Keanehan-Keanehan Saat Aksi 212

img_20161213_213645

  • Peserta Aksi Super Damai 212 Hilang Bagai Ditelan Bumi

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menyatakan bahwa aksi super damai 2 Desember 2016 membuatnya sempat bingung dan tidak percaya.

Sebab, begitu Salat Jumat selesai pukul 13.00 WIB, massa yang jumlahnya jutaan orang betul-betul pulang dengan damai setelah Salat Jumat.

“Saya sendiri bingung, saat berpatroli pada pukul 17.00 WIB, massa yang jumlahnya jutaan orang itu tiba-tiba hilang seakan diserap oleh bumi,” kata Tito di depan Komisi III DPR RI, Senin (5/12/2016) sore.

Meskipun ada sebagian kelompok yang datang ke Bundaran HI setelah aksi selesai, namun hal itu memang sengaja dibiarkan karena jumlahnya tidak banyak dan suasananya sangat damai.

Menurut Tito, tenggat berakhir demo hingga pukul 13.00 WIB adalah permintaan Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) sendiri.

Kepolisian, kata Tito, sebetulnya menyiapkan kesempatan bagi para peserta aksi hingga pukul 16.00 WIB.

Namun, saat itu pihak GNPF justru ingin jadwal dipercepat hingga Salat Jumat selesai sekitar pukul 13.00 WIB.[1]

  • Kumandang Azan saat Aksi Super Damai 212 Menggetarkan

Foto-foto dan video aksi super damai pada Jumat, 2 Desember 216 kemarin bertebaran di media sosial.

Salah satu video yang cukup membuat tersentuh ialah video kumandang azan Salat Jumat.

Kondisi cuaca saat itu juga sedang mendung dan turun hujan.

Terdengar dengan lantang suara adzan dari lokasi acara aksi super damai.

“Suasana adzan jumat 212
Gak tau siapa yg mendokumentasikan..
Siapa pun dia, saya ucapkan banyak sekali terima kasih… karna saya yang tak bisa di sana bisa merasakan penuh syukur dan ghirah yang menggebu gebu.
TAKBIR!!!!”

Suara lantang adzan yang menggema membuat hati yang mendengarnya bergetar dan takjub.

Video berdurasi 2 menit 31 detik ini telah ditonton sebanyak 1,2 juta kali dan dibagikan sebanyak 86.183 kali.

Komentar netizen pun membanjiri kolom komentar postingan ini.

Ayu Reza : Subhanalloh… Bikin bulu kuduk ku brdiri dgr adzan ini

Nyimas Esa Puteri : masya allah. indah sekali . haru dan merinding.

Risna Hayati Risna : subhanallah…semoga umat
islam tetap bersatu.

Nartie Khutiel Wanasta : Allahu Akbar….merinding…dengernya….liatnya…

Ari Aprilian : Merinding ya Allah dengernya
Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar …

Hendra : seumur hidup w bru denger suara adzan yg bikin netes air mata w.. Alhmdulillah w bs hadir di momen bersejarah umat islam indonesia.

Rupanya, dalam kolom komentar ini seorang netizen membagikan foto sosok yang menjadi muadzinnya.

Netizen bernama Euis Putri Mahesa membagikan foto seorang polisi yang tampak sedang mengumandangkan adzan.

img_20161213_213315

Polisi yang mengenakan peci dan sorban putih itu terlihat sambil memejamkan mata saat mengumandangkan adzan.[2]

  • Harum Semerbak di Bawah Hujan

Postingan yang diberi judul ‘SEMERBAK HARUM SAAT HUJAN TURUN JAMAAH SHOLAT JUM’AT MONAS, kesaksian Arik S. Wartono’ itu menceritakan bagaimana harum itu muncul saat hujan mengguyur massa aksi.

Berikut isi lengkap kesaksian Arik S Wartono:

Aku datang longmarch bersama tak kurang 3.000 (tiga ribu) jamaah dari kawasan Harmony, memasuki kawasan Monas melalui arah barat Patung Kuda Bundaran HI. Mendapat info bahwa Monas sudah penuh. Tapi aku butuh membuat liputan kebenarannya.

Maka aku memotret dan membuat video di bundaran HI sebentar, kemudian menerobos masuk mendekati panggung utama orasi di Monas, yang sekaligus lokasi panggung imam jamaah Shalat Jumat.

Langkahku terhenti sekitar 25 meter dari panggung orasi, sebab lautan umat sudah mustahil aku belah lagi untuk lebih dekat. Dari titik itulah aku membuat liputan kesaksianku, sambil menggelar sajadah.

Selama tak kurang tiga jam berdiam di titik Barat Monas, tepat kiri imam yang sekaligus lokasi panggung utama orasi, cuaca tak sedetikpun panas. Matahari muncul sedikit tanpa membakar terik, selebihnya mendung.

Drone terus beterbangan di atasku, hellykopter mengelilingi Monas dalam hawa sejuk angin semilir. Saat aku memejamkan mata sambil bersila di atas sajadahku sambil mendengarkan orasi Aa Gym, aku bahkan merasa sauasananya seperti sedang di pinggir pantai, adem-semilir. Padahal kabarnya ini aksi demonstrasi.

Setelah orasi beberapa tokoh, tiba saatnya Muadzin mengumandangkan adzan sebagai tanda dimulainya ibadah Jumat yang merupakan kewajiban bagi setiap muslim lelaki akil balikh. Saat itulah hujan mulai turun, seolah Allah sengaja mengirim air wudhu untuk kami semua 7,4 juta jamaah.

Untuk orang sebanyak itu, coba pikir berapa ton kubik air yang dibutuhkan untuk berwudhu sekalipun dalam situasi paling darurat? Allah memahami kebutuhan kami, maka diturunkannya hujan yang tidak deras untuk kami berwudhu. Masya Allah, jamaah pun diliputi rasa syukur dan haru.

Sekitar 5 menit hujan turun, indra penciumanku mengindera bau semerbak harum. Aku berpikir sejenak, bau parfum siapakah ini yang sanggup semerbak dalam guyuran hujan?

Bukankah kami berkumpul 7,4 juta orang? Mestinya kan pengab bau keringat di bawah hujan? Normalnya kan bau apag (tak sedap) pakaian kotor berkeringat yang terbasahi air? Tapi ini malah bau harum semerbak.

Aku coba berpikir lain: apakah ada yang sedang membakar dupa? Ah mana mungkin ada dupa di bawah guyuran hujan? Lagipula ini bukan bau dupa, dan mana mungkin ada jamaah shalat jumat yang membakar dupa?

Aku coba berpikir lain, dan harum semakin semerbak, lebih dari 5 menit sudah harum ini. Apakah ada seseorang yang menyemprotkan parfum mahal dalam jumlah besar? Aku lihat sekeliling, nihil. Di sisi kiri belakangku sekitar 50 meter memang ada mobil tangki, tapi jelas bertuliskan Air Minum (untuk Wudhu).

Harum semerbak bahkan kian jelas. Maka aku coba bertanya pada orang-orang di sekelilingku dengan suara lumayan keras, sebab memang belum Adzan kedua sebagai tanda dimulainya khutbah Jumat:

“Bapak-bapak dan Abang di sini semua apakah mencium bau harum yang kuat?”

semua menjawab

“Ya, benar. Bau harum, wangi.”

Aku lihat tadi ada seorang bapak usia 50an yang batuk saat hujan mulai turun. Mungkin bapak ini sedang pilek. Aku langsung tanya:

“Apakah bapak juga mencium bau harum?”

beliau tegas menjawab: “Ya, benar bau harum !”

Aku bertanya sekali lagi dengan suara lebih keras pada semua jamaah di sekelilingku:

“Apakah semua yang di sini mencium bau harum yang kuat?”

Semua serempak menjawab

“Ya”, sambil mengangguk.

Sampai aku mengulagi 3 kali pertanyaanku pada jamaah, jawabnya pun sama: YA.

Aku melanjutkan pertanyaan:

“Parfum apakah yang bisa berbau harum di tengah guyuran hujan begini?”

Kebetulan saat itu hujan mulai sedikit deras, bersamaan dengan pertanyaanku. Tidak ada jawaban.

Aku lanjutkan:

“Adakah di sekitar sini tanaman yang sedang berbunga, yang bapak dan abang semua kenali dengan bau harum begini?” Semua menggeleng, kembali tak ada jawaban.

Aku lanjutkan lagi:

“Lalu bau harum apa ini, yang kita semua bisa merasakannya dalam guyuran hujan begini?” Kali ini pertaanku melemah, bahkan sedikit tersekat.

Dan beberpa jamaah aku lihat mulai berubah raut mukanya, mereka mulai berlinang air mata. Tiba-tiba saja kami para lelaki telah menangis di bawah hujan.

“Masya Allah… Subhanallah.. apakah Kau sedang mengutus malaikatmu untuk kami ya Allah, dengan hujan ini?” Seorang bapak berwajah keturunan Arab (tampaknya seorang ustsdz, atau mungkin habib) spontan hampir berteriak sambi menangis.

Kami semua pun kian berlinang, tak kurang 100 orang saat itu di dekatku yang memberi kesaksian tentang fenomena alam yang tak biasa ini.

Muadzin pun mengumandangkan adzan kedua, Habib Rieziq mulai berkhutbah sebagai khatib shalat Jumat, dan bau harum tak tercium lagi, hujan terus merintik. Kami tetap khitmad menyimak khutbah Jumat yang menggetarkan.

Dan aku menjadi saksi di antara 7,4 juta jamaah. Itu jamaah shalat Jumat terbesar yang pernah aku ikuti seumur hidup, di bawah guyuran hujan. Allahuakbar.[3]

  • Peserta Aksi 212 banyak orang-orang berduit

Peserta aksi 212 di lobi hotel Aryaduta Cikini Jakarta Jum'at (2/12/16)

Peserta aksi 212 di lobi hotel Aryaduta Cikini Jakarta Jum’at (2/12/16)


Mengatakan bahwa peserta aksi 411 dan 212 dibayar 500 ribu adalah fitnah yang sangat besar. Jika sebagian besar peserta berasal dari kalangan menengah ke bawah, hal itu benar adanya. Akan tetapi mereka yang berasal dari kalangan tersebut adalah kelompok masyarakat yang memiliki semangat tinggi dalam belajar dan memperjuangkan agama.
Mereka berani izin dari perusahaan tempat bekerja dengan resiko tidak digaji sampai diberhentikan atau sengaja tidak masuk jika izin tidak diberikan. Di dalam benak mereka, uang hanyalah sarana, bukan tujuan. Mereka adalah golongan yang belum dikaruniai uang, tapi memahami hakikat uang yang sesungguhnya.
Akan tetapi, jangan salah! Sebagian peserta lainnya berasal dari kalangan menengah ke atas. Banyak di antara peserta yang didapati membawa kendaraan mewah lengkap dengan makanan untuk dibagikan kepada peserta aksi 411 atau 212.
Khusus di aksi 212 Jum’at (2/12/16) lalu, jumlah peserta dari kalangan menengah ke atas makin tak terbendung. Bahkan ada konglomerat Muslim yang membawa air mineral dalam truck besar dan ia aktif memindahkan kardus berisi minuman dari atas truck ke pinggir jalan.
Tak hanya itu, sebagian mereka juga menggunakan kendaraan mewah yang bak mimpi bagi sebagian besar bangsa Indonesia. Ini bukan opini, bukan pula mimpi atau imajinasi. Ini nyata. Sangat fakta.
“Mungkin banyak orang mengira peserta aksi 212 itu kaum menengah ke bawah. Ternyata meleset. Banyak kok yang datang dengan mobil-mobil mewah semacam BMW hingga Lambhorgini,” tulis Muktia Farid di akun fesbuknya.
Mungkin banyak orang mengira peserta aksi 212 itu ya kaum menengah ke bawah lah macam saya. Ternyata meleset. Banyak kok yang datang dengan mobil2 mewah macam BMW hingga lambhorgini (saya mah belom pernah naik). Dan di jok belakang atau bagasi mobil mereka sudah menyiapkan amunisi untuk dibagikan, terutama makanan nasi kotak. Alhamdulillah, cinta pada Quran mampu menggerakkan hati orang2 yang diberi titipan harta lebih banyak.
Mereka bahkan membawa orang tua dan anak-anak untuk ikut hadir membela Al-Qur’an yang dinista oleh Ahok. Dan untuk memberikan bakti dan sayang terbaik, mereka menginap di hotel berbintang di kawasan sekitar Monas.
“Pas check in di Aryaduta, banyak yang datang malam itu (malam Jum’at). Kami saling lihat satu sama lain. Saya berusaha menyembunyikan maksud hati bahwa sayanginep dengan membawa 2 ortu dan 4 anak hanya untuk ikut aksi 212. Sepertinya mereka pun demikian,” tulis Mukti mengutip kisah temannya yang menginap di Hotel Aryaduta Cikini Jakarta.
Kisah ini semakin menambah daftar panjang mereka yang tergerak hatinya. Bahkan dalam aksi 411 lalu, ada seorang pengusaha yang melaporkan Ahok ke Bareskrim Polri karena menuduh peserta aksi dibayar 500 ribu rupiah. Pasalnya, laki-laki pelapor itu membawa cincin yang harganya 600 juta rupiah.[4]

Referensi

  1. https://bangka.tribunnews.com/2016/12/06/kapolri-bingung-jutaan-peserta-aksi-super-damai-212-hilang-bagai-ditelan-bumi
  2. http://bangka.tribunnews.com/2016/12/04/kumandang-azan-saat-aksi-super-damai-212-menggetarkan
  3. https://eramuslim.com/berita/nasional/kesaksian-peserta-aksi-212-soal-harum-semerbak-di-bawah-hujan.htm
  4. http://www.tarbawia.com/2016/12/profil-peserta-aksi-212-naik-bmw-hingga.html?m=1
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s