Kontroversi Kenaikan Harga Rokok di Indonesia

Screenshot_2016-08-24-17-33-53_1

Darimanakah asalnya wacana harga rokok Rp 50 ribu? Wacana kenaikan harga rokok hingga di atas Rp 50 ribu per bungkus tengah menjadi topik pembicaraan hangat di masyarakat sejak akhir pekan lalu. Berbagai suara pro dan kontra pun mulai bermunculan.

Relasi harga rokok dan konsumsi

Isu ini mulai menghangat sejak Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat UI, Hasbullah Thabrany, mengatakan kenaikan harga rokok dapat menekan konsumsi.

“Terutama di kalangan yang tidak mampu,” kata Hasbullah.

Berdasarkan hasil studi yang dilakukan Hasbullah dan lembaganya, sejumlah perokok akan berhenti merokok jika harganya dinaikkan hingga dua kali lipat.

Survei tersebut dilakukan terhadap 1.000 orang melalui telepon dalam kurun waktu Desember 2015 sampai Januari 2016.

Sebanyak 72% mengatakan akan berhenti merokok kalau harga naik di atas Rp 50 ribu. Selain itu, 76% perokok setuju jika harga rokok dan cukai dinaikkan.

Belakangan, ide ini disambut baik oleh pemerintah. Ketua DPR RI Ade Komarudin mengatakan setuju dengan wacana kenaikan harga rokok hingga Rp 50.000 per bungkus. Ia meyakini kenaikan harga rokok akan mengurangi kebiasaan masyarakat menghirup nikotin.

Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazar mengatakan lembaganya akan mengkaji kembali cukai rokok.

“Cukai rokok belum kami diskusikan lagi, tetapi kami kan biasanya setiap tahun ada penyesuaian tarif cukainya,” kata Suahasil.

Keberatan pengusaha

Screenshot_2016-08-24-17-31-20_1

Tentu saja, isu kenaikan harga ini mendapat tanggapan negatif dari para pengusaha rokok. PT HM Sampoerna Tbk, misalnya, mengatakan perlu ada kajian menyeluruh.

“Perlu kami sampaikan bahwa kenaikan harga drastis maupun kenaikan cukai secara eksesif bukan merupakan langkah bijaksana,” ujar Head of Regulatory Affairs, International Trade, and Communications Sampoerna, Elvira Lianita.

Ia meyakini kebijakan cukai yang terlalu tinggi akan mendorong naiknya harga rokok menjadi mahal sehingga tidak sesuai dengan daya beli masyarakat.

“[Kenaikan cukai rokok] sekaligus juga harus mempertimbangkan kondisi industri dan daya beli masyarakat saat ini,” kata Elvira.

Gubernur Jawa Timur Soekarwo juga merasa keberatan dengan wacana ini. Kenaikan dapat berdampak pada pendapatan daerahnya yang merupakan pusat industri rokok di Jawa.

“Jika pendapatan pabrik rokok berkurang, maka pengusaha pasti akan mengurangi jumlah buruh,” ujar gubernur yang akrab disapa Pakde Karwo ini.

Di Jawa Timur, katanya, ada sekitar 6,1 juta orang yang menggantungkan hidupnya dari rokok.

Menurut dia, menaikkan harga rokok tidak akan menyelesaikan masalah, apalagi jika yang disasar adalah anak kecil.

“Kalau tujuannya itu, ya tidak bisa. Seharusnya melalui sosialisasi dengan baik,” katanya.

Soekarwo berseloroh bila ingin mengurangi jumlah perokok, caranya bukan menaikkan cukai, namun semua pabrik rokok harus ditutup.

“Pabrik rokok di luar negeri juga harus ditutup. Mending begitu,” katanya. [1]

Wacana

Angka Rp 50.000 itu sendiri keluar setelah melalui studi dari Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany.

Studi ini mengungkap kemungkinan perokok akan berhenti merokok jika harganya dinaikkan dua kali lipat dari harga normal. Hasilnya 80 persen bukan perokok setuju jika harga rokok dinaikkan.

“‎Dalam studi ini, para perokok bilang kalau harga rokok di Indonesia naik jadi Rp 50 ribu per bungkus, mereka akan berhenti merokok. Belum lagi ada tambahan dana Rp 70 triliun untuk bidang kesehatan,” ujar Hasbullah.

Bagi Anda sebagai perokok dengan pemasukan di atas Rp 5 juta per bulan dan belum berkeluarga, harga ini mungkin masih terjangkau. Namun untuk mereka perokok dengan pemasukan Rp 3 jutaan per bulan, harga sebungkus rokok segitu sudah mulai memberatkan.

Buat perokok dengan pemasukan kurang dari Rp 3 juta, maka pilihannya adalah makan atau rokok.[2]

tinggi hingga 50 ribu rupiah per bungkus.

“Saya setuju dengan kenaikan harga rokok. Tentu kalau bisa makin hari dikurangi,” kata Ade Komarudin di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, telah beredar perkiraan harga rokok yang akan berlaku mulai September 2016 mendatan atau bulan depan. Daftar tersebut telah menyebar di sosial media, juga di grup WhatsApps komunitas perokok. Berikut ini daftar lengkapnya:

-Marlboro Merah Rp.51.800
-Marlboro Light Rp.48.500
-Marlboro Menthol Rp.48.800
-Marlboro Black Menthol Rp.51.200
-Marlboro Ice Blast Rp.52.500
-Dunhill Merah Rp.50.800
-Dunhill Mild Rp.48.200
-Dunhill Menthol Rp.50.200
-Lucky Strike Filter Rp.43.800
-Lucky Strike Light Rp.42.800
-Country Merah Rp.42.800
-Country Light Rp.42.200
-Pall Mall Filter Rp.42.500
-Pall Mall Light Rp.43.800
-Pall Mall Light Menthol Rp.43.800
-Djarum Super 16 Rp.39.500
-Djarum MLD Rp.40.500
-Djarum Black Rp.38.800
-Djarum Black Menthol Rp.39.200
-Djarum 76 Rp.32.800
-Djarum Clavo Filter Rp.36.200
-Djarum Clavo Kretek Rp.34.800
-LA Light Rp.38.800
-LA Menthol Rp.39.500
-LA Light Ice Rp.40.800
-LA Bold Rp.40.200
-Gudang Garam Filter Rp.40.500
-Gudang Garam Signature Rp.42.200
-Gudang Garam Signature Mild Rp.40.800
-GG Mild Rp.40.500
-Gudang Garam Surya 16 Rp.42.400
-Gudang Garam Surya Exclusive Rp.44.800
-Gudang Garam International Rp.40.200
-Surya Pro Mild Rp.38.800
-Sampoerna Mild Rp.48.800
-Sampoerna Menthol Rp.47.500
-U Mild Rp.35.800
-Class Mild Rp.42.500
-Star Mild Rp.40.800
-Star Mild Menthol Rp.42.500
-Dji Sam Soe Magnum Filter Rp.45.500
-Dji Sam Soe Magnum Blue Rp.45.200.[3]

Memicu Perdebatan

Apakah Anda setuju harga jual eceran rokok dinaikkan? Kontroversi wacana kenaikan harga rokok terus tergulir.

Kenaikan harga rokok menjadi 50.000 rupiah dari sekitar 15 ribu rupiah dinilai akan efektif untuk mengurangi jumlah perokok, demikian ujar peneliti demografi dari Universitas Indonesia, Abdillah Ahsan. Dikutip dari The Jakarta Post, Abdillah mengatakan, kenaikan harga rokok harus lebih tinggi dari 10 persen agar efektif dalam mencegah pembelian rokok. “Pemerintah sebenarnya dapat meningkatkan harga empat kali lipat menjadi sebesar Rp 60.000. Tapi, seperti peningkatan harga akan menjadi hak prerogatif politik pemerintah,” ujarnya pada The Jakarta Post.

Dari gedung DPR, Ketua Komisi IX DPR Dede Yusuf mengatakan, pihaknya setuju jika cukai rokok dinaikkan, tapi dengan syarat dananya dikembalikan ke sektor kesehatan.

“Misalnya bangun rumah sakit, fasilitas kesehatan,” ujar Dede Yusuf seperti dilansir kompas.com. “BPJS saja kan defisit 6 triliun rupiah. Kalau bisa dibantu dari situ (cukai rokok), kemudian pengembangan untuk menyelesaikan masalah kanker paru-paru. Itu bagus,” tandasnya.

Dede menambahkan, Komisi Kesehatan memandang wacana kenaikan harga rokok dari dua aspek yakni sisi kesehatan dan ketenagakerjaan. Dari aspek kesehatan, dia memaparkan rokok mengganggu kesehatan sehat, semantara dari segi ketenagakerjaan, ia memandang upah buruh linting tembakau masih amat rendah.

Harga rokok di bawah Rp 20.000 dinilai berbagai kalangan menjadi penyebab tingginya jumlah orang yang mengkonsumsi rokok di di Indonesia.

Di lain pihak, panitia kerja RUU pertembakauan menilai adanya kepentingan asing dibalik isu kenaikan harga rokok ini, yakni masuknya rokok elektrik yang sudah dikonsumsi berbagai kalangan.

Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengatakan, industri rokok berkontribusi besar dalam penyerapan tenaga kerja dan peningkatan pendapatan negara. Jumlah tenaga kerja di sektor tersebut mencapai enam juta lebih pekerja, yang terdiri atas petani tembakau, karyawan dan distribusi. Dikutip darin kompas.com, Dhakiri meyakini sejumlah industri rokok akan mengurangi produksi dan banyak tenaga kerja yang tidak terpakai.

Ia pun menyakini bahwa wacana kenaikan harga rokok itu tidak benar. Sebab menurutnya, baik Menteri Keuangan ataupun Dirjen Beacukai sudah membantah isu kenaikan rokok tersebut.

Sejauh ini Kementerian Keuangan belum membuat peraturan baru terkait harga jual eceran rokok. Menkeu Sri Mulyani mengatakan, yang tengah dikaji adalah kenaikan tarif cukai. Sementara kenaikan harga jual eceran rokok harus disesuaikan dengan undang-undang.

Dikutip dari kompas.com, pemerintah menargetkan pendapatan cukai dalam RAPBN pada tahun 2017 sebesar 157,16 triliun rupiah atau naik 6,12 persen dari target APBN Perubahan 2016 sebesar 148,09 triliun rupiah. Sementara untuk cukai hasil tembakau, ditargetkan sebesar 149,88 triliun rupiah atau naik 5,78 persen.

Polemik kenaikan harga rokok bergulir, setelah dalam Kongres Indonesian Health Wconomics Association di Jakarta bulan lalu, Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, mengumumkan hasil risetnya bahwa perokok akan berhenti merokok, apabila harga ecerannya dinaikkan tiga kali lipat.[4]

Menteri Keuangan Angkat Bicara

Screenshot_2016-08-24-12-28-37_1

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ikut menanggapi merebaknya isu kenaikan harga rokok hingga mencapai Rp50 ribu per bungkus. Dia menegaskan, Kementerian Keuangan sampai saat ini masih mengkaji besaran kenaikan tarif cukai hasil tembakau dan belum menentukan harga jual eceran rokok.

“Belum ada aturan terbaru mengenai harga jual eceran maupun tarif cukai rokok sampai hari ini,” tegasnya saat konferensi pers di Gedung Djuanda I, Kemenkeu, Senin (22/8/2016).

Menurutnya, merebaknya isu kenaikan harga rokok muncul dari hasil kajian salah satu pusat kajian ekonomi mengenai kemungkinan dampak kenaikan cukai terhadap harga dan konsumsi rokok.

“Saya memahami bahwa ada studi yang dilakukan salah satu pusat kajian ekonomi mengenai apa yang disebut dengan sensifitivitas atas kenaikan harga rokok terhadap konsumsi rokok,” ujar Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu.

Wacana lonjakan harga rokok bermula dari Kongres Indonesian Health Economics Association (InaHEA) di Yogyakarta, akhir bulan lalu. Pada kesempatan itu, Kepala Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, Hasbullah Thabrany membeberkan hasil risetnya bahwa perokok akan berhenti merokok jika harga rokok dinaikkan hingga tiga kali lipat.

Berdasarkan penelitian lembaganya, dari seribu sampel yang diambil acak menunjukkan bahwa 80 persen perokok pasif dan 76 persen perokok aktif setuju jika harga rokok naik. Sebanyak 72 persen perokok bahkan mengatakan akan berhenti merokok jika harga rokok naik tiga kali lipat.

“Satu sampai dua bungkus rokok per hari jika ditotal, dihitung besaran pengeluaran untuk rokok per bulannya, mencapai Rp450 hingga Rp600 ribu. Dalam studi ini, para perokok bilang kalau harga rokok di Indonesia naik jadi Rp50 ribu per bungkus, mereka akan berhenti,” kata Hasbullah.

Merespons kajian tersebut, Sri Mulyani menyatakan, penetapan harga jual eceran dan tarif cukai rokok tahun depan akan dilakukan sesuai dengan Undang-Undang Cukai dan hasil pembahsan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2017.

“Sampai saat ini masih dalam proses konsultasi berbagai pihak dan nantinya bisa diputuskan sebelum APBN 2017 dimulai,” ujarnya.

Secara terpisah, Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi mengungkapkan, kenaikan tarif cukai akan diumumkan tiga bulan sebelum tarif cukai berlaku. Secara historis, pemerintah memberlakukan tarif cukai baru per 1 Januari tahun berikutnya.

“Tahun ini kita akan usahakan ada pengumuman secepat mungkin untuk kenaikan (tarif cukai) 2017. Perkiraan saya sekitar September akhir,” ujarnya.

Dengan pengumuman dini, ia berharap perusahaan rokok bisa mempersiapkan strategi pemasaran dan konsumen bisa menyesuaikan pola konsumsinya.

Namun, Heru belum bisa mengungkapkan rencana penyesuaian tarif cukai rokok karena masih dikaji. Selain memperhatikan faktor kesehatan, pemerintah juga mempertimbangkan faktor lain seperti nasib pelaku industri rokok yang mencapai 6 juta jiwa dan juga daya beli masyarakat perokok.

“Kami harus memperhatikan dua pihak itu, pemerintah harus berdiri di tengah-tengah tidak boleh salah satu pihak saja,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, pemerintah juga mempertimbangkan tingkat inflasi tahunan dan pertumbuhan ekonomi sebagai basis penetapan persentase kenaikan tarif.[5]

Ketua DPR Setuju Wacana Kenaikan Harga Rokok

Screenshot_2016-08-24-12-30-15_1

Ketua DPR Ade Komarudin setuju dengan wacana kenaikan harga rokok yang rencananya akan naik hingga Rp 50.000 per bungkus.

Menurut Ade, wacana tersebut sekaligus dapat mengurangi kebiasaan masyarakat agar tidak lagi merokok. Rokok, kata Ade, merupakan musuh bangsa yang sudah disadari semua orang.

“Saya setuju dengan kenaikan harga rokok,” kata Ade di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (19/8/2016).

“Tentu kalau bisa makin hari dikurangi,” ujarnya.

Di samping itu, lanjut Ade, pendapatan negara juga otomatis akan bertambah jika harga rokok dinaikkan. Kenaikan harga rokok juga akan membantu anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) pada masa mendatang.

Pemerintah mengaku mendengarkan usulan kenaikan harga rokok menjadi Rp 50.000 per bungkus.

Oleh karena itu, pemerintah akan kaji penyesuaian tarif cukai rokok sebagai salah satu instrumen harga rokok.

“Cukai rokok belum kami diskusikan lagi, tetapi kami kan biasanya setiap tahun ada penyesuaian tarif cukainya,” ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (17/8/2016).

Selama ini, harga rokok di bawah Rp 20.000 dinilai menjadi penyebab tingginya jumlah perokok di Indonesia.

Hal tersebut membuat orang yang kurang mampu hingga anak-anak sekolah mudah membeli rokok.[6]

Apakah kenaikan harga rokok solusi efektif?

Wacana kenaikan harga rokok hingga Rp 50.000 ramai diperbincangkan di media sosial selama sepekan belakangan.

Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi, mengatakan, pemerintah masih mengkaji kenaikan tarif cukai rokok demi memenuhi target penerimaan cukai pada RAPBN 2017 sebesar Rp149 triliun. Namun sampai saat ini besarannya belum ditetapkan.

Heru memastikan bahwa pemerintah berkomitmen mengurangi konsumsi rokok di kalangan masyarakat, salah satunya dengan menaikkan cukai rokok. Akan tetapi, kenaikan selalu dilakukan secara bertahap.

“Kalau harga Rp50.000, berarti terjadi kenaikan sebesar 300%, sementara dalam sejarahnya kisaran kenaikan harga itu puluhan saja,” kata Heru kepada BBC Indonesia.

Ia menilai, peningkatan harga secara drastis dapat menyebabkan penurunan produksi, dan ujungnya berdampak pada kesejahteraan tenaga kerja di pabrik serta petani tembakau dan cengkeh yang menjadi pemasok industri rokok.

Efek samping lainnya yang bisa terjadi, kata Heru, ialah merebaknya rokok ilegal.

“Salah satu instrumen penetapan harga itu kan cukai, yang merupakan bentuk pajak. Secara teori, ketika pajak terlalu tinggi, akan ada dampak berupa produk ilegal,” jelasnya.

Hasbullah juga mengatakan bahwa hasil tersebut konsisten dengan studi di negara-negara lain.

“Penelitian sebelumnya di Malaysia, Singapura, Inggris, Australia menunjukkan kalau orang dihadapkan dengan kenaikan harga rokok dua kali lipat maka konsumsinya turun 30%. Dalam ilmu ekonomi ini disebut elastisitas demand,” jelas Hasbullah.

Meski demikian, Wakil Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Sudaryatmo, menilai sekadar menaikkan harga rokok tak cukup untuk menurunkan jumlah perokok.

Kebijakan itu, menurutnya, perlu dibarengi rangkaian kebijakan pendukung; antara lain menyediakan terapi bagi masyarakat yang ingin berhenti merokok.

“Di satu sisi harga rokok dinaikkan, di sisi lain pemerintah juga menyediakan alternatif bagi masyarakat yang mau berhenti merokok berupa terapi gratis di klinik kesehatan. Selama ini sudah ada, tapi jumlahnya terbatas,” kata Sudaryatmo.

Sudaryatmo mengakui bahwa kenaikan harga rokok tak akan berdampak besar pada para perokok yang sudah ketagihan. Meski demikian, ia berharap langkah itu dapat menekan angka pertumbuhan perokok pemula.

“Kebijakan kenaikan cukai rokok akan lebih efektif jika pada saat yang sama ada larangan menjual rokok secara ketengan dan isi kemasan bungkus rokok dibatasi minimal 20 batang,” tambah Sudaryatmo.[7]

Saat berita soal wacana kenaikan harga rokok ini dibagikan di halaman Facebook BBC Indonesia, ada beberapa pembaca yang mempertanyakan motivasi akan kemungkinan kenaikan harga tersebut.

Seperti Randi Christopher yang mengatakan,

“Ternyata alasan demi kesehatan rakyat cuma omong kosong belaka, ujung2nya cuma pemerintah mau ngambil duit lebih banyak dari rakyatnya dengan berpura2 perhatian sama rakyat.”

Pembaca lain, Boed Guchi juga mengatakan,

“Betul, gue kate ape? Jadi betul kan harga rokok dinaikkan untuk nombok kekurangan anggaran RAPBN , bukan untuk keselamatan remaja dari bahaya rokok.”

Sementara pembaca lain, Christian Andri, berkomentar, “Pemerintah sangat tdk patut menargetkan penerimaan cukai dari perokok! Kecanduan candu (yg dilegalkan) sdh jadi persoalan, ini mau ditambah persoalan harga tinggi rokok. Lebih baik kejar pengusaha pengemplang pajak/yg laporan pajaknya tdk sesuai kenyataan”.

Pernyataan pembaca Facebook BBC Indonesia tersebut, menurut Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia Marius Widjajarta, sebagai hal yang wajar.

“Selama ini cukai rokok, larinya ke mana? Kan kita nggak pernah lihat. Kalau pemerintah tidak transparan, mana masyarakat percaya,” ujarnya.

Menurutnya, seharusnya ada perbandingan yang jelas antara pemasukan yang diperoleh dari cukai rokok dengan biaya kesehatan yang ditimbulkan akibat rokok.

“Kita harus telaah betul, jika harga dinaikkan, komponen apa saja yang ada dalam kenaikan itu. Kita tanyakan dulu, jika harga naik, itu untuk (menambal) defisit APBN atau untuk defisit JKN (jaminan kesehatan nasional), itu dulu induknya,” ujar Marius lagi.

Barulah dari situ, kata Marius, bisa ditentukan berapa besar komponen kenaikan harga yang wajar, dan akan dialokasikan ke sektor apa saja kenaikan harga tersebut.

Hal senada juga disampaikan oleh Ketua YLKI Tulus Abadi, menurutnya sebagian pemasukan yang diterima oleh sektor cukai dari rokok “seharusnya dikembalikan ke sektor-sektor yang menangani pengendalian dampak akibat rokok, yaitu sektor kesehatan, termasuk soal kampanye dampak rokok”.

Jika hal ini dilakukan, maka konsumen akan melihat bahwa harga yang naik jelas fungsinya untuk melindungi mereka dari bahaya rokok.

Tulus juga mengatakan bahwa cukai memang memiliki manfaat ganda, selain pemasukan tapi juga memberi “pesan moral” agar konsumen mengurangi konsumsi barang yang dikenai cukai.

“Pemasukan (cukai) itu hanya manfaat sampingan,” ujarnya.

Semakin besar cukai, maka secara finansial semakin besar pula beban pengguna, dan ini menurut Tulus adalah hal yang positif.

Alasannya, menurut Tulus, cukai hanya dibebankan pada barang yang berdampak buruk bagi masyarakat sehingga pengenaan cukai adalah upaya untuk mendesain konsumsi.

“Tidak fair jika melihat bahwa dengan meningkatkan cukai maka artinya akan mengurangi daya beli, rokok itu tidak bisa dikaitkan dengan daya beli, itu kan bukan barang normal, seperti makanan, minuman, atau sembako, ekstremnya (dengan cukai barang tersebut) nggak usah dikonsumsi. Dengan cukai, artinya itu barang yang sah, tapi bukan barang biasa,” kata Tulus.[8]

PT. HM Sampoerna Sebut Harga Produknya Tidak Naik

Screenshot_2016-08-24-12-40-40_1

PT HM Sampoerna Tbk atau yang dikenal dengan Sampoerna memberi pengumuman. Produk rokoknya tidak naik, seperti yang viral tersebar di dunia maya. Sampoerna juga menolak kenaikan tinggi harga cukai rokok karena rokok di Indonesia sudah tinggi.

“Isu terkait adanya kenaikan harga secara drastis atas produk-produk PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna) adalah informasi tidak benar yang disebarkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Head of Regulatory Affairs, International Trade and Communications PT HM Sampoerna Tbk, Elvira Lianita dalam keterangannya, Selasa (23/8/2016).

Produk Sampoerna yang dikenal antara lain rokok A-Mild. Pihak Sampoerna juga memberi penjelasan kenaikan harga drastis maupun kenaikan cukai secara eksesif bukan merupakan langkah bijaksana karena setiap kebijakan yang berkaitan dengan harga dan cukai rokok harus mempertimbangkan seluruh aspek secara komprehensif.

“Aspek tersebut terdiri dari seluruh mata rantai industri tembakau nasional (petani, pekerja, pabrikan, pedagang dan konsumen), sekaligus juga harus mempertimbangkan kondisi industri dan daya beli masyarakat saat ini,” tegas Elvira.

“Kebijakan cukai yang terlalu tinggi akan mendorong naiknya harga rokok menjadi mahal sehingga tidak sesuai dengan daya beli masyarakat. Jika harga rokok mahal, maka kesempatan ini akan digunakan oleh produk rokok ilegal yang dijual dengan harga sangat murah dikarenakan mereka tidak membayar cukai,” tambah dia.

Elvira menuturkan, perlu menjadi catatan penting bahwa dengan tingkat cukai saat ini, perdagangan rokok ilegal telah mencapai 11,7 persen dan merugikan negara hingga Rp 9 triliun (berdasarkan studi dari beberapa Universitas nasional). Hal ini tentu kontraproduktif dengan upaya pengendalian konsumsi rokok, peningkatan penerimaan negara, dan perlindungan tenaga kerja.

“Terkait dengan harga rokok di Indonesia yang dibandingkan dengan negara-negara lain, maka perlu dilakukan kajian yang menghitung daya beli masyarakat di masing-masing negara. Jika kita membandingkan harga rokok dengan pendapatan domestik bruto (PDB) per kapita di beberapa negara, maka harga rokok di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura,” tutup dia.

Screenshot_2016-08-24-12-41-14_1

Isu harga rokok naik ramai belakangan ini setelah munculnya hasil riset Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat (PKEKKFKM) UI yang menyebutkan mayoritas responden yang perokok menyebut akan berhenti merokok jika harga rokok cukup mahal. Pemerintah akan mengkaji hasil riset tersebut.[9]

Rahasia di Balik Isu Ambisi Pemerinta Naikkan Harga Rokok

Screenshot_2016-08-24-12-43-23_1

Rencana Rezim Joko Widodo menaikkan harga rokok merupakan upaya pemerintah untuk mendapatkan pajak dari industri rokok demi menutupi utang yang sudah menggunung.

Analisis itu disampaikan pengamat ekonomi politik Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Salamuddin Daeng kepada intelijen (23/08/2016).

“Satu satunya sektor yang tumbuh normal adalah sektor tembakau dan rokok. Tidak main-main sektor ini telah menyumbangkan sedikitnya Rp. 140 triliun cukai dalam APBN 2015, belum termasuk pajak lainnya,” ungkap Salamuddin Daeng.

Menurut Salamuddin, untuk pertama kali dalam sejarah RI, hanya di era Jokowi cukai naik 40 persen setahun. Hal itu akan dijadikan landasan Jokowi untuk menaikkan harga rokok hingga Rp. 50 ribu/bungkus.

“Dengan demikian maka Jokowi akan menaikkan cukai hingga 200 persen dalam tahun ini. Sekali lagi ini adalah langkah yang spektakuler yang belum pernah terjadi, bahkan mungkin di dunia internasional,” jelas Salamuddin.

Salamuddin memperkirakan, jika isu kenaikan harga rokok itu benar-benar diterapkan pemerintah, maka kenaikan pendapatan negara dari cukai dapat mencapai Rp. 420 triliun, belum termasuk pajak yang dibayar oleh industri tembakau dan rokok.

“Dengan pendapatan sebesar itu Jokowi tidak perlu utang luar negeri, tidak perlu tax amnesty, APBN perubahan 2016 akan terbayar tunai,” papar Salamuddin.

Selain itu, kata Salamuddin, efek lainnya, investasi dalam industri tembakau akan semakin deras karena harga rokok yang menjanjikan. “Kabarnya ada perusahaan rokok terbesar di dunia milik RRC, telah merancang investasi untuk membangun pabrik rokok terbesar di dunia di Jawa timur. Ini akan menjadi sumber pajak baru yang diperoleh dari investasi,” pungkas Salamuddin.[10]

Screenshot_2016-08-24-17-30-58_1

Referensi

  1. http://www.rappler.com/indonesia/143831-penjelasan-harga-rokok-rp-50-ribu
  2. http://www.rappler.com/indonesia/143919-5-manfaat-harga-rokok-rp-50-ribu-bungkus
  3. http://sidomi.com/470759/harga-rokok-terbaru-2016-berapa-dan-kapan-naiknya/
  4. http://m.dw.com/id/isu-kenaikan-harga-rokok-picu-perdebatan/a-19494278
  5. http://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20160822144645-78-153007/sri-mulyani-angkat-bicara-soal-rumor-kenaikan-harga-rokok/
  6. http://nasional.kompas.com/read/2016/08/19/13382151/ketua.dpr.setuju.wacana.kenaikan.harga.rokok.jadi.rp.50.000
  7. http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/08/160822_indonesia_rokok_naik
  8. http://www.bbc.com/indonesia/majalah/2016/08/160823_trensosial_harga_rokok
  9. http://m.detik.com/news/berita/3281136/sampoerna-sebut-harganya-produknya-tidak-naik-harga-rokok-di-indonesia-tinggi
  10. https://www.intelijen.co.id/ini-dia-rahasia-di-balik-isu-ambisi-pemerintahan-jokowi-naikkan-harga-rokok/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s