Antara Kyai dan Dukun

PicsArt_08-03-06.58.31

Dukun dan kyai jelas dua makhluk yang berlawanan. Yang satu menggiring pada kesesatan, yang satu lagi mengajak pada ketakwaan. Antara keduanya banyak perbedaan yang mencolok. Tetapi, pada pada fungsinya, ada juga beberapa kesamaannya. Misalnya, keduanya bisa meramal, menjadi tempat konsultasi, membantu mengatasi masalah dan mengobati penyakit.
 
 
Dalam prakteknya, fungsi dukun dan kiayi sering agak sulit dibedakan. Karena keduanya sering melakukan hal yang sama tersebut. Tanpa disadarinya, banyak kiayi melakukan praktek perdukunan (tapi tidak ada dukun melakukan praktek perkiayian). Karenanya, kaum Muslimin wajib hati-hati, harus bisa membedakan mana dukun mana kiayi, karena banyak dukun yang berpenampilan biasa, tidak nyentrik. Bahkan, ada dukun yang berpenampilan kiayi. Dia dianggap kiayi, tapi itu tadi, melakukan praktek perdukunan. Sekali terpeleset pada kemusyrikan, bahayanya dunia akhirat. Rasulullah SAW bersabda, barangsiapa mempercayai ramalan seorang dukun, maka 40 hari ibadahnya tidak akan diterima oleh Allah SWT. Dan syirik adalah termasuk dosa yang tidak diampuni oleh Allah SWT sehingga ia benar-benar bertaubat.
 
Di bawah ini adalah perbedaan-perbedaan yang harus diketahui antara dukun dengan kiayi (ulama/ahli hikmah) yang lurus tauhidnya kepada Allah, agar kita tidak salah melangkah yang akan mengakibatkan kerugian dunia dan akhirat.
 

Klasifikasi

Dukun

Kiayi/ulama

Jenis  Ilmu Ilmu hitam/sihir/ ilmu azimat/ilmu hikmah syirik/ilmu metafisika Ilmu agama
Tujuan Kekuatan dan aji kesaktian, tenaga dalam, Ketaatan pada Tuhan
Cara perolehan Ngelmu yang bertentangan dengan syari’at agama (bertapa, puasa pati geni, merapal hizib, latihan tenaga dalam dll) Belajar agama dan membentuk kesalehan diri
Sumber ilmu Iblis/syetan/Khodam jin (jin yang ngaku malaikat) Allah, Nabi dan para ulama
Pasien diarahkan Untuk setia dan taat kepada dirinya dan jauh dari Allah Untuk taat kepada Allah SWT
Motivasi menolong Materi, keuntungan, kepuasan Sebagai ibadah
Bentuk komunikasi Pamer kemampuan kesaktian, meramal-ramal, segala diramal padahal banyak yang tidak perlu, banyak menceritakan yang akan terjadi padahal belum tentu bermanfaat, senang dipuji, menolong tanpa menimbang-nimbang perlu tidaknya pertolongan diberikan Mengindari pamer kemampuan diri (tawadhu), memberikan nasehat dan bimbingan agama, menghindari meramal-ramal, berhenti melayani orang bila persepsi orang padanya adalah tukang ramal, memilih mana yang perlu diceritakan dan yang tidak kepada orang awam.
Sifat pelayanan (1) Tidak ada usaha memperbaiki pasien agar menjadi lebih baik dan lebih benar dalam menjalan syariat agama dan kehidupan, (2) melayani keinginan apa saja termasuk balas dendam. Membimbing untuk lebih taat beribadah, memperbaiki akhlak, meningkatkan kualitas kesadaran diri
Yang disambat atau dituju Makhluk-makhluk halus, khodam jin, arwah-arwah karuhun yang sewaktu hidup dikenal sakti Allah SWT
Yang dianjurkan Bertentangan dengan ajaran agama Sesuai dengan ajaran agama
Dampak bagi yang sering dekat Kagum, hormat dan ketagihan terus bertanya agar meramal yang akan terjadi dan melayani keinginan dirinya Kesadaran agama dan keshalehannya meningkat
 
Perbedaan ini mungkin cukup jelas. Yang harus lebih diwaspadai adalah apa yang sering disebut sebagai “ahli hikmah.” Ahli hikmah yang lurus tauhidnya akan terjaga dari melakukan praktek perdukunan. Ia akan lebih mementingkan memberikan taushiyah atau nasihat-nasehat ketakwaan dan selalu menjaga diri dari kebiasaan meramal-ramal.
 

Tapi, ahli hikmah yang tidak lurus tauhidnya, banyak yang seperti dukun. Tentu saja ilmunya ilmu agama, tapi seperti dukun ia  melakukan praktek perdukunan. Cirinya yang menonjol, ia memakai kopiah, sorban, memberikan pengajian, melaksanakan ibadah seperti biasa dan dianggap kiayi, tapi senang memperlihatkan kemampuan bacaan gaibnya, suka sekali memberikan azimat atau benda-benda bertuah, senang memberi hizib/amalan kesaktian, senang meramal-ramal dengan berani menyebutkan sesuatu akan terjadi dengan waktunya yang jelas (bulan, hari, jam dan peristiwa) yang itu semua hanyalah hak dan wewenang Allah SWT, sambil jarang sekali atau tidak memberikan nasehat kebaikan dan takwa pada orang-orang yang datang kepadanya, tidak memperingatkan agar orang tidak bertanya apa-apa yang akan terjadi, agar menjauhi kemusyrikan, tidak tawadhu dan merelatifkan pandangannya. Kiayi seperti adalah dukun yang harus dijauhi.[1]


Para Penyandang Gelar Kyai

Salah satu kosa kata yang cukup populer di kalangan masyarakat Indonesia adalahkyai atau kiai. Biasanya, sebutan kyai dilekatkan kepada sosok yang dianggap paham ilmu agama (ulama), dan diharapkan bisa menjadi tokoh panutan. Bagi masyarakat Jawa, sebutan kyai selain dilekatkan kepada tokoh ulama, juga untuk dilekatkan pada benda pusaka, hewan yang dianggap keramat, makhluk halus, dan sebagainya.

Berbeda dengan masyarakat Jawa, bagi masyarakat Banjar (Kalimantan Selatan), sebutan kyai sama sekali tak ada hubungannya dengan ulama, tetapi merupakan gelar bagi kepala distrik (jabatan setingkat wedana di Jawa). Sedangkan di Sumatera Barat, sebutan kyai dilekatkan kepada sosok etnis cina yang sudah tua (cino tuo), sama sekali tidak ada hubunganya dengan ulama dan sebagainya.

Saat ini, sebutan kyai yang banyak dijumpai adalah Kyai Maja, Kyai Langgeng, Kyai Kanjeng, Kyai Slamet, Kyai Sengkelat, Kyai Semar, Kyai Sapu Jagad, Kyai Petruk, Kyai Sadrach, dan sebagainya. Bahkan ada juga sebutan Kyai Cabul, Kyai Pajero, dan Kyai Liberal yang berkonotasi olok-olok terhadap sosok manusia penjual agama.

Kyai Maja

Mungkin bagi sebagian anak muda masa kini, nama Kyai Maja (Kyai Mojo) hanya dikenal sebagai nama jalan di kawasan tertentu. Nama asli Kyai Maja adalah Muslim Mochammad Khalifah. Karena keaktifannya mengelola pesantren di kawasan Maja (Mojo), meneruskan kiprah ayahnya, maka ia lebih dikenal dengan panggilan Kyai Maja.

Kyai Maja lahir tahun 1782 dan wafat pada tanggal 20 Desember 1849 dalam usia 57 tahun. Ayahnya bernama Iman Abdul Arif, seorang ulama terkenal pada masa itu di dusun Baderan dan Modjo, juga memiliki alur keturunan dari kerajaan Pajang. Sedangkan ibunya bernama R. A. Mursilah, adik perempuan HB III dan masih bersaudara sepupu dengan Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro mengangkat Kyai Maja sebagai penasehat agama sekaligus Panglima Perang. Ketika berlangsung Perang Diponegoro (1825-1830), Kyai Maja ikut andil melawan Belanda. Sampai akhirnya pada tanggal 17 Nopember 1828 Kyai Maja ditangkap di dusun Kembang Arum, Jawa Tengah. Setelah dibawa ke Batavia, Kyai Maja dibuang ke Tondano, Minahasa, Sulawesi Utara.

Kehadiran Kyai Maja dan pengikutnya di Tondano mendorong terbentuknya Kampung Jawa, dan melahirkan entitas Jaton (Jawa Tondano), karena hampir seluruh pengikut Kyai Maja yang dibuang ke Tondano menikah dengan wanita setempat. Keberadaan mereka bisa dilihat dari nama keluarga (fam) yang disandang di belakang nama diri, seperti Pulukadang, Modjo, Baderan, Zess, Kyai Demak, Suratinoyo, Nurhamidin, Djoyosuroto, Sutaruno, Kyai Marjo, dan lain-lain.

Kyai Langgeng

Di Magelang, nama Kyai Langgeng lebih dikenal sebagai sebuah taman rekreasidengan luas 28 hektar, terletak sekitar satu kilometer dari pusat kota Magelang. Konon, Kyai Langeng adalah salah seorang prajurit yang ikut tewas dalam Perang Diponegoro (1825-1830), dan dimakamkan di lokasi yang kini menjadi taman rekreasi yang terawat baik ini.

Boleh dibilang, Taman Kyai Langgeng ini menjadi tempat rekreasi favorit masyarakat Magelang. Di taman ini dapat ditemui aneka satwa seperti ular piton, burung mambruk, burung elang, bajing, monyet, rusa, ayam hutan, dan dua ekor ikan lele yang sudah cukup tua usianya. Ikan lele jantan berusia sekitar 24 tahun dan lele betina berusia sekitar 54 tahun.

Kyai Slamet

Bagi yang belum paham, sebutan Kyai Slamet boleh jadi akan membangkitkan imajinasi tentang sesosok manusia yang berilmu (agama) tinggi, arif, sepuh dan bergiat di pondok pesantren. Sayangnya, imajinasi itu salah kaprah. Karena, Kyai Slamet yang dimaksud di sini adalah salah satu benda pusaka Keraton Kasunanan Surakarta berupa hewan kerbau dengan sebutan Kyai Slamet.

Pada umumnya, kerbau atau kebo berwarna hitam legam. Namun kerbau yang satu ini berwarna agak putih kemerahan seperti kulit orang bule, sehingga disebut Kebo Bule. Bersama sejumlah pusaka keraton lainnya, Kyai Slamet biasanya diarak berkeliling (kirab) dalam rangka menyambut datangnya Tahun Baru Jawa 1 Suro (1 Muharram). Tradisi ini, sudah ada sejak masa pemerintahan Pakubuwono (PB) IX, sebagai salah satu upaya raja untuk melegitimasi kekuasaannya.

Karena Kyai Slamet merupakan pusaka Keraton Kasunanan Surakarta, maka ia mendapatkan hak istimewa dari warga Surakarta (Solo). Misalnya, tidak ada yang berani mengusir Kyai Slamet saat ia memakan tanaman padi milik petani atau sayuran milik pedagang. Bahkan ada sebagian dari mereka yang justru merasa senang ketika tanaman atau dagangannya dimakan Kyai Slamet. Juga, bila Kyai Slamet buang kotoran, misalnya saat kirab berlangsung, maka kotorannya menjadi rebutan warga.

Tradisi kirab benda pusaka keraton ini, termasuk Kyai Slamet, menelan biaya tidak sedikit. Pada tahun 2010 lalu, biaya kirab Kyai Slamet dan pusaka keraton lainnya mencapai Rp 200 juta. Sebesar Rp 40 juta diantaranya, diperoleh dari sumbangan Pemerintah Provinsi (Pemprov). Uang sebanyak itu, digunakan untuk membawa kerbau jalan-jalan?

Ternyata mereka kalah pinter dibanding Gayus Tambunan. Dengan uang ratusan juta, gayus bisa menyogok sipir penjara untuk mendapatkan kebebasan ilegal. Atau, membawa anak-istrinya jalan-jalan ke Bali dan ke luar negeri dengan identitas palsu.
Sama-sama pelanggarannya, namun manusia di Indonesia berbeda dalam menyikapinya. Bukan lantaran mau membela Gayus, tetapi kenapa Gayus yang menyogok sipir penjara dipersoalkan secara nasional, dan semua orang tahu bahwa itu adalah pelanggaran; sementara itu ketika uang untuk kemubadziran bahkan upacara yang rawan kemusyrikan seperti melepas kerbau bule (Kyai Slamet) untuk jalan-jalan di malam 1 Suro (Muahhram) dengan dibiayai ratusan juta rupiah itu tidak dipersoalkan dan tidak disalahkan? Juga aneka upacara kemusyrikan yang dibiayai Pemerintah Daerah di mana-mana, padahal itu jelas-jelas merusak keimanan Ummat Islam, masih pula menguras duit (dari Ummat Islam pula), tetapi tidak dipersoalkan? Padahal secara perhitungan bahaya dan dosa, sama sekali jauh lebih berbahaya dan berdosa yang upacara-upacara kemusyrikan di mana-mana itu. Sekali lagi ini sama sekali bukan mendukung Gayus, tetapi ayo sama sama disalahkan. Gayus dan lain-lain yang melanggar ya mesti dihukum, sedang penyelewengan (istilahnya penggunaan) dana untuk upacara-upacara kemusyrikan entah itu larung laut, sedekah bumi, labuh sesaji ke Gunung Merapi dan sebagainya yang pada hakekatnya merusak keyakinan Ummat Islam itu wajib pula dihukum dan dihentikan. Karena itu lebih dari sekadar penyelewengan tetapi bahkan penyelewengan sekaligus penyesatan dan penghancuran keimanan.

Kyai Sengkelat

Bila Kyai Slamet adalah kebo bule, Kyai Sengkelat adalah nama julukan bagi sebilah keris karya Mpu Supa Mandagri, salah satu santri Sunan Ampel. Keris pusaka ini mempunyai lekukan (luk) berjumlah tiga belas yang diciptakan pada zaman Majapahit, khususnya pada masa pemerintahan Brawijaya V alias Prabu Kertabhumi (1466-1478). Sunan Ampel dipercaya sebagai salah satu personel walisongo penyebar agama Islam di kawasan Nusantara. Ia putra Maulana Malik Ibrahim, yang juga personel walisongo. Berdasarkan silsilah, Sunan Ampel mempunyai garis keturunan hingga ke pasangan Ali bin Abi Thalib as dan Fatimah az-Zahra as binti Muhammad SAW. (Sejarah walisongo sepertinya agak berbau syi’ah).

Sebagai salah satu santri Sunan Ampel, Mpu Supa Mandagri pada suatu ketika diberi cis yaitu besi runcing untuk menggiring onta, yang didapat Sunan Ampel ketika sedang bermunajat. Maksudnya, untuk dibuatkan sebilah pedang. Namun, Mpu Supa Mandagri merasa sayang bila besi itu diolah menjadi sebilah pedang. Maka, dibuatlah sebilah keris luk tiga belas yang diberi nama Kyai Sengkelat.

Kemudian keris itu ia serahkan kepada Sunan Ampel. Ternyata, Sunan Ampel kecewa. Karena, menurut Sunan Ampel, keris merupakan budaya Jawa yang berbau Hindu. Sedangkan pedang, lebih dekat kepada budaya Arab, tempat agama Islam berasal. Kemudian, Sunan Ampel menyarankan agar Kyai Sengkelat diserahkan kepada Brawijaya V.

Jadi, boleh dibilang, Kyai Sengkelat ini merupakan lambang pembangkangan seorang murid (Mpu Supa Mandagri) kepada gurunya (Sunan Ampel). Disuruh bikin pedang kok malah bikin keris!

Kyai Semar

Sosok Kyai Semar jauh lebih abstrak dibanding dua kyai sebelumnya (Kyai Slamet dan Kyai Sengkelat). Dari namanya, Kyai Semar merujuk kepada tokoh pewayangan bernama Semar. Bagi sebagian masyarakat Jawa, Kyai Semar tidak harus dimaknai secara kongkrit, karena ia bisa berupa kearifan lokal yang melengkapi ajaran agama. Seperti, nilai-nilai kebajikan berupa aja dumeh, aja adigang-adigung-adiguna, aja alu-amah, aja ngumbar hawa nepsu, aja kumalungkung, aja nggleleng, aja kemayu, aja kemaki, dan sebagainya. (Nasihat agar menjauhi akhlaq yang buruk seperti sombong dan sebagainya).

Berdasarkan asal-usulnya, sosok Kyai Semar punya banyak versi. Salah satunya, berdasarkan naskah Serat Kandadikisahkan, ada penguasa kahyangan bernama Sanghyang Nurrasa yang memiliki dua orang putra bernama Sanghyang Tunggal yang berwajah jelek dan Sanghyang Wenang yang tampan.

Hanya karena wajahnya yang jelek, maka Sanghyang Tunggal kehilangan haknya menjadi pewaris takhta kahyangan. Sang ayah, Sanghyang Nurrasa memilih Sanghyang Wenang sebagai penerus takhtanya. Sanghyang Wenang yang tampan, kemudian mewariskan takhtanya kepada putranya yang bernama Batara Guru.

Sanghyang Tunggal yang buruk rupa ini kemudian menjadi pengasuh para kesatria keturunan Batara Guru, dengan nama (Kyai) Semar.

Dari kisah Kyai Semar ini, ada dua hal bertolak belakang yang bisa kita peroleh. Pertama, kearifan lokal, nilai-nilai kebajikan yang sesuai ajaran agama. Kedua, diskriminasi seorang ayah terhadap anaknya yang buruk rupa. Karena buruk rupa, sang anak kehilangan haknya. Jadi, melalui penokohan Kyai Semar ini kita disuguhkan dua hal kontradiktif sekaligus: kearifan dan diskriminasi.

Pesan moralnya: orang tampan lebih pantas dipilih jadi pemimpin, sedangkan yang tidak tampan hanya pantas jadi pengasuh anak-keturunan orang tampan. Sebuah pesan moral yang sangat hedonistis.

Itu semua hanya cerita khayal namun oleh sebagian orang dipercayai, hingga sebenarnya rawan perusakan iman juga. Dan akan menambah kerusakan pula bila masalah ini kemudian didanai pula untuk diupacarakan dan sebagainya seperti upacara-upacara yang rawan kemusyrikan lainnya. Makanya Ummat Islam terutama para ulama dan tokohnya wajib hati-hati dan waspada, lebih-lebih ketika mau memilih pemimpin. Bila yang dipilih adalah orang yang punya misi menghidup-hidupkan apa-apa yang berbau mistis dan kemusyrikan, maka sangat rawan ke arah sana nanti ketika memimpin, yang dikhawatirkan akan menjerumuskan masyarakat ke neraka. Ulama yang mengajak-ajak Ummat Islam untuk memilih pemimpin seperti itu, kemungkinan besar kelak di akherat akan berat tanggung jawabnya, padahal misalnya mendapatkan upah dari kampanyenya, sama sekali sudah habis ketika di dunia. Betapa ruginya!

Kyai Sapu Jagad

Sosok Kyai Sapu Jagad juga abstrak seperti Kyai Semar. Selama ini, masyarakat sekitar gunung Merapi mempercayai bahwa gunung api tersebut memiliki nyawa sebagai penunggunya, yaitu Kyai Sapu Jagad. Untuk menghindari kemarahan sang penunggu, masyarakat sekitar perlu mengadakan ritual dan juga memberikan sesaji. Sosok Kyai Sapu Jagad sebagai penunggu Merapi, konon diciptakan oleh Kraton Mataram, demi tegaknya kekuasaan penguasa.

Menurut sebuah kisah —bermisi takhayul kepercayan batil—, Kyai Sapu Jagad penunggu Merapi adalah abdi dalem setia keraton Yogyakarta yang sebelumnya dikenal dengan nama Ki Juru Taman. Secara tak sengaja, Ki Juru Taman menelan telor (endhog jagad) pemberian Nyai Roro Kidul (ini sosok fiktif yang dipercayai secara batil) kepada Panembahan Senopati. Serta merta Ki Juru Taman berubah menjadi raksasa. Hati Penambahan Senopati tentu saja masygul. Namun, ia memberikan perintah kepada Ki Juru Taman yang telah menjadi raksasa untuk menjaga puncak Merapi, menyelamatkan rakyat dari amuk Merapi selamanya. Sebagai balas jasa, setiap tahun Keraton Yogyakarta menyisihkan sebagian dari hasil buminya dalam bentuk sesajen untuk dipersembahkan kepada petinggi lelembut Merapi ini. (Nah, ujung-ujungnya kemusyrikan, yang dapat mengeluarkan orang dari keyakinan Islamnya)

Mengenai asal muasal endhog jagad dikisahkan, ketika Panembahan Senopati merapat di bibir pantai Parang Kusumo, ia diberi tanda mata cinta oleh Nyai Rara Kidul berupa endhog jagad. Sebelum pergi menghilang, Nyai Rara Kidul berpesan agar Panembahan Senopati segera memakan endhog jagad tersebut. Namun dalam perjalanan pulang, Panembahan Senopati dipergoki Sunan Kalijaga yang memang secara diam-diam mengamati kejadian antara Panembahan Senopati dengan Nyai Rara Kidul.

Sunan Kali Jaga adalah pendiri dinasti Mataram. Kepada Panembahan Senopati ia memberikan nasehat untuk tidak memakan endhog jagad tersebut, karena menurut Sunan Kali Jaga, endhog Jagad tersebut merupakan jebakan dari sang Ratu Pantai Selatan. Akhirnya, Panembahan Senopati urung memakan endhog jagad, namun sayangnya endhog tersebut termakan oleh Ki Juru Taman, yang setelah menjadi raksasa, lelembut Merapi, dikenal dengan nama Kyai Sapu Jagad. Ini semua adalah cerita khayal tapi dipercayai maka menjadi kepercayaan yang batil, sangat jauh dari keyakinan Islam.

Ada dua pesan yang bisa ditangkap dari peristiwa di atas. Pertama, tentang abdi dalem (Ki Juru Taman) yang celamitan. Disebut celamitan, karena endhog yang dia telan jelas bukan miliknya tetapi milik majikannya (Panembahan Senopati). Kedua, majikan yang tidak bertanggung jawab. Sebagai majikan, sebagai pimpinan, seharusnya ia mengupayakan agar Ki Juru Taman yang berubah wujud menjadi raksasa akibat memakan endhog jagad yang bukan miliknya, kembali kepada bentuk semula. Namun hal itu tidak dilakukan, malah dibebani tanggung jawab yang lebih besar lagi, yaitu menjadi penjaga gunung Merapi, dan berkorban untuk rakyat banyak dari amukan Merapi. Ini namanya sudah jatuh tertimpa tangga. Miskin pula.

Ini semua hanya cerita khayal, tetapi kemudian diupacarai pakai sesaji, jadi pada hakekatnya disembah-sembah, dan itulah kemusyrikan yang nyata. Mereka minta keselamatan kepada selain Allah yang dikhayalkan sebagai roh Kyai Sapu Jagat. Itu benar-benar kemusyrikan. Hanya saja praktek kemusyrikan itu ditiru pula dalam bentuk yang bukan memberikan sesaji tetapi dalam bentuk apa yang disebut ziarah kubur para wali atau orang-orang yang dianggap saleh. Ziarah kubur itu sendiri dalam Islam ada dua: yang syar’I dan yang tidak syar’i. Yang syar’I adalah berziarah untuk mengingat akherat dan mendoakan mayat isi kubur yang Muslim. Mayat Non Muslim haram didoakan. Ziarah yang tidak syar’I, di antaranya ziarah tapi meminta kepada isi kubur (misal agar rejeki lancar, enteng jodoh dan sebagainya), itu sama dengan yang menyembah atau minta perlindungan kepada Roh Kyai sapu Jagat dan lainnya itu. Makanya orang yang meminta kepada isi kubur itu sering disebut penyembah kubur. Karena pada hekaketnya sama antara penyembah Roh Sapu Jagat atau semacamnya dengan peminta isi kubur.

Kyai Petruk

Selain Kyai Sapu Jagad, masih ada delapan sosok lain yang dipercaya sebagai penunggu Merapi. Salah satunya, Kyai Petruk. Sebagian masyarakat Jawa percaya, Kyai Sapu Jagad adalah penunggu kawah Merapi yang menjadi penentu meledak-tidaknya gunung tersebut. Sedangkan Kyai Petruk mengemban tugas sebagai pemberi wangsit mengenai saat meletusnya Merapi, termasuk memberi kiat-kiat tertentu kepada penduduk agar terhindar dari ancaman bahaya lahar panas Merapi.

Konon, Kyai Petruk merupakan anak dari seorang petinggi di Kecamatan Cepogo (Boyolali, Jawa Tengah), dengan nama asli Handoko Kusumo. Karena postur Handoko mirip tokoh pewayangan Petruk, maka ia dipanggil dengan sebutan Kyai Petruk.

Sejak kecil, Handoko dikenal sebagai sosok yang gemar menolong. Handoko juga dipercaya punya kesaktian, berkat ketekunannya bertapa. Dengan kesaktiannya itu, masyarakat sekitar Merapi percaya bahwa Kyai Petruk dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat di sekitar Merapi dari bahaya erupsi.

Masyarakat sekitar Merapi juga percaya bahwa Kyai Petruk meninggal melalui proses mukswo atau moksa (hilang tanpa meninggalkan raga) di gunung Merapi saat serius bertapa. Untuk mengenang Kyai Petruk, masyarakat sekitar Merapi setiap malam 1 Suro mengadakan acara Sedekah Gunung yang salah satu rangkaian acaranya adalah larung sesaji, berupa tumpeng sesaji, nasi gunung yang dibuat dari jagung, dan sebagainya, termasuk dupa kemenyan, dan tak lupa kepala kerbau.

Itu semua adalah upacara sesajen atau sesaji alias penyembahan kepada selain Allah Ta’ala. Itulah kemusyrikan nyata.

Kyai Sadrach

Bagi sebagian masyarakat yang terlanjur mempersepsikan sebutan kyai dengan ulama agama Islam, boleh jadi akan kecele. Sebab, kyai yang satu ini adalah murtadin (orang murtad, keluar dari Islam) yang aktif menyebarkan agama Kristen sembari membiarkan tradisi Jawa larut dalam ajaran Kristen. Diperkirakan, ia lahir di Jepara pada tahun 1835, dan meninggal dunia pada 14 November 1924 dalam usia 89 tahun.

Anak petani miskin yang pernah menjadi pengemis ini, bernama asli Radin. Ketika ia belajar di salah satu pesantren di Jombang (Jawa Timur), namanya menjadi Radin Abas. Dari Jombang, Radin Abas berkelana ke Semarang. Di sinilah awal kekristenan Radin Abas bermula. Ada dua versi mengenai hal ini.

Versi pertama, di Semarang Radin bertemu dengan seorang penginjil bernama Hoezoo, kemudian Radin Abas pun ikut kelas Katekisasi yang diajar oleh Hoezoo. Di tempat inilah Radin berkenalan dengan Kyai Ibrahim Tunggul Wulung yang sudah sepuh, dan sudah lebih dulu murtad. Kebetulan, ia berasal dari daerah yang sama dengan Radin, yaitu daerah Bondo Karesidenan Jepara. Semenjak perkenalan tersebut, Radin menjadi murid Tunggul Wulung.

Versi kedua, di Semarang Radin bertemu dengan Kurmen alias Sis Kanoman, bekas gurunya. Ternyata, saat itu Kurmen sudah masuk Kristen melalui Kyai Ibrahim Tunggul Wulung. Radin Abas pun diperkenalkan Kurmen kepada Kyai Ibrahim Tunggul Wulung, dan Radin berguru kepadanya. Akhirnya, Radin dibawa ke Batavia oleh Kyai Ibrahim Tunggul Wulung, dibaptis dengan nama Sadrach pada tanggal 14 April 1867, ketika usianya menginjak angka 32 tahun. Sejak saat itu, Radin alias Sadrach menjadi anggota gereja Zion Batavia yang beraliran Hervormd. Tugas pertamanya, menyebarkan brosur dan buku-buku tentang agama Kristen dari rumah ke rumah di seputar Batavia.

Sadrach yang pernah belajar di pesantren, meski sudah murtad tetap menempelkan atribut kyai di depan namanya, tentu bukan tanpa maksud. Dua tahun kemudian (1869) Sadrach diangkat anak oleh Pendeta Stevens-Philips yang saat itu berdomisili di Purworejo. Setahun di Purworejo, Sadrach kemudian pindah ke Karangjasa yang berjarak sekitar 25 kilometer dari Purworejo. Di Karangjasa, Sadrach semakin giat menyebarkan agama Kristen. Antara lain ia berhasil mengkristenkan Kyai Ibrahim yang tinggal di Sruwoh, tak jauh dari Karangjasa, dan Kyai Kasanmetaram.

Geliat Sadrach mengkristenkan kaum pribumi, memberi hasil yang jauh lebih banyak dibanding misionaris Belanda. Bahkan di Purworejo, jumlah orang Kristen Jawa pernah melampaui jumlah orang Kristen Belanda, berkat keuletan Sadrach. Keberhasilan Sadrach terutama karena ia menerapkan strategi yang jitu. Yaitu, hanya melakukan kristenisasi di wilayah-wilayah yang kadar keislamannya masih relatif rendah, yang masih bercampur dengan budaya animisme dan Hindu. Juga, ia menggabungkan ajaran Kristen dengan budaya Jawa seperti Yesus Kristus yang diasosiasikan dengan Ratu Adil. Yang lebih menarik, Sadrach tetap mempertahankan tradisi kejawen dalam masyarakat dengan memasukkan berbagai doa Kristen ke dalamnya.

Meski dinilai berprestasi mengkristenkan kaum pribumi, namun Sadrach tetap saja orang Jawa yang mendapat perlakuan diskriminatif dari kaum kristen Belanda. Bagi sebagian kristen Jawa, sosok Sadrach tidak saja diposisikan sebagai guru, bahkan ada yang menganggapnya Ratu Adil di tanah Jawa. Sementara itu, bagi para misionaris (kristen Belanda), Sadrach hanyalah kyai Jawa yang ambisius dan gila hormat. Selain itu, Sadrach dituduh sebagai sumber sinkretisme antara nilai Kristen dan kejawen.

Kalangan kristen Belanda memandang Sadrach hanya sebagai asisten Pendeta Stevens-Philips. Sehingga, seluruh keberhasilan Sadrach mengkristenkan kaum pribumi dianggap sebagai kerja keras Pendeta Stevens-Philips dan keluarganya. Oleh karena itu mereka menganggap jemaat-jemaat Sadrach berada di bawah hegemoni Pendeta Stevens-Philips. Puncaknya, pada tahun 1891 dikeluarkan pernyataan bersama para misionaris (kristen Belanda) untuk memisahkan diri dari jemaat Sadrach. Bahkan, Sadrach sempat ditangkap dan dipenjara oleh Pemerintah Belanda. Alasannya, Sadrach dianggap sebagai ancaman yang potensial melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Belanda, karena memiliki pengaruh kuat di kalangan pribumi. Beberapa bulan kemudian Sadrach dibebaskan.

Begitulah nasib sang Kyai murtad yang kemudian bernama lengkap Radin Abas Sadrach Supranata. Meski sudah murtad dan aktif mengkristenkan kalangan pribumi, ia tetap dipandang sebagai orang Jawa yang kedudukannya lebih rendah dari orang Belanda. Ibarat kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, tetap saja tak bisa jadi atlit. Apalagi ikut Olimpiade.

Di dunia nasibnya celaka, dan di akherat karena murtadnya dari Islam itu maka kekal di neraka. Itu sudah tegas dinyatakan Allah Ta’ala:

وَمَنْ يَرْتَدِدْ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَيَمُتْ وَهُوَ كَافِرٌ فَأُولَئِكَ حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآَخِرَةِ وَأُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ [البقرة/217]

Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.(QS. Al-Baqarah [2] : 217).

Nasib celaka di dunia dan akherat walau julukannya masih tetap kyai itu hendaknya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi setiap Muslim. Lebih-lebih orang-orang yang mengaku Muslim namun liberal (walau Kyai), hendaknya becermin pada bencana hidup yang dialami Kyai Sadrach yang sudah mengorbankan agamanya (Islam) namun tetap di dunia saja tidak diakui oleh Belanda “jasa-jasanya”, sedang adzab Allah di akherat kelak telah jelas akan menimpanya selama-lamanya, kekal di dalam neraka. Na’udzubillahi min dzalik, kami berlindung kepada Allah dari hal yang demikian.

Dari uraian ini diketahui bahwa ternyata kyai itu bermacam-macam. Macam-macam kyai itupun tampaknya menarik dibahas, sehingga telah dikenal ada buku berjudulBila Kyai Dipertuhankan, Membedah Sikap Beragama NU karya Hartono Ahmad Jaiz. Masih pula ada yang lebih khusus lagi, buku berjudul Mengungkap Kebatilan Kyai Liberal Cs, ternyata karya Hartono Ahmad Jaiz pula.[2]

Dari bahan bacaan maupun kenyataan di masyarakat, sebutan kyai terbukti belum tentu sebagai julukan untuk orang yang alim agama dan akhlaqnya bagus. Bahkan ada yang berupa binatang atau benda. Sedang muatannya pun bermacam-macam. Ada yang baik, ada yang buruk, ada yang menuntun manusia kepada keimanan yang benar, ada yang menyebarkan kemaksiatan tapi seolah agamis, ada yang menyesatkan, dan bahkan ada yang murtad. Sehingga tidak mengherankan bila kelak di akherat isi neraka itu di antaranya adalah Kyai-kyai, bahkan ada yang kekal di neraka karena telah murtad dari Islam. Sedang julukan kyai-nya walaupun masih melekat namun sama sekali tidak ada nilainya apa-apa. Kecuali bagi kyai yang memang benar-benar beriman dan beramal shalih, maka tentu saja Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikannya yang dilandasi iman. Dan itu tercakup dalam ayat:

إِنَّ الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ كَانَتْ لَهُمْ جَنَّاتُ الْفِرْدَوْسِ نُزُلًا (107) خَالِدِينَ فِيهَا لَا يَبْغُونَ عَنْهَا حِوَلًا [الكهف/107، 108]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal, mereka kekal di dalamnya, mereka tidak ingin berpindah dari padanya. (QS. Al-Kahfi [18]: 107-108)

Beriman di situ disyaratkan dengan tidak bercampur dengan kemusyrikan. Dalam pembahasan ini di antara kemusyrikan itu adalah menyembah kuburan dengan kedok ziarah ke kubur-kubur wali dan orang shaleh, dengan cara meminta kepada isi kubur sebagaimana difatwakan kemusyrikannya dalam fatwa di atas. Syarat iman tidak bercampur dengan kemusyrikan itu ditegaskan dalam Al-Qur’an:

الَّذِينَ آَمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ [الأنعام/82]

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al-An’am [6] : 82).

Da’i Sesat

Jalan Allah Ta’ala adalah satu lagi tidak berbilang dan lurus lagi tidak ada kebengkokan padanya. Dan satu jalan ini telah dipaparkan secara jelas dan tegas oleh Allah dan Rasul-Nya dalam wahyu yang diturunkan kepada manusia. Di sisi lain, jalan setan dan kesesatan jauh lebih banyak dan beraneka ragam, karenanya Allah Ta’ala dan Rasul-Nya juga telah menjelaskannya dengan penjelasan yang gamblang, sebagaimana ketika menjelaskan jalan Allah Ta’ala. Dan Allah Ta’ala mengabarkan bahwa dari semua jalan yang ada, hanya satu jalan yang bermuara kepada surga sementara jalan lainnya merupakan pintu-pintu untuk memasuki neraka jahannam.

Kenyataan ini diperparah bahwa ternyata pintu-pintu jahannam ini tidak dipampangkan begitu saja, akan tetapi ada dai-dai yang lahiriahnya mengajak kepada Islam akan tetapi hakikatnya dia mengajak kepada kemaksiatan dan bid’ah. Sehingga siapa saja yang menerima seruan dai semacam ini maka dai ini akan mendorong mereka untuk masuk ke dalam neraka, wal ‘iyadzu billah.

Akan tetapi bukan Islam namanya jika menyebutkan masalah tapi tidak menyebutkan solusinya. Pada kedua hadits di atas tersurat dan tersirat solusi agar setiap muslim bisa selamat dari banyaknya jalan kesesatan dan bisa menempuh satu jalan yang benar tersebut. Solusinya adalah berpeganga teguh dan senantiasa bersatu bersama keumuman kaum muslimin serta tetap mendengar dan taat kepada penguasa mereka ketika itu. Kalaupun ketika itu kaum muslimin tidak mempunyai pemimpin, maka yang Nabi shallallahu alaihi wasallam tidak menganjurkan mereka untuk berebut kepemimpinan, akan tetapi beliau memerintahkan mereka untuk menjauhi semua sekte, kelompok, komunitas yang ada dan hanya beribadah kepada Allah Ta’ala di rumahnya tanpa berpihak atau condong kepada pihak mana pun.

Sebagai tambahan, ketika Imam Ahmad ditanya tentang siapakah pemimpin dalam suatu negara? Maka beliau menjawab, “Dia adalah orang yang jika penduduk negeri tersebut ditanya siapa pemimpin mereka maka mereka akan menunjuk orang tersebut.” Maka dengan demikian pemimpin di setiap negara adalah kepala negaranya, batillah setiap kepemimpinan selainnya.

Ciri-ciri umum da’i yang sesat antara lain:

  • Mendahulukan aqli (akal) daripada naqli (dalil syar’i; Qur’an dan Sunnah)
  • Tidak mengagungkan nash-nash syar’i, dan berlapang hati dalam penyimpangannya. Dan terkadang meremehkannya
  • Berani memberi fatwa dalam masalah-masalah yang besar, dan terburu-buru dalam hal itu tanpa berpikir panjang
  • Tidak menampakkan pengaruh Sunnahdalam ibadah, penampilan dan perilaku mereka
  • Mencela ulama Sunnah dan meremehkan mereka
  • Meremehkan urusan bid’ah dan terkadang mempropagandakannya
  • Mencela sahabat radiallahuanhum atau sebagian dari mereka.[3]

Kyai Mana Yang Saya Ikuti?

“Ketahuilah bahwa orang yang bertaklid (ikut-ikutan) tidaklah disebut sebagai orang yang alim (berilmu), dan tidak benar penamaan dia sebagai orang yang berilmu sebagaimana dikatakan oleh para ulama.
Ini adalah perkataan madzhab Syafi’iyah. Sebagaimana pula tidak diperbolehkan berfatwa dengan ikut-ikutan, karena yang demikian bukanlah ilmu. Fatwa tanpa ilmu adalah haram.
Sudah jelas, sebagaimana yang saya fahami dari pertanyaanmu, bahwa kyai yang kedua memiliki sedikit perbendaharaan ilmu, dikarenakan dia tidak mampu sampai kepada dalil-dalil, pemahamannya tidak tegas di atas jalan yang bisa diikuti menurut ahli ilmu. Maka dia mencukupkan diri dengan taklid (ikut-ikutan) terhadap gurunya, sekalipun gurunya itu salah.
Dengan sikapnya seperti itu, dia telah menjadikan kedudukan gurunya –seolah-olah- ma’shum (suci) dari kesalahan seperti kedudukan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam , wal’iyadzu billah.
Dia lebih mengutamakan mengikuti dan mentaati gurunya daripada mengikuti dan mentaati Allah Subhanahu wa ta’ala  dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam. Sikap yang demikian menafikan kecintaan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala  dan Rasul-Nya.
Allah Ta’ala  berfirman:
“Katakanlah: “”Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran: 31)
Maka wajib atas setiap orang yang mengaku bahwa dia adalah termasuk ahli ilmu untuk menjauhi sikap taklid. Dia harus mengenal hujjah dan dalil-dalil madzhab lain agar dia senantiasa dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang shahih. Dengan demikian dia akan menjadi orang yang berittiba’ (mengikuti) atas dasar ilmu, bukan orang yang bertaklid buta, yang dikhawatirkan justru menjadi pintu keburukan bagi umatnya.
Seorang murid yang belajar di atas madzhab gurunya tidak berarti dia tidak boleh keluar dari madzhab gurunya jika ada sebuah dalil yang telah jelas baginya. Bahkan tidak bersikap demikian kecuali orang yang sedikit akal dan agamanya, atau lemah akalnya menurut Imam Ghazali dalam kitabnya al-Munqidz Min al-Dhalal.
Maka seorang mukmin yang sebenar-benarnya adalah yang mengikuti dalil yang shahih jika telah sampai kepadanya dari Kitabullah dan Sunnah Nabi . Barangsiapa menyelisihi hal tersebut maka dia tidak termasuk ahli ilmu, bahkan dia termasuk orang bodoh yang ikut-ikutan.
Siapa saja yang telah jelas baginya sebuah kebenaran yang bertentangan dengan madzhabnya, maka wajib baginya untuk menyelisihi madzhabnya dan mengikuti kebenaran.
Imam Nawawi rohimahullah berkata di dalam al-Majmu’ (1/63): “Telah shahih dari Imam Syafi’i rohimahullah bahwa dia telah berkata: “Jika kalian mendapati dalam kitabku ini sesuatu yang menyelisihi Sunnah Rasulullah , maka ucapkanlah dengan Sunnah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, dan tinggalkanlah ucapan (pendapat)ku.”
Imam Nawawi Rohimahullah juga telah menukil dalam al-Majmu’ (6/370) bahwa Imam Syafi’i Rohimahullah telah berkata: “Jika hadits tersebut shahih, maka hadits itu adalah madzhabku, dan tinggalkanlah ucapan (pendapat)ku yang menyelisihinya.”
Telah banyak disebutkan dalam kitab-kitab Syafi’iyah bahwa Imam Syafi’i telah berkata: “Jika sebuah hadits telah shahih, maka hadits tersebut adalah madzhabku, dan lemparkanlah ucapanku ke tembok.” (Hawasyi as-Syarwani (3/377), Tuhfatul Muhtaj (9/454), Nihayatul Muhtaj (7/250)).
Dari hal tersebut di atas kita memahami bahwa Imam Syafi’i  tidaklah berta’ashshub (fanatik) terhadap madzhabnya berdasarkan ucapannya: “”Jika ada sebuah hadits yang shahih menyelisihi ucapaku maka ikutilah hadits””. Bahkan setiap hadits yang telah shahih dari Nabi , maka itu adalah madzhab Syafi’i  sekalipun datang dari selainnya.
Maka mengapakah kyai tersebut yang mengaku sebagai pengikut Imam Syafi’i Rohimahullah tidak berkeinginan untuk melemparkan pendapat gurunya yang bertentangan dengan Sunnah ke tembok?!
Apakah dia dan gurunya lebih tahu daripada Imam Syafi’i rohimahullah yang telah berwasiat untuk meninggalkan pendapatnya jika menyelisihi kebenaran?!
Apakah dia dan gurunya adalah orang-orang yang mengikuti madzhab Syafi’i  yang telah memberikan wasiat untuk berpegang teguh dengan apa saja yang telah shahih dari Nabi Shallallahu alaihi wa sallam?!
Seandainya saja kita mengambil pelurusan shaf yang diremehkan oleh kyai tersebut berdasarkan apa yang ia pelajari dari gurunya sebagai contoh, maka yang benar dalam sunnah adalah meluruskan shaf.
Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa meluruskan shaf hukumnya wajib dikarenakan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda saat melihat seorang laki-laki yang menonjol dadanya:

لَتُسَوُّنَّ صُفُوْفَكُمْ أَوْ لَيُخَالِفَنَّ اللهُ بَيْنَ وُجُوْهِكُمْ

“Benar-benar kalian mau meluruskan shaf-shaf kalian ataukah Allah akan memalingkan wajah-wajah kalian.” (HR. al-Bukhari bab Adzan, 717)
Hadits ini adalah sebuah ancaman, dan tidak ada ancaman kecuali karena melakukan yang diharamkan atau meninggalkan sesuatu yang diwajibkan.
Sungguh, Islam telah memperhatikan urusan shaf orang shalat dengan perhatian besar, yaitu dengan memerintahkan untuk meluruskannya, menjelaskan keutamaan meluruskannya, dan perhatian terhadapnya. Imam Nawawi telah mengisyaratkan hal tersebut dalam syarahnya atas Shahih Muslim (2/179)
Maka apakah setelah itu semua dia lebih mengedepankan ucapan gurunya daripada sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam ?!
Sesungguhnya Allah Ta’ala telah melarang dari perpecahan dan perselisihan. Perpecahan di dalam agama sebabnya adalah mengikuti hawa nafsu, dan meniti jalan yang menyelisihi apa-apa yang telah disyariatkan oleh Allah ta’ala.
Sesungguhnya yang menjadikan umat ini terpecah menjadi beberapa firqah, sekte dan kelompok adalah bahwa setiap kelompok mengagungkan dan mensucikan gurunya, lebih mengedepankannya daripada Allah dan Rasul-Nya. Ini termasuk kesesatan.
Saya sungguh khawatir terhadap kyai tersebut dari fitnah dan adzab yang pedih wal’iyadzubillah, dikarenakan jika sebuah hadits telah memenuhi syarat keshahihannya yang telah diketahui maka tidak boleh mengingkari kebenarannya dan menyelisihinya. Bahkan mengingkarinya setelah dipastikan hadits tersebut dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam termasuk penentangan dan kesombongan. Barangsiapa mengingkari karena sebab apapun -sama saja karena dia mengikuti gurunya atau lainnya- maka dia kafir.
Imam as-Suyuthi rohimahullah berkata dalam kitabnya Miftahul Jannah fil Ihtijaj bis Sunnah (14): “Ketahuilah, mudah-mudahan Allah Ta’ala merahmati kalian, bahwa siapa saja yang mengingkari sebuah hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, sebuah ucapan beliau atau sebuah perbuatan beliau dengan syarat yang telah diketahui dalam ilmu ushul (hadits) maka dia kafir, keluar dari ruang lingkup Islam, dan merugi bersama Yahudi, Nashrani atau orang yang Dia kehendaki dari kelompok-kelompok kafir.”
Al-‘Allamah Ibnul Jauzi rohimahullah berkata di dalam kitabnya al-‘Awashim wal Qawashim (2/274): “Sesungguhnya mendustakan hadits Rasulullah dengan mengetahui bahwa itu adalah hadits beliau adalah sebuah kekufuran yang nyata.”
Sesungguhnya Allah  telah memerintahkan kepada kita untuk mengembalikan segala urusan kepada-Nya dan kepada Rasulullah  saat terjadi perselisihan, dan tidak dikembalikan kepada selain Allah dan Rasul-Nya.
Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. an-Nisa: 59)
Sesungguhnya saya mengajak kyai tersebut atau yang semisalnya untuk bertakwa kepada Allah Ta’ala  terhadap dirinya dan terhadap orang-orang yang nanti dia akan memikul dosa penipuan dan pemalsuan terhadap mereka pada hari kiamat.
Wajib atas orang-orang tersebut untuk tidak mengambil agama mereka dari kyai ini jika dia tetap berada di atas manhaj yang rusak, hingga tidak akan memberikan manfaat apapun bagi mereka nanti pada hari kiamat. Lisan setiap orang yang mengikuti kyai semacam ini akan berkata pada hari kiamat seperti yang kabarkan oleh Allah Ta’ala :
“Dan mereka berkata:””Ya Tuhan kami, Sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). Ya Tuhan kami, timpakanlah kepada mereka azab dua kali lipat dan kutuklah mereka dengan kutukan yang besar.”” (QS. al-Ahzab: 67-68)
Wajib atas kalian untuk mengikuti kyai pertama yang memikul keprihatinan di dalam hatinya, dan berbuat rahmat menyayangi manusia, dengan nasihat dan dakwahnya. Dikarenakan dia takut manusia berbuat maksiat kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu alaihi wa sallam, hingga terjadi adzab Allah Ta’ala atas mereka di dunia dan di akhirat. Oleh karena itulah dia berusaha dengan sunguh-sungguh meluruskan apa-apa yang disenangi oleh manusia dari berbagai macam kesalahan dalam tradisi dan ibadahnya. Dia menanamkan pengagungan terhadap sunnah di tengah-tengah mereka, mengamalkannya, dan memberikan peringatan terhadap orang yang menyelisihinya atau yang mendahulukan perkataan seseorang dari manusia daripada perkataan Allah Ta’ala  dan Rasul-Nya.[4]

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (Ayat 48 Surat An-Nisa’)


Referensi

  1. metafisis.net/2012/10/06/perbedaan-kyai-vs-dukun/
  2. metafisis.net/2011/10/07/tipisnya-perbedaan-kyai-dan-dukun-berhati-hatilah/
  3. metafisis.net/2011/03/13/inilah-ciri-ciri-dai-sesat/
  4. metafisis.net/2011/03/09/kyai-mana-yang-saya-ikuti/
Iklan

One response »

  1. Kill berkata:

    These are actually impressive ideas in on the topic of blogging.

    You have touched some pleasant points here. Any way keep up wrinting. http://bing.org

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s