Memahami Istilah Fetishisme

Secara sederhana istilah fetishisme artinya pemberhalaan dan pemujaan terhadap benda materil. Orang pada awalnya menyematkan atau memberikan status kepada berbagai benda-benda materil sebagai benda-benda yang memiliki kekuatan gaib. Setelah hal tersebut dilakukan, kemudian orang mengganggap bahwa benda-benda materil memiliki kekuatan gaib secara otonom—artinya kekuatan gaib yang bersemayam di dalam tubuh berbagai benda materil adalah muncul dengan sendirinya (alami) tanpa adanya campur tangan manusia. Karena kekuatan gaib berbagai benda materil tersebut dianggap muncul dengan sendirinya, maka kelakuan konyol selanjutnya adalah merasa kagum terhadap kekuatan gaib tersebut dan karena kekagumannya tersebut, maka orang menyembah dan memuja benda materil yang dianggap memiliki kekuatan gaib tersebut.

Jadi, kemunculan fetishisme yang dihubungkan dengan benda-benda materil yang dianggap memiliki kekuatan gaib tersebut secara skematik dapat digambarkan seperti ini: benda materil <<< diberikan status sebagai benda yang memiliki kekuatan gaib oleh manusia >>> kemudian manusia menganggap kekuatan gaib itu muncul secara alamiah dengan sendirinya (otonom) <<< akhirnya manusia menyembah dan memuja benda materil. Ini artinya manusia menyembah dan memuja hasil dari ciptaannya sendiri.

Hubungan Antara Fetishisme dan Komoditi (Barang Dagangan)

Istilah fetishisme yang artinya telah penulis sampaikan di muka tersebutlah yang digunakan oleh Marx untuk menggambarkan telah terjadinya fetishismeisasi terhadap komoditi (barang dagangan). Oleh orang-orang borjuis komoditi yang di dalam tubuhnya mengandung nilai pakai dan nilai tukar dianggap muncul secara alamiah tanpa adanya perantaraan dari curahan kerja manusia. Tujuan dari terjadinya fetishismeisasi terhadap komoditi ini jelas untuk menanamkan kesadaran palsu di dalam batok kepala kelas pekerja bahwa mereka secara “kodrati” harus mengakui bahwa mereka memang seharusnya terpisah dengan alat produksi dan mengamini bahwa harga-harga komoditi yang ada di pasar kapitalis terbentuk bukan karena peranan—curahan kerja dari kelas pekerja akan tetapi dibentuk oleh munculnya permintaan dan penawaran secara alami (fetis). Kesadaran palsu yang ditanamkan ke dalam batok kepala kelas pekerja ini, dalam perkembangannya kemudian, semakin diperkuat dengan kemunculan uang yang diposisikan sebagai alat tukar universal terhadap berbagai komoditi. Uang dalam hal ini dianggap sebagai ukuran segala-galanya dari berbagai komoditi yang ada atau dengan kata lain berbagai komoditi harus tunduk-patuh pada kekuatan fetis uang.

Karl Marx di dalam buku yang ditulisnya, “Das Kapital Jilid Ke-1,” berargumen bahwa fetishismeisasi pada komoditi tersebut sebenarnya terjadi karena sifat sosial dari komoditi itu sendiri. Maksudnya begini, ketika benda materil telah diubah oleh produsen/kelas pekerja menjadi komoditi, seketika itulah sifat sosial yang seharusnya mengakar pada kepentingan kelas pekerja itu sendiri dibelokkan oleh kelas borjuis bukan untuk kepentingan kelas pekerja tetapi demi untuk kepentingan penjinakan terhadap potensi perlawanan kelas pekerja dan memberikan jalan bebas hambatan bagi kepentingan akumulasi modal kelas borjuis-kapitalis.

Menurut Karl Marx, sifat sosial komoditi yang muncul segera setelah benda materil diproduksi oleh kelas pekerja menjadi komoditi, sesungguhnya mengakar pada kepentingan kelas pekerja itu sendiri tidak diorientasikan untuk kepentingan para kapitalis. Penyelewengan terhadap hal ini adalah sebuah tindakan yang bersifat fetishismeisasi yang merupakan tindakan brutal borjuis untuk menceraikan (mengalienasi) kelas pekerja dengan alat produksi, hasil produksi (komoditi), dan bahkan hubungan antar manusia. Dalam bahasa Erich Fromm kebrutalan dari kelas kapitalis ini pada gilirannya akan menyeret kelas pekerja pada kondisi yang teralienasi (terasing) secara total.

Untuk menunjukkan secara konkret terjadinya penyelewengan sifat sosial dari komoditi tersebut, Karl Marx di dalam buku yang ditulisnya tersebut memberikan pemaparan sebagai berikut:

Katakan saja sebuah benda materil berupa kayu yang kemudian diubah—melalui curahan kerja manusia—menjadi kursi. Benda materil yang sudah diubah menjadi kursi tersebut secara kasat mata sebenarnya masih berupa kayu. Untuk mengubah kayu (baca: meja) tersebut menjadi komoditi, maka dia harus dipertemukan dengan komoditi-komoditi penyetara lainnya. Ketika kursi dipertemukan dengan komoditi-komoditi penyetara lainnya pada saat inilah lahirnya sifat sosial dari komoditi berbentuk kursi tersebut. Sifat sosial ini ditandai dengan nilai tukar yang dilekatkan secara sosial di dalam dirinya (meja). Bagi kalangan kelas borjuis-kapitalis saling bertemunya berbagai komoditi di ranah pasar dan kemunculan nilai tukar pada benda materil yang telah diubah menjadi komoditi tersebut muncul secara alamiah dengan sendirinya (otonom) tanpa adanya campur tangan dari curahan kerja manusia.

Anggapan dari tidak adanya campurtangan dari curahan kerja manusia tersebut adalah keliru karena benda materil yang kemudian diubah menjadi komoditi oleh produsen/kelas pekerja sebenarnya merefleksikan kompleksitas nilai yang berpusat dan memusat pada aktifitas curahan kerja manusia. Secara sederhana hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: nilai pakai tidak akan pernah muncul apabila tidak ada curahan kerja manusia, kayu tidak akan pernah menjadi kursi apabila tidak ada orang yang mengerjakannya. Kemunculan nilai pakai dengan syarat harus adanya curahan kerja manusia ini yang kemudian berubah menjadi komoditi, tidak akan menjadi komoditi apabila individu-individu pekerja tidak saling bertemu dan kemudian saling melakukan penyetaraan terhadap benda-benda materil yang telah diubahnya menjadi berbagai bentuk komoditi. Yang harus selalu diingat untuk memaknai komoditi dalam tradisi Marxis adalah bahwa ukuran penyetaraan antar komoditi dan berikut nilai-nilai yang menyertainya (nilai pakai, nilai tukar, nilai relatif, nilai yang terkandung dalam kerja konkret dan abstrak, nilai konstan dan nilai variabel… dan sebagainya. Untuk mengerti tentang nilai yang terkandung di dalam tubuh komoditi silahkan simak tulisan dari penulis di stus Tikus Merah yang membeberkan tentang “pengantar dalam memahami Das Kapital Karl Marx”) sebenarnya mengakar pada komoditi yang mengandung durasi curahan kerja manusia.

Dampak Fetishisme Komoditi Terhadap Prilaku Manusia

Dalam bangunan teori Marxis fetishisme komoditi sebenarnya lahir dari kepentingan kelas kapitalis untuk menopang dan melanggengkan kekuatan produksi yang terhegemoni dan hubungan produksi yang menindas. Kekuatan produksi yang tidak lain diperankan oleh alat produksi dan curahan kerja manusia berusaha dipecah belah atau diceraiberaikan demi melakukan penjinakan dan menyumbat munculnya kesadaran kritis dari kekuatan produksi (kelas pekerja). Tidak hanya itu, fetishisme komoditi yang dimunculkan oleh kelas borjuis, dengan menggandeng negara, sangat berfungsi untuk kepentinan melegitimasi terhadap represi apabila kesadaran kritis dari kelas pekerja muncul dan kemudian “menggoyang” kepentingan kapitalis. Dari sini dapat disaksikan betapa fetishisme komoditi selain dapat digunakan sebagai alat penjinak dia juga bisa digunakan sebagai alat represi dan mesin untuk menindas.

Ada pun di sisi lain—dalam hubungannya dengan pelanggengan hubungan produksi yang menindas, fetishisme komoditi sangat berfungsi untuk menopang kepentingan kelas kapitalis dalam melakukan penghisapan tenaga kerja dan kemapanan dalam melangengkan akumulasi kapital. Dengan mendengung-dengungkan informasi keliru ke dalam lubang telinga kelas pekerja bahwa yang menjadi ukuran dari kemunculan nilai tukar dan keuntungan adalah uang (baca: modal yang diinvetasikan) bukan curahan kerja manusia hal ini diharapkan dapat menumbuhkan kepercayaan (baca: kesadaran yang terhegemoni) dari kelas pekerja bahwa kelas pekerja dapat menafkahi dirinya karena adanya modal yang diinvestasikan oleh kapitalis dan kesediaan kapitalis untuk mempekerjakan mereka dan menggaji mereka dengan uang.

Yah, uang oleh kelas kapitalis telah diposisikan sebagai ukuran dari segala-galanya, baik itu ukuran dalam melakukan penyetaraan berbagai komoditi maupun untuk mengukur manusia dari sisi psikologis atau mentalnya. Untuk yang terakhir, orang dalam hal ini dianggap sudah berhasil menjadi orang apabila dia dalam hidupnya telah berhasil mengumpulkan uang [melalui berbagai cara] sebanyak-banyaknya sehingga oleh karenanya kemudian dia menyandang status sosial sebagai orang kaya. Dengan uanglah kesadaran manusia digiring dan diseret untuk mengembangkan kepribadian yang rakus dan penuh nafsu dalam memburu uang, uang dan uang. Demi uang manusia sanggup untuk melakukan pengkhianatan, merampok, mencuri, memperkosa hak asasi manusia, bahkan manusia tega untuk membunuh dan menjadi sosok monster yang bernama kanibal. Dengan demikian fetishisme komoditi dalam tahapan ini rupa-rupanya berdampak pada kemunculan prilaku buruk nir-kemanusiaan manusia.

Di zaman mengilanya sistem kapitalisme hari ini orang diarahkan untuk memiliki kesadaran palsu bahwa MANUSIA HIDUP ITU UNTUK MENCARI UANG BUKAN UNTUK BEKERJA. Perlu untuk penulis pertegas di sini bahwa prinsip hidup untuk mencari uang ini telah meracuni manusia dari generasi ke generasi sehingga hal ini telah membawa manusia untuk saling menindas terhadap sesamanya. Hubungan antar teman, sahabat, keluarga dan semua orang dimaknai sebagai hubungan saling memanfaatkan (baca: mengeksploitasi) demi perolehan uang. Fenomena seperti ini sangat tercermin dari aksi perusahaan-perusahaan Multi Level Marketing (MLM) dalam melakukan perburuan sampai masuk ke dalam kehidupan rumah tangga-privasi orang demi untuk digiring masuk perangkap ala memperluas jaringan penghisapan. Inilah akibatnya apabila uang dijadikan sebagai ukuran segala-galanya dalam kehidupan manusia. Terjadi fetishismeisasi komoditi secara brutal-nir-kemanusiaan dalam hal ini.

Dalam tradisi Marxis, orang hidup bukanlah untuk mencari uang, tetapi orang hidup untuk bekerja. Uang hanyalah dampak dari aktifitas kerja manusia, sedangkan yang utama dan terutama dalam memaknai kehidupan dan penghidupan manusia adalah bekerja, bekerja, bekerja dan sekali lagi bekerja dimana istilah bekerja ini mengandung dimensi (ukuran) kebersamaan, kerjasama dan persaudaraan yang menghablur dalam bentuk dihamburkannya cinta ke dalam segala bentuk kehidupan.

Dalam aktifitas kerja manusia yang kemudian menjelma menjadi komoditi, selain mengandung adanya usaha manusia untuk mengubah benda materil menjadi komoditi, di dalamnya juga terkandung adanya jiwa-jiwa kolektifitas dan kemanusiaan dengan logika sederhana seperti ini: “orang hanya bisa bekerja apabila dia bekerjasama dengan pihak lain, dan kerjasama akan terjadi dengan syarat apabila antar umat manusia saling menjalin hubungan kemanusiaan antara satu sama lain.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s