Hukum Memilih Pemimpin Non Muslim

img_20161127_092913

Islam tidak melarang kaum muslimin berbuat baik kepada orang kafir, selagi mereka tidak mengganggu kaum muslimin. Yang dilarang adalah bersikap baik kepada orang kafir yang memusuhi kaum muslimin karena alasan agama. Karena ini menunjukkan loyalitas dia kepada orang kafir.

Allah berfirman,

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ . إِنَّمَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ قَاتَلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَأَخْرَجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ وَظَاهَرُوا عَلَى إِخْرَاجِكُمْ أَنْ تَوَلَّوْهُمْ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. al-Mumtahanah: 8 – 9)

Mendoakan kebaikan orang kafir untuk kebaikan dunia, termasuk berbuat baik kepada mereka yang diperbolehkan.

Sahabat Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu menceritakan,

Ada sekelompok sahabat melakukan safar, hingga tibalah mereka di sebuah kampung. Para sahabat minta izin untuk menginap di kampung itu, namun mereka tidak mengizinkannya. Akhirnya mereka mendirikan tenda di luar kampung untuk bermalam.

Tiba-tiba kepala kampung ini disengat binatang, dan mereka berusaha untuk mengobatinya, namun sama sekali tidak berhasil. Hingga ada yang mengusulkan, untuk mendatangi para sahabat, barangkali mereka punya obatnya. Utusan mereka-pun mendatangi para sahabat, dan menyampaikan kondisi kepala suku mereka.

Ada salah satu sahabat yang bersedia mengobati, namun beliau minta syarat, jika berhasil maka harus diupah dengan beberapa ekor kambing.

Lalu beliau membacakan surat al-Fatihah sambil ditiukan ke pasiennya, dan dengan izin Allah, kepala suku ini sembuh dan sehat kembali.

Kemudian para sahabat membawa kambing-kambing hasil upah itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau mengizinkannya. (HR. Bukhari 2276)

Dalil ini sangat tegas, para sahabat meruqyah orang kafir yang sedang sakit, dan sembuh. Dan ruqyah bagian dari doa. Karena itu tidak masalah mendoakan non muslim agar mendapatkan kesembuhan.

Kami memohon kepada Allah, semoga kelelahan berfikir yang dialami kaum muslimin, karena membela al-Quran dan membela surat al-Maidah, mendapat balasan dari Allah.

Dalam islam, jihad tidak hanya dengan perang. Jihad juga bisa dilakukan dengan hujjah, dengan dalil, meluruskan pemahaman masyarakat ke arah yang benar.

Allah menyebutkan perintah jihad dengan dalil dua kali, yaitu firman-Nya,

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ جَاهِدِ الْكُفَّارَ وَالْمُنَافِقِينَ وَاغْلُظْ عَلَيْهِمْ وَمَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَبِئْسَ الْمَصِيرُ

“Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah jahannam. Dan itu adalah tempat kembali yang seburuk-buruknya.”

Ayat ini Allah sebutkan 2 kali dalam al-Quran dengan redaksi yang persis sama, di at-Taubah: 73 dan at-Tahrim: 9.

Dan bentuk jihad melawan orang munafiq adalah dengan lisan, penjelasan dalil. Demikian menurut keterangan Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma (Tafsir Ibnu Katsir, 4/178). Kita bisa memahami ini, karena orang munafiq di Madinah dibiarkan hidup bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Dan berkali-kali al-Quran membantah mereka, hingga ada satu surat yang dikenal dengan istilah surat al-Fadhihah, surat yang mempermalukan orang-orang munafiq.

Ahoax tidak lebih besar dibandingkan pendukungnya dari kalangan KMI (Komplotan Munafiq Indonesia). Manusia jenis inilah yang lebih berbahaya dan lebih beracun. Karena mereka bisa memakai nama ormas islam, untuk menyebarkan kalimat racun di masyarakat.

Mereka akan memberikan pembelaan kepada orang kafir, semaksimal yang mereka lakukan. Persis seperti yang Allah nyatakan dalam beberapa ayat,

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ لإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ مَعَكُمْ وَلا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli kitab: “Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu” (QS. al-Hasyr: 11)

Karena itu, tak heran, ketika terjadi persaingan antara cagub muslim dan cagub kafir, dia akan tegas membela yang kafir, tanpa pernah berfikir mengenai masa depan umat islam,

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman dan penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin.. (QS. an-Nisa’: 138 – 139)

Seribu alasan bisa mereka sampaikan, untuk mengaburkan umat islam dari kebenaran al-Quran. Karena mereka mendapatkan bisikan setan untuk menipu masyarakat,

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَى بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا

“Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. al-An’am: 112)

Menghadapi setan manusia bisa jadi lebih berat, dibandinggkan setan dari golongan jin. Malik Bin Dinar, seorang ulama terkenal (130 H) pernah mengatakan,

إن شيطان الإنس أشد علي من شيطان الجن، وذلك أني إذا تعوذت بالله ذهب عني شيطان الجن، وشيطان الإنس يجيئني فيجرني إلى المعاصي عيانا

Sesungguhnya setan dari golongan manusia lebih berat bagiku daripada setan dari golongan jin. Sebab, setan dari golongan jin, jika aku telah membaca taawudz, maka dia langsung menyingkir dariku, sedangkan setan dari golongan manusia dapat mendatangiku untuk menyeretku melakukan berbagai kemaksiatan secara terang-terangan. (Tafsir al-Qurthubi, 7/68).

Berlindung Kepada Pemimpin Kafir

“Dulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berlindung di bawah Abu Thalib. Beliau juga menyuruh para sahabat untuk hijrah ke negeri habasyah dan berlindung ke raja najasyi. Ini dalil, boleh memilih pemimpin yang kafir.”

Ini kalimat yang menjadi alasan terbesar mereka untuk mendukung pemimpin kafir. Sayangnya alasan ini tidak bisa dipertanggung jawabkan dengan pertimbangan,

Pertama, mereka menutup mata dengan latar belakang sejarah, dan kapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan kebijakan itu.

Semua yang membaca sejarah bisa memahami, peristiwa itu terjadi di saat posisi kaum muslimin masih sangat lemah, sementara mereka menghadapi kekuatan besar yang sangat berbahaya, yaitu musyrikin Quraisy. Sehingga keberadaan Abu Thalib, dan perlindungan yang diberikan raja Najasyi, sangat menguntungkan kaum muslimin.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hijrah ke Madinah dan telah memiliki kekuatan, kebijakan ini sudah tidak berlaku. Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkali-kali menolak orang kafir yang ingin  gabung dalam pasukan kaum muslimin, ketika beliau hendak perang melawan orang kafir lainnya.

Aisyah radhiyallahu ‘anha pernah bercerita ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memobilisasi pasukan menuju Badar. Pada saat beliau tiba di lembah Wabrah, beliau bertemu dengan orang yang dikenal sangat pemberani dan hebat ketika perang. Para sahabat sangat gembira ketika melihatnya mau bergabung dengan pasukan kaum muslimin.

Setelah menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia mengatakan,

جِئْتُ لأَتَّبِعَكَ وَأُصِيبَ مَعَكَ

“Saya datang untuk mengikutimu dan memihak pasukanmu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung bertanya,

تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?”

“Tidak.” Jawab orang itu.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan,

فَارْجِعْ فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ

“Pulanglah, saya tidak mau minta bantuan kepada orang musyrik.”

Aisyah melanjutkan ceritanya,

Kemudian kami melanjutkan perjalanan, ketika sampai di sebuah pohon, orang itu menyusul dan menawarkan untuk ikut, namun Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam selalu menolaknya karena dia belum beriman.

Hingga 3 kali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammengatakan,

فَارْجِعْ فَلَنْ أَسْتَعِينَ بِمُشْرِكٍ


“Pulanglah, saya tidak mau minta bantuan kepada orang musyrik.”

Hingga ketika kami tiba di al-Baida’, orang ini datang lagi, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap bertanya,

تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya?”

“Ya.” Jawab orang itu.

“Silahkan bergabung.” Kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (HR. Muslim 4803 dan Turmudzi 1647)

Peristiwa yang lain, diceritakan oleh Khubaib bin Aswad radhiyallahu ‘anhu,

Bahwa Rasullullah shallallahu ‘alaihi wa sallampernah berangkat untuk berperang. Kemudian saya dan salah seorang dari kaumku menemui beliau, dan aku sampaikan keinginanku untuk bergabung bersama beliau.

“Apakah kalian sudah masuk islam?” tanya Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Belum.” Jawab kami.

Lalu beliau bersabda,

فَإِنَّا لاَ نَسْتَعِينُ بِالْمُشْرِكِينَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ

“Kami tidak mau minta bantuan orang musyrik untuk mengalahkan orang musyrik lainnya.” (HR. Hakim 2563, Ahmad 15203 dan dishahihkan Syuaib al-Arnauth)

Kedua, bahwa surat al-Maidah termasuk surat Madaniyah, dan bahkan surat yang turunnya di masa terakhir dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kita mengenal ada istilah nasakh mansukh, di mana syariat yang lama dihapus dengan kehadiran syariat yang baru, ketika keduanya saling bertentangan.

Jika mengakui keputusan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas berlaku di Mekah, maka surat al-Maidah menjadi nasakh untuk keputusan itu.

Jika anda konsisten dengan ini, maka kebijakan berlindung kepada pemimpin yang kafir hanya berlaku ketika kaum muslimin di posisi lemah. Sama sekali tidak ada peluang untuk berkuasa, seperti mereka yang tinggal di negeri kafir, amerika atau eropa.

Hasil sensus 2010 populasi penduduk Idonesia yang beragama Protestan hanya 6,96%, sementara yang Katolik  hanya 2,9%.  Di sini orang liberal meminta kaum muslimin berlindung kepada pemimpin yang kafir…??!!

Kita bandingkan dengan inggris, Badan Nasional Statistik (ONS), merilis laporan di Januari 2016 bahwa warga Muslim mencapai 3.114.992 orang pada 2014 atau setara dengan 5,4% dari total populasi. Belum pernah terdengar dalam berita ada kampanye yang mempromosikan umat islam untuk menduduki calon legislatif apalagi gubernur??!! Orang kafir konsisten, jangan sampai memilih orang muslim sebagai pemimpin.

Orang islam indonesia yang lemah iman masih berlimpah. Dipimpin oleh Komplotan Munafik Indonesia (KMI). Ini yang mendorong kami untuk selalu mengajar dan berdakwah. Setidaknya meluruskan pemahaman tentang islam yang mulai dikaburkan para KMI.

Ya Rab, sungguh Engkau tahu, kami sangat lelah menghadapi ujian ini… karena itu, ampunilah kami dan sadarkan kami akan aturan-Mu. Jauhkan kami dari pengaruh buruk orang-orang munafik yang suka mengaburkan kebenaran ajaran-Mu.

Berikanlah kami kehidupan yang tenang, di bawah pemimpin muslim terbaik yang Engkau pilihkan untuk kami. Jauhkan kami dari pemimpin kafir yang arogan, yang berusaha merusak agama kami.

Tanggal 4 November 2016 menjadi salah satu peristiwa bersejarah bagi umat islam Indonesia. Di hari ini, jutaan kaum muslimin berkumpul, melakukan aksi dengan misi besar, ‘Membela kehormatan al-Qur’an’. Salah satu da’i memotivasi, hari ini kita membela al-Quran, kita berharap, kelak di hari kiamat, kita yang akan dibela al-Quran.

Siapapun muslim yang beriman kepada al-Qur’an, semua mencintai al-Qur’an, mengagungkan al-Quran.

Hanya saja, barangkali ada yang perlu kita sadari, bahwa bisa jadi ada perbuatan, yang ternyata  bertentangan dengan semangat yang dikobarkan ketika aksi. Perbuatan itu adalah memboikot al-Quran.

Ya, ada sebagian kaum muslimin memboikot al-Quran.

Allah bercerita tentang keluhan yang disampaikan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamkepada-Nya,

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَذَا الْقُرْآَنَ مَهْجُورًا

Berkatalah Rasul: “Ya Rabku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan.” (QS. al-Furqan: 30)

Al-Hafidz Ibnu Katsir menjelaskan, bentuk memboikot al-Quran bentuknya beragam. Mulai dari yang paling parah, hingga yang lebih ringan. Boikot yang menyebabkan pelakunya kafir adaah boikot dalam bentuk tidak mengimaninya, mengingkari kebenarannya. Seperti yang dilakukan orang kafir, orang musyrikin, dan siapapun yang menjadi musuh al-Qur’an hingga hari ini.

Ibnu Katsir menjelaskan bentuk-bentuk pemboikotan al-Quran lainnya,

وترك علمه وحفظه أيضا من هجرانه، وترك الإيمان به وتصديقه من هجرانه، وترك تدبره وتفهمه من هجرانه، وترك العمل به وامتثال أوامره واجتناب زواجره من هجرانه، والعدولُ عنه إلى غيره -من شعر أو قول أو غناء أو لهو أو كلام أو طريقة مأخوذة من غيره -من هجرانه

Tidak mempelajari dan tidak menghafalkan al-Quran, termasuk memboikot al-Quran. Tidak mengimani dan membenarkan al-Quran, termasuk memboikot al-Quran. Tidak merenungkan dan memahami kandungan al-Quran, termasuk memboikot al-Quran. Tidak mengamalkannya, tidak mengikuti perintahnya atau menjauhi larangannya, termasuk memboikot al-Quran. Meninggalkan al-Quran dan memilih lebih sibuk yang lain, seperti syair, nyanyian, ucapan sia-sia atau metode yang diambil dari cara yang bertentangan dengan al-Quran, termasuk memboikot al-Quran. (Tafsir Ibnu Katsir, 6/108).

Saatnya, kita mendekat ke al-Quran. Semoga tidak menjadi orang yang diadukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Rabnya, karena kita mengacuhkan al-Quran.

Jika kita menghendaki agar dibela al-Quran kelak di hari kiamat, kita harus menjadi sohibul qur’an, orang yang banyak membaca al-Qur’an.

Dari Abu Umamah Al Bahiliy radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لأَصْحَابِهِ اقْرَءُوا الزَّهْرَاوَيْنِ الْبَقَرَةَ وَسُورَةَ آلِ عِمْرَانَ فَإِنَّهُمَا تَأْتِيَانِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا غَيَايَتَانِ أَوْ كَأَنَّهُمَا فِرْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ تُحَاجَّانِ عَنْ أَصْحَابِهِمَا اقْرَءُوا سُورَةَ الْبَقَرَةِ فَإِنَّ أَخْذَهَا بَرَكَةٌ وَتَرْكَهَا حَسْرَةٌ وَلاَ تَسْتَطِيعُهَا الْبَطَلَةُ

“Bacalah Al Qur’an karena al-Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafi’ (pemberi syafa’at) bagi yang membacanya.

Bacalah Az-Zahrowain (dua surat cahaya) yaitu surat Al Baqarah dan Ali Imran karena keduanya datang pada hari kiamat nanti seperti dua awan atau seperti dua awan atau seperti dua gerombolan burung yang membentangkan sayapnya. Kedua surat ini akan menjadi pembela bagi yang rajin membacanya.” (HR. Muslim 1910)

Itulah ahlul-Quran, yang dijanjikan akan dibela al-Quran kelak di hari kiamat.

Allah bercerita tentang doanya Nabi Ibrahim alaihis shalatu was salam,

رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami sebagai fitnah bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami..” (QS. al-Mumtahanah)

Ketika membaca ayat di atas, saya sempat merasa heran dengan doa Ibrahim ini. beliau memohon kepada Allah agar jangan sampai dijadikan fitnah bagi orang kafir. Namun saya merasa sangat yakin, tidak ada yang bermasalah dengan doa ini. Karena doa ini adalah doa seorang nabi, ulul azmi, yang tidak mungkin isinya keliru. Apalagi Allah ceritakan dalam al-Quran, yang bertujuan agar doa ini ditiru oleh generasi setelahnya.

Doa ini akan menjadi mudah kita mengerti, ketika kita memahami kata fitnah. Salah satu diantara arti fitnah adalah adzab (hukuman). Di masa silam, ada raja yang membuat parit besar berisi api, untuk membakar setiap orang yang tidak mau mengakuinya sebagai tuhan. Mereka disebut ashabul ukhdud. Allah sebut mereka memfitnah kaum muslimin, karena mereka membantai kaum muslimin.

Allah berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

Sesungguhnya orang-orang yang memfitnah kaum mukminin, laki-laki dan perempuan, kemudian mereka tidak mau bertaubat, maka mereka mendapat adzab jahannam, dan mereka akan mendapat siksaan yang membakar. (QS. al-Buruj: 10)

Orang kafir memiliki karakter, suka menekan kaum muslimin. Karena mereka tidak pernah rela jika di dunia ini ada orang muslim. Beda agama tidak masalah, yang penting bukan islam. Allah berfirman,

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang yahudi dan nasrani tidak akan rela kepadamu, sampai kamu mengikuti ajaran mereka.” (QS. al-Baqarah: 120)

Itulah makna doa Ibrahim. Beliau memohon kepada Allah, agar jangan sampai ada orang kafir yang  menguasai dirinya, lalu dia bisa menindas kaum muslimin, melecehkan agama kaum muslimin seenak udelnya, sementara tidak ada hukum yang bisa menjeratnya.

Ibnu Katsir meriwayatkan tafsir ayat ini, dari Ali bin Abu Thalhah, dari Ibnu Abbas,

لا تسلطهم علينا فيفتنونا

“Jangan Engkau beri kekuasaan kepada mereka atas kami. Sehingga mereka  bisa menyiksa kami.” (Tafsir Ibnu Katsir, 8/88)

Karena kehadiran pemimpin kafir di tengah kaum muslimin adalah musibah besar bagi mereka. Setidaknya akan timbul ketegangan antara kita dan mereka. Ketegangan yang membuat kita lelah berfikir, lelah batin.

Dan kami juga sangat yakin, AHOAX dan para pengikutnya juga lelah. Pro-kontra opini, ketegangan pendapat, sogok sana-sini, cari dukungan, belum lagi media yang semakin memperuncing ketegangan. Setiap melihat berita soal politik, kadang kita ketawa dan kadang kita geram. Itulah perang pemikiran (ghazwul fikri).

Itulah musibah, anda tinggal di sebuah daerah, sementara pikiran anda tidak pernah tenang. Sekalipun harta anda banyak, belum tentu anda bisa menikmatinya dengan nyaman… kepada kaum muslimin, dimanapun anda berada, mari perbanyak taubat kepada Allah dan berusaha memperbaiki diri. Semoga Allah segera menghilangkan musibah yang sangat melelahkan ini…

Apa teman ahok sudah kafir? Saya ingin bertaubat…mohon dibantu… barangkali manfaat utk para teman-teman yang lain..

Ada banyak ayat dalam al-Quran yang melarang kaum muslimin memihak kepada non muslim. Dan ini bagian dari prinsip yang diajarkan Nabi Ibrahim‘alaihis salam,

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآَءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ وَحْدَهُ

Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia; ketika mereka berkata kepada kaum mereka: “Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja.(QS. al-Mumtahanah: 4)

Diantara ayat yang menegaskan larangan memilih pemimpin yang kafir adalah surat al-Maidah ayat 51. Allah berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka… (QS. al-Maidah: 51)

Anda bisa perhatikan di bagian akhir surat ini,

“Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka…” golongan mereka artinya golongan yahudi dan nasrani.

Karena itulah, sahabat Hudzaifah radhiyallahu ‘anhupernah mengatakan,

ليتق أحدكم أن يكون يهوديا أو نصرانيا وهو لا يشعر

“Hendaknya kalian khawatir jangan sampai menjadi yahudi atau nasrani, sementara dia tidak merasa.”

Kemudian Hudzaifah membaca ayat di atas, al-Maidah: 51.

Dalam riwayat lain, ulama Tabi’in, Muhammad bin Sirin pernah mendengar pernyataan Abdullah bin Uthbah,

ليتق أحدكم أن يكون يهوديا أو نصرانيا وهو لا يشعر

“Hendaknya kalian khawatir jangan sampai menjadi yahudi atau nasrani, sementara dia tidak merasa.”

Kata Ibnu Sirin,

“Kami menyangka bahwa yang beliau maksud adalah ayat ini.” (Tuhfatul Ikhwan, hlm. 6)

Tafsir semacam ini yang diikuti para ulama generasi setelahnya. Diantaranya al-Qurthubi, ketika beliau menjelasakan al-Maidah: 51,

أي من يعاضدهم ويناصرهم على المسلمين فحكمه حكمهم ، في الكفر والجزاء وهذا الحكم باق إلى يوم القيامة

Arti dari ayat ini, bahwa orang yang mendukung orang kafir, dan menolong mereka untuk mengalahkan kaum muslimin, maka hukum pendukung ini sama dengan mereka (orang kafir). Sama dalam kekufuran dan basalan. Dan hukum ini berlaku sampai kiamat. (Tafsir al-Qurthubi, 6/217)

Ayat lain, yang memberikan ancaman keras bagi pendukung orang kafir adalah firman Allah,

لَا يَتَّخِذِ الْمُؤْمِنُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَلَيْسَ مِنَ اللَّهِ فِي شَيْءٍ

“Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” (QS. Ali Imran: 28)

Imam mufassir, at-Thabari menjelaskan ayat ini,

يعني فقد بريء من الله ، وبريء الله منه ، بارتداده عن دينه ودخوله في الكفر

Artinya, dia telah berlepas diri dari Allah, dan Allah berlepas diri darinya, karena dia murtad dari agamanya dan masuk ke agama kekufuran.

Teman Ahok bukan sebatas teman. Sebagian besar diantara mereka menghasung Ahok untuk menjadi pemimpin, mendukungnya, mengkampanyekannya, bahkan memuliakannya, karena anggapan dia lebih mulia dibandingkan muslim yang lain.

Kami tidak menilai status teman Ahok… Tapi anda bisa menilai dengan menyimpulkan beberapa dalil dan menjelasan ulama terhadap dalil.

Setidaknya diantara mereka melakukan kemunafikan. Munafik, karena khianat terhadap ajaran agamanya.  Sikap dan perilaku jahat kaum munafik – yang secara lahir mengaku beriman, tetapi batinnya mencintai kekufuran – bahkan diabadikan dalam satu surat khusus, yaitu Surat al-Munafiqun (surat ke-63). Mereka dikenal sebagai pendusta, mengaku-aku iman padahal selalu memusuhi kaum Muslimin dan membela orang kafir.

Kadang mereka tak segan bersumpah-sumpah agar bisa dipercaya. Padahal, mereka selalu berusaha menghalagi manusia untuk mendekat kepada Allah. Juga, tak jarang penampilan lahiriah kaum munafik itu sangat memukau; ucapan-ucapan mereka pun banyak didengar orang. Mereka bisa berpenampilan seperti profesor ahli tafsir, atau pemuka ormas besar, atau mengaku pakar agama. (QS. al-Munafiqun:1-5).

Dalam peristiwa semacam ini, anda sudah bisa menebak arah gerakannya. Mereka akan selalu menjadi garda depan pembela gubernur kafir itu. Mereka sangat berharap, agar yang menang adalah gubernur kafir.
Anda baca ayat ini:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا . الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman dan penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kemenangan di sisi orang kafir itu? maka sesungguhnya semua kemenangan kepunyaan Allah.(QS. an-Nisa’: 138 – 139)

Orang muslim yang menjadi teman ahok, para pendukung ahok, berpihak pada ahok, mengharapkan kemenangan bagi orang kafir, dan itu tanda kemunafikan.

Bagaimana tafsir surat al-Maidah ayat 51. Dan bagaimana sikap kita dg ungkapan tokoh ormas yang membela pelecehan orang kafir terhadap al-Quran?
img_20161127_092554

Sebelum membahas tafsir surat al-Maidah ayat 51, saya tertarik untuk menyebutkan dua catatan terkait peristiwa ini,

Pertama, kejadian ini merupakan imbal balik atas konspirasi yang digencarkan si gubernur kafir

Seketika ayat ini menjadi sangat tenar di masyarakat, setelah si gubernur kafir itu berusaha ingin menggugatnya dari al-Quran. Masyarakat sering menyebutnya, serasa baru saja diturunkan. Melihat keadaan ini saya teringat peristiwa wafatnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sebelum kedatangan Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, Umar berkhutbah dengan lantang, menegaskan bahwa  Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallamtidak mati. Tapi Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi panggilan Rab-nya seperti yang terjadi pada Musa ‘alaihis salam.

Ketika Abu Bakr datang, beliau langsung mendatangi jenazah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk memastikan kondisinya. Setelah beliau melihat dengan mata kepala sendiri bahwa Muhammad telah meninggal, beliau langsung keluar rumah duka menuju  masjid, menyuruh Umar untuk duduk, dan beliau menyampaikan pesan,

أما بعد، من كان منكم يعبد محمدا صلى الله عليه وسلم فإن محمدا قد مات، ومن كان منكم يعبد الله، فإن الله حي لا يموت

Amma ba’du, siapa yang menyembah Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam, ketahuilah bahwa Muhammad telah meninggal. Dan siapa yang menyembah Allah, sesungguhnya Allah Maha Hidup, dan tidak mati.

Kemudian Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu mengutip firman Allah,

وَما مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ، قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلِهِ الرُّسُلُ، أَفَإِنْ ماتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلى أَعْقابِكُمْ، وَمَنْ يَنْقَلِبْ عَلى عَقِبَيْهِ فَلَنْ يَضُرَّ اللَّهَ شَيْئاً، وَسَيَجْزِي اللَّهُ الشَّاكِرِينَ

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah ada sebelumnya beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu akan murtad? Barangsiapa yang murtad, ia tidak dapat merugikan Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran: 144)

Kata Ibnu Abbas, mengomentari pernyataan di atas,

والله لكأن الناس لم يعلموا أن الله أنزل هذه الآية حتى تلاها أبو بكر، فتلقاها منه الناس كلهم، فما أسمع بشرا من الناس إلا يتلوها

Demi Allah, seolah-olah masyarakat belum pernah tahu bahwa Allah telah menurunkan ayat ini, sampai dibaca oleh Abu Bakr. Lalu disebut-sebut semua orang. Setiap saya bertemu orang, pasti dia membaca ayat ini. (ar-Rahiq al-Makhtum, hlm. 432).

Sebelum gubernur kafir itu menyebutnya, masyarakat gak pernah sadar dan gak pernah ada perhatian tentang ayat ini. Banyak masyarakat juga gak pernah perhatian, bahwa ayat ini merupakan dalil larangan memilih pemimpin dari yahudi dan nasrani. Sungguh ini efek samping dari konspirasi yang sedang digencarkan si gubernur kafir itu. Namun Allah menghendaki lain, konspirasi balas konspirasi,

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

Mereka melakukan konspirasi, dan Allah juga membalas konspirasi mereka. Dan Allah sebaik-baik dalam membalas konspirasi. (QS. Ali Imran: 54)

Kedua, bahwa orang kafir sekalipun, mereka bisa memahami pesan yang ada dalam al-Qur’an. Meskipun mereka ndableg, dan tidak mau menerimanya. Mereka kufur kepada seluruh isi al-Quran. Ini dalil bahwa sebenarnya hujjah (bukti kebenaran) telah sampai kepada mereka. Hanya saja mereka tidak memiliki  hidayah taufiq, sehingga mereka tidak mau mengamalkannya.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari jalur Thariq bin Syihab, bahwa pernah ada orang Yahudi yang datang menemui Umar bin Khatab radhiyallahu ‘anhu, lalu mengatakan,

يا عمر، إنكم تقرءون آية في كتابكم، لو علينا معشر اليهود نزلت لاتخذنا ذلك اليوم عيدا

Wahai Umar, kalian membaca satu ayat di kitab kalian, andaikan ayat ini turun kepada kami kaum Yahudi, tentu akan kami jadikan hari turunnya ayat itu sebagai hari raya.

Umar bertanya: “Ayat apa itu?”

Jawab Yahudi: “Firman Allah,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي

“Pada hari dimana Aku sempurnakan agama kalian untuk kalian, dan aku penuhi nikmat-Ku (nikmat hidayah) untuk kalian…” (QS. Al-Maidah: 3)

Selanjutnya, khalifah Umar berkomentar,

والله إني لأعلم اليوم الذي نزلت على رسول الله صلى الله عليه وسلم، والساعة التي نزلت فيها على رسول الله صلى الله عليه وسلم، نزلت عَشية عَرَفَة في يوم جمعة

“Demi Allah, saya tahu hari dimana ayat ini turun kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, waktu dimana ayat ini turun kepada Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam. Ayat ini turun di siang hari Arafah, pada hari Jumat.” (HR. Ahmad 188).

Ini menunjukkan bahwa orang sesat seukuran yahudi sekalipun, mereka tetap membaca al-Quran, sehingga hujjah telah sampai ke mereka.

Tafsir QS. al-Maidah ayat 51

Saya tidak perlu berpannjang lebar. Hanya ingin mencamtumkan riwayat dari Umar bin Khatabradhiyallahu ‘anhu.  Dari Sammak bin Harb, dari Iyadh,

أن عمر أمر أبا موسى الأشعري أن يرفع إليه ما أخذ وما أعطى في أديم واحد، وكان له كاتب نصراني، فرفع إليه ذلك، فعجب عمر رضي الله عنه وقال: إن هذا لحفيظ، هل أنت قارئ لنا كتابًا في المسجد جاء من الشام؟ فقال: إنه لا يستطيع أن يدخل المسجد فقال عمر: أجُنُبٌ هو؟ قال: لا بل نصراني. قال: فانتهرني وضرب فخذي، ثم قال: أخرجوه” ثم قرأ: { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ

Umar memerintahkan Abu Musa al-Asy’ari untuk melaporkan semua yang diterima dan yang diserahkan dalam satu catatan. Abu Musa memiliki juru tulis beragama nasrani. Kemudian catatan itu diserahkan. Dan Umar radhiyallahu ‘anhu terheran, beliau mengatakan, “Ini sangat rinci.” Lalu beliau meminta,

“Apakah nanti di masjid, kamu bisa membacakan untuk kami, surat yang datang dari Syam?”

Abu Musa mengatakan, “Dia tidak boleh masuk masjid?”

Tanya Umar, “Mengapa? Apakah dia junub?”

“Bukan, dia nasrani.” Jawab Abu Musa.

Umar langsung membentakku dan memukul pahaku, dan mengatakan, “Keluarkan dia.”

kemudian beliau membaca firman Allah,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim..” (QS. Al-Maidah: 51)

Riwayat ini disebutkan oleh Ibnu katsir dalam tafsirnya (3/132).

Umar melarang, jangan sampai orang kafir menjadi pejabat yang memiliki posisi di pemerintahan. Sekalipun dia hanya seorang akuntan negara.

Sebagian masyarakat punya prinsip, ketika dia mengikuti amalan dan ajaran seorang guru, maka dia bebas dari tanggung jawab.  Sehingga kalau dia salah mengikuti guru, nanti yang akan menanggung dosanya adalah gurunya.

Prinsip semacam ini tidak benar dan bertentangan dengan penjelasan yang Allah sebutkan dalam al-Qur’an.

Diantaranya, Allah menceritakan pertengkaran antara tokoh sesat dan pengikutnya

قَالَتْ أُخْرَاهُمْ لِأُولَاهُمْ رَبَّنَا هَؤُلَاءِ أَضَلُّونَا فَآَتِهِمْ عَذَابًا ضِعْفًا مِنَ النَّارِ قَالَ لِكُلٍّ ضِعْفٌ وَلَكِنْ لَا تَعْلَمُونَ

Apabila mereka masuk neraka semuanya berkatalah orang yang masuk neraka belakangan kepada orang yang lebih dahulu masuk neraka, “Ya Tuhan kami, mereka telah menyesatkan kami, sebab itu datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari neraka”. Allah berfirman: “Masing-masing mendapat (siksaan) yang berlipat ganda, akan tetapi kamu tidak mengetahui.”

Orang yang sudah lebih dulu masuk neraka membalas,

وَقَالَتْ أُولَاهُمْ لِأُخْرَاهُمْ فَمَا كَانَ لَكُمْ عَلَيْنَا مِنْ فَضْلٍ فَذُوقُوا الْعَذَابَ بِمَا كُنْتُمْ تَكْسِبُونَ

Dan orang yang masuk neraka lebih awal berkata kepada orang yang masuk belakangan, “Kamu tidak mempunyai kelebihan sedikitpun atas kami, maka rasakanlah siksaan karena perbuatan yang telah kamu lakukan.” (Al-A’raf: 38 – 39)

Kita bisa lihat, mereka saling menyalahkan dan bahkan meminta kepada Allah, agar siksaan kawannya ditambah.

Allah juga bercerita, penyesalan sebagian penduduk neraka karena mereka mengikuti tokoh yang sesat,

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلَى يَدَيْهِ يَقُولُ يَا لَيْتَنِي اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُولِ سَبِيلًا ( ) يَا وَيْلَتَا لَيْتَنِي لَمْ أَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيلًا ( ) لَقَدْ أَضَلَّنِي عَنِ الذِّكْرِ بَعْدَ إِذْ جَاءَنِي وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِلْإِنْسَانِ خَذُولًا

(ingatlah) hari (ketika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: “Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul”. ( ) Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku). ( ) Sesungguhnya dia telah menyesatkan aku dari Al Quran ketika Al Quran itu telah datang kepadaku. Dan adalah syaitan itu tidak mau menolong manusia. (QS. al-Furqan: 27 – 29)

Kita bisa perhatikan penyesalan mereka di hari kiamat, hingga mereka gigit jari. Mereka menyesal, mengapa dulu mengikuti guru sesat itu. Padahal sudah datang peringatan yang sangat jelas yang menunjukkan kesesatannya.

Karena itulah, semua mukmin menyadari, mengambil sumber ilmu, akan dipertanggung jawabkan di hadapan Allah. Prinsip apapun yang terjadi sudah ditanggung guru, harus ditinggalkan. Jika dia jelas menyimpang, membela kekufuran, jangan lagi dijadikan referensi dalam ilmu agama.

Dulu Muhammad biin Sirin – ulama tabi’in muridnya Anas bin Malik – mengingatkan,

إن هذا العلم دين ، فانظروا عمن تأخذون دينكم

Ilmu adalah bagian dari agama, karena itu perhatikan, dari mana kalian mengambil agama kalian. (Siyar A’lam an-Nubala’, 4/606)

Orang yang belajar agama, hakekatnya sedang membangun ideologi. Ketika sumber ilmunya orang sesat, akan terbentuk ideologi sesat dari muridnya.

Karena itu, kita terheran ketika seorang doktor alumni Australi dijadikan referensi ilmu agama…

Kita terheran, ketika manusia liberal, dijadikan rujukan dan dimintai komentar masalah islam…

Kita terheran, ketika pembela orang kafir, dijadikan acuan dalam bidang tafsir al-Qur’an…

Betul apa kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتُ، يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ، وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ، وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ، وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ، وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ، قِيلَ: وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ؟ قَالَ: “السَّفِيهُ يَتَكَلَّمُ فِي أَمْرِ الْعَامَّةِ”

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh penipuan. Pendusta dianggap benar, sementara orang yang jujur dianggap dusta. Pengkhianat diberi amanat, sedangkan orang amanah dianggap pengkhianat. Pada saat itu Ruwaibidhah angkat bicara.” Ada yang bertanya, “Apa itu Ruwaibidhah?”. Beliau menjawab, “Orang bodoh (masalah agama) yang turut campur dalam urusan masyarakat.” (HR. Ahmad 7912, Ibnu Majah 4036, Abu Ya’la al-Mushili dalam musnadnya 3715, dan dinilai hasan oleh Syuaib al-Arnauth).

Jika anda muslim, masihkan anda mengikuti saran dari idola kalian para artis bagaimana seharusnya memilih pemimpin? Silakan mengikuti idola kalian yang artis itu, asalkan mereka beriman. Dan bagaimana orang ber iman itu? Ya mengimani rukun iman. Salah satu rukun iman adalah Al Qur’an. Lalu apakah kalian beriman dengan Al Qur’an? Jika iya, ya pilihlah pemimpin yang dianjurkan dalm Al Qur’an. Kitab anda Al Qur’an kan? Lhaiya, maka sebagai orang Islam ya pilihah pemimpin Islam.

Kalau artis yg kalian idolai tadi adalah artis yg secara ibadah saja tidak benar, meski dia muslim… Ya jangan di ikuti jika saran dari artis tersebut tidak seperti yang di anjurkan dalam Al Qur’an. Beridolalah kepada orang-orang yang beriman. Bukan orang-orang yang mengatas namakan Islam tapi tidak menjalankan perintah-perintah Nya.

Ya Rab, ampuni kami dan selamatkanlah umat ini dari penyimpangan para tokoh-tokoh sesat…

Referensi

Video by:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s