Ketika Presiden Hanya DIAM Menyaksikan Rakyatnya Membela Agamanya

portal piyungan

portal piyungan


Posisi diam atau hanya penonton adalah posisi yang menjadi pilihan dari begitu banyak pilihan, bagaimana seorang pemimpin bersikap melihat dan menilai sebuah situasi.

Namun Posisi diam dan menjadi penonton adalah selemahnya pilihan posisi yang dapat dipilih oleh sang pemimpin ditambah situasi ini berbicara mengenai sebagian besar rakyatnya yang muslim berbicara membela agamanya.

Saat ini rakyatnya yang beragama Islam dan menjadi mayoritas di negeri ini, menunggu sikap dari sang Presiden; dan sebagai pemilih terbesar pula mungkin sudah seharusnya sang presiden memberikan sikapnya minimal dengan tujuan menenangkan dan mampu memposisikan diri sebagai seorang yang negarawan dengan menunjukkan bahwa hukum diatas kepentingan semua warga negara termasuk seorang pejabat publik sekalipun yaitu Gubernur kepala daerah.

Menjadi Presiden, sudah menjadi kewajiban berdiri diatas segala kepentingan, diatas segala pesanan, dan tidak boleh ada intervensi apapun kepada diri sang presiden.

Karena sudah sepantasnyalah, sang presiden yang menjadi harapan semua agama, semua golongan dan  semua lapisan; bersikap layaknya negarawan dengan mampu memposisikan diri dan berani bersikap demi atas nama NKRI.

Hukum diatas segalanya, ditambah negara ini adalah negara berdasarkan hukum, semua warga negara termasuk para pejabat publik juga harus taat dan tunduk pada hukum yang berlaku di negeri ini, tidak ada diri diri di negeri ini yang tak dapat disentuh hukum (Untouchables) dan tidak ada yang merasa kebal hukum ketika dirinya melakukan pelanggaran atas UU atau atas penghinaan yang dilakukan.

Semua sama dimata hukum, dan Presiden sudah seharusnya bersikap demi menjunjung nama baik hukum di negeri ini, siapapun dan apapun harus menaati aturan hukum yang berlaku.

Kecuali ada kukungan politik dan kepentingan di dalam diri sang presiden, sehingga membuatnya harus memilih diam dan tak mau bersikap asal aman.

Negeri ini menjadi pertaruhannya, sang Pemimpin sudah harusnya tampil di tengah tengah rakyat yang dipimpinnya, memberitahukan posisinya sebagai seorang pemimpin yang mampu bersikap tegas dan negarawan.

Bukan malah lari dari kegaduhan yang ada, memilih ke luar negeri karena kuatir harus bersikap demi negeri yang dipimpinnya, sangat ironi apabila mengingat dulu puluhan triliun telah dikeluarkan negeri ini untuk mencari pemimpinnya.

Ternyata hanya melahirkan pemimpin yang terkukung kepentingan dan pesanan politik. [Adityawarman @aditnamasaya/lingkarannews.com]

Padahal menurut MUI Pusat sudah jelas bahwa “Ahok Menghina Al-Qur’an dan Ulama”

img_20161031_221706

Setelah melakukan pengkajian terhadap pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat menyimpulkan Gubernur DKI Jakarta tersebut telah menghina Al-Qur’an dan ulama.

“Berdasarkan hal di atas, maka pernyataan Gubernur DKI Jakarta dikategorikan: (1) menghina Al-Qur’an dan atau (2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum,” tegas MUI Pusat seperti tertuang dalam surat resmi yang ditandatangani  Ketua Umum MUI Pusat Dr KH Ma’ruf Amin dan Sekretaris Jenderal Dr H Anwar Abbas, MM, MAg, Selasa (11/10/2016) di Jakarta.

Kesimpulan MUI tersebut didasarkan pada lima kenyataan terkait pernyataan Ahok.

  • Pertama, Al-Quran surah al-Maidah ayat 51 secara eksplisit berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin. Ayat ini menjadi salah satu dalil larangan menjadikan non Muslim sebagai pemimpin.
  • Kedua, ulama wajib menyampaikan isi surah al-Maidah ayat 51 kepada umat Islam bahwa memilih pemimpin Muslim adalah wajib.
  • Ketiga, setiap orang Islam wajib meyakini kebenaran isi surah al-Maidah ayat 51 sebagai panduan dalam memilih pemimpin.
  • Keempat, menyatakan bahwa kandungan surah al-Maidah ayat  51 yang berisi larangan menjadikan Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin adalah sebuah kebohongan, hukumnya haram dan termasuk penodaan terhadap Al-Quran.
  • Kelima, menyatakan bohong terhadap ulama yang menyampaikan dalil surah al-Maidah ayat  51 tentang larangan menjadikan nonmuslim sebagai pemimpin adalah penghinaan terhadap ulama dan umat Islam.

MUI juga menyatakan aparat penegak hukum wajib menindak tegas setiap orang yang melakukan penodaan dan penistaan Al-Quran dan ajaran agama Islam serta penghinaan terhadap ulama dan umat Islam sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

[https://hizbut-tahrir.or.id/2016/10/11/mui-pusat-ahok-menghina-al-quran-dan-ulama/]

Andai Jend. M. Yusuf Masih Hidup, Bisa jadi Ahok Bakal Dikubur Hidup-Hidup

img_20161031_221927

Zaman presiden Soeharto china taipan tidak bisa berkutik kalau tidak kena tampar atau akan di kubur hidup hidup oleh sang jenderal bila bersifat arogan lagi.

Berbanding terbalik di zaman Jokowi. China taipan mau buat apa saja,mau berkata kasarpun tak satu pun jenderal yang menampar ,mengapa begitu ? Mari kita tanyakan pada media penjilat ahok dan pada polisi / tni yang ikut ikutan menggusur rumah warga miskin.

Zaman M Soeharto, hanya dua di antaranya yang pernah menegur dan memarahi Liem Soei Liong, yaitu Letnan Jenderal HR Dharsono dan kemudian Jenderal Muhammad Jusuf.

Jenderal HR Dharsono saat menjadi Dubes RI di Bangkok, memarahi Liem karena perilaku seenaknya ketika ia ini bertamu ke kedutaan untuk menemuinya. HR Dharsono tidak peduli Liem itu ‘sahabat’ Soeharto atau siapa. Jangankan Liem, Jenderal Alamsyah yang saat itu menjadi salah satu menteri di kabinet Soeharto pun pernah ditegur HR Dharsono, akibat perilaku anak-isteri sang menteri yang membuat masalah di Bangkok.

Tetapi yang lebih seru adalah cerita mengenai teguran Menhankam/Pangab Jenderal Muhammad Jusuf kepada Liem yang datang ke kediaman Presiden Soeharto dengan pakaian seenaknya.

Sekelumit cerita yang didapat sekedar untuk mengingatkan bahwa walau dekat dengan penguasa, jangan se enak “udel” nya sendiri.

Pagi itu jam 8.00 sebuah mobil masuk ke komplek kawasan cendana kediamannya presiden ke- 2 RI SOEHARTO. Ternyata tamu yg turun dari sebuah jeep mercy tsb bukanlah menteri atau pejabat penting negara tapi justru seorang pengusaha “teman ngopi “ Pak Harto. Taipan yg dikenal sebagai konglomerat,taipan dan pemilik bank BCA dan sejumlah bisnis raksasa itu bernama Liem Soei Liong.

Hanya dengan mengenakan “celana pendek santai”boos sejumlah kongomerat indonesia terlihat begitu santai memasuki kediaman presiden. Pengusaha dan konglomerat yg dikenal.dekat dengan Pak.Harto itu, dipersilakan menunggu oleh ajudan PRESIDEN RI ke 2 tsb.

Dari schedule memang Pak.Harto diagendakan akan menerima beberapa orang tamu pagi itu diantaranya adalah Menhankam/Pangab. M.JUSUF.

Selang tidak berapa lama Liem Soei Liong duduk menunggu panggilan masuk tiba2 rombongan mobil membawa Menhankam/Pangab masuk.

Ketika Jend TNI M.Jusuf masuk ke Cendana disinilah ia berpapasan dengan Liem Soei Liong yg bercelana pendek tsb. Jend. M Jusuf menyapa dengan gaya bahasa khas makassarnya tsb “you mau kemana tanyanya ke Liem Soei Liong”? dengan tegas.

“wa mau menghadap bapak presiden sahutnya”,langsung Jend .M Jusuf naik pitam ketika itu, dia panggil orang tsb kehadapannya.

Jend M Jusuf sendiri saat itu dalam kondisi mengenakan “PDH”pakaian dinas harian jabatan MENHANKAM/PANGAB yg memegang tongkat komando).

Liem Soei Liong datang kehadapannya dengan mengenakan celana pendeknya tsb “langsung ditampar dan digebuk perutnya oleh M.Jusuf.

“Kurang ajar kamu ya, kamu tau kamu itu mau menghadap siapa dengan mengenakan celana tdk sopan begini”teriak Jenderal tegas tsb.

“Ampun maaf jend ampun wa minta ampun jend, sambil memegang wajahnya yg baru ditempiling oleh orang nomor satu MILITER indonesia tsb)

“Lain kali kali kalau pakai celana pendek begini menghadap.presiden saya tanam kamu hidup2 ujar M. Jusuf dengan logat khas makasarnya.

Akhirnya taipan dan konglomerat tsb tdk jadi menghadap Presiden Soeharto karena diusir langsung oleh M.Jusuf dari Cendana.

Pak Harto rupanya sudah mengetahui apa yg sedang terjadi didepan kediamannya, beliau diam seperti “no comment”. Ketika beliau menerima MENHANKAM/PANGAB M.JUSUF masalah “penggebukan Liem Soei Liong tdk disinggung. Mungkin pak.Harto sudah paham.

Pertanyaannya kenapa Pak Harto “tidak menegur pak JUSUF”? begitulah cara Pak Harto membela orang2 kepercayaannya. Gaya Jend.M Yusuf yang tegas dalam menjaga nama dan marwah presiden tsb juga diacungkan jempol oleh media dan rakyat.

Pertanyaan selanjutnya, apakah wibawa TNI bisa ditegakkan kembali seperti jaman Menhankam /Pangab M Yusuf dan mampu “menampar” para pihak yang bersikap seenaknya sendiri menghina TNI dan Indonesia dalam beberapa kasus ? atau akan makin sungkan karena beberapa petingginya “mesra” dengan beberapa konglomerat ?? atau hanya kesombongan semu seperti akun resmi TNI AU yang katakan saat dikritik tentang halim.. kami lebih tahu jeroan kami…sungguh mengenaskan bila TNI sudah seperti itu …

Aku jadi inget pesan Pak Dirman (Jenderal Besar Soedirman)

Ingatlah, bahwa prajurit kita bukan prajurit sewaan, bukan parjurit yang mudah dibelokkan haluannya, kita masuk dalam tentara, karena keinsyafan jiwa dan sedia berkorban bagi bangsa dan negara.

Tentara hanya mempunyai kewajiban satu, ialah mempertahankan kedaulatan negara dan menjaga keselamatannya, sudah cukup kalau tentara teguh memegang kewajiban ini, lagi pula sebagai tentara, disiplin harus dipegang teguh.
(Jogjakarta, 12 Nopember 1945)


Tentara tidak boleh menjadi alat suatu golongan atau orang siapapun juga.
Tentara bukan merupakan suatu golongan diluar masyarakat, bukan suatu kasta yg berdiri diatas masyarakat, tentara tidak lain dan tidak lebih dari salah satu bagian masyarakat yang mempunyai kewajiban tertentu.
(Jogjakarta, 1 januari 1946)


Bahwa satu-satunya hak milik nasional/republic yang masih utuh tidak berubah-ubah, meskipun harus mengalami segala macam soal dan perubahan, hanyalah angkatan perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia) –
(Jogjakarta, 1 Agustus 1949)


Saat menjadi Panglima ABRI, M Jusuf sangat dekat dengan prajurit. Dia berkeliling Indonesia untuk menemui para prajurit di barak-barak. Dengan hangat dia menyapa keluarga prajurit.

Dia membangun asrama, memperbaiki fasilitas yang rusak, memberikan bantuan dan dengan sikap kebapakan mendengarkan curhat para prajurit.

M Jusuf menghabiskan waktu di antara para prajuritnya. Nyaris tidak pernah duduk di meja kerja. Karena itu dia menjadi sangat populer. Tak hanya di kalangan prajurit, namun juga di mata rakyat. Saat itu TVRI yang menjadi satu-satunya stasiun TV selalu menayangkan kunjungan kerja Jenderal Jusuf.

Salah satu Putra bangsa terbaik bangsa ini kelahiran Kayuara, Bone Selatan, 23 Juni 1928, ini meninggal dunia dalam usia 76 tahun di Makassar, 8 September 2004, pukul 21.35 Wita. Dan Indonesia berduka. Mabes TNI dan masyarakat Sulawesi Selatan mengibarkarkan bendera setengah tiang selama tujuh hari.

Semoga Allah menempatkan jannah buat jenderal M. Jusuf

Salam Indonesia Raya

Bagaimana dengan para jenderal sekarang? Jika Jenderal M. Jusuf masih hidup, pasti dia sudah menempeleng dan mengubur hidup-hidup orang seperti ahok!

[http://eramuslim.com/berita/tahukah-anda/andai-jend-m-yusuf-masih-hidup-ahok-bakal-dikubur-hidup-hidup.htm]

img_20161031_222656

[https://facebook.com/jonru.page/?ref=bookmarks]

Iklan

One response »

  1. […] Ratusan ribu massa akan memadati ibukota. Massa yang datang dari penjuru Indonesia tersebut akan memadati lokasi di seputaran Monas, Masjid Istiqlal, Balaikota DKI, DPRD DKI Kebon Sirih, dan Istana Kepresidenan. […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s