Artikel lanjutan dari : 50 Bantahan dari 50 Tuduhan Atas Islam (1 s/d 20)


TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH SATU


Mereka berkata : “Qur’an mengungkapkan bahwa bulan punya cahaya sendiri ?” Lantas me-reka mengatakan : “Semua orang di dunia maju tahu bahwa bulan tidak punya cahaya sendiri.”

Demikian kesimpulan mereka karena tidak cermat mengamati bunyi kata perkata dalam ayat yang mereka sebut sebagai nyentrik dalam bab ini. Perhatikan baik-baik ayatnya :

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاء وَالْقَمَرَ نُورًا

“Dia-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya.” ( Qs. Yunus : 5 )

Di ayat ini Al-Qur’an jelas membedakan matahari dan bulan, ketika menyebut matahari maka dise-but dengan kata ضِيَاء atau “bersinar”, sementara bila menyebut bulan Al-Qur’an menggunakan kata

نُورًا “bercahaya”. Kenapa dibedakan ? Karena kata ضِيَاء atau bersinar menghendaki makna matahari mesti memancarkan cahaya sendiri, karena asal maknanya adalah “lentera”, sedangkan kata berca-haya tidak mengharuskan ia memancarkan cahaya sendiri, dan memang bulan mendapatkan cahaya nya karena memantulkan cahaya sinar dari matahari. Sebagaimana firman Alloh ta’ala :

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَاراً فَلَمَّا أَضَاءتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لاَّ يُبْصِرُونَ

“Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api maka setelah api itu menerangi sekelilingnya, Alloh hilangkan cahaya ( yang menyinari ) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.” ( Qs. Al-Baqoroh : 17 )

Dalam ayat ini disebutkan dua kata secara bersamaan, yaitu أَضَاءتْ yang artinya menyinari atau mene rangi dan kata نُور yang bermakna cahaya. Kenapa yang dihilangkan adalah نُور “cahaya”, bukan ضِيَاء “sinar” ? Karena sinar yang memancar dari api yang dinyalakan akan terlihat ketika dipantulkan ca- hayanya oleh benda-benda di sekelilingnya, kemudian diterima oleh mata manusia. Bukankah demi kian ? Sehingga penggunaan kata “bercahaya” lebih luas daripada “bersinar”, karena bersinar mesti berasal dari benda yang memiliki cahaya sendiri, sedangkan bercahaya bisa berasal dari benda yang memiliki cahaya sendiri atau pun karena memantulkan dari benda lain sehingga tampak bercahaya.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH DUA


Mereka menuduh terjadi kesalahan dalam Al-Qur’an, yaitu ketika beberapa ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa Alloh menciptakan segala sesuatu berpasangan. Lalu mereka menyebutkan be-berapa benda yang tidak memiliki pasangan, yaitu : bakteri dan jamur yang berkembang biak secara a-seksual, Elodea Eropa yang merupakan tanaman yang hanya memiliki satu jenis kelamin saja yang juga berkembang biak dengan a-seksual, dan gaya gravitasi bumi yang hanya punya daya tarik tanpa ada pasangannya.

Perhatikanlah, betapa sempitnya pola fikir mereka. Bukankah a-seksual adalah pasangan da- ri seksual ? Bukankah gaya gravitasi bumi tergolong gaya magnet bumi yang juga memiliki gaya to lak-menolak sebagaimana magnet-magnet yang lainnya ?


TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH TIGA


Mereka menuduh Al-Qur’an tidak tahu sejarah, karena Samiri dalam kisah Nabi Musa ‘alai- his salam adalah Samaritan yang belum ada pada zaman Nabi Musa. Ketika dibantah bahwa Samiri adalah Shomer bukan Samaritan, mereka kembali memaksakan fahamnya, berlagak sok tahu melebi hi para ahli tafsir kaum muslimin. Sebagaimana kebiasaan mereka, yaitu memaksakan tafsirnya, me reka bersikeras pokoknya harus Samaritan, bukan Shomer !!!

Terhadap kekeraskepalaan mereka, kita katakan : Kata “Samiri” tanpa ada huruf “T”, seandainya pendapat mereka benar, mestinya Al-Qur’an tidak menyebut “Samiri” tetapi “Samarit”. Lantas apa yang mereka baca di dalam Al-Qur’an ? Samiri atau Samarit ?!!!


TUDUHAN danBANTAHAN KEDUA PULUH EMPAT


Mereka menyebut Qs. Al-A’rof : 157 sebagai kesalahan, karena Injil belum ada ketika za-man Nabi Musa ‘alaihis-salam. Demikian mereka menyimpulkan pendapatnya berdasarkan ayat :

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي يَجِدُونَهُ مَكْتُوبًا عِندَهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنْجِيلِ

“( Yaitu ) orang-orang yang mengikut Rosul, Nabi yang ummi yang ( namanya ) mereka dapati ter-tulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka.”

Mereka berkata : “Ayat di atas ditulis memakai present tense dan jelas-jelas pada masa itu Injil be-lum ada.”

Memang ayat ini didahului oleh ayat-ayat yang bertutur tentang kisah Nabi Musa ‘alaihis salam, na mun kata يَجِدُونَه “mereka dapati” adalah fi’il mudhori’ yang bermakna sekarang ( present tense ) atau akan datang ( future tense ), sehingga bisa dimungkinkan untuk dimaknai dengan present tense atau future tense tergantung konteks kalimatnya. Tapi bila dihubungkan dengan kata sebelumnya, yaitu يَتَّبِعُونَ “mereka mengikuti” yakni mereka kaum muslimin mengikuti Rosul Nabi yang Ummi, yai tu mengikuti Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam, sedangkan kata يَجِدُونَه “mereka dapa- ti” diletakkan setelah kata يَتَّبِعُونَ “mereka mengikuti” hal ini mengharuskan maknanya kembali kepa- da Bani Isroil pada zaman Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam yang mana ketika itu Injil sudah ada. Seandainya maknanya adalah Bani Isroil pada zaman Nabi Musa saja niscaya Al-Qur’an akan mengatakannya dalam bentuk madhi ataupast tense, karena mengimbangi kata يَتَّبِعُونَ “mereka mengikuti” yang diletakkan sebelumnya yang berbentukpresent tense atau future tense. Yaitu bila pendapat mereka benar ayatnya mesti berbunyi :

الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الرَّسُولَ النَّبِيَّ الأُمِّيَّ الَّذِي وَجَدُوْهُ

“( Yaitu ) orang-orang yang mengikut Rosul, Nabi yang ummi yang ( namanya ) telah mereka dapati …”, tetapi nyatanya ayat ini tidak memakai fi’il madhi atau past tense, dengan demikian penafsiran mereka itu yang salah.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH LIMA


Setelah mengutip terjemah Qs. Al-Qoshosh : 8 dan 38, mereka mengatakan : “Di sini Qur’an jelas-jelas mengatakan Haman dan Fir’aun hidup pada masa dan tempat yang sama. Tapi itu tidak benar menurut sejarah. Fir’aun hidup pada masa Musa, dan Haman adalah menteri pada masa peme rintahan Ahasuerus ( Xerxes I ). Ayat Qur’an ini bukan saja salah tentang lokasinya, tetapi juga sa-lah tentang waktunya – 1.000 tahun !”

Begitulah cara mereka memahami Al-Qur’an. Andaikata perkataan mereka benar, maka kita akan balik bertanya : “Apakah tidak mungkin di dunia ini ada dua orang yang sama dalam nama ?” Banyak kita dapati di dunia ini, bahkan dalam satu waktu dan tempat yang tidak berjauhan terdapat orang yang memiliki nama yang persis sama. Bahkan pernah dilaporkan di beberapa stasiun televisi asing adanya penemuan dua keluarga yang sewaktu yang memiliki nama, bentuk dan kehidupan yang sangat mirip, padahal berasal dari dua keluarga yang berbeda. Apalagi bila rentang waktunya adalah 1000 tahun, di tempat yang berjauhan lagi, maka kesamaan nama dan keahlian adalah sangat memungkinkan untuk terjadi.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH ENAM


Mereka mempertanyakan mana yang lebih dahulu diciptakan : langit atau bumi ? Lalu mere-ka mengutipQs. Al-Baqoroh : 29 yang menyebutkan bahwa bumi terlebih dahulu diciptakan daripa-da langit, dan Qs. An-Nazi’at : 27 – 30 yang menyebutkan bahwa langit yang terlebih dahulu dicip-takan. “Mana yang lebih dulu diciptakan ?”

Jawaban dari perkataan mereka telah ada pada bantahan yang terdahulu, yaitu bumi sebagai hampa-ran adalah yang pertama kali diciptakan dalam 2 hari, kemudian langit diciptakan dalam 2 hari, lalu diakhiri kembali dengan penciptaan segala ragam bentuk dan kehidupan di muka bumi dalam waktu 2 hari. Qs. Al-Baqoroh : 29 menceritakan tentang apa yang pertama kali diciptakan, tentu jawaban-nya adalah bumi. Sedangkan Qs. An-Nazi’at : 27 – 30 menyebutkan perincian penyempurnaan pen-ciptaan bumi yang dilakukan setelah penciptaan langit selesai. Kenapa demikian ? Karena tidak mungkin akan ada kehidupan bila tanpa adanya matahari, sedangkan matahari diciptakan ketika pen ciptaan langit, sehingga penciptaan bumi belum bisa sempurna sebelum adanya penciptaan langit be rikut bintang-bintangnya, termasuk matahari.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH TUJUH


Kemudian mereka berkata : “Penyimpangan berikut ini tentang langit dan bumi, bersatu atau berpisah ?” Kemudian mereka mengutip terjemah Qs. Fushshilat : 29 yang menurut sangkaan mere-ka menyebutkan bahwa langit dan bumi terpisah. Lantas mereka mengiringinya dengan mengutip terjemah Qs. Al-Anbiya’ : 30 yang menyubutkan bahwa langit dan bumi dahulunya adalah satu.

Sesungguhnya sangkaan mereka ini karena ketidakmampuan mereka dalam merangkai se-tiap peristiwa yang tersebut dalam beberapa ayat dalam Al-Qur’an. Perhatikan Qs. Al-Anbiya’ : 30 :

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا

“Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya da hulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya.”

Apakah mereka tidak bisa memahami ayat ini dengan baik ? Perhatikan perkataan كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا “keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya“. Memang dahulunya langit dan bumi adalah satu, lalu Alloh pisahkan keduanya untuk dicipta berdasarkan ben tuk yang Alloh kehendaki. Bumi terlebih dahulu diciptakan sebagai hamparan, kemudian menyusul langit dibina menjadi tujuh lapis. Setelah itu Alloh memanggil langit dan bumi, dan keduanya punmenjawab panggilan Alloh dengan patuh dan sukarela. Lantas, di mana letak penyimpangan yang mereka tuduhkan ?


TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH DELAPAN


Mereka menuduh telah terjadi pertentangan dalam Al-Qur’an tentang bagaimana manusia di ciptakan. Karena menurut mereka, disebutkan dalam Qs. Al-‘Alaq : 2 bahwa manusia diciptakan dari segumpal darah, dalamQs. Al-Anbiya’ : 30 dan Qs. Al-Furqon : 54 disebutkan dari air, dalam Qs. Al-Hijr : 26 disebutkan dari tanah liat kering, dalam Qs. Ali ‘Imron : 59 dan Ar-Rum : 30 dise- butkan dari debu / tanah ( dust ), dalam Qs. Maryam : 67 disebutkan dari tidak ada sama sekali, da-lam Qs.Hud : 61 disebutkan dari bumi, dan dalam Qs. An-Nahl : 4 disebutkan dari air mani, yang mana yang benar ?

Jawabnya semua benar. Kenapa ? Karena manusia diciptakan berdasarkan proses demi pro-ses. Manusia dahulunya tidak ada, kemudian Alloh ciptakan manusia yang pertama, yaitu Adam. Ini artinya manusia dahulunya tidak ada lalu diadakan, dan ini tidak bertentangan dengan ayat-ayat lain yang bertutur tentang bahan penciptaan manusia. Seperti ketika saya mengatakan : “Rumah saya ini dahulu tidak ada, lalu saya bangun.” Apakah kalimat ini bertentangan dengan perkataan saya : “Ru- mah saya saya bangun dari semen.” Atau kalimat : “Saya membangun rumah ini dari pasir kali yang bagus kualitasnya.” Atau dengan kalimat : “Rumah ini dibangun dengan batu bata yang nomor wa-hid.” Dan lain-lainnya. Apakah semua kalimat tersebut bertentangan ?

Begitu pula dalam penciptaan manusia. Tentang bagaimana proses selengkapnya dari penciptaan manusia pertama, yaitu :

  1. Bahan dasar penciptaan manusia adalah debu atau tanah ( Qs. Ali ‘Imron : 59 dan Ar-Rum : 30 ) yang diambil dari bumi ( Qs.Hud : 61 ).
  2. Kemudian tanah debu tersebut menjadi basah, tentunya karena ada tambahan unsur air ( Qs. Al-Anbiya’ : 30 dan Qs. Al-Furqon : 54 ), sehingga berubah menjadi tanah lumpur yang lengket ( Qs. Ash-Shoffat : 11 ).
  3. Lalu tanah lumpur tersebut menghitam dan berubah menjadi lumpur hitam yang diberi bentuk (Qs. Al-Hijr : 26 ).
  4. Kemudian mengering menjadi tanah liat yang kering seperti tembikar ( Qs. Al-Hijr : 26 dan Qs. Ar-Rohman : 14 ).
  5. Lalu Alloh menjadikan Adam darinya.

Sedangkan Hawa, maka Alloh ciptakan dia dari tulang rusuk Nabi Adam.

Adapun manusia yang lainnya, Alloh ciptakan dari air mani ( Qs. An-Nahl : 4 ), sebagaimana firman Alloh ta’ala:

هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن تُرَابٍ ثُمَّ مِن نُّطْفَةٍ

“Dia Yang telah menciptakan kamu dari tanah debu kemudian dari setetes air mani.”( Qs. Al-Mu’min : 67 )

Demikian proses yang sebenarnya dari penciptaan manusia, dan tidak ada kontradiktif di dalamnya.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEDUA PULUH SEMBILAN


Mereka berkata : “Dapatkah malaikat melawan Tuhan ? Satu ayat mengatakan tidak mung-kin, tapi di satu ayat lagi malaikat terbukti melawan Tuhan.”

Begitulah pemahaman mereka yang jelek. Sesungguhnya tidak ada satu malaikat pun yang melawan kepada Alloh, sebagaimana disebutkan dalamQs. An-Nahl : 49 -50. Ada pun Iblis, maka ia bukan malaikat, namun tergolong bangsa jin, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ

Dan ( ingatlah ) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai perintah Tuhan- nya.” ( Qs. Al-Kahfi : 50 )

Ada pun Iblis terkena sanksi karena tidak mau sujud, padahal perintahnya kepada malaikat, karena Iblis ketika itu berada di tengah-tengah para malaikat di langit, sehingga perintah Alloh untuk sujud menghormat kepada Adam juga meliputi Iblis yang bukan bangsa malaikat, namun dari bangsa jin. Lantas kenapa yang disebut dalam ayat tersebut hanyalah malaikat, bukan malaikat dan jin ? Karena penyebutan sesuatu boleh diringkas dengan hanya menyebutkan yang yang paling dominan di anta- ra yang hadir, seperti seruan :

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا

“Wahai orang-orang laki-laki yang beriman”, meskipun yang diseur hanyalah kaum lelaki yang beriman, tetapi seruan tersebut meliputi pula kaum wanita yang beriman, sehingga bila ada wanita yang melanggar perintah atau larangan dalam seruan terse-but mereka pun pasti harus mendapatkan sanksi. Begitu pula tidak disalahkan bila seorang guru me-ngatakan : “Setiap siswa wajib datang sebelum bel tanda masuk berbunyi.” Meskipun yang disebut hanya “siswa”, tetapi bila ada siswi yang melanggar, ia pun kena sanksi. Bukankah demikian ?


TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH


Mereka berkata : “Siapa yang menurunkan Al-Qur’an dari Alloh kepada Muhammad ? Satu ayat mengatakan Jibril, dan ayat yang lainnya mengatakan Ruhul Qudus.”

Perhatikan, betapa jeleknya pemahaman tafsir mereka. Hadits-hadits Nabi shollallohu ‘alai- hi wa sallam banyak yang menjelaskan bahwa Ruhul Qudus adalah Jibril‘alaihis salam. Para ahli Tafsir dari mulai generasi Shahabat hingga kini pun semua sepakat bahwa Ruhul Qudus adalah na-ma lain dari Malaikat Jibril. Sehingga tidak ada kontradiktif dalam ayat-ayat ini.


BANTAHAN KETIGA PULUH SATU


Merek berkata : “Apakah ayat-ayat yang diturunkan kepada Muhammad membenarkan ayat-ayat yang diturunkan sebelumnya ? … Ataukah ayat-ayat yang diturunkan kepada Muhammad menggantikan yang telah ada ?”

Jawaban kita adalah kaidah : “Setiap perkataan ada tempatnya”. Ketika ayat-ayat Al-Qur’an menyebutkan bahwa Al-Qur’an membenarkan kitab-kitab sebelumnya, maka makna ayat tersebut berkaitan dengan tema yang sama dalam ajaran seluruh Nabi dan Rosul, yaitu permasalahan seputar ‘aqidah. Maka Al-Qur’an membenarkan isi kitab-kitab sebelumnya, yaitu ajaran tauhid yang ada di dalam kitab Taurat, Zabur, Injil dan lain-lainnya. Namun dalam bidang syari’at fiqhiyyah atau tata cara ritual beribadah, maka Al-Qur’an datang untuk menggantikan syari’at kitab-kitab sebelumnya, dikarenakan perbedaan kemampuan antara generasi dahulu dengan generasi sekarang. Misalnya, ka- lau puasa yang tersebut dalam kitab-kitab ahli kitab terdahulu adalah sejak dari waktu ‘isya hingga waktu maghrib, dan Al-Qur’an menggantinya dengan sejak shubuh hingga maghrib. Dan lain-lain- nya. Sehingga tidak ada pertentangan antara ayat-ayat Al-Qur’an dalam hal ini.


TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH DUA


Mereka berkata : “Anak Nuh diselamatkan atau tidak ?” Lalu mereka menyebutkan Qs. Al-Anbiya’ : 76 yang mengisyaratkan bahwa keluarga Nuh diselamatkan dari bahaya banjir yang besar, setelah itu mereka menyebutkan Qs. Hud : 42 – 43 yang menyebutkan bahwa salah satu anak Nuh ikut di tenggelamkan dalam banjir besar tersebut. Mana yang benar ?

Lihatlah bagaimana khiyanatnya mereka, ketika menukil Qs. Hud : 42 – 43, mereka tidak melanjutkannya ke ayat-ayat berikutnya ! Karena jawaban dari tuduhan mereka ada pada ayat yang ke- 45 dan ke-46 :

وَنَادَى نُوحٌ رَّبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابُنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلاَ تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَن تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ

“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata : “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang se-adil-adilnya.” Alloh berfirman : “Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu ( yang dijanjikan akan diselamatkan ), sesungguhnya ( perbuatan )nya perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui ( hakekat )nya. Sesung-guhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak ber-pengetahuan.”

Jadi meskipun salah satu anak Nabi Nuh tersebut adalah keluarga Nabi Nuh, namun termasuk ang-gota keluarga yang tidak diselamatkan oleh Alloh karena perbuatannya yang buruk.


TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH TIGA


Mereka mempertanyakan : ”Orang Kristen akan masuk Surga ?” Mereka mengutip terjemah Qs. Al-Baqoroh : 62 yang menurut anggapan mereka menyebutkan bahwa orang-orang mu’min, Yahudi, Nashrani dan Shobiin akan masuk syurga. Lalu mereka menyebut terjemah Qs. Al-Maidah : 72 yang menyebutkan bahwa orang Nashrani bakal masuk neraka, dan Qs. Al-Maidah : 85 yang menyebutkan bahwa Alloh tidak akan menerima agama selain agama Islam.

Perhatikan kebodohan mereka dalam memahami ayat ! Mereka ternyata tidak memahami Qs. Al-Baqoroh : 62 secara lengkap. Perhatikan dengan cermat bunyi ayatnya :

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُواْ وَالَّذِينَ هَادُواْ وَالنَّصَارَى وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحاً فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ وَلاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ

“Sesungguhnya orang-orang mu’min, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shobiin,siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Alloh, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekhawatiran kepa da mereka, dan tidak ( pula ) mereka bersedih hati.”

Memang pada ayat ini dijanjikan bahwa orang-orang Yahudi, Nashrani dan Shobiin bakal masuk syurga, tetapi ada syaratnya, yaitu : “siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepa- da Alloh, hari kemudian dan beramal saleh”.

Sehingga orang Kristen yang meyakini ‘Isa Putera Maryam sebagai tuhan atau anak Tuhan tidak ter masuk dalam orang Nashrani yang beriman dan beramal sholeh.

Begitu juga orang-orang Yahudi dan Shobi’in yang tidak masuk Islam, mereka digolongkan bukan termasuk orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, karena semua kitab suci yang asli, belum disentuh oleh tangan-tangan jahil, pasti menyebutkan akan kedatangan Nabi Muhammad shollallo-hu ‘alaihi wa sallam dan perintah untuk mengikutinya.

Kalau demikian, lantas kenapa Qs. Al-Baqoroh : 62 menyebutkan nama-nama Yahudi, Nashrani dan Shobiin ? Jawabannya karena siapa saja yang mengikuti agama Yahudi, Nashrani dan Shobiin dengan benar, yaitu mengikuti ketentuan yang tersebut dalam kitab suci mereka yang masih asli, be-lum dirubah, niscaya mereka bakal masuk Islam, seperti Dhoghothir, Najasyi dan lain-lainnya. Begi tu pula Salman Al-Farisi yang masuk Islam karena diberi petunjuk oleh seorang pendeta Nashrani yang masih memegang Injil yang masih asli.


TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH EMPAT


Setelah menukil terjemah Qs. Maryam : 23, mereka berkata : “Jadi Qur’an mengatakan bah- wa Yesus lahir di bawah pohon Kurma, yang jelas-jelas bertentangan dengan berbagai buku agama lainnya pada saat itu.”

Pada Qs. Maryam : 23 memang disebutkan bahwa Maryam bersandar kepada sebatang po-hon kurma karena merasakan sakit disebabkan kandungannya. Ayat ini tidak menyebutkan di mana Maryam melahirkan ‘Isa, apakah juga di bawah pohon kurma atau di dalam kandang kambing. Ayat ini dan ayat-ayat setelahnya hanya menyebutkan bagaimana cara Maryam mendapatkan makanan untuk bekal dia berpuasa.

Seandainya ayat ini memang menceritakan bahwa Maryam lahir di bawah pohon kurma se-bagaimana sangkaan mereka, maka kebenaran Al-Qur’an tetap didahulukan atas kebenaran kitab-ki tab lainnya, karena berdasarkan fakta : “di dunia ini hanya kitab suci Al-Qur’an yang dijamin masih asli belum mengalami perubahan walau satu huruf pun.”


TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH  LIMA


Mereka berkata : “Apakah homoseksual diizinkan dalam Islam ? Qur’an bertentangan de-ngan dirinya sendiri dalam topik ini.” Lalu mereka mengutip terjemah Qs. An-Nisa’ : 16 dan Qs. An-Naml : 55 yang melarang homoseksual. Kemudian mereka mengutip pula beberapa ayat yang mereka sangka membolehkan homoseksual, yaitu Qs. Ath-Thur : 24, Qs. Al-Waqi’ah : 17 dan Qs. Al-Insan : 19. Kemudian mereka juga menukil beberapa syair orang-orang yang fasiq untuk membe narkan penafsiran mereka yang tolol.

Begitu gaya mereka memaksakan penafsirannya, padahal ayat-ayat Al-Qur’an tidak ada satu pun yang memperbolehkan homoseksual. Ada pun ayat-ayat yang mereka sangkakan memperboleh-kan homoseksual sebenarnya berbicara tentang para pelayan di syurga yang melayani kebutuhan me reka, sebagaimana tersebut dalam rangkaian ayat yang berikutnya. Perhatikan bunyi ayat-ayatnya :

يَطُوفُ عَلَيْهِمْ وِلْدَانٌ مُّخَلَّدُونَ بِأَكْوَابٍ وَأَبَارِيقَ وَكَأْسٍ مِن مَّعِينٍ

“Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas, cerek dan mi-numan yang diambil dari air yang mengalir.” ( Qs. Al-Waqi’ah : 17 – 18 )

Artinya anak-anak muda yang disebut dalam ayat-ayat tersebut adalah para pelayan yang melayani keperluan mereka, semisal makan, minum dan lain-lainnya sebagaimana pelayan di hotel atau resto-ran, bukan melayani birahi seperti yang difikirkan oleh mereka yang otaknya kotor. Tidak ada se-orang muslim pun yang menafsirkan ayat-ayat tersebut sebagaimana yang ditafsirkan oleh mereka yang berotak kotor ! Apalagi ditambah dengan menukil ucapan orang-orang fasiq, maka tambah je-las misi mereka untuk memaksakan kehendak dan penafsirannya yang tolol.


TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH ENAM


Mereka berkata : “Kadang-kadang bunyi ayat itu seakan-akan adalah apa yang dikatakan Tu han, dan kadang-kadang seperti orang lain yang mengatakan sesuatu tentang Tuhan.”

Begitu sangkaan mereka, namun sayangnya mereka tidak memberikan contoh yang spesifik untuk dapat kita buktikan kesalahan perkataan mereka. Tetapi pada bantahan-bantahan kita yang ter dahulu telah cukup memberi gambaran kepada kita bahwa peralihan konteks pembicaraan adalah ka rena suatu alasan yang kuat yang sesuai dengan kaidah sastra Arab, sebagaimana kaidah : “Setiap perkataan ada tempatnya.”


TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH TUJUH


Mereka menuduh Al-Qur’an buatan Nabi Muhammadshollallohu ‘alaihi wa sallam, padahal Nabi Muhammadshollallohu ‘alaihi wa sallam adalah seorang yang ummi atau buta huruf. Para sas trawan besar di segala zaman tidak ada yang sanggup membuat sebuah surat yang menandingi Al-Qur’an, padahal Al-Qur’an sudah menantangnya dalam firman Alloh ta’ala :

وَ إِن كُنتُمْ فِي رَيْبٍ مِمَّا نَزَّلْنَا عَلَى عَبْدِنَا فَأْتُواْ بِسُورَةٍ مِن مِثْلِهِ وَ ادْعُواْ شُهَدَاءكُم مِن دُونِ اللّهِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ فَإِن لَّمْ تَفْعَلُواْ وَلَن تَفْعَلُواْ فَاتَّقُواْ النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ

“Dan jika kamu ( tetap ) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Ka mi ( Muhammad ), buatlah satu surat ( saja ) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-peno- longmu selain Alloh, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat- ( nya ) dan pasti kamu tidak akan dapat membuat-( nya ), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.“ ( Qs. Al-Baqoroh : 23 – 24 )

Bila para pujangga dan sastrawan besar dunia di segala zaman tidak ada yang sanggup membuat se-buah surat yang menandingi Al-Qur’an, bagaimana mungkin seorang Muhammad mampu membuat nya, padahal dia seorang yang buta huruf.

Bukti lainnya adalah banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang berisi perintah yang ditujukan kepa- da Nabi Muhammadshollallohu ‘alaihi wa sallam, bahkan ada beberapa ayat yang berisi teguran ke pada beliau. Ini menunjukkan Al-Qur’an bukan buatan beliau, tetapi wahyu dari Allohta’ala.

Bukti yang lainnya adalah bacaan Al-Qur’an dengan izin Alloh mampu mengusir jin-jin ja- hat yang mengganggu orang. Bahkan bacaan Al-Qur’an mampu mengobati penyakit yang sudah ti-dak bisa ditangani oleh dokter atau tabib. Ini semua menunjukkan bahwa Al-Qur’an adalah firman Alloh dan bukan buatan Nabi Muhammadshollallohu ‘alaihi wa sallam.

Dan masih banyak bukti-bukti lainnya yang menguatkan bahwa Al-Qur’an bukan buatan ma nusia atau jin, namun wahyu dari Alloh ta’ala. Keterbatasan waktu dan tempat yang tidak memung-kinkan kita untuk menguraikannya secara lengkap.


TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH DELAPAN


Mereka berkata : “Kita telah mencapai kesimpulan bahwa Qur’an itu penuh pertentangan.“

Kita jawab : “Kesimpulan yang mana yang mereka tarik, karena nyatanya tidak ada perten-tangan dalam Al-Qur’an. Andai mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an penuh pertentangan, maka kesimpulan mereka itu salah, karena mereka memahami ayat-ayat Al-Qur’an tidak secara utuh, di-penggal semaunya, diberi penafsiran semaunya, bahkan dipaksa agar penafsirannya mengikuti pe-nafsiran mereka yang jauh dari kebenaran. Semua telah kita bantah. Maka kesimpulan kita adalah mereka yang menuduh demikian dalam websitewww.tinggalkan-islam.org adalah orang-orang bo-doh yang suka memaksakan kehendak dan berotak kotor. Semua tuduhan mereka jauh dari kebena-ran dan terbukti diada-adakan secara bohong. Seandainya masih banyak ruang yang tersisa maka akan kami uraikan secara detail tentang bukti kobodohan dan ketololan mereka dalam memahami Al-Qur’an yang suci. Semoga Alloh melindungi kaum muslimin dari segala tipu daya orang-orang yang mendengki kepada Islam. Aamiin.


TUDUHAN dan BANTAHAN KETIGA PULUH SEMBILAN


Mereka berkata : “Bagaimana caranya umat Islam dapat membenarkan begitu banyak kesalahan histories di dalam Al-Qur’an ? Misalnya :

  • i) Allah ( 5 : 116 ) menuduh orang-orang Kristen menyembah tiga Allah ( Trinitas ) yang terdiri dari Allah, Maryam dan Isa.
  • ii) Bahwa orang Yahudi menyembah Ezra ( 9 : 30 )
  • iii) Bahwa kematian dengan cara penyaliban dipakai di zaman Musa pada tahun 1500 sM. Namun Encyclopedia Britannica, yang sesuai dengan semua catatan sejarah, melaporkan bahwa cara penyaliban itu tidak ada sebelum tahun 500 sM.
  • iv) Maryam, ibu Isa, adalah saudara kandung Harun dan Musa walaupun dalam sejarah mereka telah hidup 1500 tahun sebelum Maryam, ibu Isa ( 19 : 28 )
  • v) Haman adalah kawan Firaun walaupun Haman hanya hidup 1000 tahun setelah Firaun sudah mati ( 28 : 6 , 38 : 40, 24 : 36 )

Ini adalah lima kesalahan antara ratusan kesalahan histories dan tata bahasa yang dapat ditemukan dalam Al-Qur’an. Dengan demikian, bagaimana mungkin Al-Qur’an dapat diandalkan sebagai sumber kebenaran yang sempurna ?”

Kita jawab:

“Tidak ada kesalahan sejarah dalam Al-Qur’an. Ada pun lima kesalahan yang mereka sebutkan adalah bukti yang dipaksakan karena ketidakfahaman mereka tentang tafsir Al-Qur’an.

Mereka menuduh kalau Al-Qur’an menuduh orang Kristen menyembah Trinitas, yaitu : Alloh, Maryam, dan Isa. Memang benar Al-Qur’an menyebutkan bahwa orang Kristen menuhankan Trinitas, yaitu : Alloh Yang mereka sebut Tuhan Bapa, Isa yang mereka sebut tuhan anak, dan Roh Qudus, bukan Maryam. Ada pun Qs. Al-Maidah : 116 tidak sedang berbicara tentang Trinitas. Perhatikan bunyi ayatnya :

وَ إِذْ قَالَ اللّهُ يَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ أَأَنْتَ قُلتَ لِلنَّاسِ اتَّخِذُوْنِيْ وَ أُمِّيَ إِلَـهَيْنِ مِن دُونِ اللّهِ قَالَ سُبْحَانَكَ مَا يَكُونُ لِي أَنْ أَقُولَ مَا لَيْسَ لِي بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلْتُهُ فَقَدْ عَلِمْتَهُ تَعْلَمُ مَا فِيْ نَفْسِيْ وَ لاَ أَعْلَمُ مَا فِي نَفْسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلاَّمُ الْغُيُوبِ

“ Dan ( ingatlah ) ketika Alloh berfirman: “Hai ‘Isa putera Maryam, adakah kamu mengatakan kepa- da manusia : “Jadikanlah aku dan ibuku dua sesembahan selain Alloh ?”. ‘Isa menjawab: “Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku ( mengatakannya ). Jika aku pernah mengatakan maka tentulah Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang ghaib-ghaib”.

Perhatikan baik-baik, ayat tersebut tidak sedang berbicara tentang Trinitas, tetapi sedang berbicara tentang alasan terjadinya pengkultusan kepada Nabi ‘Isa dan ibunya. Sebagian aliran dari agama Kristen memang ada juga yang menuhankan Maryam, dan para theolog mengetahui perkara ini. Yaitu ketika terjadi Konsili di Ephese, kaum Katholik menyejajarkan Maria dengan Trinitas. Apa artinya ? Artinya mengangkat Maryam kepada kedudukan tuhan-tuhan dalam agama Kristen lainnya.

Mengenai kaum Yahudi memang awalnya adalah agama yang monotheisme. Namun dalam perkembangannya, agama Yahudi meyakini bahwa Alloh memiliki anak, yaitu Uzair ( Ezra ). Uzair adalah seorang sholih yang hafal kitab Taurat, kemudian Alloh mematikannya selama 100 tahun. Ketika dihidupkan kembali setelah kematiannya itu, kitab Taurat telah musnah karena serbuan dari Bukhtunshir. Maka Uzair membawa bukti akan keberadaan dirinya dengan memaparkan hafalan Tauratnya. Ketika itulah orang-orang Yahudi mengkultuskannya dengan anggapan, kalau Nabi Musa datang kepada mereka membawa Taurat dalam bentuk kitab maka ia diyakini sebagai Rosul utusan Alloh, sedangkan Uzair datang membawa Taurat dengan tanpa kitab, yaitu hanya dengan ha-falannya, maka mereka pun menganggap Uzair lebih tinggi kedudukannya daripada Musa, lalu me-reka meyakini Uzair sebagai anak Alloh, dan mereka pun mengkultuskannya. Inilah makna dari fir-man Alloh ta’ala:

وَ قَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللّهِ وَ قَالَتْ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُم بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِؤُوْنَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُواْ مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللّهُ أَنَّى يُؤْفَكُوْنَ

“Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Alloh” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Alloh”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Alloh mereka , bagaimana mereka sampai berpaling?”

( Qs. At-Taubah : 30 )

Dan dalam ‘aqidah Islam, pengkultusan merupakan salah satu dari bentuk-bentuk penyembahan ke-pada selain Alloh.

Tentang hukuman penyaliban yang tersebut dalam firman Alloh :

قَالَ آمَنتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ فَلأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلاَفٍ وَلأُصَلِّبَنَّكُمْ فِي جُذُوعِ النَّخْلِ وَلَتَعْلَمُنَّ أَيُّنَا أَشَدُّ عَذَابًا وَأَبْقَى

“Berkata Fir’aun: “Apakah kamu telah beriman kepadanya ( Musa ) sebelum aku memberi izin kepa damu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu seka- lian.Maka sesungguhnya aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih ke- kal siksanya”. ( Qs. Thoha : 74 )

Dalam ayat ini Fir’aun baru memberikan ancaman untuk memotong tangan dan kaki para penyihir-nya yang beriman, lalu menyalibnya di pangkal pohon kurma. Ayat ini tidak menyebutkan apakah Fir’aun telah melaksanakan ancamannya. Dan seandainya ayat ini memang seperti yang mereka fa- hami, yaitu benar-benar telah ada hukum salib pada zaman itu, perkara ini tidak bertentangan de- ngan fakta sejarah yang mana pun. Karena penulisan sejarah terkadang ada yang terlewat, atau ter- kandung padanya unsur subyektifitas. Sebagai contoh kasus, bagaimana sejarah tentang Supersemar yang selama berpuluh-puluh tahun pada masa orde baru diyakini dan disepakati oleh para sejara- wan, namun akhirnya diragukan oleh sebagian sejarawan pada masa revormasi. Dan berbagai kisah sejarah lainnya yang sebenarnya tidak akurat tetapi sampai sekarang masih diyakini oleh para sejara wan, baik lokal maupun internasional. Karena penulis sejarah hanyalah manusia biasa, artinya pe- nuh dengan segala keterbatasan. Kenapa kemudian kita menyalahkan Kitab Suci hanya karena ha-sil kesimpulan manusia yang penuh dengan segala keterbatasan ?!!

Tentang penyebutan Maryam saudara Harun dalam firman Alloh ta’ala :

يَا أُخْتَ هَارُونَ مَا كَانَ أَبُوكِ امْرَأَ سَوْءٍ وَ مَا كَانَتْ أُمُّكِ بَغِيًّا

“Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina” ( Qs. Maryam : 28 )

Maknanya adalah sebagaimana hadits Nabi Muhammad:

الْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ

“Seorang mu’min adalah saudara mu’min yang lainnya.” ( HR. Muslim )

Dan tidak ada seorang muslim pun yang meyakini bahwa Maryam adalah saudara kandung Nabi Ha run sebagaimana sangkaan mereka. Kenapa dalam ayat ini disebutkan Saudara Harun ? Karena Na-bi Harun adalah seorang pengabdi Alloh yang sholeh, dan Maryam pun adalah seorang pengabdi Alloh. Sehingga ketika orang-orang melihat Maryam yang seorang pengabdi Alloh ternyata hamil di luar nikah, mereka menyangka Maryam telah berbuat zina, padahal para pengikut Nabi Harun ti- dak pernah melakukan zina dan perbuatan mesum lainnya ? Demikian makna yang dikehendaki oleh ayat ini sebagaimana difahami oleh seluruh kaum muslimin disepanjang zaman.

Mengenai Haman dan Fir’aun, sudah kita jawab dalam bantahan yang terdahulu, yaitu apa-kah tidak mungkin bila ada dua orang tokoh yang berlainan zaman dan tempatnya yang memiliki kesamaan dalam hal nama ? Tentu sangat mungkin terjadi.

Kalau demikian, kesalahan sejarah yang mana yang mereka tuduhkan ?


TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH


Mereka menuduh telah terjadi pertentangan dalam Al-Qur’an, kata mereka : “Paling tidak dua ayat yang jelas, Qur’an memerintahkan penghapusan dialek apapun selain dari bahasa ‘Arab da lam teks Qur’an ( 16 : 103; 41 : 44 )” Kemudian mereka menukil ucapan Imam Suyuthi dalam Al-Itqon bahwa beliau menyebutkan ada 118 kata-kata non ‘arab dalam Al-Qur’an, juga menukil uca-pan Ibnu ‘Abbas yang menyebutkan bahwa ada beberapa kata-kata Qur’an yang berbahasa Persia, Ethiopia dan Nabatean.

Perhatikan, betapa jelek kesimpulan yang biasa mereka buat dari sebuah ayat ! Mereka me-nyebutkan bahwa paling tidak ada dua ayat yang memerintahkan menghapus dialek apapun selain ‘arab dalam Qur’an, lalu mereka menyebutkan Qs. An-Nahl : 103 dan Qs. Fushshilat : 44. Padahal tidak ada sama sekali kata dalam ayat-ayat yang mereka sebutkan yang memerintahkan penghapu-san kata-kata non arab. Perhatikan Qs. An-Nahl : 103 :

وَ لَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَ هَـذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُّبِينٌ

“Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: “Sesungguhnya Al Qur’an itu diajar- kan oleh seorang manusia kepadanya ( Muhammad )”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan ( bahwa ) Muhammad belajar kepadanya bahasa ‘Ajam, sedang Al Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang.”

Dalam ayat ini Al-Qur’an hanya menyebutkan bahwa bahasa yang digunakan dalam Al-Qur’an ada- lah bahasa arab yang terang, tidak ada bunyi “penghapusan kata non arab”. Andai mereka berkata : “Dalam ayat tersebut ada kata-kata penolakan bahasa ‘ajam atau non ‘arab,” maka kita jawab : Se-sungguhnya ayat ini sedang membantah mereka yang menuduh Nabi Muhammad r menjiplak kitab kitabnya Ahli Kitab, padahal kitab-kitab Ahli Kitab berbahasa non arab dan pada zaman itu belum ada yang diterjemah dalam bahasa arab. Tetapi ayat ini tidak menyebutkan sama sekali adanya peng hapusan kata non arab sebagaimana yang mereka sangkakan.

Perhatikan pula Qs. Fushshilat : 44 :

وَ لَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوْا لَوْلاَ فُصِّلَتْ آيَاتُهُ أَأَعْجَمِيٌّ وَ عَرَبِيٌّ قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا هُدًى وَ شِفَاء وَ الَّذِينَ لاَ يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَ هُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى أُوْلَئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَّكَانٍ بَعِيْدٍ

“Dan jikalau Kami jadikan Al Qur’an itu suatu bacaan dalam bahasa selain Arab, tentulah mereka mengatakan: “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah ( patut Al Quraan ) dalam bahasa asing sedang ( rasul adalah orang ) Arab? Katakanlah : “Al Quraan itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mu’min. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al Quraan itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang dipanggil dari tempat yang jauh”.

Mana bunyi yang memerintahkan penghapusan kata non ‘arab ? Tidak ada ! Karena ayat ini sedang menjelaskan salah satu alasan di antara sekian banyak alasan kenapa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa ‘arab, yaitu kata Nabi Muhammad r adalah orang ‘arab yang tidak mengerti bahasa selain bahasa ‘arab, sehingga bila turun dalam bahasa selain Arab, tentu beliau tidak mampu memahami-nya.

Memang dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah kata yang berasal dari non ‘arab, tetapi sudah dibahasa’arab-kan. Dalam istilah tata bahasa disebut kata serapan. Seperti Solomon menjadi Sulai-man, David menjadi Dawud dan lain-lainnya. Meskipun kata-kata tersebut berasal dari bahasa non ‘arab, tetapi dengan diserap ke dalam bahasa ‘arab maka ia telah menjadi bagian dari bahasa ‘arab. Seperti kata NASIB, KUAT, SEHAT, SAKIT. ASYIK dan lain-lainnya yang sebenarnya berasal dari bahasa ‘arab : نَصِيْبٌ – قُوَّةٌ – صِحَّةٌ – سَاقِطٌ – عَشِيْقٌ , tetapi karena sudah diserap dalam bahasa Indonesia maka ia telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari bahasa Indonesia. Bukankah demikian ?


BANTAHAN KEEMPAT PULUH SATU


Mereka menuduh telah terjadi kontradiksi dalam Al-Qur’an, yaitu ketika Qs. Al-An’am : 22 – 23 disebutkan bahwa orang-orang Kafir berusaha menyembunyikan sesuatu dari Tuhan, sementa-ra Qs. An-Nisa’ : 42 menyebutkan bahwa orang kafir tidak menyembunyikan apa pun dari Tuhan.

Kita jawab : Sesungguhnya tidak terjadi kontradiksi dari ayat-ayat yang mereka sebutkan. Perhatikan Qs. Al-An’am : 22 – 23 :

وَ يَوْمَ نَحْشُرُهُمْ جَمِيْعًا ثُمَّ نَقُولُ لِلَّذِيْنَ أَشْرَكُواْ أَيْنَ شُرَكَآؤُكُمُ الَّذِينَ كُنتُمْ تَزْعُمُونَ ثُمَّ لَمْ تَكُن فِتْنَتُهُمْ إِلاَّ أَنْ قَالُواْ وَ اللّهِ رَبِّنَا مَا كُنَّا مُشْرِكِيْنَ

“Dan ( ingatlah ), hari yang di waktu itu Kami menghimpun mereka semuanya kemudian Kami ber- kata kepada orang-orang musyrik : “Di manakah sembahan-sembahan kamu yang dulu kamu kata- kan ( sekutu-sekutu ) Kami ?”. Kemudian tiadalah fitnah mereka, kecuali mengatakan: “Demi Alloh Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Alloh”.

Di sini disebutkan bahwa orang-orang kafir berusaha membohongi Alloh ta’ala, tapi apa mungkin Alloh dibohongi ?

يَوْمَئِذٍ يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُواْ وَ عَصَوُاْ الرَّسُوْلَ لَوْ تُسَوَّى بِهِمُ الأَرْضُ وَ لاَ يَكْتُمُونَ اللّهَ حَدِيثًا

“Di hari itu orang-orang kafir dan orang-orang yang mendurhakai rasul, ingin supaya mereka disa- maratakan dengan tanah, dan mereka tidak dapat menyembunyikan ( dari Alloh ) sesuatu kejadian- pun.” ( Qs. An-Nisa’ : 42 )

Artinya, meskipun mereka berusaha berdusta dihadapan Alloh, tetapi Alloh Maha Tahu. Sehingga Alloh bongkar kedustaan mereka dengan mendatangkan berbagai bukti, termasuk tangan dan anggo ta tubuh berbicara memberi kesaksian atas kedustaan ucapan lisan mereka. Dengan demikian, kedua ayat yang mereka tuduh kontradiktif ini malah saling mendukung dalam penjelasan dan maknanya. Bukankah begitu ?


TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH DUA


Mereka menuduh bahwa dalam Qs. Al-Waqi’ah : 13 – 14 menyebutkan bahwa orang-orang yang bakal masuk syurga mayoritas datang dari bangsa-bangsa sebelum Muhammad dan minoritas dari orang-orang yang percaya kepada Muhammad, tapi dalam Qs. Al-Waqi’ah : 39 – 40 dikatakan bah-wa mayoritas akan berasal dari orang-orang yang datang sebelum dan sesudah Muhammad. Lalu mereka berkata : “Saya mencoba membatasi diskusi ini dengan mengutip tafsir dari ayat-ayat ini da-ri ulama-ulama muslim, tapi mereka tidak pernah menampilkan pembenaran yang jelas atas perten-tangan yang telak ini.”

Jawaban kita :

Terang saja mereka tidak bisa mendapati penjelasan yang benar dalam perkara ini, karena ha ti mereka telah tertutupi oleh kedengkian yang meluap-luap sehingga membutakan akal fikiran mere ka. Padahal jawabannya sangat jelas seterang matahari, bagi siapa yang memiliki mata yang sehat, fikiran yang jernih dan hati yang bersih.

Sesungguhnya Qs. Al-Waqi’ah : 10 – 14 sedang berbicara tentang As-Sabiqunas-Sabiqun atau Al-Muqorrobun, sedangkan Qs. Al-Waqi’ah : 38 – 40 sedang membicarakan tentang Ashhabul Yamin. Bukankah manusia di akhirat terbagi menjadi 3 golongan : As-Sabiqunas-Sabiquun ( Al-Mu qorrobun ), Ashhabul Yamin, dan Ashhabusy-Syimal ? Qs. Al-Waqi’ah : 10 – 14 tengah mencerita kan tentang mayoritas As-Sabiqunas-Sabiqun adalah orang-orang yang terdahulu dan minoritasnya dari orang-orang yang datang kemudian, ada pun Qs. Al-Waqi’ah : 38 – 40 sedang membahas ten- tang mayoritas Ashhabul-Yamin adalah orang-orang yang terdahulu dan yang datang kemudian, ka- lau begitu dimana letak pertentangannya ?


TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH TIGA


Mereka menuduh terjadi pertentangan antara Qs. An-Nisa’ : 3 menyebutkan bahwa keadilan itu mungkin, namun dalam Qs. An-Nisa’ : 129 menyebutkan bahwa keadilan itu tidak mungkin.

Kemudian mereka menebar cerita bohong bahwa Nabi Muhammad lebih sayang kepada ‘Aisyah dan berencana menceraikan Saudah karenanya.

Begitulah tabiat mereka yang seenaknya menebar tafsir yang batil dan cerita yang penuh ke-dustaan, sebuah cerita yang tidak pernah dikenal oleh para ulama kaum muslimin.

Sesungguhnya Qs. An-Nisa’ : 3 dan Qs. An-Nisa’ : 129 saling melengkapi. Qs. An-Nisa’ : 3 berbicara tentang syarat poligami, yaitu kewajiban bersikap adil, sebagaimana disebutkan dalam ayat :

وَ إِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تُقْسِطُواْ فِي الْيَتَامَى فَانْكِحُواْ مَا طَابَ لَكُم مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَ ثُلاَثَ وَ رُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ تَعْدِلُواْ فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ ذَلِكَ أَدْنَى أَلاَّ تَعُوْلُواْ

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim ( bi-lamana kamu mengawininya ), maka kawinilah wanita-wanita ( lain ) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka ( kawinilah ) seorang sa- ja, atau budak-budak yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” ( Qs. An-Nisa’ : 3 )

Pengertian adil di sini diterangkan dalam Qs. An-Nisa’ : 129 yang berbicara seputar konflik yang mungkin terjadi di antara suami dan isteri. Perhatikan Qs. An-Nisa’ : 129 :

وَ لَنْ تَسْتَطِيعُواْ أَن تَعْدِلُواْ بَيْنَ النِسَاء وَ لَوْ حَرَصْتُمْ فَلاَ تَمِيْلُواْ كُلَّ الْمَيْلِ فَتَذَرُوْهَا كَالْمُعَلَّقَةِ وَإِن تُصْلِحُواْ وَتَتَّقُواْ

فَإِنَّ اللّهَ كَانَ غَفُورًا رَّحِيمًا

“Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat berlaku adil di antara isteri-isteri-( mu ), walaupun kamu sa- ngat ingin berbuat demikian, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung ( kepada yang kamu cintai ), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu mengadakan perbai- kan dan memelihara diri ( dari kecurangan ), maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Ma- ha Penyayang.”

Dari sini dapat disimpulkan bahwa ketidakmungkinan bersikap adil yang disebut dalam Qs. An-Nisa’ : 129 adalah keadilan yang sempurna, karena setiap orang memiliki tingkat kecemburuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya si-Fulan memiliki dua orang isteri. Ketika isteri perta ma meminta dibelikan baju baru karena baju yang dimilikinya rusak atau hilang, lalu si Fulan pun membelikannya. Ketika isteri keduanya tahu, ia pun meminta dibelikan baju baru pula. Dalam kasus ini, bila ia membelikan baju baru pula kepada isteri keduanya, maka akan dipandang kurang adil oleh isteri pertama karena baju yang dimiliki isteri kedua masih bagus, sementara bagi isteri kedua pembelian baju baru bagi isteri pertama berarti memberikan suatu ganti yang lebih dari baju yang rusak atau hilang kepada isteri pertama karena kualitas baju baru dengan baju yang sudah tidak baru jelas berbeda. Di sinilah seorang suami tidak mungkin bisa berbuat adil secara sempurna. Begitu pula bila harga baju yang dibeli berbeda, mungkin karena ukuran bajunya yang berbeda atau karena motifnya, dan lain-lain. Oleh karena itu keadilan yang dimaksud sebagai syarat poligami dalam Qs. An-Nisa’ : 3 disebutkan dalam ayat ke-129 : “karena itu janganlah kamu terlalu cenderung ( kepa- da yang kamu cintai ), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung”, artinya berbuatlah adil yang masih mungkin dilakukan oleh manusia yang penuh dengan segala keterbatasan, adapun ke- adilan yang sempurna hanya milik Alloh semata.

Adapun kisah-kisah yang mereka sebut, bahwa Nabi Muhammad terlalu mencintai ‘Aisyah sehingga berencana menceraikan Saudah kecuali Saudah mau memberikan hari gilirannya kepada ‘Aisyah adalah kisah dusta yang dibuat-buat. Karena kisah yang sebenarnya justru Saudah sendiri yang menghibahkan sendiri hari gilirannya kepada ‘Aisyah karena dirinya sudah merasa tertalu tua. Begitu pula kisah dusta yang menyebutkan bahwa Nabi Muhammad menolak nasihat Fatimah anak- nya agar bersikap adil kepada seluruh isterinya. Darimana mereka memungut cerita bohong ini ?!!!


TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH EMPAT


Mereka berkata : “Kita baca dalam Surat 90 : 1, mereka bilang bahwa Tuhan tidak bersumpah di ta-nah suci ( Mekkah ), kemudian dalam Surat 95 : 3 kita lihat Dia bersumpah di tanah suci Mekkah. Pertentangan antara kedua ayat ini sangat jelas.”

Kita Jawab :

Tidak ada pertentangan dalam kedua ayat ini. Karena makna dari Qs. Al-Balad : 1 :

لاَ أُقْسِمُ بِهَذَا الْبَلَدِ

“Aku benar-benar bersumpah dengan kota ini ( Mekah )”

Memang makna kata لاَ adalah “tidak”, namun peletakan kata لاَ di sini adalah sebagai sanggahan atas ketakinan kaum musyrikin, sebagaimana dijelaskan oleh Mujahid. Kalimat ini sama dengan ke-tika ada yang menuduh seseorang mencuri –misalnya-, lalu dia menyanggahnya dengan berkata : “Tidak, Demi Alloh, aku tidak mencuri.” Artinya : kata “tidak” adalah sanggahan, lalu diiringi kata sumpah. Begitu pula dalam Qs. Al-Balad : 1 ini, maknanya adalah “Tidak” yaitu menyanggah keyakinan salah kaum musyrikin, lantas diteruskan dengan sumpah “Aku bersumpah dengan kota ini ( Mekkah )” dan seterusnya. Sehingga fungsi لاَ di sini bisa dianggap sebagai penegas. Sehingga makna ayat ini tidak bertentangan dengan Qs. At-Tin : 3 :

وَ هَذَا الْبَلَدِ الأَمِينِ

“dan demi kota ( Mekah ) ini yang aman.”


TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH LIMA


Mereka berkata : “Di satu surat ( Qs. 5 : 90 ) dikatakan anggur / arak adalah hasil buatan Setan. Tapi di ayat berikutnya ( Qs. 47 : 15 ) dikatakan bahwa ada sungai-sungai dari arak di surga. Pertanyaan saya : bagaimana Setan sampai bisa memasukkan hasil kerjaannya di Surga ?”

Jawaban kita :

Perhatikan bagaimana mereka memaksakan tafsirnya. Qs. Al-Maidah : 90 memang menyatakan pengharaman Khomr, tapi lihat bunyi ayatnya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِنَّمَا الْخَمْرُ وَ الْمَيْسِرُ وَ الأَنصَابُ وَ الأَزْلاَمُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya ( meminum ) khamar, berjudi, ( berkorban untuk ) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasukperbuatan syaitan. Maka jauhilah perbua- tan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.”

Dalam ayat ini Alloh menyebutkan bahwa minum khomr adalah perbuatan syetan, bukan khomr adalah buatansyetan. Lihat betapa liciknya mereka dalam berargumen ! Karena kata perbuatan de-ngan kata buatan adalah dua kata yang maknanya sangat jauh berbeda. Kata buatan menghendaki se luruh khomr adalah buatan atau produksi syetan, sedangkan perbuatan menghendaki makna celaan kepada peminum khomr karena termasuk perbuatan syetan. Dan Khomr diharamkan karena mema-bukkan, sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam :

كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ وَكُلُّ مُسْكِرٍ حَرَامٌ

“Setiap yang memabukkan adalah Khomr, dan setiap yang memabukkan itu haram.”

( HR. Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Ath-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah dan lain-lainnya )

Sedangkan Qs. Muhammad : 15 sedang berbicara tentang Khomr di syurga, di mana Khomr di syur ga rasanya lezat namun tidak memabukkan, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

لاَ فِيهَا غَوْلٌ وَ لاَ هُمْ عَنْهَا يُنزَفُونَ

“Tidak ada dalam khamar itu alkohol dan mereka tiada mabuk karenanya.” ( Qs. Ash-Shoffat : 47 )

Dalam ayat yang lain disebutkan :

لاَ يُصَدَّعُونَ عَنْهَا وَ لاَ يُنزِفُونَ

“mereka tidak pening karenanya dan tidak pula mabuk.” ( Qs. Al-Waqi’ah : 19 )

Semua ini menunjukkan bahwa Khomr di surga bukan seperti khomr di dunia, sehingga walau pun di Syurga ada sungai khomr, tetapi tidak ada yang mabuk karenanya, karena memang khomr-nya ti-dak memabukkan. Sedangkan yang tergolong perbuatan syetan adalah minum khomr yang bisa memabukan, yaitu khomr yang ada di dunia.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH ENAM


Mereka menuduh bahwa Qs. Al-An’am : 14 dan Qs. Az-Zumar : 12 bertentangan dengan Qs. Al-An’am : 163. Karena dalam Qs. Al-An’am : 14 dan Qs. Az-Zumar : 12 disebutkan bahwa Muham-mad adalah orang yang pertama kali menyerahkan diri, sedangkan dalam Qs. Al-An’am : 163 dise-butkan bahwa Ibrohim adalah orang yang pertama menyerahkan diri. Mereka berkata : “Pertanyaan-nya = Muhammad atau Ibrohim yang pertama kali berserah diri ( menjadi Islam ) ?”

Jawaban kita :

Setiap orang wajib menjadi pelopor dalam kebaikan, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ

“Berlomba-lombalah ( dalam berbuat ) kebaikan !” ( Qs. Al-Baqoroh : 148 dan Al-Maidah : 48 )

Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam adalah pelopor dalam keislaman umatnya, sehingga dia diperintahkan untuk mengatakan :

إِنِّيَ أُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ أَوَّلَ مَنْ أَسْلَمَ

“Sesungguhnya aku diperintah supaya aku menjadi orang yang pertama kali menyerah diri ( kepada Alloh ).” ( Qs. Al-An’am : 14 )

Demikian pula dalam Qs. Az-Zumar : 12 :

وَ أُمِرْتُ ِلأَنْ أَكُوْنَ أَوَّلَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan aku diperintahkan supaya menjadi orang yang pertama-tama berserah diri”.

Sedangkan Nabi Ibrohim ‘alaihis salam diperintahkan untuk menjadi pelopor keislaman kaumnya pula, sebagaimana firman Alloh ta’ala :

لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَ بِذَلِكَ أُمِرْتُ وَ أَنَاْ أَوَّلُ الْمُسْلِمِينَ

“Tiada sekutu bagiNya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri ( kepada Alloh )”. ( Qs. Al-An’am : 163 )

Hal ini sama seperti bila ada seorang kepala kantor yang mengatakan kepada tiap-tiap kepala bagian untuk menjadi orang yang pertama-tama melaksanakan peraturan baru yang telah ditetapkan. Apa artinya ? Artinya, masing-masing kepala bagian mesti menjadi pelopor dalam pelaksanaan peratu-ran baru tersebut di dalam lingkup bagiannya. Bukankah begitu ?


TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH TUJUH


Mereka berkata : “Dalam Qs. 10 ( Yunus ) : 80 – 83 jelas Al-Qur’an bilang bahwa setelah pertemu-an dengan tukang sihir Fir’aun hanya kaumnya pihak Musa yang bertobat. Kontradiksi / bertenta-ngan dengan Qs. 17 : 120 – 126 di mana jelas dikatakan di ayat ini tukang-tukang sihir Fir’aun pun ikut beriman kepada Tuhannya Musa. Jelas sekali kontradiksinya, di mana Alloh SWT lupa apakah hanya kaumnya Musa saja yang bertobat ( Qs. 10 ( Yunus ) : 83 ) atau juga tukang sihirnya Fir’aun juga bertobat ( Qs. 7 : 120 -126 ).”

Jawaban kita :

Alloh tidak lupa dan tidak pula salah, tetapi mereka saja yang tolol, tidak mengerti cara merangkai sebuah kisah. Qs. Yunus : 79 – 86 hanya bertutur seputar kisah pertemuan Musa ‘alaihis salam de- ngan para tukang sihir, dan tidak dilanjutkan kepada penjelasan hasil akhir pertarungan antara sihir tukang-tukang sihir Fir’aun dengan Mu’jizat Musa. Dan memang sebelum kekalahan para tukang si hir Fir’aun yang beriman hanya pemuda-pemuda dari kaumnya Musa.

Hal ini tidak bertentangan dengan Qs. Al-A’rof : 111 – 126, karena dalam di sini diceritakan sampai akhir pertarungan antara sihir para tukang sihir Fir’aun dengan Mu’jizat Nabi Musa dan berakhir de ngan kemenangan Mu’jizat Nabi Musa. Inilah yang menjadikan para tukang sihir itu sadar dan ber-iman kepada Alloh.

Bila dirangkaikan maka cerita dalam Qs. Yunus : 79 – 86 disempurnakan dalam Qs. Al-A’rof : 111 – 126. Hal ini sama dengan cerita Diponegoro – misalnya – yang dibuat dalam dua seri, di dalam seri pertama diceritakan bagaimana kemenangan-kemenangan Diponegoro melawan Belanda. Dan dalam seri kedua diceritakan bagaimana Diponegoro tertawan dan Belanda pun menang. Apakah bo leh kita katakan bahwa Seri Pertama bertentangan dengan Seri Kedua, karena dalam Seri Pertama Diponegoro yang menang, tapi dalam Seri Kedua Belanda yang menang, yang mana yang benar ? Jawabannya : Semua Benar, yang tolol adalah mereka yang memahani hanya sepotong-sepotong da ri ceritanya ! Bukankah demikian ?!!!


TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH DELAPAN


Mereka menuduh bahwa Qs. An-Nisa’ : 48 bertentangan dengan Qs. An-Nisa’ : 153. Mereka berka-ta : “Kesimpulan = Alloh pendusta karena katanya nggak diampuni dosa syirik, eh ternyata bahkan dalam surat yang sama dosa syirik diampuni.”

Maha Suci Alloh dari apa yang mereka tuduhkan. Mari kita lihat bagaimana kebodohan me-reka dalam memahami Al-Qur’an :

إِنَّ اللّهَ لاَ يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَ يَغْفِرُ مَا دُوْنَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَ مَن يُشْرِكْ بِاللّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari ( syirik ) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” ( Qs. An-Nisa’ : 48 )

Dalam ayat ini Alloh tegaskan bahwa DOSA SYIRIKadalah yang tidak akan diampuni, namun pela-kunya masih mungkin diampuni bila dia bertaubat dari dosa syiriknya sebelum ajal menjemputnya, tapi bila dia tidak bertaubat dari dosa syiriknya, maka dosa syirik tidak akan diampuni, sebagaimana sabda Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam :

مَنْ مَاتَ لا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَ مَنْ مَاتَ يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa mati dalam keadaan tidak mempersekutukan Alloh dengan sesuatu apapun maka ia masuk syurga, dan barangsiapa yang mati dalam keadaan mempersekutukan Alloh dengan sesuatu apapun maka ia masuk neraka.” ( HR. Al-Bukhori dan Muslim )

Inilah sebabnya ayat 48 memakai lafazh أَن يُشْرَكَ بِهِ yang artinya “perbuatan mempersekutukan-Nya” tidak memakai lafazh “pelaku dosa mempersekutukan-Nya”. Sehingga ayat ini tidak bertenta-ngan dengan ayat ke-153 :

يَسْأَلُكَ أَهْلُ الْكِتَابِ أَن تُنَزِّلَ عَلَيْهِمْ كِتَابًا مِنَ السَّمَاء فَقَدْ سَأَلُواْ مُوسَى أَكْبَرَ مِن ذَلِكَ فَقَالُواْ أَرِنَا اللّهَ جَهْرَةً فَأَخَذَتْهُمُ الصَّاعِقَةُ بِظُلْمِهِمْ ثُمَّ اتَّخَذُواْ الْعِجْلَ مِن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ فَعَفَوْنَا عَن ذَلِكَ وَ آتَيْنَا مُوسَى سُلْطَانًا مُّبِينًا

“Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka sesungguhnya mereka telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. Mereka berkata : “Perlihatkanlah Alloh kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir karena kezaliman- nya, dan mereka menyembah anak sapi, sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu Kami ma’afkan ( mereka ) dari yang demikian. Dan telah Kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.“

Karena ayat ini memakai lafazh اتَّخَذُواْ الْعِجْلَ yaitu “mereka menyembah anak sapi” yang artinya me nyebutkan pelaku, yang mana para pelaku penyembah anak sapi ini belum mati sehingga masih ter-buka kesempatan bertaubat dari dosa syiriknya sebagaimana tersebut dalam ayat-ayat yang lainnya. Dengan demikian tidak terjadi pertentangan di antara dua ayat ini.


TUDUHAN dan BANTAHAN KEEMPAT PULUH SEMBILAN


Mereka menuduh Qs. 29 : 29 – 30 bertentangan dengan Qs. 27 : 56. Dalam Qs. 29 : 29 – 30 yaitu pa da kasus Nabi Luth jelas dikatakan : “Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan : “Da-tangkanlah kepada kami azab Alloh, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.”, yaitu nantangin Nabi Luth. Ini kontradiksi dengan Qs. 27 : 56 karena dalam ayat ini disebutkan : “Maka tidak lain ja waban kaumnya melainkan mengatakan : “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu.”

Jawaban kita :

Tidak ada pertentangan di sini. Karena kalau kita amati konteks kalimatnya dan kalimat-kali mat yang terdapat dalam ayat-ayat sebelumnya akan jelas bagi kita duduk permasalahannya. Perhati kan Qs. Al-Ankabut : 29 :

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ وَ تَقْطَعُوْنَ السَّبِيلَ وَ تَأْتُونَ فِي نَادِيكُمُ الْمُنْكَرَ فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قَالُوْا ائْتِنَا بِعَذَابِ اللَّهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِيْنَ

“Apakah sesungguhnya kamu patut mendatangi laki-laki, menyamun dan mengerjakan kemungka- ran di tempat-tempat pertemuanmu ?” Maka jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan: “Da-tangkanlah kepada kami azab Alloh, jika kamu termasuk orang-orang yang benar”

Ayat ini menceritakan jawaban kaumnya ketika menyadarkan mereka dari perbuatan homoseksual, menyamun dan berbuat mesum di tempat-tempat pertemuan atau di muka umum, yang tentu pelaku nya orang-orang yang merasa dirinya jagoan, karena tidak mungkin menyamun kecuali orang-orang yang bermental preman, maka jawaban kaumnya yang demikian adalah menantang Nabi Luth untuk mendatangkan azab Alloh, karena mereka merasa kuat dan tidak takut dengan azab Alloh.

Adapun Qs. An-Naml : 54 – 56 :

وَ لُوْطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُوْنَ الْفَاحِشَةَ وَ أَنتُمْ تُبْصِرُوْنَ

“Dan ( ingatlah kisah ) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya: “Mengapa kamu mengerjakan per buatan fahisyah itu sedang kamu memperlihatkan(nya)?”

أَئِنَّكُمْ لَتَأْتُوْنَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُوْنِ النِّسَاءِ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ

“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk ( memenuhi ) nafsu-(mu), bukan ( mendatangi ) wanita ? Sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui ( akibat perbuatanmu )”

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلاَّ أَنْ قَالُوْا أَخْرِجُوْا آلَ لُوْطٍ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُوْنَ

“Maka tidak lain jawaban kaumnya melainkan mengatakan : “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang ( menda’wakan dirinya ) bersih.”

Ayat-ayat ini hanya menyangkut upaya Nabi Luth untuk menyadarkan kaumnya dari kebiasaan ho-moseksual, yang orang-orangnya tidak sama dengan yang disebut dalam Qs. Al-‘Ankabut : 29, kare na di sini tidak disebutkan kata-kata menyamun. Dipertegas lagi dengan tuduhan kaumnya bahwa Luth dan para pengikutnya adalah orang-orang yang sok suci, yaitu tidak mau melakukan homoseks maka orang-orang yang disadarkan ini mengancam akan mengusir Nabi Luth dan pengikutnya.

Kita buat sebuah permisalan. Kalau kita mengajak orang-orang di lingkungan kita yang suka berjudi dan memalak, dan sambutan mereka hanyalah jawaban : “Buktikan kalau kami mau di azab, silakan da tangkan azab Alloh !”, lalu kita datangi orang-orang lain di lingkungan kita yang juga suka berju di namun bukan orang yang biasa memalak orang, kita sadarkan mereka, dan jawaban mereka ha-nyalah ancaman pengusiran. Apakah bila kita ceritakan pengalaman ini kepada seseorang, dia akan menuduh bahwa cerita kita bertentangan ? Tentu tidak, karena “SETIAP PEMBICARAN ADA TEMPATNYA”.


TUDUHAN dan BANTAHAN KELIMA PULUH


Mereka menuduh Qs. 68 : 49 bertentangan dengan Qs. 37 : 145. Dalam Qs. 68 : 49 menunjukkan Yunus akhirnya mendapat nikmat Tuhan dan tidak dicampakkan ke tanah yang tandus. Kontradiksi dengan Qs. 37 : 145 yang menyebutkan ternyata Yunus jadi dilemparkan ke tanah yang tandus yang dimaksud !!

Jawaban kita :

Demikian pemahaman mereka terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang sangat jauh dari kehendak ayat. Perhatikan Qs. Al-Qolam : 49 :

لَوْلاَ أَنْ تَدَارَكَهُ نِعْمَةٌ مِنْ رَّبِّهِ لَنُبِذَ بِالْعَرَاء وَهُوَ مَذْمُومٌ

“Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat ni’mat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke ta-nah tandusdalam keadaan tercela.”

Dalam ayat ini disebutkan bahwa seandainya tidak karena nikmat Alloh, niscaya Yunus akan dilem-par ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Penekanannya adalah kata-kata : “dalam keadaan terce-la”, bukan “dilempar ke tanah tandus”.

Dan dalam Qs. Ash-Shoffat : 145 disebutkan dengan lafazh :

فَنَبَذْنَاهُ بِالْعَرَاءِ وَ هُوَ سَقِيْمٌ

“Kemudian Kami lemparkan dia ke daerah yang tandus, sedang ia dalam keadaan sakit.”

Yaitu tidak dalam keadaan tercela, namun dalam keadaan sakit. Sehingga tidak ada pertentangan di antara dua ayat ini.

Bila mereka menanyakan, kenapa dilempar ke tanah yang tandus ?

Karena supaya mudah terlihat oleh orang, sehingga Yunus bisa segera diselamatkan. Andaikata dilempar ke tanah yang memiliki tanaman, ada kemungkinan tidak langsung dapat diketahui oleh orang-orang sehingga ikan Nun-nya terlanjur membusuk, dan bagaimana nasib Nabi Yunus bila de-mikian ?

Demikian Bantahan dan Jawaban kami terhadap artikel yang terdapat dalam www.tinggalkan-islam.org , semoga bisa menjadi bekal bagi kaum muslimin untuk membentengi iman dan islam kita dari syubhat atau keraguan yang ditebarkan oleh musuh-musuh Islam. 

Source: https://answeringkristen.wordpress.com/220/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s