Lanjutan dari Artikel: Aksi Damai 4/11, Aksi Damai Bela Islam [1/2]


Ardy menegaskan turunnya IPTI, Pemuda Katolik dan Generasi Muda Khonghucu nanti adalah bagian dari 12 Organisasi Kepemudaan (OKP) lain termasuk PERISAI dari Syarikat Islam, Pemuda Muslimin dan Pemuda Al Washliyah. Ia yakin aksi berjalan tertib dan damai.

Pada bagian lain, Ardy menyatakan, mendukung proses hukum  oleh aparat kepada Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) dalam kasus dugaan penistaan agama.

Ketua Umum Pertahanan Ideologi Sarekat Islam (PERISAI), Chandra Halim mengatakan, OKP pemuda Tionghoa, Katolik dan Konghucu ini tergabung dalam Forum Pemuda Lintas Agama dan Kebangsaan  menjawab keprihatinan terhadap isu kebhinekaan.

“Kita bersama peduli dan prihatin, untuk itu kita turun menyerukan tuntutan hukum kepada Ahok dan aparat untuk bertindak tegas tanpa pandang bulu,” ujarnya.

  • Panglima TNI Jenderal Gatot Skakmat Mata Najwa

img_20161107_205646

Aksi Bela Islam 4 November 2016 diikuti oleh sejutaan massa Umat Islam dari berbagai penjuru tanah air yang datang ke ibukota Jakarta dengan start dari Masjid Istiqlal ke Istana Negara.

Jauh-jauh hari sebelum Aksi 411, beberapa pihak sudah berupaya agar aksi ini gagal atau setidaknya tidak diikuti massa dalam jumlah besar.

Berbagai cara dilakukan, dengan membuat image yang jelek pada Aksi ini, dicitrakan Aksi Bela Islam adalah aksi anarkis, ditunggangi teroris, bermuatan SARA, bahaya bagi persatuan dan kebhinekaan dan lain lain.

Media-media pro-Ahok menjadi corong untuk pemggembosan Aksi 411.

Namun, justru Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo yang membela Aksi Bela Islam itu saat media memframing dengan jelek.

Dalam acara Mata Najwa 2 November, atau H-2, Jenderal Gatot Nurmantyo ikut hadir menjadi bintang tamu.

Ketika Najwa Shihab melontarkan pertanyaan yang mencoba mem-framing Aksi Bela Islam dengan citra jelek, jawaban Jenderal TNI itu justru membela umat Islam sekaligus “menghantam balik” Mata Najwa.

Jenderal Gatot:

“Dalam konteks ini mari kita berpikiran positif. Bahwa yang akan melaksanakan demo itu adalah saudara-saudara kita sebangsa se-Tanah Air. Mereka kata Kiai Abdul Mu’ti tadi, tidak punya tempat di Mata Najwa. Sehingga mereka di jalan raya, ke Istana (Negara). Jadi kita berpikiran positif.”

Saat itu selain Jenderal Gatot, hadir sebagai tamu adalah Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti, Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, Menag Lukman Hakim Saifuddin, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, dan Ketua MPR Zulkifli Hasan.

  • Ustaz YM Sumbang 10 Truk Air Mineral

img_20161107_205627

Dengan menyumbangkan 1 juta botol air mineral atau sekitar 10 truk, Ustadz Yusuf Mansyur mendukung ‘Aksi Bela Islam II. Setelah Aa Gym yang menyatakan akan ikut bergabung, kini giliran Ustaz Yusuf Mansyur yang memberikan dukungan.

Dukungan itu disampaikan Ustaz YM melalui akunInstagram @yusufmansurnew pada 1 November yang lalu. Pada postingan itu, Ustaz YM mengunggah sebuah foto berisi cuitan dari Ustadz Hasan yang mengucapkan terima kasih atas sumbangsihnya.

“Sebagai bagian dari ummat, bagian dari bangsa, apa yg bs kita bantu, bantu aja. setidaknya bantu doa, agar Allah mengawal dan memberikan Bimbingan dan Penjagaan-Nya. dan segera memberikan ketenangan dan kedamaian menyeluruh. tidak ada niatan riya, atau sum’ah, insyaaAllah. melainkan memberi contoh. dua kegiatan; di pesantren, di seluruh cabangnya, dan di 6000an rumah tahfizh, di hari Jum’at tgl 4 November, mendoakan negeri. bikin khataman Qur’an, zikir dan doa. inilah selemah2 amalan yang bisa dilakukan oleh mereka yg lemah imannya seperti saya,” ajakan dari Ustadz YM yang mendampingi foto tersebut.

Lebih lanjut, Ustadz YM menjelaskan bahwa dengan memberikan dukungan apapun, akan membuat suasana menjadi baik-baik saja.

“Yg kedua, bersedekah. lwt sayap AQUDO, merk air kita, 50rb sd 100rb botol air diberangkatkan u memberi air minum di hari itu. kwn2 gereja, kwn2 masjid, pd ikut memberi makan dan minum juga. insyaaAllah dg hati riang dan ikhlas, semua akan baik2 saja. aaamiin,” lanjut Ustadz YM.

  • Jaya Suprana Sumbang Logistik ke Istiqlal.

img_20161107_174542

Presiden Direktur PT Jamu Jago, Jaya Suprana menyumbang minuman dan makanan untuk demonstran yang menginap di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Pada Jumat, 4 November 2016, para demonstran akan melakukan unjuk rasa kasus peninstaan agama yang dilakukan Basuki Purnama alias Ahok.

Kepala Bagian Protokol Masjid Istiqlal, Abu Hurairah Abdulsalam mengatakan Jaya Suprana tiba menjelang salat Asar. Pendiri Museum Rekor Indonesia ini hanya sebentar di mesjid terbesar di Asia Tenggara.

“Beliau menyumbang 12 dus air mineral, kue-kue dan roti,” kata Abu Hurairah pada Kamis, 3 November 2016.

Selain Jaya Suprana, kata Abu, banyak warga Jakarta memberi sumbangan makanan dan minuman bagi demonstran Aksi Bela Islam II. Ratusan karton air mineral, kue, roti hingga nasi box sejak Kamis pagi sudah berdatangan ke Istiqlal.

Selepas salat Asar pengurus masjid mulai membagikan konsumsi tersebut pada puluhan orang yang sudah berdatangan di Istiqlal.

“Bapak dari mana? Mau ikut aksi esok? Ini silahkan dimakan semoga bermanfaat,” kata Samin, 30 tahun, salah satu pramubakti di Madrasah Ibtidaiyah Istiqlal yang tenaganya dipakai untuk membantu pengurus masjid melayani demonstran.

Pertanyaan itu selalu dilemparkam oleh Samin pada setiap orang yang meminta makan. “Soalnya, amanah dari yang menyumbang untuk yang mau ikutan besok,” ujarnya.

Hingga sore ini, masih ada mobil yang berdatangan dan menurunkan bantuan logistik. “Dari pagi sudah sekitar 100 mobil yang datang,” kata Samin.

Abu menjelaskan sumbangan yang datang ini semua atas nama pribadi. Tidak ada sumbangan yang datang dari lembaga maupun partai politik. “Semuanya atas nama hamba Allah,” ujarnya.

Pada September 2016, Jaya Suprana membantu warga Bukit Duri, Kecamatan Tebet yang pemukimannya akan digusur oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Purnama alias Ahok.

Jaya mendampingi warga yang ketakutan setelah menerima surat peringatan ketiga dari Wali Kota Jakarta Selatan agar membongkar rumahnya yang berada di bantaran Sungai Ciliwung.

“Waktu itu warga ketakutan dan saat itu saya berupaya menghibur dan saya mengatakan saya siap kalau betul digusur saya berdiri di depan buldozer. Masalah itu nanti dilindes atau tidak, saya tidak peduli,” kata Jaya Suprana yang bersahabat dengan Abdurrahman Wahid.

Jaya mengaku memiliki hubungan emosional dengan warga Bukit Duri sejak perkenalannya dengan Sandyawan Sumardi, Direktur Ciliwung Merdeka. “Saya memiliki hubungan batin dengan warga Bukit Duri cukup lama,” ujar dia.

Sandyawan Sumardi, sejak tahun 2000, semakin intensif melalui kegiatan seni. “Melalui Ciliwung Merdeka, kami mengadakan konser rakyat untuk rakyat,” Jaya Suprana berujar.

Hubungan itu makin erat ketika Gubernur Ahok menggusur pemukiman warga Kampung Pulo, Jakarta Timur. Jaya Suprana megaku terlambat mengetahui kabar penggusuran itu. “Saat penggusuran terjadi saya belum sadar. Sekarang warga Bukit Durilah yang belum tergusur.”

Jaya Suprana meminta penggusuran ditunda lantaran masih ada proses gugatan yang masih berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dan Pengadilan Tata Usaha Negara. “Penggusuran tidak boleh dilakukan sebelum ada keputusan pengadilan,” katanya.

Namun Pemerintah DKI Jakarta tidak peduli. Ratusan anggota Satpol Pamong Praja dibantu polisi tetap membongkar pemukiman warga Bukit Duri.

Kerusuhan Penjaringan

Polisi mengamankan 16 orang, terkait aksi kericuhan di Gedong Panjang, Penjaringan, Jakarta Utara, Jumat (4/11) malam. Tiga orang dipulangkan, sementara 13 lainnya ditetapkan sebagai tersangka.

Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Awi Setiyono mengatakan, awalnya Polres Jakarta Utara mengamankan 15 orang terkait kericuhan di Kedung Panjang, Penjaringan. Kemudian, dilakukan pengembangan dan berhasil ditangkap satu orang kembali sehingga total 16 orang diamankan.

“Tiga orang dipulangkan karena tidak ada perbuatan pidana, sementara 12 orang dan tambahan satu orang ditetapkan sebagai tersangka. Total tersangka menjadi 13 orang,” ujar Awi, Minggu (6/11).

Dikatakan Awi, empat orang ditetapkan sebagai tersangka terkait pencurian dengan pemberatan dan pengeroyokan, melanggar Pasal 363 KUHP dan Pasal 170 KUHP dengan ancaman hukuman di atas 5 tahun penjara.

“Delapan orang penyerangan terhadap polisi -melanggar Pasal 214 KUHP-, dan satu orang terkait pembakaran atau perusakan sepeda motor -Pasal 170 KUHP-,” ungkapnya.

Ia menyampaikan, polisi masih terus melakukan penyelidikan dan memburu sejumlah pelaku terkait aksi kericuhan itu. “Masih ada DPO (Daftar Pencarian Orang) 16 orang,” katanya.

  • Barisan HMI Disusupi Provokator

img_20161107_205609

Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Mulyadi P. Tamsir, mengklaim adanya penyusup dalam demonstrasi Jumat 4 November 2016, yang telah memasuki barisannya.

Hal ini setelah penyusup yang mengaku sebagai kader HMI itu, tersebar lewat aplikasi pesan singkat di kalangan kader organisasi kemahasiswaan itu.

Menurut Mulyadi, saat identitasnya digeledah setelah dia tertangkap sejumlah massa yang ikut demonstrasi, orang yang mengaku sebagai kader HMI itu diketahui warga Ciledug, Tangerang.

“Ini foto yang ditangkap dan mengaku HMI. Ada KTP-nya bernama F, warga Ciledug,” kata Mulyadi di kantor PB HMI, Jakarta, Sabtu, 5 November 2016.

Setelah ada temuan itu, Mulyadi menyimpulkan, demonstrasi itu telah disusupi provokator dengan mengaku sebagai bagian dari organisasi tertentu.

Dia pun berdalih, organisasi yang dia pimpin bukan menjadi provokator kericuhan kemarin. “Ada provokator yang mengaku HMI,” Mulyadi menambahkan.

Saat ini, Mulyadi menjelaskan, penyusup yang mengaku kader HMI itu sudah ditangani kepolisian untuk ditindaklanjuti motifnya dalam demonstrasi itu.

  • Provokator Kericuhan

img_20161107_210437

Agaknya ada pihak yang tidak suka Aksi Bela Islam berjalan damai. Sejak awal, aksi yang diikuti ratusan ribu umat Islam itu berjalan tertib.

Menjelang Maghrib, sebagian peserta sudah meninggalkan lokasi termasuk rombongan jamaah Daarut Tauhid yang dipimpin Aa Gym. Saat petang tiba, tampak beberapa orang yang mengenakan celana jeans bertindak provokatif.

Aa Gym pun mengunggah foto dua orang terduga provokator. Keduanya memakai celana jeans. Satu orang mengenakan kaos sedangkan satu orang mengenakan baju lengan pendek. Keduanya berbeda dengan mayoritas peserta aksi bela Islam yang mengenakan baju putih.

Segera, foto terduga provokator itu menyebar luas. Hingga berita ini dimuat, 8 ribu orang telah membagikan foto tersebut

Aksi demonstrasi besar-besaran ratusan ribu massa yang dilakukan pada Jumat, 4 November 2016 berujung bentrok di depan Istana Negara. Tak hanya itu, kericuhan juga terjadi di kawasan Jakarta Utara. Hal tersebut dinilai menciderai semangat aksi damai yang didengungkan sebelumnya.

“Perbuatan ini jelas menciderai semangat aksi damai yang didengunkan sebelum pelaksanaan aksi 4 November 2016 dan juga berimbas ke sekelompok orang yang mencoba memprovokasi kedamaian warga di wilayah Pluit Penjaringan – Jakarta Utara,” demikian pernyataan tertulis Forum Silahturahmi Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Lintas Generasi yang diterima Okezone, Sabtu (5/11/2016).

Oleh sebab itu, melihat kondisi yang akan menciderai nilai-nilai Islam dan intelektual Islam serta kesatuan bangsa, aparat keamanan diminta untuk tidak ragu, menindak dengan tegas kepada siapapun yang berkeinginan mengganggu ketentraman dan ketertiban di Jakarta dengan cara-cara kekerasan, menghasut dan menginginkan pertikaian di masyarakat.

Kemudian, HMI juga meminta kepada pihak terkait agar tidak ragu untuk menindak tegas kepada pihak manapun yang dengan sengaja melakukan aksi-aksi kekerasan di tengah jalan seperti yang terjadi di kawasan Pluit Penjaringan Jakarta Utara dengan mewaspadai kelompok-kelompok yang tak dikenal.

“Menghimbau kepada peserta demonstran untuk tetap menjaga nilai-nilai Islam dan kesantunan dalam melaksanakan aksi serta menjaga NKRI,” tutupnya.

  • Perusuh di Penjaringan Bukan Massa Aksi Bela Alquran

Pendakwah, Ustaz Felx Siauw mengatakan massa yang berbuat kerusuhan di Penjaringan Jakarta Utara pada Jumat (4/11), bukanlah massa aksi damai Bela Islam di Istana Negara. Karena itu, Falix meminta para netizen tidak terpancing dengan fitnah yang dilakukan para pemilik akun Twitter tidak jelas.

“Khusus yang di Penjaringan, kerusuhan di situ sama sekali bukan berasal dari aksi damai #BelaQuran,” tulis Felix lewat akun @felixsiauw, Sabtu (5/11).

Massa aksi Bela Alquran, kata Ustaz Felix, tidak bercampur dengan mereka yang tidak damai dalam aksinya. Karena aksi Bela Alquran adalah aksi damai. “Bersabar di masa fitnah duhai saudara saudariku, jika kita beriman, maka tak perlu komentar negatif dan merusak,” katanya. “Jika ada yang menemukan akun yang menghina dan memprovokasi, maka abaikan saja.”

Penjelasan lengkap soal kondisi ricuh setelah shalat maghrib di Istana akan disampaikan oleh para ulama. Umat Muslim diminta bersabar menuggu karena penjelasan dari ulamalah kebenarannya.

“Tahan komentar-komentar yang buruk dan malah mengadu umat, sebab akun-akun tak jelas banyak berkeliaran, jangan terpancing adu debat,” kata Felix. “Insya Allah dari ulama dan asatidz di GNPF-MUI akan press conference selepas dzuhur nanti. Dengarkan ulama dan abaikan yang lain.”

  • Pernyataan Jokowi soal Demonstrasi

img_20161107_214450

Organisasi kepemudaan menyesalkan pernyataan Presiden Joko Widodo yang menyebut aksi unjuk rasa pada Jumat, 4 November 2016, telah ditunggangi aktor politik.

Pernyataan ini diungkapkan Himpunan Mahasiswa Islam, Pelajar Islam Indonesia, dan Gerakan Pemuda Islam Indonesia.

Ketiga organisasi kepemudaan itu menganggap pernyataan Presiden berpotensi memicu persoalan baru.

“Presiden jangan memberi pernyataan yang provokatif,” kata Ketua Umum PB HMI, Mulyadi P. Tansir di Jakarta, Sabtu, 5 November 2016.

Sementara itu, Ketua Umum Pelajar Islam Indonesia, Munawar Khalil, khawatir pernyataan itu akan mengalihkan masyarakat dari tuntutan yang disampaikan demonstran, yaitu meminta Gubernur non aktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama, segera diproses secara hukum atas dugaan penistaan agama.

“Jangan sampai terkecoh dengan isu baru. Ahok itu adalah tujuan utama,” ujar dia.

  • Kerusuhan menurut pantauan JITU

Berdasarkan pantauan lapangan wartawan Jurnalis Islam Bersatu (JITU), aksi damai bela Islam atau aksi bela Qur’an pada Jum’at 4 November 2016 yang dilakukan oleh 1 juta umat Islam, menjelang dan pada saat aksi secara umum berlangsung tertib dan damai. Namun aksi yang penuh kedamaian ini ternoda karena tiba-tiba terjadi kericuhan di menit-menit terakhir.

Dalam hal ini, sebagai jurnalis yang berada di tempat kejadian, Jurnalis Islam Bersatu (JITU) menyampaikan beberapa kesaksian. Berikut rilis resmi yang diterima Kiblat.net, Sabtu (05/11):

1. Kami di barisan terdepan melihat bahwa insiden di menit-menit terakhir dipicu oleh tindakan kepolisian yang mengarahkan tembakan gas air mata ke arah para ulama yang pada saat itu justru berusaha menenangkan massa yang terprovokasi. Tidak benar bahwa insiden ini diakibatkan oleh peserta aksi.

2. Kami mendengar dan melihat bagaimana para tokoh ulama dan masyarakat baik di barisan terdepan sampai belakang, berharap bertemu dengan presiden Jokowi untuk menyampaikan tuntutan. Namun kami juga melihat fakta tidak adanya tanda-tanda persiden Jokowi akan menemui para peserta aksi.

3. Kami mendengar dan menyaksikan begitu besarnya keinginan masyarakat muslim yang melaksanakan aksi maupun yang tidak hadir, untuk menuntut Ahok yang dinilai Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah menistakan Al-Quran ke pengadilan secepatnya. Karena itu, kami menghimbau kepada para ulama agar tidak berhenti menyuarakan aspirasi umat Islam tersebut.

4. JITU juga memandang ada arus ketidakpercayaan umat Islam kepada media-media tertentu. Hal ini dipicu oleh sikap media massa tersebut yang tidak adil dalam memberitakan aksi damai bela Islam. Oleh karena itu, JITU menyerukan agar wartawan tetap bersikap profesional dan dapat menggunakan hati nuraninya dalam membuat berita.

Aksi Damai 411 jadi Trending Topik Dunia

img_20161107_210132

Aksi damai bela Islam yang tengah berlangsung hari ini menjadi tranding topic dunia. Para netizen menggunakan tagar #aksidamai411 dalam menyampaikan pesannya.

“Tuan, janganlah heran jika umat ini mencintai Al Qur’an lebih daripada mencintai hidupnya sendiri” tulis akun Den Bagus dengan #AksiDamai411

Tak ketinggalan, Wakil Gubernur Jawa Barat juga menulis mendoakan agar aksi 4 november ini berjalan dengan damai.

“Semoga #AksiDamai411 hari ini tetap damai dan tidak anarkis karena Islam Cinta Damai dan Rahmatan lil a’lamiin. Allahu Akbar!” tulis Deddy Mizwar dalam akun twittenya.

“Hanya yg memiliki cinta pada Al Qur’an yg akan tergerak membela saat Al Qur’an dinista. Ini soal RASA, bukan SARA #AksiDamai411 #JumatBerkah,” tulis Muhammad Taqwan.

Salah seorang akun lain yang mengaku dari Malaysia ikut mendukung demonstrasi damai di Jakarta. “From malaysia and i support may everything ease by Allah,” tulis akun Kopi.


Video ahok lecehkan Islam:


Video Panglima TNI tanggapi Najwa Shihab:


Pantuan dari Jalan Gatot Soebroto:


Pantauan dari kawasan Gambir:


Pantauan dari Stasiun Duren Kalibata:


Pantauan dari Bundaran HI hingga Patung Arjuna Wijaya:


Pantauan dari Stasiun Manggarai:


Video aksi 4 November:


FPI jadi pagar betis Polisi saat massa HMI ricuh:

img_20161107_210110

#AksiDamaiBelaIslam

#AksiDamai411

img_20161107_210531


4+11+20+16=51

(Al Maidah : 51)


411

img_20161108_054121


Video pidato Jokowi terkait aksi 411


Reporter MetroTV sembunyikan identitasnya:

img_20161107_210259


Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s