Antara Ahok dan Buni

picsart_11-26-06-20-02

Warteg milik Saeni yang buka siang hari pada Ramdahan dirazia Satpol PP Kota Serang, Juni 2016. Media mainstreammem-blow up berita ini. Berhari-hari. Bertubi-tubi. Netizen ribut. Kecaman disemburkan. Sumbangan untuk Saeni dikumpulkan. Jokowi, Presiden Republik Indonesia ikut menyumbang Rp10 juta. Total sumbangan mencapai Rp265 juta.

Belakangan terkuak, Saeni bukanlah orang miskin. Dia juga bukan warga Serang. Saeni pengusaha Warteg, tersebar di tiga kota. Saat razia berlangsung, dia sedang mengontrol warteg-wartegnya. Namun, ya itu tadi, framingdan agenda setting para pembenci Islam dan didukung media mainstream sudah berjalan. Sukses!

Juli 2015, gerombolan jemaat Gereja Injil di Indonesia (GIDI) menyerang dan melempari batu ummat Islam yang tengah shalat Idul Fitri 1435 H, di Kabupaten Tolikara. Bukan hanya itu, mereka juga membakar masjid di sana. Kepolisian Papua melaporkan, selain Masjid, enam rumah dan 11 kios dilaporkan ikut terbakar.

Jokowi mengecam keras insiden tersebut. Dia juga berjanji akan menegakkan hukum, bukan hanya untuk pelaku kriminal di lapangan, tapi juga semua pihak yang terbukti mencederai kedamaian di Papua. Namun, yang terjadi berikutnya, Jokowi justru mengundang para pelaku dan aktor intelektual kerusuhan Tolikara untuk makan-makan di istana.

27 September 2016, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dalam sebuah acara dinas di Kepulauan Seribu menistakan al Quran. Menurut dia, orang-orang yang tidak memilihnya pada Pilkada Februari 2017 nanti, telah dibohongi dengan surat al Maidah ayat 51.

Atas jasa Buni Yani, video penistaan itu akhirnya menjadi viral. Netizen marah. Ummat Islam marah. Mereka menggelar aksi massal. Demo besar pecah 14 Oktober 2106, ba’da shalat Jumat dari masjid Istiqlal. Bukan hanya di Jakarta, tapi di seantero Indonesia terjadi serupa. Bahkan juga di belahan dunia lainnya. Tuntutan ummat Islam satu, tangkap dan adili penista al Quran dan penghina ulama.

Hari ini, 31 Oktober 2016, lebih sebulan sudah penistaan yang dilakukan Basuki. Tapi sampai kini, tidak secuil pun respon dari Jokowi. Sebaliknya, publik, khususnya ummat Islam mencium menyengatnya aroma perlindungan dan pembelaan Presiden kepada Basuki. Indikasinya gampang saja. Polisi terlihat gagap menangani kasus ini. Berbagai alasan dikemukakan. Mulai dari tidak mau menerima laporan masyarakat karena belum ada fatwa MUI, sampai berkelit menunggu perintah Presiden untuk memeriksa Basuki, dan berbagai dalih lainnya.

Basuki memang sudah minta maaf. Tapi, redaksinya, dia minta maaf atas kegaduhan yang terjadi. Bukan minta maaf karena sudah menistakan al Quran dan menghina ulama. Dia juga bertamu ke Bareskrim Polri. Tapi itu bukan untuk diperiksa, melainkan untuk mengklarifikasi. Tidak ada berita acara pemeriksaan (BAP), tentu saja.

Sebenarnya apa yang tengah terjadi di negeri ini? Ketidakadilan terhadap Islam dan ummatnya berlangsung begitu gegap-gempita.Ada terompet terbuat dari sampul al Quran, sandal jepit berlafaz Allah produksi perusahaan di Gresik-Jatim, plat cetakan al Quran untuk cetakan panggangan kue, celana ketat wanita berlafadzkan surah Al-Ikhlas, sajadah/karpet shalat yang digunakan untuk menari tari Bali di acara Hari Amal Bakti ke-70 Kementerian Agama, dan lainnya. Belum lagi penistaan oleh personal yang tersebar di media sosial, marak luar biasa.

Kalau hanya sekali mungkin itu kebetulan. Dua kali, bisa jadi karena kecerobohan. Tapi kalau berkali-kali, tentu sudah tidak wajar. Sedihnya lagi, pelakunya bisa siapa saja. Bukan hanya dari kalangan rakyat, bahkan juga oleh para pejabat. Yang terbaru, ya kasus Basuki itu tadi. Ada desain besar pihak tertentu yang sengaja menciptakannya. Padahal, Islam dianut sebagian besar penduduk negeri ini. Bahkan, muslim di Indonesia tercatat yang terbesar di dunia. Aneh…!

Menjelang 4 November 2016 situasi kian memanas. Berbagai surat resmi (nota dinas dan telegram) dan data intelejen terkait rencana aksi Bela Islam jilid dua diselenggarakan, beredar secara luas di media sosial. Polisi sibuk menepis beberapa di antarnya. Hoax, kata petinggi polisi. Palsu, kata pejabat Polri lainnya. Yang pasti, menurut surat-surat resmi (?) Polri yang bocor ke publik, situasi-kondisinya sudah masuk siaga satu!

Kenapa semua ini bisa terjadi? Haruskah seluruh energi negeri ini habis hanya untuk seorang Basuki? Mengapa Polisi tidak segera menegakkan hukum terhadap Basuki Ahok? Bukankah dia telah dilaporkan oleh banyak pihak, baik individu maupun ormas/komunitas? Gerangan apa yang menahan langkah Polisi?

Sejatinya, hanya ada seorang manusia yang bisa memerintahkan Polisi (juga TNI) di negeri ini. Dialah sang Presiden. Gagapnya Polisi pada kasus Basuki, mau tidak mau, memicu dugaan Jokowi memang melindungi si gubernur penggusur permukiman rakyat kecil. Sebelum berkunjung ke Bareskrim tempo hari, misalnya, Basuki sowan dulu ke Istana. Kenapa?

Ada apa dengan Jokowi? Kenapa waktu warteg Saeni dirazia, dia cepat merespon, bahkan menyumbang? Pada kali lain, saat ratusan titik permukiman rakyat kecil digusur dengan bengis dan brutal Jokowi diam seribu bahasa. Apa karena Saeni “dizalimi” oleh Perda syariah? Apa karena sang penggusur itu Basuki?

Kalau karena Saeni, yang oleh media settingdan framing media dikesankan seolah-olah ‘dizalimi’ Perda Syariah lalu Jokowi bereaksi cepat, tentu kita jadi makin kenal siapa dia sesungguhnya. Gosip yang berseliweran bahwa dia anak PKI seperti menemukan pembenaran. Yang pasti, Jokowi bukanlah kita sebagaimanatagline-nya waktu kampanye Capres, 2014 silam.

Kalau karena pelaku penistaan al Quran adalah Basuki, maka kita juga makin kenal siapa Presiden RI saat ini sesungguhnya. Begitu berharganya seorang Basuki, sehingga Jokowi bisa melawan hukum dan rela mempertaruhkan keutuhan Indonesia. Dengan kekuasaannya, Jokowi bukan saja telah memerintahkan Polri untuk tidak menyentuh Basuki, tapi dia juga menginstruksikan hampir semua lembaga di bawahnya untuk bekerja melindungi Basuki. Artinya, Presiden sudah menempatkan gubernur bermulut isi toilet itu di atas negara. Jokowi telah menjadikan Basuki lebih penting dari negara.

Masih ada beberapa hari lagi menuju 4 November. Kita ingin melihat, apakah Polri masih juga tidak kunjung bertindak. 4 November memang bukan segala-galanya. Ia juga bukan titik akhir. Sebaliknya, 4 November adalah awal dari langkah ummat Islam selanjutnya. Jika Basuki masih melenggang, jika Polisi masih tidak mengambil tindakan, Jokowi masih melindungi, maka biarlah ummat Islam yang bergerak.[1]

Perlakuan berbeda, Ahok bebas tapi Buni Yani ditahan

img_20161126_051604

Kuasa hukum Buni Yani, Adi Kurnia Setiadi, menyebutkan kliennya dipaksa untuk menandatangani surat penahanan, Rabu (23/11/2016) malam.

“Klien saya di kasih surat kuning, surat penangkapan, jam delapan (20.00 WIB). Tapi, kami tidak mau tandatangan. Baik Buni dan kuasa hukumnya,” ungkap Adi dikutip Kantor Berita Politik RMOL, Kamis (24/11).

Meski tidak menandatangani surat penahanan, Buni tetap ditahan. Menurut Adi, hal itu sudah menjadi diskresi polisi selaku penyidik dalam kasus tersebut.

“Klien saya tetap ditahan. Tapi, mau bagaimana lagi. Itu kewenangan diskresi polisi. Ditahan di ruang penyidik, tidur di mushola,” ungkap Bendahara Umum Himpunan Advokat Muda Indonesia itu.

Sebelumnya, Kabid Humas PMJ, Komisaris Besar Awi Setiyono mengungkapkan ada kendala teknis saat akan melanjutkan pemeriksaan terhadap Buni. Namun, Awi tidak menyebutkan kendala apa yang dimaksudnya.

“Semalam diperiksa sampai 00.30 WIB tanpa tak istrahat didampingi pengacara. Lalu pukul 08.00 WIB kita lanjutkan (pemeriksaan). Karena ada kendala, molor sampai pukul 10.00 WIB, dan barusan pemeriksaan belum selesai,” ungkap Awi saat konferensi pers di Mapolda Metro Jaya.

Saat ini, Buni telah diijinkan pulang oleh penyidik dan tidak dilakukan penahanan. Alasannya, Buni dianggap kooperatif selama pemeriksaan.

Saat dikonfirmasi terkait kendala teknis yang dimaksud Awi, Buni enggan menimpali. Pria berkacamata itu menyerahkan semua hal terkait pemeriksaannya kepada pihak kuasa hukum.

“Saya lagi puasa bicara, ngga (ada komentar soal) pemeriksaan ya. Ngga (ada pemaksaan tandatangan surat penahanan),” timpalnya tak lama diijinkan pulang.[2]

Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI), Din Syamsuddin keberatan dengan penatapan Buni Yani sebagai tersangka ‎oleh Polda Metro Jaya karena menyebar kebecian lewat komentarnya terkait video Gubernur nonaktif DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu.

“Ya kalau saya, bukannya membela, tapi itu bukan gara-gara postingan Buni Yani. Tapi karena omongannya Ahok,” ujar Din di Hotel Mercure, Jakarta Utara, Rabu (23/11/2016).

Masalahnya Bukan Buni Yani, Tapi Ucapan Ahok

Menurut Din, yang jadi‎ permasalahan bukan unggahan Buni Yani. “Kan sudah diputar versi aslinya. Janganlah dijadikan tersangka, itu video tidak diubah,” tambahnya.

Lanjut Din,‎ yang menjadi pangkal persoalan adalah perkataan Ahok yang menyinggung agama lain. “Jadi jangan bicara akibatnya, kita harus cari sebabnya. Seperti rumah yang terbakar, kalau enggak dipadamkan bara apinya‎ ya akan terus terbakar,” ungkapnya.

Ia pun meminta kepolisian untuk berlaku adil dalam menangani kasus penistaan agama.

Aparat Polda Metro Jaya akhirnya menetapkan Buni Yani sebagai tersangka dalam kasus penyebaran video Ahok di media sosial yang merupakan penghasutan berbau SARA.

“Hasil pemeriksaan dan sesuai konstruksi hukum dan pengumpulan bukti-bukti penyidik, dengan bukti permulaan yang cukup, yang bersangkutan saudara BY (Buni Yani) kita naikan statusnya menjadi tersangka,” ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Awi Setiyono di Polda Metro Jaya, Rabu.[3]

Polda Metro Jaya telah menetapkan Buni Yani sebagai tersangka kasus video ‘Surat Al-Maidah’, netizen terus memberikandukungan kepada lulusan Universitas Ohio, Amerika Serikat tersebut. Dukungan tersebut terus mengalir melalui status akun Facebook Buni Yani yang dituliskan setelah dirinya  menjadi tersangka pada Rabu (23/11) malam

“Bismillah. Minta dukungan kawan2 dan semua umat Islam. Saya ditangkap, tak bisa pulang ditahan di Reskrimsus Polda Metro Jaya”, tulis Buni di status facebook-nya.

Hal ini berbeda dengan Ahok, tersangka kasus penistaan Al Quran ini masih melenggang bebas. Padahal pelaku penista agama seperti Arswendo, Lia Aminudin, Permadi dan puluhan lainnya ditangkap terlebih dahulu sebelum diperiksa.[4]

“Kan sudah diputar (video) versi aslinya. Janganlah dijadikan tersangka, itu video tidak diubah kok, kan itu materi pokoknya,” jelas Din.

Karenanya, kata Din,‎ justru polisi harus fokus pada apa yang menjadi pangkal persoalan dalam hal ini perkataan Ahok yang menyinggung kesucian kitab suci umat Islam.

Ia pun meminta kepolisian untuk berlaku adil dan profesional dalam menangani kasus penistaan agama Ahok.

“Jadi, jangan bicara akibatnya, kita harus cari sebabnya. Seperti rumah yang terbakar, kalau enggak dipadamkan bara apinya‎ ya akan terus terbakar, tidak ada kaitannya dengan komentar Buni Yani di facebook,” ungkapnya.

Diketahui, sebelumnya penyidik Polda Metro Jaya telah menetapkan Buni Yani sebagai tersangka dalam kasus penyebaran video Ahok di media sosial facebook.[5]

Permadi: Saya dan Pelaku Penista Agama Lainnya Ditangkap Dulu sebelum Diperiksa

Diskusi Publik Keluarga Besar HMI tentang kasus Ahok di Jakarta, Senin (21/11/2016).

Diskusi Publik Keluarga Besar HMI tentang kasus Ahok di Jakarta, Senin (21/11/2016).


Politisi senior Permadi menyatakan aparat kepolisian telah mempraktikkan ketidakadilan terhadap para tersangka pelaku penista agama di Indonesia selama ini.

Para tersangka itu, ungkapnya, ditangkap terlebih dahulu sebelum diperiksa setelah diketahui telah melakukan penistaan agama.

Tapi, perlakuan berbeda diterima Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), kata dia. Tersangka penistaan agama ini sudah ditetapkan jadi tersangka tapi belum ditangkap hingga saat ini.

ngkap terlebih dahulu sebelum diperiksa,” kata Permadi dalam acara Diskusi Publik Keluarga Besar HMI, Senin (21/11/2016), lansir JITU Islamic News Agency.

Ahok saat ini jelas sudah jadi tersangka, tapi mengapa belum juga ditangkap seperti pelaku lainnya? Ungkapnya mempertanyakan.

Ia menduga Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian telah bertindak rasialisme dan diskriminasi dalam menangani kasus Ahok.

“Kenapa Ahok tidak ditangkap, tetapi saya dan pelaku penista agama lainnya yang pribumi ditangkap?” ungkapnya.

Permadi hanya menuntut kepolisian bertindak adil, seperti menangani kasus-kasus penistaan agama yang telah terjadi di Indonesia.

Permadi pernah tersandung kasus penistaan agama saat ia menyebut Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam sebagai “diktator yang baik” dalam sebuah diskusi mahasiswa.

Saat itu, Permadi dilaporkan dan diramaikan kasusnya oleh Din Syamsuddin yang kala itu masih sebagai Ketua Pemuda Muhammadiyah.[6]

Prijanto: Ahok Perlu Ditahan agar Polisi Tidak Dituduh sebagai Penjilat Ahok, Utamanya Kapolri

Jika Ahok ditahan, kata Prijanto, akan terpenuhi rasa keadilan rakyat dalam penegakan hukum.

Jika Ahok ditahan, kata Prijanto, akan terpenuhi rasa keadilan rakyat dalam penegakan hukum.


Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta Mayjen (Purn) Prijanto mendesak aparat kepolisian untuk segera menahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang sudah menjadi tersangka dalam kasus penistaan agama Islam.

Menurut Prijanto, polisi harus menahan Ahok agar tidak dituduh sebagai penjilat Ahok. “Ahok perlu ditahan agar polisi tidak dituduh para patriot bangsa sebagai penjilat atau memihak Ahok, utamanya Kapolri,” tegas Prijanto (21/11).

Kata Prijanto, dengan ditahannya mantan Bupati Belitung Timur itu, rakyat akan menilai polisi telah berbuat adil, sebagaimana perilaku polisi terhadap kasus-kasus yang sama yang bisa dijadikan sebagai yurisprudensi.

“Agar polisi tidak dinilai rakyat banci. Keputusan ‘cekal’ hakikatnya penahanan yang banci, agar tidak pergi atau lari,” tegas Prijanto.

Prijanto menilai, jika bener analisis para tokoh, bahwa Ahok sebagai proxy yang disiapkan untuk hancurkan NKRI, maka bisa diputus mata rantainya. “Agar Ahok tidak lakukan tindak pidana. Sebab, ucapan dan perilaku saat kampaye berpotensi lakukan tindak pidana dan gangguan Kamtibmas,” papar Prijanto.

Jika Ahok ditahan, kata Prijanto, akan terpenuhi rasa keadilan rakyat dalam penegakan hukum. “Ingat Ahok patut diduga terlibat dan selalu lolos dalam persoalan hukum yang terkait kasus RAPBD, Taman BMW, Trans Jakarta, RSSW, Reklamasi dan lain-lain,” pungkas Prijanto.[7]

Golkar Pecat Penolak Ahok, Fadel Muhammad: Ini Bukan Soal Harta, Tapi Soal Aqidah yang Dihina

“Saya dipecat oleh Pak Novanto dan Roemkono. Karena dulu saya minta supaya Golkar menarik dukungan dari Ahok karena kasus Al Maidah. Ini bukan soal harta dan uang, tapi aqidah dan keyakinan kita yang dihina,”

“Saya dipecat oleh Pak Novanto dan Roemkono. Karena dulu saya minta supaya Golkar menarik dukungan dari Ahok karena kasus Al Maidah. Ini bukan soal harta dan uang, tapi aqidah dan keyakinan kita yang dihina” (Fadel Muhammad).


Sikap tegas ditunjukkan petinggi Golkar dan tokoh masyarakat Sulsel Fadel Muhammad. Ketika aqidah dan keyakinannya diusik ia berontak dan bersuara lantang melakukan perlawanan.

Mengetahui Al Qur’an yang merupakan tuntunannya selama ini dihina, Fadel serta merta mengajukan permintaan agar Partai Golkar mengevaluasi dukungan kepada Gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama karena kasus dugaan penistaan agama.

Karena sikap kritis ini Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Fadel Muhammad itu langsung dipecat.

Kepada wartawan Fadel mengaku, dirinya dipecat Ketua Umum Golkar dikarenakan permintaan agar Partai Golkar mengevaluasi dukungan kepada Basuki Tjahaja Purnama dievaluasi, karena kasus dugaan penistaan agama.

“Saya dipecat oleh Pak Novanto dan Roemkono. Karena dulu saya minta supaya Golkar menarik dukungan dari Ahok karena kasus Al Maidah. Ini bukan soal harta dan uang, tapi aqidah dan keyakinan kita yang dihina,” terang Fadel, di Jakarta.

Selain Fadel, ternyata ada sembilan kader Golkar yang dipecat Setnov. Namun, Ia tidak menyebut siapa saja kader yang dipecat tersebut.

“Ada sembilan orang yang dipecat dan banyak juga yang berhenti dari Golkar, gubernur Sulsel dan gubernur Kaltim,” terangnya.

Menurutnya, surat pemecatan itu belum diterima, namun surat tersebut telah diterbitkan di DPP Partai Golkar.[8]

Jika AHOK Lepas, Din Syamsuddin: Saya Pimpin Perlawanan

img_20161125_134837

“Pak Tito, kita bersahabat ya. Tapi kalau ini sampai lepas, saya akan memimpin perlawanan” (Din Syamsuddin)


Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin mewanti-wanti Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian agar tak meremehkan kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Ia pun mengatakan tak akan segan memimpin perlawanan jika Ahok sampai lepas dari jerat hukum.

“Pak Tito, kita bersahabat ya. Tapi kalau ini sampai lepas, saya akan memimpin perlawanan,” kata Din saat memberi sambutan di acara pembukaan rapat kerja nasional MUI di Hotel Mercure, Ancol, Jakarta, Rabu, 23 November 2016.

Din sangat yakin bahwa Ahok menistakan agama dengan mengatakan orang bisa saja tidak memilihnya

karena telah dibohongi memakai Surat Al Maidah ayat 51. Surat itu menerangkan bahwa umat Islam dilarang memilih pemimpin non muslim.

Belakangan tafsir surat Al Maidah ayat 51 itu menjadi perdebatan. Ada yang mengatakan bahwa kata awlia dalam surat itu berarti pemimpin. Namun ada yang menafsirkan kata itu sebagai teman sejati.

Namun, keyakinan Din bahwa Ahok menista agama bukan soal tafsir ayat. Melainkan karena Ahok memberikan penilaian dengan menyalahkan tafsir yang bukan kepercayaannya. “Padahal dia bukan dari agama tersebut,” kata dia.

Selanjutnya, Din menilai Ahok menggunakan kata yang sinis. “Dibohongin pakai, ini menurut keyakinan saya sudah memenuhi kriteria penistaan agama,” ujar dia. “Kalau itu dibela-bela, apalagi ada gelagat penegak hukum dibela-bela, saya tersinggung.”

Menurut Din, tak kunjung ditahannya Ahok bisa menimbulkan masalah yang lebih rumit. Seperti yang baru terjadi, Ahok kembali dilaporkan karena menuduh pengunjuk rasa 4 November menerima bayaran.

“Saya khawatir nanti dia punya ujaran baru lagi yang melanggar hukum. Jadi menurut saya bagus kalau ditahan itu. Supaya jangan lebih rumit lagi masalah,” ujar Din.[9]

Pray for Buni Yani

Penetapan Buni Yani sebagai tersangka dalam kasus penyebaran video gubernur nonaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di media sosial oleh Penyidik Polda Metro Jaya disayangkan dan diprotes banyak pihak. Tuduhan yang dialamatkan kepada Buni Yani sebagai penebar kebencian dan permusuhan di kalangan masyarakat dianggap tidak relevan dengan perkembangan kasus dugaan penistaan agama di mana Ahok sudah jadi tersangka.

  • Wakil Ketua Komite III DPD Doakan Buni Yani Diberi Jalan Temukan Keadilan

img_20161126_055723

“Kita tetap menghormati proses hukum yang sedang berjalan saat ini, walau secara pribadi saya menyayangkan penetapan status tersangka ini. Sekarang, selain tetap berjuang di jalur hukum, saya mohon masyarakat mendoakan Saudara kita Buni Yani. Saya yakin Allah beri jalan bagi Buni Yani temukan keadilan. Saya pribadi akan kawal kasus ini sampai Buni Yani temukan keadilan,” ungkap Wakil Ketua Komite III DPD Fahira Idris, di Komplek Parlemen Senayan, Jakarta Kamis, (24/11).

Fahira mengungkapkan, kesalahan terbesar Buni Yani adalah berani menganggu sebuah kemapanan kekuasaan dengan mengoreksi sikap, perilaku, dan perkataan seorang pejabat publik yang saat ini statusnya sudah menjadi tersangka dugaan penistaan agama. Penetapan Buni Yani menjadi tersangka hanya karena mengunggah video pernyataan tentang Al-Maidah 51 beserta narasi mempertanyakan apakah yang diucapkan Ahok sebagai penistaan agama, merupakan hal yang berlebihan.

Kesannya, lanjut Fahira, gara-gara Buni Yani, negara ini jadi gaduh karena umat Islam marah dan menggelar aksi besar-besaran menuntut proses hukum terhadap dugaan penistaan agama yang dilakukan Basuki Tjahaja Purnama. Padahal, tambah Fahira, yang membuat banyak orang marah adalah redaksi yang diucapkan Ahok, bukan kalimat yang dituliskan Buni Yani.

“Padahal kita semua tahu, biang kegaduhan itu siapa. Jika setiap kritik ke pejabat publik harus berurusan dengan polisi, kita semua harus koreksi diri, negeri seperti apa yang sebenarnya kita inginkan? Objek yang dikritik Buni Yani yaitu perkataan Saudara Basuki, dan saat ini status hukumnya sudah jelas, tersangka kasus penistaan agama. Saudara Basuki juga sudah berulang-ulang mengakui kesalahannya. Lantas nama baik siapa yang dicemarkan Buni Yani?,” tukas Senator Jakarta ini.

Sebagai informasi, Buni Yani dijadikan sebagai tersangka di saat yang bersangkutan masih diperiksa sebagai saksi dan setelah menjadi tersangka saat itu juga langsung diperiksa dan tidak diperbolehkan pulang. Berbeda dengan Ahok, yang sebelum jadi tersangka dilakukan gelar perkara terlebih dahulu dan setelah jadi tersangka menunggu beberapa hari untuk diperiksa dengan status sebagai tersangka dan hingga saat ini belum ditahan.[10]

  • Roy Suryo Do’akan Buni Yani

Baru saja menjalani pemeriksaan perdana sebagai saksi atas kasus pengunggah video pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang dinilai menista Surat Al Maidah ayat 51, tersangka Buni Yani langsung ditahan Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Yani dinilai telah dengan sengaja menyebar isu berbau SARA.

Kasus ini telah menyita perhatian publik dan menghiasi pemberitaan sejumlah media nasional. Kasus semakin gaduh karena sebagian publik menilai tindakan Kepolisian tidak adil karena berbanding terbalik dengan Ahok yang sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka tetapi justru tidak ditahan. Bahkan kini masih bebas berkeliaran untuk melakukan kewajibannya sebagai calon gubernur DKI Jakarta yakni kampanye.

Menyikapi kasus ini, politisi Partai Demokrat, Roy Suryo mengatakan dirinya tak begitu khawatir karena masyarakat sudah sadar, mengerti dan paham untuk memberikan penilaian.

“Ya, Masyarakat sudah semakin menyadari dan mengerti juga hal tersebut,” ujar Roy Suryo kepada Nusantaranews.co di Jakarta, Kamis (24/11/2016).

Ia berharap Buni Yani selalu diberikan kekuatan serta para penegak hukum ditunjukkan kebenaran dalam kasus ini.

“Kita do’akan saja agar Allah SWT, Tuhan YME memberi Kekuatan kepada bapak Buni Yani dan memberi Hidayah juga bagi orang-orang yang masih belum di jalan yang benar,” imbuhnya.[11]

  • Netizen Doakan dan Dukung Buni Yani

Dukungan kepada Buni Yani terus mengalir setelah ditetapkan sebagai tersangka kasus pencemaran nama baik, penghasutan dan SARA oleh penyidik Polda Metro Jaya. Buni Yani sempat menulis status di akun facebooknya “Bismillah. Minta dukungan kawan2 dan semua umat Islam. Saya ditangkap, tak bisa pulang ditahan di Reskrimsus Polda Metro Jaya,”

Tulisan Buni Yani ini kemudian membuat nitizen kaget. Juga mengundang ribuan komentar dan dibagikan. Hingga berita ini diturunkan, postingan Buni Yani tersebut sudah 18.942 kali dibagikan dan dikomentari.

Akun @Firman Kelana menyebut “Penetapan tersangka atas pak buni oleh pihak kepolisian justru hanya akan menambah daftar panjang ketidakpercayaan rakyat atas ketidakpastian dan ketidakjelasan hukum yg mencederai rasa keadilan dan kebenaran, klo sdh tak dipercaya publik/rakyat mk gejolak sosial dan politik ibarat bom waktu yg siap meledak menjungkalkan rezim tiran pro kapital asing”

Sementara @Harry Luciano berucap “Mohon dukungan do’a dari muslimin utk saudara kita ini. lakukan shalat hajat 2 rakaat. lalu selesai salam terakhir kembali sujud (di luar shalat) dan baca (Yaa Mudzillu = Wahai Dzat Yg Maha Menghinakan) minimal 41x atau sebanyak2nya sambil memohon Allah agar menghinakan musuh2 Islam yang membuat seluruh kerusuhan ini. Ingat bahwa “Ad- Du’a silahul mukminin” Do’a itu adalah senjatanya orang2 beriman. Semoga cepat di berikan Keputusan Allah atas apa yg menimpa kita. Aamiin

@Helmi Felis, “Insya Allah kheir… Jangan takut sahabat, Allah bersama orang-orang teraniaya.!!! Kita diluar akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu baik doa, gerakan, tulisan, ucapan”

“Semoga dapat bersabar, sehingga pahala dan bantuan dapat segera turun. Ikhlaskan semua Buni Yani . Jangan redup apalagi putus asa.!!!”

Dan @Fahmi Bahreisy berkata “Semoga dengan ini Allah meninggikan derajat Buni Yani di sisi-Nya. Doa orang yang terzalimi tak akan tertolak,”.[12]

  • Aa Gym: Doakan Buni Yani, Kenapa Gesit Sekali Dijadikan Tersangka


Polda Metro Jaya selain menetapkan tersangka langsung menyodorkan surat penahanan kepada Buni Yani. Namun Buni Yani sempat menolak menandatangani surat penahanan karena dirasa tidak adil.

Dalam tuduhan yang disangkakan kepada Buni Yani bukan video Ahok yang menjadi perhatian polisi tapi status Facebook yang menyertakan postingan video Ahok tersebut.

Menanggapi persoalan itu, Pimpinan Pondok Pesantren Daarut Tauhid KH. Abdullah Gymnastiar atau yang biasa disapa Aa Gym mengaku heran mengapa cepat sekali Buni Yani ditetapkan sebagai tersangka.

“Cepat memang jadi tersangkanya, walaupun ada hikmahnya tapi kenapa yang ini gesit sekali jadi tersangkanya,” ujar Aa Gym dalam Kajian Pagi di Ponpes DT, Bandung, Kamis (24/11/2016).

Menurut Aa Gym karena justru karena Buni Yani lah umat Islam bisa bersatu dari berbagai elemen untuk menyuarakan kebenaran atas kasus Ahok terkait penistaan agama.

“Karena mau tidak mau ini menjadi jalan umat tergugah mengingat kepada Quran, bisa tergugah untuk bersatu, tidak ada yang bisa mempersatukan umat sebanyak ini,” jelas Aa Gym.

Aa Gym juga mendoakan Buni Yani  dan meminta doa kepada umat Islam agar dikuatkan dan mendapatkan keadilan.[13]

Referensi

  1. https://arrahmah.com/rubrik/kasus-basuki-siapa-sebenarnya-jokowi.html
  2. https://arrahmah.com/news/2016/11/25/polisi-paksa-buni-yani-teken-surat-penahanan.html
  3. http://sangpencerah.id/2016/11/din-syamsuddin-buni-yani-tak-seharusnya-menjadi-tersangka.html
  4. http://sangpencerah.id/2016/11/buni-yani-jadi-tersangka-langsung-ditahan-tersangka-ahok-masih-bebas-melenggang.html
  5. https://www.nahimunkar.com/din-masalahnya-bukan-buni-yani-ucapan-ahok/
  6. https://www.nahimunkar.com/permadi-dan-pelaku-penista-agama-lainnya-ditangkap-dulu-diperiksa/
  7. https://www.nahimunkar.com/prijanto-ahok-perlu-ditahan-agar-polisi-tidak-dituduh-penjilat-ahok-utamanya-kapolri/
  8. https://www.nahimunkar.com/golkar-pecat-penolak-ahok-fadel-muhammad-bukan-soal-harta-soal-aqidah-dihina/
  9. https://www.nahimunkar.com/jika-ahok-lepas-din-syamsuddin-pimpin-perlawanan/
  10. http://www.panjimas.com/news/2016/11/25/wakil-ketua-komite-iii-dpd-doakan-buni-yani-diberi-jalan-temukan-keadilan/
  11. http://nusantaranews.co/roy-suryo-doakan-buni-yani/
  12. http://publik-news.com/puluhan-ribu-netizen-doakan-dan-dukung-buni-yani/
  13. https://pojoksatu.id/news/berita-nasional/2016/11/24/aa-gym-doakan-buni-yani-kenapa-gesit-sekali-dijadikan-tersangka/
img_20161125_134859

KLIK SAJA


Iklan

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s