Argumen Bahwa Ahok tidak menghina ayat Al-Qur’an

Yeyen Maryani

Yeyen Maryani


Pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu menyinggung surat Al Maidah ayat 51 mengundang kontroversi. Sejumlah pihak mengatakan Ahok tidak melakukan penistaan agama, tetapi banyak juga berkesimpulan pada adanya penistaan.

Kata-kata Ahok yang berujung panjang ini diucapkan ketika berada di Kepualauan Seribu, Jakarta Utara. Memang redaksi kalimat yang disampaikan Ahok seperti apa sih, kok bisa panjang begini urusannya ?
Di Kepulauan Seribu, Ahok mengatakan. “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya. Karena Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho (orang-orang tertawa). Itu hak bapak ibu, ya.”
Menurut Peneliti Bahasa dari Badan Bahasa Kemendikbud, Yeyen Maryani, kata-kata Ahok ini tidak menjurus pada penistaan agama. Karena secara kaidah kebahasaan, kata “dibohongi” merupakan kalimat pasif.
“Jadi dibohongi itu kan kalimat pasif. Sebetulnya ada subjeknya yang dihilangkan. Di dalam konteks sebelumnya itu adalah bapak ibu gitu ya. Bapak ibu dibohongin itu sebagai predikatnya, pakai surat itu adalah keterangan,” jelas Yeyen Maryani.
“Dalam konteks itu berarti yang dimaksudkan dibohongin dengan menggunakan. Jadi ayat itu dipakai sebagai alat membohongi bapak ibu yang di dalam konteks sebelumnya itu,” kata Yeyen.
 
Yeyen tegas mengatakan, secara kebahasaan, Ahok tidak bisa dikatakan menghina ayat Al-Qur’an.
“Dibohonginnya tidak mengacu pada ayatnya sebetulnya, tapi ayat itu dipakai sebagai alat untuk membohongi.

Permasalahannya apakah yang membuat pernyataan itu, kan tidak menyatakan bahwa surat itu bohong. Tetapi menggunakan alat dengan ayat itu. Jadi memakai ayat itu sebagai alat membohongi orang, kan begitu maksud sintaksisnya,” Yeyen menjelaskan panjang lebar.


Mari Kita Bongkar Lagi Argumentasi “Dibohongi (Pakai) Surat Al Māidah 51”


Kubu Ahok menganggap satu kealpaan Buni Yani dalam membuat transkrip pidato Ahok di Kepulauan Seribu adalah pangkal persoalan. Sebab, Buni Yani tidak menyertakan kata ‘pakai’ setelah kata ‘dibohongi’ dalam ucapan Ahok yang berbunyi;

“Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya. Karena dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho. Itu hak bapak ibu, ya.”

Sedangkan dalam transkrip yang dibuat Buni Yani langsung mengacu pada, “dibohongin surat Al Maidah”.

Saya lantas mengamati ucapan salah satu ahli bahasa yang ramai dipakai pendukung Ahok sebagai dasar pembelaan. Ahli bahasa itu menganggap, ucapan asli Ahok yang menyebut, “dibohongi pakai Al Maidah” tidak termasuk penistaan.

Mungkin ahli bahasa tersebut siap dipakai pihak Ahok sebagai argumentasi yang mengantarkannya lolos dari kasus penistaan agama.

Namun, mari kita kaji argumentasi pembelaan kubu Ahok ini secara seksama.

img_20161111_211641

Dalam kasus penistaan yang menjerat Ahok, perdebatan bahasa menjadi salah satu elemen penting. Karena itu, penting untuk membongkar dasar argumentasi terkait kalimat Ahok yang menjadi sumber polemik.

Kalimat perkataan Ahok itu berbunyi: “Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu enggak bisa pilih saya. Karena dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macem-macem gitu lho. Itu hak bapak ibu, ya. Jadi kalo bapak ibu, perasaan, gak bisa pilih nih, karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya, gak papa.”

Pada tulisan edisi sebelumnya, sudah dibahas mengenai struktur kalimat dan logika bahasa. Dalam tulisan ini, saya ingin menelaah hal yang terpenting dalam membedah maksud ucapan Ahok.

Sebab, yang diucapkan Ahok adalah bahasa lisan atau ujaran yang mana sisi yang paling penting untuk dianalisis bukan sekadar struktur. Ini bukan sebatas analisis subjek, predikat, objek, atau keterangan.

Lebih dari itu, bahasa ujaran Ahok ini penting untuk ditelaah lewat kajian pragmatika, yakni cabang ilmu linguistik yang mengkaji kaitan antara konteks dan makna.

Ilmu ini membantu kita untuk mengetahui bahwa makna dari bahasa ujaran tidak hanya bergantung pada tata bahasa dari orang yang berbicara.

Lebih dari itu, pragmatika mengkaji konteks ucapan, latar belakang, serta status orang yang berucap hingga maksud tersirat dari si pembicara.

Dalam konteks kasus Ahok di Kepulauan Seribu, sangat penting mengkaji sisi pragmatiknya. Ini guna membuktikan apakah konteks ucapan Ahok ini bermakna penistaan.

Dapat disimpulkan bahwa si pembohong yang disebut Ahok secara bahasa adalah orang yang memakai al Maidah ayat 51. Dan al Maidah ayat 51 dianggap Ahok sebagai alat untuk menunjang kebohongan itu.

Mari kita meninjau ucapan Ahok dari sisi pragmatika. Makna yang didapatkan dari kalimat Ahok itu adalah:

  1. Jangan mempercayai orang yang memakai surat al Maidah ayat 51.
  2. Orang membohongi masyarakat Kepulauan Seribu memakai surat al Maidah ayat 51.
  3. Orang yang memakai surat al Maidah ayat 51 bisa memengaruhi hati kecil masyarakat untuk tak memilih Ahok.
  4. Masyarakat takut masuk neraka kalau memilih Ahok.
  5. Masyarakat dibodohi dengan ancaman neraka jika memilih Ahok.

Dari deretan makna di atas, Ahok menyinggung dua hal, yakni soal politik dan agama.

Unsur politik yang disinggung Ahok adalah Pilkada DKI, sebab ada kata-kata “enggak bisa pilih saya”.

Sedangkan, unsur agama adalah dipertegas dengan ucapan Ahok mencatut Al Maidah ayat 51. Kebetulan, al Maidah ayat 51 memiliki tafsir yang berisi larangan memilih pemimpin non-Muslim. Di titik ini, Ahok jelas tahu konteks apa yang dia utarakan.

Namun, yang menjadi masalah, tuturan Ahok ini dipenuhi dengan kata-kata negatif. Mulai dari “jangan percaya”, “dibohongin”, dan “dibodohin”.

Kata-kata negatif tersebut memang mengacu kepada subjek perkataan Ahok, yakni “orang”.

Lantas, siapakah orang yang selama ini berbicara soal tafsir al Maidah ayat 51 yang dalam ucapan Ahok dituding sebagai pembohong?

Untuk menelaahnya, kembali kita mesti memakai pendekatan ilmu agama. Sebab, ini menyangkut tafsir dan kalangan yang memercayainya.

Mayoritas tafsir Quran yang dipakai oleh umat Islam Indonesia berisi larangan memilih pemimin non-Muslim. Mayoritas kiai NU, Muhammadiyah, hingga ribuan kiai pesantren menyampaikan tafsir al Maidah ayat 51 sebagai larangan memilih pemimpin non-Muslim.

Kalaupun maksud perkataan Ahok bahwa tafsir al Maidah ayat 51 yang digunakan sebagai alat berbohong, maka secara tak langsung dia telah menyatakan mayoritas kiai NU, Muhammadiyah, hingga ribuan kiai pesantren adalah sang aktor pembohong.

Di sisi ini, sulit mengelak anggapan bahwa ucapan Ahok bukanlah bentuk penistaan.

Namun, dari bahasa yang digunakan Ahok, dia malah tak menggunakan kata tafsir, melainkan langsung mengatakan surat Al Maidah ayat 51 sebagai alat yang dipakai untuk berbohong. Kalau konteksnya surat, maka ucapan Ahok berimplikasi lebih jauh.

Sebab, yang memakai surat Al Maidah ayat 51 itu adalah seluruh umat muslim di dunia, tak peduli aliran apa pun. Dan konteks dari al Maidah ayat 51 adalah kalam langsung dari Allah. Jadi, ucapan Ahok sama dengan, “dibohongin pakai kalam Allah”.

Lantas, kita patut menanyakan pertanyaan besar, apa argumentasi pihak Ahok untuk mengelak dari penistaan? Ini ditambah fakta soal latar belakang Ahok. Seperti diketahui, Ahok adalah bagian dari umat yang berbeda keyakinan dengan umat Islam. Sebab, Ahok beragama Kristen. Ahok bukan orang yang percaya atau mengimani Alquran. Ahok jelas menyadari statusnya ini.

Lalu, mengapa orang yang memiliki keyakinan berbeda justru menyinggung ajaran agama lain secara negatif? Apa kompetensinya? Terlebih, yang disinggung adalah orang yang memakai arti al Maidah ayat 51 dan menyebutnya sebagai pembohong.

Satu hal lain, kitab suci umat lain disebut Ahok sebagai alat untuk berbohong.

Mari kita pakai analogi lain. Saya mencontohkan sejumlah oknum mahasiswa yang kemarin berurusan dengan polisi, berkata di tengah unjuk rasa 4 November;

“Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak simpati dengan umat Islam. Karena dibohongin pakai ucapan Kapolri.”

Jika konteks ucapan di atas diucapkan oknum mahasiswa di tengah unjuk rasa damai, apakah polisi tak akan bereaksi? Apakah polisi akan membiarkan si pengucap kata provokasi ini untuk bebas begitu saja.

Contoh fiksi lain yang senada dengan konstruksi kata-kata Ahok bisa juga seperti ini;

“Jadi jangan percaya sama orang. Kan bisa saja dalam hati kecil bapak ibu gak suka sama Pak SBY. Karena dibohongin pakai kata-kata Jokowi.” Jelas kata tersebut sudah menjadi sebuah pelecehan terhadap Jokowi.

Sisi kesengajaan

Pembuktian faktor kesengajaan Ahok dalam berucap memang penting. Sebab, pasal yang dipakai yakni UU KUHP pasal 156a, menyebut faktor kesengajaan sebagai syarat kasus penodaan agama.

Untuk menjawab hal ini, mari kita menjawab rangkaian pertanyaan ini:

  1. Apakah Ahok sadar bahwa pidatonya dilakukan dalam agenda resmi?
  2. Apakah Ahok menyadari statusnya sebagai non-Muslim?
  3. Apakah Ahok sadar dia berbicara di hadapan masyarakat yang ada penganut Islam?
  4. Apakah Ahok dalam kondisi kesadaran normal, tidak dalam pengaruh apa pun?
  5. Apakah Ahok tau bahwa salah satu tafsir Al Maidah ayat 51 terkait dengan larangan memilih pemimpin non-Muslim?

Dengan deretah pertanyaan ini, kita sejatinya bisa dengan mudah membuktikan sisi kesengajaan dari ucapan Ahok.

Pada akhirnya memaknai konteks dari ucapan Ahok sejatinya tak begitu sulit. Ini adalah ekspresi seseorang gubernur yang merasa terganggu dengan orang yang memakai surat Al Maidah ayat 51. Sebab surat itu dinilai sebagai senjata untuk menghambat langkah politik Ahok.

Makna dalam ucapan Ahok ini jelas memuat pesan negatif. Sebab ini bukan sekadar menyangkut politik melainkan mencampuri urusan kepercayaan agama lain.

Letak Kesalahan Ahok Itu Pakai Kata “Dibohongi”

Foto: tribunnews

Foto: tribunnews


Kesalahan Gubernur DKI Jakarta (nonaktif) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok terletak pada ‎ucapannya yang menyalahkan pemahaman orang lain dengan menggunakan kata peyoratif “dibohongi”.

Demikian disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin saat ditemui di Kantor MUI, Jalan Proklamasi Nomor 51, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (6/11/2016).

“Karena ini kan berarti ada objek dan ada subjek yang membohongi,” ujar mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

Untuk itu, Din meminta agar masyarakat tidak lagi memperdebatkan masalah penghilangan kata “pakai” yang dilakukan Buni Yani saat memberi caption video Ahok yang diunggahnya ke Facebook. Menurut Din, perdebatan ini justru akan menimbukan masalah baru bagi masyarakat.

“Jadi sudahlah, ini mohon tidak perlu diperdebatkan. Justru kalau dikutak katik ada kata ada kata ‘pakai’ atau tidak justru akan menimbulkan masalah‎ baru,” pungkasnya. 

Di sisi lain, memakai Al Quran dalam setiap bidang hidup, termasuk Al Maidah ayat 51 adalah kewajiban bagi setiap orang beragama Muslim. Ahok yang notabene non-Muslim, mengartikan kewajiban orang Muslim memakai Al Maidah 51 ini sebagai sebuah aksi berbohong dan tindakan pembodohan. Di sinilah kunci utamanya.

img_20161109_191125

Referensi

Iklan

2 responses »

  1. […] Apa yang ditulis Ahok dalam bukunya itu ternyata menjadi geger dan meresahkan masyarakat ketika Ahok mempidatokannya dengan ada kata-kata yang menjadikan Umat Islam tersinggung yaitu: “Dibohongin pakai surat al Maidah 51,…. Jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya… […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s