Deretan Para Polisi Baik dan Jujur

Citra polisi dari tahun ke tahun kurang begitu baik di mata masyarakat karena banyaknya kasus yang melibatkan intern di dalamnya. Akan tetapi, bukan berarti dapat dipukul rata bahwa polisi semuanya buruk, karena setidaknya masih ada beberapa di antara mereka ya layak diteladani.

Memang dapat dikatakan bahwa sangat langka dapat menemukan polisi-polisi baik, jujur dan dapat dijadikan teladan serta inspirasi bagi semua orang karena cap jelek yang sudah melekat selama bertahun-tahun terhadap instansi pemerintah satu ini sudah sangat kuat.

Nah, untuk melihat sisi baik dari instansi polisi, tidak ada salahnya juga jika kita harus mengetahui bahwa setidaknya ada beberapa polisi-polisi yang layak diacungi jempol karena kerja keras, usaha, kejujuran dan kebaikannya. Berikut daftar para polisi teladan tersebut.

1. Agus Setyoko

Agus Setyoko adalah seorang polisi yang pernah menjabat sebagai Kapolres di Ketapang, Provinsi Kalimantan Barat. Masa jabatannya di daerah tersebut terbilang singkat, yaitu hanya 6 bulan, karena dia harus pindah ke Jakarta untuk menduduki posisi lain.1. Agus Setyoko

Di mata masyarakat Ketapang dan Kayong Utara, sosok Agus Setyoko layak dianggap sebagai polisi yang luar biasa. Walaupun saat itu menjabat sebagai Kapolres, akan tetapi setiap hari dia berangkat dan pulang kerja mengendarai sepeda onthel miliknya.

Selain itu, sepak terjangnya dalam melawan mafia-mafia di daerah tersebut juga patut diacungi jempol. Kerap kali dia menolak sogokan yang diberikan pihak tertentu untuk memuluskan suatu tender atau proyek. Tidak hanya itu saja, Agus Setyoko juga memerangi ilegal logging, membereskan oknum-oknum nakal di instansinya sampai dengan mengawasi secara ketat penyaluran BBM.

2. Jailani

PicsArt_08-11-05.56.19

Polisi baik lainnya ada di Kota Gresik, Jawa Timur, bernama Aiptu Jaelani. Dia adalah seorang anggota Satlantas Polres Gresik yang terkenal dengan ketegasan, kedisiplinan dan kejujuran dia saat mengemban tugasnya.

Bahkan karena nilai plus yang dimilikinya tersebut, pernah ada kejadian, yaitu banyak anak yang lebih mengenal namanya dibandingkan dengan nama Kapolres Gresik sendiri.[1]

Hari belum terang tanah. Kumandang azan subuh baru saja lewat, di Ahad itu. Di rumah sederhana dalam sebuah gang, Rahmawati sedang berkemas. Istri polisi lalu lintas itu menyisipkan dompetnya ke dalam tas belanja yang tergantung di sepeda motor.

Dari balik pagar rumahnya di Gang 6D, Jalan Jaksa  Agung Suprapto, Gresik, Jawa Timur, Rahmawati mengeluarkan motornya dengan senyap. Dia berusaha tidak membangunkan dua anaknya yang masih terlelap. “Belanja ke pasar sebentar, pulang sebelum anak-anak bangun,” begitu pikirnya.

Di mulut gang, baru Rahmawati menyalakan mesin motor menuju pasar di Simpang Lima Gresik. Setiba di pasar, pembeli sudah ramai. Mumpung anak-anak libur sekolah, dia ingin memasak agak istimewa.

Terlalu asyik belanja Rahmawati lupa hari mulai terang. Bergegas dia keluar pasar dan memacu motornya pulang. Sial baginya, jarum jam sudah menunjuk angka tujuh. Setiap hari Ahad, jalan Jaksa Agung yang menuju rumahnya ada larangan kendaraan bermotor melintas.Car free day itu berlaku selama dua jam sejak pukul 06.00 WIB.

Rahmawati panik, khawatir anak-anaknya sudah bangun sementara dia belum sampai rumah. Sementara suaminya pun sedang bertugas pagi itu. Celingak-celinguk, dia mencari jalan alternatif melewati lorong-lorong kecil di belakang Jalan Jaksa Agung Suprapto, menuju rumahnya.

Rahmawati mengarahkan motornya ke sebuah lorong. Saat hendak masuk ke mulut gang, dua polisi lalu lintas yang berjaga mengenalinya. Mereka segera menghampiri istri Aiptu Jailani, sesama anggota polantas di kota itu. Kedua polisi itu faham kesulitan yang sedang dihadapi Rahmawati.

“Sudah, tak usah lewat gang,” kata salah seorang polisi. Mereka mempersilakan Rahmawati lewat jalan raya itu. Menimbang saran itu, Rahmawati pun mengucap terimakasih dan menjalankan motornya menuju rumah.

Terang saja, semua mata memandang ke arah satu-satunya motor yang melintas itu. Meskipun motor itu berjalan pelan dan menyisir di tepian jalan. Masyarakat yang tengah berolahraga di jalan itu bertanya-tanya. Petugas polantas yang dilewati tak menghiraukan, karena mereka sangat mengenal pengendara motor tersebut.

Baru beberapa ratus meter motor itu melintas, mendadak seorang polantas menghentikannya. Lho…? Rahmawati kaget, lalu menatap wajah sang polisi. Ternyata polisi itu adalah Aiptu Jailani, suaminya sendiri. Tak hanya dinasehati karena melanggar lalu lintas, sang suami juga menerbitkan surat tilang untuk istrinya sendiri.  

“Untungnya istri mau mengerti dan memahami tindakan saya,” kata Aiptu Jailani tersenyum geli saat menceritakan kejadian itu kepada reportermerdeka.com, Moch. Ardiansyah.

Cerita tentang polisi yang menilang istrinya sendiri, segera tersebar di kota santri itu. Obrolan menyebar di warung-warung kopi. Jadi banyolan, tapi juga muncul rasa hormat kepada Pak Polisi Jaelani.

Berita itu segera terekspos di media massa. Komunitas Forum Film Jambi tertarik dan membuat film pendek dengan judul “Kisah Nyata Polisi Menilang Istrinya.” Sejak diunggah ke jejaring video sosial Youtube akhir Mei 2914 lalu, film itu telah ditonton lebih dari 800 ribu kali![2]

Jaelani bukanlah seorang kaya ataupun lahir dari keluarga berkecukupan yang dapat mengantarkannya ke pendidikan polisi tingkat tinggi, dia hanyalah anak seorang petani yang berusaha terus meneladani dan melaksanakan apa yang diajarkan ibunya sejak kecil, yaitu kejujuran dan kerapian.

3. Seladi

Masih di Jawa Timur, kali ini di Kota Malang, ada seorang polisi yang menjadi buah bibir banyak orang di Indonesia karena keuletan, kejujuran, kesederhanaan dan kerja kerasnya dalam bertugas dan menjalani hidup, yaitu Brigadir Kepala (Bripka) Seladi.

Dia adalah penguji SIM A di Polres Malang yang tiap hari berangkat dan pulang kerja menaiki sepeda onthel. Selain kesederhanaan tersebut, Seladi juga terkenal karena kejujurannya. Sejak bertugas di bagian SIM selama 16 tahun, dia tidak pernah sekalipun menerima uang suap dari orang-orang yang ingin cepat lulus mudah dan mendapatkan SIM.

Kisah lain dari Seladi yang tak kalah menarik adalah selepas bertugas, dia kembali bekerja sebagai pemulung. Menurutnya bekerja seperti itu lebih baik daripada harus menerima uang haram dan mencoreng nama instansi juga merugikan negara.

4. Mustamin

Jika Anda pergi ke daerah kawasan Monumen Mandala, Makassar, Sulawesi Selatan, setiap sore pastinya akan dapat menemui seorang tukang tambal ban yang jika ditilik dari umurnya, pria tersebut sudah berusia lanjut. Siapa sangka tukang tambal ban itu adalah seorang anggota satuan Sabhara Polsek Ujung Pandang bernama Aiptu Mustamin. Selama 20 tahun lebih, Mustamin melakoni pekerjaan sebagai tukang tambal ban seusai pulang bertugas.

PicsArt_08-11-05.39.35

Mustamin beranggapan bahwa dia tidak malu bekerja sebagai tukang tambal ban karena memang tidak ada yang harus dibuat malu dengan profesi tersebut. Selain itu, Mustamin juga terus memupuk sifat sabar dan jujur dalam segala hal yang mana dia praktikkan juga dalam kesehariannya ketika bertugas.

4. M Taufiq Hidayat

PicsArt_08-11-05.59.55

 “Bapak tampar pipi saya. Ini bukan mimpi toh. Saya benar diterima menjadi polisi”. Itulah kata-kata pertama yang keluar dari mulut Bripda M Taufik Hidayat kepada ayahnya, Triyanto, saat pertama kali tahu kalau dia lulus menjadi calon anggota polisi.

Kata-kata itu bukanlah tanpa alasan. Sebab, meski dengan segala keterbatasan ekonomi, pemuda kelahiran 20 Maret 1995 ini perlu berjuang keras untuk dapat meraih cita-citanya menjadi anggota kepolisian. Terlahir dari keluarga tidak mampu, sejak kecil M Taufik Hidayat sudah terbiasa kerja keras untuk meraih apa yang diinginkannya.

Pendapatan Triyanto yang hanya sebagai buruh bangunan terbilang pas-pasan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Belum lagi untuk membiayai sekolah Taufik dan ketiga adik-adiknya. Tak jarang, Taufik harus menunggak biaya sekolahnya karena tak punya biaya.

Karena itu, demi dapat menyelesaikan sekolahnya dan membantu keuangan keluarga, Taufik rela ikut bekerja sebagai tukang gali pasir di Sungai Gendol.

“Saya bantu bapak menambang pasir di Sungai Gendol. Ya untuk biaya hidup dan biaya sekolah saya dan adik-adik,” ucapnya.

Lulus dari sekolah menengah kejuruan (SMK), anak pertama dari empat bersaudara ini pun harus menahan cita-citanya mendaftar menjadi anggota kepolisian. Kebutuhan ekonomi memaksanya untuk bekerja di bekas sekolahnya, SMK 1 Seyegan, sebagai pembina Pramuka merangkap asisten perpustakaan.

“Honor saya dari pembina Pramuka dan asisten perpustakaan sekitar Rp 700.000,” tuturnya.

Pada awal Desember 2014 lalu, Taufik memutuskan untuk tidak melanjutkan pekerjaan di SMK 1 Seyegan. Ia membulatkan tekadnya untuk mendaftar sebagai calon anggota polisi di Mapolda DIY. Berkat kerja keras dan doa sang ayah, pada akhir Desember 2014 Taufik lulus dari tes Calon Anggota Polisi dan mengikuti pendidikan di Sekolah Polisi Negara Selopamioro, Imogiri, Bantul.

“Saya tidak percaya, sampai minta bapak menampar pipi. Bahkan saat di gerbang SPN saya masih tidak percaya,” ujar Taufik sambil tersenyum ketika mengingat satu fragmen dalam hidupnya.

Setelah lulus dengan pangkat Bripda, Taufiq menjalani karier pertamanya di Direktorat Sabhara Polda DIY. Namun, lagi-lagi karena tidak punya biaya dan kendaraan, setiap pagi saat berangkat dinas, Bripda M Taufik Hidayat harus rela berjalan kaki sekitar 7 kilometer dari rumahnya di Dusun Jongke Tengah RT 04 RW 23 Desa Sendangadi, Kecamatan Mlati, Kabupaten Sleman, menuju Mapolda DIY.

“Bangun subuh, salat, lalu jalan kaki ke Mapolda DIY. Kadang kalau pas ketemu teman ya bonceng,” tuturnya.

Diakuinya, meski telah bangun subuh, tetapi dirinya sering terlambat masuk dinas. Keterlambatan itulah yang menuai kecurigaan dari atasannya. Setelah memberikan penjelasan dan mengecek kebenaran itu, atasan Bripda Taufik lantas meminjamkan motor pribadinya. “Sekarang saya dipinjami motor Pak Wadir Sabhara,” ucapnya.

Seperti bola tenis, ketika dilempar dengan keras ke tanah maka lentingannya akan lebih tinggi ke atas. Seperti itulah tekad Bripda Taufik. Pahit getir dan kerasnya kehidupan yang dijalani anggota Sabhara Polda DIY sejak kedua orangtuanya bercerai menjadi kekuatan untuk melenting lebih tinggi.

Saat duduk di bangku SMP, Bripda Taufik harus menerima kenyataan pahit. Kedua orangtuanya bercerai. Rumah satu-satunya pun dijual oleh sang ibu.

Alhasil, Bripda Taufik bersama ayah dan ketiga adiknya harus pindah rumah. Namun, karena uang tidak mencukupi untuk membeli rumah, Triyanto selaku ayah memutuskan untuk mengontrak bekas kandang sapi di Dusun Jongke Tengah. Kandang sapi itu kemudian dialihfungsikan sebagai tempat tinggal.

“Per bulan bayar Rp 170.000. Ya memang seperti itu kondisinya. Lantainya masih tanah,” ucap Triyanto.

Rumah semipermanen berukuran 2,5 m x 5 m kondisinya memang memprihatinkan. Bahkan karena belum ada biaya, daun pintu dan dinding sisi utara dibiarkan terbuka. Untuk mengurangi embusan dingin udara malam dan tetesan air hujan, terpaksa pintu dan sisi yang masih terbuka ditutup dengan mengunakan spanduk-spanduk bekas.

Sekeliling bangunan yang ditempati Bripda Taufik pun merupakan kandang sapi yang dikelola kelompok masyarakat setempat sehingga bau menyengat kotoran sapi setiap hari harus dirasakannya.

Di dalam rumah semipermanen itu hanya ada dua kasur tempat tidur. Dua kasur dengan kodisi berlubang itu dipakai oleh lima orang, yaitu tiga adiknya, ayah, dan dirinya. Bahkan, ketika Bripda Taufik tidur di rumah, Triyanto mengalah untuk tidur di mobil pikap beralaskan tikar dan beratap langit.

“Saya senang kalau piket dan tidak pulang. Soalnya kasihan bapak kalau tidur di luar. Bapak sering mengalah tidur di bak mobil,” kata Taufik.

Melihat keadaan itu, di gaji pertamanya menjadi anggota kepolisian, Taufik berencana akan menggunakannya untuk mengontrak rumah yang lebih layak. Ini dilakukan demi ayah dan ketiga adiknya yang masih kecil-kecil.

“Nanti kalau gajian pertama, saya ingin gunakan untuk mengontrak rumah. Kasihan bapak dan adik-adik kalau tetap tinggal di sana,” tuturnya.[3]

Keteguhan, keuletan dan kesabarannya tersebut membuatnya dianugerahi penghargaan sebagai ikon Kepolisian Republik Indonesia dari World Peace Committee.

6. Rochmat Tri Marwoto

PicsArt_08-11-06.05.06

Brigadir Rochmat Tri Marwoto adalah seorang anggota Brimob Detasemen C Satbrimob Polda Jawa Timur yang namanya melambung karena memiliki hati yang mulia, yaitu menyekolahkan 54 anak kurang mampu, walaupun jabatan dan gaji yang diterimanya tidak terlalu tinggi.

Dalam sebuah wawancara di stasiun TV swasta Tanah Air, Rochmat mengatakan bahwa dia melakukan hal tersebut sejak tahun 2007 silam. Rata-rata anak yang dia sekolahkan berstatus yatim piatu, anak jalanan dan anak yang terlantar.

Kegigihan dalam menjalan tugas serta mengarungi kehidupan pantas diacungi jempol. Dengan gaji yang tidak seberapa, Rochmat rela membagi rezekinya untuk menyekolahkan anak kurang mampu. Bahkan dia pernah menjadi tukang ojek untuk mencari tambahan penghasilan ketika ditugaskan di Jakarta.

7. Miran

PicsArt_08-11-06.07.31
Bagi warga Kota Malang asli, pastinya akan mengenal nama Miran, seorang mantan anggota polisi di Polresta Malang. Dia juga pernah menjabat sebagai waka primko (Wakil Kepala Primer Koperasi) dan Kasat Sabhara (Satuan Bhayangkara) Polresta Malang.

Dalam pencapaian dan meraih jabatan tersebut, Mayor Miran mengatakan bahwa dia tidak menggunakan apapun, apalagi uang pelicin. Miran meniti karirnya dari bawah dan dilakukan dengan kerja keras.

Kejujuran dan ketegasannya tersebut berbuah manis dengan didapatkannya penghargaan dari mantan Presiden Soeharto pada tahun 1997 silam.

8. Ruslan

PicsArt_08-11-06.10.09

Mungkin bagi seseorang yang sudah menjabat sebagai kepala unit, tentunya akan malu jika harus bekerja sebagai tukang sol sepatu di pasar. Akan tetapi, hal ini tidak dirasakan oleh aiptu Ruslan, seorang Kanit Binmas Polsek Pidie di Aceh.

Dia melakukan pekerjaan tersebut dengan iklas dan tanpa malu sedikitpun. Bahkan profesinya sebagai tukang sol sepatu selepas bertugas tersebut dilakoninya sejak bertahun-tahun. Dalam prinsipnya, Ruslan mengatakan bahwa mencari rezeki itu dapat dari mana saja, yang penting halal.

9. Kaharoeddin Dt Rangkayo Basa

PicsArt_08-11-05.41.51

Kaharoeddin Dt Rangkayo Basa adalah seorang perwira polisi pertama di Indonesia yang diangkat untuk menduduki jabatan sebagai gubernur berdasarkan keputusan mantan Presiden Soekarno.

Walaupun memiliki jabatan yang sangat tinggi, akan tetapi Pak Kahar atau nama panggilan dari Kaharoeddin Dt Rangkayo Basa tetap memegang teguh kejujuran, kedispilinan dan ketegasan dalam setiap langkah yang diaambil dan dilaluinya, termasuk ketika bertugas.

Bahkan dia selalu menolak menerima uang di luar gaji yang wajib diterimanya. Tak ayal, hingga akhir hayatnya, Pak Kahar tidak memiliki rumah sendiri dan melarang  keluarganya untuk menggunakan fasilitas negara, sampai-sampai menolak tawaran Kapolri pada waktu itu yang ingin memberangkatkannya ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji.

10. Hoegeng Imam Santoso

PicsArt_08-11-06.13.00

Yang melegenda di Korps Kepolisian adalah Jenderal Polisi Hoegeng Imam Santoso. Dia dianggap sebagai salah satu dari pejuang kepolisian yang ingin menegakkan hukum dan kebenaran di Indonesia walaupun banyak halangan menghadang.

Ketegasan dan kejujurannya serta dianggap sebagai icon polisi anti-suap sangat melekat pada diri pria yang juga turut berperang melawan penjajah Belanda ini. Dia pernah menjabat sebagai Kapolri namun hanya sebentar saja karena ‘diturunkan’ secara halus oleh mantan Presiden Soeharto pada tanggal 2 Oktober 1971 karena terlalu jujur dan tidak dapat menerima suap.

Bahkan banyak hal yang membuat banyak pihak termasuk pejabat negara geram terhadap Hoegeng karena dia selalu ingin membongkar kasus yang dirasanya aneh dan tidak berkesudahan, seperti kasus SUm Kuning sampai dengan penyelundupan mobil mewah oleh Robby Tjahjadi. Dia dicopot dari jabatannya dan ditawari untuk kembali bertugas sebagai diplomat di negara lain. Akan tetapi Hoegeng menolak karena dia merasa hal tersebut merupakan langkah halus untuk menyingkirkannya.[1]

11. Aiptu Agus Dwi Santoso

Namanya Aiptu Agus Dwi Santoso (58), Beliau masih setia menyeberangkan anak-anak SD di Klampok Brebes, Jateng setiap paginya. Tugas ini sudah beberapa tahun dia lakoni. Empat bulan lagi, polisi yang akrab disapa Mbah Agus ini pensiun.

Warga Brebes, khususnya orangtua dan guru mengenal Mbah Agus sebagai polisi bersahaja. Dia bahkan menolak diberi uang insentif karena rutin membantu menyeberangkan anak-anak pergi dan pulang sekolah.

PicsArt_08-11-05.45.53

“Lah memang tugas saya. Ada orangtua yang mau beri insentif saya karena bantu anak-anak, saya bilang saja saya minta doa saja agar saya sehat dan selamat,” terang Agus seperti dikutip dari detikcom, Selasa (26/7/2016).

Menyeberangkan anak-anak, mengisi hari-harinya jelang pensiun. Ini pekerjaan tak mudah, karena terkadang ada anak-anak yang nakal yang saat diseberangkan malah lari mendahului. “Itu bikin deg-degan. Bikin spot jantung,” urai dia.

Agus menyayangi anak-anak sekolah dan menganggap cucunya sendiri. Agus sendiri selama ini hidup seorang diri tak menikah. Tapi dia membiayai anak yatim sekolah hingga lulus dari gajinya sebagai polisi. Anak angkatnya itu sudah menikah, seorang bidan dan akan segera melahirkan.

Agus masuk polisi pada tahun 1979, dia mengaku waktu itu putus kuliah di salah satu universitas di Yogya. Ayahnya seorang prajurit TNI, tak kuat keuangannya membiayai Agus.

“Ya putus kuliah, terus di Malioboro ada bukaan jadi polisi, saya daftar saja. Waktu itu umur saya 23 tahun,” lanjut Agus yang keluarganya tersebar di Yogya dan Bandung.

Selama bertugas, Agus tak pernah menerima uang dari masyarakat. Termasuk saat dia menegur pengendara yang melanggar aturan. Agus selama berdinas memakai sepeda. Dia tinggal di asrama polisi. Sepeda itu sudah dia jual untuk biaya anak angkatnya sekolah. Agus kini memakai motor dinas dari Polsek Wonosari, Brebes.

“Saya takut di alam kubur, saya takut di alam akhirat. Kalau ada pengendara yang melanggar aturan saya nasihati saja, saya bina. Saya nggak mau uangnya. Doakan saja saya sehat selamat,” tutup Agus yang setelah pensiun berencana menumpang di rumah anak angkatnya karena dia tak memiliki rumah.[4]

Referensi

  1. boombastis.com/polisi-baik-hati/75491
  2. dream.co.id/news/aiptu-jailani-polisi-langka-penilang-istri-sendiri-150119i.html
  3. regional.kompas.com/read/2015/01/15/06450061/Kisah.Bripda.Taufik.Wujudkan.Mimpi.Jadi.Polisi.meski.Tinggal.di.Bekas.Kandang.Sapi
  4. sangpencerah.com/2016/07/mbah-agus-polisi-jujur-dari-brebes-saya-takut-nanti-di-alam-kubur.html
Iklan

2 responses »

  1. wahyu berkata:

    semoga makin banya polisi dan aparat penegak hukum seperti mereka.
    dan di berikan keberkahan dalam rejeki mereka serta keluarga nya
    amin

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s