Kejanggalan Bom Bunuh Diri di Medan

Tulisan Tauhid Salah

Hampir semua aksi-aksi teror pasti dilakukan Oleh yang Beragama Islam, hal ini dapat dilihat dari berbagai bukti salah satunya Tulisan…. Seperi Pelaku BOM GEREJA di Medan, di jumpai KTP dan juga Tulisan kalimat Tauhid, tapi yang anehnya Tulisan Tauhid itu salah…. Semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang membuat bingung, kenapa selalu Islam di Pojokkan hanya karena Tulisan Arab..? tidak memandang Salah atau benarnya Tulisan Arab tersebut, padahal di Negara Arab sana saja banyak agama Kristen yang menggunakan Tulisan Arab juga….. Tapi Kenapa Islam selalu di Salahkan..?

Penulisan Arab apabila salah satu huruf saja pasti akan lain artinya, sangat di sayangkan seumpamanya ada pihak-pihak yang akan membuat kegaduhan di Kota Medan, aksinya sudah ketahuan dengan salah satu bukti ini.

Screenshot_2016-09-01-05-52-11_1

E-KTP Pelaku Bom di Medan Tidak Terdaftar, Pemerintan Tiba-Tiba Blokir Situr E-KTP Online

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menegaskan situshttps://ektp.cektkp.com/ yang memuat pengecekan data Kartu Tanda Penduduk Elektronik (e-KTP), bukan milik pemerintah. Masyarakat diharapkan tidak memasukkan data Nomor Induk Kependudukan (NIK) ke situs itu.
 
“Situs itu tidak benar. Ada penumpang gelap yang sebarkan isu tak benar,” kata Tjahjo, di sela-sela Pagelaran Wayang Kulit di Kantor Ditjen Bina Pemerintahan Desa, Jakarta, Sabtu (27/8/2016) malam.
 
Direktur Jenderal (Dirjen) Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemdagri), Zudan Arif Fakrullah, mengatakan, situs palsu pengecekan e-KTP telah diblokir oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo).
 
“Sudah diblokir, karena situs itu membingungkan masyarakat,” kata Zudan, sambil memastikan bahwa data kependudukan yang berada di Dukcapil tetap aman.
 
Sebelumnya, Kemkominfo memang telah mengumumkan pemblokirkan lamanhttps://ektp.cektkp.com/ sesuai permintaan Kemdagri.
 
“Informasi tentang laman tersebut tersebar melalui berbagai media sosial dan dikaitkan dengan adanya kebijakan pemerintah melakukan rekam data e-KTP,”tulis Kemkominfo dalam pengumumannya yang dirilis di Jakarta, Sabtu (27/8/2016).
 
Screenshot_2016-09-01-06-02-00_1
 

Berikut adalah informasi hoax yang disebarkan luas di media-media sosial:

*Pengumuman*

Mendagri minta masyarakat segera mengurus rekam e-KTP, karena akan ditutup 30 September 2016, bagi yang belum terdata rekam e-KTP, data yang lama semua akan dihapus sehingga nanti susah dalam pengurusan bank, BPJS, SIM/STNK, dll.

*Tolong di-share ke teman-teman lain yang belum tahu.


Silahkan yang mau cek data KTP, sudah online belum KTP yang dipunya, segera lapor jika terjadi kesalahan. Tinggal ketik nomor KTP trus klik cek.


https://ektp.cektkp.com/
 
Pihak Kemkominfo pun meminta masyarakat masyarakat tidak menghiraukan pesan hoaxtersebut.
 

Kenapa Setiap Ada Bom Bunuh Diri selalu tinggalkan Kartu Identitas?

Seperti yang kita ketahui bahwa terdapat sebuah bom yang gagal meledak di salah satu gereja di Kota Medan.

Adapun juga turut ditemukan KTP pelaku yang juga telah diamankan karena terluka akibat bom yang dibawanya.

Menanggapi peristiwa ini, aktivis sosial media, Jonru memberikan tanggapannya soal keanehan yang terjadi di lokasi.

KTP Pelaku bom bunuh diri di Medan.

KTP Pelaku bom bunuh diri di Medan.


Ia menyoroti ditemukannya sebuah KTP pelaku tersebut yang tertulis agama pelaku adalah Islam. Ia merasa aneh dengan ditemukannya identitas para pelaku teror bom bunuh diri.

Mengapa selalu ada identitas yang tertinggal dan kenapa harus selalu beragama Islam? Begini kutipan Jonru yang sudah Satelitnews.com kutip dari laman facebooknya:

Ada bom yang meledak di sebuah gereja di Medan. KTP pelakunya ditemukan. Di situ tertulis dia beragama Islam.

Secara pribadi, saya mengucapkan ikut berduka atas insiden ini. Pelaku terorisme, siapapun dia, sangat layak kita kutuk sekeras-kerasnya.

Namun izinkan saya menyampaikan sebuah keheranan:
Pada setiap aksi terorisme yang pelakunya – katanya – Islam, kenapa selalu ada KTP atau Paspor yang tertinggal di lokasi?

SECARA LOGIKA, seorang teroris tidak akan mau jika identitasnya diketahui. Mereka tak akan mau dengan bodohnya membawa KTP atau tanda pengenal lainnya saat beraksi.

Namun sungguh aneh! Setiap kali ada ada aksi terorisme yang pelakunya – katanya – Islam, kenapa selalu ada KTP yang ditemukan di lokasi?

Bahkan pada bom Paris, ditemukan paspor yang masih sangat utuh, tanpa rusak sedikit pun, padahal semua benda lain di sekelilingnya sudah hancur dan hangus berantakan.

Sungguh ajaib!

Irvan Armadi Hasugian Mengaku di Suruh Orang Lain

IAH (17) mengaku disuruh orang lain untuk melakukan penyerangan di Gereja Santo Yoseph, Medan. IAH dibekuk jemaat gereja yang reaktif ketika dia berusaha menyerang pastor Albert.
 
Dirkrimum Polda Sumatera Utara Kombes Pol Nur Fallah mengatakan bahwa IAH mengaku ada orang lain yang menyuruhnya. Namun Nur Fallah tidak mengungkap lebih lanjut.
 
“Sampai saat ini, pelaku mengaku disuruh oleh seseorang,” kata Nur Fallah, Minggu (28/8/2016).
Screenshot_2016-09-01-06-08-26_1
 
Nur Fallah pun menegaskan bahwa kasus ini masih dalam pengembangan. Tidak tertutup kemungkinan adanya tersangka lain dalam kasus tersebut.
 
“Masih dikembangkan. Dalam waktu dekat nanti akan kita sampaikan,” ucapnya.
 
Saat ini, pelaku tengah dirawat tim medis karena mengalami luka-luka saat dibekuk jemaat gereja. Polisi menyebut motif perbuatan pelaku yaitu pembunuhan berencana.
 
Sementara itu, barang bukti yang berhasil diamankan polisi yaitu pisau, sepeda motor dan ransel yang diduga berisi bom yang dibawa IAH.

 
Polisi masih terus mendalami motif dari Ivan Armadi Hasugian,yang menjadi pelaku teror bom di gereja Katolik St Yoseph Jl Dr Mansyur Medan, Minggu 28 Agustus 2016. Pengakuan sementara dari warga Jl Setia Budi Gang Sehati Tanjungsari Medan ini kepada polisi, dia disuruh seseorang untuk melakukan aksinya. Akibat perbuatannya, Pastor Albert Pandiangan mengalami luka di lengannya.
 
Siapa sebenarnya Ivan Armadi Hasugian? Di lingkungan rumahnya, dia dikenal sebagai pemuda yang pendiam dan taat beribadah. Tak ada perilakunya yang menyolok yang menunjukkan dirinya bergabung ke kelompok radikal. Meski beberapa hari terakhir, sering terdengar ada suara keras mirip ledakan dari kediamannya. Memang saat polisi menggeledah, ditemukan beberapa bahan yang dicurigai untuk pembuatan bom.
 
Berdasarkan informasi yang diperoleh Ivan Armadi Hasugian merupakan anak seorang pengacara bernama Makmur Hasugian. Meski tinggal di Medan, keluarga ini ternyata berasal dari Dusun Napa Horsik, Desa Marpadan, Kecamatan Tarabintang, Kabupaten Humbahas. Keluarga besar mereka memang merupakan muslim yang taat sejak dulu.
 
Kepala Desa Marpadan Wansitor Sihotang yang dikonfirmasi melalui telepon seluler, mengaku kenal baik dengan Makmur Hasugian, orangtua dari Ivan Armadi Hasugian. “Makmur Hasugian sekeluarga, semua saya kenal. Benar, asal mereka dari Dusun Napa Horsik, Desa Marpadan, Kecamatan Tarabintang Kab. Humbang Hasundutan  ini,”ujarnya.
 
Wansitor mengaku kaget mendengar berita teror bom tersebut. “Tidak ada yang aneh selama ini. Mereka orang baik-baik. Semua keluarga besarnya ada di sini. Mereka dari dulu memang merupakan muslim yang taat. Di sini walau berbeda agama, hidup berdampingan dengan damai. Kami kaget mendengar kabar ini,”katanya.
 

Teror Bom Gereja di Medan, Operasi Intelijen Hitam Untuk Menyudutkan Islam

Pengamat politik Ahmad Baidhowi mengatakan, adanya teror bom di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep, Medan, Sumatera Utara, Ahad (28/8) lalu adalah bagian dari operasi intelijen hitam untuk menyudutkan Islam dan mengalihkan kasus penguasa yang jadi sorotan rakyat.

“Saya melihat teror ini bentuk operasi intelijen dengan melakukan penyusupan anak-anak muda yang punya semangat Islam tinggi tentang Jihad tetapi sedikit ilmu,” ungkap Baidhowi dalam pernyataannya.

Menurutnya, dengan adanya teror bom ini nama Islam menjadi tersudut. “Maka akan muncul Islam phobia dan dianggap Islam agama teror,” jelas Baidhowi.

Kata dia, dalam operasi intelijen hitam ini bukan membentuk jaringan tetapi hanya doktrinasi bisa melalui media sosial bahkan pertemuan langsung. “Memang sengaja tidak ada jaringan tetapi simpatisan dan doktrinasi serta tindakannya sporadis,” ungkap Baidhowi.

Ia mengatakan, tindakan teror seperti di Medan ini akan terus berlanjut. “Dimulai dari Solo bom bunuh diri di depan kantor polisi, gereja di Medan dan kemungkinan di Jakarta dan kota-kota besar lainnya,” paparnya.

Kata Baidhowi tindakan teror ini mempunyai tujuan besar di saat pembahasan undang-undang antiterorisme di DPR. “Saya melihat ada rangkaian ke arah pembahasan undang-undang antiterorisme di DPR,” pungkasnya.

Seperti diketahui, telah terjadi teror bom bunuh diri di Gereja Katolik Stasi Santo Yosep di Jalan Dr Mansur Nomor 75 Medan, Sumatera Utara, Ahad (28/8). Teror bom bunuh diri tersebut menyebabkan pengkotbah di gereja itu, Pastor Albert S. Pandingan, mengalami luka ringan di bagian lengan kiri.

Beberapa saksi menceritakan, peristiwa itu terjadi ketika Pastor Albert S. Pandingan hendak berkotbah di mimbar, namun tiba-tiba seorang laki-laki yang diduga berinisial IAH menghampiri pastor tersebut sambil membawa sebuah bom rakitan dalam tas dan sebilah pisau.


Oleh: BARA LUBIS

SOAL BOM > Wahai insan pers di Medan – berlaku jujurlah..

Kabar ‘Gembira’ untuk insan pers di Medan hari ini. Ya.. dengan adanya BOM paling tidak media di medan hari ini dimanjakan dengan fakta fakta yang dapat dikembangkan karen ‘BOM’ bunuh diri di Gereja Katolik di dr Mansur Medan. baik profile korban, latar belakang tujuan, komentar pakar, komentar ini itu semuanya bisa jadi sangat menarik….

Aku tak mau berkonfrontasi dengan kawan kawan wartawan di Medan. secara banyak diantara mereka juga sahabat sahabat ku juga. dan aku juga tak mau melarikan inti dari persoalan BOM di Medan – karena bagiku kejahatan utama bagi umat Islam adalah bagaimana dia memandang siapa yang beragama (selain Islam) menjadi target pembunuhan.

ini bukan soal perang agama – tapi ini soal perang peradaban.

Melihat kejadian ini – tentu saja kita semua mengecam. tapi aku berharap media jangan cari masalah dengan umat Islam. beritakanlah secara proporsional dan cara yang jujur…

Tentu saja insan pers tau dapat dari mana KTP itu – dan posisi lebel kalimat tauhid (yang identik ISIS) itu ada di mana. jika pun benar kalau itu ada di dompet pelaku atau darimalah – tapi bukankah perubahaan posisi dalam memfoto di samping dan di bawah lambang itu – dan mendekatkanya saat di foto menyertakan lambang itu menunjukkan fakta kalau kalian ingin sebut bahwa Irvan adalah bagian dari gerakan teroris Internasional? yang secara saat ini, akibat opini itu kalian juga membantu kampanye bahwa ‘Islam identik dengan terorisme’?

Skenario barat sudah berjalan – jangan pula insan pers di Medan latah untuk membenarkan skenario itu.

Aku banyak kenal temen temen wartawan di medan – dan mereka banyak yang muslim dan baik baik. tapi bagiku hal begini sungguh membuatku sedikit agak miris.

Dan ini bukan upaya untuk mengajari mereka dalam peliputan dan membuat berita. Karena aku yakin mereka dalam urusan itu sudah pada berpengalaman.

Tapi ini upaya untuk menjalan kewajiban untuk saling menasehati dan saling mencintai..

“Tidaklah sempurna iman seseorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)

Silakan di Tanggapi Tulisan dan Pendapat bang BARA LUBIS tersebut tanpa mencaci dan memaki…

 

Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s