Burundi, Negara Paling Mengerikan di Dunia

Minim korupsi, gaji super tinggi, kehidupan sosial yang sangat nyaman, jadi sedikit dari banyak alasan kenapa Denmark mendapatkan gelar negara paling bahagia di dunia tahun ini. Dan memang pada kenyataannya, hal-hal baik dan menyenangkan tersebut dimiliki oleh si negara yang gadisnya cantik-cantik itu. Maka tak heran kemudian kalau banyak orang yang berandai-andai tentang enaknya hidup mereka sekarang seumpama terlahir sebagai seorang Denmark.

Ketika orang-orang memuja Denmark dengan segala pencapaiannya, ada satu negara yang bisa dikatakan berkebalikan dengan semua hal yang dimiliki negara Nordik itu. Ya, negara ini bernama Burundi. Angka kemiskinan sangat tinggi, kehidupan sosial menyeramkan, pemerintah yang bermasalah, adalah sedikit dari banyak borok yang dimiliki Burundi. Titel negara paling sedih dan menderita pun seolah jadi penegasan kalau Burundi memang sangat terpuruk.

Kita mungkin menduga kalau Suriah nasibnya sangat mengkhawatirkan. Tapi, siapa sangka kalau negara dikepung konflik itu ternyata punya indeks kebahagiaan yang lebih tinggi dari Burundi. Ya, Burundi baik dari fakta dan data, ternyata lebih prihatin lagi dari pada Suriah yang begitu parah. Lalu, seburuk apa sih kehidupan di negara Afrika bagian tengah ini? Ketahui jawabannya lewat ulasan berikut.

Burundi

Bendera Burundi

Bendera Burundi


Burundi adalah sebuah negara yang tidak memiliki laut yang terletak di wilayah danau besar di tengah benua Afrika. Meski tidak memiliki batas langsung dengan laut, namun tidak sedikit daerah barat negara ini berdekatan dengan Danau Tanganyika. Tidak memiliki laut, mengalami tekanan dari penduduk serta sumber daya alam yang kurang memadai adalah sederet polemik yang sedang dialami Burundi dan sekaligus membuatnya menjadi salah satu negara miskin di Afrika dan juga dunia. Negara ini bertetanggaan langsung dengan Republik Demokratik Kongo di arah barat, Rwanda di arah utara, serta Tanzania di arah selatan dan timur. Asal usul penamaan negara ini sendiri diketahui bermula dari bahasa Bantu, yakni Kirundi.

Lambang negara Burundi

Lambang negara Burundi


Sama seperti negara-negara benua Afrika pada umumnya, kondisi ekonomi negara ini sangat miskin. Saking miskinnya, bahkan pendapatan perkapitanya negara ini jauh lebih kecil ketimbang negara Indonesia. Ukuran negara ini memang kecil namun bukan berarti negara ini tidak memiliki masalah. Di ketahui Burundi sedang mengalami masalah konflik besar dalam mencari pemberesan klaim supremasi dari suku minoritas Tutsi yang berkuasa dengan permintaan peran serta politik dari suku mayoritas Hutu. Akibat konflik ini, tidak jarang terjadi pertikaian maupun serangan yang berakibat pada kematian. Sampai saat ini berita tentang negara Burundi mungkin jarang sekali terdengar, dunia seolah-olah “tutup mata” dengan apa yang terjadi disana. Padahal sebenarnya negara ini sedang mengalami konflik besar yang sangat mengerikan.

Sejarah Negara Burundi

Pada abad ke-16, negara Burundi merupakan bentuk kerajaan merdeka. Awal mula kerajaan Burundi sampai saat ini masih simpang siur dan masih dikerubungi mitos. Berdasarkan beberapa legenda yang beredar, pendiri dinasti pertama kali diketahui bernama Ntare Rushatsi, merupakan orang yang datang dari Rwanda pada abad ke-17. Selain itu, ada pula sumber lain yang tepercaya mengungkapkan jika Ntare datang dari Buha, di Tenggara dan membangun kerajaan miliknya di daerah Nkoma.
 
Sampai hancurnya kerajaan itu pada tahun 1966, ia dianggap sebagai salah satu kerajaan penghabisan dalam sejarah Burundi. Sebelumnya, tepatnya pada tahun 1903, Burundi pernah dijajah oleh Jerman dan ketika terjadinya perang dunia II, Jerman pun menyerahkan Burundi ke Belgia.
 
Karena itu, kemudian Burundi dimasukkan sebagai bagian dari mandat Liga Bangsa­Bangsa Belgia, Ruanda­Urundi tepatnya pada 1923. Kemudian Burundi pun menjadi Wilayah Kepercayaan PBB yang berada di bawah otoritas Belgia sesudah Perang Dunia II.
 
Burundi kemudian merdeka pada tahun 1962 dan baru melaksanakan pemilihan umum pada tahun 1993. Sayangnya antara tahun itu, Burundi dikuasai oleh beberapa diktator militer yang hampir semuanya berasal dari kalangan minoritas Tutsi. Pada periode itu, Burundi sedang mengalami kerusuhan etnik.
 
Salah satu peristiwa besar nan mengerikan dulu pernah terjadi pada 1964, 1972 serta pada akhir tahun 1980. Pada tahun 1993, Burundi menjalankan pemilihan umum demokratis yang pertama kali. Pemilu ini dimenangkan oleh Front untuk Demokrasi di Burundi (FRODEBU) yang kebanyakan berasal dari kalangan suku mayoritas, Hutu.
 
Pemimpin FRODEBU sendiri bernama Melchior Ndadaye, kemudian menjadi presiden Burundi pertama. Namun, dalam beberapa bulan kemudian ia dibunuh oleh sekelompok kalangan tentara asal suku minoritas, Tutsi. Peristiwa pembunuhan presiden ini langsung saja berakibat pada terjadinya konflik perang saudara. Perang saudara yang melibatkan antara suku mayoritas (Hutu) dan minoritas (Tutsi),  masih bersambung sampai tahun 1996. Kala itu, mantan presiden Pierre Buyoya mengambil alih setir kekuasaan dalam suatu kuteda.
 
Antara 1993 dan 1999, perang antar etnik (Hutu dan Tutsi) telah menyebabkan banyak nyawa melayang. Setidaknya perang anatar etnik ini telah mengakibatkan 250 ribu korban tewas.
 
Pada bulan Agustus 2000, dilaksanakan kesepakatan perjanjian damai. Dalam perjanjian itu, hampir semua kelompok politik yang ada di Burundi telah menandatangani persetujuan perdamaian. Selanjutnya pada tahun 2003, pemerintah Buyoya dan kelompok pemberontak suku Hutu (CNDD­FDD), menyetujui untuk melakukan gencatan senjata.
 
Meskipun persetujuan damai telah dilakukan, namun tetap saja sampai sekarang konflik masih terus berkepanjangan. Pada bulan Juli 2005, diadakan sebuah pemilu yang kemudian dimenangkan oleh mantan pemberontak suku Hutu (CNDDFDD).

Pembagian wilayah administrasi

Burundi Sendiri terdiri dari 17 provinsi, 117 komune, dan 2.638 koline. Pemerintah menyusun provinsi pada batas-batas tertentu. Pada tahun 2000, provinsi Bujumbura dipisahkan menjadi dua provinsi, yaitu Bujumbura Pedesaan dan Bunjumbura Mairie.

Daftar Provinsi Negara Burundi:

  1. Bubanza
  2. Bujumbura Mairie
  3. Bujumbura Rural
  4. Kirundo
  5. Makamba
  6. Muramvya
  7. Bururi
  8. Cankuzo
  9. Cibitoke
  10. Gitega
  11. Karuzi
  12. Kayanza
  13. Muyinga
  14. Mwaro
  15. Ngozi
  16. Rutana
  17. Ruyigi

Fakta-Fakta Miris Negara Burundi

Mungkin tidak banyak orang yang mendengar nama Burundi, sebuah negara kecil yang terletak di Afrika. Mungkin karena terletak di Afrika, atau mungkin juga karena beritanya memang tidak terlalu meluas. Jadi tidak banyak yang tahu tentang apa yang terjadi di negara tersebut.

Tidak banyak yang tahu juga dengan kekerasan yang terjadi di Burundi. Padahal negara kecil di Afrika tersebut sedang mengalami polemik yang menewaskan banyak orang. Bahkan para pengungsi Burundi menyebut negaranya sendiri sebagai neraka kemanusiaan.

Kekacauan besar sedang terjadi, namun dunia Internasional belum melakukan usaha maksimal untuk membantu mereka. Warga Burundi merasa ditinggalkan dan tidak dipedulikan.

Burundi telah menjadi negara yang bagaikan ‘neraka’ bagi para penduduknya. Sudah banyak warga yang memilih hengkang karena bahkan mereka tak sanggup membayangkan masa depan mereka di tanah airnya sendiri.

Inilah beberapa fakta ngeri kehidupan Burundi yang konon, dunia pun sudah ‘menutup telinga’ dari jeritan pilu mereka.

  • Kebalikan dari Denmark

PBB sudah merilis daftar terbaru negara-negara paling bahagia di dunia. Di sana kita bisa dapatkan nama Denmark di peringkat pertama, dan seperti yang sudah kamu ketahui, Burundi terpuruk di peringkat paling buncit. PBB tentu tidak ngawur dalam menyusun daftar ini kecuali pada kenyataannya Burundi memang sangat kacau.

Suriah mungkin jadi negara paling ngeri saat ini, tapi nyatanya di Burundi lebih parah. Dari berbagai aspek Burundi memang sangat edan. Mulai dari pemerintahannya yang tidak beres, kehidupan sosial masyarakatnya yang rusak, angka kekerasan tinggi, korupsi tinggi, serta angka kemiskinan yang juga melambung. Sungguh, hidup di Burundi memang benar-benar mengerikan.

  • Makin Terpuruk Dengan Titel Negara Termiskin

Tak hanya diganjar gelar negara paling tidak bahagia, Burundi nyatanya juga masuk ke dalam tiga besar negara paling miskin di dunia bersama Kongo dan Republik Afrika Tengah. Dari data yang disusun IMF, rata-rata pendapatan per kapita Burundi hanya $818. Sangat jauh kalau dibandingkan dengan Indonesia yang mencatatkan angka $11.126. Dan makin jauh pula dengan Qatar yang memiliki pendapatan per kapita sebesar $132.009.

Screenshot_2016-08-16-22-51-40_1

Masyarakat Burundi lebih dari 80 persen berprofesi sebagai petani. Pekerjaan yang sebenarnya bisa membuat mereka hidup cukup, walaupun pada kenyataannya tidak seperti itu. Di sana memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah hal yang berat bahkan butuh usaha yang sangat keras. Belum lagi soal gaji yang rata-rata hanya sedikit sekali. Kamu mungkin merasa bekerja di Indonesia ini susah luar biasa, tapi coba lihatlah Burundi dan kamu bakal bersyukur sejadi-jadinya.

  • Burundi Makin Terpuruk Dengan Human Trafficking

Tak habis cerita soal titel negara miskin dan paling tidak bahagia, Burundi ternyata juga jadi salah satu tempat di mana human trafficking begitu gencar dilakukan. Tercatat setiap tahunnya ada begitu banyak orang-orang di sana yang dijadikan komoditi. Entah sebagai wanita penghibur atau bekerja di luar negeri yang bayarannya mungkin sangat-sangat rendah.

Masih berhubungan soal human trafficking, di negara satu ini juga terdapat banyak oknum yang diduga mengeksploitasi anak. Caranya adalah lewat mempekerjakan anak-anak itu di ladang-ladang atau pun pabrik-pabrik. Seperti yang kita tahu, ini adalah hal yang sangat dilarang. Mengeksploitasi anak adalah tindakan pidana berat.

  • Ngerinya Kekerasan di Burundi

Di Burundi sempat terjadi ketegangan luar biasa di antara orang-orangnya. Masalah pokoknya sebenarnya politik, tapi meluas jadi konflik etnis. Jadi, orang-orang yang ketahuan berseberangan dengan pemerintah akan diburu untuk dibunuh. Yang perempuan mungkin juga mengalami hal yang sama setelah sebelumnya bakal diperkosa lebih dulu.

Pembunuhan terjadi hampir tiap hari, bahkan korbannya mencapai angka 100an orang. Sungguh mengerikan saat itu. Dan kabar buruknya, konflik di sana tak kunjung segera berhenti dan terkesan ditutup-tutupi oleh pihak terkait. Fakta ini pun akhirnya membuat nama Burundi makin terpuruk, tak hanya jadi negara termiskin tapi juga penuh konflik.

Warga sudah terbiasa melihat seseorang yang mereka kenal atau bahkan keluarga mereka sendiri dibunuh. Memohon untuk dilepaskan tidak akan membuahkan hasil karena kematian tetap mengancam mereka di negaranya sendiri.

Warga disiksa, diserang, diculik, dibunuh, bahkan diperkosa di rumah mereka sendiri. Laporan soal pelanggaran hak asasi manusia termasuk pembunuhan, penyiksaan dan larangan berekspresi terus bergulir. Namun kelihatannya kengerian tersebut belum akan berakhir

  • Sempat Terjadi Kudeta Namun Gagal

Presiden Nkurunziza

Presiden Nkurunziza


Kekacauan ini terjadi karena Presiden Nkurunziza berusaha untuk mencalonkan diri lagi sebagai presiden untuk ketiga kalinya. Hal ini melanggar konstitusi yang hanya mengijinkan seseorang menjadi presiden selama 2 periode saja dengan lama jabatan 5 tahun setiap periodenya.

Terjadi penolakan besar di masyarakat dan sempat muncul upaya kudeta. Namun kudeta ini gagal dan yang tersisa adalah kekerasan dan konflik yang terus menerus terjadi di Burundi.

Screenshot_2016-08-16-22-48-12_1

Masih belum jelas siapa yang kini menguasai Burundi, sementara bentrokan-bentrokan antara faksi-faksi politik yang bersaing berlangsung di ibukota Bujumbura.

Faksi-faksi militer yang bersaingan saling berebut kontrol atas ibukota Burundi, satu hari setelah seorang jenderal melancarkan usaha kudeta sewaktu presiden berada di luar negeri.

Screenshot_2016-08-16-22-43-54_1

Pertempuran terpusat di sekitar kompleks radio dan TV pemerintah, di mana pasukan yang mendukung kudeta berusaha merebut kontrol dari pasukan yang setia kepada Presiden Pierre Nkurunziza. Reporter VOA Gabe Joselow, yang berada di Bujumbura, mengatakan, ia melihat ada mayat tentara di dekat kompleks itu.

Screenshot_2016-08-16-22-48-44_1

Suara tembakan mereda setelah beberapa jam pertempuran, dan seorang juru bicara pasukan pro-kudeta mengatakan kepada VOA bahwa para pendukung setia presiden masih menguasai pusat penyiaran itu. Ia mengatakan, para pendukung kudeta telah mundur dari kawasan itu.

Screenshot_2016-08-16-22-49-37_1

Masih belum jelas siapa yang kini menguasai negara itu, sementara protes-protes politik yang berlangsung setiap hari di Bujumbura, berubah menjadi bentrokan-bentrokan antara faksi-faksi politik yang bersaing.

Reporter VOA juga melaporkan, dia mendengar suara tembakan secara beruntun datang dari markas partai politik CNDD-FDD. Polisi mengawal jalan-jalan di kawasan itu. Penduduk setempat mengungkapkan, polisi menyisir daerah perkampungan, mencari oknum-oknum yang diduga mendukung usaha kudeta tersebut.

Presiden Burundi, Pierre Nkurunziza, menyerukan ketenangan dari akun Twitter-nya, seraya meyakinkan bahwa situasi dapat dikuasai. Lokasi presiden itu tidak jelas, tetapi menurut kantor berita Perancis, dia berada di lokasi yang dirahasiakan di Dar es Salaam, Tanzania, di mana dia menghadiri sebuah sidang regional terkait situasi politik di Burundi.

Screenshot_2016-08-16-22-49-32_1

Sementara Presiden Nkurunziza di luar negeri, mantan kepala intelijen, Jenderal Godefroid Niyombare menggunakan stasiun radio-radio lokal untuk mengumumkan kudeta. Katanya, dia akan membentuk sebuah komisi guna “memulihkan ketertiban dan persatuan bangsa.”

Panglima angkatan bersenjata Jenderal Prime Niyongabo menyatakan, kudeta telah digagalkan, tetapi para pendukung kudeta membantah pernyataan itu.

  • Penduduk Burundi pun Muak Dengan Negaranya Sendiri

Seumpama kamu jadi warga Burundi dan mendapati segala hal di atas, lalu apa yang bakal kamu lakukan? Bertahankah atau memilih pergi untuk nasib yang lebih baik? Jawabannya sudah jelas adalah pergi, dan hal tersebutlah yang memang dilakukan oleh orang-orang Burundi.

Dengan semua kegilaan yang terpampang di sana, wajar rasanya kalau orang-orang Burundi memilih hengkang dari negerinya sendiri. Dari data yang ada, tercatat ada ratusan ribu orang-orang Burundi yang mengungsi dari negaranya. Tanzania, Rwanda, Kongo adalah beberapa negara yang jadi tujuan orang-orang Burundi. Mengungsi memang adalah pilihan yang paling waras kalau melihat hal-hal mengerikan yang ada di Burundi setiap harinya.

Screenshot_2016-08-16-22-49-26_1

Konflik yang awalnya bersifat politis berubah menjadi konflik etnis. Kebanyakan korban pembunuhan berasal dari pemuda etnis Tutsi, sebuah etnis minoritas yang dulu pernah memegang kekuasaan.

Screenshot_2016-08-16-22-49-15_1

Lebih dari 100 orang berusaha keluar dari Burundi setiap harinya. Bahkan setidaknya 250 ribu lebih warga Burundi telah mengungsi ke beberapa negara tetangga seperti Tanzania, Rwanda, Uganda, dan Kongo pada akhir tahun 2015 lalu.

Para pengungsi mengungkapkan bahwa setiap hari telah terjadi pembunuhan dan lebih dari 100 orang setiap harinya berusaha melarikan diri. Setidaknya 250 ribu lebih warga Burundi telah mengungsi ke Tanzania, Rwanda, Uganda, dan Kongo pada akhir tahun 2015 lalu. Ironisnya, pemicu semua kekacauan ini tidak lain adalah presidennya sendiri.

Screenshot_2016-08-16-22-50-09_1

Berhasil keluar dari Burundi bukan berarti mereka sudah aman. Karena masih ada banyak masalah lain yang harus dihadapi oleh mereka di tempat pengungsian.

Para pengungsi harus rela tidur di tempat yang ala kadarnya dan penuh sesak dengan semakin bertambahnya jumlah pengungsi. Mereka juga menderita kekurangan makanan, tapi bantuan yang datang terbatas.

Screenshot_2016-08-16-22-49-00_1

Masalah lain yang juga menghantui adalah penyakit yang bisa menyerang kapan saja. Bahkan wabah kolera telah menyebar diantara pengungsi Burundi di Tanzania. Setidaknya 3 ribu orang tertular penyakit ini.

PBB dan African Union sebenarnya sudah mengambil langkah untuk melakukan intervensi. African Union berusaha mengirimkan pasukan untuk menjaga kedamaian tapi ditolak keras oleh presiden Burundi. PBB juga telah melakukan dialog dengan agar presiden Burundi menerima usaha African Union, namun tidak membuahkan hasil. Sayangnya, sejak saat itu masih belum ada langkah lainnya. Dan para pengungsi Burundi merasa mereka telah dilupakan.

Screenshot_2016-08-16-22-49-46_1

Beginilah potret Burundi, negara dengan segala titel buruk yang membuat semua orang di dunia bersyukur tidak lahir dan tinggal di sana. Menyakitkan memang kalau melihat orang-orang di sana. Mereka berjuang untuk bisa hidup lebih baik, tapi susahnya minta ampun. Melihat kehidupan orang-orang ini, kita mungkin harus benar-benar sangat bersyukur karena lahir dan tinggal di Indonesia.

Screenshot_2016-08-16-22-49-09_1

Pengungsian besar-besaran di Burundi


Screenshot_2016-08-16-22-52-16_1

Pengungsian besar-besaran di Burundi


Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s