Pidato Ahok yang Kontroversi representasi dari Bukunya sendiri

img_20161207_051522

Buku tulisan Ahok berjudul “Merubah Indonesia” itu diantaranya diulas oleh Selamet HARIADI seorang penulis di kompasiana dengan judul:

Merubah Indonesia Ala Ahok, 19 September 2012 11:51:19 Diperbarui: 25 Juni 2015 00:14:06

Kutipan singkat yang berkaitan dengan hal tersebut sebagai berikut:

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat buku semacam biografi dari salah seorang sahabat twitter, buku ini berisi perjalanan hingga pemikiran Ahok. Buku ini juga disertai VCD wawancara Ahok dengan Peter Gontha dalam acara di sebuah stasiun Televisi.

img_20161207_051441

Saat Agama jadi Sandaran Memilih. Ada bab yang cukup menarik dan mungkin bisa jadi perbincangan seru, yakni Ahok menghadapi pemilih islam.

Ditulisnya, ada Oknum Elite yang berlindung di balik ayat Suci agama Islam. Disitirnya Surah al-Maidah 51 yang isinya memilih pemimpin dari kaum seiman. Lantas ahok menanyakan ke teman-teman, saat ada orang muslim yang ingin membunuh nabi Muhammad SAW dengan berkoalisi dengan kelompok Nasrani dan kelompok Yahudi di tempat itu. Menurut beliau, jadi ini bukan untuk memilih Pemimpin pemerintahan karena NKRI adalah kepala Pemerintahan bukan Agama/Imam.

Ahok juga membahas bagaimana elite agama Kristen yang berlindung di balik ayat suci pula dengan lebih panjang, ini wajar karena beliau adalah juga beragama Kristen.[1]

Dalam kalimat itu ada yang perlu dicermati:

Ditulisnya, ada Oknum Elite yang berlindung di balik ayat Suci agama Islam. Disitirnya Surah al-Maidah 51 yang isinya memilih pemimpin dari kaum seiman. Menurut beliau, jadi ini bukan untuk memilih Pemimpin pemerintahan karena NKRI adalah kepala Pemerintahan bukan Agama/Imam.

Apa yang ditulis Ahok dalam bukunya itu ternyata menjadi geger dan meresahkan masyarakat ketika Ahok mempidatokannya dengan ada kata-kata yang menjadikan Umat Islam tersinggung yaitu: “Dibohongin pakai surat al Maidah 51,…. Jadi bapak ibu perasaan nggak bisa pilih nih karena saya takut masuk neraka, dibodohin gitu ya..” .[2]

Pelecehan terhadap Qur’an sudah banyak sekali terjadi. Silakan lihat dan baca; https://myrepro.wordpress.com/2016/06/24/berbagai-kasus-pelecehan-al-quran/

Para pendukung penghina, yang memutar balikkan fakta

Dahulu, di zaman Nabi Muhammad, ada seorang lelaki yang bernama Finhash ( فِنْحَاصٌ ).

Orang ini adalah salah satu tokoh intelektual kaum Yahudi yang didengarkan ucapannya dan menjadi panutan.

Suatu hari, Abu Bakar menasehatinya agar masuk Islam, namun secara kurangajar dia merespon dengan kata-kata yang ringkasnya kira-kira seperti ini:

“Hai Abu Bakar, tuhanmu itu dalam Al-Qur’an itu ‘kan bilang mau pinjam uang kepada orang-orang beriman. Kalau dia pinjam uang, berarti dia miskin dong”

Orang ini memaksudkan ayat dalam Al-Qur’an yang berbunyi:

{مَنْ ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً} [البقرة: 245]

Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak? (Qs. Al-Baqarah Ayat 245)

Ayat yang sebenarnya sangat jelas dalam cita rasa bahasa Arab dengan kualitas sastra tinggi bermakna anjuran berinfak dijalan Allah (ini bahasa majasi/metafor yang sudah biasa diulas sangat bagus oleh ulama-ulama tafsir) kemudian DIPUTAR BALIKKAN MAKNANYA dengan tujuan yang busuk.

#Memutar balikkan kata-kata!

Inilah sifat #Finhash.

Kekurangajaran Finhash ini sampai diabadikan dalam Al-Qur’an:

{لَقَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ فَقِيرٌ وَنَحْنُ أَغْنِيَاءُ سَنَكْتُبُ مَا قَالُوا وَقَتْلَهُمُ الْأَنْبِيَاءَ بِغَيْرِ حَقٍّ وَنَقُولُ ذُوقُوا عَذَابَ الْحَرِيقِ } [آل عمران: 181]

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. Aku akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan Aku akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang mem bakar” (Qs. Ali Imron Ayat 181)

Rupanya, kecenderungan menyimpang dalam dien seperti Finhash ini di zaman sekarang pelan-pelan banyak menginfeksi orang.

Secara tidak sadar, mulai banyak yang terjangkiti finhashiyyah, dan celakanya yang terkena justru banyak kalangan yang dianggap kaum intelektual dan tokoh.

Yang jadi korban selalu orang awam.

#Contoh ungkapan memutar balikkan kata-kata:

  • “Tuhan tidak perlu dibela, karena Dia Maha Kuasa. Bukankah Dia Raja alam semesta?”
  • “Islam tidak perlu dibela, karena sudah mulia. Islam itu rusak karena pemeluknya”
  • “Nabi Muhammad tidak perlu dibela, beliau sudah mulia. Penghinaan tidak mengurangi keagungan beliau”

Sungguh, ungkapan di atas adalah pemutar balikan kata-kata.

Akrobat intelektual. Mirip seperti cara argumentasi “slengekan” ketika orang mengatakan:

  • “Istri orang, sebenarnya adalah istri kita juga, karena kita adalah orang”

Orang yang berpengetahuan akan mudah mengidentifikasi kebatilan ucapan tersebut, namun orang awam bisa jadi ada yang terfitnah.

Orang beriman membela Allah itu jangan dibayangkan bahwa yang dibela adalah lemah sehingga butuh perlindungan. Membela Allah adalah bahasa metafor, maknanya adalah tidak terima penghinaan terhadap Allah, dan itu adalah bukti cinta.

Allah tidak menuntut kita melindungi-Nya, tetapi menuntut kita menyembah-Nya.

Aksi terpenting penyembahan kepada-Nya adalah menjadikan puncak cinta hanya kepada-Nya.

Adalah cinta palsu jika diam saja ketika yang dicintai dihinakan.

Membela Islam itu jangan dibayangkan islam seperti makhluk hina yang perlu dilindungi.

Membela islam adalah bahasa metafor. Maknanya menjalankan perintah Allah sebagai bentuk ketaatan untuk meninggikan kalimat-Nya.

Membela Nabi Muhammad itu bukan karena dengan penghinaan maka keagungan beliau menjadi berkurang.
Menjaga kehormatan Nabi Muhammad adalah tuntutan iman dan konsekuensi cinta kepada Allah. Dusta besar jika ada orang yang mengaku cinta Allah, tetapi tidak cinta kepada nabi Muhammad.

Bahasa majasi dalam Al-Qur’an itu banyak. Untuk memahaminya perlu bahasa Arab yang cukup, ilmu balaghoh, pengetahuan syair jahiliyyah, dan penjelasan ulama yang otoritatif.

Contoh ayat yang sering didengar:

{يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ} [محمد: 7]

Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu” (Qs. Muhammad ayat 7)

Betapa rusaknya jika ayat ini dipahami bahwa Allah itu lemah sehingga perlu ditolong.

Memutar balikkan kata-kata adalah sunnahnya kaum Yahudi. Firman Allah dalam Al-Qur’an:

{يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ عَنْ مَوَاضِعِهِ } [المائدة: 13]

“mereka mengubah kalimat-kalimat dari tempatnya”(Qs. Al-Maidah Ayat 13)

#Waspada dengan Finhash-Finhash zaman sekarang.

Jika ada tokoh yang dikagumi, atau kaum intelek yang didengarkan ucapannya namun memiliki kecenderungan finhashiyyah,
#segera saja ditinggalkan.

Ganti panutan. Agar tidak salah jalan. Dimanapun ada #FINHASHDISITULAH MUNCUL MUJAHID PEMBELA AGAMA[3]

Prof Mahfud MD Ingatkan ‘Ulama’ PDIP Pendukung Ahok

img_20161207_053049

Prof Mahfud MD Ingatkan ‘Ulama’ PDIP Pendukung Ahok 12/10/2016 in Politik tweet inShare Pernyataan Mahfud MD di Twitter (IST) Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Prof Mahfud MD mengingatkan kesalahan dan kesombongan yang dilakukan politikus PDIP Prof Hamka Haq saat tampil di acara ILC tvOne, Selasa (11/10).

Hamka Haq merupakan Ketua sayap keagamaan Islam PDIP Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Mahfud MD menilai Hamka Haq salah dalam memberikan contoh kepemimpinan sebelum turunnya Surat Al Maidah. “Pnjlasan Hamka Haq itu bagus tp keliru dlm 2 hal: 1) Dia memberi contoh sejarah sblm turun Srt Almaidah,” ungkap Mahfud.

Selain itu, warga nahdliyin (NU) ini mengkritik sikap sombong yang ditunjukkan Hamka Haq. ” Kedua dia banggakan dirinya profesor,” papar Mahfud. Kata Mahfud, harusnya bisa memberikan contoh setelah hijrahnya Nabi Muhammad SAW.

“Di dlm hukum, Islam maupun umum, ada asas: Hukum yg berlaku adl hukum yg diundangkan terakhir. Sbnr-nya Hamka bs ambil contoh pasca Madinah.*/suaranasional.com – 12/10/2016

Hukum di Al-Maidah hukum terakhir karena turunnya surat itu paling akhir

Prof Hamka Haq saat tampil di acara ILC tvOne, Selasa (11/10) menyebut sejarah ketika Nabi Muhammad saw di Makkah 13 di sana dipimpin Abu Thalib.

Dikemukakannya itu disertai mengaitkannya dengan perkataan Ahok tentang Al Maidah 51.

Perlu diketahui dalam ilmu tafsir telah dijelaskan bahwa surat Al Maidah adalah surat yang terakhir turun.

Dalam kitab-kitab hadits diriwayatkan:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ عَنْ أَبِي الزَّاهِرِيَّةِ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ قَالَ
دَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ فَقَالَتْ هَلْ تَقْرَأُ سُورَةَ الْمَائِدَةِ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَتْ فَإِنَّهَا آخِرُ سُورَةٍ نَزَلَتْ فَمَا وَجَدْتُمْ فِيهَا مِنْ حَلَالٍ فَاسْتَحِلُّوهُ وَمَا وَجَدْتُمْ فِيهَا مِنْ حَرَامٍ فَحَرِّمُوهُ وَسَأَلْتُهَا عَنْ خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ الْقُرْآنُ

رواه أحمد  إسناده صحيح، رجاله ثقات رجال الصحيح

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahaman bin Mahdi dia berkata; telah menceritakan kepada kami Mu’awiyah dari Abu Azzahiriyyah dari Jubair bin Nufair berkata; saya pernah menemui Aisyah, dia berkata; “Apakah kamu membaca surat Al Ma’idah?” Dia berkata; saya menjawab; “Ya.” Ia berkata; “Sesungguhnya ia adalah surat yang terakhir turun.” Apa saja perkara halal yang kalian dapatkan darinya maka halalkanlah ia, dan apa saja perkara haram yang kalian dapatkan darinya maka hramkanlah ia.” Saya bertanya kepadanya tentang akhlaq Rasululloh shallallohu’alaihi wa sallam? dia menjwab; “Akhlak beliau adalah al Qur’an.” (HR Ahmad)

Dari situ, walau ada yang bergelar profesor, namun apabila bicaranya tidak sesuai dengan riwayat yang shahih tersebut maka terolak. Lebih buruk lagi bila hal itu untuk membela penghina Al-Qur’an.[4]

Catatan Aktivis Muhammadiyah untuk Tiga Profesor Sesat

Seorang aktivis Muhammadiyah Mohammad Naufal Donggio menulis catatan tiga profesor yang mengalami kesesatan dalam memahami Islam.

“Ada 3 orang profesor yang ‘terlepas’ dari hidayah Allah karena perbuatan mereka,” kata Naufal dalam artikel berjudul “Ketika Hidayah Allah Pergi dari Sang Profesor”.

Kata Naufal, profesor pertama adalah cendikiawan muslimah yang kehabisan nalar sehat secara aqidah Islamiyah sehingga harus menjadi anggota bahkan sbg ketua pengurus Yayasan Pedepokan Kanjeng Dimas Taat Pribadi.

“Seorang ‘Ketua’ presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) sekaligus salah seorang anggota MUI pusat bisa masuk dan terperangkap dalam kegiatan klenik merusak nalar aqidahnya.

Suatu lompatan pemikiran yang sangat radikal bukan dalam mencari jalan yang diridhai Allah tapi lompatan pemikiran yang meceburkan dirinya dalam kesesatan yang nyata.

Kata Naufal, kepintaran dan nilai sekolahan yang cumlaude alias sangat memuaskan tidak menjamin seseorang hamba bisa mempertahankan aqidahnya agar tidak terjerumus dalam jalan kesesatan.

“Apakah perilaku ini datang tiba-tiba dalam dirinya? Jawabnya sudah tentu tidak. Boleh jadi sejak muda pola pikir dia tidak seratus persen sinkron dengan aqidah yang dia yakini. Sehingga bila di hadapkan dengan cobaan dan ujian seperti itu langsung masuk dalam jaringan kesesatan,” ungkap Naufal.

Kata Naufal profesor dua dan tiga yang mengalami kesesatan dalam aqidah adalah cendikiawan muslim dan juga anggota MUI di pusat dan daerah.

“Kedua profesor ini tidak beda jauh dengan peofesor yang pertama hanya beda-beda tipis tapi substansinya yakni masuk jaringan kesesatan,” ungkapnya.

Kata Naufal, kedua profesor yang mengalami kesasatan dalam aqidah ini dalam lingkaran hitam yang haram karena mati-matian membela si kafir penista kitab suci agama Islam Al Quran.

“Berbagai dalih dan ketokohan yang dimilikinya mereka berdua berusaha mempengaruhi khalayak ramai agar mempercayai omongan mereka dan sang penista tidak dihukum karena sudah minta maaf,” jelasnya.

Lanjut Naufal, bahkan dalam membela sang penista Al Quran itu kedua profesor ini tidak malu melakukan kebohongan publik di mana yang satu tidak kenal tapi pernah pernah sekali dua kali bertemu sambil makan bersama.

“Dan profesor yang lain berusaha mencari pembenaran (justifikasi) dengan mengaitkan Surah al-Maidah:51 dengan keberadaan Nabi SAW di kota Makkah selama 13 tahun. Si profesor itu boleh jadi ASBUN tidak baca  sejarah bahwa surah al-Maidah turunnya di Madinah dan ini surah yang terakhir diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Al-Maidah dikategori dalam kelompok Madaniyah yakni ayat-ayat dan surat yang diturunkan di kota Madinah. Kalau turun di Makkah disebut Makiyyah,” papar Naufal.

Lanjut Naufal, kelakuan kedua profesor itu sungguh membuat umat bingung terutama kalangan awam. Mereka membuat perpecahan dalam tubuh umat dikarenakan otak dan hati mereka tidak sinkron lagi dengan aqidah yang mereka yakini.

“Semakin tua bukan semakin tawadhu dan taat kepada sang Khaliq tapi semakin tua malah mengajak orang lain untuk mati bersama mereka dalam keadaan SUUL KHATIMAH. Ini juga sudah pasti bukan ujuk-ujuk pola pikir mereka seperti ini di kala umur sudah dekat dengan bau tanah,” jelas Naufal.[5]

Referensi

  1. http://www.kompasiana.com/selamethariadi/merubah-indonesia-ala-ahok
  2. https://www.nahimunkar.com/ternyata-ahok-usik-al-maidah-51-bukunya-dan-pidatonya/
  3. https://www.nahimunkar.com/pemutar-balik-fakta/
  4. https://www.nahimunkar.com/salah-dan-sombong-prof-mahfud-md-ingatkan-ulama-pdip-pendukung-ahok/
  5. https://www.nahimunkar.com/catatan-aktivis-muhammadiyah-tiga-profesor-sesat/
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s