Pro dan Kontra Minimarket

Kehadiran minimarket menjadi pro kontra di pelbagai daerah. Sampai-sampai ada fatwa haram untuk pemberian izinnya. Namun, gerai-gerai minimarket terus bertumbuh, bahkan saling berdekatan.

Pita kuning, biru, dan merah yang menjulur merintangi sebuah pintu kaca akhirnya terjuntai putus setelah pria berseragam lengkap polisi menggenggam sebilah gunting sambil berdiri tepat di depan pintu. Senyum pun tersungging dari bibir sang tamu istimewa hari itu, dengan jepretan kamera tak henti-hentinya bersahutan.

Ini bukan peresmian kantor pemerintahan, tapi sebuah seremoni pembukaan gerai minimarket Indomaret oleh Kapolres Enrekang awal November 2016 lalu, yang sempat ditolak warga. Acara seremoni semacam ini sudah lazim beberapa daerah, pejabat setingkat bupati seperti daerah Sintang, Lombok Timur, Minahasa Utara rela meluangkan waktunya untuk sekadar jadi penggunting pita anyar gerai minimarket.

Lain kepala daerah, lain kebijakan. Minimarket di Enrekang  masih mendapatkan izin membuka gerai, tetapi untuk daerah seperti Sumatera Barat, termasuk Kota Padang, jangan harap gerai-gerai berukuran maksimal 400 meter persegi ini bisa terbangun. Terlarang!

Selama hampir 30 tahun kehadirannya, minimarket tak hanya menyuguhkan barang-barang kelontong dan menjadi pesaing kuat toko tradisional. Minimarket telah bertransformasi jadi solusi konkret bagi masyarakat seperti layanan praktis dari urusan membeli pulsa, membeli voucher listrik, tiket kereta hingga pesawat dan lainnya.

Minimarket seolah kini hadir tanpa pesaing. Warung-warung kecil, kelontong kelas menengah, semuanya dilibas. Musuh utama minimarket kini adalah toko-toko online. Banyak yang  memprediksi minimarket dalam 10 tahun mendatang bakal “hilang” karena tergantikan dengan perkembangan toko-toko onlineyang makin marak. Namun, para pengusaha minimarket  sudah mulai penyesuaian mengatasi perkembangan zaman. Misalnya  Alfaonline.com sebagai toko online Alfamart sejak 2013. Mereka juga tetap berekspansi melebarkan jejaring di tahun depan.

“Kita masih akan tetap ekspansi, di daerah-daerah yang masih diizinkan. Seperti di Sumatera selain Padang kita terus ekspansi,” kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Tutum Rahanta kepada Tirto.id.

Dengan ekspansi masif, gerai ritel minimarket menjamur dengan pelbagai merek nasional hingga bendera lokal. Namun dari sekian minimarket, ada dua nama yang terus menggurita, Indomaret dan Alfamart. Dua minimarket ini sering berhadapan, bersebelahan bak sejoli, hingga saling mengepung kota hingga desa seperti para “serdadu” toko kelontong.

“Apabila di suatu lokasi sudah berdiri minimarket Alfamart atau yang lainnya bisa dipastikan di lokasi tersebut memiliki potensi pasar yang bagus dan lolos uji kelayakan bisnis. Artinya, jika minimarket lain ingin menambah toko di lokasi tersebut maka mereka tidak perlu melakukan riset serupa,” jelas Alfamart dalam keterangan resminya dipacak dari laman alfamartku.com.

img_20170103_222948

Indomaret sebagai yang lebih senior misalnya, pada 2013 sudah menancapkan kukunya dengan sebaran 8.834 gerai, dalam dua tahun gerai bisnis ritel Grup Salim ini sudah tumbuh hampir 40 persen dengan 12.210 gerai di 2015.

Bagaimana dengan Alfamart? Ada 9.302 gerai yang berdiri hingga 2013 lalu, saat itu jumlah gerai Alfamart, jelas mengalahkan Indomaret. Namun, untuk hal pertumbuhan, gerai dengan kelir dominan warna merah kuning tumbuh tak sampai 20 persen selama dua tahun. Jadi, untuk jumlah gerai dan masifnya ekspansi, Indomaret lah juaranya.

Didukung dengan gerai yang lebih luas, Indomaret lebih moncer untuk urusan cuan. Tahun lalu mereka mampu membukukan laba hingga Rp758 miliar atau tumbuh 23 persen. Berkebalikan dengan Alfamart pada tahun yang sama hanya mencatatkan laba Rp464 miliar, turun 24 persen dari 2014.

Naik turun dalam bisnis satu hal yang biasa, tapi yang tak biasa bagi peritel seperti Indomaret, Alfamart, dan lainnya dihadapkan persoalan perizinan di daerah yang tak mudah. Ketentuan perizinan toko modern oleh pemerintah daerah, soal zonasi, hingga memperhitungkan kondisi sosial ekonomi masyarakat, keberadaan pasar tradisional, usaha kecil di wilayah setempat terkait pendirian toko modern diatur jelas Peraturan Presiden (Perpres) No. 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern

Persoalan izin ini lah yang akhirnya berbuntut masalah di lapangan. Tak jarang beberapa daerah melakukan penertiban karena pelanggaran izin. Masih ingat upaya penertiban minimarket di DKI Jakarta pada 2011 di era Gubernur Foke?

Pada waktu itu Pemda DKI sempat mirilis data yang sangat mencengangkan, dipacak dari laman Antara, dari verifikasi ada total 2.162 minimarket di Jakarta, hanya 67 minimarket yang memiliki izin lengkap dan 2.095 minimarket melanggar Perda No 2 tahun 2002 tentang Perpasaran Swasta dan Ingub No 115 tahun 2006 tentang Penundaan Perizinan Usaha minimarket.

Rinciannya, sebanyak 1.383 minimarket tidak memenuhi kelengkapan persyaratan pendirian minimarket dan 712 minimarket yang sama sekali tidak mempunyai izin. Sebanyak 131 minimarket dari total 712 minimarket yang tidak berizin, lokasinya berjarak kurang dari 500 meter dari pasar tradisional, rangkap pelanggaran.

Bagaimana sekarang? Kenyataannya minimarket di Jakarta masih tetap ada. Ini karena pada 2012, lahir Instruksi Gubernur (Ingub) DKI Jakarta No.7 tahun 2012 tentang Pencabutan Penundaan Perizinan Minimarket di Jakarta pada 12 Januari 2012. Salah satunya mengatur agar memproses perizinan “pemutihan” bagi minimarket pada waktu itu yang bermasalah pada izin. Meski sebagian dalam jumlah kecil diperintahkan harus ditutup karena lokasinya terlalu dekat dengan pasar.

DKI Jakarta hanya contoh kecil persoalan gurita minimarket sempat bermasalah, dan itu masih banyak terjadi di daerah hingga sekarang. Belum lama ini, Pemerintah Kota Tomohon, Sulawesi Utara menghentikan sementara mengeluarkan izin pembangunan minimarket. Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara juga melakukan hal serupa, dan banyak daerah lainnya.

PWNU Jawa Tengah Haramkan Ijin Toko Modern, Biasakan Belanja di Warung Tetangga

Pertemuan ulama, tokoh, dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menghasilkan putusan fatwa haram terhadap izin pendirian toko berjejaring atau modern. Kegiatan yang dilaksanakan di Pondok Pesantren (Ponpes) AlAsnawi, Bandongan, Kabupaten Magelang tersebut menilai pemberian izin toko modern ini berdampak buruk terhadap pasar tradisional ataupun toko kelontong masyarakat.

Dilansir dari radarjogja.co.id Rais Syuriah PBNU KH Said Asrori, fatwa tersebut diputuskan melalui musyawarah hukum Islam (bahtsul masail) berdasarkan keresahan jamaah melihat realitas di masyarakat.

“Pasarpasar tradisional yang menyangga ekonomi kerakyatan mulai tergusur oleh pasarpasar modern. Yang notabene milik para jutawan atau miliarder. Sehingga terjadi kesenjangan ekonomi,” KH Said Asrori.

Pria yang akrab disapa Gus Said ini menilai kalau kondisi ini dibiarkan oleh pemerintah, atau bahkan izinnya tidak dibatasi, bisa berbahaya.

“Bisa menjadi bom waktu bagi masyarakat. Karena itu, para kiai bermusyawarah atau bahtsul massail untuk mengkajinya,” tuturnya.

Setelah mengeluarkan fatwa itu, NU akan menyampaikan nota agar pemerintah membuat regulasi yang berkeadilan dan melindungi kelompok usaha maupun warungwarung kecil. NU akan gelorakan kampanye “Ayo Belanja di Warung Tetangga”. Hal ini agar masyarakat sadar tentang pentingnya perputaran uang dikawasan mereka, tidak disedot keluar oleh korporasi. “Apalagi dengan UU nomor 6 tentang desa, dimana desa sebagai subyek pembangunan Desa Membangun. Maka kesadaran tentang pentingnya peredaran uang di desa menjadi bagian dalam upaya penguatan ekonomi desa,” jelas Wakil Ketua PCNU Kabupaten Magelang Ahmad Majidun.

Menurut Majidun, meski terlambat keputusan PWNU merupakan langkah yang bagus. Pemerintah harus menjamin sistem ekonomi berkeadilan. Jangan dibiarkan korporasi mengambil semua ruang usaha.

“Harus ada regulasi yang adil dan melindungi usaha kecil. Termasuk usaha perorangan agar punya ruang usaha yang sehat. NU sebagai organisasi sosial keagamaan, yang anggotanya

kelompok ekonomi lemah, harus memperjuangkan perlindungan terhadap kelompok usaha kecil. Termasuk juga sektor informal,” pintanya.

Majidun mengajak untuk melihat contoh di Pasar Rejowinangun, Kota Magelang sekarang sepi. Kosong melompong. Ratusan pedagang yang dulu hidup di pasar itu, sekarang tutup karena kalah bersaing dengan mal.

“Uang di desa ditarik dan diambil oleh korporasi besar. Ini sistem ekonomi yang tidak adil,” tegasnya.

Diikuti Muhammadiyah

Fatwa dari  Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah menghasilkan yang mengharamkan belanja di toko berjejaring atau modern juga bakal diikuti Ormas Muhammadiyah. Saat ini, ormas yang banyak menaungi masyarakat di perkotaan tersebut juga mengeluhkan adanya ketidakadilan ekonomi dari toko berjejaring.

Bahkan, Pengurus Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIJ sudah menerbitkan surat rekomendasi ke Pemkab Sleman untuk menata toko modern. Ini dilakukan karena keberadaan toko modern ini mematikan ekonomi masyarakat kecil.

”Dalam berbagai ceramah, dai-dai dari Muhammadiyah juga telah kami minta untuk tidak belanja di toko berjejaring,” ujar Ketua PWM DIJ Gita Danu Pranata.

Gita menegaskan, secara sikap, Muhammadiyah sama dengan NU. Mereka tetap menolak keberadaan toko modern. Terutama yang tempatnya berdekatan dengan perkampungan. Itu yang langsung berdampak di masyarakat. Toko-toko kecil mati karena kalah bersaing.

”Untuk fatwa, itu berada di Majelis Tarjih. Sekarang, aksi yang bisa kami lakukan,” tandasnya.

Aksi yang dimaksud tersebut, lanjut Gita, selain memberikan masukan ke pemerintah daerah, pihaknya tengah merumuskan untuk membuat sebuah supermarket. Barang dagangan dari supermarket ini, bisa disalurkan ke toko-toko kecil milik masyarakat. Ini agar mereka (toko-toko) kecil tersebut tetap bisa bersaing dengan toko berjejaring yang menjamur.

”Sekarang masih kami godok terus bentuknya yang paling pas,” tambahnya.

Seperti telah diketahui, pertemuan ulama NU  di Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Asnawi, Bandongan, Kabupaten Magelang membahas tentang keberadaan toko berjejaring. Rais Syuriah PBNU KH  Said Asrori, fatwa tersebut diputuskan melalui musyawarah hukum Islam (bahtsul masail) berdasarkan keresahan jamaah melihat realitas di masyarakat.

“Pasar-pasar tradisional yang menyangga ekonomi kerakyatan mulai tergusur oleh pasar-pasar modern. Yang notabene milik para jutawan atau miliarder. Sehingga terjadi kesenjangan ekonomi,” KH Said Asrori.

Alasan Walikota Padang atas Gerakan Boikot Alfamaret dan Indomaret

PicsArt_08-14-01.53.04

Pemerintah Kota (Pemkot) Padang, Sumatera Barat selalu berupaya meningkatkan kemajuan usaha mikro kecil serta menengah (UMKM) serta UKM di daerahnya, komitmen itu yang membuat Padang masih malas membuka pintu bagi waralaba seperti Alfamaret dan Indomaret, kendati kedua gerai itu belum pernah mengajukan izin pada Pemkot Padang.

Walikota Padang, Mahyeldi Ansharullah berujan, alasan tertutupnya pintu untuk kedua minimarket itu berkaitan dengan ekonomi daerah itu. “Kita lihat mereka, kan duit daerah investasi berbarengan. Kedua produk-produknya datang dari luar kota Padang, jadi barang kita mau di kemanakan?” kata dia pada media awal Agustus 2016.

Pemkot Padang mensyaratkan sejumlah hal jika kedua gerai itu ingin masuk ke daerahnya. Salah satunya yaitu siap mengambil produk-produk pelaku UKM serta UMKM di Kota Padang. Syarat itu, dikarenakan ada 80 ribu UKM serta UMKM di Kota Padang.

Selama ini Mahyeldi menjelaskan, Pemkot Padang mengakomodir produk UKM serta UMKM dalam instansi atau toko berbasis koperasi. Dalam perkembangannya, menurut dia, koperasi tidak pernah terganggu krisis ekonomi dan selalu berpihak kepada anggotanya. “(Usaha retail berbasis koperasi) Iya. Dengan koperasi itu, kita dapat meningkatkan kesejahteraan warga, serta UMKM dapat bersinergi“, ujarnya.

Mahyeldi membandingkan konsep koperasi akan lebih menguntungkan untuk daerah. Ia menjabarkan bahwa uang yang dihasilkan gerai Alfamaret dan Indomaret akan dibawa keluar Kota Padang. Itu berarti, memiskinkan daerahnya. Seharusnya yang perlu dipikirkan yaitu bagaimana membawa uang dari pusat ke daerah, “Sehingga kantong rakyat diisi”, imbuhnya.

Mahyeldi menyebut, konsennya Pemkot Padang pada beberapa konten lokal, sesuai dengan arahan Jokowi. Hingga ia menuturkan bahwa jika kedua gerai tiu siap mengambil produk-produk UKM dan UMKM setempat, Pemkot Padang akan mempertimbangkan kedua waralaba itu.

“Kita buat koperasi itu untuk meningkatkan daya saing serta daya tawar produk kita. Bila dikelola, koperasi bisa tembus pasa lebih luas, dapat tingkatkan kualitas produk“, ujar dia. (Media Nusantara)

Ada Alasan lain?

img_20161220_221228

Kutipan di atas adalah tulisan seorang netizen yang telah tersebar luas melalui sosial media, dan dana sebesar itu yaitu 14 miliar rupiah per-jam itu kemana? Umat harus sadar….

Cepat atau lambat, umat mulai sadar untuk meninggalkan produk-produk kafir apalabi ketika mereka mengetahui bahwa keuntungan dari produk tersebut diperuntukkan untuk memusuhi kaum muslimin.

Hitung-hitungan tersebut seharusnya menjadi bahan renungan bagi kaum mayoritas di negeri ini.

Kemana Donasi Alfamart disalurkan?

Ribut-ribut donasi di jaringan mini market Alfamart. Beberapa hari ini di sosial media netizen ribut soal donasi receh “Seratus Rupiah” (Rp 100) saat belanja di Alfamart. Beberapa netizen memperlihatkan struk belanja yang tertera donasi sukarela Rp 100.

Cobalah sedikit selidiki kebenaran beritanya…

Ternyata, Alfamart memang bekerja sama dengan “Habitat for Humanity” (HFH)

Saat Anda berbelanja di Alfamart, kasir pasti akan bertanya apakah uang kembalian Anda ingin didonasikan. Mungkin ada yang bertanya-tanya, didonasikan kemana uang tersebut? Seluruh uang receh donasi konsumen yang terkumpul dari Alfamart se-Indonesia digunakan untuk aksi kemanusiaan.

Melalui program Donasi-Ku, Alfamart mengajak konsumen turut berpartisipasi membantu sesama selain program corporate social responsibility (CSR) yang menggunakan dana perusahaan. “Bahkan sesuatu yang kecil pun dapat berarti besar bagi mereka yang membutuhkan,” ujar Corporate Affairs Director Alfamart – Solihin.e Baca selngkapnya di Link: https://finance.detik.com/advertorial-news-block/2977528/ke-sinilah-donasi-uang-receh-konsumen-alfamart-disalurkan

Sepanjang tahun 2015, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (SAT), pemilik jaringan ritel Alfamart Alfamidi telah menyalurkan donasi konsumen sejumlah Rp 33.107.626.181,- dalam berbagai aksi kemanusiaan yang melibatkan 8 Yayasan berkredibilitas baik dan berskala nasional maupun internasional. Baca selengkapnya di situs alfamart: https://alfamartku.com/news/2016/07/laporan-donasi-konsumen-alfamart-2015

Di link berita itu disebutkan salah satu penyaluran Donasi Konsumen Alfamart sebesar Rp 2 Miliar lebih adalah ke Habitat for Humanity (HFH):

[Kutipan link]:
“Alfamart juga bekerjasama dengan Habitat for Humanity Indonesia untuk merekonstruksi rumah layak huni bagi keluarga pra-sejahtera. Program bernama Kampung Alfamart ini menggunakan donasi konsumen periode 1 – 31 Mei 2015 yang terkumpul sebesar Rp 2.640.754.074.”

picsart_12-20-10-29-48 picsart_12-20-10-34-17

Maka, coba selidiki siapa pendiri “HFH” itu…?

Ternyata, pendirinya adalah seorang “biblical scholar” (ahli kitab Injil)…

[Kutipan link]:
The idea that

became Habitat for Humanity first grew from the fertile soil of Koinonia Farm, a community farm outside of Americus, Georgia, founded by farmer and biblical scholar Clarence Jordan.

picsart_12-20-10-39-19

Link info: http://www.habitat.org/about/history

img_20161220_224111

HFH juga secara jelas-jelas menyatakan adalah “ecumenical Christian housing organization” (organisasi perumahan Kristen ekumenis):

Link info: http://www.habitat.org/about/faq

[Kutipan link]
Is Habitat for Humanity a Christian organization?
Yes, we are a global nonprofit, ecumenical Christian housing organization. All who desire to be a part of this work are welcome, regardless of religious preference or background. We have a policy of building with people in need regardless of race or religion. We welcome volunteers and supporters from all backgrounds.

img_20161220_224239

Demikian informasi yang tersedia di internet.

SUDAH JELAS?

Konsumen Muslim MASIH MAU DONASI KE ALFAMART???

Saatnya UMAT ISLAM PUNYA JARINGAN MINIMARKET SENDIRI (Minimarket 212?), sehingga Donasi (Infaq Shadaqah) dari konsumen muslim juga tersalurkan untuk kemaslahatan umat dan kemajuan dakwah Islam.

Mungkin sepele “Hanya Seratus Rupiah”, tapi Rp 100 dikalikan jutaan konsumen dikalikan hari bulan tahun, maka seperti contoh Alfamart di atas: Terkumpul Rp 2 MILIAR LEBIH yang disalurkan lewat organisasi kristen HFH.

Sebelum Kalian Boikot Sari Roti, Kami Sekeluarga Sudah “Haramkan” Bahkan Juga Pada Indomaret Alfamart

picsart_12-20-10-49-42

Tuan dan puan,

Saya ingin urun rembug. Bicara langkah konkrit, secara Pribadi sudah saya lakukan sampai hari ini.

Sebelum sari roti kita boikot, saya sudah larang anak isteri saya beli sari roti dan Sara lee. Di awal mereka mulai bisnisnya. Kenapa? Karena mereka pemain besar.

Bahkan ketika indomaret & alfamart mulai muncul, hampir saya haramkan Keluarga saya beli apapun di situ. Kenapa? Karena minimarket adalah bisnis yang langsung menghancurkan fondasi Ekonomi rakyat.

Maka ketika saya bekerja di Dompet Dhuafa (DD), saya bukan hanya melarang DD belanja ke mini atau Hypermart. Kenapa? Jangan sampai uang berputar hanya di antara kalangan kaya (konglomerat) yang itu-itu juga.

Saya larang pula ACT (LSM Aksi Cepat Tanggap) di awal dulu, untuk belanja di carefour dll. Kenapa? Rakyat pun harus terima perputaran uang ZISWAF.

Jika kita tak ijtihad, Maka orang miskin hanya terima barang. Yang notabene adalah produk mereka juga. Korban bencana dan fakir miskin, harus terima perputaran ZISWAF. Untuk itulah fungsi keberadaan amil zakat ada.

Masih ingat dengan “Politik Benteng” yang digagas Soemitro Djojohadikoesoemo? Bapaknya Prabowo ini menegaskan, bahwa perusahaan besar tak boleh masuk ke pasar di kecamatan.

Thailand dan Malaysia memakai Politik Bentengnya Soemitro. Hasilnya Thailand melejit.

Malaysia pun keluarkan strategi New Economic Policy. Hasilnya, lihat bumiputera diprotek dan kini jadi juga sebagai pengusaha-pengusaha besar.

Di Indonesia? Sekarang minimarket bahkan sudah merambah di ujung-ujung pelosok negeri. Desa yang seharusnya pusat produksi, kini malah jadi pasar perusahaan-perusahaan besar. Uang desa pun akhirnya tersedot.

Sampai hari ini saya bertahan untuk tak belanja pada barang atau Toko yang hancurkan rakyat. Saat saya di DD,

Kita buat mini market juga. Masya Allah saya sampai lupa apa namanya. Mungkin Jamil Azzaini dan Ahmad Juwaini, masih ingat namanya. Lepas dari kurang berkembangnya minimarket Itu.

Sampai hari ini saya terus bergerak di akar rumput. Sekarang tawarkan kan pada siapapun untuk bangun LUMBUNG DESA.

Mengapa Lumbung Desa? Sebab Indonesia total punya 82 ribu desa. Sebanyak 71 ribu desa, kini dalam kondisi miskin kin kin… Inilah hasil kebijakan Yang entahlah…

Mulai 2017, saya mulai tawarkan Pelatihan Bagaimana Membuat Program Masterpiece.

Seperti program THK, itu tidak tiba-tiba muncul begitu saja. Begitu juga dengan BMT, ACT, LKC dll. Program-program yang kini menginspirasi berbagai lembaga zakat, ini lah yang ditawarkan untuk dilahirkan, siapapun Kita dan lembaga yang ingin BERBUAT NYATA Pasti saya akan colek dan sekarang sedang dicolek Kang Harlan, apakah FSS mau kerja sama utk pelatihan itu.

Kita memang harus berjamaah untuk BERDIKARI. Dan dana ZISWAF telah buktikan, kita bisa untuk merealisasikan. Tinggal apakah Kita mau MAN JADDA WAJADA (‘Barangsiapa yang bersungguh-sungguh maka dia akan berhasil”) Atau….

Saya sudah mundur dari DD sejak 2003. Tapi sampai Hari ini saya masih di pemberdayaan. Saya anggap ini juga dakwah. Saya anggap ini hidayah. Sampai Akhir Hayat Saya ingin tetap berada dalam barisan ini.

Pelaku Mini Market Tak Peduli

Dari semua tantangan itu, pelaku minimarket seolah tak peduli, mereka tetap fokus ekspansi. Alfamart misalnya selain fokus ekspansi di dalam negeri, mereka melanjutkan ekspansi di Filipina. Indomaret, tetap optimistis dengan memasang target pertumbuhan omzet hingga 20 persen. Mereka juga akan menambah jumlah outlet di daerah baru seperti Ambon, Kendari dan wilayah timur Indonesia di 2017. Ini membuktikan minimarket mampu bertahan di tengah hadangan, karena mereka memang dibutuhkan.

Minimarket juga bertahan karena jurus “rahasia” bisnis ritel, yakni impulse buying, yaitu kala konsumen berbelanja tak hanya berdasarkan kebutuhan, tetapi juga berdasarkan keinginan. Misalnya saat seseorang sedari rumah hanya berniat beli satu buah pasta gigi, tapi saat di gerai minimarket akhirnya kepincut membeli makanan ringan yang menggoda mata.

Ini tak akan terjadi bila tak ada jejeran rak barang dagangan yang tersaji apik, lengkap, dan suasana nyaman. Ditambah strategi mereka terus saling berjejer berdekatan di pelbagai tepian jalan. Dan ini sudah lama dilakukan oleh duo rival Indomaret dan Alfamart.

Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s