Boneka Presiden yang Diarak

 

Oleh: Ragil Nugroho

Dua sastrawan Amerika Latin menulis novel tentang presiden: Miguel Angel Asturias dan  Gabriel Garcia Marquez. Keduanya memperoleh Nobel Sastra. Sastra yang baik akan abadi. Melintasi rentang waktu.

Dalam novel “Tuan Presiden” yang ditulis Asturias, pada bagian akhir  terdapat adegan Benyamin berlari lari mengitari lapangan sembari menyanyi:

“O, boneka, pembuat boneka mana

telah membuatmu?

siapa yang telah memberimu muka

boneka lucu?”

Tempat tanggal 20 Oktober 2014, Boneka Lucu itu diarak dari bunderan Hotel Indonesia menuju Istana. Ia telah berhasil didukkan menjadi presiden. Para pendukungnya berjingkrangan bersukacita. Matanya ditutup. Hatinya dikunci. Boneka Lucu disembah bak seorang raja.

Dari situlah, tulisan Clifford Geertz kembali menggema: Negara Teater. Pertunjukkan memang sudah lama dimulai.  Sejak mobil Esemka diruwat dengan bunga tujuh warna dan dimandikan dengan air suci, sampai blusukan ke gorong gorong hingga mengucapkan sumpah setia di rumah si Pitung, Bonek Lucu itu telah ditampilkan sebagai pemeran utama. Dan, puncaknya tanggal 20 itu. Pentas teater digelar sepanjang Sudirman sampai Istana. Lengkap dengan kirap ala feodal Jawa.

Kereta kencana disiapkan. Plus dengan dayang dayang berkaki jenjang dengan senyum pesanan. Rakyat sejak pagi sudah ditata rapi di pinggir jalan dengan iming iming nasi bungkus dan makanan gratis. Bendera dan umbul umbul para pendukung dikibarkan agar eksis. Lantas si Boneka Lucu yang diteriakkan Benyamin diarak dan dielu elukan menuju Istana.

Agar pertunjukan teater tampak populis, keterangan “pesta rakyat” ditempelkan. Hura hura disulap sebagai panggung rakyat. Para biduan dan biduanita kelas dua (artinya yang sudah tak terlalu laku lagi) diminta menghibur penonton. Dalam sorat lampu ribuan watt, semuanya tampak gemerlap. Untuk sementara, bencana di Sinabung atau yang lain jangan disebut sebut dulu. Relawan berseragam rakyat sedang berpesta menyambut  Boneka Lucu menjadi presiden.

Bagi Geertz, negara bukanlah suatu tatanan birokrasi yang ketat. Negara tak lain merupakan pertunjukan yang diorganisir sebagaimana pentas teater. Ada tokoh, lakon, penonton dan sutradara.  Pertunjukan digelar untuk mewujudkan cita cita kelas berkuasa. Tentu saja dengan melibatkan rakyat sebagai penonton dan pelaku. Semuanya dipersiapkan dengan rapi agar segala bentuk penindasan menjadi berkah. Tipu daya dibuat magis untuk  membius para penonton agar tak beranjak dari tempat duduk.  Dan, tanggal 20 itu, pertunjukan teater  digelar. Si Boneka Lucu yang dinyanyikan Benyamin diarak menuju Istana.

Benyamin tetap berteriak, bertanya siapa pembuat Boneka Lucu itu. Tak ada yang memberikan jawaban. Orang orang yang berada di sekelilingnya menyebut Benyamin gila. Tak terkecuali istrinya. Kenapa ia mesti bertanya siapa yang membuat boneka? Yang terpenting boneka itu bisa menghibur dan lucu. Benyamin kembali menyanyi:

Apakah si Benyamin, pembuat boneka?

tidak, bukan dia

yang membuatnya menjadi polisi

dan boneka jenaka.”

Wajah boneka itu memang dibuat lucu agar orang orang tak takut dan tampak merakyat. Para tuan tuan di Utara sana memang menghendaki wajah boneka itu lucu. Sudah banyak wajah seperti Hitler dan Stalin. Tak cocok untuk dipentaskan dihadapan jutaan rakyat yang haus akan hiburan. Tak perlu kaget kalau  jutaan dollar digelontorkan untuk membuat proyek Boneka Lucu itu sukses. Semua jalan dipakai agar  tak gagal di tengah jalan. Media Katolik dan PSI dibayar mahal untuk memoles si Boneka Lucu. Dan, puncaknya tanggal 20 itu. Si Boneka Lucu diarak menuju Istana.

Diantara yang mengarak ada yang berikat kepala merah dengan tato gir bintang di payudaranya. Putingnya coklat tua, mengejang, habis disedot teman teman lelakinya. Ia bersama gerombolan merah yang lain bersorak sorai. Berteriak teriak bahwa Boneka Lucu adalah harapan bagi kaum Merah. Bunyi tetabuhan membuat mereka semakin kesurupan. Tak ingat kalau sudah melepas semua pakaian. Terus berjoget dan memekik. Tak peduli kemaluannya menjadi pusat perhatian. Tak sadar telah memakan beraknya sendiri.

Seorang lelaki berkepala botak mengambil sisa berak gerombolan Merah, dijadikan tinta untuk menulis di jalan: Membingkai Rezim Baru. Setelah dibingkai tentu dipajang. Disandingkan dengan Chaves dan Morales.

Tak jauh dari tempat itu, penjual orang hilang berteriak kalau Boneka Lucu sama dengan Pramoedya. Gara gara si Boneka Lucu menyebut kata maritim. Mabuk itu memang begitu dahsyat.  Sastrawan terhebat dalam sejarah republik itu disamakan dengan boneka. Ia mabuk bukan karena menenggak minuman keras, tapi karena rakus menghisap darah kawan kawannya yang hilang menjadi proposal. Setelah proposal jadi, ditawarkan kepada yang empunya dollar di Eropa sana. Tak mengherankan kalau hidupnya sejahtera. Jalan jalan ke luar negeri untuk hahahihi (terakhir memajang fotonya sedang di Filipina). Sementara itu, keluarga korban yang diperdagangkan hidup merana.

Menuju malam pertunjukan dipindahkan ke Monas. Sambil menari berteriak Tri Sakti. Goyangan semakin heboh. Jembel jembel memunguti sisa makanan yang dibuang. Uang dari para cukong dihambur hamburkan di tengah kerumunan. Tonggak telah dipancang. Negara Teater akan terus dimainkan mengiringi Boneka Lucu berkuasa. Silakan nikmati.

Di tengah tengah puncak pertunjukan teater, Gabriel Garcia Marquez justru menulis sesuatu yang muram di awal novelnya, “Tumbangnya Seorang Diktator”. Kalimatnya berbunyi:

“Pada akhir pekan burung-burung pemakan bangkai mematukuki kisi-kisi jendela balkon istana presiden…”

Bau bangkai memang tak bisa ditutup tutupi. Burung burung bangkai berdatangan. Tak mengherankan kalau setelah Boneka Lucu masuk Istana, tercium bau bangkai dari dalamnya. Pagi harinya, rakyat yang sehari sebelumnya menonton pertunjukan teater, dibangunkan oleh bau bangkai itu. Mereka bertanya tanya: bau bangkai apa gerangan yang menyebar dari dalam Istana. Tak ada yang berani masuk. Istana itu sudah dijaga ketat oleh pasukan bersenjata. Rakyat tak diperbolehkan masuk seperti sehari sebelumnya.

Bau busuk dari dalam Istana itu akan terus tercium selama 5 tahun ke depan (kecuali ada yang berani masuk Istana untuk menyingkirkan sumber bau bangkai itu). Bau itu akan mengotori paru paru kita.

Atas kesalahan menjadikan Boneka Lucu menjadi presiden, kita hanya bisa berdoa seperti Asturias memungkas novelnya: “Kyrie eleison (Semoga Tuhan mengampuni).”

Lereng Merapi. 21.10.2014

[Source]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s