Umat Islam Berperan Besar dalam Kemerdekaan RI


Peran umat Islam bagi kemerdekaan Indonesia sangat besar. Banyak tokoh Muslim yang turun langsung memperjuangkan kemerdekaan.

“Indonesia tidak mungkin terjadi tanpa perjuangan umat Islam,” kata Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nur Wahid saat berbicara pada Sosialisasi Empat Pilar yang digelar MPR RI yang dihadiri sekitar 100 peserta dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), di Jakarta, Ahad ( 21/2 ).

Peranan umat Islam dalam perjuangan kemerdekaan, katanya, juga telah diakui oleh para panglima TNI yang berjuang bersama dalam memerdekakan Indonesia. Karena itu, ia meminta generasi muda Muslim tidak melupakan sejarah, khususnya peran umat Muslim di Indonesia.

Pada kesempatan itu, ia mencontohkan salah satu tokoh Muslim yang turun langsung dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, yakni Panglima Besar Jenderal Sudirman. Ia mengatakan, Jenderal Sudirman merupakan pahlawan yang memiliki dua peran sekaligus, yakni sebagai seorang kiai serta pimpinan Tentara Nasional Indonesia (TNI).

Sebagai Panglima TNI, Jenderal Sudirman tentu sangat diincar Belanda yang memiliki banyak mata-mata. Namun, lanjut Hidayat, Jenderal Sudirman mampu menjalankan tugasnya dengan baik, bahkan mungkin menjadi satu-satunya panglima TNI yang tidak mampu ditangkap oleh pihak Belanda.

Hidayat mengungkapkan, ada tiga hal mulia yang dilakukan Jenderal Sudirman pada masa hidupnya. Pertama, ia senantiasa menjaga diri dalam keadaan suci dengan cara menjaga wudhu. Jenderal Sudirman juga selalu berusaha shalat di awal waktu serta selalu berbakti kepada orang tua.

Tiga hal itu, menurut Hidayat, merupakan hal-hal baik yang diajarkan Islam dan terbukti dapat dirasakan manfaatnya oleh orang yang melaksanakannya. ”Itu betul-betul rahasia Jenderal Sudirman sehingga ia senantiasa dijaga Allah SWT,” ujar Hidayat.

Selain peran Jenderal Sudirman, menurut Hidayat, masih banyak peran umat Islam yang lain dalam perjuangan kemerdekaan. Salah satunya, ketika umat Islam bersedia bersikap legawa dalam penghapusan tujuh kata di Piagam Jakarta yang merupakan salah satu bukti eksistensi Islam sebagai dasar negara.

“Karena kenegarawanan dari umat Islam yang menerima kondisi pelik itu, Indonesia ada,” ujar Hidayat.

Sependapat dengan Hidayat, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhyidin Junaidi juga mengakui peran besar umat Islam dalam kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, tidak terhitung lagi para syuhada yang mengorbankan jiwa dan raga dalam perjuangan kemerdekaan, baik perjuangan melalui peperangan bersenjata maupun peperangan intelektual.

“Yang jelas, Indonesia merdeka karena kontribusi umat Islam yang sangat besar. Itu tidak bisa dinafikan,” ujarnya kepada Republika, Senin (22/2).

Pengorbanan itu, lanjut Muhyidin, telah mengantarkan seluruh manusia di bumi Indonesia dapat merasakan kemerdekaan. Namun ia menyayangkan, peranan besar tersebut belum dapat dirasakan timbal baliknya bagi umat Islam sendiri.

Ia melihat, pendidikan umat Islam di Indonesia masih tertinggal sehingga sulit bersaing dengan kalangan non-Muslim. ”Belum lagi konspirasi besar yang membuahkan kerja sama untuk menguasai sektor industri dan ekonomi secara nasional sehingga menjatuhkan usaha-usaha umat Islam.”

Karena itu, Muhyidin mengimbau umat Islam yang selama ini sudah sangat toleran untuk bahu-membahu memperkuat sektor ekonomi umat Islam. Langkah itu perlu dilakukan agar perekonomian yang dibangun umat Islam tidak berguguran melainkan memiliki daya saing.[1]

Sejak kedatangan pertama kaum imperialis yang dimotori oleh bangsa Portugis di penghujung abad ke-15, seruan jihad fie sabiliLlah melawan penjajah langsung bergema di seluruh penjuru Nusantara. Tercatat pengiriman 375 kapal yang terdiri dari armada gabungan Aceh, Palembang, Banten, Cirebon, Demak, Makassar, dan Ternate pada tahun 1521 di bawah pimpinan Fathi Yunus dari Kesultanan Demak untuk membebaskan Malaka dari cengkeraman Portugis sebagai perlawanan pertama yang menyulut perlawanan-perlawanan berikutnya. Kedatangan penjajah Belanda pada abad berikutnya semakin mengobarkan perlawanan kaum muslimin di negeri ini, maka 350 tahun lamanya jihadberkobar di Nusantara atau yang kini dikenal sebagai Indonesia. Tentu perlawanan ini tidak muncul dengan sendirinya, namun didasari oleh ruhIslam. Perlawanan tersebut muncul karena kesadaran bahwa Islam adalah membebaskan manusia dari penjajahan manusia lain menuju penghambaan kepada Allah, dari kesempitan dunia menuju kelapangan akhirat, dan dari kedzaliman agama-agama menuju kepada keadilan Islam. Maka kedatangan para penjajah Barat yang hendak menguasai negeri, memperbudak rakyatnya, serta mengatur dengan aturan selain aturan Islam harus dilawan sedemikian rupa.

ruh inilah yang disadari oleh seluruh elemen kaum muslimin di negeri ini, sehingga para ulama’, umara’, dan rakyat saling bahu-membahu menghadapi penjajah. surat imam Masjidil Haram, syaikh Abdusshomad Al-Jawi Al-Falimbani pada 1772 kepada para penguasa tanah Jawa agar melawan kolonialis Belanda hingga seruan Resolusi Jihad oleh para ulama NU pada 22 Oktober1945 yang membuat “6 miljoen kaum muslimin Indonesia siap berdjihad fie sabilillah melawan tiap2 bentoek pendjadjahan”, menjadi bukti peran ulama dalam menghadapi penjajahan. Para umara’ memimpin rakyatnya melakukan jihad fie sabiliLlahmelawan penjajah bukan sekadar untuk melindungi kekuasaannya namun demi tujuan mulia yakni menegakkan daulahIslam. Pangeran Diponegoro dihadapan Marcus De Kock, komandan militer Belanda menyatakan bahwa tujuan perlawanannya adalah untuk menegakkan balad Islam yang mengatur kaum muslimin serta orang-orang kafir dengan aturan Islam. Dengan semangat Islam, kaum muslimin di Indonesia terus melawan penjajah meskipun pada Maret 1924, penjaga kaum muslimin; Daulah Khilafah Islamiyah diruntuhkan oleh persekutuan penjajah barat yang dalam hal ini dipimpin oleh Inggris.

Hebatnya perlawanan kaum muslimin di Indonesia rupanya juga disadari oleh penjajah Barat. Berbagai usaha mereka lakukan untuk meredam perlawanan tersebut. pertama, mereka menanamkan agen-agennya untuk meredam perlawanan serta menjauhkan cita-cita kaum muslimin untuk menegakkan Syariat Islam dalam bingkai negara. Faktanya, meskipun mampu memperoleh Kemerdekaan sejak 17 Agustus 1945 dan memperoleh pengakuan kedaulatan dari penjajah Belanda 4 tahun kemudian, hingga hari ini cita-cita untuk “menerapkan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” belum pernah terlaksana. kedua,sebagaimana yang ditulis oleh syaikhTaqiyuddin An-Nabhani dalam Mafahim Siyasiyah li Hizbit Tahrir, bahwa untuk meredam perlawanan umat di Indonesia, penjajah merubah pola penjajahannya. Mereka tidak lagi melakukan pendudukan secara militer, secara kasat mata merampok sumber daya alam serta memperbudak rakyat, namun cukup dengan melakukan penguasaan pada sumber-sumber daya alam, jeratan hutang, serta arahan dalam bidang ekonomi dan itu semua dilakukan oleh lingkaran negara penjajah, pengusaha multi nasional, yang didukung oleh penguasa agen yang membebek kepada penjajah. Tidak cukup sampai disitu, penjajah Barat melalui agennya, yaitu para penguasa negeri ini melakukan pembodohan terhadap rakyatnya sendiri serta menanamkan nilai-nilai hidup sekuler Barat. Rakyat yang mayoritas beragama Islam juga ditakut-takuti dengan hantu terorisme yang dinisbatkan pada gerakan Islam.

Maka hasilnya hampir satu abad negeri ini mengaku merdeka namun, kurang lebih 60% wilayahnya di bawah konsesi perusahaan asing, kurang lebih 80% sumber daya alam strategis dijarah oleh perusahaan swasta baik luar maupun dalam negeri, hutang luar negeri yang ditanggung oleh negeri ini berbilang tahun semakin meningkat. Di bidang politik, masyarakat semakin acuh terhadap pemerintah karena semakin hari penguasa menunjukkan dirinya tidak lebih sebagai perpanjangan tangan asing. Politik transaksional hanya menghasilkan para penguasa korup dan efeknya rakyat menjadi korban. Krisis moral dan pendidikan semakin mengkhawatirkan. Indonesia yang dianugerahi tanah yang kaya jatuh menjadi negara gagal dan secara tidak langsung menjadi santapan empuk negara-negara penjajah Barat.[2]


Memerdekakan Kembali Indonesia


Sesuai pembukaan UUD 1945, maka salah satu tugas penting Presiden RI mendatang adalah memerdekakan kembali Indonesia. Ini pernah diungkapkan oleh Dr. Rizal Ramli, dalam sebuah tulisannya berjudul “Krisis Argentina dan Indonesia Mei 1998, Korban Kebijakan IMF”:

Pada awal abad ke-21 ini, sudah waktunya bangsa kita menyatakan diri untuk bertekad melakukan “Gerakan Kemerdekaan Kedua”, sehingga dapat menjadi bangsa maju dan besar di Asia. Jika tidak, bangsa ini hanya akan menjadi permainan negara-negara maju dan hanya akan menjadi nation of coolies and coolies among nations. Soekarno dan Hatta telah memproklamasikan kemerdekaan Indonesia secara politik pada tanggal 17 Agustus 1945, sudah waktunya memasuki abad ke-21, bangsa Indonesia berani menyatakan dirinya merdeka secara ekonomi.? (Kompas (26/12/2001)

Dalam khazanah hubungan internasional, salah satu unsur penting dari negara merdeka adalah sovereignty, atau kedaulatan, yang oleh Grotius didefinisikan sebagai “that power whose acts are not subject to control of another, so that they may be made void by act of any other human will” (Encyclopedia of Social Sciences, 52).

Jadi, sovereignty atau kedaulatan adalah suatu kemampuan, keupayaan, atau kekuatan untuk melakukan tindakan atas kemauan sendiri, bukan di bawah kontrol atau telunjuk orang lain. Dengan kata lain, suatu negara dikatakan merdeka dan berdaulatan secara hakiki, jika kemauan dan kebijakan negara itu, tidak lagi berada di bawah telunjuk penjajah. Pembukaan UUD 1945 menyatakan, bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka harus dihapuskan dari muka bumi, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.

Secara fisik, saat ini hampir tidak ditemukan adanya bentuk penjajahan militer, kecuali di Palestina dan Iraq. Tetapi, kolonialisme klasik yang hilang, kini digantikan oleh imperialisme modern, yang oleh Dieter Nohlen (1994), didefinisikan sebagai politik yang bertujuan menguasai dan mengendalikan bangsa-bangsa lain di luar batas negaranya, baik secara langsung (melalui perluasan wilayah) atau secara tidak langsung (mendominasi politik, ekonomi, militer, budaya). Bangsa yang dikuasai itu sebenarnya tidak suka dan menolak tekanan serta pengaruh negara imperialis.

Dari segi pengertian imperialisme modern ini, dengan mudah kita mengatakan, bahwa Indonesia memang belum merdeka. Sebagaimana penjajahan klasik, imperialis modern yang menguasai dan menghegemoni negara lain, juga melakukan berbagai usaha untuk mempertahankan kekuasaannya atas negara lain. Sebab, kekuasaan telah memberi keuntungan besar kepada mereka, terutama secara ekonomi. Di masa penjajahan Belanda, kita mengenal teori ?Islam Politiek?-nya Snouck Hurgronje, yang membagi masalah Islam ke dalam tiga ketegori: (1) bidang agama murni dan ibadah, (2) bidang sosial kemasyarakatan, (3) bidang politik. Masing-masing bidang mendapat perlakuan yang berbeda. Resep Snouck Hurgronje ini diberikan kepada pemerintak kolonial Belanda untuk menangani masalah Islam di Indonesia.

Dalam bidang agama murni atau ibadah, pemerintah kolonial pada dasarnya memberikan kemerdekaan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya, sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda. Dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah memanfaatkan adat kebiasaan yang berlaku dengan cara menggalakkan rakyat agar mendekati Belanda, dan bahkan membantu rakyat menempuh jalan tersebut. Dan dalam bidang politik, pemerintah harus mencegah setiap usaha yang akan membawa rakyat kepada fanatisme dan Pan-Islam.

Di zaman itu, salah satu yang dianggap ancaman oleh pemerintah kolonial adalah ibadah haji, sehingga mendapatkan pembatasan yang sangat ketat. Karena itu, tahun 1908, anggota parlemen Belanda bernama Bogardt, menyatakan, bahwa pemerintah kolonial harus mengambil tindakan terhadap ibadah haji ke Mekkah. Para haji secara politis dinilainya berbahaya, dan karena itu ditegaskannya bahwa melarang perjalanan ibadah haji adalah lebih daripada kemudian terpaksa harus menambak mati mereka. (Lihat, buku Aqib Suminto yang berjudul Politik Islam Hindia Belanda, 1985:12,21).

Di zaman imperialisme modern, cara untuk mempertahankan penjajahan agak berbeda dengan dulu, meskipun tujuannya sama, yaitu mempertahankan kekuasaan dan hegemoni atas negara lain. Banyak calon Presiden yang sudah menyadari akan hal ini. Mereka ingin agar Indonesia mandiri dalam berbagai hal, tidak tergantung atau didekte oleh negara atau kekuatan lain. Bagi Indonesia, masalah ini tentulah merupakan masalah yang sangat besar dan berat. Secara ekonomi, jelas Indonesia tidak mandiri. Selain utang yang sangat besar, juga dari waktu ke waktu, semakin banyak aset strategis yang dijual ke luar. Dengan dikuasainya BCA dan Indosat oleh asing saja, maka bisa dibayangkan, begitu mudah ekonomi dan situasi negara ini digoyang ? jika diperlukan. Meskipun merupakan salah satu negara produsen minyak, perusahaan minyak negara — Pertamina– kalah jauh dibandingkan dengan Petronas Malaysia, yang tahun ini mencatat keuntungan sebesar RM 37,4 milyar (sekitar Rp 89 trilyun).

Mengapa kita tidak merdeka dan berdaulat? Jawabnya, tentu karena kita lemah. Banyak calon Presiden yang mengajukan gagasan untuk memperbaiki Indonesia. Tetapi, sayangnya, masih dalam tataran yang superfisial. Kelemahan dan ketidakberdaulatan Indonesia harus dicari pada akar masalahnya, yaitu pada masalah pikiran dan mental manusia Indonesia. Jika jiwa dan pikiran tidak merdeka, maka akan sulit dilakukan perbaikan. Apalagi bercita-cita besar untuk menjadikan Indonesia bangsa yang merdeka dan bangsa besar. Inilah yang mestinya disadari oleh para capres yang semuanya Muslim dan sudah berkali-kali melakukan haji dan umrah. Karena itu, sebagai Muslim, mereka seyogyanya menyadari, bahwa jalan satu-satunya untuk memerdekakan Indonesia adalah mulai dengan menanamkan jiwa merdeka dalam diri manusia Indonesia. Dan bagi Muslim, jiwa dan pikiran merdeka tidak bisa tidak mesti dibangun dari dasar Tauhid.

Para capres perlu mencamkan benar, bahwa Islam datang ke Kepulauan Nusantara ini bukan untuk menjajah, tetapi untuk memerdekakan manusia Indonesia, untuk membawa Indonesia ke dalam satu peradaban tinggi.

Dalam seminar tentang Sejarah Masuknya Islam ke Indonesia di Medan, 17-20 Maret 1963, diambil sejumlah kesimpulan:

  1. Islam untuk pertama kalinya masuk ke Indonesia pada abad pertama Hijriah (abad ke-7 atau 8 M) langsung dari Arab.
  2. Bahwa daerah yang pertama didatangi oleh Islam ialah pesisir Sumatera, dan bahwa setelah terbentuknya masyarakat Islam, maka Raja Islam yang pertama berada di Aceh.
  3. Bahwa dalam proses pengislaman berikutnya, orang-orang Indonesia ikut aktif mengambil bagian.
  4. Bahwa mubalig-mubalig Islam yang pertama-tama, selain sebagai penyiar Islam juga sebagai saudagar.
  5. Bahwa penyiaran Islam di Indonesia dilakukan dengan cara-cara damai.
  6. Bahwa kedatangan Islam ke Indonesia itu membawa kecerdasan dan peradaban yang tinggi dalam membentuk kepribadian bangsa Indonesia.

Islam datang dengan nilai dasar Tauhid. Tauhid-lah yang secara hakiki membebaskan jiwa dan pikiran manusia dari penjajahan. Dengan Tauhid, manusia hanya mengakui keagungan dan kedaulatan Allah SWT, dan tidak gentar serta tunduk dengan kekuatan makhluk-makhluk lain.

Presiden Indonesia nanti yang jelas-jelas mengaku Muslim, dituntut untuk membuktikan janjinya dan pengakuannya, bahwa dia adalah Muslim, pemeluk agama Islam. Mereka tentu tidak ingin dikatakan sebagai orang-orang munafik, yang menjadikan agama sebagai komoditi politik untuk menarik dukungan orang Islam, atau Islamnya hanya formalitas KTP saja. Mereka semua pasti ingin dikatakan sebagai Muslim yang baik.

Dan karena fondasi Islam adalah Tauhid, maka tugas yang amat sangat penting dari pemimpin bangsa adalah menegakkan Tauhid. Presiden wajib mendidik dan memberi contoh rakyatnya, bagaimana menjadi Imam yang baik. Sebab, dia akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Kekuasaan yang dinikmatinya tidak akan lama, tetapi tanggung jawabnya abadi, sampai di hari kiamat.

Jika dia ingin menjadi pemimpin yang dicintai rakyatnya, maka konsep Nabi Muhammad saw, bahwa pemimpin adalah yang pertama lapar dan terakhir kenyang perlu dicontoh. Dia tidak akan tenang tidur nyenyak, jika masih ada rakyatnya yang kelaparan atau menderita berbagai kesulitan hidup. Semua itu hanya mungkin dilakukan, jika dilandasi dengan jiwa dan semangat Tauhid.

Salah satu penjajah besar dalam diri manusia adalah hawa nafsunya. Hawa nafsu sering dijadikan oleh manusia sebagai penjajah bagi dirinya sendiri. Bahkan, hawa nafsu sering dijadikan sebagai Tuhan, sebagai Ilah, yang disembah dan dituruti segala macam perintahnya. Al-Quran menyebutkan tentang orang-orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan, dan karena itu tersesat dan mati hatinya untuk menerima kebenaran. Orang-orang ini hanya mengakui kehidupan dunia. Mereka tidak percaya pada kehidupan akhirat, dan hanya waktu yang akan membinasakan mereka. (QS 45:23-24).

Karena itu, saat Perang Salib, ulama dan pemimpin Islam sangat menekankan masalah Jihad al-Nafs. Dalam satu hadith sahih yang diriwayatkan Imam Tirmidzi, disebutkan: Al-Mujaahid man jaahada nafsahu fi-llaahi-Allah Azza wa-Jalla. (Bahwasanya mujahid adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya di jalan Allah). Syekh Ali al-Sulami, dalam Kitab-nya Kitab al-Jihad menjadikan jihad al-nafs, sebagai batu pijakan penting dan bagian tak terpisahkan dari konsep jihad secara keseluruhan melawan penjajahan Pasukan Salib ketika itu membebaskan Indonesia dari berbagai belenggu penjajahan dan memerdekakan Indonesia kembali adalah pekerjaan yang amat sangat besar, satu misi yang nyaris tidak mungkin (mission impossible) dalam pikiran banyak orang. Hanya pemimpin yang berpikiran dan berjiwa besar, yang dilandasi jiwa dan semangat Tauhid, yang mampu melakukan hal itu. Jiwa dan semangat yang mengakui kekuasaan dan kedaulatan Allah di atas seluruh makhluk-Nya. Jiwa dan semangat percaya dan yakin akan pertolongan Allah.

Karena itu, salah satu tugas besar pemimpin Indonesia nanti adalah menegakkan Tauhid dan mengurangkan berbagai hal yang melemahkan Tauhid. Berbagai jenis tontonan, tradisi, budaya, dan hiburan yang melupakan manusia dengan Tuhannya dan menjadi candu atau narkotika seyogyanya tidak diumbar dan diberi kesempatan berkembang seluas-luasnya di tengah masyarakat. Berbagai pemikiran dan ajaran yang menghancurkan Tauhid juga tidak semestinya diberi fasilitas untuk berkembang seluas-luasnya.

Kita tidak perlu heran, jika penjajah modern telah dan sedang melakukan berbagai cara untuk mengubah cara berpikir dan cara berbudaya kaum Muslim, demi mengokohkan hegemoni mereka atas kaum Muslim. Untuk itu mereka rela mengeluarkan dana milyaran bahkan trilyunan rupiah, baik melalui pemerintah maupun LSM-LSM yang mengemban misi penghancuran Tauhid.

Mereka ingin agar kaum Muslim menjadi jinak dan ?rusak secara aqidah dan akhlak. Cara-cara ini hakekatnya sama dengan yang dilakukan oleh penjajah-penjajah klasik dahulu, hanya pola dan modus serta sarana dan prasarananya yang berbeda. Sebuah lembaga asing yang bermarkas di San Francisco AS, dan memiliki cabang di Indonesia, mengaku, selama 30 tahun telah aktif menggarap institusi-institusi dan umat Islam Indonesia. Tahun 2004, lembaga ini memberikan pelatihan kepada lebih dari 1000 pesantren tentang nilai-nilai pluralisme agama, gender equality, toleransi, dan civil society. Juga, lembaga ini dengan bekerjasama dengan empat universitas Islam, telah melakukan reformasi kurikulum pendidikan yang mewakili 625 institusi Islam dan sekitar 215.000 mahasiswa. Lembaga ini mengaku mendapatkan dana dari perusahaan, individu, dan pemerintah AS, serta beberapa negara Eropa lainnya.

Mengapa mereka mempromosikan paham pluralisme agama. Tentu karena mereka ingin agar kaum muslim tidak fanatik, dan tidak meyakini, bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang benar dan satu-satunya jalan keselamatan. Padahal, di sinilah salah satu jantung dari ajaran tauhid. Jika ribuan pesantren dididik untuk memahami toleransi, maka tentu ada asumsi, bahwa para kyai dan santri kurang atau tidak paham tentang toleransi atau mereka dianggap tidak toleran. Jika kaum Muslim tidak boleh fanatik dan memeluk nilai-nilai dan ajaran agamanya, pada sisi lain, aktivitas lembaga ini membuktikan, bahwa Barat justru begitu fanatik dengan nilai-nilai mereka, sehingga mereka sanggup mengeluarkan dana yang sangat besar untuk proyek ?perubahan cara berpikir dan cara berperilaku umat Islam, agar menjadi seperti mereka.

Kita paham, disamping misi ideologis, ada banyak keuntungan ekonomi yang mereka raih. Sebab, dengan mengakui dan mengagumi nilai-nilai Barat, maka kaum muslim akan tidak segan-segan mengkonsumsi shampo, sabun, makanan, mode pakaian, lisptik, dan berbagai produk imperialis lainnya. Jadi, sangatlah naif, kalau menyangka, bahwa dana melimpah yang kini dinikmati oleh berbagai organisasi Islam, dari lembaga semacam ini, semuanya diberikan secara gratis. Dan kita tidak usah heran, bahwa sejak zaman kolonial, akan ada saja di kalangan muslim, yang dengan sadar atau tidak, menjadi agen penghancuran aqidah dan akhlak kaum muslim. Tentu dengan imbalan kegemilangan dan gemerlap kehidupan dunia yang fana ini.[3]

Ironi, Indonesia merdeka dari penjajahan fisik masuk ke jurang penjajahan ekonomi, politik, budaya dan keamanan. Negeri ini subur, kaya SDA tapi yang makmur dan kaya hanya pemilik modal, penguasa dan penyokongnya serta Asing. Sementara rakyat tetap dalam derita dan nestapa dalam berbagai aspek hidupnya.[4] Maka sudah saatnya menyadarkan umat bahwa saat ini Indonesia masih berkutat dalam masalah penjajahan. 71 tahun kemerdekaan sebenarnya hanya pencapaian nisbi karena terbukti bangsa ini semakin berjalan mundur menuju jurang kebinasaan. Penguasa dan pemerintah negeri ini tidak lebih adalah agen penjajah yang menjalankan segala agenda tuannya. Maka kejahatan mereka harus segera diungkap dan diakhiri, untuk menyelamatkan negeri ini dan seluruh tumpah darahnya. Kemudian menyadarkan seluruh elemen bangsa ini bahwa Islamlah satu-satunya yang mampu membangkitkan Indonesia menjadi bangsa terbaik. Tentu kebangkitan itu akan tercapai dengan tegaknya institusi negara yang menerapkan Islam secara menyeluruh, yaitu Daulah Khilafah Islamiyah. Hanya Islamlah sebagaimana misi Saad ibn Abi Waqash ra dalam futuhat ke Persia, yang mampu membebaskan manusia dari segala bentuk penjajahan serta ketidakadilan berbagai aturan buatan manusia. Maka tidak ada solusi lain untuk merobohkan penjajahan di Indonesia selain tegaknya institusi Islam dalam bingkai Daulah Khilafah Islam serta yang akan menyebarkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.[2]


Misi Kristenisasi di Indonesia


Riwayat kristenisasi di Indonesia serentang dengan datangnya penjahat kolonial, selama lebih dari tiga abad Indonesia dijajah oleh Spanyol, Portugis, Belanda dan Inggris. Status sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia sekaligus memiliki kekayaan alam yang melimpah menjadikan Indonesia menjadi ladang subur dan target penting bagi misionaris dan kolonialis, ibaratnya Indonesia adalah bunga desa yang banyak dipuja yang menjadi rebutan.

VOC atau perusahaan Belanda  di Hindia Timur yang dibentuk pada tahun1602 merupakan wakil imperialisme di Asia Tenggara.  Latourette dalam “A History of Cristianity” mengakui,” prinsip dan kaidah Kristen dalam kebijakan-kebijakan imperialisme memerankan peranan yang sangat banyak “.  Aqib Suminto dalam Politik Islam Hindia Belanda menuturkan bagaimana pada 1661 VOC melarang umat Islam untuk melaksanakan ibadah Haji, kebijakan ini merupakan realisasi anjuran Bogart, seorang Katholik ekstrim di parlemen Belanda.  Bogart menilai para haji sangat berbahaya secara politis, karena itu melarang perjalanan ibadah haji jauh lebih baik ketimbang menembak mati para haji itu.

Dalam menjalankan misi kristenisasi, VOC meniru cara-cara yang dilakukan Spanyol dan Portugis yaitu cara memaksa, penjajah Belanda memaksa rakyat pribumi untuk menerima ajaran Kristen, sebaliknya jika ada belanda yang masuk Islam maka akan dihentikan  segala pembelanjaannya dan orang itu akan ditangkap dan dikeluarkan dari wilayahnya. Perlindungan kaum imperialis kepada misionaris memiliki posisi penting dimasyarakat,Ketika Indonesia merdeka, orang orang Kristen menduduki jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan dan memiliki pengaruh besar dalam percaturan politik.

Perubahan dalam mukadimah UUD 45 dari ”Ketuhanan yang Maha Esa dengan menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Ketuhanan yang Maha Esa”, merupakan contoh kuatnya pengaruh Kristen di Indonesia,.  Selanjutnya setiap rancangan undang-undang atau peraturan pemerintah yang dianggap menguntungkan kaum Muslimin selalu ditolak keras oleh kalangan Kristen, misal dalam rencana undang undang peradilan agama1989.  Sebaliknya, yang dianggap dapat menjauhkan kaum Muslimin dari ajaran Islam selalu didukung penuh, seperti dalam perdebatan RUU perkawinan 1973.   Juga berbagai konflik sejak dulu sampai sekarang yang melibatkan pemeluk Islam dan Kristen di Kalimantan , NTT, Poso, Maluku, Irian, Ambon, sebenarnya adalah buah dari aktivitas Kristenisasi yang tak kunjung padam dan dipadamkan.  Lebih lagi ketika mereka mencanangkan untuk menguasai Indonesia menjadi Negara Kristen sebagai batas target tahun2020 dijadikan sebagai tahun tuaian(panenan) untuk menjadikan Indonesia menjadi 50% orang Kristen dan 50% orang  Islam maka mereka mengupayakan pulau Kalimantan menjadi Island Christ (pulau Kristus), Manokrawi menjadi kota Injil, Papua atau Irian menjadi tanah Yesus.  Bahkan dalam Jubelium memperingati 150 tahun Berdirinya HKBP pada hari Minggu tanggal 4 Desember 2011 di gelora senayan, yang juga di hadiri oleh Presiden Susilo Bambang  Yudoyono,  Ephorius(pemimpin) HKBP meminta untuk menjadikan Tapanuli utara sebagai propinsi tersendiri yang akan dipimpin oleh orang suku batak yang Kristen.

  • Amanat Agung yang mereka jalankan

Dasar mereka menjalankan misi ini adalah didasari karena perintah agama sebagai mana termaktub dalam surat Matius pasal 28 ayat 19-20 : “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dengan nama Bapak, anak dan Roh kudus.  Dan ajarlah mereka melakukan sesuatuyang telah kuperintahkan kepadamu,.”

Ayat ini dikenal sebagai “AMANAT AGUNG” (The Great Commandment) sebagai perintah yang sangat kuat, walaupun sebenarnya menurut pakar kristologi dari golongan mereka menyatakan ini adalah ayat palsu yang ditambahkan sebagai upaya melegitimasi apa yang mereka lakukan.

Karena itu mereka sangat ngotot menjalankan misi ini, tak mengherankan juga seluruh komponen dikerahkan  merumuskan berbagai strategi cara untuk serta merta mengkristenkan dunia ini.

  • Seribu jalan kristenisasi  Menuju Negara Kristen Republik Indonesia

Banyak jalan yang ditempuh misionaris guna dapat memuluskan target besar mereka untuk dapat menjadikan Indonesia ini Negara Kristen seperti yang diungkap Media Dakwah (edisi Juni 1990 ) yang memuat bocoran keputusan dewan gereja Indonesia di Jakarta Tanggal 31 September 1979 perihal program jangka panjang kristenisasi  50 tahun di Indonesia yang jatuh pada tahun 2020 nanti dan juga program kristenisasi di Indonesia yang disadur majalah Cresent terbitan Kanada yang intinya bertujuan untuk meningkatkan populasi umat Kristen agar sama dengan umat Islam di Indonesia.  Ini dilakukan dengan mempropagandakan program keluarga berencana kepada kaum Muslimin dengan membatasi jumlah kelahiran dengan slogan “dua anak cukup”, “perempuan laki sama saja” dan mengharamkanya bagi kalangan Kristen, bahkan mereka dianjurkan untuk memperbanyak jumlah anak  bahkan doktrin yang banyak tersebar dikalangan Kristen sendiri adalah barang siapa yang mempraktekkan KB akan menanggung dosa dan melawan doktrin gereja dan barang siapa yang melakukan pembatasan kelahiran dianggap sebagai pembunuh orang Kristen dan telah hilang kemuliaan ini sesuai dengan perintah bible kitab kejadian pasal 1 ayat 27 – 28.  Sejalan dengan perkembangan waktu dan cara ini kemudian dirubah dengan cara halus dengan program “cesarisasi” bagi ibu-ibu muslim yang akan melahirkan  dengan mengupayakan  memperbanyak dokter- dokter sepesialis kebidanan dan kandungan dari golongan mereka,membangun klinik dan rumah sakit bersalin, bekerja sama dengan bidan-bidan untuk merujuk ke rumah bersalin dan klinik mereka dengan imbalan yang menggiurkan.

Sejalan dengan itu pula dibidang pemerintahan jabatan jabatan strategis harus dipegang oleh orang Kristen baik ditingkat Eksekutif ataupun Yudikatif, Gubernur, Bupati, Walikota ataupun jabatan-jabatan strategis lainnya  sehingga mereka dengan mudah mengontrol seluruh jalanya pemerintahan, karena itu peran partai Kristen sangat diperlukan untuk usaha tersebut.  Mereka mendirikan Partai Damai Sejaterah (PDS) yang sampai hari ini gagal mengikuti pemilu 2014 karena tdk masuk dalam klarifikasi partai peserta pemilu.  Partai ini  diketuai oleh seorang pendeta yaitu DR.Ruyandi Hutasoit yang pada tahun 2005 di Surabaya pernah mengatakan, “sudah saatnya umat Kristen harus menguasai struktur dan sistem walaupun kita tidak menguasai massa, tetapi kalau kita kuasai sistem itu, disini kita punya tantangan yang besar dan salah satu yang harus kita garap kuat adalah KPK(komisi Pemberantasan Korupsi) itu sudah jelas banyak orang yang beragama Kristen disitu dan kita punya target juga kita akan bongkar semua, khususnya para tokoh-tokoh pejabat Muslim ini, untuk bisa dibongkar semua kasus korupsinya hingga bisa rusak citra mereka dimata umum, jadi ini sekenario besar dan terselubung yang ….apa namanya harus dirancang secara sistematik ke depan buat kita, terus menyiapkan kader-kader PDS ke semua jajaran terutama di yudikatif itu adalah lembaga yang sangat pontensial dimana banyak SDM Kristen yang punya kekuatan punya kemampuan untuk didalam ini, sudah punya kekuatan yuridis juga melakukan judifikasi terhadap pejabat-pejabat yang sudah keluar dari jalur moral, etika ataupun sistem yang ada.  Nah kita budayakan dan manfaatkan link kita di KPK supaya itu harus terus berlanjut semakin lama semakin hari juga akan menegakan eksistensi orang orang Kristen yang ada dipemerintahan, dengan memberikan negative tinking kepada pejabat-pejabat Muslim.”  Dan lebih lanjut lagi DR Ruyandi Hutasoit mengemukakan : “Sudah saatnya istana Negara, terpampang lukisan Tuhan Yesus, atau lukisan perjamuan kudus, sudah saatnya di istana berkumandang lagu pujian dan penyembahan bagi sang raja disurga, sudah saatnya dari istana Negara dinaikan doa doa syukur ! sudah saatnya di istana merdeka diadakan kebaktian, ibadah, persekutuan doa dari orang-orang Kristen! Ingat ! kita adalah pemenang mari kita bersatu  dan mari kita bergandeng tangan!.”

Dengan ambisi yang begitu besar ini, mereka ingin menguasai beberapa pulau seperti Kalimantan, Papua, dan juga Jawa.  Mereka berusaha untuk memenangkan pilkada atau pilgub ditempat masing-masing dan ini terlihat banyak kekalahan mayoritas Islam disetiap pemilihan kepala daerah seperti di Kalimantan barat dan tengah yang mayoritas muslim, dapat dikalahkan oleh minoritas kristen karena memang Kalimantan adalah target untuk dikuasai dengan menjadikan sebagai pulau Kristus.  Tak menutup kemungkinan pulau pulau lainnya seperti Jawa, Sumatra menjadi sasaran untuk mereka kuasai.

  • Rencana dan setrategi baru

Pada tahun 2005 kaum Kristen telah merencanakan manuver baru dalam merealisasikan rencana tuaian 2020 dengan mempergunakan strategi Matius 10 ayat 16 “licik seperti ular santun bagai merpati” dengan menamakan gerakan penuaian jiwa dan transformasi  sebagai proyek kristenisasi terbesar dengan melibatkan semua element baik Kristen protestan ataupun Kristen Khatolik dan di tahun 2020 ditargetkan sebagai tahun keberhasilan sebagaimana disampaikan oleh pendeta DR Jeff Hammond dalam bukunya “Transformasi Indonesa”.  Sejak peristiwa G30S PKI, terjadi masa Koiros (tuaian/panen) di Indonesia sehingga dalam enam tahun ada lebih dari 7 juta orang di pulau Jawa yang menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru Selamat dan fokus tahun 2005 sebagai awal tahun tuaian atau masa panen dan tahun 2020 sebagai tahun penggenapan amanat agung.

  • Masa tuaian (panen)

Masa inilah yang dinantikan oleh umat Kristiani yang selalu memanfaatkan keadaan lemah dari suatu masyarakat, bangsa dan Negara dimanapun mereka berada.  Ketika di Rusia komunis dalam keadaan goyah dan hampir runtuh, begitu pula yang terjadi di Berlin, Jerman, dengan jebolnya tembok Berlin serta juga peperangan yang terus-menerus di Afghanistan, Pakistan, Irak, Iran dan negara -negara Timur Tengah juga Afrika, maka daerah-daerah tersebut menjadi terbuka untuk Injil dan orang orang Kristen dari barat, mereka datang berduyun-duyun ke wilayah tersebut, tak terkecuali mereka datang ke Indonesia disaat bangsa ini dilanda keputusasaan ,penderitaan, krisis kepercayaan kepemimpinan, dan juga berbagai kondisi buruk lainnya.  Mmembuat para misionaris percaya diri bahwa Indonesia menjadi lahan subur untuk siap tuai panenan, hal ini disampaikan oleh pendeta Gembala sidang (GBKP).  Ia mengatakan : “Indonesia adalah ladang yang sedang menguning  yang sangat besar tuaiannya dan Indonesia siap mengalami tansformasi yang besar hal ini bukan suatu kerinduaan yang hampa, namun suatu peryataan iman terhadap janji firman Tuhan dan Indonesia cocok bagi tuaian besar yang Tuhan rencanakan.”

  • Konsilidasi kaum Kristiani

Di berbagai belahan dunia kaum Nasrani melakukan berbagai konsolidasi do’a bersama dan puasa nasional dengan mendatangkan para tokoh-tokoh Kristen baik itu pendeta, misionaris, penginjil, zending ataupun sebangsanya dengan tujuan untuk menguatkan iman Kristen.  Konsolidasi ini telah dilakukan pada tanggal 12 sampai 16 Mei tahun 2003 bertempat di gelora Bung Karno Senayan dengan tajuk pemulihan bangsa dengan mendatangkan para pendeta, evengelis dan juga tokoh-tokoh Kristen dunia dan dihadiri tidak kurang dari 80.000 orang Kristen dan 10.000 pemimpin Kristen dari berbagai Negara. Dan acara ini sempat menghebohkan umat Islam Indonesia dengan pemberkatan (pembaptisan) yang dilakukan kepada Gus Dur yang saat itu menjabat Presiden RI di mana dia juga memberikan sambutan, serta menyambut baik gerakan transformasi ini, dan pada tahun 2005 dicanangkan sebagai genderang awal gerakan transformasi dimulai.  Kegiatan ini terus dilakukan setiap tahunnya dan pada tanggal 25 -28 Oktober 2011 yang lalu bertempat di JHCC Sentul Bogor, diadakan acara serupa dengan menghadirkan 4000 para misionaris dan juga pendeta se-Asia yang juga dihadiri dihari terakhir acara 10.000 orang Kristiani untuk diberkati.  Acara ini bertajuk sama dengan acara-acara sebelumnya yaitu konsolidasi dan pemberkatan keselamatan untuk bangsa- bangsa di dunia ini khususnya Indonesia yang menjadi lahan subur garapan mereka. Kerap kali mereka juga mengadakan pertemuan dan diskusi-diskusi tentang keagamaan dan juga lintas agama sebagai upaya untuk melihat sejauh mana kesiapan mereka dan juga tantangan dari umat lainya terhadap program yang mereka lakukan.

  • Persiapan SDM dan Infrastruktur

Untuk merealisasikan tahun tuaian dan NKRI( Negara Kristen Republik Indonesia) ini mereka melakukan berbagai persiapan-persiapan yang sangat matang ,terencana dan sistematis,termasuk persiapan SDM dan juga infrastruktur seperti Gereja, sekolah tinggi teologi dan lain sebagainya.   Sebagaimana yang dikatakan oleh pendeta Bambang Wijaya dalam bukuya “Transformasi Indonesia,” petani yang bijaksana saat melihat tuaian sudah diambang pintu, ia akan segera mempersiapkan tenaga penuai sebanyak-banyaknya, karena itu ia tidak akan menyia-nyiakan ladangnya, itulah sebabnya tidak mengherankan apaabila Tuhan Yesus Kristus bekata : ”Tuaian memang banyak tapi pekerja sedikit, maka mintalah tuaian pada tuan yang empunya tuaian, supaya ia mengirimkan  pekerja-pekerja untuk tuaian itu.

Jika selama ini yang kita dengar hanya pendeta, misionaris, atau orang tertentu saja yang menjalankan misi pengkristenan maka dengan lahirnya gerakan transformasi banyak gereja harus secara aktif menjadikan semua jemaatnya menjadi tenaga penuai atau pengkabar baik.

Termasuk salah satu persiapan sumber daya manusia  adalah dengan membangun dan mengaktifkan serta merekrut  kembali para laskar-laskar Kristus yang selama ini berperan dalam menjaga dan mengamankankan aset-aset yang dimiliki oleh Kristen dan juga mereka selalu terjun didaerah- daerah konflik seperti, Poso, Ambon juga didaerah- daerah perseteruan gereja, seperti di Ciketing Bekasi  dan  gereja Yasmin di Bogor, Tanggerang Lippo  bahkan mereka juga punya andil dalam menurunkan Suharto sebagai presiden RI waktu tahun1998.

Mereka juga mempersiapkan kader-kader gereja yang dipersiapkan dengan matang, handal dan bermental baja yang bisa masuk kemana saja baik di jajaran birokrasi, yudikatif atau pun eksekutif dan disemua lini karena mereka adalah sel tuaian besar abad 21.

Mendirikan Sekolah Tinggi International Harvest (HITS) yang bekerja sama dengan 2000 gereja se Indonesia guna untuk mendirikan sekolah Al- kitab di dalam gereja, dalam brosur yang disebarkan itu ada paket gratis dengan jaminan 2000 gereja lokal untuk mempersiapkan 200.000 pemimpin perintis gereja  yang akan diterjukan kepada umat dalam menyambut tahun tuaian 2020 nanti.

Memperbanyak jumlah gereja sebagai sarana untuk menampung hasil tuaian, dan mereka menyadari bahwa transformasi tidak akan berjalan tanpa mengikuti master plant yang telah direncanakan maka pendirian gereja harus diperbanyak walaupun hanya satu orang yang mengisinya sebagaimana  yang diungkapkan oleh pendeta DR Eddy Leo.Mth. Maka salah satu yang harus juga diperhatikan adalah gereja karena gereja adalah merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari tubuh Kristus.  Dan kita melihat sekarang ini tingkat pertumbuhan yang sangat tajam dari jumlah gereja diberbagai tempat yang meningkat hingga 300%   dibanding dengan pertumbuhan masjid  yang hanya 60% setiap tahunya menurut data Kementrian Agama, walaupun didalam pembangunan gereja yang mereka dirikan banyak timbul masalah dan tidak sesuai dengan aturan hingga pada akhirnya banyak timbul gesekan dimana gereja itu dibangun, seperti pemalsuan KTP, tidak ada IMB, menipu dan membohongi masyarakat dan lain sebagainya.

Mereka juga telah mempersiapkan buku panduan dan aturan dalam melaksanakan tuaian atau pengkristenan yang sudah di terjemahkan kedalam 20 bahasa berjudul ”The Final Sing” yang dikarang oleh pendeta DR. Peter Youngren  asal Kanada yang berisi pelajaran mengenai tuaian akhir zaman dibagikan secara gratis yang pembagianya dalam pengawasan salah satu organisasi Kristen “World Impact Ministries and The Global Harvest Force” dibagikan kepada sekitar 10.000.000 pekerja tuaian dari berbagai Negara yang khusus untuk pelayanan akhir zaman.

Membentuk lembaga atau  organisasi-organisasi, kepemudaan, sosial, bantuan-bantuan kemanusiaan, pendanaan, persekutuan gereja, pendidikan dan lain sebagainya diantaranya adalah:

1. BAMAG (badan musyawarah antar agama).

Suatu lembaga yang didirikan untuk memperluas jangkauan misi antar gereja sehingga di setiap gereja di kota dan wilayah melebur dengan lembaga yang sama, ini adalah elemen kekuatan gabungan Kristen yang mewadahi gereja-gereja di Indonesia.

2. FGBMFI (Full Gospel Business Men’s Fellowship International)

Gabungan dari pengusaha–pengusaha Kristen yang banyak membantu pendanaan untuk misi kristenisasi di Indonesia termasuk perusahaan-perusahaan besar di Indonesia seperti Lippo Group, Ciputra, Intiland, Sumarecon, Sedayu Group dan dipimpim oleh James Riyadi (group Lippo).

3. NCFI (Nation Care For Indonesia)

Badan atau lembaga Kristen yang menaungi advokasi bantuan hukum  dan investigasi bagi mereka yang tersandung masalah hukum yang berkait perseteruan dengan umat lainya.

4. YMCA ( Young Men’s Christian Asociation)

Gabungan para pemuda-pemudi Kristen dari semua elemen pemuda Kristen yang bergerak menangani dan mengurusi setiap kegiatan pemuda Kristen.

5. Yayasan Gideon Internasional

Lembaga yang dibentuk dari kalangan professional yang memfokuskan diri pada bidang percetakan dan penerbitanIinjil untuk dibagikan sebagai amunisi secara gratis ke sekolah, hotel, rumah sakit dan lain sebagainya.

Melihat  kondisi ini apakah impian mereka untuk menjadikan tahun 2020 sebagai tahun tuaian bisa tercapai atau pada akhirnya Negara Kristen Indonesia terwujud?  Maka umat Islam harus waspada dan bersatu mempersiapkan diri dan jangan terkecoh dengan apa yang mereka lakukan di negri ini.   Ummat Islam harus selalu memahami agamanya dengan benar agar tidak terjebak masuk pada perangkap mereka dan selalu waspada untuk menghadang apa yang mereka rencanakan.[5]


Indonesia Jangan Dipimpin Presiden Sekuler


Umat Islam Indonesia harus turut berpartisipasi memilih pemimpin, baik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) maupun Presiden. Tidak dibenarkan, jika umat Islam bersikap abstain dan pasif saat pemilihan pemimpin muslim.

Hal itu dikatakan Imam Masjid Al Aqsha, Syaikh Ikrimah Sabri, saat berbicara di Masjid Agung Al Azhar, (10/6) saat Tabligh Akbar “Rekomendasi Calon Pemimpin Jakarta” yang digelar Majelis Pelayan Jakarta (MPJ).

Jangan pernah membuka peluang kemenangan bagi kaum sekuler dan non-muslim saat memilih pemimpin. Kita tak ingin seperti yang terjadi di Turki, dipimpin oleh kaum sekuler. Jangan sampai hal itu terulang di Indonesia.

Umat Islam Indonesia tidak boleh abstain saat pemilihan presiden atau kepala daerah. Umat Islam harus mencoblos calon pemimpin dari kalangan muslim.Jika umat Islam tidak memilih pemimpin muslim, maka jangan salahkan kaum sekuler dan non muslim ketika mereka menang dalam pemilihan presiden atau kepala daerah, apalagi menghina mereka. Hinalah diri kita sendiri. Itu akibat umat Islam tidak memilih pemimpin muslim.

“Saya mengajak umat Islam Indonesia agar melakukan perjanjian untuk memilih pemimpin muslim. Mari kita berdoa agar Allah memenangkan kaum muslimin.[6]

Allah berfirman “Janganlah kalian terperdaya dengan gerak-gerik mereka  (orang-orang kafir) di negeri kamu.”

Referensi

  1. http://republika.co.id/berita/koran/khazanah-koran/16/02/23/o2zko814-muslim-berperan-besar-dalam-kemerdekaan-ri
  2. https://burjo.wordpress.com/2016/08/27/islam-untuk-memerdekakan-indonesia/amp/
  3. http://hidayatullah.com/kolom/catatan-akhir-pekan/read/2004/07/08/2526/memerdekakan-kembali-indonesia.html
  4. https://hizbut-tahrir.or.id/2010/12/20/sepanjang-2010-indonesia-banyak-didikte-luar-negeri/
  5. https://arrahmah.com/news/2013/06/11/misi-kristenisasi-di-indonesia-menyambut-impian-2020-sebagai-tahun-tuaian-masa-panen-kristen.html
  6. http://www.islamku.top/2016/06/imam-masjid-al-aqsha-indonesia-jangan.html?m=1
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s