50 Bantahan dari 50 Tuduhan Atas Islam


Ada salah satu situs yang menyebarkan tuduhan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat nyentrik dan banyak kontradiktif. Maka pada kesempatan kali ini mari kita mencoba mengupas satu-persatu tuduhan mereka lengkap berikut bantahannya, semoga bermanfa’at.


TUDUHAN dan BANTAHAN PERTAMA


Di antara ayat-ayat nyentrik yang mereka tuduhkan adalah Qs. Al-Kahfi: 86. Dalam ayat ini terdapat kata-kata:

تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ

yang bermakna “matahari tenggelam di dalam laut yang ber-lumpur hitam”. Lantas mereka berkata: “Qur’an mengajarkan bahwa matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam”.

Sesungguhnya pemahaman ayat ini tidak sebagaimana yang mereka fahami, karena tidak ada se-orang ahli tafsir dari kalangan kaum muslimin yang menafsirkan ayat ini sebagaimana yang mereka fahami dengan kesempitan fikiran mereka. Al-Hafizh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya mengomentari penafsiran yang demikian:

وأكثر ذلك من خرافات أهل الكتاب، واختلاق زنادقتهم وكذبهم

“Dan kebanyakan yang demikian itu berasal dari khurofatnya Ahli Kitab, dan karangannya kaum zindiq dan pendusta dari kalangan mereka.”

Makna kalimat “matahari tenggelam di dalam lautan” adalah makna kiasan, sebagaimana kalimat yang serupa sering dilontarkan oleh para ahli sastra, seperti : “matahari pun hilang di telan bumi “, maknanya adalah kiasan, yaitu matahari menghilang seolah-olah ditelan bumi. Dan tidak ada se-orang ahli sastra pun yang menyalahkan kalimat ini, begitu pula dengan para ahli ilmu falaq, karena setiap pembicaraan dihukumi dengan tempatnya, sebagaimana tersebut dalam kaidah

فِيْ كُلِّ مَقَامٍ مَقَالٌ

Yaitu “setiap perkataan ada tempatnya”. Yakni, bila suatu perkataan dilontarkan tidak pada tem- patnya maka dapat dihukumi dengan salah, walau pun pada hakekatnya adalah benar. Seperti ketika dalam pelajaran sejarah ditanyatakan : “Kenapa Diponegoro bisa tertangkap ?”, lalu ada murid yang menjawab : “Karena taqdir.” Jawaban murid tersebut pada hakekatnya adalah benar, namun ti dak pada tempatnya sehingga gurunya menyalahkannya. Bukankah demikian ?

Begitu pula ketika berbicara tentang ketinggian gaya bahasa, maka tidak disalahkan mengatakan : “matahari tenggelam ditelan lautan” dalam dalam ilmu balaghoh jenis kalimat ini disebut Majaz ‘Aqli yaitu kiasan yang dapat diterima oleh akal. Contoh lain dari Majaz ‘Aqli ini seperti pada kali- mat : “Hujan telah menumbuhkan tanam-tanaman”, padahal hakekatnya bukan demikian, karena Alloh saja Yang bisa menumbuhkan tanam-tanaman melalui sari makanan yang dibawa oleh air hujan. Namun kesan yang segera terbesit dalam fikiran yaitu karena hujan maka tumbuh tanam-tanaman. Begitu pula bagi siapa pun yang berdiri di tepi pantai dari sebuah lautan yang luas ketika matahari tenggelam, maka ia melihat seolah-olah matahari tenggelam ditelan lautan. Tetapi hakekat nya tidaklah demikian. Inilah pemahaman yang disampaikan oleh seluruh ahli tafsir dari kalangan kaum muslimin tanpa ada perselisihan di dalam masalah ini.

Ada pun kalimat فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ “di dalam laut yang berlumpur hitam” menegaskan kepada ki-ta adanya beberapa faidah sains, yaitu :

  1. Warna laut ditentukan oleh keberadaan dasarnya. Bila dasar laut berlumpur hitam, maka laut pun tampak berwarna hitam, seperti LAUT HITAM yang ada di sebelah utara Turki.
  2. Dasar dari lautan yang luas dan dalam adalah berwarna gelap, karena tidak ada cahaya yang masuk ke dasarnya, sehingga nampak terlihat berwarna hitam.
  3. Semakin gelap warna lautan bebas menandakan semakin dalam dasar lautnya.

Dengan demikian kalimat “matahari tenggelam di dalam laut yang berlumpur hitam “ menunjuk-kan keberadaan Dzulqornain di tepi Laut Hitam atau di tepi lautan bebas yang luas dan dalam yang nampak dari sana seolah-oleh matahari tenggelam di telan lautan. Lalu di mana letak kenyentrikan ayat ini sebagaimana dituduhkan oleh mereka?


TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA


Mereka mengomentari Qs. Al-Kahfi: 90 sebagai salah satu dari ayat-ayat nyentrik karena di dalamnya tersebut

حَتَّى إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ

“hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari“

Mereka berkata: “ini berdasarkan anggapan bahwa bumi itu datar, kalau tidak bagaimana mung- kin ada ujung barat ( tempat matahari tenggelam ) dan ujung timur ( tempat matahari terbit ) di bumi ?”

Tidak ada seorang pun ahli tafsir yang memahami ayat ini sebagaimana disebutkan oleh mereka, ka rena maksud dari “telah sampai ke tempat terbit matahari “ adalah ke tempat di mana seseorang da-pat melihat matahari tenggelam secara sempurna tanpa adanya halangan. Kalimat di atas sama seper ti kalimat: “kita telah sampai ke tempat semburan lava pijar”, apakah berarti kita mesti berada te-pat di lubang tempat semburan lava? Tentu tidak demikian, namun maknanya adalah kita telah sam pai ke tempat di mana kita bisa melihat lava menyembur dari lubangnya. Bukankah begitu?


TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA


Ayat lainnya yang dianggap nyentrik oleh mereka adalah firman Alloh ta’ala :

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ لأَسْقَيْنَاهُم مَّاءً غَدَقًا

“Dan bahwasanya jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).” ( Qs. Al–Jin : 16 )

Mereka menganggap bahwa ayat ini adalah sumbangan dari jin, karena kata “KAMI” dalam ayat ini mereka tafsirkan sebagai “jin sholeh”.

Sesungguhnya tidak seorang pun dari kalangan kaum muslimin yang menafsirkan kata “KAMI” da- lam ayat ini dengan “bangsa jin”, karena berdasarkan kaidah:

السياق و السباق من الحصر

“konteks kalimat dan urutan katanya termasuk dari pembatas makna” maka makna dari kata “KAMI” dalam ayat ini adalah ALLOH. Sebab konteks kalimat dalam ayat ini menunjukkan balasan kebaikan di syurga ba-gi orang-orang yang berjalan lurus di atas agama Islam, dan yang membalasnya tentu hanya Allohta’ala. Begitu pula dalam ayat sebelum dan sesudahnya, kata ganti yang menunjuk kepada jin yang sholih telah berubah menjadi orang ketiga, yaitu “MEREKA”. Perhatiakan ayat sebelumnya:

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُوْلَئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا وَأَمَّا الْقَاسِطُونَ فَكَانُوا لِجَهَنَّمَ حَطَبًا

“Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang ta’at dan ada ( pula ) orang-orang yang me nyimpang dari kebenaran.” Barangsiapa yang yang ta’at, maka mereka itu benar-benar telah memi- lih jalan yang lurus. Adapun orang-orang yang menyimpang dari kebenaran, maka mereka menjadi kayu api bagi neraka Jahannam.” ( Qs. Al–Jin : 14 – 15 )

Dalam akhir ayat ke-14 kata ganti untuk jin yang sholeh sudah diubah dari “kami” menjadi “mere- ka“, begitu pula dalam ayat ke-15.

Perhatikan pula ayat setelahnya:

لِنَفْتِنَهُمْ فِيهِ وَمَن يُعْرِضْ عَن ذِكْرِ رَبِّهِ يَسْلُكْهُ عَذَابًا صَعَدًا

“Untuk Kami beri cobaan kepada mereka padanya. Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang amat berat.” ( Qs. Al–Jin : 17 )

Sehingga baik dilihat dari konteks kalimatnya maupun dari kalimat-kalimat yang mendahuluinya maupun yang setelahnya, kata “KAMI” dalam ayat ke-16 semuanya mengarah ke satu makna yaitu ALLOH, bukan kepada jinsholeh sebagaimana yang disangkakan oleh orang-orang yang tidak me- ngerti kaidah bahasa yang bersifat universal ini.

Penggunaan kata ganti “KAMI” dalam ayat ke-16 ini untuk menggantikan kata “ALLOH” karena ke tika Alloh memberi minum kepada penduduk syurga, tidak Alloh lakukan dengan tangan-Nya sendi ri, melainkan dengan menyuruh para pelayan-pelayan syurga untuk melayani para penduduk syur- ga. Seandainya menggunakan kata “ALLOH” bermakna Alloh sendiri Yang langsung memberi me-reka minum, dan makna ini bertentangan dengan keagungan Alloh subhanahu wa ta’ala karena sa-ma dengan menganggap Alloh sebagai pelayan bagi penduduk syurga. Maha Suci Alloh dan Maha Tinggi dari sangkaan yang demikian.

Dengan demikian, tuduhan mereka bahwa Qs. Al–Jinadalah sumbangan jin adalah suatu ke-dustaan yang nyata karena hanya didasarkan kepada sangkaan yang jauh dari kaidah ilmu yang be-nar, tidak memiliki sandaran dalil yang kuat dan ilmiah.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT


Mereka berkata : “Kalau kita perhatikan ayat 6 ( SuratAL–JIN ), dosa syirik (meminta per-lindungan kepada syaitan / jin) ternyata tidak lebih besar dari dosa mendurhakai Rasul ( ayat 23 ). Kalau bersekutu dengan syaitan paling-paling cuma berakibat pada bertambahnya dosa atau kesa- lahan ( ayat 6 ). Sebaliknya kalau mendurhakai Rasul, hukumannya langsung disebut SIKSA NE- RAKA JAHANNAM ( ayat 23 ). Ternyata, perbuatan yang paling dinista oleh Tuhan di zaman Mu- sa, malah dianggap sepele oleh Muhammad. Sebaliknya, dosa kecil, yaitu mendurhakai Nabi, ma- lah langsung dikutuk MASUK NERAKA JAHANNAM.”

Begitulah anggapan buruk mereka akibat kebodohan terhadap petunjuk dalil. Sesungguhnya surat Al–Jin ayat 6, yaitu:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الإِنْسِ يَعُوذُوْنَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan bahwasanya ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada be-berapa laki-laki di antara jin, maka jin–jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.”

Ayat ini tidak sedang berkomentar tentang kadar hukum di akhirat, namun ayat ini sedang memban-tah keyakinan orang-orang musyrik Arab yang biasa meminta perlindungan kepada bangsa jin keti-ka mereka sedang berjalan melewati suatu lembah atau daerah yang angker. Hal ini dapat diketahui dari asbabun-nuzun ( sebab turunnya ayat ) dari ayat ini. Karena bangsa Arab Jahiliyyah masih me-nganggap bahwa hal ini dapat memberi tambahan manfa’at kepada mereka. Pada hakekatnya bukan tambahan manfa’at yang mereka peroleh, namun tambahan dosa dan kesalahan yang mereka dapat-kan. Jadi sangat keliru bila ayat ini dibandingkan dengan ayat ke-23:

وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا

“Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”

Karena ayat ini memang menyebutkan kadar dosa, bukan membantah keyakinan yang keliru. Dan mendurhakai Rosul berarti mendurhakai Alloh, karena Alloh menyampaikan Kitab Suci-Nya mela-lui Rosul-Nya, sehingga dalam ayat ini disebutkan “Dan barangsiapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya “, bukan hanya “Rosul”, tetapi “Alloh dan Rosul-Nya”. Betapa liciknya dan khianatnya mereka dengan menukil semaunya sendiri dan menyembunyikan apa yang mereka anggap tidak bi-sa memuluskan tipu daya mereka, lalu menyimpulkan berdasarkan pendapat yang subyektif !!!


TUDUHAN dan BANTAHAN KELIMA


Di antara ayat yang mereka sebut sebagai nyentrik adalah Qs. Al–Jin : 19 :

وَأَنَّهُ لَمَّا قَامَ عَبْدُ اللَّهِ يَدْعُوهُ كَادُوا يَكُونُونَ عَلَيْهِ لِبَدًا

“Dan bahwasanya tatkala hamba Alloh (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan iba- dat), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.”

Mereka berkata : “Ketika Nabi Anda Muhammad sholat, jin–jin pada kumpul semua mengerumuni sang Nabi. Wah… wah… wah… Ketika berdoa mestinya setan-setan pada takut, tapi ini kok malah beda ? Jin / Syaitan malah seneng dan ngumpul semua?”

Perkataan mereka ini dilatarbelakangi oleh ketidakfahaman mereka akan perbedaan jin dengan sye-tan. Sesungguhnya tidak semua jin adalah syetan, karena syetan dalam bahasa ‘arab bermakna se-tiap apa saja yang suka membangkang, baik itu dari bangsa jin, manusia, binatang dan segala sesua-tu, sebagaimana dijelaskan oleh Al-Imam Ibnu Jarir Ath-Thobari. Oleh karena itu syetan bisa ber-ujud jin maupun manusia, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نِبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنسِ وَالْجِنِّ

“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan ( dari jenis ) ma nusia dan ( dan jenis ) jin.” ( Qs. Al-An’am : 112 )

Bila jin tersebut adalah syetan, maka ketika mendengarkan bacaan Al-Qur’an, pasti akan menjauh karena terasa panas dan terbakar. Namun bila yang mendengarkan adalah jin yang beriman, maka bacaanAl-Qur’an akan terasa nyaman bagi mereka, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَن نُّشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

“Katakanlah ( hai Muhammad ) : “Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin ( akan Al Qur’an ), lalu mereka berkata : “Sesungguhnya kami telah mendengarkan Al-Qur’an yang mena’jubkan, ( yang ) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu kami ber- iman kepadanya. Dan kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan ka mi.” ( Qs. Al–Jin : 1 – 2 )

Ayat ini berhubungan dengan ayat ke-19, yaitu ketikajin–jin yang beriman mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang menjalankan sholat malam, maka jin–jintersebut berkerumun menyimak bacaan beliau, lalu mereka pun beriman.

Ayat ini didahulukan daripada ayat ke-19 padahal ayat ini berkaitan erat dengan ayat ke-19 karena Alloh hendak menjelaskan bahwa Qs. Al–Jin ini bukan buatan atau sumbangan jin, tetapi Firman Alloh yang mengisahkan tentang berimannya sekumpulan jin ketika mendengarkan bacaan Al-Qur-’an. Oleh karena itu surat ini diawali dengan perintah kepada Nabi Muhammadshollallohu ‘alaihi wa sallam: قُلْ “Katakanlah !” Dengan demikian semua komentar yang lain dari mereka tentang Qs. Al–Jin telah terbantah dengan bantahan dari kami ini.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEENAM


Mereka mengatakan: “Dalam Al-Qur’an terdapat banyak kesalahan dalam hitungan”. Ke-mudian mereka menunjuk ke Qs. Fushshilat : 9 – 12 yang mereka sangka bertentangan dengan ayat-ayat yang lainnya yang menyebutkan bahwa Alloh menciptakan langit dan bumi dalam enam masa.

Dalam Qs. Fushshilat : 9 – 12 Alloh berfirman :

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَندَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Katakanlah : “Sesungguhnya patutkah kamu kafir kepada Yang menciptakan bumi dalam dua ma- sa dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya? ( Yang bersifat ) demikian itu adalah Rabb semesta alam”.

وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِن فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاء لِلسَّائِلِينَ

“Dan Dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan ( penghuni )nya dalam empat masa. ( Penjelasan itu sebagai jawaban ) bagi orang-orang yang bertanya.”

ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاء وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلأَرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berka-ta kepadanya dan kepada bumi : “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan su-ka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab : “Kami datang dengan suka hati”.

فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit uru-sannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami meme liharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengeta- hui.”

Lalu mereka berkata : “ 2 ( bumi ) + 4 ( makanan ) + 2 ( surga ) = 8 BUKAN 6.”

Dengan demikian mereka sangkakan bahwa terjadi kesalahan hitung di dalam Qs. Fushshilat ini. Pada hakekatnya tidaklah demikian. Lebih jelasnya, Ibnu ‘Abbas rodhiyallohu ‘anhuma menjelas-kan maksud dari ayat ini :

وَ خَلَقَ الأَرْضَ فِيْ يَوْمَيْنِ ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ فِيْ يَوْمَيْنِ

ثُمَّ دَحَى الأَرْضَ وَ دَحْوُهَا أَنْ أَخْرَجَ مِنْهَا الْمَاءَ وَالْمَرْعَى وَ خَلَقَ الجِبَالَ وَ الْجَمَالَ

وَ الآكَام وَ مَا بَيْنَهُمَا فِيْ يَوْمَيْنِ آخَريْنِ

“Alloh menciptakan bumi dalam 2 hari, kemudian menuju ke penciptaan langit, Dia mengerjakan- nya dalam 2 hari, kemudian Dia menghamparkan bumi, menghamparkannya yaitu dengan menge-luarkan air dan tumbuh-tumbuhan, menciptakan gunung-gunung, semua yang indah, bukit-bukit dan apa yang ada di antaranya dalam 2 hari.” (HR. Bukhori)

Dengan demikian berdasarkan penjelasan Ibnu ‘Abbas : Penciptaan bumi sebagai bentangan dilaku-kan dalam 2 masa, penciptaan langit ( bukan surga sebagaimana mereka sangkaan ) dilakukan da-lam 2 masa, dan penciptaan aneka bentuk dan kehidupan di bumi selama 2 masa, sehingga menjadi 2 + 2 + 2 = 6 bukan 8 seperti sangkaan mereka.

Bila ada pertanyaan : “Kenapa pada ayat ke-10 disebutkan 4 hari bukan 2 hari ?”

Hal ini karena penciptaan beragam bentuk dan kehidupan di bumi dilakukan setelah penciptaan la-ngit, sebagaimana dijelaskan dalam Qs. An-Naazi’at : 27 – 33 :

أَ أَنْتُمْ أَشَدُّ خَلْقًا أَمِ السَّمَاءُ ؟ بَنَاهَا . رَفَعَ سَمْكَهَا فَسَوَّاهَا , وَ أَغْطَشَ لَيْلَهَا وَ أَخْرَجَ ضُحَاهَا , وَ الأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاهَا , أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَ مَرْعَاهَا , وَ الْجِبَالَ أَرْسَاهَا , مَتَاعًا لَكُمْ وَ ِلأَنْعَامِكُنمْ

“Apakah kamu lebih sulit penciptaanya ataukah langit? Alloh telah membinanya, Dia meninggikan bangunannya lalu menyempurnakannya, dan Dia menjadikan malamnya gelap gulita, dan menjadi- kan siangnya terang benderang. Dan bumi sesudah itu dihamparkan-Nya. Ia memancarkan daripada nya mata airnya, dan ( menumbuhkan ) tumbuh-tumbuhannya. Dan gunung-gunung dipancangkan-Nya dengan teguh, (semua itu) untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.”

Ketika Alloh menciptakan langit berikut bintang-bintang, termasuk matahari, maka pengaruh pen-ciptaan langit berikut bintangnya mulai terjadi di bumi, seperti mulai adanya malam dan siang dan setting kehidupan lainnya yang akan diproses pada dua hari berikutnya setelah penciptaan langit. Sehingga 4 hari yang disebutkan dalam ayat ke-10 meliputi 2 hari yang dikarenakan mengikuti pen-ciptaan langit berikut bintang-bintangnya, dan 2 hari yang lainnya terproses setelah penciptaan la-ngit selesai. Maka tidak ada kesalahan hitung di sini, yang ada adalah salah sangka dari mereka yang memang tidak mengerti tentang tafsir Al-Qur’an.


TUDUHAN dan BANTAHAN KETUJUH


Kemudian mereka menuduh telah terjadi kesalahan hitung dalam ilmu waris, mereka men-contohkan : “Misalkan seorang lelaki mati meninggalkan tiga anak perempuan, dua orang tua dan is teri. Menurut ayat-ayat di atas ( yaitu Qs. An-Nisa’ : 11 – 12 ) ketiga anak perempuannya akan me-nerima 2/3 warisan, orang tuanya menerima 1/3 warisan dan isterinya 1/8 warisan. Sekarang perhitu ngannya : 2/3 + 1/3 + 1/8 = 9/8 = 1,125. Pembagian hartanya melebihi harta yang tersedia untuk di-bagikan. Bagaimana hitungan seperti ini mungkin terjadi ?”

Perhitungan waris yang melebihi harta si-mayit tidak pernah terjadi pada zaman Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam , namun pernah terjadi pada zaman para Shahabat beliau yang merupakan murid-murid Nabishollallohu ‘alaihi wa sallam. Lalu mereka menyelesaikannya dengan merubah penye-but menjadipembilang, sehingga hitungannya adalah :

2/3 + 1/3 + 1/8 = 16/24 + 8/24 + 3/24 = 27/24 = 9/8

Lalu penyebutnya diubah menjadi pembilang sehingga menjadi :

16/27 + 8/27 + 3/27 = 27/27 = 1

Demikian pula contoh-contoh hitungan waris yang lainnya dapat diselesaikan dengan cara seperti ini, dan ini menunjukkan bahwa sudah disiapkan suatu model perhitungan yang tepat dan adil bila terjadi hal semacam ini. Bahkan ini menunjukkan keunggulan Islam dalam ilmu hitung.


TUDUHAN dan  BANTAHAN KEDELAPAN


Mereka mengatakan : “Hari Alloh : 1000 tahun atau 5000 tahun ?” Mereka menuduh telah terjadi pertentangan dalam Al-Qur’an, yaitu ketika Qs. Al-Hajj : 47 menyebutkan bahwa 1 hari di si si Alloh lamanya adalah 1.000 tahun, namun dalam Qs. Al-Ma’arij : 4 disebutkan 1 hari lamanya sama dengan 50.000 tahun.

Sesungguhnya tidak terjadi pertentangan, karena seandainya tafsir ayat-ayat tersebut sebagaimana apa yang mereka sangkakan, maka maknanya sama dengan kondisi waktu di bumi, di mana 1 hari di daerah tropis lamanya 24 jam, namun 1 hari di daerah kutub lamanya 1 tahun. Apakah ini berten-tangan ?

Sesungguhnya penyebutan 1 hari di suatu ayat adalah 1.000 tahun dan di ayat yang lainnya 50.000 tahun karena perbedaan konteks pembicaraan. Bukankah setiap Pembicaraan Ada Tempatnya ?

Dalam Qs. Al-Hajj : 47 Alloh berbicara mengenai perhitungan hari di sisi-Nya, sedangkan dalam Qs. Al-Ma’arij Alloh berbicara tentang waktu tempuh manusia dengan kemampuannya yang serba terbatas, maka 1 hari dalam kecepatan malaikat menyamai 50.000 tahun dalam perjalanan manusia untuk bisa menghadap kepada Alloh ta’ala.


TUDUHAN dan BANTAHAN KESEMBILAN


Mereka menuduh Al-Qur’an tidak konsisten ketika menyebutkan jumlah syurga, terkadang disebutkan dalam bentuk tunggal, seperti dalam Qs. Az-Zumar : 73,Qs. Fushshilat : 21, Qs. Al-Ha-did : 41 dan lain-lain, namun terkadang menyebutnya dalam bentuk jamak seperti pada Qs. Al-Kah-fi : 31, Qs. Al-Hajj : 23, Qs. Fathir : 33 dan lain-lain, maka yang mana yang benar ?

Sesungguhnya “Setiap perkataan ada tempatnya”, ketika Alloh ta’ala menyebut syurga dengan ben tuk tunggal artinya syurga dalam artian kebalikan dari neraka, yaitu tempat kembalinya orang-orang yang beriman dan bertaqwa. Ada pun syurga sendiri ada beberapa macam sesuai tingkatan amal orang yang memasukinya, yang paling tinggi adalah syurga Firdaus, kemudian syurga-syurga lainnya seperti Syurga Aden, Syurga Daarus-Salaam dan lain-lainnya. Masing-masingnya pun ma-sih memiliki tingkatan-tingkatan.

“Setiap perkataan ada tempatnya”. Ketika Alloh menyebut syurga dalam bentuk jamak, maka kali-matnya senantiasa berkaitan dengan macam syurganya, bukan dengan makna syurga yang merupa-kan kebalikan dari neraka. Seperti ketika bercerita tentang Syurga Aden dalam Qs. Al-Kahfi : 31 dan Qs. Fathir : 33, maka ayat-ayat ini sedang berbicara tentang tingkatan atau taman-taman yang ada di syurga Aden. Demikian pula ketika sedang mengilustrasikan suasana di syurga, seperti dalam Qs. Al-Hajj : 23, maka ayat tersebut berbicara dengan bentuk jamak karena yang dibicarakan adalah tingkatan atau taman-taman yang ada di masing-masing syurga.


TUDUHAN dan BANTAHAN KESEPULUH


Mereka menuduh bahwa Al-Qur’an bertentangan, karena di dalam Qs. Al-Waqi’ah : 7 – 10 disebutkan bahwa manusia terbagi menjadi tiga golongan. Namun di dalam Qs. Az-Zalzalah : 6 – 8 disebutkan dua golongan, yaitu manusia yang berbuat kebaikan dan manusia yang berbuat kejelekan.

Sesunguhnya tuduhan mereka sangat jauh dari kebenaran. Memang Qs. Al-Waqi’ah sedang berbicara tentang tiga golongan manusia yang ada pada hari qiyamat, yaitu Ashhabul Yamin ( Golo ngan Kanan ), Ashhabusy-Syimal ( Golongan Kiri ) dan As-Sabiqunas-Sabiqun ( Golongan yang saling berlomba dalam kebaikan ). Sedangkan Qs. Az-Zalzalah : 6 – 8 tidak berbicara tentang penggolongan manusia pada hari qiyamat, namun sedang berbicara tentang keadilan dalam pembala san amal, yaitu siapa saja yang berbuat kebaikan seberat dzarrah pasti akan melihat balasannya, demikian pula siapa saja yang berbuat kejelekan seberat dzarrah pun pasti akan melihat balasannya. Di mana letak kontradiktifnya ?


TUDUHAN dan BANTAHAN KESEBELAS


Mereka menuduh telah terjadi kontradiktif dalam ayat-ayat mengenai siapa yang mencabut nyawa ? Dalam Qs. As-Sajdah : 11 disebutkan bahwa yang mencabut nyawa adalah satu malaikat yaitu Malaikat Maut, namun dalamQs. Muhammad : 27 disebutkan lebih dari satu malaikat, dan dalam Qs. Az-Zumar : 42 disebutkan bahwa Alloh sendiri yang mencabut nyawa. Lantas yang mana yang benar ?

Sesungguhnya hanya Alloh Yang mencabut nyawa, hanya saja ketika mencabut nyawa sese-orang Alloh melakukannya melalui Malaikat Maut, oleh karena itu dalam Qs. Az-Zumar : 42 ha-nya menyebutkan bahwa hanya Alloh saja Yang memegang nyawa orang baik yang sudah mati mau pun yang belum mati, tidak menyebutkan Alloh Yang mencabut sendiri nyawa makhluk-Nya.

Sedangkan Qs. As-Sajdah : 11 menerangkan bahwa pelaksana pencabutan nyawa adalah Ma laikat Maut, dan jumlahnya hanya satu. Ada pun bila dalam Qs. Muhammad : 27 disebutkan lebih dari satu malaikat, itu karena orang kafir tidak hanya dicabut nyawanya, namun juga disiksa. Perhatikan betul-betul bunyi ayatnya :

فَكَيْفَ إِذَا تَوَفَّتْهُمْ الْمَلائِكَةُ يَضْرِبُونَ وُجُوهَهُمْ وَأَدْبَارَهُمْ

“Bagaimanakah ( keadaan mereka ) apabila para malaikat mencabut nyawa mereka seraya memukul mukul muka mereka dan punggung mereka?”

Pencabut nyawanya tetap Malaikat Maut, namun yang memukul muka dan punggung mereka ada-lah malaikat-malaikat yang lainnya. Karena mereka bekerja dalam satu urusan yang bersamaan ma-ka mereka disebut secara bersamaan pula, sehingga sebutan mereka menjadi jamak atau lebih dari satu.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA BELAS


Ayat-ayat lain yang dituduh kontradiktif adalah Qs. Ali ‘Imron : 42 yang menyebutkan bah-wa makaikat yang berbicara dengan Maryam adalah lebih dari satu. Namun dalam Qs. Maryam : 17 disebutkan hanya satu malaikat. Lalu berapa jumlah yang benar ?

Sesungguhnya tidak ada kontradiktif dalam ayat-ayat ini, karena Qs. Ali ‘Imron : 42 menye- but kan tentang kedatangan para malaikat kepada Maryam untuk memberitakan kabar gembira bah- wa ia akan dikaruniai seorang putera yang kelak menjadi Rosul pilihan. Sedangkan Qs. Mayam : 17 menuturkan kisah kedatangan Jibril yang hendak meniupkan roh ke dalam rahim Maryam. Perhati- kan bunyi ayat seterusnya yaitu ayat yang ke-19 :

قَالَ إِنَّمَا أَنَا رَسُولُ رَبِّكِ لِأَهَبَ لَكِ غُلامًا زَكِيًّا

“Ia ( Jibril ) berkata: “Sesungguhnya aku ini hanyalah seorang utusan Tuhanmu, untuk memberimu seorang anak laki-laki yang suci”.

Dalam ayat ini Jibril mengatakan bahwa ia diutus untuk memberi anak laki-laki kepada Maryam, bu kan sekedar memberikan kabar lagi. Sehingga tidak ada kontradiktif dalam hal ini, karena berbeda waktu dan kejadiannya.


TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA BELAS


Mereka juga mempermasalahkan penggunaan kata ganti “KAMI” untuk Alloh yang banyak terdapat di dalamAl-Qur’an. Mereka berkata : “Kata “Kami” dalam hal ini merujuk kepada berhala berhala Arab di jaman sebelum Islam.”

Perhatikan kebiasaan mereka yang memaksakan tafsiran ala mereka yang sama sekali jauh dari ke-benaran, karena isi Al-Qur’an justru mencela berhala-berhala Arab di zaman sebelum Islam, bukan malah menggabungkannya dengan Alloh sehingga digunakanlah kata ganti “Kami” !!!

Ada alasan kenapa Alloh menyebut diri-Nya dengan “KAMI”, yaitu, ketika Alloh ta’ala melakukan sesuatu tidak secara langsung, namun melalui para malaikat atau proses yang terjadi di alam, maka Alloh menyebut diri-Nya dengan “KAMI”. Seperti firman Alloh ta’ala :

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam kemuliaan.” ( Qs Al-Qodar : 1 )

Di ayat ini Alloh ta’ala menurunkan Al-Qur’an tidak secara langsung, melainkan melalui malaikat Jibril u .

Namun ketika Alloh ta’ala melakukannya sendiri tanpa melalui perantara, maka Alloh menyebut di-ri-Nya dengan “AKU”, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ

“Alloh berfirman : “Wahai Iblis, apa yang menahanmu dari bersujud kepada Adam yang telah Aku ciptakan dengan tangan-Ku sendiri ?” ( Qs. Shod : 75 )

Dalam ayat ini Alloh menyebut diri-Nya dengan “AKU”, karena memang Adam ‘alaihis-salam di-ciptakan secara langsung oleh Alloh, tidak melalui proses atau utusan para malaikat.

Perhatikan pula dalam ayat berikut :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Tidaklah Kami utus sebelummu seorang rosul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwasan- nya tidak ada yang berhak disembah kecuali Aku maka sembahlah Aku.” ( Qs. Al-Anbiya’ : 25 )

Dalam ayat ini Alloh menyebut diri-Nya dengan dua sebutan, yaitu “KAMI” dan “AKU”, yaitu keti- ka Alloh menurunkan wahyu kepada para rosul melalui pengutusan malaikat maka Alloh menyebut diri-Nya dengan “KAMI”. Namun ketika menyebutkan isi da’wah yang diwahyukan kepada para Ro sul, maka Alloh menyebut diri-Nya dengan “AKU”. Ini merupakan petunjuk yang terang bahwa Alloh itu benar-benar Esa, bukan berbilang.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT BELAS


Mereka mengatakan : “Dalam Surat ini – yaitu Qs. Asy-Syu’aro : 192 – 196 -, dikatakan bah wa Al-Qur’an sudah disebut dalam kitab-kitab terdahulu. Pertama-tama perlu ditekankan bahwa ti-dak ada satu pun buku firman Tuhan terdahulu yang berbahasa Arab. Misalnya, buku Torah dan In-jil adalah dalam bahasa Hebrew dan Yunani. Dua keganjilan pun muncul : Bagaimana mungkin Al-Qur’an berbahasa Arab terkandung dalam buku-buku berbahasa lain ?”

Seperti biasanya, mereka selalu memaksakan pemahaman mereka yang buruk terhadap sebuah kali-mat. Perhatikan betul firman Alloh berikut :

وَإِنَّهُ لَفِي زُبُرِ الأَوَّلِينَ

“Dan sesungguhnya Al Qur’an itu benar-benar ( tersebut ) dalam Kitab-kitab orang yang dahulu.” 

( Qs. Asy-Syu’aro : 196 )

Tidak ada seorang ahli tafsir pun yang memahami ayat tersebut seperti yang mereka fahami, karena maknanya adalah isi atau inti sari dari ajaran Al-Qur’an yang berupa ‘aqidah tauhid telah terdapat dalam kitab-kitab sebelumAl-Qur’an. Oleh karena itu pada dua ayat sebelumnya disebutkan :

عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ

“ke dalam hatimu ( Muhammad ) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” ( Qs. Asy-Syu’aro : 194 )

Dan peringatan yang disampaikan oleh Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah perin tah agar bertauhid atau mengesakan Alloh dan menjauhi dari syirik atau menyekutukan Alloh. Mak-na ini diperkuat dengan apa yang tersebut dalam ayat setelahnya :

أَوَلَمْ يَكُن لَّهُمْ آيَةً أَن يَعْلَمَهُ عُلَمَاء بَنِي إِسْرَائِيلَ

“Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahui- nya ?” ( Qs. Asy-Syu’aro : 197 )

Sebagaimana hal ini disebutkan dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an, di antaranya adalah firman Alloh ta’ala :

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ

“Tidaklah Kami utus sebelummu seorang rosul pun kecuali Kami wahyukan kepadanya bahwasan- nya tidak ada yang berhak disembah kecuali Aku maka sembahlah Aku.” ( Qs. Al-Anbiya’ : 25 )

Jadi seluruh kitab suci isinya adalah ajaran tauhid, dan inilah makna yang dikehendaki dari kalimat bahwa Al-Qur’an terdapat dalam kitab-kitab sebelumnya.

Kita buat sebuah perbandingan, yaitu ketika saya memiliki sebuah buku yang isinya ada pula di da-lam buku-buku milik teman-teman saya yang berlainan redaksi dan bahasanya, namun inti pembaha sannya sama. Apabila saya berkata : “Buku saya ini juga terdapat di dalam buku teman-teman sa-ya.”, apakah maknanya setiap kata dan hurufnya harus ada di dalam buku teman-teman saya ?!!!


TUDUHAN dan BANTAHAN KELIMA BELAS


Mereka kembali memaksakan pemahaman buruknya terhadap teks ayat-ayat Al-Qur’an, lalu mereka berkata: “Qur’an mengajarkan bahwa ada tujuh lapis langit ( surga ) dan bahwa bintang-bin tang ada di langit bawah dan bulan di tengah tujuh lapis langit itu.”

Dari mana mereka mengambil kesimpulan seperti itu ? Ada pun ayat-ayat yang mereka sangkakan sebagai dasar dari kesimpulan mereka tidaklah demikian maknanya, dan tidak ada seorang ahli taf-sir, bahkan tidak ada seorang muslim yang bodoh sekalipun yang memahami ayat-ayat tersebut se- perti penafsiran mereka. Di antara bentuk pemaksaan yang jelas seterang matahari adalah mereka meletakkan kata “surga” di dalam kurung sebagai tafsir dari langit versi mereka. Tidak ada seorang muslim pun yang menafsirkan langit dengan surga !

Betul memang bahwa bintang berada di langit yang paling dekat, karena bintang diciptakan sebagai hiasan bagi langit dunia, yaitu langit yang menaungi dunia. Tetapi bagaimana bisa mereka mengambil kesimpulan bahwa “menurut Al-Qur’an bulan lebih jauh daripada bintang” dengan mendasarkan kepada firman Allohta’ala :

وَجَعَلَ الْقَمَرَ فِيهِنَّ نُورًا وَجَعَلَ الشَّمْسَ سِرَاجًا

“Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya dan menjadikan matahari sebagai pelita ?”

( Qs. Nuh : 16 )

Seandainya mereka mengatakan bukankah kata فِيهِنَّ bermakna di dalamnya, yaitu di dalam tujuh la-pisan langit ?

Kita jawab : Sesungguhnya keadaannya tidaklah seperti itu. Karena seandainya ada orang yang ber-kata : “Aku sedang berada di dalam rumah.”, apakah kalimat ini mengharuskan orang tersebut ada di tengah-tengah rumah ? Tidak ada seorang ahli bahasa pun yang mengatakan demikian. Bahkan se seorang yang berdiri di balik pintu rumahnya yang bertingkat-tingkat tetap dibenarkan mengatakan “Saya seang berada di dalam rumah.” Bukankah demikian ? Dan para Ahli Tafsir yang dahulu hing-ga sekarang sepakat bahwa bulan berada di langit dunia, bukan di tengah-tengah langit.

Mereka menuduh bahwa adanya tujuh lapis langit hanyalah khayalan, karena bertentangan dengan ilmu astronomi modern.

Terhadap tuduhan mereka, kita akan ajukan pertanyaan : “Sudah sampai mana penelitian astronomi modern menjelajah angkasa raya ? Betapa banyak teori, hipotesa dan hasil pengamatan yang dinya-takan tidak berlaku karena berdasarkan hasil pengamatan terbaru ternyata hal itu keliru. Seperti ba- gaimana kekeliruan para astronomi yang menyangka di bulan ada kehidupan karena tampaknya ada saluran air di bulan, tetapi ternyata merupakan salah pengamatan dan diralat. Begitu pula dengan hi- potesa mereka tentang adanya makhluk Mars, yang ternyata tidak ada kebenarannya. Atau mungkin teori mereka tentang Black Hole yang akhirnya ditarik kembali oleh si pembuat teori. Apakah kita akan menyalahkan kebenaran wahyu dengan hanya mendasarkan kepada hasil penelitian yang be-lum pernah mencapai garis finish ?


TUDUHAN dan BANTAHAN KEENAM BELAS


Mereka menuduh Qs. An-Naml : 18 – 19 bertentangan dengan fakta ilmiah, mereka berkata: “”Semut berkomunikasi dengan suara dengan bau, bukan dengan suara. Solomon tidak mungkin mendengar semut berbicara, karena semut tidak mengeluarkan suara.”

Seandainya perkataan mereka benar, maka makna قال atau “berkata” tidak mesti dengan suara, seba-gaimana disebutkan dalam Al-Mu’jam Al-Wasith :

و يُستعمل القول مجازًا للدلالة على الحال

“Dan dipergunakan pula “berkata” dengan makna kiasan untuk menunjukkan kepada keadaan.”

Oleh karena itu dalam ayat ke-19 disebutkan dengan lafazh :

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا

“maka dia tersenyum dengan tertawa karena perkataan semut itu.” ( Qs. An-Naml : 27 )

yaitu dengan lafazh “karena perkataannya”, bukan dengan lafazh “karena mendengarnya”, tetapi maknanya sama, yaitu mengerti tentang yang dimaksud.

Walaupun demikian tidak mustahil dengan adanya kemajuan teknologi yang semakin canggih suatu ketika bisa diketahui adanya suara semut, yang mungkin saja alat tercanggih saat ini belum mampu menangkap sinyalnya.


TUDUHAN dan BANTAHAN KETUJUH BELAS


Mereka menuduh bahwa penjelasan Al-Qur’an tentang perkembangan janin bukan penjela-san yang ilmiah, karena hanya disebutkan sperma, namun tidak disebutkan adanya sel telur yang ju-ga sangat penting dalam pembentukan janin.

Terhadap tuduhan mereka, kita akan balik bertanya : “Apakah salah bila ada orang yang ber-kata Fulan anaknya Allan.” ? Padahal isteri Allan juga penting dalam proses kelahiran Fulan di du- nia ini, namun dengan tidak disebutnya isteri Allan bukan berarti kalimat tersebut salah atau tidak ilmiah. Bukankah begitu ?

Di tilik dari sisi bahasa, air mani dalam bahasa arab yang terdahulu tidak hanya dimaksud-kan untuk sperma laki-laki, namun bisa juga dipergunakan untuk menyebut sel telur, sehingga da- lam beberapa hadits disebut tentang : air mani laki-laki dan air mani perempuan.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEDELAPAN BELAS


Mereka mencemooh ayat-ayat yang menyebutkan bahwa bintang-bintang diciptakan sebagai alat pelempar syetan.

Bintang memang diciptakan untuk beberapa fungsi, di antaranya sebagai alat untuk melempar sye-tan. Namun tidak hanya itu, bintang juga dicipta sebagai hiasan langit dan petunjuk jalan, sehingga dengan dasar posisi bintang-bintang ini manusia bisa membuat peta langit untuk menentukan arah.

Bila mereka mencemooh fungsi bintang sebagai alat pelempar syetan, bisakah mereka menjawab misteri komet atau bintang jatuh yang sampai sekarang para ahli astronomi pun belum ada yang mampu mengetahui asal dan sebabnya ?!!!


TUDUHAN dan BANTAHAN KESEMBILAN BELAS


Mereka berkata : “Menurut Qur’an, matahari dan bulan menunduk pada manusia.” Lalu me-reka berkata lagi : “Sayangnya, manusia tidak bisa membuat matahari dan bulan menunduk pada di-rinya. Bulan dan bintang selalu mengikuti arah orbit mereka masing-masing. Matahari, bulan, siang ataupun malam, tidak dapat dipengaruhi oleh keinginan manusia yang mana saja.”

Demikian pemahaman mereka yang tidak sempurna terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang akhirnya melahirkan kesimpulan yang sangat bodoh yang tidak pernah difahami oleh seorang muslim pun. Perhatikan betul ayat yang mereka salah fahami itu :

وَسَخَّر لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَآئِبَينَ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

“Dan Dia telah menundukkan ( pula ) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar ( da-lam orbitnya ), dan telah menundukkan bagimu malam dan siang.” (Qs. Ibrohim : 33 )

Makna menundukkan dalam ayat ini bukan mengendalikan orbitnya karena di dalam ayat ini dise- butkan kata دَآئِبَينَ yang bermakna “beredar dalam orbitnya”. Artinya matahari dan bulan tetap ber- edar pada orbitnya sehingga berdampak adanya siang dan malam. Ada pun makna “menundukkan bagimu” bermakna menundukkannya untuk kebutuhan manusia sesuai dengan kebutuhan manusia, seperti manusia bisa mengeringkan baju dengan terik panasnya matahari, bisa mengetahui waktu sholat dengan melihat peredaran matahari, mengetahui bulan dengan peredaran bulan, dapat menca-ri nafkah dengan adanya siang, dan bisa beristirahat dengan sempurna dengan adanya malam. Ini adalah makna yang disepakati oleh seluruh kaum muslimin karena memang konteks kalimatnya menghendaki makna yang demikian.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH


Mereka menyalahkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menyebutkan tentang fungsi gunung yang diciptakan untuk mencegah goncangan di bumi, mereka berkata : “Penjelasan seperti itu bertentang-an langsung dengan ilmu geologi modern. Geologi membuktikan kepada kita bahwa gerakan tecto-nic plates atau gempa bumi itu sendirilah yang mengakibatkan terbentuknya gunung. Kedua, jika memang gunung diciptakan untuk menghentikan perguncangan bumi, mengapa ada berlusin-lusin gempa bumi tiap tahun ?”

Sesungguhnya perkaranya tidaklah seperti yang mereka sangkakan. Alloh subhanahu wa ta’ala ber-firman dalamQs. Al-Anbiya’ : 31 :

وَجَعَلْنَا فِي الْأَرْضِ رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ

“Dan telah Kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu ( tidak ) goncang bersama mereka.”

Dalam ayat ini dan ayat-ayat lainnnya yang semakna dengannya disebutkan bahwa fungsi dari gu-nung adalah agar bumi tidak bergoncang bersama manusia. Karena di dalam bumi terdapat magma yang selalu berusaha mencari jalan keluar. Bila ada gunung meletus penyebabnya adalah karena ka-wahnya tersumbat oleh bebatuan atau lain-lainnya. Salah satu upaya untuk mencegah letusan adalah menyuntik sisi lain dari gunung sehingga terbentuk lobang untuk jalan keluar magma yang memang sudah saatnya keluar. Maka dapat dibayangkan seandainya tidak ada gunung, pasti bumi akan ber-goncang karena magma yang ada di dalamnya tidak menemukan jalan keluar. Inilah makna dari ayat-ayat ini, sehingga dalam ayat-ayat tersebut memakai lafazh “supaya bumi tidak bergoncang bersama mereka”. Pada kata “bersama mereka” mengindikasikan bahwa yang dimaksud gempa di sini adalah gempa vulkanik, bukan gempa tektonik.

Ada pun terjadinya lusinan gempa di bumi karena mungkin gunung berapi yang tersumbat kawah-nya atau karena gejala tektonik. Gempa-gempa yang semacam ini tidak termasuk dalam makna ayat-ayat di atas.


Selanjutnya: 50 Bantahan dari 50 Tuduhan Atas Islam 2 (21 s/d 50)

Iklan

One response »

  1. […] Artikel lanjutan dari : 50 Bantahan dari 50 Tuduhan Atas Islam (1 s/d 20) […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s