdeka yang berdasarkan Islam.

Fakta-fakta sejarah yang terungkap, baik latar belakang yang mewarnai para tokoh Perang Jawa, masa peperangan yang memakan waktu lima tahun lebih, yang diisi dengan menegakkan syariat Islam di dalam kehidupan pasukan Diponegoro sampai pada saat perundingan dengan Belanda serta tujuan yang akan dicapai. Semuanya adalah bukti yang kuat bahwa Diponegoro dan pasukannya telah melakukan perjuangan politik Islam untuk mendirikan negara Islam di tanah Jawa.

Belajar Islam dan Hijrah

Diponegoro belajar mengenai Islam kepada Kyai Taptojani, salah seorang keturunan dari keluarga asal Sumatera Barat, yang bermukim di dekat Tegalrejo. Menurut laporan residen Belanda pada tahun 1805, Taptojani mampu memberikan pengajaran dalam bahasa Jawa dan pernah mengirimkan anak-anaknya ke Surakarta, pusat pendidikan agama pada waktu itu.

Di Surakarta, Taptojani menerjemahkan kitab fiqih Sirat Al-Mustaqim karya Nuruddin Ar Raniri ke dalam bahasa Jawa. Ini mengindikasikan, Diponegoro belajar Islam dengan serius.

Louw dalam De Java Oorlog Van 1825 – 1830, menulis: “Sebagai seorang yang berjiwa Islam, ia sangat rajin dan takwa sekali hingga mendekati keterlaluan.”

Masa muda dijalani Pangeran Diponegoro dengan berkelana dari masjid ke masjid dan berguru dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Kebiasaan itu membuatnya memiliki banyak guru (kyai, ulama) dan hubungan yang luas dengan komunitas santri.

Pengembaraannya di kalangan komunitas santri disertai pendalamannya atas sejarah Nabi Muhammad SAW telah mengubah sikap dan gagasannya tentang masyarakatnya. Situasi dan kondisi masyarakat Jawa masa itu dipersepsikannya identik dengan masyarakat Arab jaman pra Islam.

Kondisi masyarakat yang mirip dengan kehidupan Arab masa jahiliah tersebut membuat Pangeran Diponegoro merasa berkewajiban mengubahnya menjadi masyarakat Islami yang berdasarkan tuntunan Rasulullah SAW. Gagasannya itu kemudian tertuang dalam perjuangan untuk mendirikan negara Islam melalui perang Sabil terhadap orang kafir.

Pendirian Pangeran Diponegoro semakin teguh dan secara simbolik untuk menegaskan idealisme sikapnya itu, ia mulai menanggalkan pakaian Jawa dan menggantinya dengan pakaian jubah dan surban yang serba putih. “Saya bukan Diponegoro, saya adalah Ngabdul Khamid.”

Faktor lain yang menginspirasi Pangeran Diponegoro untuk berjihad dan untuk membentuk negara (balad) Islam adalah kerusakan di internal keraton. Masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IV adalah masa “keemasan” masuknya pengaruh budaya Eropa di Jawa. Pada 16 Desember 1822, Sultan Hamengkubuwono IV meninggal secara mendadak saat makan. Kemungkinan dia diracun. Kemudian pemerintah Hindia Belanda mengangkat RM Menol yang masih berusia 2 tahun sebagai Sultan Hamengkubuwono V.

Tiadanya kepemimpinan yang kuat dan disegani telah membuat wibawa keraton menjadi hilang sehingga tingkah laku para pejabat pemerintahan Hindia Belanda semakin menjadi-jadi, semakin mudah keluar masuk keraton dan mengadakan hubungan gelap dengan putri-putri keraton. Skandal seks dan perselingkuhan merebak di kalangan keluarga para bangsawan dan keluarga kalangan keraton. Korupsi, penyalahgunaan jabatan dan pemerasan rakyat meluas. Tanah-tanah milik kerajaan (Kroonsdomein) yang subur disewakan kepada orang Eropa atau orang Cina yang mendapat dukungan dari para bangsawan keraton serta Residen pemerintah kolonial Belanda. Pungutan pajak dan pungutan bea lainnya semakin ditingkatkan—tanpa mengindahkan akibat yang semakin membebani kehidupan rakyat—dengan semakin memperbanyak gerbang pajak (Tol Poorten) yang disewakan kepada orang-orang Cina.

Diponegoro hidup dalam suatu dunia yang semakin terbelah, antara mereka yang siap menyesuaikan diri dengan rezim Eropa yang baru dan mereka yang melihat tatanan moral Islam sebagai “bintang pedoman” dalam masyarakat yang telah kehilangan tambatan tradisionalnya.

Keputusannya untuk melawan pada bulan Juli 1825 adalah karena tuntutan keadaan waktu itu. Ia tidak punya pilihan lain. Dalam melakukannya ia benar-benar bersikap seperti ungkapan “kemuliaan kegagalan” (the nobility of failure) dalam tradisi samurai Jepang, yaitu kemampuan untuk tetap setia pada cita-cita meskipun tahu akan kalah atau menemui ajalnya.[3]

Perang untuk Kemuliaan Islam

Banyak penutur sejarah yang mengatakan bahwa perang Diponegoro dipicu oleh perang dinasti antara kesultanan Mataram dan Surakarta dan masalah patok kuburan leluhurnya yang dilanggar. Namun kajian lain mengatakan tidak demikian. Pemikiran sejarah haruslah logis, kata Hacket Fischer, agar mencegah kekeliruan penuturan sejarah. Logikanya, butuh lebih dari itu untuk melangsungkan perang panjang yang dampaknya hingga menguras anggaran belanja sebuah negara.

Alasan dan tujuan jihad Pangeran Diponegoro dapat dilihat dari pernyataan-pernyataannya selama perang panjang melawan orang-orang kafir.

Jihad yang dilakukan oleh Diponegoro bertujuan untuk menegakkan agama Islam di Jawa. Hal ini terlihat dalam surat balasan yang ditulis oleh Diponegoro kepada Jenderal de Kock yang menanyakan maksud dan tujuan Diponegoro:

“Dhateng ingkang saudara

Jenderal de Kock ri sampunnya

Tabe kawula punika

Dene Jengandika tanya

Menggah Karsane ki Harya

Estu yen darbe karsa

Rumiyin lan sapunika

Nging luhuring kang agama

Ing Tanah Jawi sadaya

Kalamun estu andika

Tan makewedi punika

Mring agamane akar ya

Islame ing Tanah Jawa

Pan inggih purun ki Harya

Dhame lawan Jengandika

Nanging Anedha pratandha

Kepada Saudara

Jenderal de Kock

Saya mohon maaf

Jika anda bertanya

Apa keinginan Aryo (Diponegoro)

Sungguh bila punya keinginan

Hanya untuk meninggikan agama

Di seluruh tanah Jawa

Jika anda benar-benar

Tidak membuat kesulitan

Kepada agama

Islam di tanah Jawa

Maka Aryo bersedia

Berdamai dengan anda

Tetapi, meminta bukti

Selain menegakkan Islam, jihad Diponegoro juga mempunyai misi untuk mendirikan negara Islam di tanah Jawa. Secara implisit hal itu disampaikan oleh Diponegoro kepada Kyai Penghulu yang hendak berangkat ke Mekkah menunaikan ibadah haji seperti yang dituturkan dalam pupuh Dandanggula (VII) berikut ini:

Syukur kaki dika janji

Lamun besuk dika prapteng Mekah

Poma aywa muleh-muleh

Matia aneng ngriku

Yen manira antuk kang Ardi

Dika kabar-kabarna

Lan dika nunuwun

Pandongane para imam

Muga kula oleha supangat Nabi

Lan kaliraning Allah

Den kuwatno manglawan mring kapir

Lan den banget andika nenedha

Sujud ing kakbahtolahi

Nunuwa ing Hyang Agung

Lestarine kang tanah Jawa

Dadya balad agama

Kaki laman estu

Wonten pitulung Hyang Suksma

Ki Pangulu den rikat andika mulih

Ki pangulu aturnya….

Syukurlah kalau begitu ananda, kamu harus janji

Jika kamu sudah tiba di Mekah

Sungguh jangan pulang-pulang

Jika perlu wafatlah di sana

Jika saya mendapat apa yang diperjuangkan

Kamu kabarkan

Dan kau pintakan

Doa kepada para imam

Semoga saya mendapat syafaat Nabi

Dan ridha Allah

Dikuatkan melawan orang kafir

Dan kamu mohonkan dengan sungguh-sungguh

Saat sujud di Ka’bah

Mohonlah kepada Tuhan

Lestarinya tanah Jawa

Menjadi balad agama

Wahai ananda, jika benar-benar

Ada pertolongan Tuhan

Ki Pengulu, cepat-cepat Anda pulang”

Ki Pengulu berkata….

Dari kutipan di atas terlihat bahwa keinginan Diponegoro adalah berdirinya balad agama yang lestari di tanah Jawa. Balad agama yang dimaksud adalah sebuah negara di tanah Jawa yang berlandaskan syariat Islam. Keinginan ini tidak hanya murni keinginan Diponegoro, tetapi menjadi keinginan dari pembantu dan pengikutnya juga. Indikasi itu terlihat dari saran Mangkubumi untuk mengangkat Diponegoro menjadi Sultan dengan gelar Abdulhamid Herucakra Amirul Mukminin Sayyidin Panatagama Khalifatur Rasul ing Tanah Jawa.

Tujuan jihad Pangeran Diponegoro juga tercermin dalam jawaban kepada Belanda yang meminta penghentian perang. Pada pertengahan tahun 1827, Jenderal De Kock mulai merintis jalan perundingan dengan menugaskan seorang pengusaha berkebangsaan Inggris (William Stavers) dan seorang pengusaha keturunan Arab (Ali Chalif) untuk berunding serta menawarkan kepada Pangeran Diponegoro untuk memilih tanah di mana saja yang diinginkannya asal bersedia menghentikan peperangan.

Menjawab tawaran Jenderal De Kock itu, Pangeran Diponegoro menjawab ia mau menghentikan peperangan dengan syarat : Pertama, semua orang Belanda harus memeluk agama Islam. Kedua, wilayah pesisir utara Jawa dikembalikan kepada Kesultanan. Ketiga, orang Belanda boleh tinggal di Jawa tetapi tidak boleh melakukan aktivitas perdagangan. Tujuan peperangan tidak lain adalah untuk memuliakan agama Islam.

Ketika pihak Jenderal De Kock terus mendesak tentang tujuan penerangan yang telah dilakukan oleh Diponegoro selama lebih lima tahun, akhirnya ia memberi jawaban dengan tegas dan gamblang. Yaitu antara lain: “Mendirikan negara merdeka di bawah seorang pemimpin dan mengatur agama Islam di pulau Jawa”.

Mendengar jawaban ini Jenderal De Kock terperanjat, karena ia tidak mengira bahwa Diponegoro akan mengajukan tuntutan semacam itu. Sewaktu De Kock memberi jawaban bahwa tuntutan semacam itu adalah terlalu berat dan tak mungkin dapat dipenuhi, Diponegoro tetap teguh pada tuntutannya.

Dari aspek kultural, jihad Diponegoro yang juga dikenal dengan Perang Jawa merupakan bentuk penolakan terhadap sistem budaya asing, termasuk sistem militer. Hal ini terlihat dalam susunan organisasi militer pasukan Diponegoro yang berkiblat pada Turki Utsmani untuk semakin menajamkan antipati terhadap budaya Barat.

Perang Jawa (1825-1830) adalah garis batas dalam sejarah Jawa dan sejarah Indonesia pada umumnya antara tatanan lama Jawa dan zaman modern. Itulah masa pertama kali sebuah pemerintah kolonial Eropa menghadapi pemberontakan sosial yang berkobar di sebagian besar Pulau Jawa. Hampir seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur, serta banyak daerah lain di sepanjang pantai utara Jawa terkena dampak pergolakan itu.

Sejarah telah mencatat bahwa faktor yang mendukung keberlangsungan perlawanan Diponegoro menjadi sangat hebat adalah tujuan-tujuan yang mulia tersebut. Berikut ini uraiannya:

Pertama: Perang Diponegoro bertujuan mempertahankan kedaulatan negara.

Kegiatan perlawanan militer Diponegoro adalah dalam kerangka penegakan Balad al-Islam (negara Islam). Ada tiga indikasi yang menunjukkan Perang Diponegoro bertujuan mempertahankan negara:

  • Memiliki ideologi (sumber ideologi) berperang untuk mendirikan negara yang berkeadilan berdasarkan Agama Islam. Aksi kolektif militer Diponegoro jelas bertujuan untuk mendirikan balad(negara) Islam yang sekaligus merupakan bentuk reaksi penolakan terhadap perluasan pengaruh kapitalisme atau liberalisme yang dianggap mengganggu sistem sosial dan keagamaan di Tanah Jawa.Menurut Louw perjuangan masyarakat Jawa di bawah kepemimpinan Diponegoro dilandasi oleh alasan yang lebih filosofis, yaitu jihad fi sabilillah. Hal ini diakui oleh Louw dalam De Java Oorlog Van 1825-1830:“Tujuan utama dari pemberontakan tetap tak berubah, pembebasan negeri Yogyakarta dari kekuasaan Barat dan pembersihan agama daripada noda-noda yang disebabkan oleh pengaruh orang- orang Barat.”Hal ini tampak dari ucapan Pangeran Diponegoro kepada Jenderal De Kock pada saat penangkapannya, “Namaningsun Kangjeng Sultan Ngabdulkamid. Wong Islam kang padha mukir arsa ingsun tata. Jumeneng ingsun Ratu Islam Tanah Jawi” (Nama saya adalah Kanjeng Sultan Ngabdulkhamid, yang bertugas untuk menata orang Islam yang tidak setia, sebab saya adalah Ratu Islam Tanah Jawa)”.
  • Bentuk penolakan terhadap kedaulatan sistem asing yang batil. Di samping itu sistem organisasi militer Pangeran Diponegoro- yang berkiblat ke Sistem militer Kekhalifahan Turki Usmani menunjukkan sikap hubungan formal bilateral antar dua kekuasaan politik. Terkait dengan kedaulatan, ada hubungan politik antara Pangeran Diponegoro dengan Khalifah di Turki. Bulkiyo yang berasal dari istilahBolzuk atau divisi pasukan elite Turki Usmani Janissari abad ke-16, juga digunakan sebagai nama korps pasukan elite Diponegoro.
  • Memiliki organisasi dan kondisi masyarakatnya yang mendukung. Kepemimpinannya mampu mendidik masyarakat, memupuk semangat, dan memberikan tujuan. Implikasi positifnya Pangeran Diponegoro memiliki Hegemoni Politik di wilayahnya.Dengan latar belakang ideologis, diiringi dengan kondisi sosial ekonomi saat itu yang penuh dengan kezaliman, semakin memudahkan Diponegoro untuk mendapatkan dukungan masyarakat. Kondisi tersebut antara lain: Pertama, wilayah keraton yang menyempit akibat diambil alih Belanda, Kedua, pemberian kesempatan kepada orang Tionghoa untuk menarik pajak, Ketiga, kekurangadilan di masyarakat Jawa, Keempat, aneka intrik di istana, Kelima, praktek sewa perkebunan secara besar- besaran kepada orang Belanda, yang menyebabkan pengaruh Belanda makin membesar, Keenam, kerja paksa bukan hanya untuk kepentingan orang Yogyakarta saja, tetapi juga untuk kepentingan Belanda.Kareel A Steenbrink menyebutkan, pemikiran dan kiprah Pangeran Diponegoro menarik para ulama, santri dan para penghulu merapat pada barisan perjuangannya.Carey menemukan 108 kyai, 31 haji, 15 Syeikh, 12 penghulu Yogyakarta, dan 4 kyai guru yang turut berperang bersama Diponegoro.Bagi sebagian kalangan, ini cukup mengherankan. Sebab, pasca pembunuhan massal ulama dan santri oleh Sunan Amangkurat I tahun 1647, hubungan santri dengan kraton digambarkan sangat tidak harmonis. Namun Pangeran Diponegoro yang merupakan keturunan bangsawan dan ulama sekaligus, berhasil menyatukan kembali dua kubu tersebut.

Kedua: Kekuatan motivasi dan kecakapan para pemimpin perang Diponegoro dalam mengelola aksi-aksi untuk mencapai tujuan.

Kemampuan para pemimpin perang Diponegoro dalam menggali dan mengolah emosi masyarakatnya agar tetap berkeyakinan terhadap perjuangan, merupakan salah satu faktor pendukung hingga peperangan bisa berlangsung lama.

Secara umum kecakapan itu tercermin dari munculnya strategi baru sebagai balasan untuk strategi Stelsel Benteng. Strategi langsung yang mengandalkan keunggulan jumlah tentara yang diterapkan Diponegoro sebelumnya sudah tidak efektif kemudian digantikan dengan strategi atrisi (die Ermatung Strategie). Strategi penggerogotan mengubah sifat perangnya menjadi perang jangka panjang.

Tujuan yang mulia tersebut menjadi motivasi yang kuat bagi Diponegoro untuk tidak menyerah kepada musuh. Bahkan ketika dalam Perundingan, Diponegoro menyadari telah ditipu, ia tetap menolak menyerah dan menyatakan lebih baik mati.

Pan wus yekti nora nana maning

Begja pinatenan

Ingsun tan nedya gumingsir

Sesungguhnya tidak ada lagi

Sekalipun dihukum mati

Saya tidak akan menyerah

Kesadaran itu membuatnya bersikap pasrah terhadap takdir. Ia memutuskan untuk meninggalkan Tanah Jawa karena tidak ada yang dimilikinya lagi di sana. Keputusan itu juga untuk menghormati mereka yang gugur dalam peperangan karena membela dan melaksanakan perintah.

Tujuan Diponegoro mencapai cita-cita ini terus dilakukannya, meski ia tahu bahwa ia akan kalah. Bukan keberhasilan mencapai tujuan ini yang menjadi fokus utama Diponegoro. Baginya, konsisten dalam menjalani proses adalah sebuah kemenangan tersendiri.[4]

I’dad dan Permulaan Perang

Selama 12 tahun Pangeran Diponegoro mempersiapkan diri untuk perang Sabil yang dicita-citakannya.

Tegalrejo merupakan suatu markplaats, yaitu tempat menyemai gagasan, konsep ideologi, politik, kenegaraan, budaya, militer, rencana strategi dan aksi; tempat berkumpulnya pemimpin masyarakat ketika di Kesultanan Yogyakarta terjadi kekosongan kepemimpinan; tempat Diponegoro memperoleh basis legitimasinya melalui permufakatan sukarela dari kelompok yang berkepentingan.

Diponegoro mendapatkan dukungan dari dua basis utama, yaitu dari kalangan komunitas santri dan pendukung berbasis kedaerahan. Para santri merupakan komunikator terdepan bagi penyampaian ide dan gagasan tentang negara Islam, perang sabil, dan masyarakat jahiliah. Mereka adalah kelompok yang memiliki jaringan luas di masyarakat.

Dalam tradisi pesantren, seorang santri yang tamat belajar wajib menjalankan semacam “inisiasi”, yaitu mengembara dari satu tempat ke tempat lain, untuk mengajarkan ilmunya kepada orang lain (dakwah). Pangeran Diponegoro memanfaatkan anggota komunitas religius untuk menjaga dan memelihara kontak- kontak hubungan dengan para pendukungnya di daerah-daerah yang jauh seraya mendorong pihak-pihak lain untuk ikut bergabung dalam perang sabil.

Selain komunitas santri, pendukung Diponegoro berasal dari lintas daerah, dengan tingkatan mutu tempur pasukan yang bertingkat. Menurut Diponegoro:

“Penduduk Madiun bagus dalam bertahan terhadap serangan pertama, namun setelah itu mereka tidak banyak berguna. Penduduk Pajang juga terkenal pemberani, tetapi tidak lama setelah itu kondisinya sama seperti yang tadi. Penduduk Bagelen lebih baik, itu kalau bertempur di daerahnya sendiri. Jika mereka harus bertempur di luar daerahnya, mereka kalah dengan cepat. Tetapi penduduk Mataram terbaik di antara semua; mereka bertarung dengan gigih dan tahu bagaimana harus prihatin dan tabah menghadapi penderitaan akibat perang.”

Setelah sekian lama mempersiapkan diri dan menggalang dukungan, pendirian Diponegoro semakin teguh setelah mengalami beberapa peristiwa yang menyinggung kehormatan pribadi dan pelanggaran terhadap norma-norma kehidupan Jawa dan Islam. Ditambah lagi beban kehidupan yang makin berat bagi masyarakat lapisan bawah. Ia akhirnya mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu, yaitu merebut kembali pulau Jawa.

Usaha menyongsong perang Jawa dimulai dengan mempersiapkan gua Selarong sebagai tempat awal untuk konsolidasi kekuatan laskar tempur para pengikutnya, membangun pabrik- pabrik mesiu yang tersembunyi dan tersebar di beberapa tempat, antara lain: desa Geger di sebelah selatan kota Yogyakarta, daerah Gunung Kidul, desa Parakan, desa Kembangarum di daerah Kedu, dan beberapa tempat lainnya.

Untuk mengetahui kekuatan musuh, Diponegoro menyebar telik sandi yang menyamar sebagai abdi pembantu rumah tangga, pekatik pemelihara kuda peliharaan, di lingkungan Keraton maupun di kediaman Patih Danurejo, Residen, Sekretaris Residen, Asisten Residen, para Ningrat yang dianggap sebagai sahabat para pejabat pemerintah Hindia Belanda, dan orang-orang lain yang dianggap sebagai lawan (musuh) dari cita-citanya mendirikan negara Islam, serta dilakukannya pembelian padi secara besar-besaran oleh masyarakat pada pertengahan 1825.

Pada pertengahan Juli 1825, terjadi insiden pemancangan patok batas rencana pembebasan tanah untuk pembangunan infrastruktur transportasi jalan baru dan penutupan jalan masuk ke kediamannya di Tegalrejo. Insiden itu membuat Pangeran Diponegoro merasa sudah tiba saatnya bagi dirinya untuk mengambil keputusan untuk berbuat sesuatu dengan memobilisasi kekuatan pasukan laskar tempur sebagai awal Perang Sabil merebut kembali pulau Jawa yang tujuan akhirnya mendirikan negara Islam.

Sejak terjadinya insiden pancang dan penutupan jalan dari Yogyakarta ke Tegalrejo, kediaman Diponegoro dijaga oleh 1.500 orang pengikutnya. Mereka terpengaruh berita bahwa Diponegoro akan ditangkap. Pada 21 Juli 1825, residen akhirnya memerintahkan satu detasemen pasukan yang dipimpin oleh asisten residen, Chevallier, untuk menangkap Diponegoro. Kedatangan pasukan tersebut disambut dengan perlawanan dari pengikut Diponegoro.

Dalem Tegalrejo dikepung, dihancurkan, dan dibakar. Diponegoro kemudian lari ke Selarong, sebuah desa strategis yang berada di kaki bukit kapur, kurang lebih 9 km dari Yogyakarta. Di sana, diam-diam telah lama dipersiapkan sebagai markas besar. Pada akhir Juli 1825, di Selarong telah berkumpul beberapa orang bangsawan Yogyakarta, antara lain Pangeran Mangkubumi, Pangeran Adinegoro, Pangeran Panular, Adiwinoto Suryodipuro, Kyai Mojo, Pangeran Ronggo, dan Pangeran Surenglogo.

Diponegoro memerintahkan Joyomenggolo, Bahuyuda dan Hanggowikromo untuk memobilisasi orang-orang di desa sekitar Selarong dan bersiap melakukan perang. Ia juga membuat perencanaan strategis dan langkah-langkah taktis untuk melakukan serangan.

Secara garis besar, strategi Diponegoro adalah merebut dan menguasai seluruh wilayah Kesultanan, lalu mengusir Belanda dan orang Cina keluar dari wilayah Kesultanan Yogyakarta. Nagara, terutama keraton Yogyakarta, sebagai sasaran strategis yang harus diduduki dengan mengepungnya dari semua penjuru. Pemberontakan lokal disulut untuk memecah kekuatan lawan dan kekuatan pihak-pihak yang membantu lawan.

Selanjutnya, Diponegoro mengambil beberapa langkah untuk mencapai tujuan strategisnya:

  1. Menyerbu nagara (Keraton Yogyakarta) dan mengisolasinya untuk mencegah datangnya pasukan bantuan dari luar Yogya karta.
  2. Mengirim pesan yang berisi perintah untuk memerangi orang Eropa dan Cina. Pesan itu disampaikan kepada para pemimpin pasukan ke seluruh wilayah Kesultanan; Kedu, Bagelen, Banyumas, Serang, dan wilayah Monconegoro Timur. Ia mengirim pesan yang sama kepada para demang di perbatasan Kesultanan dan Kesunanan. Diponegoro kemudian mengangkat pemimpin daerah melalui surat keputusan pengangkatan resmi yang disebut Piagem.
  3. Menyusun daftar bangsawan yang dianggap sebagai lawan dan melindungi mereka yang membantu.
  4. Membagi wilayah Kesultanan menjadi beberapa daerah perang serta mengangkat komandan wilayah dan komandan pasukan, juga melantik beberapa pembantu utama.
  5. Menyusun pasukan pengawal keraton yang terdiri atas enam korps, yaitu Pasukan Mantirejo, Pasukan Daeng, Pasukan Nyutro, Pasukan Mandung, Pasukan Ketanggung, dan Pasukan Kanoman.

Struktur organisasi, hierarki, dan susunan tugas masing-masing korps tidak meniru model Barat, tetapi meniru model organisasi Janissari, yaitu pasukan elit kekhilafahan Turki Utsmani abad ke-16, yang disesuaikan dengan kondisi Jawa. Untuk menjalankan strategi perlawanan, Diponegoro menggunakan hierarki Turki untuk kepangkatan pasukannya. Ali Pasha setara komandan divisi diadopsi menjadi Alibasah. Di bawahnya, Pasha setara komandan brigade menjadi Basah. Kemudian setara komandan batalyon adalah Dulah, yang diadopsi dari istilah kepangkatan Agadulah. Untuk setara komandan kompi, diambillah istilah Seh.

Struktur pimpinan perlawanan Diponegoro meliputi dari yang tertinggi Pramudeng Prang (Sultan Ngabdulkamid Herucokro Kabirul Mukminim Sayidin Panotogomo Senopati ing Ngalogo Sabilullah, yaitu Pangeran Diponegoro sendiri). Panglima Tentara adalah Alibasah Ngabdul Mustapa Sentot Prawirodirjo. Komandan untuk kewilayahan perang (mandala) Pajang, Yogyakarta, dan Bagelen, berturut-turut Alibasah Kasan Besari, Alibasah Sumonegoro, dan Pangeran Diponegoro.

Perang Diponegoro sebagai perang rakyat meluas di sebagian wilayah Jawa. Saleh menuangkan catatan Letnan Gubernur Jenderal LPJ (Viscount) du Bus de Gissignies yang menyebutkan adanya pasokan senjata untuk pasukan Diponegoro melewati pantai selatan (Samudra Hindia) di sekitar wilayah muara Sungai Progo.

Pada 9 Agustus 1828, diketahui ada sebuah padewakang, kapal Bugis, bersama sejumlah besar perahu kecil berangkat dari muara Sungai Progo ke arah daratan. Peristiwa ini diduga sebagai penyelundupan senjata untuk pasukan Diponegoro. Siapa yang membantu penyelundupan senjata untuk pasukan Diponegoro sampai sekarang belum terungkap. Dari Turki hanya digunakan istilah hierarki kepangkatan tentara Diponegoro.

Melihat persiapan yang begitu matang, selama beberapa tahun Diponegoro telah melakukan aksi conspiracy of silence karena dalam waktu yang relatif singkat mampu memobilisasi kekuatan. Ia dengan sengaja mempersiapkan diri untuk melakukan perebutan kekuasaan politik di Kesultanan Yogyakarta. Hal ini dimulai saat ia menolak pencalonan sebagai putra mahkota oleh John Crawfurd pada tahun 1812 hingga menolak tawaran Residen Baron de Salis untuk menjadi Sultan pada tahun 1822. Sikap tersebut menjadi bukti bahwa ia mempunyai pendirian dan ideologi tersendiri tentang negara dan sistem kenegaraan.[5]

Kafir Asli dan Kafir Murtad

Dalam pandangan Diponegoro dan pasukannya, perang yang mereka lakukan melawan Belanda dan sekutunya adalah sebuah jihad. Jihad dalam arti berperang melawan kaum kafir.

Diponegoro menggunakan Al-Qur’an sebagai dasar ideologi untuk berjihad. Sebagian besar kata Al-Qur’an dalam Babad Diponegoro menunjukkan makna Al-Qur’an sebagai landasan dalam berjihad. Dalam menafsirkan ayat-ayat Al-Qur’an yang membahas jihad dalam artian perang melawan orang kafir, Diponegoro meminta kepada penasihat utamanya, yaitu Kyai Keweron dan Kyai Mojo, untuk menjabarkan dan menafsirkan ayat-ayat tersebut. Hal ini karena Diponegoro secara pribadi mengaku tidak mengetahui seluruh isi Al-Qur’an dan takut apabila salah dalam menafsirkannya.

Secara umum, Babad Diponegoro tidak menunjukkan dengan terperinci ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan dasar dalam jihad. Diponegoro hanya mengungkapkan bahwa perjuangan yang dilakukannya didasarkan atas menjalankan perintah untuk menjalankan ayat qital dalam Al-Qur’an.

Ngantepi Islamnya sama

Nglampahi parentah dalil

Ing Quran pan ayat Katal

Namung sing Rabulngalamin

Ing akerat punika

Tetepa ingkang sinuwun

Semua orang memegang teguh Islam

Menjalankan perintah dalil

Ayat Qital dalam Al-Qur’an

Hanya kasih Rabbul’alamin

Di akhirat lah

Yang tetap dimohon

Adapun sasaran dari jihad Diponegoro adalah dua kelompok, yaitu orang-orang kafir dan murtad. Yang dimaksud kafir adalah orang Belanda yang notabene adalah non-Muslim dan telah melakukan penyerangan dan penjajahan terhadap umat Islam. Sedangkan kata murtad ditujukan kepada orang-orang Muslim Indonesia yang membantu Belanda dalam memerangi Diponegoro dan pasukannya serta melakukan kegiatan penindasan kepada rakyat.

Dalam babad Diponegoro terdapat kurang lebih 96 kata kafir dan 70 kata murtad yang konteksnya adalah musuh orang-orang Islam dalam peperangan. Di antaranya diungkapkan dalam tembang pangkur (XII) berikut ini:

Budhal saking sela Mirah

Sampun prapta ing sawetning Pragi

Mesanggrahan senjati

Mangsah nulya prapta

Kapir lan murtad apan langkung

kathahipun

Dhateng ira mara tiga

Nanging datan den tangledi

Berangkat dari Selamira

Sampailah di sebelah timur Pragi

Dan kemudian singgah di Senjati

Kemudian musuh datang

Kafir dan murtad dengan jumlah yang banyak

Datang dengan dibagi tiga

Tetapi tidak dihiraukan

Hal itu menunjukkan bahwa Diponegoro telah memiliki konsep takfir yang jelas, yakni kafir asli dan kafir murtad. Musuh dan sasaran jihad terdiri dari dua unsur tersebut.

Secara kronologis, istilah kafir dan murtad ini digunakan setelah penyerbuan pasukan Belanda dan Yogyakarta ke Tegalrejo. Sebelum peristiwa tersebut, istilah kafir tidak digunakan meskipun pasukan Inggris dan Sepoy pernah melakukan penyerbuan ke wilayah keraton Yogyakarta. Istilah kafir dan murtad ini muncul ketika ideologi jihad telah dirumuskan oleh Diponegoro bersama dengan ulama-ulama yang mendampinginya.

Pemberian label kafir dan murtad serta Islam sangat diperlukan untuk membedakan siapa pembela agama dan siapa musuh agama. Diponegoro membuat peraturan bahwa yang menjadi pasukannya harus beragama Islam dan menunjukkan perilaku dan atribut Islam. Pasukan Diponegoro yang berasal dari keturunan Tionghoa yang turut bagian dalam melawan Belanda, diwajibkan untuk masuk Islam serta diharuskan memotong rambut kuncir yang menunjukkan identitas orang Cina.

Sebagai gantinya, pasukan Diponegoro menggunakan atribut bercorak keislaman, yakni surban.

Ideologi anti kafir dan murtad yang keras di kalangan pasukan Diponegoro tercermin dalam penggunaan bahasa, khususnya yang berkaitan dengan kematian pasukan musuh. Dalam babad, Diponegoro tidak segan-segan menyebut musuh yang mati di medan perang dengan nama bangke (bangkai) yang biasanya digunakan untuk hewan.

Di samping itu, penggunaan kata sabil maupun sabilillah dianggap lebih mudah pengucapannya dalam bahasa Jawa daripada kata jihad fi sabilillah. Pengucapan istilah-istilah asing dalam bahasa Jawa sering kali disingkat dengan cara mengambil kata yang paling belakang atau menggandengkan dua kata tersebut dan diucapkan sesuai dengan lidah orang Jawa. Hal ini juga dilakukan oleh Diponegoro dalam penulisan Babadnya. Sebagai contoh, Gerad Baron Nahuys (nama Residen Yogyakarta tahun 1816 – 1822) cukup ditulis dengan Nahuys, John Crawfurd diucapkan dengan Karepet, Abu Bakar dilafalkan Bubakar, Abdurrahim menjadi durahim, serta Ali Pasya menjadi Libasah atau basah.

Penggunaan kata sabil dan sabilillah juga erat kaitannya dengan struktur penulisan Babad Diponegoro yang menggunakan macapat. Seperti telah diketahui bahwa penulisan macapat mempunyai aturan yang ketat terutama berkaitan dengan jumlah suku kata (guru wilangan) dan rima (guru lagu). Penggunaan kata jihad fie sabilillah yang mempunyai suku kata yang panjang dan agak sulit diucapkan orang Jawa, dirasakan sangat menyulitkan dalam penyusunan macapat yang mempunyai aturan suku kata dan rima. Oleh karena itu, kata sabil dan sabilillah digunakan sebagai kependekan dari kata Jihad fie sabilillah.

Di dalam Babad Diponegoro terdapat kurang lebih 59 kata sabil dan sabilillah yang mempunyai pengertian berperang melawan orang kafir. Antara lain dalam tembang Girisan (X) berikut:

Mas Lurah aris katanya

“Bok ayo sabil kewala

Iki Jumungah dinanya

Mapan hiwih aprayoga”

Jeng Sultan kendel skala

Mangkana osiking drinya

“Wus bener Mas Lurah Kie

Nging sun tan rinilan suksma,

Sadina iki sirna

Pan aja kongsi kadawa”

Kanjeng Sultan angandika

Mring Pangeran Dipanagara

Heh Kulup prajurit Kie

Saanane tuturana

Yen sun arsa sabil iya”

Kanjeng Sultan apan biya…!

Terjemahan bebasnya kurang lebih sebagai berikut:

Mas Lurah dengan bijaksana berkata

“Ayo kita sabil saja

Hari ini hari Jumat

Hari baik untuk berperang

Sultan (Abdul Hamid) berhenti sejenak

Dalam batinnya berkata

“Benar perkataan Mas Lurah

Jiwa saya rela

Hari ini juga

Jangan sampai tertunda

Sultan kemudian berkata

Kepada Pangeran Diponegoro III (putra Diponegoro)

Wahai ananda, prajurit

Yang ada hendaknya diberitahu

Kalau saya hendak berperang

Sultan karena saran ini

Kata sabil yang digunakan dalam tembang di atas bermakna berperang melawan kafir (Belanda). Kalimat “Bok ayo sabil kewala”mempunyai pengertian mari kita berperang dengan orang kafir saja dan tidak perlu mundur.

Selain itu, pasukan yang meninggal dalam jihad disebut dengan meninggal dalam sabil(prapta sabil/sabilullah). Diponegoro menggunakan kata sahid untuk orang-orang Islam dari kalangan masyarakat sipil yang menjadi korban perang. Penggunaan kata sahid ini merupakan pemberian penghargaan Diponegoro yang besar kepada umat Islam yang tidak terlibat langsung dalam peperangan. Bantuan umat Islam sangat besar bagi keberlangsungan perjuangan Diponegoro yang mempergunakan sistem gerilya.

Dapat disimpulkan bahwa pandangan dunia Diponegoro mencakup suatu pendapat yang sangat jelas hingga hari ini mengenai bagaimana orang-orang Muslim Jawa seharusnya hidup dalam zaman dominasi imperium Barat.

Bagi Diponegoro, tidak seperti kebanyakan orang Muslim Indonesia dewasa ini, jawaban atas ini semua rupanya terletak pada menjalankan perang suci dan pengembangan karakter yang jelas tegas antara wong Islam (orang Islam), orang Eropa kapir laknatullah (kafir yang dilaknat oleh Allah), dan kapir murtad (orang Jawa yang memihak Belanda).[6]

Cara Musuh Melemahkan Jihadis

Dalam ranah sejarah strategi militer, perang Diponegoro ini meninggalkan jejak sejarah yang monumental. Penerapan taktik strategi militer Stelsel Benteng yang memadukan antara manuver kolone dengan pembangunan benteng, disertai dengan strategi Blokade Politik, Isolasi Politik, politik Belah Bambu, Politik Adu Domba, dibarengi penelitian sosio-budaya oleh ilmuwan orientalis, oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk selanjutnya terus dipakai untuk memadamkan perlawanan di berbagai pelosok Nusantara. Termasuk pula di antaranya untuk menjinakkan perlawanan rakyat Aceh.

Perang Diponegoro ini pada hakikatnya adalah manifestasi dari konflik laten di antara bangsawan Jawa, sebuah Permanent Warfare yang beraspek politik dan budaya.

Banyak kesulitan yang harus dihadapi oleh Belanda pada awal masa perang Jawa (1825-1827). Mulai dari jumlah pasukan yang hanya 3 resimen (satu resimen infanteri, satu resimen huzar, dan satu resimen artileri), ditambah legiun Mangkunagoro yang jumlahnya sekitar 1.800 orang.

Banyak kesulitan yang harus dihadapi oleh Belanda pada awal masa perang Jawa (1825-1827). Mulai dari jumlah pasukan yang hanya 3 resimen (satu resimen infanteri, satu resimen huzar, dan satu resimen artileri), ditambah legiun Mangkunagoro yang jumlahnya sekitar 1.800 orang.

Perang melawan Diponegoro telah menguras keuangan pemerintah Hindia Belanda yang mengeluarkan biaya perang hingga tak kurang dari 25.000.000 Gulden (Rp 127 Milyar). Biaya perang yang sangat besar untuk ukuran masa itu. Konsekuensi finansial yang besar untuk strategi Stelsel Benteng hingga Belanda menyebut Perang Diponegoro sebagai groote onheilen (bencana besar) bagi administratif Kolonial. Defisit anggaran mereka sampai 18.000.000 Gulden (sekitar Rp 92 Milyar). Dan tahun 1827 saja tidak kurang dari 3000 orang serdadu Eropa tewas di hadapan kedigdayaan Tentara Islam Diponegoro.

Jenderal H.M. de Kock, yang ditugaskan sebagai Komisaris Pemerintah untuk Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, menyusun plan de champagne (rencana kampanye) untuk menumpas pemberontakan. Plan de champagne tersebut terdiri atas:

  • Membuat persekutuan dengan Sunan Surakarta dan Mangkunagoro untuk mengisolasi Diponegoro.
  • Merebut sasaran strategis, yaitu nagara Yogyakarta, dari tangan pemberontak untuk mengembalikan kedaulatan Pemerintah Hindia Belanda dan kewibawaan Sultan.
  • Mengamankan jalur komunikasi darat yang strategis antara Surakarta-Klaten dan Klaten- Yogyakarta.
  • Mengamankan jalur komunikasi darat Semarang- Salatiga dan Salatiga-Surakarta.
  • Mengamankan jalur komunikasi darat di pantai utara antara Semarang-Rembang
  • Mengamankan jalur komunikasi darat Pekalongan-Semarang
  • Membebaskan daerah-daerah milik Kesultanan yang direbut dan diduduki oleh pemberontak, seperti Serang, Ngawi, dan Madiun.
  • Membebaskan daerah milik Pemerintah Hindia Belanda di Demak, Rembang, Jabarangkah (Karesidenan Pekalongan), Banyumas, Kedu, dan Bagelen sampai batas sungai Bogowonto.
  • Memanggil pasukan-pasukan yang beroperasi di luar Jawa dan menetapkan garis awal di beberapa pelabuhan pendaratan di Pantai Utara.
  • Merekrut spion dan orang-orang yang dipercaya untuk mencari informasi tentang lawan.

Selama 1825-1827, de Kock terus melakukan operasi militer dengan beberapa sasaran strategis. Ia melakukan operasi militer dengan lima pendekatan langsung, yaitu:

  • Membuat persekutuan dengan Sunan Surakarta dan Mangkunagoro untuk mengisolasi Diponegoro, baik secara militer maupun politis, untuk membentuk pendapat umum bahwa pemberontakan adalah sebuah perbuatan jahat.
  • Mengikat persahabatan dengan musuh-musuh Diponegoro—para pangeran di Kesultanan Yogyakarta—agar tidak membantu Diponegoro, sekalipun bersikap pasif.
  • Merebut kembali daerah-daerah Kesultanan Yogyakarta yang diduduki oleh pengikut Diponegoro. Menegakkan kembali keamanan dan pemerintahan agar pajak-pajak dapat dipungut dan perekonomian dapat berjalan kembali secara lancar.
  • Menggiring pasukan pemberontak ke daerah antara Sungai Progo dan Bogowonto sebagai killing area.
  • Menangkap pemimpin tertinggi pemberontak, yaitu Diponegoro sebagai “center of gravity.

Selain itu, de Kock juga menyebarkan seruan kepada pengikut Diponegoro bahwa ia akan memberikan pengampunan kepada mereka yang dengan sukarela menyerahkan diri. Ia juga menulis surat kepada Diponegoro dan Mangkubumi yang berada di Selarong. Diponegoro segera merundingkan isi surat itu dengan Pangeran Mangkubumi dan Kyai Mojo, kemudian memerintahkan kepada Pangeran Joyokusumo dan Pangeran Suryenglogo untuk menulis surat balasan yang secara tegas menolak berdamai.

Setelah menerima surat balasan, de Kock segera memerintahkan pasukan kolose kedua untuk menyerbu Selarong, tetapi desa Selarong telah kosong. Para pimpinan pasukan Diponegoro telah berpencar meninggalkan Selarong menuju ke pelbagai arah. Kegagalan dalam penyerbuan Selarong tersebut membuat perang menjadi semakin berlarut-larut. Perkiraan de Kock yang membiarkan lawan berperang dengan cara perangnya sendiri sampai kehabisan logistic ternyata keliru. Karena prajurit-prajurit Diponegoro ternyata mampu bertahan hanya dengan makan nasi kering dan garam. Dapat dikatakan, operasi pengejaran (marching, fighting, camping) selama 1825-1827 yang diprakarsai oleh Jenderal de Kock telah gagal menangkap Diponegoro. NEXT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s