Toleransi Tetap Ada Batasannya, Bung…

img_20161219_055904

Perayaan Natal bagi ummat Kristiani semakin dekat. Berbagai sikap toleransi ditunjukkan oleh ummat Islam Indonesia yang menjadi mayoritas termasuk tidak melanggar batas-batas akidah seperti memakai atribut natal.

Namun peraturan yang telah difatwakan oleh MUI yang berisi tidak boleh adanya pemaksaan penggunaan atribut natal bagi karyawan muslim seperti yang terjadi pada tahun yang lalu ternyata harus terulang pada tahun ini. Perusahaan Bengkel Resmi Honda cabang Jati Asih Bekasi termasuk salah satu pihak yang melanggar peraturan tersebut. Pihak manajemen telah dianggap melakukan pemaksaan terhadap perayaan agama Kristen.

Seperti dikutip dari akun Ketua Himpunan Muallaf Indonesia Hanny Kristianto pada Selasa (13/12), pihak manajemen Honda Mitra Jatiasih terbukti melakukan pemaksaan atribut natal bagi karyawan muslim. Menurutnya, tindakan tersebut adalah makar, yaitu maksa karyawan.

“Ini MaKar terhadap ummat MaKar = Maksa Karyawan,” ujarnya.

Berikut info yang dapat dari salah seorang pelanggan perusahaan tersebut:

“Saya dapat laporan bahwa Honda Mitra Jatiasih (PT. Istana Mitra Sendany) yang beralamat di Jl. Raya Jatiasih, Gg Durian no 2, No. 258 telah melakukan pemaksaan bagi kaum muslim untuk menggunakan simbol topi sanbenito atau topi Natal. Info tersebut saya dapat melalui whatsapp saya: “Saudara saudari Islam kita dipaksa untuk memakai topi santa. Assalamuallaikum warahmatullahi wabarakatuh. Akhi dan Ukhti, pada hari ini sabtu (11/12), saya mampir ke Bengkel Honda Jatiasih, namun ghirah Islam ini muncul saat saya lihat karyawan muslimah yang mengenakan hijab tapi menggunakan atribut natal seperti topi santa claus.

Saya langsung mencari manajer namun tidak ada di tempat. Menurut yang saya dapat dari karyawan, disana ada 10 orang muslim dan muslimah yang menjabat sebagai front office (FO) yang wajib mengenakan topi santa. Mereka kemudian dipantau dari kamera CCTV. Bila tidak memakai topi santa maka akan dikenakan sanksi Rp 200.000,-/hari.

Akhirnya saya dan adik saya mencoba mengingatkan pemilih dan manajemen perusahaan dengan melayangkan surat keberatan atas kebijakan tersebut yang menurut saya telah melanggar syariat Islam dan hak asasi manusia (HAM).

Mohon pencerahan apa solusi yang tepat untuk dapat membantu saudara dan saudari kita yang bekerja disana. Mereka sangat ingin melepas atribut tersebut dan berharap bantuan dari luar. Karena dari dalam tidak dapat merubah kebijakan perusahaan itu. Jazakumullah Khair.”

Seperti diketahui, natal dan sinterklas sudah diakui bukanlah ajaran gereja, Natal adalah salah satu bentuk penyembahan terhadap berhala. Sedangkan Sinterklas adalah bentuk pembohongan terhadap anak usia dini. Natal juga dianggap sebagai hari kelahiran Yesus, padahal Yesus tidak lahir di musim dingin bersalju.

“Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak”. Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar ! (QS. Maryam 88 – 89)

Faktanya, jilbab adalah salah satu kewajiban yang terdapat dalam kitab injil.

Dalam postingannya tersebut, Hanny berharap agar perusahaan Honda Jati Asih dapat menjaga toleransi antar ummat beragama dengan tidak memaksaan nilai agama Kristen kepada karyawan muslim.

“Semoga Honda Jati Asih bisa memperbaiki diri dan segera mengubah aturan yang sangat provokatif tersebut. Karena hal merupakan tindakan intoleransi yang dapat merusak harmonisasi kehidupan berbangsa serta dapat mencederai kerukunan antar umat beragama dalam bingkai NKRI,” ujarnya.

Seperti dikutip dari akun Ketua Himpunan Muallaf Indonesia

Klik saja

img_20161220_163416

Klik saja


Diselesaikan dengan Damai

Karyawan yang bekerja di perusahaan Honda Jatiasih, Bekasi, Jawa Barat, memaksa karyawan yang beragama Islam memakai atribut Natal. Ada sebanyak 10 orang karyawan Muslim dipaksa memakai topi santa.

Melalui akun twitter @DPP_FPI kronologi kejadian itu disampaikan.

Klik saja

Klik saja


Terkait dengan pemakaian atribut natal bagi muslim/muslimah, Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah mengeluarkan fatwa haram. Diharapkan negara bisa menjamin kebebasan beragama di Indonesia.

Fatwa MUI

img_20161219_060727

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa tentang hukum menggunakan atribut keagamaan non-muslim. Hal ini terkait masih ramainya pengusaha yang memaksa karyawannya mengenakan atribut keagamaan jelang peringatan natal dan tahun baru.

Fatwa tersebut dikeluarkan oleh Komisi Fatwa MUI tanggal 14 Desember 2016, Nomor 56 tahun 2016 dan ditandatangani oleh Ketua Komisi Fatwa MUI, Prof. Dr. H. Hasanuddin AF, MA dan Sekretaris DR. HM. Asrorun Ni’am Sholeh, MA.

Dua pertimbangan dari fatwa tersebut adalah adanya toleransi yang tidak pada tempatnya dan pemaksaan dari pengusaha atau pejabat.

“Bahwa di masyarakat terjadi fenomena di mana saat peringatan hari besar agama non-Islam, sebagian umat Islam atas nama toleransi dan persahabatan, menggunakan atribut dan/atau simbol keagamaan nonmuslim yang berdampak pada siar keagamaan mereka”.

“Bahwa untuk memeriahkan kegiatan keagamaan non-Islam, ada sebagian pemilik usaha seperti hotel, super market, departemen store, restoran dan lain sebagainya, bahkan kantor pemerintahan mengharuskan karyawannya, termasuk yang nonmuslim untuk menggunakan atribut keagamaan dari non-muslim”.

Komisi Fatwa MUI memutuskan bahwa menggunakan atribut keagamaan hukumnya “haram” termasuk mengajak atau memerintahkan pemakaiannya.

Berikut bunyi lengkap ketetapan fatwa tersebut.

FATWA TENTANG HUKUM MENGGUNAKAN ATRIBUT KEAGAMAAN NON-MUSLIM

Ketentuan Umum

Dalam fatwa ini yang dimaksud dengan:

“Atribut keagamaan adalah sesuatu yang dipakai dan digunakan sebagai identitas, ciri khas atau tanda tertentu dari suatu agama dan/atau umat beragama tertentu baik terkait keyakinan, ritual ibadah maupun tradisi dari agama tertentu”.

Ketentuan Hukum

1. Menggunakan atribut keagamaan non-muslim adalah haram.
2. Mengajak dan/atau memerintahkan penggunaan atribut keagamaan non-muslim adalah haram.

Rekomendasi

1. Umat Islam agar tetap menjaga kerukunan hidup antar umat beragama dan memelihara harmonis kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tanpa menodai ajaran agama, serta tidak mencampuradukkan antara akidah dan ibadah Islam dengan keyakinan agama lain.

img_20161219_060636

Islam Melarang Menghina Tuhan Agama Lain

Sebagai agama yang haq dan paripurna, Islam mengatur seluruh urusan. Termasuk dalam aturan Islam ialah larangan mencaci maki, menghina, mengolok-olok atau menjelek-jelekkan sesembahan penganut kepercayaan lain.

Saking pentingnya perkara ini, Allah Ta’ala sendiri yang mengaturnya sebagaima disebutkan dalam Firman-Nya yang mulia.

“Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.”(Qs al-An’am [6]: 108)

Ayat ini diturunkan terkait tindakan beberapa kaum Muslimin generasi awal yang mencaci maki sesembahan orang-orang kafir Quraisy. Orang-orang kafir Qursaisy pun berkata, “Hai Muhammad, engkau hentikan makianmu terhadap sesembahan-sesembahan kami, atau kami akan mencaci maki Rabbmu!”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam pun melarang kaum Muslimin menghina sesembahan-sesembahan orang kafir, lalu Allah Ta’ala menurunkan surat al-An’am [6] ayat 108 ini.

Keterangan lainnya menyebutkan, dahulu kaum Muslimin mencaci berhala-berhala orang kafir, lantas mereka melakukan balasan dengan menghina Allah Ta’ala secara berlebihan tanpa sedikit pun bekal pengetahuan di dalam dirinya.

Ketika menafsirkan ayat ini, Imam Ibnu Katsir Rahimahullahu Ta’ala menjelaskan, “Allah Ta’ala melarang Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam dan orang-orang yang beriman untuk mencari maki sesembahan-sesembahan kaum musyrik, meski cacian itu mengandung kemaslahatan.”

Alasan pelarangnnya, masih merujuk kepada penjelasan beliau dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, “(Karena mencaci maki sesembahan orang kafir) menimbulkan kerusakan yang lebih besar dari kemaslahatan itu sendiri.”

Hinaan dan cacian sebagian kaum Muslimin terhadap sesembahan-sesembahan kaum kafir bisa menjadi pemicu bagi orang kafir untuk menghina Allah Ta’ala, padahal Dia Mahasuci dan Mahamulia.

Satu ayat ini saja sudah menjadi bukti bahwa Islam merupakan agama yang sangat sempurna. Kita tidak diperkenankan menghina sesembahan-sesembahan orang kafir atau kepercayaan lainnya demi menjaga kemuliaan Allah Ta’ala.

Namun demikian, mereka tetap berhak mendapatkan sentuhan dakwah. Mereka harus diingatkan bahwa jalan yang ditempuh itu keliru. Mereka harus diberitahu bahwa ujung dari penyembahan kepada selain Allah Ta’ala ialah neraka yang amat berat dan mengerikan siksanya.

Toleransi itu Ada Batasnya

Islam meyakini bahwa wajib berbuat adil dalam segala hal, termasuk dalam berinteraksi dengan non-Muslimyang hidup dalam negara Muslim yang menjamin keamanan setiap penduduknya. Bahkan tidak boleh berbuat zhalim sekalipun kepada non-Muslim. Dengan kata lain tidak boleh menyakiti dan mengganggu mereka tanpa hak, apalagi meneror atau sampai membunuh. Inilah bentuk toleransi yang indah yang diajarkan oleh Islam.

Namun, toleransi tentu ada batasannya. Dalam hal ibadah dan ideologi tentu tidak ada ruang untuk toleransi. Bahkan jika kita mau jujur, tidak ada satupun agama yang mau memberi ruang kepada pemeluknya untuk meyakini aqidah agama lain, atau beribadah dengan ibadah agama lain. Jelas termaktub dalam Al Qur’an:

“Untukmu agamamu, dan untukku, agamaku” (QS. Al Kafirun: 6).

Bahkan sebagai upaya untuk menjaga aqidah umat Islam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang umat Islam mengenakan simbol-simbol agama lain. Ketika beliau melihat Adi bin Hatim yang mengenakan kalung salib, beliau mengatakan,

“Wahai ‘Adi buang berhala yang ada di lehermu” (HR. Tirmidzi no. 3095).

Dan bagi kaum Muslimin, masalah ini bukanlah masalah khilafiyah, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak boleh kaum muslimin menghadiri perayaan non muslim berdasarkan ijma para ulama”.

Oleh karena itu, terhadap karyawan muslim, pemaksaan penggunaan atribut-atribut yang identik menyemarakkan Natal, seperti pakaian Sinterklas, topi sinterklas, bando rusa, semacamnya ini, juga pemaksaan salam “Merry Christmas”, tidak sesuai dengan aqidah Islam dan telah menerobos batasan toleransi dalam beragama. Sekalipun jika para karyawan tersebut merasa tidak keberatan, karena mereka mungkin belum mengetahui hukum Islam dengan baik dan belum memahami konsep toleransi beragama yang benar.

Kita dibolehkan bermuamalah kepada non-Muslim dengan baik tanpa kezaliman, kekerasan, terorisme, namun di sisi lain juga tidak kebablasan dalam bertoleransi dan tetap menjaga aqidah Islam dengan kuat, tidak memberikan ruang toleransi dalam aqidah dan ibadah.

Apakah kita lebih takut pada atasan kita dibanding Tuhan-nya alam semesta? Jangan takut apalagi malu untuk berkata: Islam punya prinsip!

Referensi

Iklan

2 responses »

  1. […] Panglima Laskar Front Pembela Islam (FPI) Maman Suryadi menyatakan pihaknya tidak melakukan sweeping… […]

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s