Latihan Bela Negara Antara TNI-FPI

img_20170108_231402

Komandan Daerah Militer (Dandim) 06/03 Lebak, Letkol Czi Ubaidillah dicopot dari jabatannya karena memberi pelatihan Bela Negara bersama dengan sejumlah anggota Front Pembela Islam(FPI).

“Pangdam III Siliwangi memutuskan untuk memberikan sanksi kepada Dandim Lebak yaitu dicopot dari jabatannya dan segera digantikan oleh pejabat yang baru,” ujar Kepala Penerangan Daerah Militer (Kapendam) III Siliwangi Letkol Arh M Desi Ariyanto, saat dikonfirmasi melalui pesan singkatnya, Minggu (08/01/2017).

Keputusan tersebut dilayangkan berdasarkan pemeriksaan yang dilakukan Kodam III Siliwangi terkait prosedur dan tata cara pelatihan Bela Negara yang diberikan Kodim 0603 Lebak bersama FPI pada Kamis, 05 Januari 2017 kemarin.

Desi mengatakan, Ubaidillah terbukti melanggar aturan yang berlaku dengan memberi pelatihan bagi ormas tanpa melalui prosedur yang harusnya ditempuh secara hierarkis, yakni terlebih dahulu melapor kepada atasan.

“Bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan yang telah dilaksanakan oleh Kodam III/Siliwangi terhadap Dandim Lebak, ditemukan kesalahan prosedur, yaitu Dandim tidak berlapor terlebih dahulu baik kepada Danrem maupun Pangdam III/Siliwangi sebelum menyelenggarakan kegiatan Bela Negara tersebut,” tegas dia.

Akun instagram @dpp_fpi sebelumnya memposting sejumlah foto yang berisi kegiatan FPI. Dalam foto itu, terlihat latihan seperti memanjat jaring tambang dan melawati sungai dengan tambang.

Akun tersebut menuliskan kegitaba  tersebut merupakan pelatihan bela negara yang dilakukan FPI bersama TNI “TNI dan FPI menggelar PPBN (Pelatihan Pendahuluan Bela Negara) serta tanam 10.000 pohon di Lebak Banten.”

Foto latihan bersama antara TNI dengan ormas Front Pembela Islam (FPI) di Kabupaten Lebak, Banten, pada Kamis 5 Januari 2017, menuai kontroversi. Kepala Penerangan Daerah Militer (Kapendam) III/Siliwangi Letkol Arh M Desi Ariyanto menyayangkan latihan bela negara yang dilakukan Kodim Lebak itu tak sesuai aturan di lingkungan TNI.

Menurut dia, latihan tersebut seharusnya memperoleh persetujuan secara hirarkis. Yaitu Dandim Lebak melapor terlebih dahulu kepada Danrem dan selanjutnya kepada Pangdam.

Kepala Penerangan Kodam III Siliwangi Kolonel Desi Ariyanto mengatakan pihaknya pada 5 hingga 6 Januari 2017 menggelar pelatihan bela negara di salah satu pesantren di Lebak, Banten. Menurut Desi, total peserta dalam pelatihan tersebut berjumlah sekitar 120 orang santri. “Kebetulan pesertanya ada yang dari FPI (Front Pembela Islam),” kata dia saat dihubungi Tempo, Sabtu, 7 Janauri 2017.

“Dengan adanya kesalahan prosedur tersebut, maka akan ada proses lebih lanjut yang akan diberikan kepada Dansat Kowil yang bersangkutan,” ujar Desi Ariyanto melalui pesan tertulisnya, Minggu (8/1/2017).

Dia menambahkan, terlepas dari itu semua, masyarakat harus memahami bahwa tujuan dari kegiatan Bela Negara pada dasarnya adalah untuk meningkatkan rasa cinta tanah air kepada bangsa dan negara.

Menurut Desi, pihaknya memang secara rutin menggelar pelatihan bela negara. Namun pelatihan itu tidak secara khusus diberikan kepada kelompok tertentu. Namun bagi semua kalangan masyarakat. Tidak menutup kemungkinan kepada para santri di pondok pesantren.

Ia pun mengklarifikasi pemberitaan yang beredar bahwa pihaknya telah melatih sejumlah anggota FPI dengan latihan militer yang berlokasi di Lebak, Banten tersebut. “Seluruh kegiatan latihan tersebut bukanlah latihan militer tetapi latihan bela negara,” kata dia.

Desi menuturkan bahwa kegiatan pelatihan bela negara di Lebak, Banten tersebut dilakukan di dalam ruangan dan luar ruangan. Ada beberapa jenis kegiatan pelatihan yang dilakukan. Mulai dari pelatihan baris berbaris untuk menanamkan disiplin, ceramah bidang hukum, pemahaman wawasan kebangsaan, pemahaman UUD 1945, dan kegiatan outbond.

Sementara itu, dalam akun Instagram Dewan Pengurus Pusat FPI telah diunggah kegiatan pelatihan bela negara bersama TNI di Lebak, Banten hari ini. Desi membenarkan bahwa foto yang diunggah tersebut adalah kegiatan selama pelatihan bela negara di Lebak. Namun ia membantah kegiatan itu bersifat militer. “Itu pelatihan outbond (bagian dari pelatihan bela negara),” kata dia.

Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat FPI Ahmad Sobri Lubis menolak menjelaskan lebih perihal pelatihan bela negara yang dilakukan sejumlah anggota FPI bersama TNI. “Saya tidak tahu, tanyakan saja yang di Banten,” kata dia.

Ketua Setara Institute, Hendardi tampaknya makin frustasi menghadapi fenomena kebangkitan Islam yang dimotori oleh FPI, MUI, HTI dan ratusan ormas lainnya.

Bekas pengacara separatis Timor Leste tersebut menuding aksi superdamai yang dilakukan jutaan ummat Islam sebagai kelompok radikal dan intoleran.

“Sejak aksi 411 dan 212 saya termasuk yang mendesak agar Jokowi mendisiplinkan TNI yang tampak memiliki kepribadian ganda dalam menghadapi aksi-aksi yang dilakukan oleh kelompok intoleran,” kata Hendardi, (Tempo 8/1/2017).

Penyataan yang “ngawur” dan serupa dengan tudingan mantan Menko Polhukam Luhut Binsar Panjaitan beberapa waktu lalu.

Hendardi juga memprotes kegiatan pelatihan bela negara oleh TNI kepada sejumlah santri FPI di wilayah Lebak Banten.

“Bagaimana mungkin organisasi semacam FPI, yang antikemajemukan dan memiliki daya rusak serius, menjadi partner kerja TNI dalam membela negara,” ujar Hendardi dalam siaran persnya.

Hendardi yang gemar dan setia membela oknum penista agama (Ahok) menunjukan kebencian secara sporadis kepada FPI dan ormas-ormas Islam yang menuntut keadilan.

Tegasnya, klaim FPI adalah organisasi radikal dan tidak layak bersinergi dengan TNI adalah pandangan yang primitif, islamophobia dan tidak bertanggungjawab.

Propoganda tersebut berbau doktrin PKI yang selalu menyudutkan organisasi Islam dengan stigma radikalisme, intoleran dan sebagainya.

Dimana misi utamanya bertujuan menghalangi ummat Islam dalam partisipasi membela NKRI dan menjalin kerjasama yang legal dengan TNI/Polri.

Tindakan hasutan dan fitnah tersebut mencerminkan watak premanisme, kebodohan akut dan sangat tidak etis. Harus dilawan dan diresposn secara tegas oleh ummat Islam!

Fakta menunjukan sangat jelas bahwa FPI, HTI, MUI dan sejumlah organisasi Islam justru sangat bermartabat dalam membangun budaya demokrasi yang visioner, sejuk dan damai.

Hal itu terlihat dengan jelas melalui aksi Bela Islam 411 dan 212 yang menuai simpati rakyat dan menghadirkan sejatinya politik Islam yang ramah dan Rahmatan Lil Alamin.

Berbeda dengan gerakan radikalisme misionaris gereja yang terlibat separatis di Papua yang berkhianat kepada NKRI. Namun mengapa Hendari bersikap bungkam terhadap fakta tersebut?

Apa itu Bela Negara?

Bela negara adalah sebuah konsep yang disusun oleh perangkat perundangan dan petinggi suatu negara tentang patriotisme seseorang, suatu kelompok atau seluruh komponen dari suatu negara dalam kepentingan mempertahankan eksistensi negara tersebut. Secara fisik, hal ini dapat diartikan sebagai usaha pertahanan menghadapi serangan fisik atau agresi dari pihak yang mengancam keberadaan negara tersebut, sedangkan secara non-fisik konsep ini diartikan sebagai upaya untuk serta berperan aktif dalam memajukan bangsa dan negara, baik melalui pendidikan, moral, sosial maupun peningkatan kesejahteraan orang-orang yang menyusun bangsa tersebut.

Landasan konsep bela negara adalah adanya wajib militer. Subyek dari konsep ini adalah tentara atau perangkat pertahanan negara lainnya, baik sebagai pekerjaan yang dipilih atau sebagai akibat dari rancangan tanpa sadar (wajib militer). Beberapa negara (misalnya Israel, Iran) dan Singapuramemberlakukan wajib militer bagi warga yang memenuhi syarat (kecuali dengan dispensasi untuk alasan tertentu seperti gangguan fisik, mental atau keyakinan keagamaan). Sebuah bangsa dengan relawan sepenuhnya militer, biasanya tidak memerlukan layanan dari wajib militer warganya, kecuali dihadapkan dengan krisis perekrutan selama masa perang.

Di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, Jerman, Spanyol dan Inggris, bela negaradilaksanakan pelatihan militer, biasanya satu akhir pekan dalam sebulan. Mereka dapat melakukannya sebagai individu atau sebagai anggota resimen, misalnya Tentara TeritorialBritania Raya. Dalam beberapa kasus milisi bisa merupakan bagian dari pasukan cadangan militer, seperti Amerika SerikatNational Guard.

Di negara lain, seperti Republik China(Taiwan), Republik Korea, dan Israel, wajib untuk beberapa tahun setelah seseorang menyelesaikan dinas nasional.

Sebuah pasukan cadangan militer berbeda dari pembentukan cadangan, kadang-kadang disebut sebagai cadangan militer, yang merupakan kelompok atau unit personel militer tidak berkomitmen untuk pertempuran oleh komandan mereka sehingga mereka tersedia untuk menangani situasi tak terduga, memperkuat pertahanan negara.

Bela negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dalam menjalin kelangsungan hidup bangsa dan negara yang seutuhnya.

Tiap-tiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pembelaan negara dan Syarat-syarat tentang pembelaan diatur dengan undang-undang.

Kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada negara dan kesediaan berkorban membela negara. Spektrum bela negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang paling keras. Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata.

Tercakup di dalamnya adalah bersikap dan berbuat yang terbaik bagi bangsa dan negara.

Unsur Dasar Bela Negara

  1. Cinta Tanah Air
  2. Kesadaran Berbangsa & bernegara
  3. Yakin akan Pancasila sebagai ideologinegara
  4. Rela berkorban untuk bangsa & negara
  5. Memiliki kemampuan awal bela negara

Contoh-Contoh Bela Negara 

  1. Melestarikan budaya
  2. Belajar dengan rajin bagi para pelajar
  3. Taat akan hukum dan aturan-aturan negara
  4. Mencintai produk-produk dalam negeri

Pemerintah Indonesia saat ini menjalankan program pelatihan Bela Negara yang terbuka bagi seluruh lapisan masyarakat. Pada tanggal 22 Oktober 2015, Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu meresmikan pembukaan program bela negara. Program tersebut dimaksudkan untuk memperteguh keyakinan berdasarkan 5 unsur tersebut di atas, dan program ini bukanlah sebuah bentuk wajib militer.

Pada tanggal 23 Februari 2016, Menhan Ryamizard Ryacudu kembali meresmikan peluncuran Situs web resmi Bela Negara (portal belanegara) yaitu: http://belanegara.kemhan.go.id/ . Portal tersebut dimaksudkan untuk menjadi sumber penyebaran informasi kepada masyarakat tentang program Bela Negara, dan masyarakat juga bisa memberikan saran dan masukan di portal tersebut.

Referensi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s