Aidit

PicsArt_07-30-10.52.44

Berbicara soal PKI, tak lepas dari dua hal. Ya, G30s dan si ketua umumnya yang bernama Ahmad Aidit yang kemudian ganti nama menjadi Dipa Nusantara (DN) Aidit. Tokoh satu ini dianggap sebagai master mind alias otak busuk dari tragedi paling buruk dalam sejarah Indonesia itu. Di zaman orba, menyebut nama Aidit saja sudah bisa dianggap dosa. Dan hal tersebut nampaknya masih bertahan sampai hari ini.

Mendalami kisah hidup Aidit mungkin akan bikin sakit hati, namun kita perlu tahu juga sisi lain dari tokoh kontroversial satu ini. Apakah ia memang sekeji itu merencanakan kudeta termasuk menyilet-nyilet para jendral? Berhubung beliaunya sudah meninggal dan bukti super validnya masih hilang entah kemana, ya, kita hanya bisa berasumsi saja.

Namanya Ahmad Aidit

Kalau lihat apa yang sudah dilakukannya, kita mungkin mengira kalau Aidit awalnya adalah pemuda bar-bar yang idealis. Namun, kalau dibaca-baca lagi kisah masa lalunya, ternyata hal-hal seperti ini tak ada. Justru kenyataannya berkebalikan dengan persepsi banyak orang. Aidit adalah pemuda alim yang lurus.

PicsArt_07-30-10.57.33

Si Amat, panggilan Aidit pas remaja, punya riwayat keagamaan yang bagus. Ia sangat dekat dengan hal-hal Keislaman terutama karena sang ayah adalah tokoh agamis yang cukup penting di Belitung. Sang bapak yang bernama Abdullah, juga mendirikan perkumpulan bernama Nurul Islam yang berbasis Muhammadiyah. Si Ahmad, pemuda ini cukup aktif di dalamnya.

Nama Ahmad Hilang Karena Dalami Marxisme

Jakarta adalah pelabuhan selanjutnya yang dituju oleh Ahmad setelah lama di Belitung. Lalu, entah mungkin untuk menandai sesuatu, ia pun membuang nama Ahmad dan menggantinya dengan Dipa Nusantara. Di Jakarta Aidit bersekolah di Sekolah Dagang sembari membuat dirinya sibuk di perhimpunan Demokratik Sosial Hinda Belanda yang jadi awal mula PKI.

Di organisasi itu, Aidit melahap hidangan Marxisme pertamanya. Idealisme itu rupanya begitu masuk ke rusuk-rusuk Aidit sehingga ia menjadikannya sebagai jalan hidup. Seiring dengan pemahaman dan pengaplikasian Marxisme yang makin yahud, posisi Aidit di organisasi ini melonjak. Dengan sikap militannya, DN Aidit berhasil memuncaki salah satu organisasi terbesar di Indonesia itu.

Membawa PKI Mendunia

Marxisme yang kadung menancap ditambah kemampuan orator yang hebat, membuat Aidit dalam waktu yang sebentar saja sukses menjadikan PKI salah satu partai terkuat di Indonesia. Massanya lebih dari 55 persen pada pemilu di tahun 1955. PKI pun juga sukses mengembangkan sayapnya lewat berdirinya banyak organisasi lain, mulai Pemuda Rakyat, Gerwani, Barisan Tani Indonesia, Lekra dan lain sebagainya.

PicsArt_07-30-10.55.58

Tak hanya greget di Indonesia, PKI juga punya prestasi yang mendunia. Kala itu, organisasi ini adalah partai yang massanya terbesar nomor tiga di dunia setelah Uni Soviet dan RRC. Makin tahun, PKI semakin di depan, rakyat pun banyak yang terpikat dengan Aidit dan konsep-konsep kerakyatannya. Ditambah lagi posisi Aidit makin dikenal di kalangan elit macam Bung Karno. Makin kuat saja PKI.

PKI mungkin bahkan sangat mungkin menguasai Indonesia jika mereka melalui cara biasa, lewat pemilu dan sebagainya. Tak butuh waktu lama, PKI pun berbalik jadi yang dimangsa oleh rakyat. Para petingginya dicari lalu dibunuh. Orang-orang yang berhubungannya pun juga diperlakukan demikian. Dan juga DN Aidit sendiri yang diburu seperti kriminal kelas berat. Menurut literatur sejarah, Aidit melarikan diri ke Yogyakarta namun berhasil ditemukan kemudian dibunuh saat itu juga.[1]

Pandangan Aidit Terhadap Pancasila

Wawancara Aidit dengan Solichin Salam ini koleksi Komando Operasi Tertinggi (KOTI) yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI). Arsip ini telah terbuka untuk publik.

PicsArt_07-30-10.54.18

Banyak kejadian yang jadi dalih, dari penolakan ide negara Islam hingga tuduhan dalam pidato tahun 1964 Aidit mengatakan bila sosialisme Indonesia tercapai, Pancasila tidak lagi dibutuhkan sebagai filsafat pemersatu. Pada akhirnya Aidit lebih sering menekankan pernyataan Sukarno bahwa Pancasila merupakan alat pemersatu. Pada 1964, PKI juga menerbitkan buku berjudul Aidit Membela Pantja Sila.

Wartawan Solichin Salam memanfaatkan kesempatan mewawancarai DN Aidit, ketua CC PKI, untuk menanyakan banyak hal. Tapi tampak jelas bahwa dia mencoba mengorek pandangan Aidit mengenai agama dan Pancasila. Hasil wawancara itu dimuat di majalah Pembina pada 12 Agustus 1964.


Berikut petikan wawancaranya:


Benarkah PKI menerima Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia? Bagaimana pendapat Saudara mengenai sila Ketuhanan Yang Maha Esa?

PKI menerima Pancasila sebagai keseluruhan. Hanya dengan menerima Pancasila sebagai keseluruhan, Pancasila dapat berfungsi sebagai alat pemersatu. PKI menentang pemretelan terhadap Pancasila. Bagi PKI, semua sila sama pentingnya. Kami menerima sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam rangka Pancasila sebagai satu-kesatuan. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan kenyataan bahwa jumlah terbanyak dari bangsa Indonesia menganut agama yang monoteis (bertuhan satu). Sebagaimana dikatakan oleh Presiden Sukarno dalam buku Tjamkan Pantja Sila, “pada garis besarnya, grootste gemene deler dankleinste gemene veelvoud.. bangsa Indonesia.. percaya kepada Tuhan” di samping “Ada juga orang yang tidak percaya kepada Tuhan…” Sebagaimana juga Bung Karno, kaum komunis Indonesia juga sependapat bahwa ada golongan agama yang tidak percaya kepada Tuhan sebagaimana ditegaskan Presiden Sukarno dalam buku tersebut di atas sebagai berikut: “Agama Budha tidak mengenal begrip Tuhan… Budha berkata tidak ada, tidak perlu engkau mohon-mohon, cukup engkau bersihkan engkau punya kalbu daripada nafsu dan dia sebut delapan nafsu… dengan sendirinya engkau masuk di dalam surga…”.

Dengan menerima sila Ketuhanan berarti di Indonesia tidak boleh ada propaganda anti-agama, tetapi juga tidak boleh ada paksaan beragama. Paksaan beragama bertentangan dengan sila Kedaulatan Rakyat. Juga bertentangan dengan sila Kebangsaan, Kemanusiaan, dan Keadilan Sosial. Orang Indonesia yang tidak atau belum beragama, ia tetap bangsa Indonesia, tetap manusia yang harus diperlakukan secara adil dalam masyarakat. Tentang ini dengan tegas dikatakan oleh Presiden Sukarno bahwa “ada perbedaan yang tegas antara keperluan negara sebagai ‘negara’ dan ‘urusan agama’.”

Apakah benar ajaran Marxisme tidak mengakui adanya Tuhan, serta berpendapat bahwa agama adalah candu bagi rakyat?

Marxisme adalah ilmu dan salah satu bagiannya ialah Materialisme Historis yang menjelaskan hukum-hukum perkembangan masyarakat dan juga akar-akar sosial dari agama. Materialisme Historis menjelaskan secara ilmiah mengapa ada orang-orang yang memeluk agama. Kami berpendapat, agama yang dianut masing-masing orang adalah masalah pribadi. Karena PKI berdasarkan Marxisme, dan karena itu memahami dengan baik akar-akar sosial dari agama, maka anggota-anggota PKI menghormati hak setiap orang untuk memeluk agama. Marxisme sebagai ilmu, sama seperti ilmu-ilmu lainnya, tidak menyoalkan apakah individu atau seseorang beragama atau tidak.

Dalam sejarah manusia, ada bukti bahwa agama memainkan peranan revolusioner. Misalnya agama Nasrani. Di zaman perbudakan, golongan budak yang beragama Nasrani melakukan perlawanan terhadap kaum pemillik budak, dan agama Nasrani bisa membangkitkan massa budak. Juga dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, partai-partai politik yang beraliran agama aktif dalam perjuangan melawan kolonialisme Belanda. Misalnya Sarikat Islam. Dan bagi PKI yang mendasarkan diri pada Marxisme, adalah sepenuhnya sesuai dengan Marxisme untuk bekerjasama dengan partai-partai agama yang revolusioner, baik dulu maupun sekarang.

Jadi, apakah agama itu candu bagi rakyat atau tidak harus kita lihat secara kongkrit. Jika agama digunakan untuk memperkuat kolonialisme, misalnya memperkuat kedudukan neo-kolonialisme Amerika Serikat atau memperkuat kedudukan neo-kolonialisme “Malaysia”, maka agama betul sebagai candu untuk rakyat. Tetapi jika agama digunakan untuk menghantam kolonialisme, neo-kolonialisme, feodalisme dan kapitalisme, maka hanya orang gila sajalah yang mengatakan bahwa agama adalah candu bagi rakyat.

Apakah PKI cukup sadar terhadap kenyataan bahwa sebagian terbesar rakyat Indonesia memeluk agama Islam?

Kami cukup sadar. Karena itulah diperlukan Pancasila dan faktor “A” (Agama) dalam Nasakom. Kami bukan hanya menyetujui gagasan Nasakom melainkan juga sebagai unsur “Kom” mengadakan kerjasama dengan partai-partai, organisasi, serta perseorangan yang mewakili unsur “A” demi persatuan nasional dan perkembangan revolusi Indonesia.

Apakah PKI pro agama ataukah terang-terangan anti-agama?

PKI adalah partai politik. Benar apa yang Saudara katakan bahwa banyak anggota PKI memeluk agama. Saya dapat pastikan, di dalam PKI terdapat lebih banyak orang yang menganut agama Islam daripada di dalam suatu partai Islam yang kecil. Tetapi, hubungan anggota PKI yang beragama dengan Tuhannya tidak bisa diwakili CC PKI, sebagaimana halnya Dewan Partai dari partai-partai politik yang berdasarkan agama tidak bisa mewakili anggota-anggotanya dalam hubungan dengan Tuhan. Menurut Anggaran Dasar PKI, PKI tidak melarang anggotanya memeluk suatu agama asal saja anggota-anggota PKI itu menjalankan program dan politik PKI yang melawan imperialisme dan feodalisme dan bertujuan membentuk masyarakat tanpa kelas dan tanpaexploitation de l’homme par l’homme.

Berbedakah pembangunan masyarakat sosialis Indonesia berdasarkan Pancasila dengan ajaran-ajaran Marxisme?

Kita sekarang berada dalam tahap pertama revolusi, yaitu tahap nasional-demokratis, belum dalam tahap kedua, yaitu tahap sosialis. Apakah berbeda atau tidak pembangunan masyarakat sosialis Indonesia berdasarkan Pancasila dengan yang berdasarkan Marxisme-Leninisme, hal ini akan kita ketahui kalau kita sudah sampai pada tahap kedua nanti. Tetapi karena pembangunan masyarakat sosialis berdasarkan Pancasila adalah pembangunan masyarakat tanpaexploitation de l’homme par l’homme, masyarakat adil dan makmur, maka sejak sekarang bisa saya katakan bahwa pembangunan masyarakat demikian sesuai dengan tujuan Marxisme.

Bagaimana pendapat Saudara mengenai agama Islam, apakah ajaran-ajarannya progresif revolusioner ataukah sudah out of date? Organisasi-organisasi Islam manakah yang progresif revolusioner?

Out of date atau tidak, hal ini tergantung pada revolusionerkah atau tidak. Jika tidak revolusioner, maka ia adalah out of date. Juga partai komunis, seandainya ia tidak revolusioner, maka ia juga out of date, yang berarti pada hakekatnya ia bukan partai komunis sekalipun namanya partai komunis. Mengenai organisasi Islam mana yang progresif revolusioner, saya tidak bisa menjadi hakim dan memutuskannya. Hal ini tergantung pada tindak-tanduk organisasi-organisasi Islam itu sendiri.[2]

Kontroversi Teori Kematian Aidit

Tak hanya peristiwa G30s yang mengandung banyak kontroversi, kematian sang ketua pun juga ternyata tak lepas dari itu. Tentang kematian, versi pertama tadi mengatakan jika Aidit dimatikan di Yogyakarta. Namun, di versi lain ada yang mengatakan pria Belitung ini mati di Boyolali.

Kronologi kematian versi kedua lebih panjang. Jadi, Aidit berhasil tertangkap tapi tak langsung didor. Ia diberi waktu untuk memberikan pidatonya yang terakhir. Katanya, orasi Aidit saat itu benar-benar bikin tersinggung para tentara dan semua yang mendengarnya. Lalu tanpa perlu menunggu lama lagi sang pimpinan PKI ini dimatikan. Nah, yang jadi misteri selanjutnya adalah kuburan Aidit yang hingga detik ini tak pernah benar-benar diketemukan.[1]

Dieksekusi AK-47 di sumur tua

Kudeta bingung Gerakan 30 September gagal total. Setelah mereka menculik enam jenderal dan satu perwira pertama TNI AD, tak ada gerakan susulan yang dilakukan. Dalam waktu kurang dari 24 jam, mereka langsung dihancurkan Jenderal Soeharto.

Nasib para pelaku dan motor gerakan ini sama tragisnya dengan para jenderal yang mereka bunuh.

Tak ada informasi resmi bagaimana Ketua CC PKI Dipa Nusantara (DN) Aidit tewas. Setelah G30S gagal, Aidit langsung melarikan diri dari Jakarta. Aidit kabur ke daerah basis PKI di Yogyakarta.

Aidit lalu berkeliling ke Semarang dan Solo. Dia masih sempat menemui beberapa pengurus PKI di daerah untuk melakukan koordinasi.

Dia bisa ditangkap setelah TNI lebih dulu menangkap seorang tokoh PKI. Orang itulah yang diancam dan dipaksa menunjukkan tempat persembunyian Aidit.

Tanggal 22 November 1965, Aidit ditangkap pasukan Brigade Infantri IV Kostrad di kampung dekat Stasiun Solo Balapan. Aidit bersembunyi dalam sebuah ruangan yang ditutup lemari. Tentara curiga saat melihat ada ruangan yang kelihatan tak wajar.

Aidit yang ditangkap sempat menggertak Letnan yang menggerebeknya.

“Saya Menteri Koordinator!” gertak Aidit.

Letnan itu sempat kecut. Namun dia tetap menjalankan tugasnya. Aidit diperlakukan dengan cukup baik saat ditangkap.

Kepada Komandan Brigif IV, Kolonel Jasir Hadibroto, Aidit minta dipertemukan dengan Soekarno. Aidit mengaku sudah membuat pengakuan tertulis soal G30S. Dokumen itu rencananya akan diberikan pada Soekarno.

Tapi keinginan Aidit tak pernah terpenuhi. Keesokan harinya, Jasir dan pasukannya membawa Aidit ke sebuah sumur tua di belakang markas TNI di Boyolali. Aidit berpidato berapi-api sebelum ditembak. Berondongan AK-47 mengakhiri hidup Ketua Comite Central PKI itu.

Kuburan pasti Aidit tak diketahui hingga kini.[3] Jasad Aidit lenyap tak berbekas tapi cerita tentang dirinya masih punya gaung hingga hari ini. Sayangnya, bukan kesan positif yang ditinggalkannya, justru sebaliknya. DN Aidit, pria biasa tapi punya pengaruh ini, sudah sukses menciptakan salah satu babak kelam dalam sejarah Indonesia. Selama PKI dan G30S masih lekat dengan dirinya, maka selama itu nama Aidit takkan pernah suci.[1]

Kesaksian Elite PKI tentang Sepak Terjang Aidit

PENGAKUAN mengejutkan para elite Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam sidang Mahmilub tentang sepak terjang Ketua Comite Central (CC) PKI Dipo Nusantara Aidit dalam Gerakan 30 September (G30S) 1965 membuka tabir baru.

Berbeda dengan versi resmi Pemerintah Orde Baru Soeharto yang menyebutkan seluruh anggota dan simpatisan PKI terlibat langsung dalam gerakan itu, dalam pengakuan para elitenya, PKI sama sekali tidak disebut-sebut terlibat di dalamnya.

Seperti diungkapkan Dewan Harian Politbiro PKI Sudisman, satu-satunya elite PKI yang berhasil selamat dari pembantaian massal yang dilakukan Angkatan Dasar (AD) terhadap jutaan anggota dan simpatisan PKI.

Dalam pembelaannya yang dinamakannya sebagai Uraian Tanggungdjawab, Sudisman menyebut PKI sebagai partai politik tidak pernah dilibatkan dalam gerakan intern Angkatan Darat (AD) yang dipimpin oleh Untung dan Supardjo itu.

“(Aidit) tidak pernah mengemukakan PKI mau mengadakan operasi militer, dan Kawan Aidit juga tidak pernah mengemukakan PKI mau mencetuskan revolusi saat itu,” kata Sudisman.

Dikatakannya, pemrakarsa dan pengorganisasi utama gerakan itu adalah para perwira progresif revolusioner yang ingin menggagalkan rencana kudeta Dewan Jenderal yang di belakangnya terdapat perwira-perwira nonkomunis dan komunis.

Sedangkan Aidit dan dirinya, termasuk dari sedikit elite PKI yang mendukung gerakan itu karena menilai sayap kanan AD yang dinamakan Dewan Jenderal merupakan kekuatan terbesar yang menghalangi langkah-langkah politik PKI.

Dia melanjutkan, strategi elite PKI dalam mendukung gerakan itu, meski waktu itu dirasa tepat namun belakangan disesali karena dengan begitu PKI telah meninggalkan garis perjuangannya yang utama, yaitu memimpin massa rakyat.

Dalam sidang-sidang yang dilaksanakan Politbiro, Sudisman mengakui Aidit memegang peran kunci dalam keterlibatan para elite PKI dalam gerakan yang berhasil dipatahkan dalam beberapa hari saja itu.

Namun sayang, sebelum mengungkapkan rahasia gerakan itu, Aidit langsung ditembak mati oleh tentara yang menangkapnya tanpa diberikan kesempatan sedikitpun untuk membela diri dalam sidang Mahmilub seperti Sudisman.

Padahal dengan diseretnya Aidit ke sidang Mahmilub, informasi yang lebih lengkap tentang peristiwa yang menjadi misteri selama setengah abad itu akan menemukan sedikit titik terang.

Sudisman juga mengungkapkan, Aidit merupakan elite PKI utama yang menjalin hubungan dengan militer dalam gerakan itu dan menetapkan tindakan apa yang akan dilakukan sejumlah anggota PKI dalam mendukung G30S.

“(Aidit) menugaskan pengiriman beberapa tenaga ke daerah pada hari-hari menjelang meletusnya G30S dengan perintah, dengarkan pengumuman Radio Republik Indonesia (RRI) pusat dan sokong Dewan Revolusi,” terang Sudisman lagi.

Asistant Professor Departemen Sejarah University of British Columbia, Vancouver, Kanada, John Roosa menilai apa yang disampaikan Sudisman dalam sidang itu tidak menjawab sepak terjang Aidit dalam G30S.

Sebaliknya, dia melihat sepak terjang Aidit dalam gerakan itu justru terlihat dalam pengakuan Sjam Kamaruzzaman dalam Mahmilub yang menurut sejumlah ilmuan disebut-sebut sebagai otak dari G30S.

Sebelum beranjak lebih jauh tentang keterangan Sjam, sedikit diuraikan pengakuan dr Subandrio dalam bukunya yang berjudul Yang Saya Alami Peristiwa G30S. Keterangan Subandrio penting disimak, terutama menyangkut sakitnya Presiden Soekarno.

Menurut Subandrio, peristiwa sakitnya Soekarno pada awal Agustus 1965 merupakan peristiwa penting. Sebab sakitnya Soekarno, menurutnya karena aktivitas Soekarno pada malam-malam sebelumnya melakukan kunjungan ke pasar-pasar di Jakarta.

Akibat terlalu sering keluar malam itu, Soekarno yang keletihan jatuh sakit. Informasi yang beredar, Soekarno sakit keras. Padahal, saat itu dia hanya kelelahan dan masuk angin.

Saat Soekarno sakit, DN Aidit sedang berada di luar negeri melakukan kunjungan kenegaraan di China. Khawatir terjadi sesuatu dengan Soekarno dan pimpinan pemerintahan, dia lalu kembali ke Indonesia bersama dokter dari China.

Hasil pemeriksaan dokter yang dibawa Aidit juga sama dengan hasil diagnosa yang dilakukannya bersama Wakil Presiden II dr Leimena yang menyatakan Soekarno masuk angin. Menurut Subandrio, Aidit juga tahu Soekarno masuk angin.

Namun, seperti diungkapkan Soekarno dalam pidato pelengkap Nawaksara, G30S terjadi akibat pemimpin PKI yang keblinger. Dalam pidato itu, jelas yang dimaksud oleh Soekarno adalah Aidit.

Subandrio merupakan salah satu menteri yang diseret ke sidang Mahmilub dan dijatuhi hukuman mati, dan akhirnya dibebaskan. Masih menurut Subandrio, peristiwa sakitnya Soekarno ditanggapi berlebihan oleh Sjam dan PKI.

Sebagai Kepala Badan Pusat Intelijen, Subandrio mengetahui sepak terjang Sjam. Menurutnya, Sjam adalah agen ganda yang berada di PKI sekaligus AD. Menurut bisikan Sjam, AD akan mengambil alih pimpinan jika Soekarno meninggal.

Rupanya, bisikan Sjam itu termakan oleh Aidit. Padahal, dia tahu Soekarno sehat bugar dan hanya menderita masuk angin. Tetapi jiwa petualang Aidit menyebabkannya bermain-main dengan revolusi.

Dalam sidang Biro Khusus PKI, Sjam mengatakan Aidit memberikan perintah kepadanya untuk menunggu dipukul atau memukul lebih dahulu. Perintah itu disambut dengan membuat gerakan bersama Untung, Pono, Latif, Sujono, Sigit, dan Wahjudi.

Lebih jauh, Sjam mengaku yang memilih para perwira progresif revolusioner itu untuk melakukan G30S. Dari keterangan Sjam ini dapat diketahui sepak terjang Aidit dalam gerakan itu cukup jauh.

Untuk mengetahui lebih jauh sepak terjang Aidit dalam gerakan itu, dapat diungkap kesaksian elite PKI yang duduk di Politbiro, yaitu Iskandar Subekti, panitera dan arsiparis Politbiro.

Dalam paparannya, Subekti menyatakan PKI sebagai partai memberikan dukungan politik kepada G30S, namun menolak saat memberikan dukungan fisik. Hal itu katanya telah diputuskan dalam sidang Politbiro.

Namun, Politbiro hanya memberikan dukungan secara politis, tanpa dukungan fisik. Aidit lalu melangkah lebih jauh dengan membentuk tim khusus yang anggotanya terdiri atas beberapa anggota Politbiro.

Dalam diskusi dengan tim khusus, Subekti yang berada di dalamnya mencatat, Aidit telah mengonsepkan daftar orang-orang yang akan menjadi anggota Dewan Revolusi dan disetujui oleh forum diskusi.

“Sejak semula, selagi masih dalam tingkat-tingkat pertama dalam pembicaraan antara DN Aidit dan Kamaruzaman (Sjam), telah diputuskan bahwa gerakan itu harus merupakan gerakan militer, tidak boleh terlihat sebagai gerakan dari PKI,” jelasnya.

Subekti juga mengungkapkan tujuan dari gerakan itu adalah untuk membersihkan jenderal-jenderal Angkatan Darat yang antikomunis agar suasana politik yang memungkinkan PKI berkembang luas tidak mendapatkan kendali berarti.

Dalam setiap diskusi anggota tim khusus, anggota Politbiro PKI lainnya yang tidak termasuk di dalamnya tidak pernah diikut sertakan. Begitupun dengan hasilnya, mereka tidak pernah diberitahu.

Dengan demikian, tim yang dibentuk Aidit sebagai badan yang menggodok gerakan berdiri terpisah dari PKI sebagai partai politik meski tujuan dari tim itu untuk kelangsungan hidup politik PKI.

Dari beberapa diskusi yang aktif diikuti Subekti, tidak pernah terucap gagasan untuk mendemisionerkan Kabinet Soekarno. Saat RRI mengumumkan gagasan tersebut, semua anggota tim langsung tertuju kepada Aidit.

Dewan Revolusi yang dirumuskan tim khusus dimaksudkan untuk menekan Pemerintah Soekarno agar bergeser ke kiri, tidak untuk mengganti menteri-menteri kabinet yang ada. Dengan demikian, Aidit menunjukkan pertualangannya.

Pada dini hari 1 Oktober 1965, Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) Letnan Jenderal Ahmad Yani dan lima orang staf umumnya diculik dari rumah-rumah mereka oleh Gerakan 30 September.

Para penculik membunuh Yani dan dua jenderal lainnya saat proses penangkapan. Tiga jenderal lainnya dibunuh saat tiba di Lubang Buaya dan mayatnya dibuang ke dalam sumur tua.

Sementara Jenderal TNI Abdul Harris Nasution yang menjadi sasaran utama selamat dari upaya penculikan. Sebaliknya, putrinya Ade Irma Suryani Nasution dan ajudannya Lettu CZI Pierre Andreas Tendean tewas terbunuh.[4]

Karya Tulis Aidit

DN Aidit banyak menuliskan pikiran-pikirannya dalam sejumlah buku dan tulisan. Sebagian daripadanya adalah:

  • Sedjarah gerakan buruh Indonesia, dari tahun 1905 sampai tahun 1926 (1952)
  • Perdjuangan dan adjaran-adjaran Karl Marx (1952)
  • Menempuh djalan rakjat: pidato untuk memperingati ulangtahun PKI jang ke-32 – 23 Mei 1952 (1954)
  • Tentang Tan Ling Djie-isme: referat jang disampaikan pada kongres nasional ke-V PKI (1954)
  • Djalan ke Demokrasi Rakjat bagi Indonesia: (Pidato sebagai laporan Central Comite kepada Kongres Nasional ke-V PKI dalam bulan Maret 1954 (1955) / bahasa Inggris: The road to people’s democracy for Indonesia (1955)
  • Untuk kemenangan front nasional dalam pemilihan umum, dan kewadjiban mengembangkan kritik serta meninggikan tingkat ideologi Partai: Pidato dimuka sidang pleno Central Comite ke-3 PKI pada tanggal 7 Agustus 1955 (1955)
  • Pertahankan Republik Proklamasi 1945!: Perdjuangan untuk mempertahankan kemerdekaan nasional, perdamaian dan demokrasi sesudah pemilihan parlemen (1955)
  • Menudju Indonesia baru: Pidato untuk memperingati ulang-tahun PKI jang ke-33 (1955)
  • Perjuangan dan adjaran-adjaran Karl Marx (1955)
  • Revolusi Oktober dan rakjat2 Timur (1957)
  • 37 tahun Partai Komunis Indonesia (1957)
  • Masjarakat Indonesia dan revolusi Indonesia: (soal² pokok revolusi Indonesia) (1958)
  • Sendjata ditangan rakjat (1958)
  • Kalahkan konsepsi politik Amerika Serikat (1958)
  • Visit to five socialist states: talk by D.N. Aidit at the Sports Hall in Djakarta on 19th September (1958)
  • Konfrontasi peristiwa Madiun (1948) – Peristiwa Sumatera (1956) (1958)
  • Ilmu pengetahuan untuk rakjat, tanahair & kemanusiaan (1959)
  • Pilihan tulisan (1959)
  • Introduksi tentang soal2 pokok revolusi Indonesia kuliah umum (1959)
  • Untuk demokrasi dan kabinet gotong rojong (laporan umum Comite Central Partai Komunis Indonesia kepada Kongres Nasional ke-VI) (1959)
  • Dari sembilan negeri sosialis: kumpulan laporan perlawatan kesembilan negeri sosialis (1959)
  • Peladjaran dari sedjarah PKI (1960)
  • Indonesian socialism and the conditions for its implementation (1960)
  • Memerangi liberalisme (1960)
  • 41 tahun PKI (1961)
  • PKI dan MPRS (1961)
  • Perkuat persatuan nasional dan persatuan komunis!: laporan politik ketua CC PKI kepada Sidang Pleno ke-III CC PKI pada achir tahun 1961 (1961)
  • Anti-imperialisme dan Front Nasional (1962)
  • Setudju Manipol harus setudju Nasakomn (1962)
  • Pengantar etika dan moral komunis (1962)
  • Tentang Marxisme (1962)
  • Untuk demokrasi, persatuan dan mobilisasi laporan umum atas nama CC PKI kepada Kongres Nasional ke-VI (1962)
  • Indonesian communists oppose Malaysia (1962)
  • Berani, berani, sekali lagi berani: laporan politik ketua CC PKI kepada sidang pleno I CC PKI, disampaikan pada tanggal 10 Februari 1963 (1963)
  • Hajo, ringkus dan ganjang, kontra revolusi: pidato ulangtahun ke-43 PKI, diutjapkan di Istana Olah Raga “Gelora Bung Karno” pada tanggal 26 Mei 1963 (1963)
  • Langit takkan runtuh (1963)
  • Problems of the Indonesian revolution (1963)
  • Angkatan bersendjata dan penjesuaian kekuasaan negara dengan tugas² revolusi; PKI dan Angkatan Darat (1963)
  • PKI dan ALRI (SESKOAL) (1963)
  • PKI dan AURI (1963)
  • PKI dan polisi (1963)
  • Dekon dalam udjian (1963)
  • Peranan koperasi dewasa ini (1963)
  • Dengan sastra dan seni jang berkepribadian nasional mengabdi buruh, tani dan pradjurit (1964)
  • Aidit membela Pantjasila (1964)
  • PKI dan Angkatan Darat (Seskoad) (1964)
  • Aidit menggugat peristiwa Madiun: pembelaan D.N. Aidit dimuka pengadilan Negeri Djakarta, Tgl. 24 Februari 1955 (1964)
  • “The Indonesian revolution and the immediate tasks of the Communist Party of Indonesia” (1964)
  • Untuk bekerdja lebih baik dikalangan kaum tani (1964)
  • Dengan semangat banteng merah mengkonsolidasi organisasi Komunis jang besar: Djadilah Komunis jang baik dan lebih balk lagi! (1964)
  • Kobarkan semangat banteng! – Madju terus, pantang mundur! Laporan politik kepada sidang pleno ke-II CCPKI jang diperluas dengan Komisi Verifikasi dan Komisi Kontrol Central di Djakarta tanggal 23-26 Desember 1963 (1964) / bahasa Inggris: Set afire the banteng spirit! – ever forward, not retreat! – political report to the second plenum of the Seventh Central Committee Communist Party of Indonesia, enlarged with the members of the Central, 1963 (1964)
  • Kaum tani mengganjang setan-setan desa: laporan singkat tentang hasil riset mengenai keadaan kaum tani dan gerakan tani Djawa Barat (1964)
  • Perhebat ofensif revolusioner di segala bidang! Laporan politik kepada sidang pleno ke-IV CC PKI jang diperluas tanggal 11 Mei 1965 (1965)
  • Politik luarnegeri dan revolusi Indonesia (kuliah dihadapan pendidikan kader revolusi angkatan Dwikora jang diselenggarakan oleh pengurus besar Front Nasional di Djakarta) (1965)
  • Selain itu, sebagian dari tulisan-tulisannya juga diterbitkan di Amerika Serikat dengan judul The Selected Works of D.N. Aidit (2 vols.; Washington: US Joint Publications Research Service, 1961).[5]

Nasib Anak Aidit

Anak Tokoh PKI DN Aidit menceritakan kisahnya sebagai “manusia yang terbuang”. Ketika peristiwa 1965 terjadi, ia baru berusia 16 tahun dan sedang bersekolah di Moskow.

Dengan suara tegas, Ibarruri Sudharsono Aidit menceritakan kisahnya ketika terpisah dari keluarga dan mengalami berbagai tekanan dari pemerintah Indonesia di bawah rejim Soeharto. Anak sulung Ketua PKI Dipa Nusantara Aidit itu lama sekali tidak tahu tentang nasib keluarganya dan di mana mereka berada.

Ketika peristiwa 1965 terjadi, ia baru berusia 16 tahun dan sedang bersekolah di Moskow. Tapi bagi rejim Soeharto, ia adalah seorang berbahaya yang “langsung atau tidak langsung pasti terlibat G30S/PKI”. Paspornya dicabut dan ia kehilangan kontak dengan keluarga di Indonesia.

Pada acara soft launching situs 1965tribunal.org di Auditorium International Instituut voor Sociaal Geschiedenes (IISG), Jalan Cruquiusweg di Amsterdam, 17 September 2014, Ibarruri juga bercerita tentang paranoia warga Indonesia yang mengalami indoktrinasi selama puluhan tahun.

Ketika sedang kuliah di luar negeri, ia punya teman bicara yang cukup dekat di kampus. Suatu kali, Ibarruri menunjukkan kartu identitasnya yang memuat nama Aidit. “Waktu tahu saya anak Aidit…, teman saya terdiam, kemudian lari.” Bagi sebagian besar orang Indonesia, nama itu adalah sesuatu yang menakutkan, dan bisa membahayakan karir mereka.

Dalam acara IPT 1965 itu, hadir tiga generasi korban kekejaman Orde Baru. Sarmadji Sutiyo, yang sudah berusia di atas 80 tahun, menceritakan kisahnya dengan suara berapi-api. Tahun 1965, ia sedang kuliah di Beijing. Sebelumnya, Sarmadji bekerja di Departemen Pendidikan di Jakarta. Tahun 1950, ia bergabung dengan Pemuda Rakjat, sayap pemuda Partai Komunis Indonesia.

Karena paspornya dinyatakan tidak berlaku, Sarmadji tidak bisa kembali ke Indonesia, dan akhirnya mendarat dan bermukim di Belanda. “Paspor Anda tidak berlaku bagi Republik Indonesia, tapi berlaku untuk polisi Belanda,” kata pejabat Belanda yang menerimanya.

PicsArt_07-30-10.50.41

Di Belanda, Sarmadji mendirikan “Perhimpunan Dokumentasi Indonesia” dan mengumpulkan dokumen-dokumen tentang orang-orang yang dicabut paspornya dan tidak bisa kembali ke Indonesia. (Gambar atas, kiri ke kanan: Sarmadji, Ibarruri Sudharsono, Yusuf Sudrajat, Penerjemah: Lina Sidarto, Moderator: Joss Wibisono)

Lain lagi cerita Yusuf Sudrajat, cucu seorang anggota PKI. Di Jakarta, orangtuanya menceritakan bahwa kakeknya sudah meninggal. Ternyata, kakeknya masih hidup dan terdampar di Belanda karena peristiwa 1965. Orangtuanya merahasiakan keberadaan kakeknya, karena takut intimidasi. Barulah ketika berlibur suatu kali ke Belanda, Yusuf akhirnya tahu kakeknya masih hidup.

“Ternyata, ayah saya selama itu diam-diam ke Belanda dan bertemu dengan ayahnya,” tuturnya. Di Indonesia, Yusuf seperti anak-anak sekolah yang lain mendapat indoktrinasi tentang kekejaman PKI. “Waktu tau kakek saya PKI, saya jadi takut sekali…. Saya menyesal tidak mengenal dia lebih baik lagi, sampai dia meninggal,” ujarnya.

Yusuf sekarang berharap, dengan adanya IPT 1965, publik di Indonesia bisa mengetahui lebih banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi. “Saya juga berharap publik di Indonesia sekarang lebih siap mendengar tentang kebenaran peristiwa ini,” tambahnya.

Kelahiran Orde Baru

Setelah peristiwa G30S, Suharto yang notabene telah menjadi orang nomor satu di kalangan militer, membiarkan Soekarno berada di jabatannya, sembari menata peralihan kekuasaan. Selama 18 bulan, Suharto menyingkirkan semua loyalis Soekarno dari tubuh ABRI, menggandeng parlemen, mahasiswa dan kekuatan Islam, serta mengakhiri konfrontasi Malaysia. Kekuasaan Soekarno berakhir resmi di tangan MPRS.[6]

Referensi

  1. boombastis.com/kisah-hidup-aidit/76639
  2. historia.id/modern/wawancara-dn-aidit-pki-menentang-pemretelan-terhadap-pancasila
  3. merdeka.com/peristiwa/nasib-tragis-ketua-pki-aidit-dieksekusi-ak-47-di-sumur-tua.html
  4. daerah.sindonews.com/read/1053972/29/kesaksian-elite-pki-tentang-sepak-terjang-aidit-1445105212
  5. id.wikipedia.org/wiki/D.N._Aidit
  6. dw.com/id/waktu-tau-saya-anak-aidit-teman-saya-lari/a-18139880
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s