John Lie

Nama John Lie mungkin sangat asing bagi kita yang notabene rakyat Indonesia. Meski demikian, beliau adalah pahlawan nasional yang jasanya sangat tinggi di dunia AL. Seperti halnya Abdulrahan Saleh di AU, John Lie juga merupakan figur menakjubkan yang membuat bangsa ini semakin maju dan keluar dari krisis finansial pasca Perang Dunia II berakhir.

Selama menjadi anggota TNI AL, John Lie telah banyak sekali melakukan misi besar. Bisa dibilang jasa beliau tiada tara hingga kita semua layak untuk mengenal dan mengenang beliau yang berjuang demi NKRI dengan gagah berani. Indonesia adalah negara yang dicintai John Lie meski keluarga berasal dari etnis Tionghoa.

Pembelot yang Mendambakan Kebebasan

PicsArt_08-13-11.05.09

Sebagai anak dari juragan pemilik perusahaan pengangkutan Vetol, kehidupan dari John Lie sudah seharusnya sangat makmur. Dia bisa mendapatkan apa saja di kala itu dengan mudah dengan meneruskan usaha yang dirintis orang tuanya. Meski bisa mendapatkan hal-hal itu dengan mudah, John Lie lebih memilih kabur ke Batavia untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Saat berusia 17 tahun, John Lie sudah lepas dari orang tuanya dan pergi ke Jakarta. Dia terobsesi menjadi seorang pelaut yang hebat dengan usahanya sendiri. John Lie rela jadi buruh di pelabuhan untuk melakukan pekerjaan kotor dan berat hingga akhirnya dia bisa mendapatkan kursus navigasi dan menjadi klerk mualim III pada kapal pelayaran Belanda bernama Koninklijk Paketvaart Maatschappij.

Mendapatkan Pendidikan Militer di Iran

Sebagai anggota dari kapal pelayaran Belanda, karier dari John Lie terus meningkat dengan tajam. Bahkan dia sampai mendapatkan pelatihan militer di bidang Angkatan Laut ketika menjalankan misi di kawasan Khorramshahr, Iran di tahun 1942 atau beberapa saat sebelum Belanda dipukul mundur oleh Jepang yang saat itu kekuatannya sangat besar.

Setelah Perang Dunia II berakhir di tahun 1945, John Lie bergabung dengan Kesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi untuk beberapa saat. Setelah itu, dia diterima oleh Angkatan Laut RI dengan tugas dinas di kawasan Cilacap. Selama bertahun-tahun, John Lie berjuang di Cilacap dengan melakukan misi pembersihan ranjau hingga akhirnya mendapatkan misi khusus yang cukup menegangkan.

Menembus Pertahan Belanda dengan Kapal Laut

Salah satu misi paling menegangkan yang diterima oleh John Lie adalah menembus pertahanan Belanda dengan diam-diam. Dia diperintahkan untuk mengirim banyak sekali komoditas dagang ke kota besar di Asia Tenggara seperti Singapura, bangkok, Penang, Manila, hingga ke New Delhi yang terletak di negeri nun jauh di sana.

Misi yang dilakukan oleh John Lie adalah penyelundupan. Dia akan diam-diam menyelundupkan banyak sekali bahan mentah seperti karet ke Singapura hingga menyelundupkan 18 drum minyak kelapa sawit. Dia tidak peduli dengan risiko yang ada di depan. Yang dipikirkan adalah bagaimana menyelundupkan komoditas penting agar tidak dimiliki Belanda dan menyelundupkan senjata tempur yang diperoleh dari luar negeri.

Menyokong Krisis Finansial Indonesia

PicsArt_08-13-11.05.48

Perjuangan yang dilakukan oleh John Lie mungkin terlihat biasa saja. Namun berkat kerja keras John Lie, Indonesia mendapatkan sokongan dana baru untuk memperkuat negeri ini secara finansial. Komoditas yang diselundupkan oleh John Lie digunakan untuk menyuplai uang yang cukup banyak untuk NKRI yang nyaris runtuh saat terjadi Agresi Militer Belanda.

Dalam misinya beberapa kali ke berbagai negara, John Lie sempat ditangkap oleh tentara Belanda dan juga Inggris. Bahkan dia diseret ke pengadilan di Singapura dengan tuduhan melakukan kejahatan. Beruntungnya John Lie mampu melalui semuanya dengan sangat baik dan membuat Indonesia kembali tegah hingga pengakuan dunia internasional didapatkan melalui lobi-lobi politik di konferensi meja bundar.[1]

Ia lahir dari pasangan suami isteri Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio. Ayahnya (Lie Kae Tae) pemilik perusahaan pengangkutan Vetol (Veem en transportonderneming Lie Kay Thai). Sebagaimana yang diceritakan oleh Rita Tuwasey Lie, keponakan John Lie, menginjak usia 17 tahun, John Lie kabur ke Batavia karena ingin menjadi pelaut. Di kota ini, sembari menjadi buruh pelabuhan, ia mengikuti kursus navigasi. Setelah itu John Lie menjadi klerk mualim III pada kapal Koninklijk Paketvaart Maatschappij, perusahaan pelayaran Belanda. Pada 1942, John Lie bertugas di Khorramshahr, Iran, dan mendapatkan pendidikan militer. Ketika Perang Dunia II berakhir dan Indonesia merdeka, dia memutuskan bergabung denganKesatuan Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS) sebelum akhirnya diterima di Angkatan Laut RI. Semula ia bertugas di Cilacap, Jawa Tengah, dengan pangkat Kapten. Di pelabuhan ini selama beberapa bulan ia berhasil membersihkan ranjau yang ditanam Jepang untuk menghadapi pasukan Sekutu. Atas jasanya, pangkatnya dinaikkan menjadi Mayor. Kemudian dia memimpin misi menembus blokade Belanda guna menyelundupkan senjata, bahan pangan, dan lainnya. Daerah operasinya meliputi Singapura, Penang, Bangkok, Rangoon, Manila, dan New Delhi.

Laksamana Muda TNI (Purn.) John Lie Tjeng Tjoan, atau yang lebih dikenal sebagai Jahja Daniel Dharma (lahir di Manado, Sulawesi Utara, 9 Maret 1911 – meninggal di Jakarta,27 Agustus 1988 pada umur 77 tahun) adalah salah seorang perwira tinggi di Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut dari etnisTionghoa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Terdapat versi lain atas tanggal lahirnya yaitu 11 Maret 1911.

Kesibukannya dalam perjuangan membuat ia baru menikah pada usia 45 tahun, dengan Pdt. Margaretha Dharma Angkuw. Pada 30 Agustus 1966 John Lie mengganti namanya dengan Jahja Daniel Dharma.

Ia meninggal dunia karena stroke pada 27 Agustus 1988 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta. Atas segala jasa dan pengabdiannya, ia dianugerahi Bintang Mahaputera Utama oleh Presiden Soeharto pada 10 Nopember 1995,Bintang Mahaputera Adipradana dan gelarPahlawan Nasional oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 9 November2009.

Terdapat beberapa buku dan liputan mengenai John Lie, sebagai berikut:

  1. “Guns—And Bibles—Are Smuggled to Indonesia”, yang terbit pada 26 Oktober 1949, oleh Roy Rowan, wartawan majalah Life.
  2. “John Lie Penembus Blokade Kapal-kapal Kerajaan Belanda” yang terbit pada 1988, oleh Solichin Salam.
  3. “Dari Pelayaran Niaga ke Operasi Menembus Blokade Musuh Sebagaimana Pernah Diceritakannya Kepada Wartawan” yang dimuat dalam buku “Memoar Pejuang Republik Indonesia Seputar ‘Zaman Singapura’ 1945-1950” karya Kustiniyati Mochtar terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2002.
  4. “Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi: Biografi Laksamana Muda John Lie” (2008), yang diterbitkan Penerbit Ombak, Yogyakarta dan Yayasan Nabil, oleh M Nursam.

 PicsArt_08-13-11.02.42

Menurut kesaksian Jenderal Besar TNI AH. Nasution pada 1988, prestasi John Lie ”tiada taranya di Angkatan Laut” karena dia adalah ”panglima armada (TNI AL) pada puncak-puncak krisis eksistensi Republik”, yakni dalam operasi-operasi menumpas kelompok separatis Republik Maluku Selatan, Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia, dan Perjuangan Rakyat Semesta.[2]

Inilah kisah hidup dari John Lie yang dikenal sebagai seorang penyeludup ulung dari Indonesia. Tanpa beliau mungkin NKRI tidak memiliki kesempatan yang luas untuk berbenah diri dan menjadi negara berdaulat seperti sekarang.

Referensi

  1. boombastis.com/john-lie/77132
  2. id.wikipedia.org/wiki/John_Lie
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s