Benarkah (Pribumi) Jogja Rasialis?

Demo yang terjadi di asrama mahasiswa Papua, Jumat 15 Juli 2016, berbuah ketidaknyamanan bagi masyarakat sekitar, juga bagi semua pihak yang merasa memiliki Yogyakarta. Keprihatinan terhadap kekisruhan makin menjadi karena penanganan oleh aparat yang dinilai represif serta dibarengi dengan tafsir-tafsir liar atas berita-berita via media sosial maupun sms-sms gelap yang provokatif.

Tapi ada tuduhan yang menyakitkan bagi kami warga Yogya: Masyarakat Yogya dianggap rasialis.  

Pembahasan isu internasional tentang Papua Merdeka bukanlah konsumsi bagi orang-orang Yogyakarta seperti saya. Papua bagi kami lebih ke isu lokal yang sudah menjadi rahasia umum bagi sebagian besar masyarakat, baik di kota maupun kabupaten, berkaitan dengan keresahan yang telah terjadi sekian tahun lamanya, yakni pergesekan yang berwujud kriminalitas. Terlebih lemahnya penanganan pihak berwajib. Sehingga masyarakat sering kecewa.

Jadi ini bukan soal yang berbau politis. Ini kisah sehari-hari yang ditimbun dan tak pernah ada solusi dari petugas keamanan.

Pergesekan-pergesekan skala kecil kadang luput dari perhatian tetapi bisa menjadi bom waktu bila dibiarkan berjalan sekian lama. Pergesekan berwujud kriminalitas ini banyak sekali terjadi, kadang ada yang di-blow up media, tapi sering kali tidak. Sedikit yang berakhir lewat jalur hukum, selebihnya hilang begitu saja, meninggalkan kegelisahan bagi masyarakat. Namun banyak juga yang berakhir dalam damai seperti saudara.

Perkampungan-perkampungan menjadi saksi di mana akhirnya sebagian masyarakat sekitar bersikap apatis. Bukan berarti tidak peduli, tetapi lebih pada kondisi yang “wis awake dhewe semingkir wae” (sudah, kita saja yang menyingkir dari masalah) atau “sing waras ngalah” (yang waras mengalah). Tidak hanya Kusumanegara, beberapa perkampungan lain di Yogyakarta juga mengalami hal yang serupa, misalnya di seputaran Seturan, Babarsari, Timoho, dll.

Pemerasan, perkelahian bahkan represi dalam skala kecil sering terjadi di jalanan, melibatkan kelompok yang sama, kadang hal itu dibalas dan disikapi dengan perangai yang sama oleh kelompok lain di Yogya. Hal ini sejujurnya bagai api dalam sekam. Semua itu bisa kita pindai dari mulai obrolan di media sosial sampai di warung angkringan. 

Perhelatan-perhelatan demo membuat masyarakat sekitar “ketar ketir”. Bukan resah pada materi demo, tetapi resah sekaligus kuatir terhadap apa yang akan terjadi setelahnya. Sekali lagi bukan isu yang diusung. Tapi lebih ke dampaknya. Jadi jangan tuduh kami yang masyarakat biasa ini mau mencampuri hak politik warga pendemo. 

Bukan hanya itu, kami pun banyak menerima pesan-pesan pendek berisi hasutan hilir mudik tak terkendali. Menyoal tentang sms-sms busuk ini, sudah berlangsung lama dan selalu muncul di tiap kejadian apapun yang bisa memicu konflik antar-golongan dan agama.

Beruntunglah sebagian besar warga Yogya tidak mudah termakan hasutan itu, sekalipun dalam realitas keseharian, mereka mengalami banyak hal yang tak mengenakkan. Sayang, tidak semua kejadian di jalanan diekspos begitu saja, sehingga banyak kejadian yang menjadi bahan pembicaraan di level akar rumput tidak pernah mencuat ke permukaan. Tapi bukankah ini bisa mencuat menjadi sesuatu yang membahayakan?

Hal ini makin rumit karena banyak organisasi masa bertebaran di Yogyakarta dengan kepentingan masing-masing. Tidak banyak yang bisa diketahui oleh masyarakat luas tentang sikap mereka terhadap kasus-kasus serupa di Yogyakarta.  Tapi bila kita selalu mengikuti apa yang terjadi sebenarnya di jalanan, akan mudah sekali untuk mencermati bahwa selama ini pihak keamanan pun dengan susah payah mencoba menahan kegemasan organisasi-organisasi masa ini agar tidak terlibat lebih jauh terhadap pergesekan-pergesekan ini. Sejauh ini kerusuhan besar masih bisa dihindari.

Buat temen-temen di Jogja apakah sering melihat apa yang saya lihat? Selama tinggal di Jogja saya sering melihat orang-orang dari kawasan timur indonesia baik dari Papua, Timor dan NTT ( Bukan rasis ini lho yaaa) Saya yakin yang terlibat disini hanya oknum semata yang terpengaruh dengan komunitas tertentu. Mereka hilir mudik naik motor di jalan-jalan protokol di Jogja tidak pernah pakai helm, bahkan berboncengan pun dua-dua nya tidak pake helm. Dan aneh nya polisi tampak nya seperti tidak punya nyali menangkap mereka, ataupun ,menilang mereka. Takut atau gimana nih? Bahkan jelas-jelas didepan pos polisi mereka petentengan lewat dan polisi diam saja.

Screenshot_2016-08-18-06-57-35_1

Coba orang lokal yang nggak pake helm dan lewat depan mereka, dengan sigap polisi-polisi ini mengejar dan di tilang. Bahkan pakai helm pun masih aja kadang kesalahan-kesalahan kecil mereka kejar tanpa ampun ditilang dipinggir jalan.
Kenapa orang-orang ini seakaan kebal dari hukum lalu lintas? Polisi jogja ga punya nyali atau gimana?
Be;um lama, sebelum saya tulis artikel ini, saya lagi nongkrong di Circkle K di depan ada pos polisi. Tiba-tiba datang orang dari indonesia timur dua orang berboncengan dan lagi TANPA HELM! Masuk dan tidak berbelanja apa-apa. Setelah saya tanya ke penjaga toko ternyata mereka cuma mengambil uang ‘jatah’ alias PUNGLI! 
Kembali Polisi yang ada di pos pura-pura ga lihat dan main HP! Betul-betul hebat orang-orang ini.
Maaf sekali lagi ini bukan thread sara atau memojokkan etnis tertentu. Cuma saya minta hukum jangan pandang bulu Pak Polisi! Bukankah anda digaji dari semua uang rakyat indonesia? jangan pilih-pilih kalau mau tegakkan hukum. 
Monggo yang di Jogja yang pernah melihat hal serupa bisa sharing disini. Berikut ini tanggapan dari salah satu sahabat #CahYogya mengenai masalah orang-orang yang kebanyakan melanggar tata-tertib lalu lintas ini:
TANGGAPAN PARA PENDATANG:
Saya sudah lama di Jogja +/- 7 Tahun, & menyaksikan hal seperti itu udah biasa, bukan bermaksud membiarkan, tapi pernah dengar dari teman Polisi, mereka malas mencari urusan dengan “manusia” macam mereka karena mereka cenderung pendendam, jadi saat Polisi melakukan penertiban maka di lain waktu besar kemungkinan mereka membalas ke personal anggota yang menertibkan, n pasti dengan cara yang tidak manusiawi….
Gue juga malas mencari urusan dengan mereka, tenangkan diri, sabar lan nrimo kahanan, mereka terbiasa hidup di hutan dengan peraturan “hutan”, maaf bukan bermaksud rasis, tapi mayoritas mereka punya sikap yang kurang menyenangkan bahkan mengganggu ketenangan.
Silahkan di cek, untuk daerah kampus, hampir mayoritas para pemilik kos semakin kurang welcome dengan mereka, yang ngekos 1 (otomatis bayar 1) yang nempatin se “teman bermain”
Itulah mengapa muncul keadaan beberapa warga Jogja cenderung mendukung Kopasus pada kasus Cebongan, mereka muak dengan “manusia2” gak tau diri ini
polisi bukanny takut gan. itu karena sultan kita memang memberi hak khusus pada orang timur ntah ada kerjasama apa ane jg gak tau. kmrn di kantor tante ane di daerah malioboro di satroni gerombolan pace, mereka minta uang. dan keamanan lgsg telp polisi katany suruh ngawasi aja kalo udah bikin ribut yg bener2 parah baru akan turun. trus tmn ane jg pernah tanya ke polisi lgsg knp ko gak nilang pace jawabny “lah jogja pengen aman ora”
RESPON PIHAK SATLANTAS YOGYAKARTA:
Saya telah mention di twitter akun Satlantas Yogyakarta @korlantas Mempertanyakan hal tersebut, Dan mereka mengirim email respon sebagai berikut:
Selamat pagi, melanjutkan pertanyaan rekan di twitter, berikut sedikit kami jelaskan mengapa terkesan ada “perbedaan” penegakkan hukum kepada mahasiswa papua yang berada di wilayah DIY. 
Sebenarnya POLRI dalam hal ini jajaran DIT Lantas Polda DIY maupun Sat Lantas jajaran selalu ingin menegakkan hukum tanpa pandang bulu, tapi menilik dari beberapa kejadian sebelumnya yang berkaitan dengan mahasiswa papua, maka pimpinan mengambil kebijakan untuk selektif dalam menindak mereka, selektif dalam artian jika berpotensi menimbulkan kributan, oleh petugas cukup diperingatkan saja, tidak sampai ditilang. Hal ini untuk meminimalisir kejadian yang nanti efeknya akan membuat kondusifitas wilyah DIY pada khususnya dan Indonesia pada umumnya dapat terjaga.
Beberapa contoh penindakan terhadap mahasiswa papua yang menimbulkan keributan adalah kejadian di simpang 4 Kentungan, saat itu petugas menghentikan orang papua yang mabuk dan menerobos lampu merah, setelah ditindak petugas, puluhan mahasiswa papua yang merupakan teman dari tersangka datang ke pos polisi dan melakukan perusakan, yang kedua di jembatan janti pernah juga petugas menilang mahasiswa papua, malamnya kembali puluhan komunitas papua mendatangi Polsek Depok Barat dan melakukan perusakan, kejadian yang paling terakhir, minggu lalu ada seorang mahasiswa papua menabrak becak di Sp. 4 Tugu, kemudian pelaku memukuli tukang becaknya, kemudian petugas polantas dan PM (Polisi Militer) yang sedang berjaga bermaksud melerai, tapi malah mendapat serangan (meski ditangkis petugas) dari pelaku, dan ketika berhasil diamankan dan diserahkan ke petugas reserese, pelaku tidak lama kemudian dilepas kembali, bahkan petugas polantas yang pertama melerai dan mendapat serangan tersebut oleh kesatuan terkesan “disalahkan” atas kejadian tersebut. Mungkin anda bertanya mengapa pelaku perusakan kemudian tidak ditangkap? Kembali lagi belajar dari pengalaman terdahulu, ketika ditangkap mereka akan kembali datang dengan jumlah yang lebih banyak untuk melakukan keributan, dan jika petugas nanti bertindak tegas/represif, hal ini akan menjadi “senjata” bagi mereka untuk mengangkat hal tersebut ke dunia Internasional, khususnya kepada Negara-negara yang menjadi basis komunitas OPM (Organisasi Papua Merdeka). Perlu diketahui, kebanyakan mahasiswa papua yang berada di wilayah DIY, khusunya yang tinggal di asrama adalah simpatisan OPM, bisa anda buktikan jika mereka melakukan demo pasti semua membawa pernik/aksesoris berciri bendera bintang kejora, yang merupakan bendera OPM. Hal inilah yang bahkan oleh Gubernur DIY ditekankan kepada jajaran Polda DIY untuk bijak ketika menghadapi komunitas papua yang berada di wilayah DIY. Kejadian penyerbuan di kampung Pingit serta di Babarsari beberapa waktu lalu juga menjadi atensi Gubernur DIY yang notabene merupakan Raja dari Kraton Yogyakarta Hadiningrat.
Dari penjelasan diatas bisa kami sampaikan kepada rekan-rekan, bahwa selain kepastian hukum dan keadilan hukum, langkah yang kami ambil ini adalah salah satu contoh dari kemanfaatan hukum. Penegakan hukum akan tidak bermanfaat jika setelahnya malah akan terjadi keributan/kerusuhan dan akan menimbulkan masalah yang lebih besar.
Demikian sedikit yang bisa kami sampaikan, kurang lebihnya kami mohon maaf yang sebesarnya, semoga rekan-rekan bisa mengerti dan memaklumi, Terima kasih. 
Screenshot_2016-08-18-06-58-25_1

Capture balasan email berikutnya


TANGGAPAN DARI MAHASISWA ASAL PAPUA:

Biar infonya lengkap setelah saya cari tanggapan dari warga pendatang, dari pihak berwenang (satlantas polda DIY) saya juga sertakan tanggapan dari perwakilan orang timur sendiri, berikut ceritanya.

Jadi gini gan ane jelasin, ane orang timur, ane juga pernah tinggal di bandung dan jogja.. sekarang ane tinggal di Jayapura. Jadi mereka itu yang suka membuat onar rata-rata mereka itu pola pikirnya belum maju dan masih kampungan, ane ngomong jujur ni gan. Ane juga resah dan tidak nyaman dengan kalakuan seperti itu.

Mereka rata-rata adalah orang yang dari daerah pedalaman dan merantau ke luar papua. nah mereka pade kaget2 nih sama kehidupan kota. secara ni ye di papua nih kan belum pada merata kehidupan modernnya.. palingan dari daerah Jayapura, Sorong, Manokwari, Timika yang dah pade mengerti dengan kehidupan modern jadi gak kaget2 tuh sama kehidupan di kota besar lainnya. nah rata2 mereka itu datang selain dari kota-kota tersebut yg tadi ane sebutin.

Jangankan di kota Jogja mas, di Jayapura sini juga sama aja. kalau lagi mabok waduh hancur dah lalu lintas, pada gak bisa diatur, egonya pade tinggi semua..

Tapi tidak semua kok mas, banyak temen-temen ane yang pada kuliah disana (dibiayai pemerintah (beasiswa) yang memang mengemban tanggung jawab besar sebagai mahasiswa dari papua yang ingin maju dan mereka serius. Kelakuan-kelakuan kampungan ditinggalin dan bersedia menerima resiko. Tidak jarang juga kita orang timur disana selalu kena “bully”. Tapi kita menanggapi dengan dingin karena kita punya visi dan misi yang jelas. Kita ingin belajar dan kembali membangun Papua. Jujur aje ane juga salah satunya, tpi ane mah enjoy aja.. toh nanti kita lihat siapa yang sukses..

Jadi saran ane, janganlah saling mem’bully’ satu sama lain.. meskipun kami (Papua) berbeda ras dengan kalian, tapi kamu adalah satu, kami Indonesia.

Itulah alasan mengapa di Jogja khususnya, warga timur sering melakukan pelanggaran lalu lintas dan tidak di tindak tegas oleh Polisi. Kita harusnya mulai sekarang sadar dan memaklumi tindakan saudara-saudara kita dari timur seperti apa yang disampaikan diatas “Meskipun mereka (Papua) berbeda ras dengan kita, tapi kita adalah satu, kita Indonesia.” Jadi yang masih punya anggapan negative saya kira tulisan ini sudah cukup untuk menjawab pertanyaan kita tentang keadilan hukum bagi saudara kita dari timur. Hukum/aturan sejatinya dibuat untuk mengatur kenyamanan orang banyak, tapi ketika Hukum itu ditegakkan namun malah menimbulkan ketidaknyamanan dan efek bola salju bagi seluruh masyarakat sebaiknya dilakukan perlakuan khusus / pengecualian dan itu ada dalam undang-undang.

Saya bersama sebagian besar orang-orang Yogyakarta lainnya memilih menahan diri untuk tidak terpancing. Bagi orang-orang Yogyakarta seperti saya, tidak ada urusan dengan keinginan sekelompok orang untuk merdeka. Mau merdeka ya mangga. Mau tidak merdeka, ya silakan. Biarlah proses politik berjalan. 

Hidup di jalanan membuat kita mudah punya teman, sekaligus mudah untuk berkonfrontasi secara langsung. Paling tidak itu menurut saya, sehingga bila di lapangan apalagi dalam keadaan penuh emosi dan muncul lontaran ataupun makian yang tidak pernah didengar oleh para cendikiawan yang terhormat duduk manis di belakang meja, tentu saja akan mudah ditafsirkan sebagai rasis.

Tapi harap diingat, lontaran itu juga tidak bisa merepresentasikan keseluruhan sikap orang Yogya. Terlebih kita tidak bisa menutup mata bahwa memang ada pihak-pihak tertentu yang berniat memperkeruh suasana baik di lapangan maupun di tataran konsep dengan mengarahkannya pada konflik rasialis bahkan agama. Tidak dimungkiri juga bahwa ada beberapa orang yang kebablasan dalam merespon kejadian di lapangan dengan ungkapan-ungkapan yang busuk.

Masyarakat Yogyakarta itu bukan tipikal reaksioner, bukan pula eksklusif. Yogyakarta itu terbuka bagi siapapun, perbedaan menjadi hal yang biasa atas dasar saling menghormati dan menghargai. Itu adalah konsep “sanak kadang” bagi orang-orang asli Yogyakarta. Terlalu banyak hal yang bisa dijadikan contoh bahwa keberagaman adalah hal yang biasa di perkampungan-perkampungan.

Bila beberapa waktu terakhir ini ada beberapa kasus yang mencederai konsep hidup damai dalam keberagaman di Yogyakarta, tanyakan saja terhadap pelaku-pelaku itu: “Yogyakartakah Anda?”

Saya kira warga Yogya juga tidak gebyah uyah menghakimi semua orang Papua itu suka bikin onar. Kalaupun ada dari mereka yang suka berbuat onar, melakukan tindakan-tindakan kriminal, kami mengerti kok kalau itu hanya dilakukan oleh sebagian kecil mereka. Semua orang bisa melakukannya, tidak peduli dia dari mana.

Belajar dari berbagai kasus serupa, ranah hukum yang harus selalu dijunjung tinggi dengan tetap memegang azas kemanusiaan dan keadilan. Elemen-elemen yang punya kewajiban di ranah hukum, sumangga bekerja dengan baik, benar dan tepat waktu. Para tetua dan pemimpin, sumangga mengayomi semua kelompok dan komunitas masyarakat yang ingin berdampingan hidup damai di bumi bernama Ngayogyakartahadiningrat. 

Sebagian kecil masyarakat Yogyakarta pun seyogianya tidak perlu menyikapi hal tersebut dengan berlebihan, tanpa perlu ada pernyataan-pernyataan atau makian-makian yang membuat luka makin menganga. Pun tidak perlu sampai ada pernyataan untuk mengusir siapapun dari Yogyakarta. Ini pekerjaan rumah kita semua sebagai bagian dari Yogyakarta, mari bersih-bersih bukan menebar tafsir liar atau hasutan busuk.

Mudah-mudahan tidak ada skenario yang membuat kegelisahan tersebut mengerucut dan menjadikan isu Papua di Yogyakarta menjadi bom waktu atas masalah yang lain. Yogyakarta adalah rumah kedua bagi siapapun yang berkunjung dan menetap di sini, baik untuk kepentingan bekerja, berdagang bahkan belajar. 

Sri Sultan Hamengkubuwono IX maupun Sri Sultan Hamengkubuwono X bahkan menjamu para tetua Papua yang hadir pada saat mereka menitipkan anak-anak mereka untuk belajar di Yogyakarta dengan kalimat sederhana kira-kira seperti ini: “Bila ada dari anak-anak kami yang nakal tolong diingatkan dan dengan senang hati mereka akan memperbaikinya”.

Begitu sederhananya konsep persaudaraan para tetua kita bukan?

Teringat sebuah pembicaraan saya beberapa waktu yang lalu dengan salah satu tetua Papua di sebuah warung kopi, begini:

“He bapa, ko pu anak-anak ada yang nakal di jalanan…” ujar saya.

Terkekeh-kekeh beliau menjawab “He anak, suda tau sa pu anak-anak ada yang nakal, kenapa anak tidak rangkul bae-bae?”

Saya balas “Ah Bapa pu anak-anak seram-seram. Mana sa brani?”

Kembali beliau terkekeh “Anak coba pikir kenapa anak brani bilang sama sa yang juga seram. Dan sa tida marah sama Anak…”

Saya menjawab, “Ya kerna sa kenal baik Bapa…”

Beliau berkata, “Bukan Anak, tapi kerna Anak benar..” Beliau tertawa lalu merangkul saya.

Santai bukan, obrolan kami? Sikap kami juga santai dan tetap peduli. Lha wong kami juga menyumbang makanan untuk saudara-saudara kita dari Papua ketika mereka masih dikepung aparat. 

Mari kita bersama-sama menjaga Yogyakarta dalam keberagaman yang saling menenteramkan.

Torang samua basudara…
Jape methe, Dab…
Hamemayu hayuning bawana…

Jadi tolong buat Anda di luar sana yang masih beranggapan bahwa orang Yogya rasialis, berpikirlah yang jernih. Jangan sok-sokan. Jangan terlalu heroik. Jangan karena segelintir orang Yogya punya kepentingan tertentu atau terhasut, lalu kamu gebyah uyah bahwa kami semua rasialis.

Toh, kami tak pernah menganggap semua orang Jakarta kurang ajar hanya karena tiap libur panjang kalian bikin macet jalanan di Yogya. Kami tidak pernah menganggap semua orang Jakarta biadab padahal banyak uang kami yang dikorupsi orang Jakarta.

Saya juga berharap kepada orang-orang Yogya yang sok sudah merasa orang Yogya asli, lalu ikut mengata-ngatai sesama orang Yogya lain kalau kami ini barbar, semrawut, dan tak kenal etika. Mungkin hal itu akan mengukuhkan kalian sebagai seorang aktivis. Begitu tega kalian ini mengatakan hal itu hanya agar dipandang hebat, kritis, dan berani. Tapi kalian tak punya kesadaran bahwa dalam hal ini, orang Papua dan orang Yogya adalah sama-sama menjadi korban.

Paham, kalian? Kalau tak paham, belajar lagi. Bukan belajar dari buku. Melainkan belajar dari urip bebrayan. Ngerti, Dab?

Referensi

  • mojok.co/2016/07/benarkah-masyarakat-yogya-rasialis/
  • cahyogya.com/2014/06/alasan-polisi-istimewakan-orang-timur.html?m=1
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s