Logika Terbalik: Menjaga Kebhinekaan Dengan Membela Penista Agama Orang Lain

img_20161123_212135

Bhineka Tunggal Ika atau yang berarti berbeda-beda tapi tetap satu jua, prinsip saling hormat menghormati antara suku, ras, dan agama tanpa memandang dan syarat apapun

Sementara berdasarkan Pasal 1 Undang Undang Nomor 1 PNPS/1965 Tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama bahwa penistaan agama adalah:

Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan, mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu, penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.

Perbuatan penistaan agama jelas adalah salah satu perbuataan yang mengancam kebhinekaan karena dengan pertimbangan sebuah perbuatan penistaan akan berdampak kepada perpecahan di umat

Umat yang dinistakan akan berpecah demi mendukung pendapat dan penafsiran masing masing, ditambah pelaku penistaan adalah seorang pemimpin atau calon pemimpin yang memiliki pendukung

Demi membela pemimpin yang didukung, maka timbullah pendapat dan penafsiran yang berbeda, dengan pendapat dan penafsiran umat yang mengalami penistaan

Jadi sungguh hal aneh, menjaga kebhinekaan dengan membela calon pemimpin yang telah melakukan penistaan, apakah sampeyan waras?

Menjaga Kebhinekaan harusnya dengan memumpuk rasa persatuan, dengan menghilangkan omongan dan perkataan yang dapat membuat umat pecah, dalam artian sifat saling asah, asih, asuh harus ada pada para pemimpin negeri ini

Menistakan agama orang lain sementara sang pemimpin memiliki keyakinan atau agama berbeda adalah sebuah tindakan yang ‘melompati pagar’, ibarat sebuah blunder atau offside omongan dan perkataan sang pemimpin justru melanggar sifat kebhinekaan yang ada

Perbedaan atau Kebhinekaan bukan berarti bebas mengeluarkan pendapat untuk menilai, menafsirkan, hingga akhirnya menistakan agama yang lain

Jangan bersikap ambigu atau tidak jelas, Bhineka Tunggal Ika bisa terwujud sejak Indonesia Berdiri justru karena umat yang menjadi mayoritas di negeri ini selalu bersikap toleran

Jadi aneh, apabila menjaga kebhinekaan dengan membela pelaku penistaan agama

Yang terjadi justru adalah DEMI MEMBELA PELAKU PENISTAAN, PRINSIP KEBHINEKAAN JUSTRU DIJADIKAN ALAT ATAU TAMENG PENYELAMATAN POLITIS, jadilah POLITISASI KEBHINEKAAN

Dari soal aksi Injak Tanaman hingga issu Massa Bayaran Menjadi Gambaran Aksi Bhineka Tunggal Ika

Aksi yang mengatasnamakan Bhineka Tunggal Ika dilakukan pada hari ini (sabtu 19/11/2016), aksi yang hanya diikuti ratusan orang, ternyata menyisakan beberapa persoalan selain soal sampah yang berserakan dimana mana karena tidak ada perhatian dari pihak panitia juga terjadi aksi injak tanaman sehingga membuat taman menjadi rusak.

img_20161123_213307 img_20161123_213456 img_20161123_213517 img_20161123_213533

Hingga peserta aksi yang hadir dengan tampilan aneh aneh, jauh dari makna Bhineka Tunggal Ika


img_20161123_213440

Di Foto diatas tampak peserta aksi memakai atribute mirip pasukan romawi yang mungkin menjadi tidak nyambung dengan jiwa keIndonesian.

img_20161123_213425

Ditambah foto tentang seseorang berpakain gamis muslim yang ‘satir’ dengan membawa seekor anjing

Aksi Bhineka Tunggal Ika yang diikuti hanya oleh ratusan massa aksi juga meninggal issu massa bayaran beragam, dari sebesar 50 ribu hingga 150 ribu rupiah.


img_20161123_213410 img_20161123_213355 img_20161123_213341

Foto foto diatas seolah memberi gambaran jelas mengenai aksi Bhineka Tunggal Ika yang seolah kalah kelas dengan aksi bela Islam pada 4 November 2016.

Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa, Tahukah Artinya?


img_20161123_212747


Ramai berbicara mengenai kalimat Bhinneka Tunggal Ika namun tahukah mengenai sejarah dan kalimat selanjutnya?

Kalimat Bhinneka Tunggal Ika dilanjutkan dengan kalimat Tan Hana Dharma Mangrwa yang artinya kalau dijadikan satu kalimat berarti Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan dalam kebenaran.

Namun sebelum kita lebih jauh membahasnya, lebih baik kita mengetahui mengenai kalimat Bhinneka Tunggal Ika itu. Bhinneka Tunggal Ikaadalah moto atau semboyan Indonesia. Frasa ini berasal dari bahasa Jawa Kuno dan seringkali diterjemahkan dengan kalimat “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Diterjemahkan per kata, kata bhinneka berarti “beraneka ragam” atau berbeda-beda. Kata nekadalam bahasa Sanskerta berarti “macam” dan menjadi pembentuk kata “aneka” dalam Bahasa Indonesia. Kata tunggal berarti “satu”. Kataikaberarti “itu”. Secara harfiah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan “Beraneka Satu Itu”, yang bermakna meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap adalah satu kesatuan. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan Bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

Kalimat ini merupakan kutipan dari sebuah kakawin Jawa Kuna yaitu kakawin Sutasoma, karangan Mpu Tantular semasa kerajaan Majapahit sekitar abad ke-14.

Kakawin ini istimewa karena mengajarkan toleransi antara umat Hindu Siwa dengan umat Buddha dan Moh. Yamin merupakan tokoh yang pertama kali mengusulkan agar semboyan Bhinneka Tunggal Ika tersebut diadopsi menjadi semboyan Negara.

Usul ini diterima oleh Soekarno dan ikut menjadi pembahasan dalam rapat BPUPKI. Akhirnya, semuanya sepakat untuk menjadikan kalimat ini sebagai semboyan bangsa Indonesia bersama-sama dengan burung Garuda yang ditetapkan sebagai lambang negara Indonesia.

Bhinneka Tunggal Ika, mungkin ada yang belum tahu, bahwa kalimat itu tidak berhenti dalam satu kalimat. Sebab sebenarnya mesti dilengkapi dengan kalimat Tan Hana Dharma Mangrwa yang Artinya Tiada Kebenaran yang mendua (rancu).

Sehingga dapat memberikan makna yang utuh. Mpu Tantular, sang maha cendekia kerajaan Majapahit dalam karyanya berjudul “Sutasoma” memang tidak memisahkan dua kalimat ini.

Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa

Terpecah belahlah itu, tetapi satu jugalah itu. Tidak ada kerancuan atau mendua dalam kebenaran.

Secara Harfiah dapat diartikan dalam menegakkan prinsip menjadi satu sebuah perbedaan harus juga melihat sebuah kebenaran yang tidak mendua atau rancu.

Apa yang terjadi dengan parade mengatasnamakan kebhinekaan namun dengan agenda membela tersangka penistaan agama, seolah menjadi sangat jauh dari makna asli kalimat Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa yang sesungguhnya.

Tegakkan kebenaran dengan ketegasan dalam hukum, agar kebhinnekaan tetap terjaga dan terwujud alias jangan menafsirkan setengah setengah atau sepotong potong dan serta jangan mempolitisasi makna kebhinnekaan itu sendiri.

Jelas sekali, kebhinnekaan tunggal ika bisa terwujud karena kebenaran ditegakkan tanpa mendua alias rancu.

Yang salah adalah salah, yang benar adalah benar; sehingga kebhinnekaan tetap akan terjaga.

Argumentasi Logis Untuk Bungkam Pendukung Ahok

1. Kasus Pelecehan Al Quran yang dilakukan Ahok Jangan dikatikan dengan Persoalan SARA

Lah bagaimana tidak SARA lah wong yang dilecehkan Ahok Adalah AlQur’an Bukankah Al Quran bagian dari SARA?

2. Ahok Sudah Minta Maaf Mohon umat Islam di Indonesia Memaafkan

Ahok Memang Sudah Minta Maaf – Tapi tidak tulus, Buktinya dia Menuduh Aksi 411 di Bayar. Selain itu dalam Buku Ahok – tahun 2010 sudah memepersoal Surah Al Maidah

3. Ahok Sudah di tetapkan sebagai tersangka secara Hukum – kita tingggal tunggu proses berjalan

Ya.. Jika Hukum di jalankan Tersangka itu Harusnya di tangkap? kenapa Ahok Tidak? Jadi Layakkah kita tunggu proses Hukum yang sudah keliru itu?

4. Buni Yani sumber masalah Ahok tersebar, yang mengunggah pertama kali video Ahok, Jika tidak di Unggah maka tidak akan demikian rumitnya.

Ya.. Sumber masalah adalah isi video – lagi juga pengunggah pertama adalah Akun resmi Pemprov DKI dan di Fanpage Ahok juga pernah di Unggah.

5. Masyarakat Jakarta masih inginkan Ahok karena kinerjanya

masyarakat mana? Baru ini Gubernur Blusukan pulang Naik angkot karena penolakan? Gubernur lain pada kemana? hehe

6. Fatwa Ahok oleh MUI picu Masalah 

Kalau ga karena mulut Ahok, Fatwa MUI tidak akan ada. Mikir

7. Azas Praduga tak bersalah harus selalu di berikan pada prosedur Hukum 

Cuih.. Nih Jokowi yang sudah fitnah di mula saat sebut aksi Di tunggangi – Kapolri sebut aksi 212 Makar Siapa yang duluan fitnah dan praduga hina? ya.. merekalah.

8. Ahok itu Jujur bersih dan transparan layak di dukung jadi pemimpin Indonesia.

Jujur kalau menghina Al Qur’an, Bersih Tak mau disalahakan walau sudah salah, dan Transparan Menjadi Pemecah belah umat Islam

9. Aksi 411 dan 212 adalah aksi yang ditunggangi kepentingan politik kata Jokowi.

Seharusnya sebagai pemimpin yang mengaku panglima tertinggi “langsung Tangkap” aktor dibalik aksi 411 – Jadi ngaku Panglima tertinggi ternyata tak punya kekuatan! Panglima tertinggi apaan itu?

10. Untuk apa aksi 212 kan Ahok sudah di tetapkan sebagai Tersangka 

Umat Islam minta keadilan di Aksi 411. Jika Jokowi Temui rakyatnya Umat Islam dan ikuti permintaan rakyat Maka tak akan ada aksi 212.

11. Kenapa harus doa dan zikir di Jalan utama Jakarta dalam aksi 212, kan ada istiqlal? 

Istiqlal tidak cukup – Massa yang akan hadir 3juta lebih.

12. Pendemo menistakan Shalat Jumat dengan Aksi di Jalanan

Eh Baca sejarah Islam donkk Bagaimana Muhammad Al fatih pernah memipin Shalat Jumat di lapangan secara akbar – Orang Islam ko ga tau sejarah Islam, Situ agamanya apa ya?

13. Ahok Tetap terbaik karena dia adalah pemimpin yang di cinta rakyat DKI

Dicintai Ndasmu” 

Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s