Hakikat Kebohongan Aura

Aura adalah sebuah medan yang diduga dipancarkan oleh tubuh manusia.

picsart_10-20-03-54-35

Katanya ada orang yang bukan hanya dapat melihat aura, tapi bahkan mampu memakainya untuk mendiagnosa apapun dari penyakit sampai masalah kejiwaan. Di Iran, aura di sebut farr atau keagungan : ia diasosiasikan dengan raja-raja Zoroaster . Teosofis abad ke-19, Charles Leadbeater bahkan telah membuat deskripsi tiap warna dan maknanya bagi kejiwaan seseorang.

Berdasarkan penjelasan itu seorang yang kritis tentunya bertanya, kenapa ada orang yang bisa sementara yang lain tidak? Bagaimana kalau sains menyelidikinya karena alat optik sains lebih objektif daripada mata manusia? Kenapa dokter tidak memakainya untuk mendiagnosa pasien?

Tentang Mata

Pertanyaan pertama bisa dijawab dengan mudah. Karena ada orang yang sehat dan ada yang sakit. Mengejutkannya, orang yang sakitlah yang bisa melihat aura. Sakitnya adalah migren. Anda pernah migrain? Bila pernah, mungkin anda bisa merasa melihat aura. Selain migrain, sakit lain yang bisa membuat penderita melihat aura adalah epilepsi, gangguan sistem penglihatan dan sejenis gangguan otak. Selain itu juga ditemukan  jenis sinestesia yang juga menampilkan aura. Sinestesia dalam arti medis adalah konsleting syaraf indera. Karena syaraf kita pada dasarnya adalah jaringan listrik, ada kemungkinan konslet. Dan saat syaraf mata konslet dengan syaraf kulit, apa yang dirasakan oleh kulit justru terlihat oleh mata.  Narkotika LSD juga dapat membuat seseorang melihat aura.

Aura yang dilihat para penderita ini memang berbeda dari aura yang diklaim dilihat oleh para ahli aura. Menurut para ahli aura, kamu bisa melihat aura dengan jalan melihat ke sebuah benda yang diletakkan di depan latar belakang putih dalam ruangan yang redup. Kamu akan melihat aura. Kenapa? Karena kamu mengalami gangguan sistem penglihatan, namanya kekakuan retina atau mata terbakar (eye burn), bukan karena kamu membuka kekuatan spiritual tersembunyi. Hal yang sama juga dapat kamu lakukan dengan melihat pola hitam putih.


img_20161020_154915

Begini mekanismenya, mata manusia tidak berevolusi untuk merekam dunia luar. Saat melihat benda benda berwarna, mata tidak mengirim citra salinan yang bersinambungan ke otak. Otak sendiri yang memasok sebagian besar citra berdasarkan pengalaman, bukan dari mata. Karenanya, bahkan bila aura terlihat, ini bukan bukti kalau ada medan energi di dunia fisik atau supernatural. Besar kemungkinan kalau ia adalah ilusi yang dibuat oleh otak kita.

Potret Aura

Lalu bagaimana dengan pertanyaan kedua? sebuah instrumen ilmiah untuk menilai secara objektif keberadaan aura? Para pendukung aura mengajukan kamera Kirlian. Bagaimana?

Bulan November 1988, Arleen J Watkins dan William S.Bickel membahas mengenai photo Kirlian. Menurut mereka photo Kirlian tidak ada hubungannya dengan keadaan fisiologis, psikologis atau kejiwaan seseorang. Ia tidak ada hubungannya dengan aura, gaya hidup, bio plasma atau Pranamaya Kosha. Ia adalah fenomena fisika yang terjadi karena pelepasan tegangan tinggi (15 – 60 kilovolt) dengan frekuensi tinggi pada benda yang diletakkan pada sebuah lapisan film. Saat benda tersebut diletakkan di film fotografi, ia menutup rangkaian arus, sehingga terjadi pelepasan muatan antara benda dan elektroda tegangan tinggi. Pelepasan ini menciptakan sebuah pendaran warna warni di udara yang tampak oleh mata manusia sebagai apa yang disebut orang sebagai aura.  Aura adalah fenomena fisika dan dapat direkam langsung di film fotografi dan pelat foto. Benda tersebut bisa manusia dan tidak berbahaya selama elektroda tersebut berada cukup jauh, katakanlah di balik tirai di kiri kanan panggung atau stand pemotretan. Dan jadilah potret manusia yang diselimuti cahaya warna warni.

Tapi bisa jadi kan kalau warnanya ditentukan oleh manusia tersebut? Elektroda listrik hanya berfungsi sebagai alat, sama dengan kamera tersebut. well, nerdasarkan penelitian mereka, ditemukan kalau struktur aura memiliki 22 parameter yang harus dikendalikan sebelum dapat ditarik kesimpulan bahwa warna aura tersebut berhubungan dengan emosi, energi kejiwaan, kondisi pikiran, perasaan, penyakit dan sebagainya.

Watkins dan Bickel menyimpulkan kalau aura Kirlian adalah citra visual atau fotografi dari pelepasan korona dalam gas, terutama pada gas yang lembab. Bentuk, ukuran, intensitas dan strukturnya bukan tergantung pada emosi segala macam, tapi pada waktu eksposure, konduktivitas, frekuensi sinyal, tegangan dan sifat fotografi film atau plat yang digunakan.

Mahluk hidup itu lembab. Saat listrik memasuki mahluk hidup, ia menghasilkan daerah ionisasi gas di sekitar benda yang dipotret, sejauh benda tersebut lembab. Kelembaban ini ditransfer dari subjek ke permukaan emulsi di pelat fotografi atau film fotografi. Jika potret diambil dalam ruang hampa udara, dimana tidak ada gas terionisasi, tidak akan ada citra Kirlian. Bila citra Kirlian karena medan energi hidup dasar yang dimiliki paranormal, tentunya ia tidak lenyap dalam ruang hampa udara toh?

Di festival atau pasar malam dadakan, ada cukup banyak listrik. Untuk mulai, minta seorang pengunjung yang tertarik untuk bayar katakanlah 40 ribu rupiah untuk dipotret auranya selama 5 menit. Letakkan tangannya di atas semacam lempengan detektor. Pelat ini mengukur perubahan dalam aktivitas kelenjar keringat tangan. Istilah ilmiahnya galvanometri. Ia sudah dipakai sejak lama di mesin pendeteksi kebohongan (yang ternyata kebohongan itu sendiri). Lalu bicaralah seperti pesulap, pembaca nasib atau refleksiologi, dengan mengatakan kalau bagian tubuh ini itu menunjukkan aura ini itu. Lalu dengan sedikit kemampuan teknik listrik dan pengukuran, kamu siapkan sebuah alat. Alat ini tentunya sudah dirancang sedemikian rupa. Cara kerja alat ini adalah melalui pikiran. Ya, pikiran. Kamu pikirkan warna apa yang cocok untuk tegangan sekian, warna apa yang cocok untuk tegangan sekian dan sekian. Lalu pola tegangan yang muncul dari pembacaan galvanometri tadi diterjemahkan lewat komputer atau alat khusus buatan teknologi aura. Setelah itu akan terbentuk pola warna tersendiri. Sang klien lalu di potret dan letakkan pola warna dari konduktivitas tapak tangan klien tersebut di potretnya. Hasilnya, Jreng! Sebuah potret Aura. Teknik ini lebih aman, praktis dan sering dipakai dibandingkan dengan teknik tegangan tinggi tadi. Ketimbang memotret udara yang mengelilingi klien, kita memotret pola konduktivitas keringat di tangan klien dan menempelkannya di potret asli sang klien. Auranya sendiri berasal dari kamera kita, bukan dari manusianya. Dan aura itu kita sebut aura semata karena, well, warna warni dan berpendar.

Teknik lain yang lebih modern adalah meletakkan ruang khusus di depan kamera biasa yang ditempeli LED. Itu loh, lampu warna warni kecil bertegangan rendah yang dipakai di perangkat elektronik. Jangan sampai terlihat klien. Begitu klien di potret, bukan hanya cahaya dari klien yang tertangkap, tapi juga dari LED internal di kotak tambahan di depan kamera tersebut. Jadilah potret Aura.


img_20161020_155022


Usaha memotret aura sudah lama ada. Sebuah percobaan yang lebih tua lagi, saat sinar X baru ditemukan, sudah coba dilakukan untuk memotret roh yang ada di tubuh manusia. Dr Duncan Mac Dougall tahun 1911 mengajukan proposal kalau roh manusia bisa di potret dengan sinar X, dengan melihat potret saat orang itu hidup dan sesaat setelah ia meninggal. Tidak jelas apa kesimpulan dari penelitian ini atau apakah penelitian ini memang dilakukan, tapi tampaknya dari sinilah gagasan untuk memotret aura manusia lewat foto Kirlian. Usaha yang sama dilakukan Dr Walter Kilner dengan memakai sinar ultra violet dan akhirnya penemu potret Kirlian, Semyon Davidovich Kirlian, seorang insinyur listrik, tahun 1939.

img_20161020_154853

Jadi jika foto kirlian tidak memotret aura, mata sebenarnya berdelusi dan sinar X tidak dapat membuktikan keberadaannya, bagaimana tes yang lain? Ada cara lain? Tentu saja. Jika manusia memiliki aura, aura ini pastilah memiliki ruang atau jarak. Artinya bila seseorang dapat melihat aura, mereka tentunya dapat melihat aura walaupun orang yang memancarkan aura tersebut di halangi. Begini loh, seperti gerhana matahari. Orang bisa melihat korona matahari dengan jelas saat gerhana karena bulan menghalangi matahari sementara koronanya tidak. Sayangnya pengujian demikian, bahkan dengan iming-iming 1 juta dollar dari James Randi, tidak dapat membuktikan adanya aura. Orang yang mengaku bisa melihat aura hanya semata menebak.


Aplikasi Kedokteran

Pertanyaan ketiga sepertinya tidak perlu dijawab lagi. Walaupun ada banyak orang, seperti Berverly Rhodes, yang memakai tongkat ajaib untuk membuat orang merasa sehat dengan terapi aura, di dunia kedokteran terapi aura tidak ada. Kenapa? Karena ia hanyalah mitos.

Langkah pertama dalam menguji klaim aura adalah mengetahui apakah sang paranormal bisa melihat aura tersebut. Kalau bisa, barulah kita memeriksa apakah penafsirannya benar atau salah. Dan seperti telah dibahas di atas, kemungkinan seorang paranormal yang mengaku melihat aura tidak lebih dari 50%. Semata menebak. Bahkan saat sang paranormal di iming-imingi hadiah 10 miliar rupiah. Jadi apa yang mau dipakai buat kedokteran coba?[1]

Pemanfaatan Aura atau energi keghoiban yang juga kadang di istilahkan dengan prana, chi, ki, manna, ruah, energi Ilahi atau karomah dari luar tubuh yang kita serap untuk memperoleh tenaga dalam dari hasil doa, sugesti, daya visualisasi dibarengi gerak tubuh dan olah pernapasan harus kita koreksi kebenarannya.

Aura menurut konsep New Age Movementadalah medan energi yang pada hakekatnya merupakan nafas hidup yang bersifat ilahi (micro cosmos) yang sehakekat dengan sumbernya (macro cosmos) yaitu nafas alam semesta (pantheisme/mistik). Memang foto Kirlian yang dikembangkan oleh dua peneliti Rusia bernama Semyon & Valentina Kirlian yang menemukan sistem pemotretan yang kemudian dikaitkan dengan nama mereka. Dalam fotografi ini, film standar diletakkan diantara generator tegangan tinggi dan obyek yang akan difoto (misalnya tangan).

Melalui penyaluran muatan rendah selama satu sampai dua menit terbentuklah bayangan di film tersebut. Apakah gambaran foto tersebut identik dengan Aura? Penelitian tidak menunjukkan ini terbukti, sebab simpul-simpul yang terlihat pada foto cahaya Kirlian tubuh tidak identik dengan simpul-simpul pusat energi yang ada dalam kepercayaan pengobatan gerakan zaman baru (7 Cakra dipercayai dalam Yoga). Memang benar bahwa dari kulit keluar panas badan yang diimbulkan oleh kegiatan mekanisme tubuh, tetapi itu berbeda dengan konsep Aura sebagai badan wadag dalam kebatinan.

Sekarang ini sudah ada yang berusaha untuk bisa membuktikan atau mengklaim eksistensi energi keghoiban, melihat aura bahkan roh dengan menggunakan peralatan modern seperti dengan menggunakan foto aura atau foto kirlian.

Di Jakarta pada lantai satu pertokoan Grand ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan, ada toko bertuliskan “Xing Passion Reflexiology & Aromatherapy“. Toko itu milik Tom Suhalim yang mempunyai Aura Video Station yang dibeli dari Jerman seharga sekitar US$ 25.000 (dengan kurs sekarang sekitar Rp 226 juta). Harga tersebut untuk satu paket software lengkap dengan beberapa peranti tambahan, seperti kartu PC dan kamera. Cara penggunaannya tubuh seseorang harus menghadap ke arah kamera di atas layar monitor, lalu seluruh ujung jari dimasukkan ke sebuah alat berbentuk seperti telapak tangan. Alat tersebut terbuat dari logam dan langsung terhubung ke PC.

Setelah software Aura Video Station diaktifkan, wajah dan aura yang melingkupinya langsung terlihat. Tidak hanya itu, chakra yang ada dalam diri seseorang pun tampil.Apakah benar suatu hakikat bahwa Aura Video Station bisa membuktikan bahwa yang nampak pada layar monitor adalah aura atau lapisan tubuh bahkan chakra-chakra manusia?

Sesungguhnya kajian ilmu pengetahuan metafisika sekarang ini mengenai lapisan tubuh halus atau aura tubuh, sinar energi adalah asumsi lama tentang teori sinar yang telah dibantah oleh Albert Einstein dengan teori relatifitasnya, sebagaimana diungkapkan oleh Dr.Abdul Muhsin Shalih. Dr.Abdul Muhsin Shalih dalam bukunya Al-Insan al-Hair baina al-Ilm al-Khurafah dengan argumentasi ilmiah dengan dilengkapi dengan foto mengungkapkan bahwa perkiraan berhasilnya foto kirlian atau foto aura dalam memotret atau melihat tubuh eterik atau roh adalah kesalahan atau bentuk penipuan ilmah.

Selanjutnya beliau menjelaskan bahwa sinar bias yang nampak dalam foto kirlian adalah hasil alami proses pengaruh elektrik terhadap film.Sinar bias ini timbul karena bagian tubuh orang itu berada dalam lapangan electro magnetik yang berfrekuensi 2 megacycle atau potential difference ukuran 500 volt.Foto semacam ini telah ditemukan 60 tahun yang lalu,hasil statik electrik yang objeknya diletakkan di bawah pengaruh daya electro magnetik atau gelombang-gelombang radiasi yang mempengaruhinya agar timbul loncatan-loncatan gelombang. Pada saat gelombang-gelombang ini bertabrakan dengan film sensitif dari jenis tertentu, film itu terpengaruh sehingga akan nampak sesuatu seakan-akan bercampur dengan bias cahaya.

Selain itu timbulnya bias cahaya atau sinar yang bisa berbeda warna dan intensitasnya tidak lain diakibatkan karena perbedaan panas tubuh yang dapat berfluktuasi pada keadaan fisiologis tubuh (jika marah atau stres maka tubuh akan lebih panas atau jika takut atau sedih tubuh akan lebih dingin sebab mengeluarkan keringat dingin. Dapat juga karena keadaan situasi lingkungan) atau pengaruh perbedaan daya radiasi electro magnetik. Namun pada kenyataannya dikultuskan dan dikeramatkan dianggap sebagai roh, aura, lapisan tubuh bahkan energi Reiki, Prana atau tenaga dalam.

Selain itu, kepercayaan mistik-pantheisme beranggapan bahwa manusia setiap saat mengeluarkan sinar bio-elektrik dari simpul-simpul sistem saraf perifer yang terdapat di permukaan kulit dan dari titik-titik simpul/bukaan saraf tertentu (titik akupunktur) pada alur saraf sumsum tulang belakangnya yang disebut cakra. Titik-titik ini dapat mengeluarkan sinar yang kuat maupun lemah tergantung pengembangannya oleh manusia tersebut. Energi bio-listrik tersebut dipercaya semula tidur di tulang ekor (Cakra Muladhara) dan melalui rangsangan dengan teknik pernapasan Kundalini bergerak melalui 7 cakra menuju ke otak (Sahasrara Cakra). Bila energi itu sudah mencapai ke otak maka kepala itu akan memancarkan sinar, dan sinar yang menyelimuti tubuh orang itu disebut Aura.

Ada anggapan bahwa ‘medan energi’ atau yang disebut ‘aura’ dalam penyembuhan/kesehatan holistik itu dianggap terbukti dengan penemuan fotografi ‘Kirlian.’ Pada tahun 1940 peneliti Rusia bernama Semyon & Valentina Kirlian menemukan sistem pemotretan yang kemudian dikaitkan dengan nama mereka. Dalam fotografi ini, film standar diletakkan diantara generator tegangan tinggi dan obyek yang akan difoto (misalnya tangan). Melalui penyaluran muatan rendah selama satu sampai dua menit terbentuklah bayangan di film tersebut.

Hasil fotografi Kirlian menunjukkan bahwa dari permukaan tangan yang difoto terpancar aliran sinar yang menakjubkan seakan-akan ada bunga api keluar dari kulit. Pada foto-foto manusia, sinar berwarna warni itu berubah dalam ukuran dan intensitasnya tergantung kondisi mental orang yang difoto. Banyak yang menyimpulkan foto itu tidak lain hanya merupakan gambaran dari perubahan fisiologis yang berlanggsung dipermukaan kulit yang terbaca foto seperti misalnya variasi kelembaban kulit, penampilan temperatur atau kondisi listrik yang berubah-ubah pada permukaan kulit, tetapi bagi para penganut ‘mistik-pantheistik’ fotografi Kirlian lalu dianggap menunjukkan adanya aura energi dalam tubuh manusia.

Sekalipun beberapa ahli mencoba mencocok-cocokan lokasi titik-titik konsentrasi sinar pada fotografi itu yang dianggap sebagai reaksi listrik dalam tubuh dengan titik-titik akupunktur banyak juga yang menolak. Thelma Moss, ahli jiwa medis UCLA, banyak melakukan penelitian pada metoda fotografi Kirlian dan menemukan banyak sekali titik-titik yang tidak sama dengan titik-titik dalam akupunktur, bahkan dokter Felix Mann yang merupakan spesialis akupunktur yang terkenal di Inggeris kemudian melepaskan keyakinan mengenai kebenaran ilmiah akupunktur. Ia sekarang menganggap bahwa interaksi kompleks antara kulit, otot, dan organ dalam, semuanya diantarkan oleh sistem saraf yang juga kompleks bertanggung jawab atas akibat terjadinya tusukan jarum.

“Beberapa peneliti mengklaim adanya kekurangan ketahanan elektris kulit yang disebut titik-titik akupunktur. Untuk banyak tahun saya sudah mencoba membuktikan hal ini pada pasien maupun mayat. Saya menemukan adanya ribuan daerah besar dan kecil yang ketahanannya rendah, beberapa diantaranya sama dengan titik-titik akupunktur, tetapi kebanyakan tidak … Setiap kali elektroda yang aktip disalurkan ke kulit ketahanan listriknya berkurang, dan kalau ini dilakukan beberapa kali, seseorang memperoleh titik akupunkturnya sendiri.”

Dari beberapa pengamatan di atas, kelihatannya memang ada sistem lain dalam tubuh yang berbeda dengan sistem saraf, sistem saluran darah, sitem pernafasan, dan sistem pencernaan, yang belum diketahui tetapi dapat berfungsi sebagai sarana pengobatan. Tabib-tabib Cina kuno melalui pengalaman sehari-hari mereka rupanya melihat ada titik-titik tertentu dalam tubuh manusia yang bisa mendatangkan dampak pengobatan tertentu, kemudian mereka mendasarkan diri pada kepercayaan animisme dan kebatinan tentang ‘energi semesta’ yang juga dipercaya sama dengan ‘energi’ dalam tubuh manusia, kemudian mencoba mendesain suatu sistem (meridian) yang menunjukkan keterkaitan antar titik dengan penyakit-penyakit.

Namun, sampai sekarang ilmu kedokteran termasuk ilmu kedokteran nuklir tidak bisa menghasilkan bukti kebenaran yang mendukung sistem meridian Cina dengan faham cakranya itu sekalipun ada titik-titik (tidak semua) yang bisa menghasilkan efek pengobatan. Koosnadi Saputra yang menulis desertasi mengenai Akupunktur dan penelitian nuklir di UNAIR mengemukakan bahwa sekalipun ada beberapa titik akupunktur (accupoints) yang sudah diketahui memiliki kemiripan dengan penemuan kedokteran mengenai titik-titik picuan (trigger points), sebagian besar titik-titik yang dipercayai oleh akupunktur tidak sama dengan trigger-points yang ditemukan dalam kedokteran.

Dari kesimpulan ini dapat diketahui bahwa masih terlalu pagi untuk menjadikan foto Kirlian sebagai bukti konsep Aura dengan Cakranya karena foto Kirlian menunjukkan adanya sinar yang dikeluarkan tubuh yang sifat-sifatnya banyak berbeda dengan konsep sinar cakra dalam kepercayaan mistik-pantheisme, dan sekalipun ilmu kedokteran modern sudah menunjukkan adanya beberapa titik akupunktur yang memberi efek rangsangan, kenyataannya banyak titik-titik lainnya tidak memiliki efek sama sekali kecuali menimbulkan sugesti perendahan rasa sakit tetapi bukan sakit itu sendiri.

Kenyataannya, foto kirlian ini banyak digunakan untuk mencoba melihat aura atau energi tenaga dalam.Akan tetapi para ilmuan meninggalkannya puluhan tahun yang lalu dan membiarkan para propagandis penikmat ilmu metafisika itu melantur untuk melegalkan pemahaman dan prilaku syiriknya.

Saya (penulis) telah melihat adanya foto aura yang menggunakan komputer yang di pasang kamera video yang diklaim bisa melihat aura tubuh. Di klaim bahwa sesungguhnya adanya penampakan cahaya-cahaya di sekeliling tubuh itu adalah aura bahkan ditambah lagi adanya gerakan cahaya yang berputar di bagian tubuh tertentu yang dikatakan inilah chakra tubuh. Dengan sangat yakin dari bantahan yang diungkapkan Dr.Abdul Muhsin Shalih dapat saya simpulkan foto aura hanyalah sebuah program software biasa yang sengaja dirancang untuk menampakkan suatu bentuk chakra, aura bahkan dikatakan sebagai sinar tenaga dalam dan bukan menampakkan hakikat chakra atau aura yang sebenarnya.[2]

Contoh Kebohongan Aura yang hanya editan Photoshop

Satu hal yang pasti, tidak pernah ada kesaktian yang terbukti secara nyata dari Guru Utama Hikmatul Iman, Dicky Zainal Arifin. Yang ada hanyalah dongeng-dongeng saja.

Salah satu blog murid HI memuat foto lama Kang Dicky sedang bertarung dengan rekannya. HIW sudah menyimpan copy artikel itu untuk arsip seandainya dihapus. Dalam foto ini, Kang Dicky memiliki aura di sekelilingnya. Artikel itu sendiri memberinya keterangan: Aura Kang Dicky (sabuk biru) sudah terliat dengan sangat jelas.terlihat padat dan kuat.

Benarkah foto ini memang nyata?

Dicky Zainal Arifin dengan aura di sekeliling tubuhnya.

Dicky Zainal Arifin dengan aura di sekeliling tubuhnya.


Tampilan artikel asli.

Tampilan artikel asli.


Hanya Rekaan Photoshop

Admin HIW iseng saja menggunakan Photoshop-nya untuk mencoba membuat simulasi aura itu pada rekan Dicky Zainal Arifin. Digunakan teknik sederhana seperticopy layer, dodging, blending mode, dan pengaturan Adjustment Hue/Saturation. Ternyata dengan mudah dapat ditambahkan aura yang sama persis pada rekannya. Tidak perlu diragukan bahwa aura Kang Dicky ini hanya sekadar permainan sederhana dengan Photoshop.

img_20161020_160830

Silakan bandingkan dengan gambar asli sebelum diedit Admin HIW.

Foto aura Dicky Zainal Arifin yang disebar di situs murid HI.

Foto aura Dicky Zainal Arifin yang disebar di situs murid HI.


img_20161020_161116

Sebelum dan setelah proses editing di Photoshop.


Download file Photoshop untuk melihat proses editing yang dilakukan.

Kesaksian Mantan Murid Senior Hikmatul Iman

Kami juga mencoba menanyakan ini pada mantan murid senior Hikmatul Iman, Kang Ryo. Beliau mengatakan bahwa dulu beliau pernah melihat foto yang asli tanpa ada aura Kang Dicky di dalamnya. Dia bahkan heran dengan keberadaan foto ini yang jelas sekali berbeda dengan foto yang dulu ia lihat>[3]

Jadi, masih mau percaya pada klaim aura?

Referensi

  1. https://metafisis.net/2011/03/11/hakikat-aura/
  2. https://metafisis.net/2009/07/27/penipuan-ilmiah-dibalik-foto-kirlian-aura/
  3. https://metafisis.net/2013/04/25/aura-hebat-dicky-zainal-arifin-ternyata-hanya-hasil-rekayasa-photoshop/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s