Buya Syafi’i Ma’arif Terang-Terangan Kritik MUI

img_20161109_210915

Mantan Ketua PP Muhammadiyah, Buya Syafi’i Ma’arif terang-terangan mengaku tak sependapat dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait pandangan terhadap dugaan kasus penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI non aktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Ditegaskan Buya, dalam pidato di Kepulauan Seribu, Ahok tidak menghina Al Quran dan ulama seperti yang dinyatakan MUI melalui Fatwa nya.

“Ahok tidak menghina ulama karena dalam pidatonya menyatakan perorangan,” kata Buya Syafi’i dalam acara di salah satu stasiun televisi swasta, Selasa (8/11/2016).

Hal itu ditegaskannya setelah dirinya melihat secara utuh video yang menampilkan pidato Ahok di Kepulauan Seribu.

“Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu yang menghebohkan itu,” ujarnya.

Terkait Fatwa yang dikeluarkan MUI yang menyatakan Ahok bersalah melakukan penistaan agama, Buya Syafi’i menganggap Fatwa MUI tidak teliti.

“Semua berdasarkan Fatwa MUI yang tidak teliti itu, semestinya MUI sebagai lembaga menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggung jawab,” ujarnya.

Sebelumnya, terkait polemik kata pidato Ahok di Kepulauan Seribu disebut-sebut sebagai pangkal masalah kericuhan tafsir Surat Al Maidah 51. Ahok dianggap telah melakukan penistaan terhadap agama.

Melalui Kajian Hukum dan Perundang-undangan serta Komisi Pengkajian, MUI mengeluarkan fatwa bahwa Ahok telah melakukan penistaan agama. MUI mendukung pelaksaaan gelar perkara secara terbuka untuk kasus Ahok.

Syafii Maarif Bertobatlah dan Jangan Terus Bela Pemimpin Kafir

Melihat sikap Syafii Maarif membela Ahok, saya tidak heran. Kalau kita buka file-file lama di Google, akan berserakan data-data bagaimana Syafii puja puji Ahok.
 
Dan melihat Syafii menghantam FPI (dan MUI) juga jangan heran. Syafii telah lama benci dan dongkol kepada Habib Rizieq Syihab. Ia, dalam catatan saya, tokoh yang pertama yang menyebut Habib dengan preman berjubah.
 
Kenapa demikian? Karena Syafii tidak pernah mencoba cross check kepada Habib Rizieq. Syafii lebih nyaman makan-makan dengan Ahok dibanding mencoba mendatangi Habib untuk mengklarifikasi apa sebenarnya yang diingini FPI.
 
Dan lebih ‘mengerikan’ lagi adalah ide Syafii tentang pluralism Agama. Dalam Resonansi di Republika, Syafii pernah menulis (intinya) bahwa jalan keselamatan tidak hanya Islam, tapi juga agama-agama lain. Maka jangan heran, karena akidah Syafii seperti itu, maka kini ia bela mati-matian Ahok.
 
Lelaki yang pernah kuliah di Amerika ini lebih gawat lagi ketika membuat Maarif Institute. Dengan ideologi dasar pluralisme agama, maka Maarif mengeluarkan buku Fiqih Kebinekaan, yang nampaknya dipersembahkan untuk Ahok atau pemimpin-pemimpin non Islam di negeri ini. Jangan heran bila ‘lembaga Amerika’ kabarnya membantu dana besar untuk lembaga ini.
 
Lihatlah bagaimana ‘kerusakan ideologi Maarif Institute’ ketika membuat survei dan kemudian menempatkan Bali sebagai kota yang paling Islami di Indonesia. Maarif tidak melihat bahwa Bali pusat narkoba, pusat pergaulan bebas/perzinahan dan pusat kemaksiyatan lainnya. Bagaimana dikatakan paling Islami?
 
Dan yang menyedihkan bagi saya, adalah ketika Syafii puja-puji kepada Sahetapy ahli hukum (non Muslim). Syafii yang ahli sejarah, seperti lupa sejarah bahwa Sahetapy itu sangat keras permusuhannya kepada ‘hukum Islam’. Terutama Piagam Jakarta.
 
Seorang profesor sahabat Amien Rais, bertutur bahwa Amien Rais menyayangkan sikap sahabatnya yang sudah tua itu. Apa sebenarnya yang dicari oleh Syafii?
 
Lelaki kelahiran Sumatera 81 tahun ini, memang punya pergaulan yang luas dengan non Muslim. Mungkin karena pengalamannya bersahabat dengan ‘intelektual-intelektual’ non Muslim di Amerika-Indonesia, menjadikan Syafii lembek terhadap non Muslim dan akidahnya tidak kokoh.
 
Untuk menghilangkan kesombongan ilmiah, saya anjurkan Syafii membaca buku-buku Prof Mustafa Azami,  Prof Ismail Faruqi dan lain-lain. Apakah Syafii tidak bisa mengambil pelajaran terhadap pembunuhan (non Muslim) yang mengerikan kepada Ismail Faruqi dan Istrinya yang disayat-sayat dadanya? Amerika bukan negeri perang lho. Menurut saya ini lebih sadis dari yang dilakukan ISIS terhadap musuh-musuhnya di Irak. Apakah Syafii tidak terketuk hatinya, bagaimana pemerintah Amerika non Muslim menghancurkan negara Irak (2003) yang mengakibatkan jutaan manusia kini melayang dan mengakibatkan krisis di negara itu berkelanjutan.
 
Syafii, seorang Muslim itu pertama kali disuruh Allah dengan ukhuwah Islamiyah, bukan ukhuwah insaniyah, ukhuwah wathaniyah atau yang lainnya. Kenapa? Karena para Nabi, orang-orang terhebat dalam sejarah, itu membawa Islam. Kenapa Nabi Muhammad saw mati-matian selama hidupnya membela Islam, bahkan dengan peperangan? Karena Nabi Muhammad saw membawa risalah yang mulia dan penyeru perdamaian sejati manusia, meski jalannya kadang dengan peperangan.
 
Syafii, hayati sejarah Rasulullah saw dan masukkan dalam hati kenapa Alquran menyatakan : “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah tegas terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS Al Fath 29)
 
Syafii, tentu tahu bahwa di dunia ini yang terjadi adalah ‘pertarungan’ perebutan kepemimpinan. Tidak terkecuali di Indonesia. Bila kita terus menerus mendekati dan membela orang atau pemimpin kafir, maka tidak akan tumbuh kepemimpinan Muslim. Karena itu, Al Qur’an jelas menyatakan : “Orang-orang beriman, mereka berperang di jalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut. Maka perangilah wali-wali syetan itu, karena sesungguhnya tipu daya syetan itu lemah.” (QS an Nissa’ 76).
 
picsart_11-09-09-10-39
 
Pak Syafii, ketika kita semakin tua, mestinya kita semakin bijak dan semakin mendekat kepada masjid dan kaum Muslimin. Pak Syafii tentu faham bagaimana Rasulullah saw dengan sangat serius hari-hari hidupnya digunakan untuk berdakwah, berjihad dan mengajak orang-orang non Muslim untuk masuk Islam. Jadi pergaulan kita kepada non Muslim bukan untuk memuji-muji atau ikut berjuang bersama mereka. Tapi tidak lain untuk mengajak mereka masuk Islam dan menikmati nikmatnya Islam (Al Qur’an,  Sunnah Rasulullah saw dan ijtihad ulama’ yang shalih).
 
Pak Syafii, kadangkala kita perlu berendah hati mendengar pernyataan orang lain, bahkan orang yang kita musuhi. Ini tidak mudah. Karena biasanya kalau kita sudah merasa berilmu, professor, kita tidak mau mendengar ora ang yang bergelar S1. Apalagi S1 di dalam negeri. Penyakit kesombongan intelektual inilah yang harus kita hapus dalam diri kita. Bukankah Sayidina Ali menyatakan : “Lihatlah apa yang dikatakan, jangan siapa yang mengatakan.”
 
Saya tahu ini tidak mudah. Kadang ‘sifat Firaun’ ini ada pada diri kita. Merasa kita yang paling hebat dan terbaik. Padahal di sana banyak juga orang-orang yang lebih hebat dan baik dari kita. Ingatlah firman Allah : “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia:“Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah”. Akan tetapi (dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.” (QS Ali Imran 79).
 
Pak Syafii, kita masing-masing diberi Allah kelebihan dan kekurangan. Sepanjang hidup kita selain kita gunakan dakwah dan memperjuangan Islam, juga kita gunakan untuk memperbaiki diri. “Hisablah dirimu, sebelum dihisab Allah SWT.” I’tibar kisah Nabi Musa dan Nabi Khidhir perlu kita ambil. Yaitu ketika Nabi Musa merasa sudah pintar, Allah mendatangkan Nabi Khidhir yang ilmunya tentang masa depan jauh lebih hebat dari Nabi Musa.
 
Pak Syafii, meski saya pernah menjadi wartawan Majalah Tabligh Muhammadiyah, saya belum kenal secara dekat Pak Syafii. Saya hanya kenal Bapak lewat tulisan-tulisan saja. Bahkan ketika saya mahasiswa IPB, Alhamdulillah kebetulan saya sudah membaca sebagian buku Bapak. Yaitu ketika saya menulis resensi buku “Teori-Teori Politik Islam”, penerbit Mizan menghadiahi saya buku bapak bersampul hijau tentang masalah Keislaman dan Keindonesiaan.
 
Semoga kritik saya kepada Bapak dapat diterima dengan lapang dada. Karena saya yang masih muda, tentu pengalamannya tidak sebanyak Bapak. Tapi insya Allah yang saya sampaikan benar. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan kita petunjuk dalam kehidupan yang ‘penuh materialistis’ sekarang ini.
 

Aktivis Muhammadiyah: Jaga Marwah Islam-mu di Sisa Umurmu!

Aktivis Muhammadiyah Mohammad Naufal Dunggio meminta Buya Syafii untuk menjaga marwah Islam. “Perbaikilah ke-Islamanmu dengan menjaga marwah Islam-mu di sisa umurmu itu,” tegas Naufal kepadaintelijen (13/10).

Naufal menilai, pernyataan Buya Syafii di acara Indonesia Lawyers Club (ILC), yang disaksikan secara langsung jutaan rakyat Indonesia, tidak menunjukkan sikap Buya Syafii memberikan pembelaan kepada Islam. “Semakin tua bukan makin bagus ke-Islamannya, tapi makin tua makin jauh dalam membela Islamnya,” tegas Naufal.

Senada dengan Naufal, aktivis Muhammadiyah yang juga alumni Universtias Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Imam Baihaqi, menilai tidak pantas Buya Syafii menyatakan Ahokorang baik. “Ahok bukan pembela orang kecil, Ahok hobi berkata kotor, menabrak hukum, kok dibilang orang baik,” kata Imam.

Imam menegaskan, Buya Syafii yang sudah sepuh sebaiknya memberikan tauladan kepada generasi muda untuk membela kebenaran, termasuk membela agama Islam. “Pemuda Muhammadiyah saja menilai Ahok melecehkan Al Quran. Buya Syafii katanya belum lihat, padahal video lengkapnya banyak beredar. Nampaknya pernyataan ‘belum lihat’ hanya alibi saja,” jelas Baihaqi.

Sebelumnya di tayangan ILC (12/10), Syafii Ma’arif menegaskan bahwa “Ahok bukan orang jahat”. Ahok sudah meminta maaf atas pernyataannya yang dianggap menimbulkan keresahan masyarakat. “Ahok sudah minta maaf, sudah diselesaikan saja,” kata Buya Syafii.

Menurut Buya Syafii, kasus itu bisa diselesaikan secara baik-baik oleh Ahok maupun dengan pihak lain. “Diselesaikan dengan baik, bersaing dengan fair, jujur dan adil tanpa ada kampanye hitam,” kata Syafii Ma’arif.

Hanya Otak Syafii Maarif yang Umumkan Denpasar Bali Kota Paling Islami, dan Ahok Tidak Menista Islam

Syafii Maarif menilai yang menyatakan Ahok itu menista Islam Hanya otak sakit sajalah yang berkesimpulan demikian. Siapa yang dimaksud? Tentunya para ulama di MUI yang telah menetapkan keputusan bahwa Ahok menghina Al-Qur’an. Bahkan bukan hanya MUI yang terkena sebutan otak sakit yang dilontarkan syafii Maarif itu, namun jutaan Umat Islam.

Lantas, sebenarnya seberapa sehat otak Syafii Maarif? Kenyataannya, Hanya Otak Syafii Maarif yang Umumkan hasil riset lembaganya (Mei 2016) bahwa Denpasar Bali adalah Kota Paling Islami walau penduduknya mayoritas beragama Hindu Bali, dan banyak patung atau berhala di sana.

Waduh, patung atau berhala itu saja kalau ada di dalam rumah maka menurut Islam, rumah itu tidak akan dimasuki malaikat (rahmat), lha kok malah disebut kota paling Islami? Siapa yang sakit otaknya ini?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda

لَا تَدْخُلُ الْمَلَائِكَةُ بَيْتًا فِيهِ كَلْبٌ وَلَا صُورَةُ تَمَاثِيلَ )قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ(

(yang artinya) : “ Malaikat tidak akan memasuki rumah yang di dalamnya terdapat anjing, juga tidak memasuki rumah yang didalamnya terdapat gambar (patung)” [Hadits shahih ditakhrij oleh Imam Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i dan Ibnu Majah yang semuanya dari Abu Thalhah Radhiyallahu ‘anhu. Lihat Shahihul-Jami’ No. 7262]

Dinilai sebagai kota paling Islami? Padahal di sana banyak wanita umbar aurat berseliweran di jalan-jalan, apalagi di pantai. Itu belum masalah tempat-tempat minum yang dipenuhi oleh para peminum minuman yang memabukkan. Apakh itu ciri Islami, hingga disebutnya kota paling Islami? Otaknya waras atau sakit ya.

Hasil riset lembaganya Pak Syafi’i Maarif Mei 2016 itu tentu berkaitan dengan otak beliau pula, yang kini otak itu untuk membela Ahok.

Kini, ramai di masyarakat, Syafii Maarif membela Ahok karena menurutnya tidak menistakan Islam. Hingga Syafii Maarif yang dikenal memimpin Maarif Institute itupun mengkritik MUI. Karena MUI secara resmi menyatakan: “pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (alias Ahok) dikategorikan: (1) Menghina Al-Quran dan atau (2) menghina ulama yang memiliki konsekuensi hukum.”

Syafii Maarif pun menulis kritikan terhadap MUI, maka ditanggapi oleh Prof Didin Hafiduddin.

Didin Hafidhuddin: Tulisan Syafi’i Maarif Sangat Menyakiti MUI

Guru Be‎sar Ilmu Agama Islam Institut Pertanian Bogor‎ (IPB), Didin Hafidhuddin menyesalkan pernyatan pernyataan Buya Safi’i Maarif yang bertentangan dengan keputusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait Al-Maidah 51 oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).

Buya Safi’i sebelumnya menyatakan bahwa Ahok tidak menghina Al-Qur’an. Sehingga memicu kontroversi dikalangan masyarakat.

“Ada beb‎erapa hal yang saya minta klarifikasi dari Buya. Sebab, tulisan Buya terus terang sangat tendensius dan menyakiti perasaan para pengurus MUI termasuk saya pribadi,” kata Didin dalam keterangannya, Jakarta, Senin (7/11/2016).

Pasalnya, kata Didin, pihaknya bersama para ulama perwakilan ormas Islam sudah mendengar, membaca dan sekaligus melakukan kajian mendalam terkait unsur penistaan Agama Ahok.

“Pengurus MUI tidak ada yang penjilat apalagi mengeluarkan fatwa murahan. Buya kan khawatir MUI tidak berlaku adil pada Ahok, sementara Buya sendiri tidak adil pada MUI. Jadi jangan asal menuduh,” sesal Ketua Umum Badan

Amil Zakat Nasional RI periode 2004 – 2015 ini.

“Demikian pula dengan peserta aksi damai. Mereka datang dengan biaya sendiri tidak ada yang merekayasa selain panggilan Aqidah Islamiyyah. Jadi, keyakinan pada kesucian Al-Qur’an lah yang menggerakkan mereka,” katanya.
Sebelumnya tulisan Buya Syafii Maarif beredar di WAG dan medsos. Catatan itu berjudul ‘Ahok Tidak Menghina Al-Qur’an.

Berikut‎ tulisan Buya Syafii selengkapnya:

AHOK TIDAK MENGHINA AL-QUR’AN

Oleh Buya Syafii Maarif

Sekiranya saya telah membaca secara utuh pernyataan Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, yang menghebohkan itu, substansi tulisan ini semestinya sudah disampaikan saat Karni Ilyas, Presiden Lawyers Club, mengundang saya pada 11 Oktober 2016 melalui studio Yogyakarta. Karena semula audio-visual TVONE dari Yogya beberapa saat tidak berfungsi, sehingga saya tidak sempat mengikuti fatwa MUI yang juga dibacakan dengan penuh emosi malam itu. Baru belakangan saya dapat membaca isi fatwa itu melalui internet.

Dalam fatwa itu jelas dituduhkan bahwa Ahok telah menghina al-Qur’an dan menghina ulama dan harus diproses secara hukum. Tetapi malam itu, akal sehat saya mengatakan bahwa Ahok bukan orang jahat yang kemudian ditanggapi beragam oleh berbagai kalangan. Yang menghujat saya cukup banyak, yang membela pun tidak kurang. Semua berdasarkan fatwa MUI yang tidak teliti itu. Semestinya lembaga sebagai MUI mestilah menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggung jawab.
Dari berbagai sumber yang dapat ditelusuri via internet, keterangan lengkap Ahok di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, pada 27 September 2016 adalah sebagai berikut: “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa aja dalam hati kecil bapak ibu ga bisa pilih saya, karena dibohongin pakai surat al-Maidah 51 macem-macem itu. Itu hak bapak ibu ya…” Perhatikan dengan seksama kutipan ini, apakah memang terdapat penghinaan terhadap al-Qur’an? Hanya otak sakit sajalah yang berkesimpulan demikian. Apalagi jika sampai menista Langit., jauh dari itu. Perkara dikesankan menghina ulama, saya tidak perlu bicarakan di sini, karena memang dalam sejarah Muslim sering bermunculan ulama jahat, penjilat penguasa dengan fatwa-fatwa murahannya.

Pokok masalah di sini adalah pernyataan Ahok di depan publik di sana agar “jangan percaya sama orang…karena dibohongin pakai surat surat al-Maidah 51.” Ahok sama sekali tidak mengatakan bahwa surat al-Maidah 51 itu bohong. Yang dikritik Ahok adalah mereka yang menggunakan ayat itu untuk membohongi masyarakat agar tidak memilih dirinya. Bung Zuhairi Misrawi dalam pembicaraan telepon dengan saya pada 3 Nopember 2016 mengatakan bahwa di beberapa masjid di Jakarta sudah lama dikobarkan semangat agar rakyat tidak memilih Ahok dalam pilkada 2017 karena dilarang oleh ayat di atas. Bagi saya, apakah Ahok terpilih atau tidak terpilih bukan urusan saya. Itu sepenuhnya urusan para pemilih DKI.

Saya tidak akan memasuki perang penafsiran tentang ayat itu. Pusat perhatian tulisan ini adalah bahwa tidak benar Ahok telah menghina al-Qur’an berdasarkan kutipan lengkap keterangannya di Pulau Pramuka di atas. Fatwa gegabah MUI ini ternyata telah berbutut panjang. Demo 4 Nopember 2016 adalah bentuk kongkretnya. Semoga demo itu akan berlangsung tertib, aman, dan damai.

Tetapi jika terjadi insiden yang tidak diinginkan, MUI harus bertanggung jawab, karena gara-gara fatwanya, demo itu digelar. Kelompok garis keras merasa dapat amunisi untuk tujuan duniawinya. Kekerasan telah jadi mata pencarian. Adapun beberapa politisi yang membonceng fatwa ini, itu bukan untuk mencari kebenaran, tetapi semata-mata untuk mendapatkan keuntungan politik kekuasaan dalam rangka pilkada DKI Feb. 2017. Apakah kita mau mengorbankan kepentingan bangsa dan negara itu akibat fatwa yang tidak cermat itu? Atau apakah seorang Ahok begitu ditakuti di negeri ini, sehingga harus dilawan dengan demo besar-besaran? Jangan jadi manusia dan bangsa kerdil!

Tulisan yang senada dengan ini dapat dicari di internet, seperti ditulis oleh Ahmed Zainul Muttaqien di bawah judul: “Soal Kalimat Ahok,” dan tiga artikel Zuhairi Misrawi dengan beberapa judul yang saling berkaitan.

Yogyakarta, 3 Nov. 2016.

Kekeliruan Maarif Institute terkait Indikator Kota Islami Indonesia

Kota atau masyarakat yang Islami adalah kota/masyarakat yang mendasarkan tata cara hidupnya berdasarkan keimanan pada Allah, Rasul-Nya dan Hari Akhir. Bukan sekedar aman.

Sebelumnya, Direktur Riset Maarif Institute Ahmad Imam Mujadid Rais saat merilis hasil ini di Hotel Alia Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (17/05/2016) mengatakan, kalaupun Denpasar – Bali yang penduduknya banyak Hindu bisa disebut ISLAMIkarena Rais konteks Islam dalam penelitian ini merujuk pada kota dan bukan perilaku masyarakatnya. Dia menekankan, pemahaman Islami ini bukan berarti harus orang Islam.

Bagamaina logikanya, Hindu tapi Islami? Ternyata indikator yang digunakan belum betul-betul disebut ‘Islami’. Direktur Riset Maarif Institute Ahmad Imam Mujadid Rais menerangkan, ada tiga tolak ukur yang digunakan dalam penelitian ini. Yaitu aman, sejahtera, dan bahagia.

Kota aman diukur dari indikator kebebasan beragama dan berkeyakinan, perlindungan hukum, kepemimpinan, pemenuhan hak politik perempuan, hak anak, dan hak difabel. Selanjutnya indikator sejahtera diukur dari pendidikan, pekerjaan, pendapatan dan kesehatan. Semantara tolok ukur bahagia diukur dari indikator berbagi dan kesetiakawanan serta harmoni dengan alam.

Kategori aman, sejahtera dan bahagia adalah kategori umum, padahal riset tersebut tentang IKI (Indeks Kota Islami) yang harusnya spesifik dengan tolak ukur ISLAM.

Bukan Ranting

Pertama-tama, yang harus diperjelas adalah indikator. Masalah riset model seperti ini bukan pertama kali Maarif Institute yang melakukan. Sudah banyak riset dengan indikator yang sama baik dari luar negeri maupun dalam negeri. Rata-rata kategori yang digunakan LSM tentang indikator Islami cukup ngawur.

Atas dasar apa sesuatu itu disebut Islami? Apa syaratnya sesuatu itu Islami dan non-Islami? Jika indikator itu kategori “Islami”, maka grand theory riset itu tentu saja harus merujuk kepada diktum-diktrum pokok Islam.

Apa saja diktum-diktum pokok yang menjadi syarat sesuatu itu Islami? Aman, sejahtera dan bahagia sudah banyak dimaklumi merupakan bagian dari ajaran Islam. Cukup banyak dalil dari sumber-sumber Islam tentang pentingnya hidup aman, toleransi, dan bahagia (sa’adah).

Namun, harap dipahami dengan betul, bahwa dalam agama Islam ada bagian pondasi dan ada bagian ranting. Hidup aman, sejahtera dan bahagia merupakan ranting dari pondasi Islami yang dibangun kokoh. Seperti rumah. Jendela, pintu, kamar dan lain-lain adalah ranting. Pondasinya adalah tiang dan batu-batu besar yang ditanam di tanah.

Semua ranting berdiri di atas pondasi yang kuat. Ada ranting tapi tidak ada pondasi, pasti rontok. Ada pintu, ada jendela, tetapi tidak punya tiang. Pasti rumah itu roboh. Dan tidak akan terbentuk rumah lagi. Sebuah mobil yang ada roda bagus, pintu mobil, kaca mengkilap, dan rangka tetapi tidak ada mesin. Pasti mobil itu tidak bisa jalan. Orang akan menyebutnya ‘mobil-mobilan’.

Indikator Islam sudah diterangkan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallah. Pondasinya disebut Rukun Islam. Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallah bersabda: Islam dibangun atas lima pekara. (1) Persaksian bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad Rasul Allah, (2) mendirikan shalat, (3) mengeluarkan zakat, (4) melaksanakan ibadah haji, dan (5) berpuasa Ramadhan”. [HR Bukhari dan Muslim].

Apa saja jika ingin dinisbatkan Islami, maka harus berdasarkan pondasi ini. Seseorang yang disebut beperilaku Islami, maka asasnya harus dengan pondasi rukun Islam tersebut.

Dalam hadis nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallah di atas, Islam digambarkan sebagai sebuah bangunan. Adapun tiang-tiang bangunan tersebut berupa kelima hal tersebut. Jadi, bangunan tidak akan kuat tanpa tiang-tiangnya. Sedangkan ajaran-ajaran Islam lainnya berfungsi sebagai penyempurna bangunan.

Jika salah satu dari ajaran-ajaran tersebut hilang dari bangunan Islam, maka bangunan itu berkurang, namun tetap bisa berdiri dan tidak ambruk, meskipun berkurangnya salah satu dari penyempurnanya. Ini berbeda jika kelima tiang tersebut ambruk, maka Islam akan runtuh disebabkan tidak adanya kelima tiang penyangga tersebut.

Islam akan runtuh dengan hilangnya dua kalimat syahadat. Yang dimaksud dengan dua kalimat syahadat ialah, beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Semua etika, akhlak atau adab Islam ‘digantung’kan dengan lima pondasi tersebut. Dalam beberapa pernyataan Nabi Saw, akhlak sosial dihubung-erat dengan iman kepada Allah dan Hari Akhir.

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia memulyakan tetangganya.” (HR. Bukhari-Muslim). Allah Swt berfirman: Allah Subhanahu Wata’alaberfirman: “Dan sembahlah Allah serta jangan menyekutukan sesuatu denganNya. Juga berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat, tetangga yang jauh, teman seperjalanan, sepekerjaan, sesekolah dan lain-lain – orang yang dalam perjalanan dan – lalu kehabisan bekal -hamba sahaya yang menjadi milik tangan kananmu.” (QS. al-Nisa’:36).

Dalam ayat itu, setelah larangan untuk menyekutukan-Nya, Allah Subhanahu Wata’alamemerintahkan berbuat baik kepada tetangga, orang tua, kerabat dan kepada manusia lainnya. Pengaitan ini bukan tanpa maksud atau tujuan.

Denpasa Kota Islami?: Bali menjadi surga kaum ekspatriat dan wisatawan asing menemukan kebebasannya

Salah satu karateristik Islam adalah menjaga adab kepada Allah Subhanahu Wata’ala sekaligus adab kepada sesama manusia. Adab kepada-Nya dengan percaya dan beribadah kepada-Nya. Sedang adab kepada manusia adalah memenuhi hak-hak yang mesti diberikan kepada mereka. Dua-duanya adalah kewajiban yang sifatnya hierarkis.

Berbuat baik kepada manusia, akan tetapi meninggalkan shalat misalnya bukan karakter seorang Muslim. Begitu pula, menyembah kepada Allah akan tetapi berbuat buruk kepada tetangga, adalah bukan karakter muslim bertauhid. Dua perilaku ini tidak bisa disebut ISLAMI.

Artinya, seseorang yang bertauhid, mesti berbuat baik kepada manusia. Jika pun akhlaknya buruk, maka ia belum menjadi muslim bertahid yang sempurna. Sebaliknya, berbuat baik kepada sesama juga mesti didasari dengan tauhid, keimanan, bukan yang lainnya. Inilah yang disebut berperilaku ISLAMI. Seharusnya, hal seperti itu menjadi pertimbangan dasar untuk dijadikan indikator utama.

Kota atau masyarakat yang Islami adalah kota atau masyarakat yang mendasarkan tata cara hidupnya berdasarkan keimanan kepada Allah, Rasul-Nya dan Hari Akhir.

Dengan berdasarkan pada indikator yang semestinya seperti di atas, maka tidak akan mungkin seseorang itu disebut “Hindu-Islami”, “Kristen-Islami”. Seorang Hindu tidak percaya kepada Allah Yang Maha Esa mustahil disebut Islami. Seorang Kristen yang tidak percaya risalah Nabi Muhammad Saw tidak masuk akal disebut Islami.

Hindui-Islami atau Kristiani-Islami adalah dua hal yang bertolak belakang. Jadi, tidak mungkin masyarakat yang Kristen pada saat sama Islami. Jika masyarkat Non-Muslim itu mengamalkan sebagian kecil ranting-ranting Islam pun tidak serta merta disebut Islami. Sebab, pondasinya saja tidak Islam. Sesuatu itu tegak tergantung pondasi dan akar. Bukan pada ranting dan cabang.

Dual hal yang bertolak belakang konsepsinya tidak bisa salah satunya menjadi nisbat kepada yang lainnya. Sebagaimana tidak mungkin kita mengatakan segitiga yang bulat atau bola yang trapesium. Dan lain sebagainya.
Oleh sebab itu, dalam penelitian Maarif Institut yang menempatkan Denpasar yang mayoritas Hindu sebagai Islami, merupakan kesalahan yang sangat fatal dalam metodologi.

Belum lagi jika kita lihat tiga wilayah tersebut dari perspektif yang lebih komprehensif. Akan terlihat kesalahan metodologis Maarif Institut tersebut. Yogyakarta menduduki tempat kelima sebagai kota dengan pengguna Narkoba terbesar di Indonesia. Dalam catatan BNN (Badan Narkotika Nasional), 2,37 pengguna Narkoba ada di kota Yogyakarta. Sementara Bali menempati urutan ke-8 dengan angka 2,22 persen. Artinya, dua wilayah ini masuk 10 besar di antara propinsi di Indonesia yang penduduknya mengkonsumsi Narkoba (sumber: metronews.com 9 Maret 2015).

Sedangkan, dari segi maksiat seks, kota Bandung dan Yogyakarta menempati urutan tiga dan empat sebagai kota dengan prostitusi terbesar. Sedangkan Bali menempati urutan urutan ketujuh. Meski urutan ketujuh, tetapi Bali dikenal dengan kehidupan hedonism yang banyak dibawa oleh turis asing Eropa.

Belum lagi, indikasi kemaksiatan lainnya. Bagaiaman mungkin daerah yang banyak maksiatnya disebut Islami?Lantas Islami dari mana? Maka riset tersebut tidak metodologis, dalam arti gagal menarasikan indikator kota Islami.
Indikasi sholah adalah ada

Prof.Syed Naquib al-Attas, menjelaskan indikator pertama untuk menilai seorang itu sholeh atau tidak adalah adabnya kepada Allah. Orang yang tidak percaya Tuhan, atau atheis adalah orang yang tidak beradab kepada Tuhannya, alias biadab.

Meskipun si atheis atau si kafir itu orang berdisiplin, jujur dan suka menolong orang lain tetap disebut biadab, bukan beradab. Sebab, amalnya batal atau tidak sah di depan Allah Subhanahu Wata’ala.

Seperti firman Allah: “Dan orang-orang kafir amal-amalnya mereka laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatangi ‘air’ itu, maka dia tidak mendapatinya sesuatu apapun.” (QS. Al-Nur: 39).

Karenanya, karakter masyarakat non-Muslim yang kita anggap berbudaya disiplin, jujur, sejahtera itu sesungguhnya hanya karakter palsu, laksana fatamorgana.

Makanya, mereka tidak dapat disebut masyarakat yang islami. Yang islami apanya? Percaya kepada Allah saja tidak, shalat tidak, bertauhid-pun juga tidak.

Sebut MUI Gegabah Keluarkan Fatwa, Jawaban MUI Ini Malah Membuat Malu Syafi’i Maarif

Ahmad Syafi’i Ma’arif yang memimpin Ma’arif Institute memiliki sikap yang berbeda terhadap kasus penistaan al-Qur’an oleh Ahok di Pulau Pramuka Kepulauan Seribu Jakarta. Laki-laki yang dikenal sebagai cendekiawan ini menyebut, MUI bersikap gegabah karena mengeluarkan fatwa terkait pernyataan Ahok yang menista al-Qur’an.

Ia juga menyebutkan bahwa polemik kejadian ini bermula bukan dari pernyataan Ahok, tapi karena fatwa MUI terkait ucapan Ahok. “Semestinya lembaga sebagai MUI mestilah menjaga martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan bertanggung jawab.” tulis Syafi’i Ma’arif.

Sepintas, kalimat Syafi’i Ma’arif mengandung makna bahwa fatwa MUI tidak jernih, kurang cerdas, dan tidak bertanggung jawab.

Dalam lanjutan tulisannya itu, ia juga menegaskan, “Fatwa gegabah MUI ini ternyata telah berbutut panjang. Demo 4 November 2016 adalah bentuk kongkretnya.”

Lantaran tulisan ini beredar sangat luas dan massif, beberapa anggota MUI dan cendekiawan

Muslim yang aktif dalam dunia dakwah Islam pun menyampaikan klarifikasi agar pendapat ini tidak berkepanjangan.

Fahmi Salim, dalam rilis resmi di akun Facebook-nya pada Ahad (6/11) pukul 11 malam menyatakan, “Dikiranya MUI perkumpulan orang bodoh dan tolol semuanya. Mulai dari ketua umum hingga anggota komisi lembaga di MUI adalah orang-orang yang terseleksi dan terbaik utusan resmi dari ormas-ormas Islam di Indonesia. Ratusan professor, doktor serta master dengan latar belakang keilmuan yg beragam.”

Laki-laki yang termasuk dalam anggota Pengkajian dan Penelitian Tafsir al-Qur’an MUI Pusat ini juga menjelaskan bahwa MUI merupakan organisasi ulama yang beranggotakan para cendekiawan Muslim lintas ormas (organisasi kemasyarakatan).

Di akhir keterangannya, Fahmi Salim juga mencantumkan pesan dari KH Dr Didin Hafidhuddin terkait tulisan Syafi’i Ma’arif tersebut.

“Buya Syafi’i Ma’arif yang terhormat, ada beberapa hal yang saya minta klarifikasi dari Buya. Tulisan Buya terus terang sangat tendensius dan menyakiti perasaan para pengurus MUI, termasuk saya pribadi. Kami sudah dengar dan baca langsung pernyataan Ahok dan sudah didiskusikan secara mendalam di MUI. Pengurus MUI tidak ada yang penjilat, apalagi mengeluarkan fatwa murahan. Buya khawatir MUI tidak berlaku adil pada Ahok, sementara Buya sendiri tidak adil pada MUI. Jadi jangan asal.menuduh. Demikian pula dengan peserta aksi damai, mereka datang dengan biaya sendiri. Tidak ada yang merekayasa, selain panggilan aqidah Islamiyyah. Keyakinan pada kesucian al-Qur’anah yg menggerakkan mereka. Mohon maaf, Buya.”

Wallahu a’lam.

Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s