Candi Borobudur

Screenshot_2016-08-26-20-46-28_1

Candi Borobudur berada di dataran berbukit yang hampir seluruhnya dikelilingi oleh gunung. Adapun gunung yang mengelilingi candi ini antara lain Gunung Merbabu, Gunung Merapi, Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro.

Candi Borobudur merupakan monumen Buddha termegah dan kompleks stupa terbesar di dunia yang diakui oleh UNESCO. Bangunan Candi Borobudur secara keseluruhan menjadi galeri akan mahakarya para pemahat batu.

Jauh sebelum Angkor Wat berdiri di Kamboja dan katedral-katedral agung ada di Eropa, Candi Borobudur telah berdiri dengan gagah di tanah Jawa. Bangunan yang disebut UNESCO sebagai monumen dan kompleks stupa termegah serta terbesar di dunia ini ramai dikunjungi oleh peziarah pada pertengahan abad ke-9 hingga awal abad ke-11. Umat Buddha yang ingin mendapatkan pencerahan berduyun-duyun datang dari India, Kamboja, Tibet, dan China. Tidak hanya megah dan besar, dinding Candi Borobudur dipenuhi pahatan 2672 panel relief yang jika disusun berjajar akan mencapai panjang 6 km! Hal ini dipuji sebagai ansambel relief Buddha terbesar dan terlengkap di dunia, tak tertandingi dalam nilai seni.

Relief yang terpahat di dinding candi terbagi menjadi 4 kisah utama yakni Karmawibangga, Lalita Wistara, Jataka dan Awadana, serta Gandawyuda. Selain mengisahkan tentang perjalanan hidup Sang Buddha dan ajaran-ajarannya, relief tersebut juga merekam kemajuan masyarakat Jawa pada masa itu. Bukti bahwa nenek moyang Bangsa Indonesia adalah pelaut yang ulung dan tangguh dapat dilihat pada 10 relief kapal yang ada. Salah satu relief kapal dijadikan model dalam membuat replika kapal yang digunakan untuk mengarungi The Cinnamon Route dari Jawa hingga benua Afrika. Saat ini replika kapal yang disebut sebagai Kapal Borobudur itu disimpan di Museum Samudra Raksa.

Untuk mengikuti alur jalinan kisah yang terpahat pada dinding candi, pengunjung harus berjalan mengitari candi searah jarum jam atau yang dikenal dengan istilahpradaksina. Masuk melalui pintu timur, berjalan searah jarum jam agar posisi candi selalu ada di sebelah kanan, hingga tiba di tangga timur dan melangkahkan kaki naik ke tingkat berikutnya. Hal ini dilakukan berulang-ulang hingga semua tingkat terlewati dan berada di puncak candi yang berbentuk stupa induk. Sesampainya di puncak, layangkanlah pandangan ke segala arah maka akan terlihat deretan Perbukitan Menoreh, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Gunung Merapi, dan Gunung Merbabu yang berdiri tegak mengitari candi. Gunung dan perbukitan tersebut seolah-olah menjadi penjaga yang membentengi keberadaan Candi Borobudur.

Berdasarkan prasasti Kayumwungan yang bertanggal 26 Mei 824, Candi Borobudur dibangun oleh Raja Samaratungga antara abad ke-8 hingga abad ke-9, berbarengan dengan Candi Mendut dan Candi Pawon. Proses pembangunan berlangsung selama 75 tahun di bawah kepemimpinan arsitek Gunadarma. Meski belum mengenal komputer dan peralatan canggih lainnya, Gunadarma mampu menerapkan sisteminterlock dalam pembangunan candi. Sebanyak 60.000 meter kubik batu andesit yang berjumlah 2.000.000 balok batu yang diusung dari Sungai Elo dan Progo dipahat dan dirangkai menjadi puzzle raksasa yang menutupi sebuah bukit kecil hingga terbentuk Candi Borobudur.

Borobudur tidak hanya memiliki nilai seni yang teramat tinggi, karya agung yang menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis. Mengusung konsep mandala yang melambangkan kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan megah ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu (Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu), dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu). Jika dilihat dari ketinggian, Candi Borobudur laksana ceplok teratai di atas bukit. Dinding-dinding candi yang berada di tingkatan Kamadatu dan Rupadatu sebagai kelopak bunga, sedangkan deretan stupa yang melingkar di tingkat Arupadatu menjadi benang sarinya. Stupa Induk melambangkan Sang Buddha, sehingga secara utuh Borobudur menggambarkan Buddha yang sedang duduk di atas kelopak bunga teratai.

Menikmati kemegahan Candi Borobudur tidak hanya cukup dengan berjalan menyusuri lorong dan naik ke tingkat teratas candi. Satu hal yang jangan dilewatkan adalah menyaksikan Borobudur Sunrise dan Borobudur Sunset dari atas candi. Siraman cahaya mentari pagi yang menerpa stupa dan arca Buddha membuat keagungan dan kemegahan candi lebih terasa. Sedangkan berdiri di puncak candi di kala senja bersama deretan stupa dan menyaksikan sinar matahari yang perlahan mulai lindap akan menciptakan perasaan tenang dan damai.

Candi yang begitu berat itu berdiri kokoh tanpa ada satu paku pun juga tertancap di tubuhnya.

Pertanyaan pun selama ini mengemuka; bagaimana membangun Borobudur tanpa menancapkan ratusan paku, untuk mengokohkan pondasinya dan bagaimana batu-batu berat yang membentuk Borobudur itu diangkat ke lokasi pembangunan di atas bukit?

Ternyata Tim Katastropik Purba menemukan jawabannya. Tim yang dibentuk untuk meneliti bencana purba yang bersifat katastropik itu mendapatkannya dari kelompok peneliti muda Bandung Fe Institute. Mereka melakukan riset di 10 tempat peninggalan peradaban masa lalu.

Diceritakan Ketua Tim Katastropik Purba, Erick Ridzky, beberapa bulan lalu tim yang dibentuk kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana itu mendengarkan paparan dari peneliti mudaBandung Fe Institute yang sedang melakukan riset di 10 tempat peninggalan peradaban masa lalu. Sekedar catatan, Bandung Fe institute menjadi mentor resmi untuk International Conference of Young Scientist. Mereka juga telah masuk dalamFirst Step to Novel Prize. Adapun nama-nama peneliti muda itu adalah Hokky Situngkir, (32), Rolan Mauludy Dahlan, (29) dan Ardian Maulana, (29). Salah satu yang sedang diteliti oleh peneliti muda BFI itu adalah candi Borobudur. Mereka berhasil buktikan bahwa penguasaan teknologi berbasis geometri fraktal sudah dikenal oleh nenek moyang kita saat membangun Candi Borobudur di atas ketinggian bukit.

Sedikit tentang sejarah Borobudur, adalah candi yang diperkirakan mulai dibangun sekitar 824 Masehi oleh Raja Mataram bernama Samaratungga dari wangsa Syailendra, yang menganut agama Budha Mahayana. Candi yang memiliki 2.672 panel relief, serta 504 patung Buddha, itu sempat terkubur oleh lapisan vulkanik selama beberapa abad dan dikelilingi oleh rerimbunan hutan, sebelum akhirnya ditemukan kembali pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raffles.

BFI meyakini teknologi fraktal digunakan para arstitek Kerajaan Mataram yang diperintah Raja Samaratungga dari wangsa Syailendra untuk membangun Borobudur di tahun 824. Hasilnya adalah sebuah tempat ibadah yang begitu megah.

“Tidak dapat dibayangkan bagaimana nenek moyang kita membangun Borobudur yang demikian berat dapat berdiri kokoh dengan tanpa perlu memakukan ratusan paku bumi untuk mengokohkan pondasinya, tak terbayangkan pula bagaimana batu-batu yang membentuk Borobudur itu dibentuk dan diangkut ke area pembangunan di atas bukit,” ujar Erick. Bahkan, dengan kecanggihan teknologi yang ada pada masa kini pun, masih sulit membangun sebuah candi yang mampu menyamai candi Borobudur.

Apa itu Fraktal?

Fraktal dalam bahasa Inggris adalah ‘fractal’ dari kata Latin fractus yang artinya “patah”, “rusak”, atau “tidak teratur”. Istilah itu dipopulerkan oleh Benoît Mandelbrot pada tahun 1975 Sebelum Mandelbrot memperkenalkan istilah tersebut, nama umum untuk struktur semacamnya (misalnya bunga salju Koch) adalah kurva monster. Berbagai jenis fraktal pada awalnya dipelajari sebagai benda-benda matematis.

Geometri fraktal adalah cabang matematika yang mempelajari sifat-sifat dan perilaku fraktal. Fraktal bisa membantu menjelaskan banyak situasi yang sulit dideskripsikan menggunakan geometri klasik, dan sudah cukup banyak diaplikasikan dalam sains, teknologi, dan seni karya komputer.

Konsep Fraktal adalah bentuk geometris yang memiliki elemen-elemen yang mirip dengan bentuknya secara keseluruhan. Itulah yang diterapkan arsitek mataram atas Borobudur. Itu terlihat dari stupa raksasa yang di dalamnya terdiri dari stupa-stupa lain yang lebih kecil. Terus hingga ketidakberhinggaan. “Sungguh mengagumkan nenek moyang kita sudah memiliki pengetahuan seperti itu. Bangunan Candi Borobudur benar-benar bangunan yang luar biasa,” ujar Erick.

Fraktal adalah benda geometris yang kasar pada segala skala, dan terlihat dapat “dibagi-bagi” dengan cara yang radikal. Beberapa fraktal bisa dipecah menjadi beberapa bagian yang semuanya mirip dengan fraktal aslinya. Fraktal dikatakan memiliki detil yang tak hingga dan dapat memiliki struktur serupa diri pada tingkat perbesaran yang berbeda. Pada banyak kasus, sebuah fraktal bisa dihasilkan dengan cara mengulang suatu pola, biasanya dalam proses rekursif atau iteratif.

Dikatakan Erick, pertanyaan yang memerlukan penelitian lebih lanjut adalah, dengan fakta bahwa Candi Borobudur ternyata dibangun dengan prinsip-prinsip fraktal, adalah apakah teori fraktal pada masa lalu telah ditemukan dan di implementasikan?

“Ini tentunya memerlukan riset yang lebih komprehensif oleh BFI dan para peneliti lain terhadap situs-situs lainya di Indonesia, baik yang telah ditemukan ataupun yang masih terkubur seperti yang sedang ditemukan atau diteliti serius oleh Tim Katastropik Purba,” pungkas Erick.

Asal-Usul Penemuan Candi Borobudur

Setelah Candi Borobudur selesai dibangun, beberapa prasasti menyebut jika Candi ini kemudian digunakan oleh orang-orang agama Budha masa itu sebagai tempat ibadah dan ziarah. Penggunaan candi ini hanya berlangsung dalam waktu singkat, yakni sekitar 150 tahun.

Singkatnya penggunaan candi ini memang tak sesuai dengan lama proses pembangunannya. Hal ini diketahui dapat terjadi karena adanya migrasi besar-besaran orang-orang Budha di sekitar Candi karena keruntuhan Wangsa Syailendra. Mereka terdesak oleh keberadaan orang-orang hindu yang secara kuantitas memang lebih banyak.

Dengan semakin sedikitnya para penganut Budha di sekitar wilayah tersebut (Magelang saat ini), Candi Borobudur kemudian tidak digunakan lagi. Ia tidak terawat dan sebagian dirusak oleh orang-orang yang belum berpikir pentingnya peninggalan sejarah itu di masa depan. Karena tak lagi terurus, Borobudur pun kemudian semakin rusak oleh alam.

Waktu terbengkalainya yang cukup lama membuat Candi megah ini ditumbuhi pepohonan besar, tertimbun oleh abu letusan gunung yang ada di sekitarnya, dan tertutup hilang terpendam di dalam tanah.

Penemuan Kembali Candi Borobudur

Screenshot_2016-08-26-20-53-18_1

Borobudur tertimbun tanah. Siapapun orang-orang di sana tak pernah tahu jika dibawah kaki mereka ada sebuah Candi besar peninggalan kebudayaan nenek moyang terdahulu. Namun keadaan berubah setelah sekitar tahun 1814 Masehi, Sir Thomas Stamford Rafless menemukan puing-puing batuan berusia tua dalam jumlah banyak di sekitar wilayah tersebut.

Sir Thomas Stamford Rafles adalah Gubernur Jendral Inggris yang memimpin Indonesia pada masa peralihan penjajahan dari Belanda ke Inggris tahun 1811 M –1816 M. Ia dianggap sebagai orang pertama yang menguak asal usul Candi Borobudur yang awalnya tertimbun tanah.

Ia memerintahkan anak buahnya untuk membongkar tanah di sekitar tempatnya menemukan batu-batuan tua itu. Dan benar saja, sebuah tumpukan batu-batu besar menjulang membentuk sebuah piramida raksasa.

Rafless kemudian memerintahkan anak buahnya itu untuk meneruskan pekerjaannya, akan tetapi karena kesibukan perang pekerjaan ini akhirnya terbengkalai.

Pada tahun 1835 Masehi, Hartman, Gubernur Jendral Belanda melanjutkan proses pengangkatan Candi Borobudur yang ditinggalkan oleh Rafless selepas Inggris mengalami kekalahan perang dalam memperbutkan daerah jajahannya yaitu Indonesia.

Hartman mengerahkan banyak pekerja untuk membongkar dan menghilangkan semua penghalan yang menutupi tumpukan batu-batu ini. Ia memang sangat tertarik pada candi yang ditemukannya tersebut dan mengusahakan pembersihan menyeluruh dari puing-pung yang mengotori candi ini.

Pemugaran Candi Borobudur yang Pertama Kali

Kendati sudah dibersihkan dari segala macam puing, tanah, dan kayu-kayu besar yang menutupinya. Candi Borobudur belumlah berbentuk secara sempurna. Banyak bagian yang gompel, hilang, dan rusak karena ditelan zaman.

Menyadari hal ini, pada  tahun 1907-1911 Masehi, di bawah pimpinan Van Erf, Belanda mulai melakukan pemugaran terhadap candi yang memang terlihat belum sempurna. Pemugaran ini masih dilakukan dengan teknologi konvensional, sehingga reliefnya belum juga terbentuk seperti aslinya.

Pemugaran Candi Borobudur ini hanya dilakukan sebatas untuk menghindari kerusakan-kerusakan lebih lanjut dengan memindahkan batuan-batuan yang rentan runtuh dari asal usul Candi Borobudur yang awalnya tak terurus.

Kendati demikian, Erf sudah berjasa bagi Bangsa Indonesia karena ia telah menyelamatkan peninggalan nenek moyang bangsa Indonesia itu dari kerusakan yang lebih parah.

Pemugaran Candi Borobudur Tahap Berikutnya

Disibukkan oleh kekacauan politik, militer, ekonomi sejak berlangsungnya perang dunia pertama, beberapa pemerintah yang sempat berkuasa di Indonesia mulai dari pemerintah Jajahan Belanda, Pemerintah Jajahan Jepang, dan Pemerintah Republik Indonesia menjadi tak lagi peduli dengan peninggalan sejarah yang memiliki nilai histori ini. Candi Borobudur dibiarkan begitu saja tanpa perawatan, terbengkalai, dan tak dipedulikan.

Seiring berjalannya waktu, saat kondisi negara mulai membaik, pada tanggal 10 Agustus 1973 pemugaran lanjut kemudian dilakukan di masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Bukti pemugaran ini berupa prasasti seberat 20 ton yang sengaja dibuat dan diletakan di sebelah Barat Laut Candi menghadap ke Timur.

Uniknya, pemugaran Candi Borobudur yang berada di bawah pimpinan Dr. Soekmono ini dilakukan oleh sekitar 600 pekerja yang kebanyakan di antaranya merupakan tenaga-tenaga muda lulusan SMA dan STM bangunan yang sebelumnya sudah diberikan pendidikan dan keterampilan khususnya tentang bidang Chemika Arkeologi (CA) dan Teknologi Arkeologi (TA). Mereka adalah asli putra dan putri bangsa Indonesia sendiri, tak ada satu pun di antaranya tenaga ahli dari luar negeri.

Beberapa bagian yang dipugar dari Candi Borobudur pada masa itu antara lain Rapadhatu (tempat tingkat di bagian bawah yang berbentuk persegi), kaki candi, Teras 1, Teras 2, Teras 3, dan Stupa Induk. Dengan banyaknya bagian yang dipugar ini, waktu yang dibutuhkan untuk proses pengerjaannya adalah sekitar 10 tahun. Ya, pemugaran selesai dilakukan pada 23 Februari 1983.

Candi Borobudur Saat Ini

Candi Borobudur saat ini setiap tahunnya dikunjungi oleh lebih dari 3,5 juta wisatawan baik lokal maupun mancanegara (Data Tahun 2013). Perihal asal usul Candi Borobudur, di salah satu bagian candi juga dijelaskan secara singkat.

Anda bisa menikmati keindahan yang tersaji dari bangunan bersejarah tersebut, di mana gunung-gunung yang mengitari bangunan peninggalan Dinasti Syailendra ini tentu membuat pengalaman tersendiri. Tunggu apa lagi, segeralah beranjak untuk pergi ke Magelang.

Museum Kapal Samudraraksa

Foto: uun-halimah.blogspot.com

Foto: uun-halimah.blogspot.com


Museum Kapal Samudraraksa terletak di dalam zona penyangga II areal Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah. Pembangunan museum ini ditujukan untuk mengingatkan kembali akan kejayaan nenek moyang bangsa Indonesia yang berhasil mengarungi Samudera Hindia hingga ke wilayah Afrika. Museum yang diresmikan pada tanggal 31 Agustus 2005 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhyono ini terdiri dari tiga bangunan. Bangunan pertama merupakan tempat informasi, display foto, poster, relief, serta pemutaran film. Bangunan kedua yang berbentuk rumah joglo merupakan tempat kapal Samudraraksa dipajang. Selain kapal, di bangunan kedua ini disimpan barang-barang yang dipergunakan oleh para awak kapalnya sewaktu berlayar mengarungi samudera, seperti: peralatan memasak, peralatan rumah tangga sehari-hari, buku, kaset, cd, vcd, dan obat-obatan. Sedangkan bangunan ketiga berfungsi sebagai kantor dan tempat penjualan suvenir.

Sejarah Kapal Samudraraksa

Foto: Dokumentasi pribadi

Foto: Dokumentasi pribadi


Sejarah Kapal Samuderaraksa berawal ketika Phillipe Beale (mantan Angkatan Laut Inggris), berkunjung ke Candi Borobudur pada tanggal 8 November 1982. Saat berada di Borobudur, ia melihat relief sebuah kapal yang dipahatkan pada salah satu dindingnya. Keindahan relief kapal tersebut menjadikannya tertarik untuk membuat kapal serupa, sekaligus untuk melakukan ekspedisi seperti yang dilakukan oleh para pelaut Indonesia pada abad ke-8. Namun, 20 tahun kemudian cita-citanya itu baru terwujud, setelah pada bulan September 2002 ia menghubungi Nick Burningham (ahli arkeologi maritim berkebangsaan Australia), untuk merancang sebuah kapal seperti yang dilihatnya pada relief di Candi Borobudur. Setelah berhasil merancang kapal, pada 19 Januari 2003 mereka kemudian menghubungi As’ad Abdullah (69 tahun) yang bertempat tinggal di Pulau Pagerungan Kecil, Kabupaten Sumenep, Madura, untuk membuat perahu rancangan mereka. Oleh As’ad Abdullah dan sejumlah arsitek asing, kapal dibuat dengan menggunakan teknologi tradisional dan seluruh bahan bakunya dari kayu.

Foto: Dokumentasi pribadi

Foto: Dokumentasi pribadi


Pada bulan Mei 2003 kapal pesanan Phillipe Beale selesai dibangun. Kapal ini berukuran panjang 18,29 meter, lebar 4,50 meter, dan tinggi 2,25 meter. Bagian depan kapal digunakan sebagai kabin dan tempat tidur, bagian tengah sebagai ruang makan dan navigasi, sedangkan bagian buritan digunakan sebagai ruang kemudi, dapur, dan tempat cuci piring. Untuk berlayar, karena tidak menggunakan mesin, kapal dilengkapi dengan 2 layar tanjak, 2 buah kemudi dan cadik ganda. Selain itu, kapal juga dilengkapi dengan peralatan keselamatan seperti: Global Positioning Satelite (untuk mengetahui posisi kapal), NavTex (untuk menerima informasi cuaca), EchoSounder (untuk mendeteksi kedalaman air), Inmarst Telephone Satelite (untuk komunikasi di tengah laut), dan Lift Raft (dua buah rakit apung).

Setelah kapal selesai dibuat, pada bulan Mei 2003 diadakan seleksi untuk calon anak buah kapal. Dari seleksi itu, diambil 27 orang yang berasal dari Indonesia, Australia, Selandia Baru, Inggris, Swedia, dan Perancis. Selesai melakukan seleksi untuk anak buah kapal, dan juga menunjuk salah seorang diantara mereka untuk menjadi kapten, yaitu I Gusti Putu Ngurah Sedaha, maka pada tanggal 25 mei 2003 kapal diluncurkan untuk pertama kalinya ke laut.

Pada bulan Juni 2003 kapal bersama awaknya melakukan uji coba pelayaran dari Pulau Pangerungan Kecil ke Benoa (Bali), melewati perairan Banyuwangi. Setelah berhasil melakukan uji coba, pada tanggal 2 Juli 2003 diadakan seminar pra peluncuran kapal di Jakarta. Dua minggu kemudian, yaitu tangal 16 Juli 2003, kapal diresmikan oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika.

Foto: Dokumentasi pribadi

Foto: Dokumentasi pribadi


Pada tanggal 22 Juli 2003 kapal meninggalkan Benoa menuju Ancol, Jakarta, melewati Surabaya, Karimunjawa, dan Semarang. Setelah sampai di Jakarta, pada tanggal 15 Agustus 2003 kapal ini diberi nama Samudraraksa yang berarti “Pelindung Lautan” dan sekaligus diberangkatkan menuju Madagaskar oleh Presiden Megawati Soekarnoputri. Dalam pelayaran yang menyusuri rute Kayu Manis (Jakarta, Madagaskar, Cape Town dan berakhir di Ghana) itu, Kapal Samudraraksa membawa barang-barang kebutuhan awak kapal, seperti: 1500 liter air tawar, 900 kg beras, 2 upright sails, 1 ton kayu bakar, 0,5 ton bahan makanan dan bumbu, dan lain sebagainya.

Tanggal 12 September 2003, kapal Samudraraksa berhasil berlabuh di pelabuhan Victoria, Seychelles. Dua minggu kemudian, tepatnya tanggal 29 September 2003, Samudraraksa meninggalkan Seychelles menuju Madagaskar. Tanggal 14 Oktober, kapal Samudraraksa mencapai Mahajanga, Madagaskar. Dari Madagaskar, pada tanggal 26 Oktober, Samudraraksa berlayar lagi menuju Cape Town, Afrika Selatan. Dalam pelayaran menuju Cape Town itu, pada tanggal 16 November mereka singgah di Richard Bay. Tanggal 1 Desember singgah di Pelabuhan Durban. Tanggal 7 Desember singgah di Pelabuhan Elizabeth. Baru pada tanggal 5 Januari 2004, Samudraraksa tiba di Cape Town.

Sekitar 2 minggu kemudian, tepatnya tanggal 17 Januari 2004, Samudraraksa berangkat lagi menuju Ghana. Setelah beberapa minggu mengarungi lautan, pada tanggal 23 Februari kapal Samudraraksa sampai di tujuan akhir dan berlabuh di Pelabuhan Tema, Accra, Graha. Dengan berlabuhnya Samudraraksa di Ghana, maka berakhirlah ekspedisi menyusuri jalur Kayu Manis. Para awak pun kembali ke tanah air untuk menerima penghargaan Satya Lencana dari Presiden Megawati Soekarnoputri. Sedangkan kapal Samudraraksa yang masih berada di Ghana, tujuh bulan kemudian dibongkar dan dibawa pulang ke Indonesia. Sesampai di Indonesia, bongkahan-bongkahan kapal Samudraraksa itu dibawa ke Borobudur dan dirakit kembali untuk selanjutnya dimuseumkan, sebagai tanda akan kejayaan nenek moyang bangsa Indonesia yang berhasil mengarungi Samudera Hindia hingga ke wilayah Afrika.

Kenapa Borobudur Identik dengan Yogyakarta? 

Candi Borobudur itu jelas – jelas berada di wilayah kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Baik di Wikipedia maupun buku – buku pelajaran IPS juga tertulis dengan jelas bahwa Borobudur itu ada di Kabupaten Magelang.

Lain halnya jika Candi Prambanan yang dikira bagian dari wilayah Jogjakarta, hal itu saya kira masih bisa dianggap wajar karena letaknya berada di perbatasan Jogja dan Klaten (Jawa Tengah). Lah kalau Borobudur? Letak Candi Borobudur itu lumayan jauh bro dari Kota Jogjakarta, sekitar 40 km. Kalau dihitung dari perbatasan Jogja dan Jawa Tengah, jaraknya sekitar 25 km. Selama perjalanan mulai dari perbatasan hingga Candi Borobudur, tentu orang harusnya sadar bahwa dia sudah tidak lagi di wilayah Jogjakarta tapi sudah masuk wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Kan di sepanjang jalan ada Baliho “Selamat Datang di Kabupaten Magelang”, ada gapura bertuliskan “Kabupaten Magelang”, dsb.

Namun bagaimana pun saya mencoba berpikir positif. Karena kita tahu bahwa di dunia ini ada hukum sebab akibat. Kenapa banyak orang berasumsi bahwa Borobudur itu bagian dari Jogja, tentu ada sebab – sebab yang melatarbelakanginya.

Dari banyak posting dan komen yang ada, saya mendapatkan poin – poin kenapa banyak orang beranggapan bahwa Borobudur itu Jogja.

  • 1. Akses Transportasi

Akses transportasi dari luar daerah menuju Borobudur akan lebih mudah dan dekat jika transit di Jogjakarta terlebih dahulu.

Bagi wisatawan yang menggunakan pesawat, biasanya mereka lebih memilih untuk mendarat di Bandara Adi Sucipto yang terletak di Sleman, Jogjakarta. Jaraknya hanya sekitar 45 km dari Candi Borobudur. Bandingkan dengan Bandara Ahmad Yani yang terletak di Semarang, Jawa Tengah yang jaraknya sekitar 90 km atau Bandara Adi Soemarmo yang terletak di Boyolali, Jawa Tengah yang jaraknya sekitar 60 km.

Wisatawan yang menggunakan moda transportasi Kereta Api pun juga sama. Mereka lebih memilih untuk transit di stasiun yang ada di Jogjakarta dibanding stasiun yang ada di Semarang, karena jaraknya lebih dekat.

Saya ceritakan sedikit tentang akses jalan raya. Saya dulu waktu masih kecil sering bertanya – tanya. Kenapa jalan raya dari Jogja – Tempel – Muntilan sampai Palbapang kok jalannya lebih lebar dan bagus dibanding jalan raya dari Palbapang ke Magelang dan Secang. Padahal keduanya merupakan bagian dari Jalan Nasional yang menghubungkan dua ibukota Provinsi yakni Jogjakarta dan Semarang. Jawabannya adalah demi kemudahan akses para wisatawan dari Jogja ke Borobudur.

Jalan raya dari Palbapang menuju Magelang dan Secang dulunya sempit karena hanya terdiri dari 2 jalur. Selain itu juga sering terjadi kemacetan dan kecelakaan karena banyaknya pengguna jalan tetapi tidak didukung akses jalan yang memadai. Jalan raya dari Palbapang ke Magelang dan Secang baru diperlebar mulai tahun 2010.

Untuk itulah mungkin banyak orang mengira bahwa Candi Borobudur itu masih merupakan bagian dari Jogjakarta. Selain itu banyak beredar pernyataan seperti “Belum bisa dibilang ke Jogja kalau belum ke Borobudur.” “Mau liburan ke Jogja ya, jangan lupa ke Borobudur”.

  • 2. Paket Wisata, Promosi dan Hotel

Candi Borobudur ini dipromosikan oleh banyak travel wisata dalam 1 paket wisata bersama dengan Candi Prambanan, Keraton Jogjakarta dan beberapa tempat wisata yang ada di Jogjakarta. Setelah selesai perjalanan tur wisata, biasanya rombongan wisatawan akan menginap di hotel – hotel yang ada di Jogjakarta.

Karena alasan itulah maka tak heran jika banyak orang berasumsi bahwa Candi Borobudur merupakan bagian dari Jogja. Selain itu kata “Jogja” juga lebih dikenal dan familiar dibanding dengan “Magelang”.

  • 3. Pengelolaan

Kawasan wisata Candi Borobudur ini pengelolaannya dipegang oleh BUMN yang bernama PT. Taman Wisata Candi Borobudur (TWCB) yang kantornya terletak di Jogjakarta. Jika orang ingin mencari informasi baik itu dari situs internet maupun brosur – brosur yang dibuat oleh pihak pengelola, tentu orang akan melihat alamat dari kantor pihak pengelola yang biasanya tertulis di bagian bawah. Ini menjadi alasan lain mengapa banyak orang beranggapan bahwa Borobudur itu Jogja.

Masalah pengelolaan juga membuat pemkab Magelang seperti “enggan” untuk mempromosikan Kawasan Candi Borobudur. Pemkab hanya mendapat pemasukan dari Zona III yakni kawasan parkir. Sedangkan Zona I dikelola oleh PT. TWCB dibawah kementrian BUMN dan Zona II dikelola oleh Badan Observasi dibawah kementrian Dikbud.

Jadi kesimpulan saya kenapa banyak orang berasumsi bahwa Borobudur itu Jogja, hal itu hanya kesalahpahaman atau untuk mempermudah penyebutan saja. Sama seperti orang salah mengira bahwa Bandara Soekarno Hatta itu Jakarta padahal Tangerang, Banten. Terminal Bungurasih dan Bandara Djuanda itu Surabaya padahal Sidoarjo, Jawa Timur, Bandara Adi Soemarmo itu Solo padahal Boyolali, Jawa Tengah, dan sebagainya.

Anda yang pernah naik pesawat ke Jakarta mungkin sering mendengar pramugari berkata“Selamat Datang di Bandara Soekarno Hatta, Jakarta. Semoga perjalanan anda lancar dan selamat sampai tujuan.” Padahal itu masih bagian dari wilayah Tangerang, Banten. Kota Jakarta masih lumayan jauh letaknya dari Bandara Soekarno Hatta.

Saya dulu juga sering “dibohongi” saat naik Bus Eka jurusan Magelang – Surabaya. Di kaca depan tertulis dengan tulisan yang besar kata Surabaya. Saya juga bertanya ke kondektur, “Pak ini bus jurusan Surabaya kan?” Beliau menjawab, “Iya mas yang ganteng, ini bus jurusan Surabaya.” Tapi nyatanya saya malah diturunkan di Terminal Bungurasih yang notabene masih wilayah Sidoarjo. Untuk sampai di Kota Surabaya saya masih harus naik lagi bus DAMRI.

Jadi jika ada pihak yang merasa perlu melakukan meluruskan kesalah-pahaman bahwa #Borobudur_Bukan_Jogja itu adalah hal yang bagus dan saya mendukung itu. Bagaimanapun secara letak geografis Candi Borobudur berada di Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah.

Dokumentasi pribadi

Foto: Dokumentasi pribadi


Yang saya sayangkan, di kawasan komplek Candi Borobudur saya tak melihat tulisan “Magelang”. Di depan Candi saja hanya bertuliskan “Taman Wisata Candi Borobudur”, tanpa dikasih tambahan Magelang. Dipasar wisata didalam Candi juga banyak kaos yang bertuliskan “I Love Jogja”, “Aku Pernah Ke Jogja”, dan semuanya serba Jogja. Tidak ada kaos atau pakaian yang bertuliskan “Magelang”. Lha kalau ini salah siapaaaa?

Namun bagi saya pribadi soal sebutan itu bukan prioritas utama. Saya akan lebih marah, lebih tepatnya kecewa, jika keberadaan Candi Borobudur justru tidak mempunyai dampak yang signifikan bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya.

PicsArt_08-26-09.29.52

Para wisatawan menaiki tangga untuk mencapai Candi Borobudur


PicsArt_08-26-09.32.17

Candi Borobudur


PicsArt_08-26-09.33.51

Turis asing sedang menikmati pemandangan di Candi Borobudur


PicsArt_08-26-09.35.40

Candi Borobudur


PicsArt_08-26-09.37.19

Petugas konservasi membersihkan lumut yang menempel di dinding Candi.


PicsArt_08-26-09.38.57

Petugas konservasi membersihkan lumut yang menempel di dinding Candi.


PicsArt_08-26-09.40.21

Candi Borobudur


PicsArt_08-26-09.41.44

Candi Borobudur





Referensi

Iklan

One response »

  1. […] Abad ke 9. Candi ini terlihat begitu impresif dan kokoh sehingga terkenal seantero dunia.  Peninggalan sejarah yang bernilai tinggi ini sempat menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun tahukah Anda bahwa seperti halnya pada bangunan purbakala yang lain, Candi Borobudur tak […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s