Siapa Lukminto?

Perintis pabrik textil Sritex, Lukminto. (Tempo)

Perintis pabrik textil Sritex, Lukminto. (Tempo)


Orang yang dijuluki sebagai raja batik itu dulunya hanya seorang pedagang di Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah. Ia mulai berbisnis tekstil sejak usia 20 tahun, tepatnya pada tahun 1966. Usai peristiwa G30S-PKI, pemerintah Orde Baru melarang segala sesuatu yang berhubungan dengan etnis Cina.

Akibat kebijakan itu, Lukminto yang kala itu masih duduk di kelas 2 SMA Chong Hua Chong Hui yang berbasis Cina harus berhenti sekolah. Sekolah Lukminto ditutup. Ia akhirnya mengikuti jejak kakaknya Ie Ay Djing atau Emilia yang telah lebih dulu berdagang di Pasar Klewer.

Orang tua Lukminto, memberikan modal Rp 100 ribu. Uang tersebut terbilang besar pada waktu itu. Dari modal itu, dia membeli kain belaco di Semarang dan Bandung. Kemudian menjualnya di Pasar Klewer, Pasar Kliwon dan sejumlah pabrik batik rumahan dengan berkeliling sejak pagi hingga petang.

Dari hasil berjualan keliling, pada Tahun 1967, Lukminto berhasil membeli dua buah kios di Pasar Klewer. Sejak mengembangkan toko itu lah, bisnis Lukminto makin berkembang.

Lukminto mulai mengembangkan industri tekstil pada tahun 1972 dengan mendirikan pabrik pertamanya di Semanggi Solo.

Pada sekitar tahun 1980-an, ia merelokasi dan membangun pabrik tekstil ke Desa Jetis, Sukoharjo dengan nama PT Sri Rejeki Isman atau sekarang lebih dikenal dengan sebutan PT Sritex. Dari lahan awal seluas 10 hektare, terus bertambah 65 hektare dan kini sudah mencapai 100 hektare lebih.

Screenshot_2016-08-30-13-01-09_1

Pada Tanggal 3 Maret 1992, pabrik tersebut diresmikan Presiden Soeharto bersama 275 pabrik aneka industri lainnya di daerah Surakarta. Pada tahun itu juga Sritex mulai menggarap tekstil militer dalam negeri. Saat itu Sritex diminta menjadi penyedia logistik ABRI dalam bidang pengadaan seragam prajurit.

Sukses menggarap pasar dalam negeri, di tahun itu pula Sritex mencoba menembus Eropa. Kala itu German Army yang menjadi bidikan utamanya. Hingga akhirnya German Army mengakui kualitas seragam buatan PT Sritex.

Lukminto yang pernah memiliki nama Seger Waras ini resmi mengubah nama menjadi Haji Muhammad Lukminto sejak menunaikan ibadah haji pada 1994.

Perusahaan yang didirikan oleh suami dari Sie Lee Hwie (Susyana) ini telah dicatatkan di pasar modal pada 17 Juni 2013. Emiten berkode SRIL ini melepas 5,6 miliar saham ke publik dengan harga penawaran Rp240 per saham.

Proses Mualaf Lukminto

Terlahir dengan nama Ie Djie Shin, Lukminto memeluk Islam sejak Mei 1995. Menurut Ketua Pembinaan Mental PT Sritex, Ustadz Muhammad Amir, Lukminto memeluk Islam setelah mengaku bermimpi didatangi seseorang berjubah putih.

“Begitu bangun, dia lantas bertanya maksud mimpi tersebut kepada tukang pijatnya. Dijawab bahwa itu pertanda Lukminto diminta masuk Islam,” katanya kepada Tempo ketika ditemui di rumahnya di Ngruki, Cemani, Sukoharjo, Minggu, 9 Februari 2014.

Dia mengatakan tukang pijat bernama Edi Santoso menyatakan demikian karena hebetulan dia termasuk taat beribadah. Masih belum yakin, Lukminto lantas bertanya arti mimpi tersebut kepada Harmoko.

Harmoko (merdeka)

Harmoko (merdeka)


Lukminto dekat dengan mantan Menteri Penerangan di era Orde Baru tersebut. Sebab rumah ayah Lukminto di Kertosono bertetangga dengan rumah ayah Harmoko. “Pak Harmoko mengatakan hal serupa. Itu pertanda bahwa Lukminto diminta memeluk Islam,” ucap Ketua Pembina Yayasan Lailatul Qadr Sukoharjo tersebut.

Setelah itu, Lukminto mantap memeluk Islam dengan dibimbing Muhammad Amir. Lukminto membaca dua kalimat syahadat pada Mei 1995 di masjid Baitus Syukur di kompleks pabrik PT Sritex di Sukoharjo.

Selanjutnya Amir mendampingi Lukminto dalam menjalankan syariat Islam. Misalnya tiap Jumat mengajari salat baik di rumah atau di pabrik. “Pak Lukminto juga beberapa kali naik haji dan menjalankan umrah,” katanya. Dia tiga kali mendampingi Lukminto naik haji, yaitu pada 1996, 1998, dan 2000.

Lukminto juga berperan dalam mengelola pondok pesantren. Yaitu pondok pesantren Lailatul Qadr di dekat pabrik Sritex di Sukoharjo. “Ponpes itu didirikan Pak Harmoko. Pak Lukminto menjadi anggota dewan pembina bersama Pak Agung Laksono dan Wakil Bupati Sukoharjo,” ucapnya.

Dari 40 ribu karyawan Sritex Group, 85% Muslim. Dengan beberapa kekurangannya sebagai manusia yang harus ditutupi, tercatat beberapa keberpihakan Lukminto kepada Islam dan kaum Muslimin. Sumber arrahmah.com menyebut, setiap akan mendirikan pabrik, maka yang pertama kali dibangun olehnya masjid terlebih dahulu, dia mendirikan pondok pesantren di Surakarta, mengumrohkan banyak karyawannya setiap tahun, dan berencana mendirikan SMK Tekstil gratis untuk kepentingan pabrik umat Islam. Direktur-direktur dari 8 pabriknya Muslim semua kecuali satu dan itu karyawan asing (WNA).

Pendiri dan pemilik PT Sri Rejeki Isman Textile (Sritex) Tbk., H Muhammad Lukminto, meninggal dunia di Singapura pada Rabu, 5 Februari 2014 pukul 21.40 waktu Singapura. Rencananya jenazah dimakamkan pada 16 Februari 2014 di pemakaman keluarga di Delingan, Karanganyar.

Kontroversi Pemakaman Lukminto

Foto: jatengonline.com

Foto: jatengonline.com


Prosesi jenazah secara Islam dipimpin oleh KH Muh Amir SH Pimpinan Pondok Pesantren  Lailatul Qodar Keteb Sukoharjo ulama yang menuntun pertama kali Loekminto masuk Islam.

Sementara secara adat Tionghoa, keluarga besar almarhum Loekminto melakukan penghormatan terakhir dipandu oleh Aji Chandra dari MAKIN (Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia) Surakarta.

Pimpinan Pondok Pesantren  Lailatul Qodar Keteb Sukoharjo, melafalkan ayat-ayat suci Al Qur’an, seiring redanya badai pasir, prosesi pemakaman dilanjutkan kembali. HM Lukminto Adi Nagoro di kebumikan dipemakaman keluarga ‘Shri Garden’ Delingan, Karanganyar. Minggu (16/02/2014).

Ribuan orang menghantarkan ‘Bos Sritex’ ke peristirahatan terakhir. Beriringan dari rumah duka Thiong Ting menuju pemakaman, terasa kian miris melihat pemandangan di sepanjang jalan nampak ribuan orang berseragam biru-biru seragam khas karyawan PT Sritex  melambaikan bendera kecil dan poster ucapan bela sungkawa.

Hadir pada acara pemakaman sahabat masa kecil almarhum, yakni  H Harmoko mantan Menteri Penerangan Orde Baru dan Menpora RI KRMT Roy Soeryo mewakili Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Hadi Poernomo, Pangdam IV Diponegoro Mayjen Soenindyo, Bupati Karanganyar Yuliatmono. Selain turut berbela sungkawa, mereka hadir untuk memberikan penghormatan yang terakhir.

Pemakaman Tidak Sesuai Wasiat Almarhum

Pihak keluarga yang Thionghoa, beralasan penyemayaman jenazah H.M. Lukminto selama 10 (sepuluh) hari di rumah duka Thiong Ting yang biasa digunakan kremasi dan prosesi jenazah Cina kafir dengan alasan budaya dan kebiasaan Thionghoa, namun hal ini dinilai  tidak sesuai dengan wasiat almarhum HM. Lukminto, yang meminta hidup dan matinya dengan cara Islam. Hal ini dapat juga dikategorikan menghalangi pelaksanaan ajaran agama Islam dalam hal penyelenggaraan pemakaman jenazah.

Pada saat jenazah Owner Sritex Grop, H. Muhammad Lukminto, tiba di pabrik malam itu sekira jam 23.00 Kamis (6/2/2014), disambut ribuan  karyawan yang telah menunggu dari siang hari, mereka membentuk pagar betis beserta warga sekitar untuk mendoakan jenazahnya dengan cara men-shalatkannya. Sebelum dishalatkan keluarga HM Lukminto  ditanya oleh pembimbing Islam Lukminto sekaligus Bintal Sritex Group KH. Muhammad Amir, apakah jenazah sudah dimandikan dan dikafani atau belum? Jawab keluarganya sudah  dan peti jenazah tidak boleh dibuka. Jawaban ini sesungguhnya tidak memuaskan kaum Muslimin yang hendak menyelenggarakan jenazah secara Islam, lantaran beberapa hal.

Menurut pengalaman salah seorang tokoh Thionghoa, RS Mount Elizabet Singapura itu milik orang kafir dan tidak ada bagian untuk mengurusi jenazah secara Islam. Apalagi putri Lukminto yang domisili di Singapura juga non muslim. Ditambah lagi banyak kejadian yang diceritakan perihal pemurtadan mayat kaum Muslim keturunan Cina yang kemudian diupacarakan secara Kristen.

Dari informasi yang dihimpun, tidak sedikit terjadi ketegangan antara pihak keluarga yang Muslim dengan keluarga lain yang non muslim tentang penyelenggaraan jenazah dan pemakamannya. Sehingga pernah terjadi, sebagaimana dituturkan oleh sumber arrahmah.com,  yang menimpa seorang pengurus PITI cabang Jawa Tengah, dimana berujung pada kompromi perlakuan pada jenazah; mayat dikafani sekaligus diberi pakaian lengkap layaknya mayat orang Kristen kemudian diletakkan di dalam peti mati yang diberi tanah di dalamnya. Setelah itu baru jenazah dikuburkan bersama peti-petinya. Tetapi banyak pula jenazah Cina Muslim yang dikremasi alias dibakar karena tak ada yang protes dan tidak ada yang mengetahui.

Beberapa media lokal menyebut jenazah HM Lukminto disemayamkan di Thiong Ting bukan di rumahnya di Puri Baron. Thiong Ting adalah tempat yang dahulu untuk kremasi mayat (pembakaran mayat). Hal ini dilakukan karena keluarga Lukminto yang non muslim masih memegang budaya China, yang tak membawa jenazah ke rumah. Kejadian ini juga disebut-sebut oleh aktivis Islam ada kaitannya dengan kerajaan bisnis yang sekarang banyak membantu kegiatan kaum Muslimin dan politisasi supaya bisa dialihkan pada kepentingan pihak-pihak di luar Islam yakni gereja.

Maka karena mengurus jenazah adalah fardlu kifayah bagi umat Islam. Dalam hal ini umat Islam Surakarta sebagai yang domisilinya dekat wajib menyelengarakannya secara Islam. Kaum Muslimin minta kepada keluarga untuk segera menguburkan HM Lukminto secara Islam. Kalau tidak secara menyeluruh kaum Muslimin seluruh dunia ikut berdosa. Jika ada pihak yang menghalangi harus dituntut secara hukum karena menghalangi umat Islam melaksanakan kewajiban melaksanakan ajaran agamanya.

Mengantisipasi kejadian serupa dibelakang hari mengingat betapa banyak Muslim dari saudara kita keturunan Cina. MUI Pusat harus mengeluarkan fatwa bagaimana kewajiban umat Islam menyelenggarakan pemakaman jenazah untuk para mualaf yang sering dihalang-halangi keluarga dan pihak-pihak tertentu.


Profil H. Muhammad Lukminto:

Screenshot_2016-08-30-12-52-54_1

  • Nama Asli:  Ie Djie Shin
  • La­hir: Ker­to­so­no, 1 Ju­ni 1946
  • Is­tri: Sie Lee Hwie (Su­sya­na)
  • Orang­tua:  Djie Sing You dan Tan Pik Giok

Anak :

  1. Von­ny Imel­da Luk­min­to
  2. Iwan Se­tia­wan Luk­min­to
  3. Len­ny Imel­da Luk­min­to
  4. Iwan Kur­nia­wan Luk­min­to
  5. Mar­ga­ret Imel­da Luk­min­to

Pen­di­dik­an :

  • Se­ko­lah Rak­yat di Ke­di­ri
  • SMP di Ke­di­ri
  • SMA Chong Hua Chong Hui (sam­pai Ke­las II)

Karir :

  1. Presiden Direktur PT Sritex (2006-akhir hayat)
  2. Dirut PT Griya Asri Hidup Abadi (2005-akhir hayat)
  3. Vice President Director PT Sritex (1999-2005)
  4. Asisten Direktur  PT Sritex (1997-1998)

Peng­har­ga­an :

  1. Peng­har­ga­an Mu­ri atas pe­nye­dia se­ra­gam ang­kat­an ber­sen­ja­ta di du­nia de­ngan jumlah ter­ba­nyak, 16 ne­ga­ra, 2007
  2. Peng­har­ga­an Mu­ri atas pem­ra­ka­sa dan pe­nye­lang­ga­ra pem­bu­at­an de­sain ka­in ter­banyak se­ba­nyak 300.000 de­sain, 2007
  3. Peng­har­ga­an Mu­ri atas per­usa­ha­an yang me­lak­sa­na­kan upa­ca­ra ben­de­ra pa­da tang­gal 17 se­tiap bu­lan.

Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s