Kesaksian istri

Hari rabu malam (21 Desember 2016) ±pukul 12.10 WIB. Kediaman kami di Ngasinan, Grogol, Sukoharjo, tiba-tiba kedatangan tamu yang memang membuat kami berdebar hati.

Pintu gerbang didorong-dorong, dan berteriak-teriak, “Buka!!”

Suami saya (Ranu Muda Adi Nugroho) bangun dari tempat tidur dan bersegera membuka pintu. Tapi sebelum itu suami menyalakan lampu dan ketika akan mengambil kunci pintu, ada polisi yang bilang “Jangan Bergerak” atau “diam di tempat”, saya kurang dengar karena masih di kamar bersama anak-anak.

Akhirnya, saya bangun dan anak pertama saya juga ikut bangun. Anak pertama kami menyaksikan Abinya diborgol, ada banyak polisi. Yaa, Allah….

Akhirnya suami disuruh masuk ke dalam yang sebelumnya keluar, disuruh mengambil bukti-bukti yang kemarin dipakai. Putri saya, saya suruh masuk dan tidur, dia takut seperti mau menangis melihat Abinya dibegitukan.

Ada salah satu polisi yang tidak berseragam, omongannya menurut saya kasar. Salah satu polisi bertanya kepada suami, suami menjawab malah dimarahi, “ngrusak tatanan” begitu dia bilang.

Polisi yang masuk rumah semua tidak berseragam hanya memakan rompi hitam dan seperti bau rokok dan badannya besar – besar.

Rumah dikepung dengan polisi berseragam dan mobil besar hitam entah ada berapa. Beberapa polisi ramah karena suami mau bekerjasama, hanya polisi yang tadi yang terus memarahi suami. Surat penangkapan tidak diberikan di awal tetapi ketika semua barang bukti dibawa, baru diperlihatkan tidak diberikan “Besok kami kirim,” katanya.

Sampai suami digiring ke mobil, putri saya keluar menyaksikan mobil yang membawa Abinya pergi dan bertanya, Umi, kemana Abi? “Liputan”, jawab saya.

Hal ini membuat saya cemas, karena ketika dibawa polisi suami saya hanya pakai kaos lengan pendek dan celana futsal. Suami ingin ganti baju dan ke toilet tapi tidak boleh. Ya, Allah..

Tulisan ini saya buat sesuai dengan apa yang saya lihat dan saya dengar. Insya Allah.
Semoga Allah menolong umatnya yang membela agamaNya, melakukan amar ma’ruf nahi munkar demi tegaknya Islam.
Allahu Akbar!

Surakarta, 22 Desember 2016
(Materai 6000)
(Nuraini)

Dianggap Ikut Propaganda Sweeping Solo, penangkapan dinilai tak manusiawi

Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) menilai penangkapan terhadap Ranu Muda Adi Nugroho tak manusiawi. Pria yang berprofesi sebagai jurnalis Panji Mas itu ditangkap tim Resmob Jatanras Polda Jateng pada Kamis (22/12) dini hari.
    

Penangkapan tersebut lantaran Ranu diduga terlibat dalam kasus sweeping dan tindak kekerasan di Social Kitchen, sebuah resto di Banjarsari, Solo pada Ahad (18/12) dini hari.
    

“Penangkapannya itu sungguh sangat tidak manusiawi, dia dibawa belum dengan pakaian tak rapi, izin ke toilet saja tidak boleh, lebih lagi penangkapan dilakukan di depan anak-anaknya,” tutur

Ketua tim Advokat dari Peradi Surakarta untuk terduga pelaku sweeping, pengrusakan dan tindak kekerasan di Social Kitchen, Kadi Sukarna.dikutip dari Republika, Jumat (23/12/16).
    

Ranu Muda ditangkap di kediamannya di Dukuh Ngasinan, Kwarasan, Grogol, Sukoharjo. Kendati demikian, dari penangkapan terhadap kliennya itu dia menilai terdapat tuduhan yang berbeda dengan kliennya yang lain yang ditangkap terkait dugaan kasus di Social Kitchen.
    

Menurut Kadi, pengangkapan yang dilakukan terhadap Ranu seperti penangkapan terhadap terduga teroris. Hingga saat ini, Polda Jateng belum memberikan keterangan jelas atas penangkapan Ranu Muda kepada pihak keluarga.
    

“Kami kok menerima indikasinya ada nuansa teroris, ini dari kepolisian masih tertutup belum ada komunikasi. Kalau yang penangkapan sebelumnya kan jelas tuduhan dan tujuannya,” kata Kadi. Hingga saat ini, berdasarkan keterangan Kapolda Jateng, Irjenpol Condro Kirono di Solo kemarin, polisi telah menangkap 8 orang yang diduga terlibat sweeping dan aksi kekerasan di Social Kitchen. Dimana sejumlah pelaku yang ditangkap merupakan tokoh dari ormas kemasyarakatan di Solo.
    

Diketahui, sweeping dan aksi kekerasan terjadi lantaran ormas tak terima resto tersebut menggelar tarian striptis. Sementara itu, menurut Kadi, hingga saat ini tim advokat beserta keluarga kesulitan untuk berkomunikasi dengan klien-kliennya yang telah dibawa ke Markas Polda Jateng.
 

“Benar kami dari advokat bahkan keluarga susah sekali untuk menemui, dilarang terus, bahkan keluarga untuk memberikan baju ganti saja tidak boleh,” tuturnya.

Kadi mengatakan tim advokat dari Peradi Solo akan terus mendampingi klien-kliennya yang diduga terlibat kasus tersebut. Terdapat 7 pengacaran yang telah bergabung untuk melakukan pendampingan. Sedang dia mengatkan dari kliennya yang ditangkap itu 7 orang telah ditetapkan sebagai tersangka.

Polisi Mengaku Punya Barang Bukti

Selain Ranu Muda, jelas kabidhumas, dua tersangka lain yang ditangkap masing- masing berinisial YM serta M. Pada penangkapan ke-tiga tersangka ini, lanjutnya, polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti dari rumah para tersangka.

Barang bukti ini diduga memiliki keterkaitan dengan aksi sweeping yang dilakukan para tersangka di Social Kitchen, Ahad (18/12). “Beberapa barang bukti yang dimaksud antara lain handphone (HP), kamera, laptop serta pakaian serta atribut yang dikenakan pada saat aksi sweeping,” kata dia.

Kapolri: Sebanyak Mungkin Lakukan Penangkapan!

M dan Y ditangkap polisi pada Rabu dini hari. Tak lama tim kepolisian melakukan penangkapan terhadap seorang wartawan Muslim, Ranu Muda di kediamannya pada Kamis dini hari.

Sebelumnya, polisi sudah menangkap lima aktivis Muslim Surakarta yakni Edi Lukito (Ketua LUIS), Joko Sutarto (Advocat LUIS), Endro Sudarsono (Humas LUIS), Yusuf Suparno (Sekretaris LUIS), dan Salman Alfarisi (aktivis LUIS).

Dengan tertangkapnya dua orang lagi tersangka, maka total tersangka di kasus tersebut ada tujuh orang dan penanganan kasusnya dilakukan oleh Polda Jawa Tengah.

Seluruh tersangka dijerat Pasal 135 dan 170 KUHP, soal penganiayaan dan pengeroyokan secara bersama-sama dengan ancaman diatas lima tahun penjara.

“‎Untuk yang di Solo, tadi malam ada lagi yang ditangkap dua orang. Jadi semua total ada tujuh tersangka. Saya perintahkan Kapolda Jawa Tengah untuk kembangkan terus,” tegas Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, Kamis (22/12/2016) usai apel gelar pasukan Operasi Lilin 2016 di Silang Monas, Jakarta Pusat.

Jenderal bintang empat ini meyakini jumlah tersangka di aksi sweeping Social Kitchen akan terus bertambah, karena saat beraksi ada sekitar puluhan orang tertangkap kamera CCTV.

“Kembangkan terus kasus ini, karena saat itu ada lebih kurang 50 orang yang masuk ke Social Kitchen dan melakukan perusakan. Saya minta sebanyak mungkin melakukan penangkapan terhadap mereka untuk efek jera,” tambah Tito Karnavian, seperti dilansir dari Solopos.

Berdasarkan informasi yang dikumpulkan Kiblatnet, sejumlah aktivis LUIS dengan mengendarai satu mobil mendatangi  Social Kitchen, sebuah klub malam  berkedok restoran pada Ahad pukul 01.45-02.35 WIB.

Kedatangan mereka bertujuan untuk menyampaikan surat somasi setelah surat peringatan yang disampaikan pada September 2016 lalu tidak digubris pihak Social Kitchen. Surat peringatan tersebut berisi keberatan masyarakat atas penjualan miras, adanya pertunjukan tari telanjang dan jam operasional yang melampaui batas di Social Kitchen.

Bersama dengan sebuah mobil yang ditumpangi aktivis LUIS, puluhan orang dengan mengendarai sepeda motor turut datang ke Social Kitchen. Saat itu, suasana di klub malam tersebut sedang ramai oleh pengunjung yang tengah menikmati alunan musik dan minuman beralkohol.

Massa yang datang memasang pamflet bertuliskan “Social Kitchen Langgar Perda” dan disebut-sebut melakukan penyerangan hingga mengakibatkan adanya kerusakan pada Social Kitchen.

Humas LUIS, Endro Sudarsono membantah adanya penyerangan ke Social Kitchen. Ia mengatakan anggota LUIS datang ke Social Kitchen untuk menyodorkan surat permohonan penutupan Sosial Kitchen karena dugaan penyalahgunaan izin.

“Kami datang baik-baik hanya dengan satu mobil. Saat kami mau bertemu pengelola, tiba-tiba ada masa datang dan masuk ke ruangan. Masa aksi di luar kendali LUIS. Rencana kami ke sana kemungkinan bocor dulu,” kata Endro sebelum dijemput polisi.

Ini Tulisan Ranu Muda, Jurnalis Media Islam Yang Ditangkap Polisi

Berita penangkapan yang dilakukan oleh Tim Gabungan Direktorat Kriminal Umum Polda Jateng dan Polresta Solo kepada seorang wartawan media Islam online bernama Ranu Muda Nugroho (36) di rumahnya di Ngasinan, Grogol, Sukarjo, Kamis (22/12/2016) terus menjadi perbincangkan oleh banyak pihak.

Berita penangkapan ini juga diviralkan, baik apa yang ditulis oleh Ranu Muda sebagai jurnalis maupun kesaksian istri dia, saat Ranu ditangkap. Lalu apa penyeba Ranu ditangkap, berikut tulisan yang jadi viral.


SOLO, (Panjimas.com) – Bagi pecinta minuman keras di Kota Solo dan sekitarnya nama Social Kitchen sudah tidak asing lagi. Restauran yang beralamat di Jl Abdul Rachman Saleh No 1 Banjarsari tersebut merupakan tempat favorit yang menyediakan beragam merk minuman keras.

Selain digunakan sebagai tempat makan Social Kitchen juga menyediakan tempat untuk pesta miras. Bagi pengunjung yang datang dikenakan tarif 50 ribu dan mendapatkan satu boto minuman keras. Di diskotik tersebut setiap hari memiliki jadwal yang berbeda-beda mulai dari bintang tamu disc jokey hingga sexy dance.

Meski dalam jadwal acara dimulai pukul 23.00 malam namun biasanya tempat tersebut akan ramai didatangi mejelang pergantian hari yakni pukul 24.00. Hampir setiap hari para penikmat minuman keras mendatangi tempat tersebut. Bahkan menurut penelusuran Panjimas di lapangan penikmat miras yang datang di Social Kitchen mencapai ratusan orang. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya parkir motor dan mobil yang meluber hingga di jalan-jalan.

Alasan para pemikmat minuman keras tersebut mendangi Social Kitchen karena merasa aman. Mereka bebas mabuk dengan berbotol-botol minuman keras karena tidak akan ditangkap Polisi. Sehingga wajar Sosial Kitchen menjadi tempat favorit.

Aparat kepolisian dan pemerintah kota Solo sebenarnya juga sudah mengetahui jika ditempat tersebut digunakan untuk mabuk, tari telanjang hingga transaksi narkoba. Namun seolah tak mau tahu menjadikan Social Kitchen kian hari semakin tak terkendali.

Pembiaran terhadap tempat maksiat itulah yang kemudian didengar beberapa tokoh Islam Solo hingga akhirnya protes keraspun mulai dilakukan.

Beberapa Ormas Islam lantas berinisiatif untuk melakukan amar ma’ruf nahi munkar mulai dari menegur secara langsung kepada pengelola Social Kitchen, melapor ke Polres Solo hingga ke Satpol PP. Namun semua itu seolah mejadi angin lalu, tak ada keseriusan dari aparat penegak hukum untuk menutup tempat maksiat tersebut. Aparat malah terlihat saling lempar tanggung jawab.

Ada cukup banyak pelanggaran yang dilakukan oleh manajemen Social Kitchen selain dari unsur kemaksiatan. Menurut Humas LUIS, Endro Sudarsono Social Kitchen juga tak memiliki ijin HO.

“Selain tidak memiliki ijin HO, Social Kitchen juga sering melanggar jam tutup operasional. Harusnya tutup pukul 01.00 dini hari dalam prakteknya mereka tutup pada jam 03.00” tutur Endro Sudarsono kepada Panjimas.

Dari penelusuan Panjimas, warga sekitar juga banyak yang keberatan dengan keberadaan diskotik tersebut namun banyak dari mereka yang enggan untuk melapor ke Pemerintah Kota karena takut keamannya terganggu.

Kebalnya hukum yang dimiliki oleh Social Kitchen ini lantaran banyak dari oknum aparat yang menjadi backing tempat tersebut. Sehingga meski diprotes berkali-kali Social Kitchen tetap ramai dikunjungi bagi penikmat minuman keras.

Tak cukup disitu yang mejadi miris banyak ditemukan pengunjung Social Kitchen yang ternyata adalah remaja alias ABG. Hal ini dibuktikan saat adanya penggrebekan yang dilakukan oleh sejumlah Ormas Islam pada hari Ahad, (18/12) dini hari yang lalu.

Dari penggrebekan itu ditemukan sejumlah minuman keras dengan merk cukup terkenal dan kurang lebih 150 pengunjung yang semuanya mabuk. Sambil berpelukan, berciuman mereka berjoget ria menikmati permainan Disk Jokey dengan suara musik yang memekakkan telinga.

Penggrebekan itu sendiri terjadi lantaran diamnya aparat penegak hukum yang tak mampu menutup tempat maksiat tersebut.

“Kami melakukan ini karena tak ingin kota Solo menjadi tempat tujuan bagi para penikmat minuman keras” ujar Endro Sudarsono.

Selain digunakan untuk pesta miras tak jarang tempat tersebut juga digunakan sebagai sarana untuk bertransaksi narkoba. Tak cukup disitu, bagi kalangan hidung belang kelas atas, Sosial Kitchen juga sering disebut menjadi tempat untuk favorit untuk melakukan transaksi sex.

Begitulah segudang pelanggaran yang dilakukan Social Kitchen untuk merusak generasi muda. Namun Ironisnya, baik Pemerintak Kota Solo dan Kepolisian seakan bungkam tak mampu bergerak. Entah karena takut atau tak mau tau.

img_20161223_222613 img_20161223_222007

Referensi

Iklan

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s