Kasus ini Berawal Dari Polemik Film Kontroversial “The Interview”

Perseteruan Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara (Korut) sejak polemik film “The Interview” dan serangan cyber kini makin memamas. Korut menghina Presiden Barack Obama dengan nada rasis.

Korut terang-terangan menyebut Presiden Barack Obama “monyet” dan menyalahkan AS terkait padamnya layanan internet Korut beberapa hari lalu.

Korut sendiri telah membantah terlibat dalam serangan cyber terhadap Sony Pictures Entertainment yang membuat film “The Interview”. Film komedi tersebut berisi olok-olokan terhadap pemimpin Korut, Kim Jong-un.

Pada hari Sabtu (27/12/2014), Komisi Pertahanan Nasional Korut, sebuah badan tertinggi negara yang dipimpin Kim Jong-un, mengatakan, bahwa Obama di balik peluncuran film “The Interview”.

”Obama selalu pergi sembrono dalam kata-kata dan perbuatannya yang seperti monyet di hutan tropis,” kata seorang juru bicara komisi tersebut tanpa menyebutkan namanya, yang disiarkan kantor berita KCNA.

Komisi itu juga menuduh Washington dibalik padamnya internet di Korut pada pekan ini, setelah AS berjanji untuk merespon serangan cyber terhadap Sony.

“AS negara besar, mulai mengganggu operasi internet media utama DPRK, tidak tahu malu seperti anak-anak yang sedang bermain,” lanjut juru bicara komisi itu.

Sekilas Tentang Film The Interview

Poster teaser (Wikipedia)

The Interview adalah sebuah film komedi aksipolitik Amerika 2014 yang disutradarai oleh Evan Goldberg dan Seth Rogen, dan ditulis oleh Dan Sterling. Film tersebut dibintangi oleh Rogen dan James Franco sebagai jurnalis yang diinstruksikan untuk membunuh pemimpin Korea Utara Kim Jong-un(diperankan oleh Randall Park) setelah sukses membukukan sebuah wawancara dengannya.

Sony Pictures Tak Kapok Bikin Film Kontroversi

Terhitung sejak akhir November kemarin hingga hari ini, Sony Pictures menjadi bulan-bulanan hacker. Disebutkan ada sekitar 100 terabytes data rahasia perusahaan yang kini dikuasai oleh hacker. Sebagian bahkan telah dipublikasikan oleh kelompok hacker Guardian of Peace (GoP) yang mengklaim sebagai pihak dibalik serangan tersebut.

Sejauh ini pemicu utama serangan hacker kepada Sony Pictures diyakini disebabkan oleh film kontroversial The Interview. Film komedi yang mengangkat tema usaha pembunuhan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un itu membuat geram pemerintah Korut dan para simpatisannya, termasuk kelompok hacker GoP.

Namun kepada jurnalis CNN Fareed Zakaria, CEO Sony Pictures, Michael Lynton mengaku tidak kapok untuk terus memproduksi film-film seperti The Interview. Menurutnya, humor satir politik hanyalah sebuah cara lain dalam mendeskripsikan realitas.

“Pertama-tama kami membuat film itu (The Interview) karena akan menjadi sebuah komedi yang sangat lucu. Kedua, dunia perfilman memiliki sejarah yang sangat panjang dengan humor satir politik,” kata Lynton seperti yang dikutip dari laman Business Insider, Senin (22/12/2014).

Lebih lanjut ia memaparkan, “Ya, saya akan membuat film seperti itu (The Interview) lagi. Jika saya tahu akan mendapat respon seperti ini (diserang hacker), mugkin saya akan melakukan sedikit penyesuaian, tapi saya pikir kita memang tidak selalu memiliki kontrol atas apa yang akan terjadi.”

Senada dengan Lynton, sutradara sekaligus aktor di film The Interview, Seth Rogen juga mengatakan bahwa The Inteview adalah sebuah film komedi yang berefrensi pada kenyataan. Meski begitu ia juga menyadari bahwa film arahannya itu memang menyulut kontroversi.

“Kami tidak berpikir (Korut) akan menyukai sebuah film yang benar-benar jujur. Tapi bagaimanapun kami hanya mencoba menyajikan film yang ‘memiliki satu kaki’ di wilayah kenyataan dan yang lainnya sebatas fiksi. Ini sesuatu yang sangat dianggap menarik oleh penonton,” ujar Roger di acara bincang-bincang The Colbert Report beberapa waktu lalu.

Sony Pictures sendiri kini telah membatalkan peluncuran film The Interview yang harusnya ditayangkan perdana pada 25 Desember, bertepatan dengan perayaan Natal.

Pembatalannya sediri, menurut penjelasan Lynton, dikarenakan rantai bioskop besar di Amerika Serikat seperti AMC Entertainment, Regal Entertainment, dan Cinemark memilih untuk tidak memutar film The Interview setelah diancam oleh hacker.

Pun demikian, Lynton berencana untuk merilis film The Interview lewat jalur video-on-demand (VOD). Namun sayangnya, belum ada distributor VOD yang berminat untuk memutar The Intreview.

FBI Sebut Korut Dalangi Peretasan Sony Pictures

image

Adegan Pembunuhan Kim Jong Un (Tempo.co)


Setelah muncul kabar bahwa pejabat pemerintahan AS telah “memastikan” bahwa Korea Utara merupakan dalang di balik peretasan Sony Pictures, biro penyelidikan federal FBI akhirnya resmi menyebut bahwa negeri komunis itu memang benar terkait dengan serangan cyber bersangkutan.

Hal tersebut disampaikan lewat pernyataan resmi yang dirilis Jumat (19/12/2014), sebagaimana dilansir KompasTekno dari NBCNews.

“Aksi Korea Utara ditujukan untuk meyebabkan kerusakan terhadap entitas bisnis AS dan meredam hak berekspresi dari warga negera AS,” tulis FBI dalam pernyataannya. “Tindakan intimidasi itu tidak bisa diterima.”

Kesimpulan FBI bahwa Korut mengotaki serangan cyber terhadap Sony Pictures dicapai setelah biro penyelidikan itu melakukan analisa teknis mendalam terhadap kasus ini. Hasilnya, ditemukan bahwa sejumlah barus kode dan algoritma enkripsi memiliki kesamaan dengan senjata cyber bikinan Korut.

image

Sebelumnya, para peretas yang menamakan dri Guardians of Peace (GOP) membobol sistem studio Hollywood Sony Pictures pada akhir November lalu dan mencuri sejumlah besar data penting, termasuk rekaman password karyawan, daftar gaji pegawai, dan sejumlah film yang belum dirilis.

GOP kemudian mengancam Sony Pictures agar tidak menayangkan film The Interview yang menceritakan plot seputar pembunuhan pemimpin besar Korut, Kim Jong Un. Film inilah yang diduga merupakan motif peretas menyerang Sony Pictures dan mencuatkan dugaan soal keterlibatan Korut dalam tindak hacking besar-besaran itu.

Sony kemudian menuruti kemauan para peretas dan membatalkan rilis film The Interview. Setelahnya, GOP menyebut keputusan Sony sebagai tindakan yang “sangat bijak” serta kembali memperingatkan agar film The Interview tidak dirilis dalam bentuk apapun.

“Kami tahu siapa yang meretas Sony, yaitu Korea Utara,” demikian ujar Direktur Federal Bureau of Investigation (FBI), James Comey di hadapan peserta konferensi keamanan siber di Manhattan, AS, Rabu (7/1/2014).

Ucapan Comey itu bukannya tidak berdasar, FBI mengklaim memiliki bukti otentik yang menunjukkan bahwa pihak Korea Utara-lah yang selama ini menjadi biang kerok peretasan di server Sony Pictures Entertainment. Peretasan tersebut berujung tertundanya penayangan film The Interview  di bioskop-bioskop AS.

Bukti yang dimaksud Comey tersebut dikutip KompasTekno dari The Verge, Rabu (7/1/2014) adalah alamat IP (internet protocol) yang tidak disembunyikan dengan rapi oleh para peretas.

Kelalaian tersebut membuat penyelidik di FBI bisa melacak dari mana asal e-maildan pesan yang disampaikan olehGuardians of Peace (peretas) kepada para karyawan Sony.

Menurut FBI, alamat IP tersebut hanya eksklusif dimiliki oleh Korea Utara.

Sebagaimana diketahui, Korea Utara memberlakukan akses yang ketat terhadap warganya untuk mengakses internet. Semua koneksi internet dikontrol oleh pemerintah, sehingga pihak ketiga akan sulit untuk membajak IP addressKorea Utara tanpa sepengetahuan pemerintah.

Sebelumnya, sesaat setelah peretasan Sony Pictures terjadi, FBI sempat mencurigai Korea Utara karena pola dan metode serangan yang dilakukan, serta target-targetnya mirip dengan percobaan-percobaan peretasan yang pernahdilakukan Korea Utara sebelumnya.

FBI saat itu mengaku memiliki bukti lain yang lebih meyakinkan, namun aparat sandi negara Paman Sam itu menolak untuk membeberkannya lebih lanjut.

Amerika Serikat melalui Presiden Barrack Obama telah menjatuhkan sanksi kepada Korea Utara akibat peretasan tersebut. Namun, Korea Utara tetap mengaku tidak tahu-menahu soal peretasan Sony, walau dalam beberapa kesempatan Korea Utara juga menyampaikan pujian terhadap Guardians of Peace.

Peretasan server yang dialami oleh Sony Pictures Entertainmnet oleh Guardians of Peace ini disebut oleh Direktur Intelijen Nasional AS, James Clapper sebagai serangan siber paling serius terhadap kepentingan AS yang pernah terjadi.

Pengakuan Kim Jong-un

image

Kim Jong un (Intelijen)


Tuduhan Sony yang mengungkapkan bahwa Korea Utara (Korut) berada di balik penyerangan situs Sony Picture Entertainment tidak dibantah oleh presidennya, Kim Jong-un. Hal itu dilakukannya terkait film baru yang akan dirilis oleh Sony yang bertajuk The Interview.

Seperti dikutip dari Mirror, Selasa (1/12/2014), ketika ditanya tentang negara komunis Korea Utara mengenai serangan cyber terhadap situs Sony Picture, pejabat Korea mengutarakan, “Tunggu dan Lihat.”

Seperti diketahui sebelumnya, akibat serangan terhadap situs Sony Pictures Entertaiment ini mengakibatkan perusahaan mengalami kebocoran beberapa film yang akan dirilisnya. Sebanyak lima film diklaim telah bocor keluar dan bebas diakses secara online.

Judul film yang telah bocor tersebut adalah film dari remake Annie yang rencananya dirilis pada minggu kedua Desember, serta Furry, Mr Tuner, Still Alice, dan Two Write Love on Her Arms. Kemudian salah satu film yang akan telah menuai kontroversi tersebut adalah film komedi The Interview.

Film yang bernuansa komedi dan dimainkan oleh Seth Rogan dan James Franco ini adalah menceritakan tentang wartawan yang mendapatkan akses untuk bertemu dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, namun sudah diinstruksi dan direkrut CIA untuk membunuhnya.

Pada pertama kali film ini diumumkan, pihak Korea Utara memang sempat melaporkannya ke dewan keamanan PBB. Dalam laporan itu, mereka menuliskan bahwa film tersebut adalah “Dukungan paling jelas terhadap tindakan terorisme dan aksi perang”, dan pihaknya tidak menyukai hal tersebut.

3.000 Hacker Korea Utara

Serangan yang dilancarkan pihak Korea Utara (Korut) terhadap situs Sony Picture Entertainment diindikasi sebagai rasa sakit hati pemerintahannya, pada film yang diterbitkan Sony yang menggambarkan rencana pembunuhan terhadap Presiden Korut Kim Jong-un.

Seperti diketahui, sebuah kelompok misterius yang disebut #GOP (penjaga perdamaian) telah mengambil kredit untuk meng-hack dan mem-posting peringatan pada sistem komputer Sony. Pemberitahuan serangan ini sendiri, didapat dari karyawan perusahaan yang melaporkan adanya gambar dan tulisan ancaman dalam situs.

Gambar yang mengandung tulisan bernada ancaman ini adalah,”Jika Anda tidak mematuhi kita, kita akan merilis data yang ditampilkan di bawah ini ke dunia”.

Serangan ini sendiri memang telah diakui oleh pejabat Korut yang mengakui hal tersebut sebagai balasan sakit hatinya.

Dan seperti diketahui, Korea Utara sendiri memiliki sebanyak 3.000 tentara cyber atau hacker yang memang dibangun dan dipekerjakan untuk membantu pemerintahan Kim dalam mengacaukan musuh-musuhnya dari jalur Internet.

Besar kemungkinan bahwa Sony Picture Entertaiment sendiri masuk dalam hitungan sebagai ‘musuh’ dalam kasus ini. Bahkan, pejabat Korut telah membuat ancaman melalui utusannya di PBB, Ja Song-Nam yang mengatakan akan ada ‘Respon tanpa ampun’ jika film tersebut tidak dibatalkan.

Kasus peretasan Sony bukan ‘ajakan’ perang Korea Utara

Setelah FBI menyatakan Korea Utara ada dibalik kasus peretasan Sony Pictures, Presiden Negeri Paman Sam, Barack Obama, menyatakan bila hal itu bukanlah tanda dimulainya perang cyber antara Amerika dan Korea Utara.

Saat diwawancarai oleh CNN, Obama mengatakan bila aksi peretasan Korea Utara itu adalah sebuah ‘kenakalan’ semata.

“Saya tidak berpikir peretasan itu adalah sebuah tindakan perang. Saya berpikir bila itu lebih mengarah pada perusakan cyber yang sangat mahal. Dan kami menanggapinya sangat serius. Kami akan merespon secara proporsional” ujar Obama, PC World (23/12).

Menurut Obama, serangan hacker tersebut juga dapat menempatkan Korea Utara dalam daftar negara ‘teroris’ milik Amerika. Imbasnya, Korea Utara dapat menerima sanksi dan pembatasan hubungan dengan organisasi-organisasi Amerika.

Namun tampaknya Korea Utara mendapat hukuman lebih awal setelah Senin kemarin (22/12), internet negara itu dilaporkan mati total selama 9 jam lebih. Putusnya akses internet Korea Utara itu menurut banyak pihak didalangi oleh Amerika.

Tetapi, salah satu petinggi lembaga penelitian keamanan internet Arbor Networks bernama Dan Holden justru mengaku Amerika bukanlah dalangnya, sebab serangan itu masih tergolong kecil.

“Jika pemerintah Amerika pelakunya, pasti serangan yang dilakukan tidak akan mencolok dan akan jauh lebih parah dari sekedar mematikan internet di seluruh negara,” ujar Dan Holden pada Bloomberg, Mashable (22/12).

Matinya akses internet di Korea Utara diketahui akibat dari serangan virus DDoS kompleks, dan virus jenis itu hanya mampu dibuat oleh seorang hacker berpengalaman. Akibat hacking itu, sekitar 1.024 alamat IP di Korea Utara tidak bisa mengakses dunia maya.

Desain Xperia Z4 Terkuak Karena Aksi Cyber Korut

image

Inikah Penampakan Xperia Z4? (Intelijen)


Satu lagi rahasia Sony yang bocor akibat peretasan server milik Sony Pictures Entertainment (SPE) beberapa waktu lalu. Kali ini, tersebar gambar desain perangkat smartphone terbaru bikinan Sony Mobile, yaitu Xperia Z4.

Gambar bocoran tersebut didapatkan dari dokumen e-mail yang dikirimkan oleh George Leon, Executive Vice President Consumer Marketing Sony, kepada Michael Lynton, CEO SPE.

Dalam e-mail tersebut, Leon tampak mendiskusikan kemungkinan penggunaan Xperia Z4 dalam seri film terbaru James Bond, Spectre.

Untuk memberikan gambaran lebih lanjut mengenai Xperia Z4 kepada Lynton, Leon menyertakan foto dari anggota keluarga terbaru Xperia Z ini dalam e-mail tersebut.

Menurut pengamatan KompasTekno, desain dari perangkat yang disinyalir sebagai Xperia Z4 ini tidak mengalami begitu banyak perubahan dari sebelumnya. Tombol “power” tetap terletak di sisi bagian kanan. Tubuh perangkat ini terlihat didominasi kaca.

Kebenaran dari gambar ini pun masih belum dikonfirmasikan. Masih ada kemungkinan desain akhir dari Xperia Z4 berbeda dari gambar tersebut.

Biaya marketing yang besar

Berdasarkan bocoran e-mail ini, diketahui juga bahwaSony Mobile sudah menganggarkan biaya marketing yang cukup besar agar Xperia Z4 dapat ditampilkan di film yang disutradarai oleh Sam Mendes ini.

Jika isi e-mail tersebut serius, Daniel Craig, sang pemeran agen 007 James Bond, bisa saja mendapatkan uang tambahan 5 juta dollar AS apabila terlihat menggunakan ponsel tersebut dalam film.

Selain itu, Sony Mobile juga akan membayar uang sebesar 18 juta dollar AS untuk mengiklankan film ini dan 5 juta dollar AS untuk kegiatan produksi.

Sebelumnya, sebuah kelompok yang menamakan diri sebagai Guardian of Peace (GOP) melakukan aksi peretasan besar-besaran ke server milik SPE.

Data-data penting, seperti paspor para artis, kumpulan e-mail, laporan keuangan, film-film, dan koleksi password server, berhasil dirampas oleh GOP dari server.

Pemerintah AS telah melakukan penyelidikan mendalam terhadap serangan cyber tersebut. Mereka menolak mengungkapkan hasil penyelidikan, namun peretasan terhadap Sony itu disimpulkan sebagai serangan yang disponsori oleh Korea Utara.

Salah satu hal yang mengindikasikan keterlibatan Korea Utara adalah tuntutan peretas agar jaringan bioskop AS tidak menyangkan film The Interview pada musim liburan tahun ini. Film tersebut mengisahkan upaya pembunuhan Presiden Korea Utara, Kim Jong Un.

E-mail dan Dokumen Sony Pictures Bocor

image

Sony Pictures logo (Tempo.co)


Organisasi yang dikenal sebagai penentang kerahasiaan dan pembocor dokumen rahasia, WikiLeaks, membeberkan file yang dinamai “The Sony Archieves”, Kamis (16/4/2015).

File tersebut berisi kumpulan arsip onlineSony. Diantaranya ada 173.132 e-maildan 30.287 dokumen yang dicuri saat peretasan Sony Pictures pada 2014 lalu.

Seluruh bocoran e-mail dan dokumen tersebut dipajang di situs Wikileaks dan dapat dibaca oleh masyarakat secara bebas. Bahkan, Wikileaks menyediakan kotak pencarian untuk memudahkan menemukan e-mail dan dokumen dengan topik tertentu.

E-mail dan dokumen yang dibocorkan WikiLeaks tersebut dapat bisa dibaca melalui tautan ini. Fitur pencarian terletak pada bagian paling bawah laman.

Dilansir KompasTekno dari TheNextWeb, arsip Sony yang dibocorkan WikiLeaks juga memperlihatkan hubungan vendor asal Jepang tersebut dengan Gedung Putih.

“Hampir 100 e-mail ke pemerintah AS ditemukan dalam arsip itu,” kata perwakilan Wikileaks. Beberapa e-mailmemperlihatkan keterkaitan antara Sony dan Partai Demokrat AS.

Tertera pada salah satu dokumen, beberapa pekerja Sony menghadiri malam penggalangan dana untuk membantu pemilihan Andrew Cuomo mewakili Partai Demokrat untuk duduk di pemerintahan New York.

Beberapa fakta tersebut memperlihatkan adanya keterlibatan Sony dalam peta politik AS. “Arsip ini memperlihatkan cara kerja internal dan pengaruh korporat multinasional ini. Ini penting dan berada di tengah konflik geopolitik,” kata Pemimpin Redaksi Wikileaks Julian Assange.

Dokumen yang terungkap juga menunjukkan penggodokan film “The Interview” produksi Sony Pictures yang kontroversial. Mulai dari rancangan skrip, gaji aktor, dan rencana judul film tersebut sebelumnya. Adapula perbincangan privat antara para pemain film dan pihak Sony Pictures.

Seperti diketahui, 2014 lalu terjadi peretasan terhadap Sony Pictures. White House menuduh Korea Utara sebagai dalam dibalik peretasan. Sebab, saat itu Sony Pictures merilis film “The Interview” yang menyindir Presiden Korut Kim Jong-Un.

Sejak saat itu, Presiden AS Barrack Obama mengeluarkan beberapa gerakan penumpasan serangan maya. Di antaranya pembentukan agen khusus ranah maya dan pengaturan sanksi baru bagi setiap lembaga atu individu yang menyerang pemerintah AS.

Jaringan Internet Korut Padam di Tengah-Tengah Kasus Peretasan Sony

Pemerintah Korea Utara menuduh Amerika Serikat sebagai pihak yang bertanggung jawab atas gangguan internet selama beberapa hari di tengah perselisihan mengenai film The Interview.

Terhitung sejak Selasa (23/12/2014), jaringan internet Korea Utara lumpuh dan beberapa situs pemerintah mengalami gangguan.

Berdasarkan laporan kantor berita Korea Selatan, Yonhap, laman kantor berita Korut, KCNA, tidak bisa diakses pada Jumat (26/12/2014) dini hari waktu setempat.

Walau kembali online pada pukul 08.30, hari yang sama, laman tersebut hanya bisa diakses secara terbatas.

Selain KCNA, laman badan propaganda Korut Uriminzokkiri dan Ryugyong, serta laman Air Koryo, sesekali padam. Bahkan, pada Sabtu (27/12) pagi, ketiga laman itu tidak bisa diakses sama sekali.

Atas rangkaian gangguan itu, pemerintah Korut menuding Amerika Serikat merupakan dalangnya.

“Amerika Serikat, dengan ukuran fisik yang besar dan secara memalukan bermain sembunyi-sembunyi seperti anak kecil yang beringus di hidung, telah melancarkan gangguan operasi internet media utama republik kami. Benar-benar tindakan yang bisa ditertawakan,” sebut pernyataan resmi Komisi Pertahanan Nasional Korut seperti dikutip Reuters.

Lebih lanjut, badan itu membantah tudingan bahwa Korut berada di balik serangan siber terhadap rumah produksi Sony Pictures yang menayangkan film The Interview.

“(Barack) Obama lebih baik membersihkan semua tindakan jahat yang dilakukan AS melalui kebijakan permusuhan melawan (Korea Utara) jika dia mencari perdamaian di tanah AS. Maka kemudian semuanya akan baik.”

Game Parodi Kim Jong-Un Juga Diretas

image

Glorious Leader! (Tempo.co)


Sebuah game bakal bernasib sama dengan film satir The Interview besutan Sony Pictures. Game yang menjadikan Presiden Korea Utara, Kim Jong-Un, sebagai pemeran utama ini, kabarnya diretas oleh hacker yang belum diketahui identitasnya.

Pengembang Glorious Leader!, Moneyhorse, mengatakan game tersebut kemungkinan batal dirilis karena tak dapat diselesaikan. Para peretas yang sepertinya sangat marah, menghancurkan hampir seluruh data pendukung game tersebut. Selain itu, peretas juga merusak seluruh sistem jaringan komputer dan situs Moneyhorse.

Perlu diketahui, Moneyhorse adalah pengembang game independen asal AS. Sebelum game besutannya diretas, Moneyhorse sedang melakukan penggalangan dana di situs KickStarter untuk merilis game tersebut.

Glorious Leader! mengisahkan Kim Jong-Un sebagai pejuang yang telah dilatih selama bertahun-tahun untuk meruntuhkan negara kapitalis Amerika Serikat.

Game piksel retro ini mengambil latar perkotaan, di mana Pyongyang menjadi salah satu lokasinya. Adapula level bonus yang mengambil latar di kantor pusat Sony Pictures. Dalam game, tampak pemeran film The Interview, Seth Rogen, mengangkat tangannya ke udara sebelum dibunuh dengan peluncur roket.

Dilansir KompasTekno (19/1/2015) dariEndgadget, peretas Moneyhorse disebut-sebut berasal dari kelompok yang juga meretas Sony Picture karena membuat film satir The Interview, yang dianggap melecehkan Kim Jong-Un. Namun, pihak Moneyhorse tidak ingin berasumsi atas spekulasi tersebut. “Bisa saja ini perbuatan pembajak oportunis,” kata pihak Moneyhorse.

Sumber

reprografi.wordpress.com/2016/04/20/kasus-peretasan-sony-oleh-cyber-korea-utara/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s