Misteri, Legenda dan Mitos-Mitos Tentang Gunung Lawu

img_20161021_134935

Gunung Lawu (3.265 m) terletak di Pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung Lawu terletak di antara dua kabupaten yaitu Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah dan Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api “istirahat” (diperkirakan terahkir meletus pada tanggal 28 November 1885) dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Gunung Lawu mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan hutan Ericaceous. Gunung Lawu adalah sumber inspirasi dari nama kereta api Argo Lawu, kereta api eksekutif yang melayani Solo Balapan-Gambir.

Gunung Lawu memiliki tiga puncak, Puncak Hargo Dalem, Hargo Dumiling dan Hargo Dumilah. Yang terakhir ini adalah puncak tertinggi.

Di lereng gunung ini terdapat sejumlah tempat yang populer sebagai tujuan wisata, terutama di daerah Tawangmangu, Cemorosewu, dan Sarangan. Agak ke bawah, di sisi barat terdapat dua komplek percandian dari masa akhir Majapahit: Candi Sukuh dan Candi Cetho. Di kaki gunung ini juga terletak komplek pemakaman kerabat Praja Mangkunagaran: Astana Girilayu dan Astana Mangadeg. Di dekat komplek ini terletakAstana Giribangun, mausoleum untuk keluarga presiden kedua Indonesia, Suharto.

Gunung Lawu mungkin bisa dibilang sebagai salah satu puncak yang paling indah di Indonesia. Gunung-gunung lainnya juga indah, tapi di sini memiliki banyak hal menarik yang nggak bisa didapatkan di tempat lain. Entah lanskapnya yang unik dan khas serta beberapa bangunan bersejarah yang ada di sana. Misalnya saja dua candi purba yang sudah jadi ciri khasnya Lawu.

Dengan segala keindahan yang dimilikinya, praktis membuat Gunung Lawu sangat populer di kalangan para pendaki. Sayangnya, meskipun sangat terkenal, tapi beberapa kali Gunung Lawu juga jadi makam bagi para pendaki. Ya, ada beberapa kejadian soal pendaki yang meninggal ketika berada di tempat ini. Tentang kejadian buruk yang ada di sini, hal tersebut seringnya dikaitkan dengan mitos-mitos soal Gunung Lawu.

Misteri di 3 Puncak Lawu

Gunung Lawu sangat populer untuk kegiatan pendakian. Setiap malam 1 Sura banyak orang berziarah dengan mendaki hingga ke puncak. Karena populernya, di puncak gunung bahkan dapat dijumpai pedagang makanan.

Pendakian standar dapat dimulai dari dua tempat (basecamp): Cemorokandang diTawangmangu, Jawa Tengah, serta Cemorosewu, di Sarangan, Jawa Timur. Gerbang masuk keduanya terpisah hanya 200 m.

Pendakian dari Cemorosewu melalui dua sumber mata air: Sendang (kolam) Panguripan terletak antara Cemorosewu dan Pos 1 dan Sendang Drajat di antara Pos 4 dan Pos 5.

Pendakian melalui Cemorokandang akan melewati 5 selter dengan jalur yang relatif telah tertata dengan baik.

Pendakian melalui cemorosewu akan melewati 5 pos. Jalur melalui Cemorosewu lebih nge-track. Akan tetapi jika kita lewat jalur ini kita akan sampai puncak lebih cepat daripada lewat jalur Cemorokandang. Pendakian melalui Cemorosewu jalannya cukup tertata dengan baik. Jalannya terbuat dari batu-batuan yang sudah ditata.

Jalur dari pos 3 menuju pos 4 berupa tangga yang terbuat dari batu alam. Pos ke 4 baru direnovasi, jadi untuk saat ini di pos 4 tidak ada bangunan untuk berteduh. Biasanya kita tidak sadar telah sampai di pos 4.

Di dekat pos 4 ini kita bisa melihat telaga Sarangan dari kejahuan. Jalur dari pos 4 ke pos 5 sangat nyaman, tidak nge-track seperti jalur yang menuju pos 4. Di pos 2 terdapat watu gedhe yang kami namai watu iris (karena seperti di iris).

Di dekat pintu masuk Cemorosewu terdapat suatu bangunan seperti masjid yang ternyata adalah makam.Untuk mendaki melalui Cemorosewu (bagi pemula) janganlah mendaki di malam hari karena medannya berat untuk pemula.

img_20161021_143708

Di atas puncak Hargo Dumilah terdapat satu tugu.

Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Harga Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Harga Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.

Konon gunung Lawu merupakan pusat kegiatan spiritual di Tanah Jawa dan berhubungan erat dengan tradisi dan budayaPraja Mangkunegaran.

Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar si pelaku diyakini bakal bernasib naas.

Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.

Legenda

Cerita dimulai dari masa akhir kerajaanMajapahit (1400 M) pada masa pemerintahan Sinuwun Bumi Nata Bhrawijaya Ingkang Jumeneng kaping 5 (Pamungkas). Dua istrinya yang terkenal ialah Dara Petak putri dari daratan Tiongkok dan Dara Jingga. Dari Dara Petak lahir putra Raden Fatah, dari Dara Jingga lahir putra Pangeran Katong.

Raden Fatah setelah dewasa beragama Islam, berbeda dengan ayahandanya yang beragama Budha. Dan bersamaan dengan pudarnya Majapahit, Raden Fatah mendirikan KerajaanDemak dengan pusatnya di Glagah Wangi (Alun-Alun Demak).

Melihat kondisi yang demikian itu , masygullah hati Sang Prabu. Sebagai raja yang bijak, pada suatu malam, dia pun akhirnya bermeditasi memohon petunjuk Sang Maha Kuasa. Dalam semedinya didapatkannya wangsit yang menyatakan bahwa sudah saatnya cahaya Majapahit memudar dan wahyu kedaton akan berpindah ke kerajaan Demak.

Pada malam itu pulalah Sang Prabu dengan hanya disertai pemomongnya yang setia Sabdopalon diam-diam meninggalkan keraton dan melanglang praja dan pada akhirnya naik ke Puncak Lawu. Sebelum sampai di puncak, dia bertemu dengan dua orang kepala dusun yakni Dipa Menggala dan Wangsa Menggala. Sebagai abdi dalem yang setia dua orang itu pun tak tega membiarkan tuannya begitu saja. Merekapun pergi bersama ke puncak Harga Dalem.

Saat itu Sang Prabu bertitah, “Wahai para abdiku yang setia sudah saatnya aku harus mundur, aku harus muksa dan meninggalkan dunia ramai ini. Dipa Menggala, karena kesetiaanmu kuangkat kau menjadi penguasa gunung Lawu dan membawahi semuamakhluk gaib dengan wilayah ke barat hingga wilayah gunung Merapi/gunung Merbabu, ketimur hingga gunung Wilis, ke selatan hingga Pantai selatan , dan ke utara sampai dengan pantai utara dengan gelar Sunan Gunung Lawu. Dan kepada Wangsa Menggala, kau kuangkat sebagai patihnya, dengan gelar Kyai Jalak.

Tak kuasa menahan gejolak di hatinya, Sabdopalon pun memberanikan diri berkata kepada Sang Prabu: Bila demikian adanya hamba pun juga pamit berpisah dengan Sang Prabu, hamba akan naik ke Harga Dumiling dan meninggalkan Sang Prabu di sini.

Singkat cerita Sang Prabu Brawijaya pun muksa di Harga Dalem, dan Sabdopalon moksa di Harga Dumiling. Tinggalah Sunan Lawu Sang Penguasa gunung dan Kyai Jalak yang karena kesaktian dan kesempurnaan ilmunya kemudian menjadi mahluk gaib yang hingga kini masih setia melaksanakan tugas sesuai amanat Sang Prabu Brawijaya.

Mitos

Lawu adalah salah satu gunung yang paling dikenal akan mitosnya. Kabarnya bagi semua pendaki harus benar-benar mematuhi mitos tersebut, karena kalau tidak mungkin sesuatu yang buruk bakal terjadi. Lalu mitos apa saja sih yang ada di gunung tertinggi kelima di Jawa itu? Simak ulasannya berikut:

1. Menjaga Tutur Kata

Konon katanya Gunung Lawu ini seperti memiliki ruh atau jiwa, jadi ia seakan-akan hidup. Lantaran hidup, maka ia pun bisa mendengar semua suara yang ada di atas punggungnya, termasuk para pendaki. Makanya ada mitos yang mengatakan kalau kita jangan sampai bicara yang aneh-aneh di sini. Karena mungkin akan terjadi hal yang tidak-tidak.

Misalnya saat mendaki kemudian terlontar kata capek, nggak kuat, dan sebagainya. Atau mungkin saat berkemah mengelu dingin dan semacamnya. Percaya nggak percaya ketika hal tersebut kita ucapkan maka akan benar-benar terjadi. Tadinya nggak kenapa-kenapa eh tiba-tiba rasanya sangat capek, atau sebelumnya cuaca biasa saja dengan cepat berubah sangat dingin. Jaga bicara adalah hal yang paling penting untuk dilakukan di sini.

2. Larangan Mengenakan Baju Berwarna Hijau Daun

Sebenarnya nggak ada masalah sih mau pakai baju warna apa pun ketika mendaki, yang penting adalah kenyamanan. Tapi, jika kamu ingin mendaki Lawu maka setelan harus benar-benar diperhatikan. Usahakan untuk nggak memakai baju yang warnanya adalah hijau daun.

Alasannya sendiri menurut penduduk sekitar adalah lantaran warna ini cukup keramat di Gunung Lawu. Takutnya, ketika seseorang memakai ini ia mungkin nggak akan bisa kembali pulang. Memang terdengar sangat absurd sih, tapi lebih baik jangan dilanggar.

3. Jalak Gading

img_20161021_134953

Jalak Gading adalah salah satu hewan khas yang ada di Gunung Lawu. Dan si burung satu ini juga sering dikaitkan dengan mitos soal Lawu. Katanya nih, barang siapa bertemu dengan burung Jalak Gading saat mendaki maka itu adalah pertanda yang baik.

Sebaliknya, jika tidak bertemu dengan burung tersebut mungkin keadaannya bakal sangat tidak terduga. Bisa jadi baik-baik saja, tapi sering pula tidak demikian. Katanya, burung satu ini hanya akan muncul jika hati para pendakinya tulus. Maksudnya datang ke gunung dengan niat baik dan tidak merusak, misalkan memetik Edelweis yang ada di puncaknya.

4. Mendaki dengan Jumlah Genap

Sebelum memastikan untuk mendaki ke Gunung Lawu, alangkah baiknya jika diperhatikan dulu soal jumlah personil yang bakal berangkat. Usahakan jumlahnya selalu genap berapa pun itu. Pasalnya nih, kalau yang mendaki jumlahnya ganjil maka akan terjadi kesialan.

Memang terdengar seperti hal yang mustahil ya, tapi pada kenyataannya hal tersebut sering terjadi. Ketika satu rombongan berangkat dengan jumlah ganjil, mereka pasti mengalami hambatan. Entah satu orang tersesat, terkilir, dan lain sebagainya.

5. Kupu-Kupu Hitam Bersayap Mata Biru

img_20161021_135010

Selain Jalak Gading, ada satu lagi hewan yang kental dengan mitos Lawu. Hewan ini adalah kupu-kupu hitam dengan sayapnya yang bergambar mata biru. Mitosnya nih, barang siapa ketika mendaki Lawu kemudian menemukan salah satu di antara kupu-kupu itu, maka berarti ia sangat disambut.Jika tidak bertemu tidak masalah juga, karena menurut orang-orang sekitar kupu-kupu ini adalah tanda kebaikan bukan sebaliknya. Lalu, ketika bertemu dengan si kupu-kupu usahakan tidak berbuat apa pun. Misalnya menangkap atau bahkan melemparinya. Jika hal tersebut dilakukan, maka bersiaplah untuk sesuatu yang sangat buruk.

Sunset di Lawu

Sunset di Lawu


Soal mitos sih memang antara percaya dan nggak percaya. Tapi, bagi kamu yang benar-benar pengen ke sini memang ada baiknya mengindahkan soal mitos tersebut. Bukan karena percaya, mungkin lebih untuk berjaga-jaga saja. Hal itu juga sebagai wujud kita menaati peraturan-peraturan yang sudah jadi pakem di sana. Intinya, kita bisa mendaki dengan hati senang tanpa terganggu dengan hal-hal tertentu.

Referensi

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s