Perokok Sejati, Orang-Orang Hebat

Tidak bisa disangkal kalau rokok memang membahayakan secara medis. Tak hanya bisa bikin paru-paru rusak, rokok bahkan bisa bikin leher kita berlubang seperti kisah Alm Mas Robby yang pernah jadi headline panas beberapa waktu lalu. Rokok memang banyak mudaratnya, tapi, di sisi lain ia juga memberikan manfaat. Bukan secara medis memang, tapi hal-hal yang juga tak kalah pentingnya.

Di antara banyaknya manfaat rokok adalah bisa mempererat hubungan pertemanan, kuat begadang melakukan pekerjaan, sampai soal relaksasi pikiran. Silakan tanya para penghobi rokok, jawaban mereka pasti tak jauh-jauh dari itu. Tak hanya dialami oleh orang-orang biasa, manfaat rokok yang seperti ini nyatanya juga diakui oleh para tokoh terkenal dunia.

Bukan bermaksud untuk mendukung pembaca untuk merokok, ulasan ini hanya bertujuan memberikan wawasan akan sisi lain tokoh-tokoh hebat dunia yang ternyata hobi menghisap tembakau dilinting itu. Lalu siapa saja mereka ini? Simak ulasannya berikut.

1. Bung Karno

Screenshot_2016-08-23-21-25-03_1

Soekarno berbagi rokok dengan Nehru dan Khrushchev. (Boombastis.com)


Sudah bukan rahasia lagi kalau Bung Karno adalah seorang perokok sejati. Hampir di setiap kesempatan, beliau akan selalu memantik States Express 555 miliknya. Terutama ketika berakrab ria bersama tokoh-tokoh dunia. Sebut saja Jawaharlal Nehru sampai Perdana Menteri Soviet Nikita Khrushchev.

Bung Karno merokok, tapi bukan tipe perokok berat. Beliau menghabiskan setidaknya hanya dua batang sehari, ditambah satu kali setiap selesai makan. Beliau ini juga hampir tak pernah menenteng bungkus rokok ke mana-mana. Bung Karno selalu meminta pengawalnya yang bernama Mangil untuk membawakan kaleng rokok plus korek api sang Presiden pertama ini.

2. Albert Einstein

Screenshot_2016-08-23-21-27-25_1

Dengan pamor sebagai ilmuwan cerdas yang penemuannya sangat berguna bagi dunia, kita mungkin membayangkan Einstein adalah sosok super serius yang tidak suka membuang-buang waktu untuk hal-hal yang tak berguna. Tapi, nyatanya si pria cerdas itu tak begitu-begitu amat. Maksudnya, Einstein juga menikmati hidupnya seperti orang kebanyakan. Tak hanya soal wanita, hal ini bisa kita lihat dari hobi merokoknya.

Ya, Einstein adalah seorang perokok. Tidak bisa dibilang kelas berat juga walaupun ia melakukannya cukup sering. Einstein tak pernah lepas dari rokok pipanya setiap waktu, bahkan di waktu ia harus serius, misalnya ketika melakukan penelitian. Kesukaannya akan rokok bahkan sampai membuatnya mencetuskan satu quote fenomenal. “Saya percaya bahwa merokok memiliki kontribusi akan suatu perdamaian dan keakraban,” begitu kata penemu teori Relativitas ini.

3. Jenderal Soedirman

Screenshot_2016-08-23-21-28-25_1

Tak pernah diragukan bagaimana kesetiaan Panglima Soedirman terhadap bangsa ini. Kita pasti masih ingat bagaimana beliau yang sakit keras masih memaksakan dirinya untuk berjuang demi bangsa. Benar-benar sangat layak dijuluki pahlawan. Nah, karena bahasan kita adalah rokok, tentu akan out of topic kalau membahas detail sang Panglima ini. Langsung saja korelasi beliau dengan rokok, apakah benar jika Panglima Soedirman adalah perokok?

Jawabannya adalah benar, dan beliau ini merupakan seorang perokok berat. Pak Soedirman sudah merokok sejak beliau remaja. Rokoknya sih tak pernah bermerek kecualitengwe alias nglinting dewe (bikin sendiri). Panglima Soedirman juga diketahui cukup susah untuk berhenti merokok walaupun dokter sudah bolak-balik mewanti-wantinya. Bahkan pernah pada suatu ketika saat sakit, Jenderal Soedirman meminta istrinya untuk menghisap satu rokok kemudian menghembuskan asapnya ke wajah sang panglima.

4. Steve Jobs

Screenshot_2016-08-23-21-29-24_1

Kira-kira apa yang bakal terjadi jika dunia tak pernah melahirkan seorang Steve Jobs? Mungkin semua akan baik-baik saja, tapi yang jelas kita akan kehilangan salah satu pionir teknologi terbaik. Bill Gates, Zuckerberg mungkin jagoan, tapi Jobs, dia lebih dari itu. Nah, terlepas dari kisah kesuksesannya yang dramatis, Jobs ternyata juga menjalani hidupnya seperti orang-orang. Salah satunya ya merokok, sesuai dengan bahasan kali ini.

Steve merokok sejak usia remaja, tapi sepertinya berhenti total ketika kanker pankreas menggerogotinya. Steve muda ini memang bandel sekali, soal merokok, ia tak hanya mencoba yang biasa saja, tapi juga marijuana. Tapi, untuk yang satu itu Steve punya alasan sendiri.

5. Mao Zedong

Screenshot_2016-08-23-21-29-29_1

Meskipun kejam luar biasa dengan melakukan pembantaian mengerikan, tapi tak dipungkiri Tiongkok bisa bangkit karena jasa seorang Mao Zedong. Bagaimana ia menetapkan aturan-aturan, tentang pengangkatan ekonomi dan sebagainya, hal-hal yang dilakukan Mao ini sukses bikin negeri Tirai Bambu melesat. Soal rokok, Mao diketahui memang seorang perokok sejati.

Rokok sudah seperti kebutuhan premier baginya. Setiap waktu Mao selalu menyempatkan untuk memantik satu batang. Saking cintanya Mao dengan rokok, ia pernah bercita-cita untuk membuat banyak pabrik rokok. Dan hal tersebut ternyata benar-benar terjadi di masa sekarang. Ya, hari ini Tiongkok adalah penghasil tembakau terbesar di dunia yang penggunaannya untuk kebutuhan dalam negeri. Hanya sekitar lima persen dari total jumlah tembakau yang diekspor oleh Tiongkok. Jadi, bisa dibayangkan sebanyak apa rokok di Tiongkok hari ini.

6. Winston Churcill

Screenshot_2016-08-23-21-26-33_1

Terlahir pada tanggal 30 November 1874 dan meninggal pada 24 Januari 1965 (91 tahun), pria bernama lengkap Sir Winston Leonard Spencer Churcill adalah seorang tokoh politik sekaligus pengarang dari Inggris. Pada waktu menjabat sebagai Perdana Menteri Britania Raya saat Perang Dunia II dia dikenal sebagai ahli strategi, orator, diplomat, dan politisi paling berpengaruh dalam sejarah dunia.  Churcill pernah medapatkan Nobel di bidang literatur karena karyanya, dan dia adalah seorang perokok.

(Baca: Manfaat Rokok Bagi Kesehatan Manusia)

Selama ini stigma soal rokok yang selalu diidentikkan dengan orang-orang kelas menengah ke bawah, sepertinya harus direvisi. Ya, ternyata tokoh-tokoh besar dunia juga menggandrungi rokok sebagai hobi mereka. Ulasan ini tidak menganjurkan pembaca untuk merokok lho ya. Kita sudah cukup dewasa untuk tahu mana yang benar dan salah. Merokok atau tidak kembali ke masing-masing orang.

Inilah Rahasia Kecerdasan Kaum Perokok

Suatu siang, tiga tahun silam. Saya datang ke sekretariat IKAPI Yogyakarta, untuk kumpulan rutin setiap Rabu. Sampai di sana, tumben-tumben saya lihat ada Mas Indra Ismawan, bos grup penerbit Media Pressindo.

“Halo Mas, lama nggak ketemu, kok tambah gemuk aja? Hehehe,” sapa saya. Memang cukup lama saya nggak jumpa miliuner rendah hati yang satu itu. Dan pas kali itu ketemu, badannya beneran kelihatan subur.

“Iyo, memang gemuk nih. Soale habis berhenti merokok,” jawab Mas Indra.

Saya njenggelek. Waini, topik menarik ini. Saya langsung mupeng pingin dengar ceritanya. Maka saya pun menginterogasi Mas Indra.

“Aku setop merokok lumayan lama, tiga bulan. Berat badan langsung naik 10 kilo,” kisahnya. Saya mulai nggelar tikar dan ngaduk kopi, menyimak. Segeralah terbangun hipotesis di kepala: berhenti merokok itu benar-benar menyehatkan.

“Tapi,” Mas Indra melanjutkan, “akhirnya aku putuskan merokok lagi.”

“Lho!! Kok??” atas nama pencarian kebenaran, saya nggak boleh begitu saja setuju keputusan politik Si Bos.

“Begini, simpel saja,” jawabnya. “Kalau aku lanjutin setop merokoknya, pasti aku tambah gemuk. Sementara kita lihat, mana ada orang obesitas bertahan sampe tua? Kalau ketemu perokok berat hidup sampe 90 atau 100 tahun sih sering. Tapi lihat orang obesitas bertahan hidup sampe umur segitu? Pernah, ‘po?”

Saya tertegun. Paten nih orang. Cara berpikirnya jauh dari linier. Dia sama sekali tidak membaca persoalan secara serta-merta, lewat permukaan saja, semisal: “Hmm.. karena berhenti merokok aku jadi gemuk. Gemuk berarti sehat. Jadi kalau mau sehat, berhentilah merokok.” Tidak, tidak. Manusia di depan saya itu punya pikiran yang melompat jauh ke luar kotak. Untung sampeyan nggak fesbukan, Mas, batin saya. Coba main fesbuk, pasti sudah dibuli sama kimcil-kimcil. Hahaha.

***

Suatu malam saya sowan ke Dipowinatan, kediaman penyair gaek Iman Budhi Santosa. Sambil mengisap 76-nya, beliau menelanjangi makna slamet dalam masyarakat Jawa. Kata Mas Iman, slametdalam kosmologi Jawa berbeda jauh dengan selamat dalam pemahaman standar perspektif dunia modern.

“Dalam pemikiran modern, yang disebut keselamatan melulu terkait fisik. Orang naik kendaraan dan sampai tujuan tanpa terkena kecelakaan, berarti selamat. Orang yang fisiknya terlindungi, aman dan nyaman, disebut selamat. Sebaliknya, orang yang terkena gangguan fisik, atau bahkan mati, otomatis dikatakan tidak selamat. Cuma begitu itu. Jadi orang tidak paham dengan kematian Mbah Marijan yang mengawal Gunung Merapi, misalnya. Apa benar Mbah Marijan tidak selamat? Dalam kacamata orang Jawa, Mbah Marijan itu slamet. Slamet. Orang gagal mengerti, karena apa yang ada dalam sudut pandang mereka tak lebih dari perkara jasmani belaka.”

Mas Iman melanjutkan dengan konsep kesehatan modern. “Urusan Departemen Kesehatan itu kan cuma kesehatan jasmani saja to,” sambungnya. “Mana pernah mereka menempatkan sektor kesehatan jiwa dalam proporsi penting? Padahal persoalan masyarakat kita kebanyakan akibat problem ketidaksehatan jiwa. Penyakit fisik memang ada. Tapi sebenarnya jauh lebih banyak penyakit jiwa. Anehnya, segi ini nyaris dianggap tidak ada oleh Departemen Kesehatan. Jadi ya nggak heran, ketika para ahli kesehatan menilai masalah rokok, yang dibahas cuma sudut pandang kesehatan fisik..”

***

Mengenang obrolan bersama Mas Indra Ismawan dan Mas Iman Budhi Santosa, saya jadi merenung-renungkan lagi arti “out of the box”. Tak bisa disangkal, poin-poin pikiran kedua orang perokok berat itu jauh dari standar. Ada batas-batas pagar yang mereka lompati, di saat semua orang nyaman-damai dan tak berani membayangkan apa-apa yang ada nun di luar pagar. Saya jadi ingat dialog lama yang terjadi antara Syekh Abu Hayyun dan seorang mbak-mbak unyu aktipis antitembakau.

“Iya, rokok memang berbahaya. Saya setuju sekali sama sampeyan, Mbak,” kata Syekh Abu Hayyun mantap. Wajah aktipis LSM antitembakau yang bertamu siang itu pun langsung berbinar.

“Begini,” lanjut Syekh. “Merokok itu nggak bisa dilakukan sambil terburu-buru. Anda bisa makan, minum, mandi, bepergian, bahkan bekerja, dengan cepat dan tergesa. Tapi tidak untuk merokok. Merokok mesti dilakukan seperti.. mm.. harus tuma’ninah istilahnya, Mbak. Sedot, tenang, pengendapan sesaat, baru nyebul. Isep lagi, tenang dan pengendapan lagi, sebul lagi. Begitu terus-menerus. Lihat, ngudud sama sekali bukan aktivitas yang cocok untuk orang yang gegabah dan grusa-grusu…”

“Lho, maaf, katanya bahaya, Syekh? Kok malah nggak bahas bahayanya?” Si aktipis kimcil tampak nggak sabar.

“Sebentar..,” sambil tersenyum bijak Syekh memberi kode tangan, agar si aktipis diam dulu. “Untuk menghabiskan satu batang rokok, rata-rata dibutuhkan 20-25 kali hisapan. Kalau seorang perokok ngudud 10 batang saja setiap hari, artinya minimal ada 200 kali saat jeda tuma’ninah per harinya. Dua ratus kali setiap hari, Mbak! Nah, bayangkan saja jika ia menempuh hidup seperti itu belasan atau bahkan puluhan tahun. Apakah sampeyan yakin yang demikian itu tidak turut membentuk bangunan bawah sadar dan karakter pribadinya?”

“Bahayanya, Syekh. Pliss, bahayanya…”

“Jadi, ya nggak usah gampang heran kalau banyak pemikir muncul dari kalangan perokok. Sebab perokok itu bukan semacam speedboat yang melesat cepat di permukaan, melainkan lebih dekat dengan sifat kapal selam. Ia bergerak pelan namun pasti di kedalaman. Makhluk-makhluk kapal selam itu terbiasa tenang, jernih mencermati setiap hal, sekaligus punya daya imajinasi tinggi. Maka kita tahu ada Einstein, misalnya. Pastilah ia menemukan Teori Relativitas, serta teori bahwa semesta berbentuk melengkung, saat ia leyeh-leyeh sambil kebal-kebul dengan pipa cangklongnya. Ada juga Sartre, Albert Camus, Derrida, Sigmund Freud, yang semua-muanya menempa ngelmu tuma’ninah-nya lewat asap tembakau. Contoh lain? Ada Sukarno, Che Guevara, Winston Churcill, hingga John Kennedy. Atau para sastrawan-pemikir, mulai Rudyard Kipling, Hemingway, Mark Twain, Pablo Neruda, Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, yang kesemua mereka pun menjalani metode yang sama. Jadi bisa kita simpulkan bahwa..”

“Stop! Stop!! Please, Syekh. Please! I said: ba-ha-ya! Please explain the ba-ha-ya!!”

“Hehe, iya, iya, Mbak. Maaf. Saya tegaskan bahwa rokok memang berbahaya.” Syekh ber-tuma’ninah sesaat. “Sebab.. yang paling berbahaya dari seorang manusia bukanlah paru-paru atau jantungnya, melainkan pikiran-pikirannya.”

Jeng jeng jeeeng!

Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s