Langgar Kidoel/Langgar K.H.A. Dahlan

PicsArt_08-01-06.37.09

Pernahkah anda mengunjungi langgar kidul KH Ahmad Dahlan? Jika sudah ada yang pernah mengunjungi anda pasti melihat betapa begitu sederhananya bangunan tersebut. Bagi anda yang belum pernah mengunjunginya saya akan menceritakannya.

Langgar kidul KH Ahmad Dahlan berada di kampung Kauman tepatnya berada di belakang Masjid Gedhe Kauman. Jika dari arah malioboro anda dapat lurus menuju alun-alun utara kemudian belok kanan dan ikuti jalan saja. Masjid Gedhe Kauman berada di sebelah kanan jalan dan anda dapat memarkir kendaraan anda di depan Masjid Gedhe Kauman. Setelah anda memasuki kompleks Masjid Gede, anda diharuskan jalan kaki dan ke arah selatan. Anda dapat mengikuti jalan kampung tersebut, kira-kira 200 meter dari Masjid Gedhe anda dapat menemukan langgar KH Ahmad Dahlan. Selama perjalanan menuju langgar anda dapat melihat beberapa rumah dengan model kuno tapi masih terlihat terawat dan bagus. Bentuk dari  langgar tersebut memanjang dan tingkat dengan bentuk bangunan yang sederhana, disamping langgar tersebut terdapat rumah yang dahulu ditempati oleh KH Ahmad Dahlan bersama keluarga. Langgar tersebut dahulu digunakan oleh KH Ahmad Dahlan untuk mengajari penduduk sekitar mengaji.[1]

Mushola kecil peninggalan Pahlawan Nasional, Kyai Haji Ahmad Dahlan, di Kampung Kauman, Ngupasan, Gondomanan, Yogyakarta, sejak awal namanya tak pernah diubah, yaitu Langgar Kidoel. Artinya, mushola yang berada di sebelah selatan. Nama ini digunakan, karena pada saat itu ada tujuh langgar atau mushola kecil yang masing-masing ditinggali oleh para kyai dan santrinya. Namun untuk papan petunjuk di jalan, bukan langgar Kidhoel namanya, tapi “Langgar KHA. Dahlan”. Mungkin nama itu bertujuan untuk mempermudah masyarakat diluar Yogyakarta yang ingin menuju langgar tersebut, meskipun bagi saya pribadi, nama “Langgar Kidoel” lebih berkesan.

Langgar Kidoel Ahmad Dahlan, kini menjadi Bangunan Cagar Budaya. Letaknya berada di tengah pemukiman Kampung Kauman, di lingkungan Masjid Agung Keraton Yogyakarta. Kampung Kauman berdiri sejak berdirinya Kesultanan Yogyakarta pada tahun 1756 Masehi. Letaknya yang dekat dengan Masjid Keraton, membuat Kauman menjadi tempat tinggal para ulama. Maka, pada saat itu terdapat banyak mushola atau langgar yang menjadi tempat tinggal para kyai dan santri.[2]

Dalam perjalanannya, langgar ini pernah dianggap kontroversi. Masyarakat setempat pernah beramai-ramai merobohkannya.

“Langgar ini sempat dirobohkan, akibat dianggap menyimpang dari arah kiblat yang diyakini masyarakat setempat saat. Pengulu Kraton pada kala itu menyuruh dirobohkan,” kata Ahmad Zuhdan, Cicit Ahmad Dahlan.

Langgar itu kemudian kembali dibangun pada tahun 1913. Oleh masyarakat setempat, langgar ini dikenal dengan sebutan Pawiyatan yang artinya tempat belajar. “Sewaktu kecil dulu, sehabis Shalat Maghrib, kami, anak-anak kampung Kauman mengaji di Langgar hingga setelah Isya,” tutur Zuhdan.

Kini, langgar itu berusia seabad lebih. Aktivitas di langgar ini sudah mulai dikurangi. Saat ini, langgar Ahmad Dahlan ini sudah tidak difungsikan untuk Shalat 5 waktu berjamaah lagi.

Sekarang, langgar itu hanya digunakan untuk mengaji tiga kali dalam seminggu yaitu, hari Senin, Rabu dan Jum’at. “Tapi yang mengaji orang-orang dewasa, usia SMA dan Mahasiswa. Sedangkan anak-anak kecil pada mengaji di TPA,” kata Zuhdan. Sementara itu, guru yang ngajar ngaji di langgar ini adalah anak-anak muda Kampung setempat (Kauman) secara turun-temurun.[3]

Muhammadiyah tak dapat dijauhkan dari Kampung Kauman Yogyakarta, begitu pula sebaliknya. Paling tidak karena dua sebab musabab. Pertama, menurut salah satu riwayat disebutkan sang pendiri Muhammadiyah; K.H. Ahmad Dahlan, adalah putra kelahiran Kampung Kauman Yogyakarta. Sedangkan riwayat lain menyebutkan Kiai lahir di Nitikan dan barulah beberapa hari setelah kelahirannya dibawa ke Kauman. Kedua, ikrar berdirinya Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah dan sosial pendidikan berasaskan Islam terjadi di Kampung Kauman Yogyakarta. Karenanya antara Muhammadiyah dengan Kampung Kauman Yogyakarta memiliki ikatan historis, basis sosial, dan emosional yang tak mungkin dapat dipisahkan. 

Mempelajari perjuangan Islam di Nusantara akan kita temui Muhammadiyah. Mempelajari Muhammadiyah tepatnya dimulai dengan mempelajari kehidupan dan pemikiran K.H. Ahmad Dahlan.[4]

Kini, Langgar Kidoel sebagai saksi sejarah pembaruan agama Islam di zaman KH Ahmad Dahlan masih dilestarikan. Kendati telah mengalami perbaikan, namun sebagai bangunan cagar budaya bentuk aslinya dipertahankan. Langgar Kidoel dengan empat tiang penyangga dari kayu, kini lebih sering dugunakan solat berjamaah oleh keturunan KH Ahmad Dahlan yang hingga kini masih tinggal di sekitar Langgar Kidoel.[2]

Galeri Foto

PicsArt_08-01-06.45.46

PicsArt_08-01-06.20.11 PicsArt_08-01-06.18.17 PicsArt_08-01-06.32.02 PicsArt_08-01-06.30.33 PicsArt_08-01-06.27.22 PicsArt_08-01-06.24.16 PicsArt_08-01-06.35.24

{"total_draw_time":0,"uid":"33ea1348-2cf2-4296-8bec-4c4496a34643","layers_used":0,"effects_tried":0,"photos_added":0,"effects_applied":3,"brushes_used":0,"total_effects_time":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{},"longitude":-1,"total_effects_actions":0,"latitude":-1,"tools_used":{"resize":1},"fte_image_ids":[],"total_editor_time":7}

Dokumentasi pribadi


{"total_draw_time":0,"uid":"33ea1348-2cf2-4296-8bec-4c4496a34643","layers_used":0,"effects_tried":0,"photos_added":2,"effects_applied":5,"brushes_used":0,"total_effects_time":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"image":1},"longitude":-1,"total_effects_actions":0,"latitude":-1,"tools_used":{"crop":1,"resize":1},"fte_image_ids":[],"total_editor_time":21}

Dokumentasi pribadi


{"total_draw_time":0,"uid":"33ea1348-2cf2-4296-8bec-4c4496a34643","layers_used":0,"effects_tried":0,"photos_added":2,"effects_applied":5,"brushes_used":0,"total_effects_time":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{"image":1},"longitude":-1,"total_effects_actions":0,"latitude":-1,"tools_used":{"crop":3,"resize":1},"fte_image_ids":[],"total_editor_time":43}

Dokumentasi pribadi


{"total_draw_time":0,"uid":"7cbf625d-8029-402b-8275-766710257c21","layers_used":0,"effects_tried":0,"photos_added":0,"effects_applied":2,"brushes_used":0,"total_effects_time":0,"total_draw_actions":0,"total_editor_actions":{},"longitude":-1,"total_effects_actions":0,"latitude":-1,"tools_used":{"resize":2},"fte_image_ids":[],"total_editor_time":17}

Dokumentasi pribadi


Referensi

  1. wisatareligiblog.wordpress.com/2013/01/28/langgar-kidul-kh-ahmad-dahlan/
  2. cendananews.com/2016/06/langgar-kidoel-kh-ahmad-dahlan-saksi.html?m=1
  3. news.viva.co.id/news/read/238498-langgar-pertama-kh-ahmad-dahlan
  4. islampos.com/jejak-perjuangan-kh-ahmad-dahlan-dalam-ruang-kauman-yogyakarta-95444/
  5. Dokumentasi pribadi
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s